Berhenti Makan !

“Lereno mangan sa’durunge wareg ! ”

Pesan sederhana Haji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal HOS Tjokroaminoto , salah satu guru bangsa kita. Guru  yang melahirkan tokoh besar sekaliber Bung Karno. Arti bebas pesan itu dalam Bahasa Indonesia adalah berhenti makan sebelum kenyang.

Maknanya tidak sesimpel yang saya bayangkan. Pun, melaksanakan pesan itu, biyuuh.. ! Masya Allah…

Makan karena memang lapar dan butuh asupan gizi. Gizi buruk bisa terjadi karena kurang makan. Asupan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan. Itu juga bahaya. Jadi kita memang perlu makan, tho ? Tapi kelebihan gizi karena over supply makanan juga tidak baik. Banyak penyakit melekat karena urusan perut ini. Bisa stroke, hipertensi, gagal ginjal, diabetes, jantung, dan lain-lain.

Padahal kita ini diajarkan dan termasuk golongan umat yang makan karena sudah lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang.

Di samping itu, pesan pendiri Sarekat Islam itu sarat akan pengendalian hawa nafsu. Bukan semata urusan perut. Apalagi menyetop lidah yang bergoyang karena rasa. Terlebih saat menyantap makanan kesukaan.  Makanan lezat. Kuliner khas daerah pula. Tapi lebih dari itu. Berhenti makan sebelum kenyang punya maksud pengendalian diri agar tidak serakah atau tamak. Betapa tidak, pesan ini juga mengajarkan agar kita menakar seberapa besar yang akan kita masukkan ke dalam tubuh. Supaya tidak bersisa. Makanan terbuang. Tentunya masih banyak orang lain, saudara kita, yang membutuhkannya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberi nasihat :

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”

Sahabat… mari mencobanya ! Berhenti makan ! Berhentilah sebelum kenyang.

Semoga saya pun bisa menjalankannya dengan istiqomah…..

Silih doa selalu untuk sahabat semua…

Look With Your Feet !

Masa pertama kali berkerja formal, saya langsung ditempatkan di area produksi. Memegang 1 line assembling. Langsung memimpin 3 shift karyawan. Ada 4 foreman dan 10 kepala regu. Mereka leader yang bahu membahu mengelola lini perakitan yang diamanahkan kepada saya.

Saya juga mendapat meja kerja di tengah area produksi. Itu pun bergantian dengan leader yang lain. Ketika itu laporan dengan tulisan tangan masih ampuh. Belum ada handphone. Komputer pun masih langka. Ehm.. ketahuan ya, saya masuk kerja tahun berapa ? He .. he … he…

Ada satu hal yang membuat saya cepat beradaptasi. Pemahaman saya tentang produksi dan seluk beluknya mengalami akselerasi. Percepatan.

Setiap awal shift, salah satu manager atau kadang staf ahli yang berkebangsaan Jepang, turun ke lantai produksi. Ia bukan memberi ceramah. Ia jalan mengelilingi area. Bukan jalan-jalan, lho. Langkahnya kadang cepat. Tak jarang melambat. Kalau sudah begitu, saya dan salah satu leader langsung mengikuti. Tanpa disuruh.

Saat berhenti menemukan sesuatu, entah saat memungut benda. Atau tatapan mata tertuju pada sutau obyek. Ia mengungkapkannya langsung kepada kami. Ada yang baik, dipuji dan diminta untuk dipertahankan.

Acapkali yang terkena adalah ketika terjadi ketidaksesuaian. Kami ditanya kenapa terjadi ? Harusnya bagaimana ? Setelah sedikit diskusi, sang manager memberikan wejangan atau menyimpulkan hasil diskusi kami. Kadang ia membantu memberikan solusi, jika kami buntu. Jika ada yang bisa dilakukan saat itu, maka langsung ditindak. Tuntas. Tak jarang memang ada yang perlu action lebih lama. Terkait ada pembelian alat atau sarana pendukung. Kami menyepakati juga batas waktu penyelesaiannya.

