Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang by Dahlan Iskan

Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang

Senin, 22 Februari 2016 | Sumber : dahlaniskan.wordpress.com

 

Inilah gubernur yang berani mengkritik pers. Secara terbuka. Di puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) pula. Di depan hampir semua tokoh pers se-Indonesia. Pun, di depan Presiden Jokowi segala. Di Lombok. Tanggal 9 Februari lalu.

Inilah gubernur yang kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengenanya.

Dan lucunya. ”Yang akan saya ceritakan ini tidak terjadi di Indonesia,” kata sang gubernur. ”Ini di Mesir.”

Sang gubernur memang pernah bertahun-tahun bersekolah di Mesir. Di universitas paling hebat di sana: Al Azhar. Bukan hanya paling hebat, tapi juga salah satu yang tertua di dunia.

Dari Al Azhar pula, sang gubernur meraih gelar doktor. Untuk ilmu yang sangat sulit: tafsir Alquran. Inilah satu-satunya kepala pemerintahan di Indonesia yang hafal Alquran. Dengan artinya, dengan maknanya, dan dengan tafsirnya.

Mesir memang mirip dengan Indonesia. Di bidang politik. Dan persnya. Pernah lama diperintah secara otoriter. Lalu, terjadi reformasi. Bedanya: Demokrasi di Indonesia mengarah ke berhasil. Di Mesir masih sulit ditafsirkan.

”Di zaman otoriter dulu,” ujar sang gubernur di depan peserta puncak peringatan Hari Pers Nasional itu, ”tidak ada orang yang percaya berita koran.” Gubernur sepertinya ingin mengingatkan berita koran di Indonesia pada zaman Presiden Soeharto. Sama. Tidak bisa dipercaya. Semua berita harus sesuai dengan kehendak penguasa.

”Satu-satunya berita yang masih bisa dipercaya hanyalah berita yang dimuat di halaman 10,” ujar sang gubernur.

Di halaman 10 itulah, kata dia, dimuat iklan dukacita. Gerrrrrrr. Semua hadirin tertawa. Termasuk Presiden Jokowi. Tepuk tangan pun membahana.

Bagaimana setelah reformasi, ketika pers menjadi terlalu bebas? ”Masyarakat Mesir malah lebih tidak percaya,” katanya. ”Semua berita memihak,” tambahnya. ”Halaman 10 pun tidak lagi dipercaya,” guraunya.

Meski hadirin terbahak lebih lebar, sang gubernur masih perlu klarifikasi. ”Ini bukan di Indonesia lho, ini di Mesir,” katanya. Hadirin pun kian terpingkal. Semua mafhum. Ini bukan di Mesir. Ini di Indonesia. Juga.

Saya mengenal banyak gubernur yang amat santun. Semua gubernur di Papua termasuk yang sangat santun. Yang dulu maupun sekarang. Tapi, gubernur yang baru mengkritik pers itu luar biasa santun. Itulah gubernur Nusa Tenggara Barat: Tuan Guru Dr KH Zainul Majdi. Lebih akrab disebut Tuan Guru Bajang.

Gelar Tuan Guru di depan namanya mencerminkan bahwa dirinya bukan orang biasa. Dia ulama besar. Tokoh agama paling terhormat di Lombok. Sejak dari kakeknya. Sang kakek punya nama selangit. Termasuk langit Arab: Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid.

Di Makkah, sang kakek dihormati sebagai ulama besar. Buku-bukunya terbit dalam bahasa Arab. Banyak sekali. Di Mesir. Juga di Lebanon. Jadi pegangan bagi orang yang belajar agama di Makkah.

Sang kakek adalah pendiri organisasi keagamaan terbesar di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah penduduk Lombok adalah warga NW.

Di Lombok, tidak ada NU. NU-nya ya NW ini. Kini sang cuculah yang menjadi pimpinan puncak NW. Dengan ribuan madrasah di bawahnya.

Maka, pada zaman demokrasi ini, dengan mudah Tuan Guru Bajang terpilih menjadi anggota DPR. Semula dari Partai Bulan Bintang. Lalu dari Partai Demokrat. Dengan mudah pula dia terpilih menjadi gubernur NTB. Dan terpilih lagi. Untuk periode kedua sekarang ini.

Selama karirnya itu, Tuan Guru Bajang memiliki track record yang komplet. Ulama sekaligus umara. Ahli agama, intelektual, legislator, birokrat, dan sosok santun. Tutur bahasanya terstruktur. Pidatonya selalu berisi. Jalan pikirannya runtut.

Kelebihan lain: masih muda, 43 tahun. Ganteng. Berkulit jernih.

Wajah berseri. Murah senyum. Masa depannya masih panjang.

Pemahamannya pada rakyat bawah nyaris sempurna.

”Bapak Presiden,” katanya di forum tersebut, ”saya mendengar pemerintah melalui Bulog akan membeli jagung impor 300.000 ton dengan harga Rp 3.000 per kg.”

Lalu, ini inti pemikirannya: Kalau saja pemerintah mau membeli jagung hasil petani NTB dengan harga Rp 3.000 per kg, alangkah sejahtera petani NTB. Selama ini, harga jagung petani di pusat produksi jagung Dompu, Sumbawa, NTB, hanya Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per kg.

