Pengkhianat

Pengkhianat

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc

Awalnya Hulagu Khan, pimpinan Mongol/Tatar (cucu Jenghis Khan), ragu untuk menyerbu Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, karena takut kena kutukan langit, sebagaimana nasehat orang-orang bijak di sekitarnya.

Tetapi keraguannya hilang setelah menerima surat dari seorang ulama Syi’ah terkenal, Nashruddin ath-Thusi, yang meyakinkannya tidak akan mengalami gangguan apa pun jika ia membunuh khalifah Abbasi.

Sejak itu Hulagu Khan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan rencananya, diantaranya menjalin komunikasi intensif dengan salah seorang menteri utama di pemerintahan Abbasiyah bernama Muayiduddin bin al-Alqami, seorang penganut syi’ah rafidhi (penolak khilafah Abu Bakar dan Umar ra).

Menteri syi’ah ini menjadi orang kedua dalam khilafah Abbasiyah, orang kepercayaan khalifah al-Musta’shim Billah. Hampir seluruh kebijakan khalifah ini ditentukan oleh Menko yang satu ini. The real president.

Dalam komunikasinya, Hulagu Khan meminta Muayiduddin untuk mengurangi anggaran militer, mengurangi jumlah tentara, mengalihkan perhatian negara dari urusan persenjataan dan perang, dan mengaryakan pasukan di pekerjaan-pekerjaan sipil seperti pertanian, industri dan lainnya.

Permintaan Hulagu Khan ini dipenuhi sang menteri. Tentara yang tadinya berjumlah 100.000 pasukan di masa akhir pemerintahan al-Mustanshir Billah, tahun 640 H, dipangkas menjadi 10.000 pasukan pada tahun 654. Ini tentu melemahkan kemampuan militer negara.

Akibat pengurangan anggaran militer, banyak tentara yang hidup miskin bahkan meminta-minta di pasar-pasar. Latihan-latihan militer dihentikan hingga mereka tidak punya kemampuan membuat rencana, manajemen dan kepemimpinan. Akibat lanjutannya kaum muslimin melupakan berbagai ilmu perang dan tidak pernah berfikir tentang nilai-nilai jihad.

Semua perkembangan dan situasi ini diketahui Hulagu Khan melalui Menko ini, hingga Hulagu Khan memutuskan untuk bergerak menuju Bagdad. Karena Bagdad sebelumnya dikenal sangat kuat.

Hulagu Khan mulai pengepungan Bagdad dari arah selatan, Katbugha dari arah utara, dan Pigo dari arah utara, hingga membuat khalifah terkejut dan ketakutan.

Khalifah mengadakan pertemuan mendadak dengan semua penasehat dan menterinya.

Dalam pertemuan ini sang Menko pengkhianat mengusulkan agar khalifah mengadakan ‘perundingan damai’ dengan musuh dengan memberikan sejumlah konsesi kepada mereka.

Sang Menko memberikan gambaran tentang perbedaan sangat jauh antara kekuatan pasukan Hulagu Khan dan kekuatan kaum muslimin, agar tidak muncul ide untuk melakukan perlawanan.

Pendapat sang Menko inilah yang akhirnya menjadi keputusan rapat kabinet. Hanya ada dua menteri yang menginginkan perlawanan, yaitu Mujahiduddin Aibek dan Sulaiman Syah. Tetapi ide ini terlambat. Karena masa persiapan perang sudah lewat, sehingga perlawanan yang kemudian dilakukan oleh kedua menteri ini tidak mampu menghadapi pasukan Tatar.

Khalifah bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan ini menteri pengkhianat bangsa ini datang memanfaatkan kesempatan dengan menyarankan agar duduk bersama Hulagu Khan di meja perundingan.

Hulagu Khan setuju bertemu khalifah tetapi dengan syarat tidak sendirian, ia harus membawa serta semua menteri, pejabat-pejabat negara, para ahli fikih Bagdad, semua ulama Islam dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua harus dihadirkan agar hasil perundingan mengikat semua pihak, kata Hulagu Khan memperdaya.

Khalifah tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti keinginan Hulagu Khan, hingga ia datang dengan rombongan besar berjumlah 700 orang.

Ketika mendekati kemah Hulagu Khan, rombongan ditahan oleh para pengawal Hulagu Khan dan tidak diijinkan masuk. Hanya khalifah bersama 17 pendampingnya yang diperkenankan masuk sedangkan rombongan lainnya diinterogasi dan dibunuh di tempat terpisah.

Seluruh rombongan telah dibunuh kecuali khalifah karena Hulagu Khan ingin memanfaatkannya untuk tujuan lain.

Hulagu Khan memaksa khalifah mengeluarkan perintah kepada seluruh penduduk Bagdad agar melucuti senjata dan tidak melakukan perlawanan apa pun.