Paling parah adalah jika ada tindakan yang harus dilakukan tapi tak ada progress, belum dilakukan. Melewati tenggat ! Ya sudah, kami terkena semprotan pagi. Mantaplah pokoknya.

Insightnya masih tertangkap hingga kini. Kegiatan itu menjadikan kami bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Saya jadi lebih cepat belajar. Pun jadi lumbung solusi. Ketika ada kejadian serupa, cara yang mirip kadang sedikit modifikasi yang saya pakai.

Orang Jepang menyebutnya Genba. Arti harfiahnya adalah : lokasi kejadian. Namun istilah itu diadopsi menjadi salah satu kegiatan manajemen yang dikaitkan dengan perbaikan berkesinambungan yang terintegrasi. Dikenal istilah Genba Kaizen yang berarti perbaikan kondisi lokasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Taiichi Ohno, Bapak Sistem Manajemen Toyota, pernah mengatakan :

“Don’t look with your eyes, look with your feet”

Ya. itulah cara pandang lain dalam mengelola tim. Menjalankan amanah.

Kegiatan itu sangat positif. Tidak hanya saya yang merasakan. Rekan saya yang ketika itu sama-sama masih bau kencur, mendapat banyak manfaat serupa ?

Mau ?

Yuk, lakukan genba. Jalan, lihat, catat, bertindak, buat laporan. Laporan itu bukan sekedar membuat atasan senang. Tapi niatkan lebih jauh sebagai pembelajaran. Lesson learnt. Semakin banyak orang yang mengambil hikmah, maka tabungan amal kita akan membukit.

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya

(HR. Muslim )

Jika dilewatkan ? Sayang, bukan ?

We Can !

Yakin bahwa kita bisa. Kita mampu !
Berarti kunci pembuka pintu kesuksesan sudah ada di tangan.

Tambahkan doa :

“Laa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil’adzhim”

“Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”

Insya Allah, semua hambatan akan jebol ! Luluh lantak !

Sahabat …..
Selamat beraktivitas, terus berbagi, dan beramal sholeh.
Mari menjemput rezeki Allah ‘azza wa jalla.

Marketing Langit !

Selayaknya perusahaan yang dikelola dengan baik. Perusahaan tempat Allah Maha Pemurah menggelontorkan rezekinya kepada saya dan keluarga, juga melakukan muhasabah. Introspeksi atas pencapaian setahun silam. Lesson learnt diambil. Apa yang kurang dan harus ditingkatkan. Tak jarang melakukan hal yang membawa kesuksesan untuk diulang dan dimodifikasi. Agar punya daya ungkit.

Pun tak ketinggalan menetapkan visi dan misi yang disesuaikan dengan kondisi kekinian, kedisinian dan juga cita-cita yang ingin mengglobal. Merambah dunia internasional.

Ketika visi sudah dicanangkan. Misi pun dijabarkan. Aksi dilakukan dengan segera dan penuh perhitungan.  Marketing team menjalar kemana-mana.  Merangsek mempengaruhi pelanggan. Menawarkan produk dan jasa.

Masih ada langkah yang tak boleh dilupakan. Tak bisa dianggap remeh. Harus dikuatkan. Apa itu ? Diantaranya adalah berdoa. Berbakti kepada Ibu dan Bapak kita. Bersedekah.

Itulah marketing langit !

Kita menghamba dan menghiba kepada Sang Maha Berkendak agar mendapatkan kemudahan dan dimudahkan atas segala urusan. Karena DIA lah yang Maha Kuasa. Ketetapan yang tak pernah kita tahu.

Ada doa yang diajarkan guru saya ketika memasuki hal baru. Pasar baru. Tempat usaha yang baru dijalani. Atau juga lini bisnis yang baru.

“Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu bi yadihil khoiru, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir”.

