Mimpi dan Mencoba

Mimpi dan Mencoba

“Wah, apa ya…. sepertinya mengalir aja tuh. Modal nekat dan semangat. Sembari terus cari jalan buat mencapai mimpi”.

Itulah komentar yang terlontar pertama kali ketika saya minta pendapat dan pengalamannya saat bisa berkarir di luar negeri kepada teman saya semasa SMA dan kuliah ini. Charis Soeharto, namanya.

“Kalau dulu punya mimpi pingin sekolah di luar negeri. Aku coba ikut program STAID, ee..nggak lolos,” tambahnya.

Program STAID atau Science and Technology for Industrian Development dicetuskan Prof. BJ Habibie. Program pengembangan SDM yang merekrut siswa SMA terbaik di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan S1 di luar negeri. Anak dokter yang bersahaja ini tak mengubur mimpinya. Ia terus mencoba untuk bekerja di perusahaan asing. Atau setidaknya perusahaan yang berafiliasi dengan perusahaan asing. Siapa tahu ada kesempatan program pelatihan atau sekolah lanjut di luar negeri. Mimpinya pergi ke luar negeri tak pernah dihilangkan.

Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu datang juga. Ia bekerja di perusahaan asing. Charis pun memulai perjuangannya. Ia menambah kompetensi dan kapasitasnya. Hingga ia mendapat pengakuan dari kolega dan atasannya. Ia bersyukur dipertemukan Allah SWT dengan mentor berkebangsaan Jepang. Orang Jepang itu pun hingga kini sudah ia anggap sebagai Bapak Angkat. Rupanya Sang mentor inilah yang kemudian ‘mengusir’ Charis Soeharto dari Indonesia.

“Charis, tempatmu bukan di sini kamu harus keluar. Kenapa harus takut? Ingat, semua manusia sama. Semua harus COBA. Kalau tidak pernah mencoba, kamu tidak akan pernah tahu,” tukas atasannya itu.

Sampai saat ini ada 2 kata kunci yang selalu ia ingat: MIMPI dan COBA. Kini ia selalu rajin membagikannya kepada siapa saja terutama mahasiswa Indonesia yang menemuinya di Singapura.

Ah.. jadi ingat nasihat Bung Karno :

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Di penghujung obrolan, ia menambahkan bahwa ada satu lagi yang terpenting,. Apa itu ? Doa dan restu dari Ibu. Masya Allah. Ia sangat terkesan dan ingat almarhumah ibunya yang selalu memberi wejangan dan doa bagi ia dan saudaranya.

Charis Soeharto saat ini menduduki posisi Direktur. Posisi puncak pada perusahaan jasa engineering terintegrasi, Asia Project Engineering, Pte. Ltd. Perusahaan multi nasional Jepang yang lebih dikenal dengan APECO yang bermarkas di Singapura. Ia memimpin tim yang multi ras, suku dan agama.

 

 

2.647 Kilometer

Perjalanan mudik tahun ini berbeda dari biasanya. Lain banget.  Kami menyisipkan agenda mendorong ikhtiar anak untuk masuk pondok pesantren. Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah.

Perjalanan panjang pun ditempuh.  Jakarta – Semarang. Istirahat di Semarang, esoknya disambung ke Sidoarjo dan Bangkalan. Merayakan Hari Raya Idul Fitri dan silaturahim di Bangkalan beberapa hari. Lanjut lagi silaturahim ke Malang. Hanya 2 hari, perjalanan diteruskan keTrenggalek – Ponorogo via Blitar. Ponorogo menjadi kota singgah yang penuh makna. Setelahnya, baru kembali ke Jakarta. Total perjalanan kami, sesuai odometer : 2.647 KM. Masya Allah. Alhamdulillaah.

Di Kota Ponorogo inilah, kami berjuang lagi.  Spirit management. Mengelola semangat ternyata masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak mudah. Terutama untuk anak yang baru masuk ponpes. Ia shock ketika harus berdesakan tidur di kamar pondokan sebelum tes. Jauh di luar perkiraannya. Saya pun perlu membawanya keluar sejenak. Berkeliling pondok. Ia pun melihat, bahwa ternyata di luar sana, banyak orang tua sanak saudara yang terpaksa menginap di mobil, ada yang membawa tenda. Bahkan ada yang tidur beralaskan tikar beratap langit. Peserta dan juga pengantar membludak. Satu peserta, pengantar bisa 2,3 bahkan 4 kali lipat.

