Retensi dan Loyalitas Tidak Cukup

Judul tersebut adalah cuplikan judul artikel karya Pak Jamil Azzaini. Isi artikel saya ambil seluruhnya, hanya gambar yang karya saya sendri. Sebagai pemanis dan penambah semangat. Bah pena ini saya pelajari karena relevan dengan situasi tempat saya berkarya . Ternyata juga dihadapi para eksekutif dan pemilik beberapa perusahaan yang menjadi teman diskusi dan berbagi beberapa bulan terakhir.

Terima kasih Pak Jamil Azzaini.

Semoga artikel ini menginspirasi sahabat yang lain.

Retensi dan Loyalitas Tidak Cukup, Segera Lakukan Hal Lain Atau Perusahaan Anda Akan Punah

by ; Jamil Azzaini *)

Banyak Leader yang menyamakan retensi dan loyalitas. Sama-sama menjaga tim agar tetap berada di dalam perusahaan. Nyatanya keduanya berbeda. Retensi artinya mempertahankan tim. Eve Ash, seorang psikolog di dalam tulisannya memaparkan bahwa pendapatan yang bagus adalah satu alasan utama yang membuat tim bertahan.

Pertanyaannya, apakah karyawan bertahan saja cukup? Bagaimana kalau ia bertahan dengan performa yang stagnan atau bahkan menurun. Bagaimana kalau ia bekerja sekedarnya saja sebagai rutinitas sehari-hari tanpa peduli apa kabar dengan perusahaan? Itulah mengapa kita membutuhkan loyalitas karyawan. Komitmen kuat untuk memberikan yang terbaik.

Mungkin ada Leader yang bangga karena banyak anggota timnya punya masa kerja panjang tanpa usaha mempertahankannya. “Ah saya tidak pakai cara macem-macem, buktinya mereka bertahan. Memang mereka butuh pekerjaan ini kok” Hati-hati, sekedar bertahan karena tidak ada pilihan lain (sejauh ini), sangat berbahaya.

Tim ini bisa jadi sebetulnya dis-engaged.

“Kalau ada kesempatan keluar dengan tawaran yang lebih baik, saya pasti pergi. Wong saya juga tidak dikembangkan sama sekali kok. Tidak dipedulikan. Tapi sekarang belum ada tawaran, jadi ya sudahlah.”

Kesehariannya tanpa karya, tapi justru lebih banyak mengeluhkan segala hal di dalam perusahaan. Bahkan menularkan keluhannya pada orang lain, sehingga semakin banyak yang ikut-ikutan tidak puas bekerja.

Lalu apa yang terjadi pada perusahaan? Bila tim hanya diharapkan tetap tinggal tanpa reward dan upaya pengembangan sama sekali. Sementara perusahaan juga tidak menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Sampai kapan perusahaan akan bertahan?

Kita dapat menggunakan kesimpulan dari analisa data yang dilakukan Jeffalytics.

“If you’re not growing, you are dying”. 

Jika Anda tidak berkembang, maka Anda menuju kepunahan. Berdasarkan Jeffalytics, setiap perusahaan merekrut orang, diharapkan ada pertumbuhan revenue setidaknya pada tahun kedua. Apa yang terjadi bila ekspektasi itu tidak terpenuhi? Apalagi kalau ternyata revenue justru menurun.

Perusahaan harus mengambil keputusan di antara pilihan-pilihan sulit. Apakah perusahaan akhirnya mengurangi jumlah karyawan agar seimbang dengan kebutuhan bisnis? Apakah perusahaan mempertahankan karyawan dengan menurunkan target profit yang direncanakan? Apakah perusahaan merekrut tim sales baru untuk mencoba meningkatkan revenue? Apakah perusahaan mencari pinjaman dana agar bisnis mereka tetap bisa jalan?

Ketika kinerja tim sudah tidak optimal, perusahaan pun tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, maka menjalankan pilihan-pilihan di atas pun belum tentu membantu. Resiko terbesar pada akhirnya adalah pemilik perusahaan harus merelakan bisnisnya bangkrut.

Bila Anda adalah Leader yang ingin memastikan tim Anda betah dan loyal, maka berikan mereka berlimpah alasan untuk menikmati apa yang mereka kerjakan dan dengan siapa mereka bekerja. Berikan arahan dan tantangan, dampingi, berikan reward yang pantas, ciptakan kultur positif dan prestasi perusahaan yang membanggakan.