Tidak ada Tuhan kecuali Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan dan pujian, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, Dia Mahahidup Yang tidak akan mati, di tangan-Nya sumber kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Doa ini dianjurkan dibaca saat hendak masuk ke tempat usaha atau ke pasar. Fadilah dari doa ini adalah Allah SWT akan memberikan beribu-ribu kebaikan, menghapuskan beribu-ribu kesalahan atau dosa seperti tertuang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Tahun ini ditancapkan visi baru. Memasuki dan merambah lini bisnis yang lebih luas. Mau sukses ?

Mari berupaya sangat keras dan kuat untuk membuat usaha kita maju dan membawa keberkahan. Upaya ruhiyah yang membersamai usaha lahiriyah. Tak ada kata bosan untuk melakukannya. Marketing langit !

Semoga membawa kebaikan dunia dan akhirat.
Sejahtera dan menyejahterakan.

Pancasila Market Economy

PANCASILA MARKET ECONOMY : JANGAN PRETELI PANCASILA
(Sebuah Pencarian Maklumat untuk Ekonomi yang Berkeadilan)
Oleh : dr. Gamal Albinsaid

Dua pekan lalu, setelah memenuhi undangan dari Bupati Banyuwangi, Bapak Azwar Anas, saya langsung terbang ke Jakarta untuk bersilaturahim dengan tokoh yang saya idolakan semenjak kecil. Empat belas tahun lalu, dalam kelas bahasa inggris ketika saya bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, pernah guru bahasa inggris saya menanyakan siapa tokoh yang saya kagumi. Dengan penuh kebanggaan saya jawab Pak Habibie. Ada 4 hal yang menjadikan saya begitu mengagumi sosok Eyang B.J. Habibie, antara lain, kemampuan intelektualitasnya yang memiliki daya saing global, ketulusan cintanya yang begitu mendalam kepada Indonesia, spiritualitas yang menjadi dasar berpijak dan bergerak, dan yang keempat kemampuannya membangun harmoni keluarga dan jiwa pengabdiannya.

Mengejar kekuasaan itu sulit, tapi lebih sulit lagi meninggalkan kekuasaan. Kebanyakan politisi berambisi mengejar kekuasaan dan begitu berat sekali melepaskan kekuasaan. Namun, kekuasaan menghampiri Pak Habibie dengan mudahnya dan beliau lepaskan dengan mudahnya. Beliau benar-benar menunjukkan sebuah prinsip yang saya dapatkan dari Profesor saya 7 tahun lalu.

“If you get scientific position, it’s easy for you to get political position”.

Pak Habibie pun pada saat itu mengatakan kepada kami bahwa “I am survive in politic, but I’m not a politician. I am a technocrat”. Sebagaimana Ibu Ainun pernah menyampaikan bahwa service terbesar beliau untuk Indonesia itu memastikan Habibie menjadi teknokrat, menjadi orang yang berguna. Itu semua menjadikan saya mengagumi karakter, sosok, dan yang paling penting saya mengikuti dan meyakini gagasan -gagasan kebangsaan beliau yang visioner.

Dalam kesempatan silaturahim dengan beliau, saya menanyakan soal bagaimana menyelesaikan masalah kesenjangan di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun hingga menghantarkan kesenjangan kita terbesar ke-4 di dunia dengan koefisien gini 0,40. Tidak sampai disitu Bank Dunia angkat bicara bahwa 61% masyarakat kita memilih pertumbuhan ekonomi yang melambat asalkan kesenjangan juga menurun.

Bayangkan tahun ini kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia.

Dari diskusi panjang dengan beliau, beliau menyajikan pemikiran yang mangajak rejuvenasi pemikiran ekonomi bangsa dengan menghadirkan jawaban dari berbagai kesenjangan dan permasalahan ekonomi yang ada melalui Pancasila Market Economy (PME), yaitu Ekonomi Pancasila yang berorientasi pada pasar. Di akhir tahun 2017 ini saya sengaja menghabiskan hari demi hari untuk memahami dan menterjemahkan Prinsip Pancasila Market Economy dalam perspektif saya sesuai arahan Eyang Habibie.