Membludaknya peserta ini juga pertanda bahwa tempat pendidikan ini, banyak diidamkan anak Indonesia. Kawah candradimuka mengolah dan mengembangkan minat dan bakat. Tempatperjuangan mewujudkan cita-cita.

Melihat kondisi itu, kecewa dan terkejutnya pun sedikit terobati. Ia pun menjalani tes meski masih dengan berat hati.

Alhamdulillaah. Meski hati bercampur aduk. Ada rasa was-was. Terselip doa dan harapan. Ternyata, saat pengumuman tiba, ia justru menangis. Bukan karena tidak diterima. Ia diterima tapi bukan di tempat pilihannya. Kami pun meyakinkan, bahwa tempat boleh beda, sistemnya sama. Pun banyak orang yang ingin masuk pesantren ini, sama seperti yang ia citakan sebelumnya. Lha kok, sekarang malah menangis. Ratusan temannya memang menangis, mereka menangis justru karena belum ditakdirkan belajar di pesantren. Belum diterima.

Malam itu pun kami terus memompa semangatnya. Secara fisik dan juga doa.

Pada kesempatan ini, saya mohon doa sahabat semua, agar ia ikhlas, kuat, cepat beradaptasi dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Kami pun sebagai orang tua juga ikhlas. Tentunya kami juga terus mengirim doa.

Selamat berjuang, Nak !

Momen penting itu, Saya dan istri mendapat penguatan. Pesan yang juga menginspirasi. Pesan yang dikirimkan melalui WA, entah siapa yang menuliskan awalnya.  Semoga menjadi amal sholeh.

Terima kasih atas pesannya, Perkenankan saya juga berbagi kepada sahabat. Siapa tahu, suatu masa mengalami hal yang serupa dengan saya.

————–

Pesan dan nasihat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Nasihat panjang yang disingkat dengan istilah TITIP.

Titip adalah kependekan dari : Tega – Ikhlas – Tawakkal -Ikhtiar – Percaya

1. Tega

Huruf T yang pertama adalah Tega. Orang tua harus tega meninggalkan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan. Yakinkan pada diri Anda bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan warteg.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman …”

(QS Ibrahim [14]: 37)

2. Ikhlas

“I” ini makanya : ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya. Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga.

Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

3. Tawakkal

Huruf T kedua adalah Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

4. Ikhtiar

I berikutnya berarti Ikhtiar. Untuk poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

5. Percaya

Yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan saya menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang”

(Abu Dawud, Ibnu Hibban)

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

by Ari Wijaya

Enang Noerman Fachjar, sering dipanggil Aciel. Dia adalah teman sebangku saya saat SMA. Kini ia menjabat sebagai Regional Quality Assurance Director – Asia Pacific di Barry Callebaut, sebuah  perusahaan multi nasional asal Swiss. Perusahaan ini adalah penghasil biji coklat dan bubuk coklat terbesar di dunia.

Sebagai salah seorang executive muda asal Indonesia yang mendunia, Aciel dikenal ahli dalam bidang Quality Management & Food Safety. Menjadi pembicara utama dalam forum internasional sudah menjadi langganannya. Tentu saja hal ini membanggakan sekaligus memberikan inspirasi bagi saya.

Alumnus ITB ini menceritakan pengalamannya saat bergabung dengan perusahaan multi nasional. Beberapa kali pula ia berhasil menduduki posisi kunci. Dari penuturannya dapat disimpulkan bahwa untuk bisa bersaing dan menjadi orang pilihan berkelas dunia diperlukan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Kita harus menjadi yang terbaik di area yang kita geluti. Tanpa kompetensi, akan sangat sulit untuk bersaing.
  2. Komunikasi sangat penting untuk memastikan orang lain bisa memahami pola pikir kita. Secara lisan maupun tulisan.
  3. Kerja sama. Kita harus mau dan mampu bekerja sama dengan sejawat, lintas fungsi, maupun orang di luar organisasi.
  4. Satu suatu initiative/pekerjaan dapat dimulai dan dituntaskan ketika kita punya komitmen.
  5. Perlu semangat dan tindakan yang ajeg agar tugas yang diberikan dapat diselesaiakan dengan tuntas.