Survey yang dilakukan oleh High Ground memberikan bukti menarik tentang karyawan yang sangat loyal dibandingkan dengan yang tidak. Yang sangat loyal ternyata 2 kali lipat tetap bertahan di dalam perusahaan, 2 kali lipat membantu rekannya meski tidak diminta, 3 kali lipat melakukan sesuatu yang baik untuk perusahaan secara tak terduga, dan 5 kali lipat bersedia merekomendasikan teman atau kenalan untuk ikut bekerja di perusahaan.

Menjaga loyalitas tim adalah satu hal penting untuk menjaga perusahaan dari ancaman kepunahan. Tapi masih ada faktor-faktor lain yang turut berpengaruh agar perusahaan sukses dan terus berkembang. Survey yang dilakukan Bill Gross dalam Legendary Men terhadap lebih dari 200 perusahaan menemukan 5 faktor penting yang berperan di dalam kesuksesan bisnis.

Pertama adalah ide-ide yang terus relevan dan dibutuhkan pasar.

Kedua seperti yang sudah kita bahas panjang adalah tim yang solid dan berdedikasi.

Ketiga, business model yang meberikan arahan jelas bagaimana meraih revenue melalui pencapaian goal-goal terukur.

Keempat adalah funding (pembiayaan). Dengan funding yang kuat, maka operasional perusahaan pun menjadi jauh lebih baik. Namun ternyata ada yang tetap gagal meski punya dana yang memadai. Kenapa? Karena tidak memperhatikan faktor kelima berikut ini.

Timing (waktu). Kapan timing yang tepat agar energi tidak habis edukasi market karena rilis terlalu cepat, namun juga tidak terlambat sampai kehilangan market. Ketika bisnis memasuki pasar di timing yang tepat, maka ia akan meraih kesuksesan besar.

Fokuslah kepada kelima faktor, agar perusahaan jauh dari punah dan dekat dengan sukses!

Salam SuksesMulia!

Perubahan Bermula dari Saya

Sahabat tentu familiar dengan nama merek NOKIA bahkan produknya. Nokia pernah merajai pasar perponselan. Bagaimana sekarang? Bertahan? Untuk telepon seluler, ia kalah bersaing. Seiring berjalannya waktu, Nokia terpinggirkan dengan munculnya gadget yang beraneka ragam fitur. Tak ayal lagi, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia.  Itu terjadi pada tahun 2013. Itu berarti, dominasi selama 14 tahun lebih, usai sudah. Itulah milestone runtuhnya Nokia.

Pengalaman tak mengenakkan itu ternyata belum menjadi pelajaran berharga bagi BlackBerry. Mereka terlalu percaya diri dengan aplikasi andalannya yaitu BlackBerry Messenger alias BBM, yang pernah digunakan oleh jutaan orang. Black Berry lupa dan terlena, banyak orang kreatif dan cerdas yang terus melakukan inovasi. Ketika muncul aplikasi BBM yang multi platform, disusul dengan kemunculan aplikasi pesan dan percakapan seperti  line,  wechat,  whatsapp,  cacaotalk, dan sejenisnya. Eksistensi BBM mulai pudar. Jika ada yang masih pakai BBM, hampir dipastikan ada yang senyum-senyum. Kita dicap kudet, kurang update, ketinggalan zaman. Nasibnya tak beda jauh dengan Nokia. Black Berry Messenger pun terkapar. Tahta mereka di rebut WhatsApp!

Apakah  saat anda masih melihat disket ? Jika ya, berarti kita generasi tuwir alias tua. Setidaknya seumuran saya atau lebih tua, hehehe.

Saya dulu memakainya pada kurun waktu 1991-1994, saat getol membuat laporan hingga skripsi. Jika tidak hati-hati membawanya, jangankan terlipat, saat tergencet saja, bisa berabe. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan data yang ada di dalamnya tak bisa dibaca. Hilang. Perlu upaya khusus untuk mendapatkannya kembali. Perubahan terus terjadi. Kini disket sudah beralih ke flashdisk maupun hard drive external. Bahkan, seiring dengan penemuan teknologi cloud, maka penyimpanan pundilakukan di awan, cloud storage.