Pancasila Market Economy ini penting kawan-kawan, karena diharapkan mampu membangun kesadaran baru, paradigma baru, dan sistem ekonomi baru yang hadir untuk melawan ketidakadilan ekonomi dan kesenjangan yang semakin merajalela dan menjajah keadilan sosial di Indonesia. Selama ini, kita telah mengasingkan Pancasila dalam sistem ekonomi kita, kita terjebak menjadikan Pancasila dalam slogan politik, orasi politik, dan kepentingan politik. Kita terlalu sering mengatakan Pancasila dalam lisan kita, tapi kita tidak meneladankan dalam kerja – kerja kita.

Melalui Pancasila Market Economy, perusahaan yang pro-rakyat akan tumbuh dan perusahaan yang tidak pro-rakyat akan jatuh. Market oriented itu akan menjadikan perusahaan-perusahaan tumbuh dan membangun keberpihakan sosial bukan karena peraturan, tapi karena kebutuhan pasar. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan akan menyesuaikan value yang ada dengan value yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Perusahaan tidak lagi hanya berfikir soal profit, tapi juga berfikir soal peran dalam pembangunan sosial di masyarakat.

Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Pancasila Market Economy akan menjadikan tumbuhnya tanggung jawab masyarakat yang beruntung dan sukses untuk membiayai masyarakat yang belum beruntung.

Eyang Habibie mencontohkan dengan menanyakan kepada saya mengapa saya mengembangkan Indonesia Medika, kemudian beliau melanjutkan,

“Why ? Because you are not blind. You care about them is the beginning of everything”.

Pancasila Market Economy dalam perspektif Ketuhanan Yang Maha Esa menghadirkan sebuah pemahaman bahwa sumber daya dipandang sebagai pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kehidupan orang banyak.

Pancasila Market Economy dalam konteks Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat kita diwujudkan dalam implementasi sistem perekonomian yang bukan hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai orientasi pembangunan, tapi memastikan besarnya dampak ekonomi pada tumbuhnya kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam konteks pemerataan, dan perkembangan masyarakat yang berkeadilan. Pancasila Market Economy ini harus mampu mendorong tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, bertakwa yang dihasilkan dari proses pembudayaan agama dan norma masyarakat. Pancasila Market Economy ini juga harus membentuk masyarakat yang punya kapasitas dan berdaya saing.

Pada implementasi pasar, Pancasila Market Economy akan mampu berperan menampilkan wajah ekonomi Indonesia yang menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kepedulian, mengutaman kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongan. Pancasila Market Economy pada konteks ini harus mampu diterjemahkan dalam konteks etika ekonomi, etika bisnis, dan orientasi ekonomi.

Pancasila Market Economy dalam perpektif Persatuan Indonesia adalah ekonomi harus digerakkan dengan semangat kerjasama manusia yang saling menguntungkan, menjadikan kehidupan sesama lebih baik, mempererat persatuan, dan menerapkan prinsip gotong royong. Pancasila dalam konteks Persatuan Indonesia harus dilihat sebagai aktivitas yang menunjukkan tolong-monolong dan menanggung beban hidup dan tanggung jawab bersama-sama.

Pancasila Market Economy dalam konteks kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwusyawaratan perwakilan dapat dilihat sebagai adanya sebuah tatanan, kebijakan, dan regulasi yang memberikan dukungan kepada masyarakat ekonomi lemah. Pancasila Market Economy harus membuat peraturan yang mampu mengawal dalam pembangunan pasar berkeadilan yang memberikan peluang dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha. Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan adanya perselingkuhan antara pemimpin bangsa dan perwakilan rakyat dengan pengusaha-pengusaha untuk memperkaya mereka dan melakukan transaksi politik dan kebijakan.