Aciel menambahkan, gabungan antara kompetensi, komunikasi dan kerjasama akan menumbuhkan kepercayaan yang sangat dibutuhkan dalam menuntaskan suatu pekerjaan. Plus ditambah kerja keras dan sifat tidak gampang menyerah.

Bagaimana jika bersaing dengan insan unggul lainnya di luar negeri? Ternyata Pak Direktur ini selalu membawa misi pribadi :

“Saya niatkan karsa dan karya saya untuk menjaga dan membawa nama baik agama dan bangsa”.

Masya Allah!

Saya merinding membaca penuturannya.

Dorongan itu yang membuatnya terus mencetak berprestasi. Ia secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa inilah wajah Indonesia.

Suka atau tidak, Islam dan Indonesia sering dikonotasikan miring. Negative for whatever reasons. Oleh karenanya, ia merasa berkewajiban untuk bekerja sebaik mungkin. Itu tak lain untuk menunjukkan bahwa seorang muslim bisa berkerja secara profesional, disiplin, reliable, trusted dan competence.

Selain itu sebagai bangsa Indonesia, Enang Fachjar, bisa menunjukkan bahwa Indonesia di negeri lain bukan dikenal hanya karena tenaga pembantu, sopir, tukang bangunan. Tapi, banyak juga profesional yang berkualitas, berkelas dunia.

Selain itu, ia juga berharap bisa memberikan inspirasi.

Ia mengirim pesan sangat tegas kepada teman-teman di Indonesia. Utamanya anak muda. Kita sejajar dengan mereka, pekerja di luaran sana. Asal kita menempa diri.

Ya, dan itu harus dimulai!

Kisah inspiratif ini dan beberapa lagi lainnya, insya Allah akan hadir dalam buku yang sedang memasuki tahap editing. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Harapannya, bisa terbit dan hadir di hadapan sabahat pada Agustus 2018 nanti.

Mohon doanya.

Semoga karya tak seberapa ini dapat menginspirasi anak muda Indonesia.

 

 

Merajut Asa

Merajut Asa

by Ari Wijaya

 

Sebuah sunatullaah juga, saat ada kejadian, ada yang merespon ada yang tidak. Cuek bebek. Seperti era perubahan yang kita rasakan saat ini. Dunia seakan tanpa sekat-sekat lagi. Melihat fenomena ini, reaksi pun beragam. Ada yang menyesuaikan. Ikut perubahan.  Tak jarang yang membuat aksi jauh lebih cepat dari laju perubahan. See the unseen things.

 

Saya beri catatan India yang sangat mencolok saya contohkan. Beberapa nama besar tercatat memimpin perusahaan berkelas dunia. Belum lagi China, sebagai gambaran saja, mahasiswa dan pelajar China yang sedang belajar di Australia tercatat 150 ribu lebih. Mereka mulai merajut asa. Di samping menggali ilmu pengetahuan, juga menanam benih jejaring. Bukan rahasia lagi, jaringan ikatan alumni salah satu pendorong kesuksesan berbisnis. Silaturahim memang membawa keberkahan dan pembuka pintu rezeki.

Tak heran, jika lulusan berkebangsaan Cina juga merambah ke berbagai perusahaan di dunia.

 

Philipina, mereka banyak mengusai bidang kepariwisataan. Beberapa hotel besar di Dubai, Uni Emirates Arab dijejali tenaga terampil dari Filipina. Mereka membuka Tourism & Hospitality Training Center.

 

Saya menyebut warga negara di beberapa negara tersebut memiliki kesadaran bersaing. Kesadaran itu terasa sangat kuat.

 

Bagaimana dengan kita? Mampukah kita merajut mimpi itu lagi? Saya kok, yakin, kita mampu.

 

Anda mau bersama mewujudkannya?

Mari merajut asa bersama.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Undangan Spesial

Pernah menerima undangan dari saudara ? Sahabat ? Rekan kerja?

Saya yakin, jawaban yang banyak keluar adalah : sering.

Saya pun pekan lalu menerima undangan.