Cloud storage adalah media penyimpanan yang diakses melalui jaringan internet. Cloud storage ini dapat menhemat waktu dan tempat di bandingkan menggunakan media penyimpanan lain seperti flashdisk maupun CD. Tentunya tidak perlu takut rusak secara fisik.Banyak perusahaan yang menyediakan secara gratis, seperti box, dropbox, google drive. Perubahan ini tidak bisa dicegah atau dilarang.

Teknologi komunikasi berkembang tanpa batas. Saya masih menggunakan surat untuk berkomunikasi. Saling kirim kartu pos untuk sahabat pena. Atau pakai telegram untuk mengirim berita penting. Ini telegram yang pakai ketikan dengan kata-kata pendek. Pakai kertas kecil dimasukkan amplop khusus. Tak heran dulu, bisnis wartel sangat menjamur. Tapi apa daya, dengan adanya smartphone, sekarang tidak dijumpai benda dan sistem tersebut. Gambar, dokumen bisa dikirim by WA.

Kiriman uang? Banyak teman saya menggunakan wesel pos saat menunggu kiriman dari orang tua. Jatah hidup bulanan. Saya juga pernah merasakan pengiriman uang melalui kantor pos itu. Saya harus mencari kantor pos terdekat. Sekarang? Kita bisa transfer antar rekening bank. Bisa di depan laptop atau gadget. Mobile Banking. Jika penerima tidak punya rekening, bisa merapat ke gerai chained market. Saya sebut saja merek ya, Indomaret atau Alfamaret. Kita tinggal sebut alamat lengkap. Petugas memberi kode rahasia untuk pengambilan. Tak selang berapa lama. Penerima bisa mengambil di minimarket terdekat di kotanya.

Zaman banyak berubah. Dan akan terus berubah. Dampaknya ? Bisa positif. Bahkan juga bisa negatif. Namun, pengalaman berbicara. Fakta terlihat jelas. Kemajuan zaman dan semua yang terkait teknologi, tidak bisa dilawan. Jika kita bertahan pada pilihan konvensional, maka justru akan terkubur, terlindas oleh zaman. Oleh karenanya perkembangan teknologi tak perlu dilawan. Antisipasi adalah langkah utama dan pertama. Perubahan berawal dari perubahan diri sendiri. Perubahan itu bisa berwujud kemenangan atau kekalahan. Kemenangan akan datang kepada orang punya kepantasan, memiliki faktor-faktor untuk mendapatkan kemenangan. Sebaliknya, kekalahan juga akan dialami jika faktor-faktor tersebut hilang atau berubah. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’du: 11)

Maka ketika melakukan perubahan, sudah selayaknya dimulai dari masing-masing pribadi. Berawal dari saya, anda dan akhirnya bersama kita melakukannya.

Ayo !

 

#KEY  #persaingan #limamodalkunci #memenangkanpersaingan

Lima Modal Kunci

Persaingan adalah keniscayaan. Benar apa betul ?

Apalagi dalam dunia usaha, jika kalah, sudah dapat dipastikan, perusahaan gulung tikar. Mati. Dampaknya juga tidak kalah dahsyat. Bisa menambah daftar pengangguran. Beban ekonomi baru.

Perusahaan digerakkan oleh manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

Perlu modal memenangkan persaingan ?

Apa saja itu ?

Integrity. Miliki kejujuran yang tidak pernah dipertanyakan (be unquestionably integrity person).

Ibarat bangunan, integrity adalah pondasinya.

Kuat memegang prinsip moralitas. Dwight David Eisenhower, mantan Presiden AS yang pernah menjabat sebagai Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa, pernah mengatakan bahwa kualitas tertinggi untuk kepemimpinan adalah integritas yang tidak diragukan lagi. Tanpa itu, tidak ada keberhasilan nyata yang mungkin. Tidak peduli apakah itu di geng, lapangan sepak bola, kemiliteran atau kantor bisnis.

Agar bangunan kuat maka ada 2 kolom atau pilar yang mendukungnya:

1. Competence. Pantaskan Diri dengan Menguasai Kemampuan yang Spesifik (Hold Core Competency)

Kemampuan menuntaskan pekerjaaan dengan cepat dan tepat. Ia bisa menjadi nara sumber. Untuk memenangkan persaingan, setiap diri insan Indonesia harus memiliki kemampuan unik yang istimewa. Ketika punya keistimewaan maka kita akan dihargai mahal. Saya sering sebut sebagai pendekar pilih tanding.