Khalifah kemudian dirantai dan diseret ke kota untuk menunjukkan tempat penyimpanan harta keluarga dan para menteri Abbasiyah. Kedua anaknya dibunuh di hadapannya. Khalifah dipaksa memanggil tokoh-tokoh ulama Sunnah yang daftar nama-nama mereka telah diberikan oleh sang menko pengkhianat kepada Hulagu Khan, untuk dibunuh.

Terakhir khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak lehernya agar tidak mengeluarkan darah, karena menurut sebagian pembantu Hulagu Khan jika darah khalifah muslim menetes ke tanah maka kaum muslimin akan menuntut balas atas kematiannya di suatu saat.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang memilukan ini.

Great Leader by Simon Sinek

Great leaders don’t see people as a commodity to be managed to grow profits. Great leaders see profits as the commodity to be managed to grow the people.

_ Simon Sinek

FIVE  INSPIRING LEADERSHIP LESSONS 

1. START WITH WHY

Everyone in an organization knows “WHAT” it is that they do. Some know “HOW” they do it. But, very few know “WHY” they do what it is that they do. He points out that the reason can’t be to make a profit. That’s a result, and it will always be a result, of providing something of value.

By “why” means: What’s your purpose? What’s your cause? What’s your belief? Why does your organization exist? Why do you get out of the bed in the morning and why should anyone care?

Sinek points out some great leadership success stories examples. I don’t believe that any of these leaders were looking for their “WHY.” Instead, I believe that something happened in their lives that caused an emotional reaction. That reaction naturally instilled their driving purpose. This is the most powerful “WHY” a person can have. It’s also important to note that none of these leaders set out to “be first,” instead they set out to serve others.

Unfortunately, most of us are not so lucky when it comes to understanding our “WHY.” Although it is a simple concept, it’s derived by looking back on past personal experiences.

Every company, organization or group with the ability to inspire starts with a person or small group of people who were inspired to do something bigger than themselves. – Simon Sinek

We live by many beliefs on a daily basis. These can also be limiting beliefs that cause us to fall into the working-for-work’s sake trap of the 40-hour work week.

To find your “WHY” I would recommend that you set goals balanced around the three most important areas of your life:

  • Establish clear personal, family and health goals. These are your “WHY” goals.
  • Determine your personal professional development goals. These are your “HOW” goals.
  • Set your business, career and financial goals. These are your “WHAT” goals.

 

2. HAVE CLARITY, DISCIPLINE AND CONSISTENCY

Clarity of WHY – If you don’t know WHY you do WHAT you do, how will anyone else?Having clarity is what enables great leaders to articulate “WHY” their organization. It exists beyond its products and services. First to their employees, and then to their customers. To lead requires those who willingly follow. It requires being a part of something bigger than oneself. To inspire others to follow, starts with having clarity of WHY.

“People don’t buy “what” you do, they buy “why” you do it”

– Simon Sinek

Discipline of HOW – Have clarity in WHY will lead you to the question of HOW will you do it?  How you do things are your values or principles that bring your cause to life. Finding your “WHY” is simple, compared to having the discipline necessary to never veer from your cause. To be accountable to HOW you do things is the most difficult part.

For values or guiding principles to be truly effective, they have to be verbs.

– Simon Sinek

Sinek points out that it’s not “integrity”, it’s “always do the right thing.” It’s not “innovation,” it’s “look at the problem from a different angle.”

The discipline of “HOW” hinges on having the discipline to stay focused on the “WHY” (what you believe) to remain true to your values.

Consistency of WHAT – Everything you do and say, must prove what you believe. Your “WHAT” is the result of your beliefs and the actions you take to realize the belief.  It’s everything you say or do; your products, services, marketing, PR, culture and the people you hire.

If you’re not consistent in the things you say and do, no one will know what you believe.

– Simon Sinek

3. LEADERS NEED A FOLLOWING

Being a leader requires having people that choose to follow you. Trust must be established before anyone will make the decision to follow you. Trust doesn’t emerge simply because a customer makes a decision to buy something. Trust is not a checklist. Fulfilling all your responsibilities does not create trust.

Trust is a feeling that begins to emerge when we have a sense that another person or organization is driven by things other than their own self-gain. You must earn trust by communicating and demostrating that you share the same values and beliefs.

This leads us to the heretical belief of Herb Kelleher – Founder and former CEO of Southwest Airlines. It’s the company’s responsibility to look after your employees first. Happy employees ensures happy customers. Happy customers ensures happy shareholders – in that order.

4. COMMUNICATION ISN’T ABOUT SPEAKING, IT’S ABOUT LISTENING

Most companies have logos, but few have been able to convert those logos into meaningful symbols. Most companies are bad at communicating what they believe, their “WHY.” Without clarity of “WHY,” a logo is nothing more than just that. To say that a logo stands for quality, service, innovation and the like only reinforces its status as just a logo. These qualities are about the company and not the about the cause.