Surprised ! Sekaligus senang dan bangga.

Betapa tidak, undangan ini dari sahabat yang mengabdi dan melayani sebagai tenaga pendidik di Universitas Brawijaya. Semasa jadi mahasiswa, kami pernah bersama mengembangkan laboratorium.  Pengajar pengganti hingga ke kota lain, saat dosen utama berhalangan. Tak jarang punya kegiatan kampus bareng. Setelah lulus, kami menjalani profesi berbeda. Ia jadi dosen. Ia masih saja seperti yang dulu. Aktif, gemar membuat penelitian, suka membantu, dan sangat terbuka. Saking aktifnya, ia termasuk yang terlambat mengambil studi lanjut. Tak lain, karena semangat melayani orang lainnya yang tinggi. Hingga lupa bahwa masih ada satu jenjang pendidikan lagi yang mesti ditempuh untuk menjadikannya punya kesempatan menjadi guru besar. Salah satu capaian yang diidamkan banyak dosen. Beberapa tahun yang lalu, ia banting stir sejenak. Mengambil program doktoralnya. Meski tetap saja, tangannya tak bisa diam. Banyak sudah yang dilakukannya.

Itulah undangan yang membuat rasa ini nano-nano kayak permen. Undangan turut menjadi saksi : Ujian Terbuka Disertasi.

Ya, sahabat saya ini, insya Allah akan menyandang gelar Doktor Teknik Mesin.

Selamat dan sukses, kawan!

Sayang sekali, saya tidak berkesempatan hadir.  Mohon maaf, kali ini saya melewatkan salah satu momen penting dalam hidupmu.

Doa saya dan keluarga menyertai langkahmu. Semoga semakin manambah semangat dan daya jangkaumu untuk bisa lebih bermanfaat kepada orang lain.

Teruslah berkarya, berbagi dan melayani! Itu sudah menjadi DNAmu!
#jangankasihkendor

 

Tribute to :

Sugiarto, ST.,MT.

Dosen Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Menggali yang Tersembunyi

Menggali yang Tersembunyi

by Ari Wijaya

 

Malam itu kami ngobrol santai tapi serius. Saat itu ada salah seorang rekan yang harus dirawat di rumah sakit. Kami bergantian menjaga. Yoyok teman sekosnya bersama saya, kala itu yang berkesempatan menjaga. Saya sering main dan numpang tidur di kos mereka saat ada jeda kuliah. Saat jadwal kuliah ada dua dan berjauhan, kelas pagi dan sesi siang setelah dhzuhur, biasanya saya tidak pulang ke rumah. Hemat ongkos. Saya mampir tempat kos mereka.

 

Yoyok ini salah satu mahasiswa yang punya potensi terkena degradasi saat evaluasi tahap pertama. Ada aturan, jika mahasiswa tidak mencapai IPK (Indkes Prestasi Kumulatif) minimal 2,0 (dua koma nol) pada akhir semester IV, maka dengan terpaksa mahasiswa tersebut terkena DO (drop out). Tidak bisa melanjutkan kuliah lagi di kampus yang sama. Yoyok masuk daftar ini. Malam itu saat ada kesempatan berduaan, saya mencoba menguatkan semangat dan daya juangnya.

 

“Aku ini nggak semangat kuliah. Kampus ini bukan pilihan utamaku,” keluh Yoyok ditengah obrolan kami.

 

Yoyok menuturkan bahwa ia sempat berpikir untuk mencari kampus lain sesuai pilihan hatinya. Semester 2 ia mencoba di Bandung. Ketika kuliah sudah berjalan 4 semester, ia juga mencoba di Denpasar. Jurusan yang ia minati adalah Seni Rupa & Desain. Namun restu orang tua tak pernah ia peroleh. Saat tahun ketiga kuliahnya di Teknik Mesin, saat mau mencoba lagi, barulah ia sadar. Terlalu besar kerugiannya. Segi waktu, umur dan juga biaya.

 

“Ya, tapi kan takdirnya sudah begitu. Niat untuk pindah ada. Tapi restu orang tua patut jadi pertimbangan. Brawijaya kayaknya sudah menjadi jalan. Bukan pilihan yang jelek. Kalau mau pindah lagi, biaya juga lebih besar. Belum lagi harus mengulang. Banyak yang hilang,” saya coba memberi pertimbangan atas kegundahannya itu.