2. Resourceful. Jadilah Orang yang Banyak Akal (Be Resourceful Person)

Insan yang banyak akal. Tak mudah patah arang. Selalu mencari jalan keluar.

Mari mengamati bayi yang sedang belajar berjalan. Ternyata saat belajar berjalan, seorang bayi tidak belajar dari suatu teori tertentu. Tapi dia mencoba, jatuh, berdiri lagi, meraih sesuatu. Acapkali jatuh lagi, hingga tertatih dan mulai melangkahkan kaki selangkah ke depan. Proses itulah yang membuat kita semua bisa berjalan.

3. Collaboration. Maksimalkan Potensi (Develop Collaboration Ability)

Punya kemauan menambah daya dukung. Menyatukan beberapa potensi. Lemah jadi kuat. Kuat tambah kuat. Kolaborasi adalah tindakan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam matriks, tim terkemuka secara kolaboratif membantu mereka terlibat, bergerak melalui tahap pengembangan tim (menjadi berkinerja tinggi), memecahkan masalah dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Kemudian agar bangunan itu tetap terlindungi dan membawa manfaat, maka perlu atap bangunan.

Apa itu ?

Sharing. Berbagilah di saat lapang dan susah (Do Sharing)

Sir Winston Leonard Spencer Churchill,  pengarang yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Britania Raya, juga berpesan tentang pentingnya perilaku memberi.

Kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita peroleh. Kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan”.

 Kemauan dan kemampuan berbagi. Tak kenal masa, dalam kondisi lapang dan sulit, tetap mau berbagi dengan insan yang lain. Punya sedikit dibagi sedikit. Punya banyak, apalagi, dibagi lebih lagi.

Dengan memiliki sikap dan modal utama tersebut, diharapkan insan Indonesia pun punya mental juara. Segala daya upaya dilakukan untuk memenangkan persaingan. Tentunya segala daya upaya yang dilandasi dan sesuai prinsip moralitas.

Temukan inspirasi lebih rinci di buku :

KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan

Creating Powerful Influence

Creating Powerful Influence

Event ini adalah bagian dari Festival Trainer Nasional 2019 (FTN 2019) yang digagas oleh Akademi Trainer dan Ikatan Alumni Akademi Trainer. Siapa Akademi Trainer ? Ya, komunitas yang merupakan satu dari sekian banyak jalan Jamil Azzaini untuk mewujudkan Peradaban Sukses Mulia. Festival ini sebagai upaya kontribusi Alumni Akademi Trainer untuk Indonesia. Penyelenggaraannya serentak di seluruh Indonesia.

Khusus untuk Tema “Creating Powerful Influence”, akan dibawakan oleh 3 Trainer yang mempunyai reputasi nasional pada bidang masing-masing.

Andy Sukma Lubis, dikenal dengan Slide Designer. Pelatihan MSDH (Melukis Slide Dengan Hati) sudah banyak diikuti dan memikat hati ribuan orang. Hasilnya membawa pengaruh kepada jutaan manusia yang lain.

Ari Wijaya, dikenal sebagai Cost Killer. Pelatihan terkait perubahan proses bisnis yang mempengaruhi biaya. Ia adalah praktisi, penulis buku sekaligus trainer di bidang manajemen operasi/supply chain management.

Win Sukardi, dikenal sebagai Supply Chain Expert. Praktisi dan trainer nasional pada bidang manajemen kontrak, supply chain management dan juga pengadaan.

Kapan ?

SABTU, 12 Januari 2019, pukul 08.00-12.00 WIB

Venue ?

NHO Lounge, Graha Elnusa Lt. 2, Jl. TB. Simatupang Kav 1B, Cilandak, Jakarta Selatan 12560

Sayang apabila event setahun sekali ini dilewatkan begitu saja.

Sayyid Quthb pernah berkata :

“Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi, satu tulisan mampu menembus ribuan dan bahkan jutaan kepala”

Mau ?

Silakan melakukan registrasi dengan klik : http://bit.ly/FTNwithWINARI

Terima kasih.

Sampai jumpa . . .