Pancasila Market Economy akan memudahkan kita melihat dan membedakan perusahaan – perusahaan mana yang punya misi pembangunan sosial dan pancasilais. Kita juga akan mampu melihat perusahaan – perusahaan mana yang menjelma menjadi VOC gaya baru, mengambil sumber daya di Indonesia, menjajah hak – hak keadilan sosial masyarakat Indonesia, dan anti Pancasila. Pancasila Market Economy seyogyanya menjadi rujukan para pemimpin untuk mengambil kebijakan yang bijaksana dengan prinsip keberanian, keadilan, dan keberpihakan pada masyarakat ekonomi lemah. Konsep Pancasila Market Economy harus mendorong dan memberikan keberanian melawan VOC – VOC gaya baru ini.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dilihat pada perpektif kepemilikan aset, tanah, modal tidak boleh bertumpuk pada segelintir orang yang berakibat pada ketidakmampuan sebagian masyarakat mendapatkan hak-hak sosial dan hak-hak dasar dalam kehidupannya. Secara praktis, Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan ada orang atau sedikit masyarakat yang memiliki kekayaan yang sangat besar, namun disisi lain ada masyarakat yang tak mampu berobat, tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, dan tak mampu tinggal di tempat yang layak. Pancasila Market Economy tidak akan membiarkan akumulasi kekayaan yang melampaui batas pada satu atau kelompok orang dan memberikan kesengsaraan kepada sebagian besar masyarakat lain. Tidak boleh terjadi so few have so much, so many have so little.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus mampu memastikan adanya jaminan pendidikan, kesehatan, dan terpenuhinya sandang, pangan, dan papan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila Market Economy pada akhirnya mampu memastikan kepemilikan masyarakat terhadap sumber daya yang ada dan memastikan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Pancasila Market Economy diyakini mampu melawan globalisasi yang manifestasinya adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, setelah dilakukan proses produksi, produk-produk tersebur dijual kembali ke negara asal. Dengan demikian produk-produk yang seharusnya dapat diproduksi oleh jam kerja masyarakat Indonesia digantikan oleh jam kerja masyarakat negara lain. Hal ini mengakibatkan terbatasnya lapangan kerja dan peluang ekonomi masyarakat. Menurut Eyang Habibie, Implementasi sila ke-5 dalam Pancasila Market Economy adalah memperjuangkan jam kerja bagi rakyat Indonesia sendiri. Hal tersebut dapat dicapai melalui dukungan regulasi dan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Saya melihat Pancasila Market Economy ini mampu memberikan nafas baru, semangat baru, dan harapan baru diantara berbagai keterpurukan ekonomi bangsa yang hari ini kian memburuk dan memberikan rasa ketidakadilan di masyarakat. Lebih jauh lagi, Pancasila Market Economy akan mampu melahirkan kesadaran baru untuk mengembalikan semangat ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dalam perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan rasa adil melalui kesejahteraan.

Titik utama dari nasehat Eyang Habibie yang saya tangkap adalah adanya kesungguhan untuk menjamin, memastikan, dan mendorong penerapan Pancasila secara menyeluruh. Saya secara pribadi melihat bahwa Pancasila Market Economy tidak boleh disimplifikasi dalam mengejawantahkan sila kelima pancasila saja, tapi lebih dari itu, mampu membawa nilai luhur kelima sila Pancasila secara holistik dan menyeluruh dalam penerapan ekonomi yang berfokus pada tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara.

Pada implementasi konsep ini, saya fikir kita pemuda-pemudi Indonesia harus mulai menyuarakan dan mengawal Pancasila Market Economy. Konsep Pancasila Market Economy harus menerapkan pancasila secara keseluruhan sebagai sebuah kesungguhan dan harus seimbang. Tidak boleh dipreteli seenaknya. Jika pancasila dipreteli seenaknya jangan kaget kalau bangsa ini dikuasai oleh segelintir orang.

Siapapun yang membiarkan ketidakadilan sosial tumbuh dimasyarakat, melakukan penguasaan akumulasi ekonomi pada pribadi secara berlebihan, dan mengakibatkan ketidakmampuan jutaan masyarakat memenuhi hak-hak dasarnya, maka ia telah mengkhianati pancasila. Bagi saya, 1 teladan pengamalan pancasila lebih baik dari 1000 pekikan pancasila.