For a logo to become a symbol, people must be inspired to use that logo to say something about who they are. In his book, “START WITH WHY” Sinek shares the profound example of Harley Davidson.

There are people who walk around with Harley-Davidson tattoos on their bodies — and some of them don’t even own the product!  Why would a rational person tattoo a corporate logo on their bodies? Harley Davidson has been crystal clear about what they believe. After years of discipline about their “WHY” and being consistent in everything they say or do, their logo has become a symbol. It no longer identifies a company and it’s products; it identifies a belief.

It’s not just WHAT or HOW you do things that matters; what matters more is that WHAT and HOW you do things is consistent with your WHY.”

– Simon Sinek

Sinek share a simple metaphor called the “Celery Test” that you can apply to find out exactly WHAT and HOW is right for you.

5. SERVING THOSE THAT SERVE OTHERS

Being a great leader is like being a parent. Just as we provide our children opportunity — to build self confidence, education and discipline when necessary all so that they can achieve more that we can imagine.

Leadership is not a rank. While there are people that have authority, that does not make them a leader. There are people who have no authority, but they themselves are leaders.

We call them leaders because:

  • They go first, they take the risk before anyone else does.
  • They choose to sacrifice so that their people may be safe, protected and so that they may gain.

When they do, the response is incredible.  Their people will sacrifice for them, give them their blood, sweat and tears to see that their leaders vision comes to life. When they are asked “WHY” the response is always the same; “Because they would have done it for me”.

Isn’t that the type of organization we all would like to work for?

 

Catatan :

Artikel ini disalin sebagian dari tulisan Keith Gutierrez, September 2016 (sumber inspirasi : TEDx Talk di Puget Sound Washington tahun 2009)

Memberi Makan

Hari raya kali ini penuh warna. Ada daerah yang merayakan dengan segala keterbatasan. Lombok salah satu contohnya. Namun, tetap banyak hikmah didapat. Beberapa teman yang terjun langsung menjadi relawan memberikan kesaksian beragam. Semoga rehabilitasi dan rekonstruksi segera dilakukan. Doa dan dukungan kami, agar Lombok, salah satu lumbung pangan nasional, pulih kembali roda ekonominya dengan segera.

Kegembiraan dan kesedihan juga tejadi di wilayah yang hanya 14 KM dari ibukota. Tak jauh. Itu wilayah tempat saya bermukim.

Kegembiraan karena hari raya ini meleburkan perbedaan. Banyak warga yang sebelumnya tidak kenal, beda pandangan politik, membaur bahu membahu menjadi relawan penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban. Makan siang bersama juga jadi momen yang tak terlupakan.

Kesedihan juga masih tersisa. Masih banyak warga yang antri mengular. Tak henti berharap. Padahal, mereka tidak mendapat kupon penukaran daging hewan qurban. Ini tak lain, karena memang keterbatasan kami. Jumlah pequrban dengan penerima masih jauh lebih sedikit. Dagingnya masih belum surplus. Cermin masih banyak masyarakat yang belum membaik ekonominya. Tantangan tersendiri. Jangankan makan daging, makan sehari-hari saja mereka juga masih harus berjibaku mendapatkannya.

Tapi setidaknya perayaan ini mendongkrak sedikit konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. Meski itu masih sangat minim. Menurut hasil penelitian IPB pada tahun 2017, tingkat konsumsi daging Indonesia masih rendah, yakni 11,6 kilogram per kapita per tahun. Peringkat Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia (52,3 kg), Filipina (33 kg) dan Thailand (25,8 kg). Sebagai pembanding, tingkat konsumsi daging di negara maju jauh lebih tinggi. Amerika Serikat, 120 kg per kapita per tahun. Sedangkan Australia, 111 kg.

Rasa syukur tetap kami panjatkan. Hari Tasyrik, 3 hari setelah hari raya, saat dilarangnya berpuasa. Peluang untuk memberi asupan protein hewani menjadi lebih luas dan lebih lama. Karena ada yang baru melaksanakan prosesi pada Hari Tasyrik. Ada asap ngebul lagi.  Nyate. Semerbak bau sedapnya kuah kari.  Oseng mercon (baca : sangat pedas!). Makan-makan lagi.

Tak jarang, ada komunitas yang menyediakannya hingga siap santap. Indahnya berbagi. Saya yakin ikhtiar memberi makan sebagai bentuk melestarikan dan melaknasakan nasihat Nabi Muhammad SAW.

“Perbuatan apa yang terbaik di dalam agama Islam? Maka Rasul menjawab : yaitu kamu memberi makan kepada orang lain, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”

(HR. Bukhari)

Mau ?

Mari bergabung bersama kami :

Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 19.30 WIB hingga selesai di Masjid Ar Ridho, Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan 15422

Kado dari Kediri

Siang itu, saya dan istri berusaha meyakinkan anak saya agar tetap menjalani kemauan awalnya. Sore itu, ia harus transfer dari Ponorogo ke Kediri. Pondok pesantren yang masih satu manajemen. Masih sama metoda pengajarannya. Beda tempat saja.