 

Yoyok sebenarnya punya kemampuan unik. Lain dari pada yang lain. Literasi komputernya melebihi yang lain. Penguasaan Bahasa Inggrisnya juga di atas rata-rata. Setidaknya pembandingnya adalah saya sendiri. He..he..he..

 

Saya mencoba menggali lebih jauh kelebihan itu. Ia boleh terpuruk dengan mata kuliah Kalkulus, Mekanika Teknik, Fisika, Pengetahuan Bahan atau yang lain, tapi dalam 2 hal itu, saya melihat ia lain.

 

“Yok, kalau kamu harus les dengan biaya lumayan besar, 600 ribu satu paket, misalnya. Apa sampeyan siap. Apa orang tua mendukung?” ujar saya.

 

“Insya Allah, bisa diusahakan, Nyo”, begitu jawabnya. Saya ketika itu punya panggilan “Sinyo”. Entah apa yang melatarbelakangi sebutan itu.

 

Singkat cerita ia mengambil kursus yang saya sarankan. Masih in-line dengan jurusan Teknik Mesin. Kursus AutoCAD. Literaturnya masih bahasa sononya, Bahasa Inggris. Tempat kursus hanya ada di Surabaya, kota asalnya. Jadwal juga bisa fleksibel. Kebetulan mata kuliah yang ia ambil juga sedikit. Ada 2 atau 3 hari lowong, tidak ada kuliah. Lagian, bolak-balik Malang-Surabaya bisa diatur jadwal sembari pulang ambil jatah bulanan. Sebagai gambaran, uang kuliah kami ketika itu Rp. 120 ribu per semester. Biaya paket pelatihan dan juga transportasinya, bisa untuk membayar uang kuliah hampir 3 tahun.

 

Yoyok yang gemar bernyayi dan pendaki gunung ini pun, mengambil pelatihan hingga advance level. Alhamdulillah, ia berhasil menjadi salah satu rujukan teman-teman ketika ada kesulitan mata kuliah AutoCAD atau Mesin NC/CNC (computer numeric control). Setelah ia lulus, modal itu pun menjadi nilai lebih baginya. Awalnya ia bekerja sebagai Project Engineer pada sebuah perusahaan di bawah Bangun Tjipta Group. Selanjutnya, ia memutuskan untuk berkarya ke Alstom Power di Surabaya. Perusahaan itu pula yang membawanya ke Negeri Paman Sam, ketika ada tawaran posisi Mechanical Engineer di Alstom Power Inc, Connecticut.

 

Beberapa tahun setelahnya, sejalan dengan penggabungan atau lebih tepatnya program akuisisi Alstom oleh GE, ia pun saat ini menjadi bagian keluarga besar GE. General Electric, perusahaan yang pernah dipimpin ‘manajer abad ini’, Jack Welch. Saat ini ia dipercaya sebagai Lead Engineer Fabricated Component, pada unit usaha GE di Windsor, Connecticut, Amerika Serikat.

 

Sahabat saya ini telah menunjukkan bahwa kompetensi yang unik perlu diperjuangkan. Hasilnya pun mulai ia petik, menjadi orang pilihan.

Memang benar kata Jon Stewart, salah satu aktor dan pembawa acara telivisi yang multi talenta, bahwa pada zaman ini, kecakapan adalah komoditas yang jarang.

“Love what you do. Get good at it. Competence is a rare commodity in this day and age“.

Sahabat, mau seperti itu ? Punya keahlian dan ketrampilan yang unik. Menjadi orang pilihan ?

Mari menggali yang tersembunyi dalam diri kita.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018. Kisah Yoyok adalah satu dari isi buku itu.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Semoga ide dan isi bukunya dapat menginspirasi Indonesia !

Growth Mindset

Era Sekarang Memerlukan Growth Mindset

by Jamil Azzaini *)

Studi yang dilakukan Dweck (Mindset: The New Psychology of Success, 2006) mengungkapkan bahwa terdapat dua jenis mindset bagi setiap pembelajar yaitu fixed mindset dan growth mindset. Ada pembelajar yang melakukan sesuatu karena ingin dinilai dan ada yang melakukan karena ingin hidupnya berubah.