 

Utamakan Allah

Dr. Amir Faishol Fath pada suatu kesempatan di Masjid Baitul Hikmah Elnusa pernah mengatakan :

Utamakan Allah maka Allah akan beresin urusan kita.”

Ada peristiwa penting yang menunjukkan kepatuhan Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih anaknya, Ismail, karena memenuhi perintah Allah SWT. Kesediaan ini menunjukkan tingkat kehambaan Nabi Ibrhaim  yang menempatkan Allah SWT di tingkat tertinggi dalam lubuk hatinya. Ia telah membuktikan kepada dunia bahwa tuntutan Allah lebih ia utamakan daripada menuruti perasaan, ego dan emosinya sendiri. Karena sikap inilah kemudian Allah memberinya gelar khalilullah (kekasih Allah).

Hikmah dari peristiwa tersebut yaitu seyogyanya setiap muslim mendahulukan Allah daripada nafsu dan egonya. Pengorbanan sejati belum dapat diraih selagi kita belum mempersembahkan sesuatu yang paling kita cintai untuk Allah SWT.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Katakanlah, jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri dan keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang fasik.” 

(QS at-Taubah: 24)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala  memerintah Nabi-Nya untuk mengingatkan ancaman-Nya terhadap orang-orang yang mengedepankan cintanya terhadap delapan hal di atas, hingga lalai menjalankan amalan yang diwajibkan oleh Allah.

Sebenarnya hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat yang luar biasa dalam hal kecintaan mereka kepada Allah. Begitu pula generasi berikutnya dari kalangan tabi’in dan seterusnya. Mereka siap mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan, para sahabat meninggalkan tempat tinggal dan keluarga mereka untuk menjalankan kewajiban hijrah pada masa itu.

Perkara ini memang berat pada awalnya. Namun jika hal itu kita lakukan dan istiqomah menjalankannya, sedikit demi sedikit kemanisan iman akan terbit di hati.

Seseorang akan berat berpuasa ketika semua orang makan, bangun tahajud saat semua orang tidur. Demikian juga menjaga lisan sangat berat ketika semua orang sangat ringan membicarakan aib orang lain. Namun bagi orang beriman, ia akan memilih berbeda dengan orang lain demi kecintaannya kepada Allah.

Berkata Ubay bin Kaab:

Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah SWT, melainkan Allah SWT akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari sumber yang tidak disangka-sangka.”

Balasan lain yang telah disiapkan bagi orang yang meninggalkan nafsunya karena Allah yaitu ia akan mendapat ganti yang lebih baik daripada perkara yang ia tinggalkan.

 

Temukan inspirasi lainnya pada buku : KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan

Bermental Kaya

“Jangan miskin amal, untuk beramal boleh tanpa uang”.

Kalimat itu adalah salah satu prinsip hidup KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Beliau menggambarkan orang miskin amal itu ibarat mobil tanpa bahan bakar. Sebagus dan semahal apa pun mobil itu, jika tidak ada BBM-nya maka tidak akan jalan.

Percuma, tho?

Padahal beli mobil untuk dikendarai. Alias mobil itu harus jalan, dengan berbagai macam tujuannya. Memang kebutuhan untuk mempercepat dan memperbanyak daya angkut. Hingga bisa jadi, cuma buat pamer. Setiap melintas dilirik orang. So, syarat wajibnya mobil yang sesuai tujuannya adalah punya BBM bahkan jika perlu disiapkan cadangannya.

Hidup juga demikian, jika ingin maju dan terus tumbuh, mencapai kesuksesan seperti yang diharapkan, perlu memperbanyak derma. Beramal, berderma atau berbagi itu tidak selalu dengan uang. Bisa dengan tenaga, pikiran dan juga doa kita. Dengan begitu, beramal adalah domain semua orang. Dengan begitu, tidak ada alasan lagi, ketika berbagi menunggu kaya. Semua orang adalah kaya dan bermental kaya. Siapa saja bisa beramal, bederma, berbagi!

Sayangnya, mental miskin dan meminta-minta masih menjangkiti kita. Tidak hanya ada pada diri orang-orang yang memang kekurangan.