Akhir kata, ketika berpamitan dengan beliau, saya memohon izin untuk memeluk beliau dan saya menancapkan dalam hati dan fikiran saya untuk menyebarkan pemikiran beliau kepada generasi muda Indonesia. Terima kasih Eyang Habibie sudah menyebut kami sebagai Intelectual Grandchild. Bagi saya, we are not only your intellectual grandchild, but we are also your ideological grandchild to ensure the Indonesian people get social justice.

Selamat datang Pancasila Market Economy.

Mendunia di Tahun 2018

Apa langkah pertama yang akan Anda lakukan di tahun 2018 untuk mewujudkan resolusi Anda?

Jika Anda membaca ini, sungguh Anda temasuk golongan orang yang sangat beruntung.

Jika Anda masih mencari pencerahan, kami akan memberikan salah satu alternatif jawabannya.

Seorang guru pernah berkata bahwa,

“Dunia hanya menyediakan tempat bagi pemberani”

Berani tampil menyuarakan gagasannya. Berani menunjukkan kepada dunia sebuah kebenaran. Berani mempengaruhi audience dengan performa kelas dunia.

Sebuah event langka yang menghadirkan 5 pembicara nasional akan menunjukkan kepada Anda bagaimana caranya mendunia. Lima pembicara yang expert dan telah melalui 10.000 jam terbang akan membuka ilmunya langsung kepada Anda. Untuk selangkah lebih dekat menjadi seorang World Class Presenter .

Siapa mereka?

1. Fay Irvanto – Charisma Leadership Guru. Yang akan membantu memancarkan karisma dalam diri Anda dalam hitungan detik!

2. Brili Agung. Authormaker / Writing Mentor. Yang akan membantu Anda memilih kata kata yang menyihir untuk mempengaruhi audience Anda.

3. Andy Sukma Lubis . Seorang Slide Designer yang akan menunjukan bagaimana sebuah perubahan kecil pada presentasi Anda akan mengubah seisi presentasi Anda.

4. Ari Wijaya. Cost Killer & Corporate Supply Chain Expert. Akan membantu Anda siap menghadapi persaingan dan menjadi juara di 2018

5. Vahrudin Jayadi. Seorang Motivator Quran yang akan membuka fakta mencengangkan bagaimana sebenarnya Al Quran telah menunjukan jalan untuk menjadi presenter kelas dunia.

Semua ilmunya akan Anda dapatkan dalam satu panggung di World Class Presenter.

Ahad, 7 Januari 2018
08.30-12.00
Titan Centre, Bintaro, Tangerang Selatan

Lokasi klik disini :https://www.google.co.id/maps/place/Titan+Center/@-6.280595,106.724083,17z/data=!3m1!4b1!4m5!3m4!1s0x2e69f075225947d9:0xa37cc0dbb4f29931!8m2!3d-6.280595!4d106.7262717

Pendaftaran dan CP : Dee (081296137239)

Kolaborasi ini bisa jadi adalah kolaborasi yang pertama dan terakhir kelima pembicara yang siap membawa Anda menjadi berkelas dunia.

So, jangan lewatkan kesempatan emas untuk bergabung di kelasnya. Karena hanya 99 peserta beruntung yang dapat mengikuti kelas ini.

Apakah Anda salah satunya?

Take action sekarang juga!

Silakan melakukan registrasi melalui link ini http://bit.ly/WorldClassPresenter

 

 

Buah Harapan

Beberapa kali artikel ini saya baca. Menggugah dan menyemangati, terlebih ketika hati sedang gundah gulana.

Perkenankan saya berbagi. Semoga sahabat berkenan mengambil hikmah dari buah pena Adimas Ust. Salim A. Fillah ini.