Mereka yang ingin dinilai biasanya kurang berani menghadapi sesuatu yang baru, apalagi berisiko tidak bisa atau gagal. Mereka sangat takut dinilai buruk oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka enggan menghadapi tantangan baru, mudah menyerah, metasa terancam dengan keberhasilan orang lain, dan enggan menerima kritikan yang membangun.

Mereka dengan ciri-ciri tersebut di atas termasuk dalam kelompok fixed mindset. Saya yakin Anda paham, orang-orang yang termasuk dalam kelompok fixed mindset tidak akan bertahan di era yang berubah begitu cepat, seperti saat ini.

Ada kelompok lain yang disebut Growth Mindset. Mereka belajar karena ingin hidupnya berubah. Mereka siap dan suka menerima tantangan baru. Tahan banting, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Mereka senang berusaha dan melatih keahliannya. Mereka senang mendapat kritikan, feedback dan saran. Bagi orang-orang yang memiliki growth mindset, kritikan, feedback dan saran adalah sarapan atau vitamin yang bisa menguatkan dirinya.

Selain itu, orang yang memiliki growth mindset akan mengambil pelajaran dari kesuksesan orang lain. Ia tidak iri tetapi justeru mengambil inspirasi. Ia mencari polanya kemudian ia terapkan dalam kesehariannya. Ia mengambil hikmah dan pelajaran dari keberhasilan orang-orang yang ia kenal.

Coba duduk sejenak, Anda termasuk kelompok yang fixed mindset atau growth mindset? Apabila termasuk yang fixed mindset segeralah untuk bertaubat. Apabila Anda termasuk yang merasa growth mindset perlu dibuktikan di lapangan. Benarkah Anda tahan banting? Benarkah Anda senang mendapat feedback? Benarkah Anda sering mengambil pelajaran dari kesuksesan orang lain?

Dunia saat ini memerlukan orang-orang yang memiliki growth mindset, terus bertumbuh, terus belajar, terus berlatih, terus mencari tantangan dan tidak mudah menyerah. Semoga Anda termasuk orang-orang yang memiliki growth mindset sehingga Anda tidak terlempar dari orbit kehidupan.

Catatan :

*) Jamil Azzaini adalah pengusaha, motivator, inspirator SuksesMulia. Saat ini menjadi CEO of Kubik Leadership. Salah satu perusahaan jasa pelatihan dan konsultansi ternama di Indonesia.

Kewajiban Jauh Lebih Banyak daripada Waktu yang Tersedia

Kewajiban Jauh Lebih Banyak daripada Waktu yang Tersedia

by Ari Wijaya

 

Umar bin ‘Abdul Aziz salah satu nama yang saya coba kemukakan dalam hal pengaturan waktu. Siapa dia? Beliau adalah salah satu khalifah tersohor karena kebijakan dan kesederhanaannya. Banyak riwayat yang menceritakan kebijaksanaan sang khalifah yang masih keturunan Umar bin Khattab ini. Salah satu kisah menuturkan bahwa Sang Khalifah pernah tidak jadi istirahat, karena ditegur oleh anaknya.

“Ayahanda, kenapa istirahat?” tanya Abdul Malik bin Umar

“Iya, ayah lelah sekali, tubuh perlu istirahat, setelah seharian keliling melihat aktivitas dan keadaan umat ini,” jawab Umar dengan mantap.

“Ayah, cepat bangun dan keliling lagi. Lihat urusan umat!” kata anaknya.

“Ayah mau rehat sebentar saja, setelah itu baru keliling lagi,” jawab Umar.

Tanggapan dari sang buah hati ini yang diluar dugaan dan mengejutkan:

“Apakah ayah bisa menjamin ketika ayah bangun masih hidup dan bisa melihat urusan umat Islam?”

Umar terperanjat mendengar pertanyaan anaknya ini. Dia langsung melompat dan memakai gamisnya kembali untuk keliling melihat keadaan umat Islam. Masya Allah!

Bagaimana dengan kita?

Yuk, introspeksi.