“Ya, adik mau berangkat. Tapi Bapak dan Ibu mau menemani ya”, begitu ujarnya yang membuat kami lega.

Bis rombongan yang membawa 400-an santri baru itu pun berangkat sesaat setelah sholat Isya’. Kami pun berkemas. Mencari moda transportasi yang pas. Saya sempat survey ke Terminal Bis Seloaji. Terminal type A yang terbilang cukup megah itu. Ternyata ada bis yang ke Surabaya, sekitar pukul 23.30 WIB. Rencananya akan turun Kertosono, disambung angkutan lain. Terlalu malam. Istri punya alternatif, pakai aplikasi on-line. Ternyata istri zaman now juga. Alhamdulillah pas ada yang baru saja mengantar penumpang dari Madiun.

Kami tiba di Gurah, sebuah kota kecamatan di Kediri, pukul 01.15 an dini hari. Pondok masih terlihat ada kegiatan. Sayangnya, tempat penginapan yang berbentuk rumah panggung kecil (ukuran 2×2 m) penuh semua. Saya turun sejenak. Sekalian melemaskan kaki. Sembari berpikir mau menginap dimana. Beberapa orang tukang ojek masih terlihat di ujung jalan.

“Darimana, Pak, kok jam segini baru nyampe ? “sapa mereka, menghampiri saya sembari mempersilakan saya duduk di kursi panjang.

Sapaan yang khas Jawa Timur-an.  Terjadi dialog singkat. Setelah mereka paham tujuan saya ke Gurah, mereka menyarankan saya menginap di rumah penduduk. Beberapa rumah memang disiapkan serupa home stay.

“Waduh, Pak. Ini kan jam 1 pagi, apa tidak mengganggu yang punya rumah?”, tanya saya memastikan.

“Mboten menopo-menopo (artinya : tidak apa-apa). Sampun ngertos (sudah paham)  kok masyarakat sini”, salah seorang dari mereka menegaskan dan diiyakan oleh yang lain.

Salah seorang Pak Ojek itu berinisiatif menemani kami ke rumah tersebut. Ia mengiringi mobil dengan motornya. 10 menit dari pondok, kami tiba di deretan rumah. Dia juga yang mengetuk pintu. Cukup lama untuk mendapat tanggapan.  Saat pemilik rumah keluar, tidak ada rasa marah. Padahal, hati ini was-was. Bisa kena semprot, dimarahi. Mengganggu waktu tidur. Kami pun berdialog dengan Bahasa Jawa. Ternyata rumah sebelah yang disewakan kamarnya, sudah penuh. Ia pun memberi solusi ke beberapa rumah lain.

Pak Ojek mencoba menelpon beberapa pemilik rumah sesuai saran tadi. Idem ditto. Penuh.

Kami disarankan ke rumah yang agak jauh. Kami pun langsung mendatanginya, karena tidak ada nomor telponnya. Tidak jauh sebenarnya, tidak sampai 5 menit dengan kendaraan. Sama. Rumah sudah sepi. Pak Ojek pun berupaya membangunkan sang pemilik rumah. Cukup lama. Setelah keluar, ternyata perempuan sepuh (tua) yang keluar. Dan lagi, tak menampakkan wajah marah. Mempersilakan kami mendekat ke teras.

Pagi itu, jam menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Kami menginap di rumah ibu sepuh yang ternyata hidup sendiri. Suaminya telah wafat. Anaknya pun telah berkeluarga dan tidak tinggal bersamanya.

Saya pun mengucapkan terima kasih kepada Pak Ojek. Saya baru tahu namanya, saat bertukar nomor ponsel. Pak Tomo.

Saat beberapa kali Kami ke Gurah, Pak Tomo yang setia menemani dan mengantar. Dia punya motor dan juga becak motor. Tarifnya pun bukan aji mumpung. Mereka semua sepakat, ada tarif resmi yang dipampang di baliho besar, di ujung jalan. Para pengguna tak perlu risau.

Bagaimana cara Pak Tomo menyapa, menolong kami dengan tulus. All out mencari tempat penginapan, menemui warga. Dan juga warga yang ramah, pengertian, dan juga tidak aji mumpung. Beberapa kali ketemu, belum pernah saya mendengar keluh kesahnya. Itu yang saya sebut karakter khas Indonesia. This is the real Indonesia.

Attitude mereka menginspirasi saya dan semoga juga sahabat.

Ini bisa jadi kado indah Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan. Keramahtamahan, sikap menolong yang all out menjadi karakter asli kita. Menjadi kador indah, ketika itu menular kembali ke seantero negeri. Saya bilang : ‘kembali’, karena saya merasakan mulai luntur di beberapa tempat.

Padahal Nabi Muhammad SAW pernah memberi nasihat :

“Siapa yang menolong  saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi  setiap langkah yang dilakukannya ”(HR. Thabrani )

Mau ?