Namun, orang yang serba kecukupan juga dihinggapi mental miskin. Apa pasal? Karena orang yang diberi kecukupan, tidak berkenan berbagi. Misal punya ilmu, punya keahlian, tapi disembunyikan, tak pernah sharing knowledge. Merasa masih kurang hebat, belum saatnya, menunggu waktu yang pas. Belum punya pengetahuan yang lain, atau berbagai alasan lainnya. Parahnya lagi, ada perasaan, takut tersaingi. Padahal saat punya ilmu satu yang dibagi saja satu atau setengah. Ibarat pendekar, suatu saat jurusnya bertambah, maka jurusnya pun dibagi. Begitu seharusnya. Bukan menunggu jurus lainnya. Karena kita pun tidak tahu ilmu itu batasnya ada dimana.

Orang bermental kaya tidak harus orang kaya, dan orang kaya belum tentu bermental kaya.

Temukan inspirasi tersebut pada buku : KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #limamodalkunci  #memenangkanpersainga

Tahun Lapang Dada

Pernahkah  kehilangan teman, sahabat, bahkan kerabat ? Ia tiba-tiba memutuskan hubungan. Tak mau kontak lagi.

Ketemu muka ? Boro-boro.  Dikontak pun susah. Menulis pesan WA atau SMS saja sudah enggan. Apalagi ditelpon langsung, nggak bakal diangkat. Bahkan ada yang ganti nomor. Padahal sebelumnya, bak soto dengan mangkok. Pasangan ideal.

Sedih ?

Saya coba tes beberapa teman, jawabannya kebanyakan : Banget !

Ya, sedih sekali.

Penyebab utamanya, ternyata, gara-gara beda pilihan. Beda pandangan politik.

Beda boleh saja. Justru beda itu menjadi hidup lebih indah. Seperti pelangi, coba kalau warnanya putih saja, maka bukan pelangi namanya. Bisa seperti kain sprei. Perbedaan adalah keniscayaan. Salah satu hal yang penting adalah menyiapkan diri atas perbedaan. Berlapang dada.

Hidup itu pilihan. Tidak ada yang netral. Karena kalau netral, malah nggak jalan. Ibarat perseneling mobil, kalau netral, mobil malah tak bisa jalan. Meski di gas polll !

Namun alangkah indahnya ketika pilihan itu didasari oleh data yang mantap. Adu gagasan yang cemerlang. Ketika berbeda,  kita hormati. Ada sudut pandang berbeda.

Mari berdemokrasi yang sehat.  Demokrasi yang membuat kita hidup damai. Bahu membahu membangun negeri yangvkaya raya ini. Mengelola sumber dayanya dengan baik untuk generasi mendatang.

 

Siapa ERSA ?

Pas buku saya terbit, ada pertanyaan yang diajukan. Banyak juga yang justru bukan tentang isi buku. Tapi sosok penerbitnya. Ya, di pojok kanan buku baru saya, tertulis besar, ERSA. Itu nama penerbit.

Sembari leyeh-leyeh di ruang tunggu Bandara Adi Sutjipto, saya tergerak untuk sedikit menceritakannya.

Ersa itu kepanjangan dari Erik Salman. Nama salah satu alumni Universitas Brawijaya, almamater saya. Tepatnya, seorang insinyur sipil. Ia satu dari 5 orang pencetus lahirnya ICMI. Lima orang tokoh mahasiswa itu bersama saya dan teman-teman lain, 50 mahasiswa Teknik Univeristas Brawjaya pernah bahu membahu mengumpulkan pada cendekiawan muslim pada tahun 1990 di Malang, Jawa Timur. Pada akhir acara itu, dibentuklah ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Organisasi besar yang berusaha memberikan kontribusi positif  bagi peradaban baru di Indonesia. Terlepas dari pasang surutnya, ICMI pernah dan masih mewarnai Indonesia.

Mas Erik, begitu saya memanggilnya, wafat diusia muda. Saat masa produktifnya, ia dipanggil keharibaanNYA. Ia bersama 3 orang sahabat lainnya, terlibat kecelakaan lalu lintas di Mantingan, Ngawi. Dua puluh tahun lalu.