Sungguh, pekerjaan dan tugas kita lebih banyak dibanding waktu yang disediakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Mengatur. Pernah mengalami, pekerjaan datang bertubi. Satu belum selesai sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Belum lagi, rasanya belum lama di depan laptop atau alat kerja kita, ternyata sudah siang. Matahari sudah tinggi. Padahal pekerjaan progressnya masih belum banyak. Pernah? Sering ?

Ini adalah satu kenyataan hidup. Kita hidup dalam ruang lingkup waktu yang sangat terbatas. Orang Arab menyatakan:

“Al-Wajibat aktsaru minal awqat” .

Arti bebasnya adalah kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia.

Betul apa benar?

Semua itu butuh manajemen yang baik dan rapi. Kita harus menghargai waktu yang ada. Waktu harus kita belanjakan dengan baik dan benar. Efektif dan efisien. Karena jumlah waktu yang diberikan Allah azza wajalla adalah sama kepada setiap mahlukNYA, 24 jam. Tidak lebih tidak kurang.

“Waduh, mana pekerjaan yang tadi belum selesai, ee sekarang diberi tugas baru lagi”

Cukup sering kita mendengar keluhan seperti itu, saat diminta presentasi atau tugas lain. Saya pun mengalaminya. Anda pernah juga merasakannya? Satu pekerjaan belum tuntas, ada lagi yang lain. Baru saja presentasi tuntas, maksud hati menghela nafas sejenak. Ternyata sudah ada perintah lain. Kadang, kita merasa waktu ini begitu panjang dan banyak. Banyak dari kita yang akhirnya menunda. Sebentar dulu, selonjoran dulu. Santai sejenak. Toh nanti selesai juga. Dan banyak lagi alasan dan pembenaran. Akhirnya, terlena. Tugas berantakan. Skala prioritas tidak jalan.  Pekerjaan yang menumpuk, acapkali kalau pun diselesaikan, lewat jalur SKS. Ya, Sistem Kebut Semalam. Hasilnya? Bisa dipastikan tidak maksimal. Pernah mengalaminya?

“Giving yourself permission to lose, guarantees a loss”

Benar juga kata Pat Riley salah seorang mantan pemain dan pelatih bola basket NBA. Ia mengatakan jika kita secara menerus memberikan kelonggaran pada diri kita, maka kerugian adalah jaminannya. Saya bilang, kesuksesan Pat Riley ini salah satu kuncinya adalah ia tidak menunda. Jika ada kesempatan ia gunakan sebai-baiknya. Ia libas tanpa menunggu kata ‘entar’. Riley adalah atlet serbabisa, bermain bola basket dan American Football.

Catatan :

Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan terbit dalam waktu dekat. Ingin mendapatkan inspirasi lebih dalam ? Mohon doanya ya, semoga buku terbit segera dan hadir di tangan sahabat semua.

Berhenti Makan !

“Lereno mangan sa’durunge wareg ! ”

Pesan sederhana Haji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal HOS Tjokroaminoto , salah satu guru bangsa kita. Guru  yang melahirkan tokoh besar sekaliber Bung Karno. Arti bebas pesan itu dalam Bahasa Indonesia adalah berhenti makan sebelum kenyang.

Maknanya tidak sesimpel yang saya bayangkan. Pun, melaksanakan pesan itu, biyuuh.. ! Masya Allah…

Makan karena memang lapar dan butuh asupan gizi. Gizi buruk bisa terjadi karena kurang makan. Asupan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan. Itu juga bahaya. Jadi kita memang perlu makan, tho ? Tapi kelebihan gizi karena over supply makanan juga tidak baik. Banyak penyakit melekat karena urusan perut ini. Bisa stroke, hipertensi, gagal ginjal, diabetes, jantung, dan lain-lain.

Padahal kita ini diajarkan dan termasuk golongan umat yang makan karena sudah lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang.

Di samping itu, pesan pendiri Sarekat Islam itu sarat akan pengendalian hawa nafsu. Bukan semata urusan perut. Apalagi menyetop lidah yang bergoyang karena rasa. Terlebih saat menyantap makanan kesukaan.  Makanan lezat. Kuliner khas daerah pula. Tapi lebih dari itu. Berhenti makan sebelum kenyang punya maksud pengendalian diri agar tidak serakah atau tamak. Betapa tidak, pesan ini juga mengajarkan agar kita menakar seberapa besar yang akan kita masukkan ke dalam tubuh. Supaya tidak bersisa. Makanan terbuang. Tentunya masih banyak orang lain, saudara kita, yang membutuhkannya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberi nasihat :

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”

Sahabat… mari mencobanya ! Berhenti makan ! Berhentilah sebelum kenyang.