Yuk, mari praktekkan kembali, kita tularkan terus.

Marketer ?

Marketer atau pemasar. Bisa produk, dapat juga jasa. Ini tugas siapa ?

Pertanyaan yang patut direnungkan bersama.

Pagi tadi saya diminta untuk menerangkan bisnis yang dijalani perusahaan. Keterangan untuk pemimpin tim yang langsung menjadi amanah saya. Tugas yang unik. Selanjutnya mereka akan meneruskannya kepada anggota tim lainnya. Berjenjang. Bukan tanpa maksud.

Business awareness memang perlu dimiliki oleh setiap orang yang bergabung dalam organisasi. Apalagi bisnis, berorientasi kepada keuntungan. Nilai penjualan sangat penting. Revenue ibarat darah. Tak boleh bleeding. Ia harus menjadi sarana untuk lebih memberdayakan. Membuat usaha terus tumbuh berkembang.

Era digital juga harus dicermati. Generasi milenial sudah bertaburan. Pengguna saat ini lebih banyak menggunakan media sosial. Faktor itu pun tak boleh luput dari perhatian. Teknologi harus dimanfaatkan.

Anggota organisasi mengenali dengan baik bisnisnya. Apa kekuatannya, apa kelemahannya. Maka ia juga setidaknya paham akan apa yang dijalani. Terlebih, ketika ditanya orang, tak seperti katak dalam tempurung. Ia bisa bercerita panjang lebar. Ia juga dapat mempengaruhi orang. Memberkan referensi atas produk atau jasa yang ada dalam organisasinya.

Ibarat mau perang, kita harus mengenali diri sendiri dulu. Kemudian mengenali musuh juga (baca : pesaing). Tentu saja kenal juga dengan medan tempurnya (baca : industrinya). Jika itu cermat dan cerdas kita lakukan, maka jaminan kemengan ada di depan mata.

Jadi tugas siapa menjadi marketer ? Pemasar ?

Ya, betul. Tugas seluruh anggota tim. Kita semua yang berada dalam satu biduk perjuangan. David Packard, Co-founder Hewlett-Packard (HP) pernah mengatakan :

“Marketing is too important to be left to the marketing department.”

Masih mau menundanya ?

 

Bahan Bakar Khusus

Komentar praktisi, akademisi, dan professional tentang sebuah karya pustaka ibarat Bahan Bakar Khusus bagi penulisnya.  BBK biasanya punya nilai oktan lebih tinggi. Menambah kinerja lebih baik. Daya dorong lebih besar.  Itu juga berlaku untuk saya.

Terima kasih.

Pre-order akan dillakukan dalam bulan Agustus 2018. Insya Allah, buku edisi cetak akan hadir di tangan pembaca pada bulan Oktober 2018.

Semoga menjadi amal sholeh kita.

Perkenankan saya menuliskan kembali beberapa testimoni yang telah masuk.

“Baca buku ini, saya jadi tambah semangat. Isinya sejalan dengan wejangan guru dan motivator spiritual bisnis dalam kesempatan yang lain. Untuk bisa menghadapi dan bersaing, tidak bisa lagi dengan cara keumuman. Menilik kembali bagaimana cara Rasulullah SAW dan para sahabatnya membangun bisnis. Salah satunya dibahas di buku ini, harus punya : integritas dan kemauan berbagi.”

Unang Supriadi, Vice President – Area Banten, Global Professional Entrepreneur (GENPRO).

 

“Buku ini terbit tepat pada waktunya. Semua anak bangsa harus membaca buku ini agar negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang menjadi impian bersama segera terwujud.”

Awang Surya, Motivator Spiritual Indonesia.

 

“Buku ini renyah dan gurih untuk dikonsumsi, kombinasi pengalaman praktisi, teori dan pendekatan agama membuat buku ini tidak membosankan. Buku ini dapat menjadi salah satu referensi ditengah kondisi disruptive khususnya dalam hal pengelolaan Sumber Daya Manusia.”

Muhammad Fahmi El Mubarrak, Vice President of Human Capital, PT. Elnusa, Tbk.

 

Mau Jadi Solusi ?

“Mas, aku pusing. Proyek yang kami tangani berantakan. Aku mencium aroma tak sedap. Banyak yang main. Belum lagi hasil kerjanya, tewur (baca : ruwet)”

Dialog di ujung telpon salah seorang sobat itu menyiratkan banyak hal. “Main”, satu kata yang lebih condong berarti negatif. Sesuatu yang tidak sesuai kepatutan. Bisa jadi juga karena sumber daya yang tidak mumpuni.

Ketika program dijalankan, namun masalah manusia sebagai motor penggerak belum tuntas, bukan tidak mungkin, hasilnya berantakan. Bisa juga berhasil, namun tidak optimal. Sebenarnya, masih bisa mencapai output yang jauh lebih tinggi.