BUAH HARAPAN

“Sebuah harapan, sekecil apapun, jika dibandingkan dengan keputusasaan, adalah kemungkinan tanpa batas.”
(Silver, dalam ‘L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties’)

“Al Quran”, demikian Syaikh Muhammad Al Ghazali : “Adalah Kitab tentang kegagalan & harapan. Ia hargai setiap perjuangan insan, bukan hasilnya; ia larang mereka berputus asa dari kasih sayang Penciptanya. Maka siapapun, dalam keadaan apapun, akan menemukan semangat baru untuk bangkit jika membacanya.”

Kegagalan apa yang lebih besar dari melanggar larangan Allah hingga dikeluarkan dari surga?

Tapi Adam & Hawa dengan doa sesalnya telah memberi harapan pada anak cucu mereka; kesempatan masih dianugrahkan selama hayat dikandung badan.

Kekhilafan apa yang lebih ngeri dari membunuh?

Tapi Musa, pelarian, & jalan pengabdiannya di Madyan telah menyalakan binar di mata manusia yang hendak menempuh jalan juang bahwa Allah selalu berlimpah memfasilitasi tekad suci.

Keberpalingan apa yang lebih bodoh daripada meninggalkan tugas dariNya dengan hati murka?

Tapi Yunus di dalam perut ikan di dasar samudera telah menerbitkan ilham bagi siapapun, bahwa di puncak rasa tak berdaya itulah akan datang pertolonganNya yang Maha Jaya.

Dan seindah-indah harapan pernah diucapkan Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wassalam di tengah tawaran sedahsyat-dahsyat kekuatan. Saat itu, di Qarnul Manazil, setelah 3 hari dakwah di Thaif yang menguras jiwa & raganya, berbuah usiran & sambitan.

“Wahai Rasulallah,” ucap malaikat penjaga gunung :

“Perintahkanlah, maka akan kubalikkan gunung Akhsyabain ini agar membinasakan mereka yang telah mendustakan, menista, & mengusirmu”

“Tidak,” jawab Nabi Muhammad SAW :

“Sungguh aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab ‘adzab. Aku berharap agar dari sulbi dan rahim mereka, Allah keluarkan anak keturunan yang mengesakanNya & tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”

Bersebab hati yang ditanami harapan semacam ini, orang yang pernah berniat membunuhnya kini berbaring mesra di sampingnya, dan dari penista Quran Walid ibn Al Mughirah, lahirlah pedang Allah.

Bisnis Kehormatan

BISNIS KEHORMATAN

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc.

Menegakkan wajah dan mempertahankan kehormatan pribadi di atas kemiskinan yang panjang, bukanlah perkara gampang.

Tapi bertahan dalam kemiskinan yang panjang di tengah gemerlap dunia materi dengan tetap mempertahankan tingkat produktivitas ilmiah yang tinggi, tentu saja jauh lebih sulit.

Tapi itulah, inti semua tantangan yang dihadapi para ulama pewaris nabi.  Itu akan menjadi lebih rumit bila mereka hidup pada suatu masa di mana para penguasa bersikap anti ulama, meremehkan peranan ilmu pengetahuan, dan suka merendahkan ulama.

Kemiskinan adalah pilihan hidup mereka, tapi kehormatan adalah tameng mereka.

Masalahnya adalah bahwa sebagian dari kehormatan itu harus dipertahankan dengan materi atau harta. Harta itu sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas dalam dunia mereka. Tapi
itulah masalahnya : HARTA yang kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup.

Maka, perintah menjadi kaya beralasan di sini: agar kita juga memiliki kebanggaan itu, agar kita dihormati dalam pergaulan masyarakat.

Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen.
Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya.
Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untouchable.

Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalah. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan inurid beliau. Misalnya, Kitab Al Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.

Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah.

Sebab, bisnis tidak boleh mengganggu ‘bisnis’ mereka yang lain.

Sebab, mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu.

Sebab, mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu. Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses.

Demikianlah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqah, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab  Al Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses.

Namun, beliau hanya menjawab dengan enteng….

“Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa“

Pahlawan itu . . .

Sepuluh November adalah salah satu tanggal istimewa.