Kami sepakat mengenang dan merawat semangatnya dengan membuat Yayasan Erik Salman. Salah satu aktivitasnya adalah menerbitkan buku-buku yang menginspirasi banyak orang. Juga mendirikan dan mengembangkan Sekolah Salman Al Farisi yang dikomandoi oleh Awang Surya. Sekolah itu akan dikembangkan lebih luas jangkauannya. Sebelumnya hanya mendidik PAUD dan TK di area Cileungsi, Bogor. Kami punya rencana mendirikan sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Itulah asal muasal ERSA. Semoga menjawab sedikit rasa penasaran.

Masih kecil kontribusi kami, tapi insya Allah berupaya membesar.

Tangan kami kecil dan sedikit, saya yakin akan jauh lebih berdampak ketika sahabat semua berkenan membantu.

Mau bersama berkarya bersama kami ?

Bisa japri saya : 08111661766 atau melalui Mas Awang Surya : 085779917492

Kirim salah hormat juga untuk 4 pencetus lainnya  #alimundakir #mochammadzaenuri #Awangsurya #muhammadiqbal

Proven !

Baru saja ada yang menerima momen membahagiakan. Jadi juara. Ada juga yang sedih bercampur kecewa karena hasil karya belum optimal. Tak sesuai harapan. Wajar saja. Tapi semua itu, jangan sampai berlebihan.

Apa pun itu, hari ini pembuktian awal yang baik. Perubahan itu terjadi ketika kita memulainya. Nggak peduli itu langkah besar atau langkah sepele. Kita semua menjadi saksinya. Value creation yang dihasilkan juga dahsyat.

Perubahan besar memang perlu hal yang kecil, melakukan langkah pertama. Memulainya !

The Beckhard Harris Change Model mengemukan rumus sederhana :

C = D x V x Fs.

Dalam hal ini :

C adalah Change. D adalah Dissatisfaction.  V adalah Vision. Fs adalah First Step.

“Perubahan hanya bisa terjadi apabila ada ketidakpuasaan, adanya visi yang jelas dan yang  tak kalah penting adalah langkah pertama untuk melakukan sesuatu”

Rumus itu berbentuk perkalian. Sekedar mengingatkan pelajara matematika, dengan bentuk persamaan seperti itu, maka semua faktor harus lebih besar daripada NOL. Apabila salah satunya nol maka perubahan tidak akan terjadi. Oleh karena seluruh faktor D, V dan FS harus ada. Kalau salah satunya angkanya nol, maka hasilnya nol. Betul ?

Dissatisfaction. Ketidakpuasan akan mendorong perubahan. Bukan rahasia lagi,  kenyamanan akan membuat seseorang enggan berubah. Dengan kata lain, ketidakpuasaan akan mendorong orang melakukan sesuatu sementara kenyamanan mendorong orang untuk ketagihan menikmati apa yang ada.

Untuk itu, apabila Anda ingin memiliki semangat berubah ciptakan ketidaknyaman dan ketidakpuasaan dalam bidang yang Anda tekuni. Misalnya sebagai pebisnis, Anda menyadari bahwa dunia berubah dengan arah yang sulit diduga. Banyak bisnis lain yang berkembang pesat. Sedangkan bisnis yang ditekuni saat ini, berjalan lambat. Cenderung turun. Inovasi mendeg. Perlu perubahan mendasar dan lebih cepat.

Jika sebagai karyawan, ternyata banyak pengetahuan yang baru dan perubahannya begitu cepat. Anak muda sebagai tenaga kerja baru pun, bermunculan dengan talenta yang sesuai dengan tuntutan zaman. Kita pun perlu segera melakukan penyesuaian.

Vision. Punya visi yang jelas agar arah perubahannya juga jelas dan juga mengikuti perkembangan zaman.

First Step. Segera lakukan langkah pertama, memulai! Karena itu akan menjadi stimulus bagi langkah-langkah yang lain.

Saya sangat yakin, sahabat semua telah membuktikannya. Proven !

Melakukan langkah awal, dan  ada yang telah berlari. Selamat !

Mari terus berkarya. Mari kita rawat semangat ketidaknyamanan. Semangat melakukan perubahan. Semoga sedikit karsa dan karya kita berkontribusi menjadikan kita, perusahaan tempat kita bekerja dan juga negeri yang kita cintai ini, menjadi pendekar pilih tanding. Memenangkan persaingan !