Menyiapkan sumber daya insani memang bukan perkara mudah. Tapi sejarah membuktikan, bahwa nenek moyang kita pernah melakukannya. Hasilnya pun diakui dunia internasional.

Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan organisasi/perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, kapan saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi, segera berkontribusi, dan menjadi solusi.

Bagaimana menjadi manusia pilih tanding ? Mau jadi solusi ?

Ada 5 modal kunci yang harus dimiliki.

Apa saja itu ?

Saya sangat menyarankan sahabat menyimak lebih jauh dengan mengunjungi laman :

http://www.bookoo.co.id>

Cari daftar buku. Temukan sampul dengan judul : KEY.

“KEY”

(Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan)

Pustaka yang ditawarkan untuk memberikan pembekalan kepada para sahabat mempersiapkan diri dan juga tim yang membersamai.

Itu baru 1 dari 55 solusi yang disuguhkan para trainer yang ahli di bidangnya. Sahabat juga bisa menjelajahi satu per satu karya Kami.

Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, mencatat sebagai amal sholeh atas upaya Kami memberikan sumbangsih untuk Indonesia.

Salah satu cara kami memaknai  Hari Ulang Tahun ke-73, Proklamasi Kemerdekaan negeri yang kita cintai ini.

Catatan :

Saya sarankan melakukan pre-order dengan klik :

http://bookoo.co.id/ari-wijaya-key/

Terima kasih atas perkenan dan perhatian, sahabat.

Selamat menikmati.

Punya Prinsip, Separuh Sukses

Punya Prinsip, Separuh Sukses

 

Masih ingatkah Anda dengan kisah ini?

Di tepian sebuah sungai di wilayah Provinsi Sumatra Barat, tinggallah seorang guru agama. Pak Lebai namanya. Suatu hari, Pak Lebai mendapat undangan pesta dari dua orang kaya di kampungnya. Sayangnya, pesta itu berlangsung di waktu yang sama, dan tempatnya saling berjauhan. Yang satu berada di hulu sungai, sedang yang kedua berada di hilir sungai. Tuan rumah di hulu sungai akan memberinya dua kepala kerbau, tapi masakannya tidak enak. Sedangkan tuan rumah di hilir sungai dikenal punya masakan yang enak, tapi ia hanya akan memberi satu kepala kerbau. Pak Lebai bingung dibuatnya.

Dengan hati diliputi kebingungan Pak Lebai berangkat mendayung perahu menuju hulu. Sepanjang perjalanan di sungai ia terus menimbang-nimbang. Tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera memutar arah perahunya menuju hilir. Ia kembali mendayung. Ketika semakin dekat dengan lokasi di hilir Pak Lebai berjumpa dengan beberapa orang baru pulang dari tempat pesta di hilir.

“Kerbau yang dipotong di hilir, kecil, Pak Lebai!” teriak beberapa orang.

Mendengar hal itu Pak Lebai berubah pikiran. Ia berbalik arah lagi menuju ke hulu. Namun, sesampai di hulu ternyata pesta ternyata sudah usai. Para tamu sudah tak ada. Makanan sudah habis. Lekas-lekas Pak Lebai memutar haluan. Ia mengayuh cepat-cepat menuju hilir. Tetapi kejadian serupa terjadi. Suasana sepi saat Pak Lebai sampai. Pesta sudah usai.

Pak Lebai lemas.

Pembaca budiman, sudah pasti kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Tetapi setidaknya kisah itu memberikan pelajaran penting bahwa hidup tanpa prinsip itu seperti perjalanan tanpa tujuan  yang pasti. Seseorang yang berjalan tidak punya tujuan akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh orang lain. Dan pada akhirnya ia akan menyesal di kemudian hari.

Tetapi apakah dengan memiliki prinsip seseorang pasti akan berhasil meraih kesuksesan? Belum tentu. Tergantung apakah prinsip yang dipegangnya itu benar atau salah. Mari kita buktikan.

Ada beberapa orang yang menganut prinsip seperti berikut ini: hidup itu seperti air mengalir. Ikuti saja, nanti toh akan sampai tujuan juga. Benarkah prinsip ini?

Mari kita cermati dengan seksama.

Apakah setiap aliran air akan berujung ke laut?

Tidak! Ada juga yang ke septictank. Saat kita buang air kecil misalnya, coba cek kemana larinya air buangan itu? Ke laut? Lebih sering tidak!  Ia mengikuti air mengalir bilasan, muaranya hanya sampai kolam penampungan. Tidak sampai ke laut lepas. Artinya, perlu diperhatikan betul prinsip yang kita yakini. Mengapa?

Karena sesuatu yang kita yakini bisa menentukan jalan pikiran dan pijakan tindakan kita.

Mau tahu lebih jauh ?
Mau juga bertemu dengan pemateri dan materi lain ?