Bagi saya, juga sangat spesial. Selalu teringat kisah bapak saya almarhum. Bagaimana beliau mengisahkan pertempuran itu. Strategi. Keberanian arek-arek Suroboyo. Bahkan saat harus mundur sembari diberondong peluru. Dibombardir dari laut. Belum lagi di kejar pesawat sembari menyalakkan senapan mesinnya. Pun bagaimana bapak sebagai tentara yang baru juga dibentuk tercerai berai. Berpencar. Ia bersama beberapa rekannya mundur hingga Pacet, Mojokerto. Bersembunyi di hutan. Sebelum akhirnya menyusun kekuatan kembali. Penuturan yang penuh semangat. Saya pun terbawa suasana. Seakan berada dalam peristiwa itu.

Kisah itu entah berapa kali dituturkannya kepada saya. Saat sebelum akhir hayat pun kenangan itu beliau ceritakan kembali.

Nampaknya beliau sangat ingin memberikan pembekalan bahwa berjuang itu harus. Pakai strategi juga kudu. Rasa tak kenal menyerah, mesti terus menyala.

Belum lagi pelajaran lain semasa beliau hidup. Kejujurannya. Kesederhanaannya. Bagaimana memimpin tim. Saat beliau selalu mendahulukan kepentingan anggota timnya. Apalagi ketika bicara soal logistik. Kesejahteraan. Juga tak bisa saya lupakan adalah pesan dan teladannya untuk terus berbagi. Tak henti membantu orang lain. Meski hanya sepiring nasi sop plus sambel kecap. Kala sempit atau lapang. Tidak harus selalu uang. Tak melulu materi. Bisa tenaga. Dapat pula sekedar nasihat. Semangat. Atau mencarikan jalan keluar. Solusi.

Upayamu bersama garwa tercinta (baca : ibu saya) menghidupi, mendidik dan membesarkan kami, 13 anak-anaknya sangat luar biasa. Itu semua tetap kau jalani dengan memegang teguh prinsip-prinsip dasar kehidupan. Jujur, tulus dan amanah. Saya saksi keteguhan itu.

Terima kasih, Pak. Insya Allah, saya akan meneruskan cita-citamu. Memang tidak bisa semuanya. Tidak mudah. Setidaknya beberapa telah saya wujudkan. Belum besar. Tapi terus tumbuh.

Kalau boleh saya beri gelar, bagi kami engkaulah pahlawan itu…

Seperti petuah Bung Hatta :

“Pahlawan yang setia itu, berkorban bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”

Tapi kami sekeluarga ingat bagaimana wejanganmu ketika tidak mau sebutan itu. Tapi namamu selalu tersemat manis dan ada tempat khusus di hati ini.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa Bapak semasa hidup. Nasihat, aksi dan juga teladan Bapak dicatat Allah azza wajalla sebagai amal soleh yang tiada kenal putus.

Allaahumaghfirlana waliwaalidainaa warhamhum kamaa rabbayaanaa sighaaraa….

Doa yang sama teriring untuk para pejuang Indonesia . . .

 

 

 

Brawijaya untuk Indonesia !

Berkumpul kembali merajut kenangan.
Melanjutkan mimpi yang belum terwujud.
Beraksi berbagi kepada sesama.
Turut memberi solusi kepada negeri.
 
Kembali menyambangi kampus.
Kawah candradimuka saat muda.
Gemblengan guru dan sejawat membuat kita kuat.
Menemui mereka kembali adalah penghormatan.
Penghargaan.
Respect.
 
Kampus itu kini melahirkan agen perubahan.
Anak muda berwajah optimis bertebaran.
Mereka adalah generasi pembangun selanjutnya.
Kehadiran kita bisa menambah energi.
 
Mari kobarkan semangat !
Brawijaya untuk Indonesia !
 
Ayo oket, Ker !
#NgalupNgalam
Ojo lali, buka link iki, ben ora penasaran yo… :
http://reuniub.com/