Semoga saya pun bisa menjalankannya dengan istiqomah…..

Silih doa selalu untuk sahabat semua…

Look With Your Feet !

Masa pertama kali berkerja formal, saya langsung ditempatkan di area produksi. Memegang 1 line assembling. Langsung memimpin 3 shift karyawan. Ada 4 foreman dan 10 kepala regu. Mereka leader yang bahu membahu mengelola lini perakitan yang diamanahkan kepada saya.

Saya juga mendapat meja kerja di tengah area produksi. Itu pun bergantian dengan leader yang lain. Ketika itu laporan dengan tulisan tangan masih ampuh. Belum ada handphone. Komputer pun masih langka. Ehm.. ketahuan ya, saya masuk kerja tahun berapa ? He .. he … he…

Ada satu hal yang membuat saya cepat beradaptasi. Pemahaman saya tentang produksi dan seluk beluknya mengalami akselerasi. Percepatan.

Setiap awal shift, salah satu manager atau kadang staf ahli yang berkebangsaan Jepang, turun ke lantai produksi. Ia bukan memberi ceramah. Ia jalan mengelilingi area. Bukan jalan-jalan, lho. Langkahnya kadang cepat. Tak jarang melambat. Kalau sudah begitu, saya dan salah satu leader langsung mengikuti. Tanpa disuruh.

Saat berhenti menemukan sesuatu, entah saat memungut benda. Atau tatapan mata tertuju pada sutau obyek. Ia mengungkapkannya langsung kepada kami. Ada yang baik, dipuji dan diminta untuk dipertahankan.

Acapkali yang terkena adalah ketika terjadi ketidaksesuaian. Kami ditanya kenapa terjadi ? Harusnya bagaimana ? Setelah sedikit diskusi, sang manager memberikan wejangan atau menyimpulkan hasil diskusi kami. Kadang ia membantu memberikan solusi, jika kami buntu. Jika ada yang bisa dilakukan saat itu, maka langsung ditindak. Tuntas. Tak jarang memang ada yang perlu action lebih lama. Terkait ada pembelian alat atau sarana pendukung. Kami menyepakati juga batas waktu penyelesaiannya.

Paling parah adalah jika ada tindakan yang harus dilakukan tapi tak ada progress, belum dilakukan. Melewati tenggat ! Ya sudah, kami terkena semprotan pagi. Mantaplah pokoknya.

Insightnya masih tertangkap hingga kini. Kegiatan itu menjadikan kami bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Saya jadi lebih cepat belajar. Pun jadi lumbung solusi. Ketika ada kejadian serupa, cara yang mirip kadang sedikit modifikasi yang saya pakai.

Orang Jepang menyebutnya Genba. Arti harfiahnya adalah : lokasi kejadian. Namun istilah itu diadopsi menjadi salah satu kegiatan manajemen yang dikaitkan dengan perbaikan berkesinambungan yang terintegrasi. Dikenal istilah Genba Kaizen yang berarti perbaikan kondisi lokasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Taiichi Ohno, Bapak Sistem Manajemen Toyota, pernah mengatakan :

“Don’t look with your eyes, look with your feet”

Ya. itulah cara pandang lain dalam mengelola tim. Menjalankan amanah.

Kegiatan itu sangat positif. Tidak hanya saya yang merasakan. Rekan saya yang ketika itu sama-sama masih bau kencur, mendapat banyak manfaat serupa ?

Mau ?

Yuk, lakukan genba. Jalan, lihat, catat, bertindak, buat laporan. Laporan itu bukan sekedar membuat atasan senang. Tapi niatkan lebih jauh sebagai pembelajaran. Lesson learnt. Semakin banyak orang yang mengambil hikmah, maka tabungan amal kita akan membukit.

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya

(HR. Muslim )

Jika dilewatkan ? Sayang, bukan ?