 

#key #limamodalkunci #persaingan #CIP #UIIA2018

Kesempatan

Bulan terakhir menjelang tutup tahun adalah masa istimewa.  Masa sibuk memberikan penilaian. Ada penilaian hasil kerja kolektif. Hasil karya dan karsa tim. Karya inovatif. Itu berlaku bagi orang yang diberi amanah menjadi juri dan/atau juga pimpinan sebuah organisasi. Rutinitas yang jarang dilewatkan. Bagi yag dinilai juga mengumpulkan dokumen pendukung. Bahkan ada yang membuat miniatur hasil karyanya. Tak jarang ada yang berjibaku. Perlu melekan (Baca : mengurangi waktu tidur). Sebaliknya, kadang menjadi rutinitas yang bergulir begitu saja. Itu pilihan.

Momen seperti itu kadang membuat saya terlena. Saya mampu menilai orang lain, tapi lalai menilai diri sendiri. Padahal, banyak hal yang saya nasihatkan atau saya sarankan kepada orang lain, tapi luput saya eksekusi. Konsekuensinya, hasil yang tidak optimal. Pelaksanaan pekerjaan yang tertunda. Dan banyak hal lain yang terpaksa dimaafkan.

Padahal ini salah satu momen penting. Saat pengingat muncul. Reminder dari waktu dan juga karya orang lain. Tamparan melakukan perubahan.

Bukan tidak mungkin, beribu alasan dikemukan untuk segera melakukan perubahan.

“Halah, ngapain capek-capek melakukan introspeksi. Perubahan, inovasi, transformasi atau apalah namanya. Lha wong gini saja selamat. Masih hidup”.

“Sudahlah, hidup ini semakin susah. Kenapa harus menyusahkan diri lagi dengan mengubah cara kerja. Perubahan sikap. Gini aja masih hidup, kok”.

“Gini aja masih dapat bonus, ngapain ikut-ikut tim inovasi”.

“Pinter bodo, gajine podho, Lha la po repot melakukan perubahan?

Boleh saja beralasan begitu. Sah ! Tidak ada yang melarang. Kalau hidup, pasti hidup. Lha wong memang sudah sesuai janji Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.

Tapi apakah mau terus seperti itu?

Buya Hamka, salah satu ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia, pada suatu kesempatan pernah mengatakan:

 “Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”

Dalem ngga, Bro? Bagi saya ini dualeem banget. Nempol !

Hidup bukan hanya sekedar hidup. Hidup bukan hanya untuk makan, minum, tidur, seperti babi hutan atau binatang lainnya. Mosok kita mau disamakan dengan binatang?

Perubahan itu pangkal persaingan.  Perubahan itu tentang bagaimana menyikapi kesempatan.

Ibarat ujian, kita tidak tahu soal apa yang keluar. Kita kadang dberi kisi-kisi. Memang materi yang kita pelajari belum tentu keluar. Lha namanya juga ujian. Namun,  probabilitasnya akan muncul tinggi. Coba bayangkan ketika kita bersikap, tidak belajar saja, toh nggak tahu mana yang akan keluar. Ternyata keluar dan anda tidak bisa mengerjakan. Tidak lulus.

Atau sebaliknya, mending belajar. Kalau soalnya muncul, alhamdulillaah. Kalau tidak pun. tidak kecewa. Kita tidak melewatkan kesempatan untuk melakukan persiapan menghadapi ujian.

Ibarat mau pulang kampung naik kendaraan umum. Kita sudah mengantongi tiket. Pesan dari jauh hari. Ternyata banyak yang tidak kebagian. Saking banyaknya peminat yang ingin mudik. Parahnya, ada penundaan lama. Bahkan ditunda hari keberangkatannya. Masih ada peluang, karena tiket ditangan. Paling banter perubahan jadwal.

Coba bayangkan ketika kita tidak punya tiket. Bisa jadi mudik tinggal impian. Kalau pun mau beli tiket langsung, gambling. Berharap ada yang membatalkan keberangkatan. Peluangnya sangat kecil. Buahnya, bisa kecewa berat. Batal bertemu dan melepas kangen dengan orang tercinta.

So, mending punya tiket, bukan?

Masih mau melewatkan kesempatan?

Mari mempersiapkan diri mulai sekarang. Kita bekali diri dengan modal yang cukup. Memenangkan persaingan bukan jadi isapan jempol belaka.

#key #limamodalkunci #CIP #UIIA2018 #perubahan #persaingan #inovasi