Yuk.. Gabung ke :

http://bookoo.co.id/

 

 

 

 

Tenaga Kerja Asing

Tenaga Kerja Asing

Saya pernah mendapatkan kesempatan mengisi jabatan yang boleh dikatakan prestisius. Kesempatan yang dibuka sama kepada seluruh karyawan di negara mana pun perusahaan beroperasi. Ini memang perusahaan consumer goods dengan merek ternama. Saya ketika itu adalah utusan dari manufacturing alias manajemen operasi. Tawaran yang sangat menarik. Jika lolos seleksi akan mendapatkan kesempatan menimba ilmu di Negeri Paman Sam selama 18 bulan. Pelatihan di kantor pusat perusahaan tempat saya berkarya. Saya pun mengikuti tahap penyaringan hingga seleksi tahap akhir. Wakil Asia Tenggara tinggal 1 lagi. Ketika itu pabrik di Kawasan Asia bagian Tenggara yang masih berjalan normal tinggal Indonesia. Lainnya tidak beroperasi karena strategi perusahaan.

Apa daya, ternyata 2 posisi lowong jatah Asia Pasifik, dua-duanya diisi oleh kandidat dari negeri Tirai Bambu. Proses sebelumnya, 1 tempat diisi dari Asia Tenggara. Suka tidak suka, dalam hal ini saya kalah bersaing. Apa pun alasannya. Nyeseklah pokoknya.

Tapi hikmahnya, saya menemukan bidang yang secara spesifik saya perdalam dan tekuni hingga kini.

Karir saya terpaksa berakhir, ketika perusahaan itu dinyatakan ditutup. Seluruh operasional manufakturnya di pindah ke Shanghai, RRC. Mesin yang masih terbilang berteknologi baru di kirim ke pabrik lain di Mexico. Sedangkan sisanya, dihancurkan. Dipotong jadi beberapa bagian kecil agar tidak ditiru orang. Menghindari product counterfeit. Mitigasi risiko atas upaya pemalsuan produk. Tak mengherankan, banyak pekerja yang menangis sembari memotong mesin-mesin itu. Dapat dimengerti, mereka ada yang telah membersamai mesin selama 28 tahun.

Fenomena tenaga asing lebih unggul, juga terlihat ketika saya bergabung dengan perusahaan bahan material. Saya beberapa kali ke kantor manajemen yang berada di bilangan Damansara, Kuala Lumpur. Ada rapat-rapat koordinasi yang mendadak maupun yang terjadwal. Masa itu saya sebagai pemangku jabatan bagian pengadaan di Indonesia punya atasan yang bermarkas di KL. Perusahaan ini tempat para professional lintas negara bergabung. Memang selayaknya perusahaan multi nasional.

Sebagai gambaran, di kantor manajemen yang satu lantai dengan saya itu, hanya ada 2 orang asli Melayu. Dominan adalah India, Chinese, beberapa dari Eropa. Saya bukan bicara masalah SARA. Mohon maaf, jangan sampai salah paham.

Saya salut sama mereka. Kemampuan sebagai manusia berkelas dunia, ada pada diri mereka. Penguasaan bahasa asingnya, utamanya Bahasa Inggris, bisa dibilang excellence. Layaknya mother tounge. Bahasa Ibu. Sedikit dari mereka juga menguasai Bahasa Perancis. Penguasaan teknologinya juga jempolan. Saya tidak melihat mereka gagap teknologi. Setidaknya itu saya lihat saat saya berinteraksi di ruangan kerja maupun di tempat rapat. Teleconference seperti ‘sego jangan’. Biasa dan rutin. Presentasi? Materi dan caranya ciamik. Content dan context-nya padu padan, lengkap. Di perusahaan itu saya merasa seperti orang lama. Saya tidak canggung. Mereka banyak membantu. Mereka menyambut dengan baik kedatangan saya, meski biasanya hanya kenal via surat elektronik. Mereka juga sering mengingatkan waktu sholat. Ini semua membuat saya lebih cepat berbaur, walau saya hanya berada di kantor itu paling lama 3 hari.

Saya kadang merenung. Manggut-manggut menyetujui gejala itu. Kualifikasi sekelas itulah yang membuat mereka bisa melanglang buana.

Lain lagi, saat saya berkesempatan berkunjung dan berdiskusi di Bangalore, India. Saya masuk ke pusat penelitian dan pengembangan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alfa Edison. Saya bertemu dengan tim yang berisi para peneliti dan praktisi, kebanyakan bergelar Doktor. Kebetulan juga di kota itu ada kawah candradimuka calon doktor yang terkenal di Asia dan bisa jadi dunia. Indian Institute of Science. Sejak berdiri tahun 1909, sekolah itu telah menelorkan 3 ribu lebih Master dan Doktor dari berbagai disiplin ilmu eksakta.

Saya pun mulai menelisik, bagaimana bersemangatnya anak muda di sana mengambil studi lanjut. Beberapa teman di Gedung Riset itu saya ajak mengobrol. Mereka kebanyakan bukan anak orang berada. Apalagi ada sistem kasta di India.

Mereka rela menyisihkan uang saku untuk belajar Bahasa Inggris. Dari situlah, mereka bisa membaca literatur berbahasa Inggris. Mereka mengambil juga kesempatan mendapatkan bea siswa belajar ke luar negeri.

Jika mengamati sepak terjang kualitas sumber daya negeri di Asia Selatan ini, patut kita acungi jempol. Mereka kebanyakan menggeluti bidang system informasi dan/atau teknologi informasi. Beberapa nama mereka tercatat sebagai pimpinan puncak perusahaan multi nasional. Bisa dikatakan berkelas dunia. Saya yakin sahabat bisa menyebutkan beberapa nama yang sangat populer.

Bagaimana dengan kita ?

Mari berbenah.

Jack Welch, ‘Manager Abad Ini’, pernah memberi petuah :

“Control your own destiny or someone else will”.

Road to Glory

Road To Glory

Banyak sumber yang menjadi masukan dan pelajaran. Tak jarang berasal dari orang yang saya kenal dekat. Awal perkenalan terjadi saat ia menjadi mentor saya di kampus. Saat saya mahasiswa baru. Ia salah satu pembina program mentoring agama Islam, salah satu kegiatan unggulan bagi mahasiwa baru. Ia juga senior pada beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Setelah lulus, Mas Ali, begitu saya memanggilnya, direkrut oleh Pertamina. Salah satu tempat bekerja paling diidamkan bagi kami lulusan dari kampus di kota kecil, Malang.

Ia pernah mengenyam studi lanjut di Selandia Baru. Karirnya cukup melaju pesat. Pada usia baru menginjak 40 tahun telah menduduki jabatan selevel Vice President. Ia pernah menjadi orang yang paling ditunggu kehadiran dan pernyataannya oleh awak media. Maklumlah, Arek Lamongan ini pernah menjadi juru bicara Pertamina. Saat ini, aktivis kampus itu menduduki posisi Direktur Utama PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Pendekar Tapak Suci ini menunjukkan minat yang sangat besar di bidang geothermal. Ia menyatakan bahwa panas bumi adalah energi baru dan terbarukan. Negeri kita dikaruniai banyak gunung berapi. Itu berarti potensi besar. Panas buminya bisa dikonversikan menjadi tenaga listrik.

Ia memberikan wejangan bagaimana menjadi pemenang. Menjadi karyawan yang jadi pilihan utama. Siapa pun yang membutuhkan tenaga dan buah pikir kita.

Ia menyebutnya dengan: KIAT.

Kiat yang berarti cara atau taktik, tapi kali ini adalah singkatan yang bisa dijadikan modal yang lain.

  1. Knowledge. Pengetahuan itu penting. Kita harus memiliki pengetahuan yang spesifik dimiliki dan menjadi andalan. Pengetahuan itu bisa diperoleh dari beberapa jalur. Paling umum adalah jalur akademis. Menempuh pendidikan hingga jenjang yang dianggap mumpuni. Di samping itu, pengetahuan bisa diperoleh dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya, kita perlu sering dan menjadwalkan diri secara khusus mendengarkan atau menimba ilmu dari pihak lain.
  2. Integrity. Memegang kuat prinsip moralitas. Ini Penting. Pengetahuan yang cukup tanpa dibarengi dengan prinsip moral yang kuat (nilai agama) akan percuma. Pemahaman terhadap agama yang kita yakini juga akan memperkuat hal ini.
  3. Attitude. Bisa diartikan sikap kita kepada orang lain. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga memegang peranan penting. Sebagai mahluk sosial, tidak dipungkiri selalu ada hubunagn antar manusia. Baik hubungan yang bertalian dengan karir, maupun non-karirseperti pergaulan dengan masyarakat.
  4. Teman (Teamwork). Membangun jejaring. Silaturahim. Analoginya, kumpulan orang yang tidak berkualitas bisa jauh lebih hebat dari orang jenius yang terisolasi. Apalagi jika orang hebat berkumpul dan bekerja sama, hasilnya bisa jauh lebih mantap. Tambah dahsyat.

Pak Direktur Utama ini punya visi menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam menjalani hidup dan kehidupan, ia sangat terkesan dengan nasihat orang tuanya. Orang tua adalah pusaka baginya. Mereka memberi nasihat dalam bahasa Jawa, jika diterjemahkan bebas:

“Menjalani kehidupan, apa pun profesinya. Harus ikhlas dan bersikap positif”.

Itulah salah satu kiat mempermulus jalan menuju kemenangan. Road to glory.

Apa yang disampaikan dan dijalankan Mas Ali ini sejalan dengan nasihat mendiang Zig Ziglar, penulis buku best seller sekaligus motivator asal Alabama, US.

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude”

Mau ?

Mari kita jalankan KIAT itu . . .