Sang gubernur kelihatannya menguasai ilmu mantiq. Pelajaran penting waktu saya bersekolah di madrasah dulu. Pemahamannya akan pentingnya pariwisata juga tidak kalah.

”Lombok ini memiliki apa yang dimiliki Bali, tapi Bali tidak memiliki apa yang dimiliki Lombok,” moto barunya. Memang segala adat Bali dipraktikkan oleh masyarakat Hindu yang tinggal di Lombok Barat.

Demikian juga pemahamannya tentang vitalnya infrastruktur. Dia membangun by pass di Lombok. Juga di Sumbawa.

Dia rencanakan pula by pass baru jalur selatan. Kini sang gubernur lagi merancang berdirinya kota baru. Kota internasional. Di Lombok Utara.

Sebagai gubernur, Tuan Guru Bajang sangat mampu. Dan modern. Sebagai ulama, Tuan Guru Bajang sulit diungguli. Inikah sejarah baru? Lahirnya ulama dengan pemahaman Indonesia yang seutuhnya?

IBUKOTA dan DAGING CINTA by Salim A. Fillah

-kisah sate klathak- @salimafillah

“Jika bendhe raksasa di Alun-alun Karta ditabuh, dalam waktu satu jam, 200.000 pria akan berhimpun dengan senjata lengkap.. Di ibukota Mataram ini, setiap hari disembelih 4000 ternak untuk keperluan pangan penduduknya..”

-Van de Haan, Duta Besar VOC, 1623-

Jika dirunut dalam sejarah Nusantara, barangkali Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) adalah pemimpin pertama yang menyadari pentingnya pemisahan ibukota pemerintahan dengan pusat ekonomi.

Setelah Kota Gede (di timur Yogyakarta sekarang) yang menjadi ibukota sejak 1575 dirasa kian padat oleh kegiatan perniagaan di Pasar Gedenya, dimulailah pembangunan ibukota baru yang disebut Karta di daerah Pleret, Bantul pada 1614. Ibukota baru yang mulai ditempati pada 1622 ini mencakup Kedaton, istana berbenteng indah yang menghadap ke Segarayasa, laut buatan hasil membendung pertemuan Kali Opak dan Kali Oya. Di sini, dilakukan latihan perang laut untuk persiapan penyerangan ketiga ke Batavia, setelah gagalnya penyerbuan 1628-1629 karena lemahnya armada laut Mataram dibanding VOC.

Sayang, Raja pemberani itu keburu wafat pada 1645.

Konsep pemisahan ibukota pemerintahan dengan pusat ekonomi ini akan dipakai oleh Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Malaysia, dan banyak negara lainnya.

Daerah Pleret, yang dulu menyembelih 4000 ternak untuk dimakan penduduk ibukota Mataram, hingga kini dikenal sebagai pusat peternakan dan pemotongan hewan, khususnya lembu dan kambing. Kambing memiliki kedudukan khusus, dengan masyhurnya kuliner khas daerah ini; Sate Klathak. Di sekitar Jejeran saja, ada puluhan pedagang yang menyediakan sajian ini.

Kekhasan sate ini adalah daging kambing mudanya ditusuk dengan jeruji besi, bukan bambu, menambah kematangannya dari dalam. Nyaris tanpa bumbu, rasa asli dagingnya sangat terjaga, pun juga sehat. Dalam soal mempertahankan rasa daging ini, di Hokkaido Jepang, ada Jengisukang; makanan dari daging domba yang konon dulu kesukaan Jengis Khan, kaisar Mongol yang jaya.

Yang patut kita perhatikan, masyaallah, ada kekhususan dalil tentang keberkahan kambing.

“Peliharalah oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat barakah”. (HR. Ahmad)

Sayyidina Abu Hurairah juga berkata, “Rasulullah pernah disuguhi kambing. Bagian kaki diberikan pada beliau. Beliau menyukainya, menggigit, dan menyantapnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Selama ini, beredar khabar bahwa daging kambing buruk untuk kesehatan, meningkatkan tekanan darah, juga berkolesterol tinggi. Pendapat ini dibantah oleh kami yang awam dengan mengatakan, “Itu bukan kambingnya. Melainkan bumbu, santan, dan cara memasaknya.” Orang Yogyakarta akan menambahkan, “Makan Sate Klathak ini jauh lebih sehat daripada Sate Buntel ala Solo yang dibungkus lapisan lemak itu, disertai tongseng, dan gulenya.”

Ya, bahkan soal jenis kambing pun, Yogyakarta dan Surakarta yang sesama trah Mataram namun berpisah sejak 1755 inipun beda selera. Di Solo, kambing kacang Jawa yang berbulu hitam-coklat itu lebih utama. Di Yogya, kambing gibas yang lebih mirip domba itu amatlah disuka.

Nah, para ahli pun telah menjelaskan, justru daging kambing lah yang paling sehat dibandingkan dengan lembu ataupun ayam. Kandungan proteinnya paling bagus dengan semua asam amino yang diperlukan tubuh. Kadar lemaknya berrasio sehat. Ikatan lipoproteinnya justru bermanfaat mengurai kolesterol jenuh. Zat besi dan potasiumnya pas. Vitamin C tak teroksidasinya menjaga kelembutan kulit. Struktur molekulnya paling memudahkan untuk dicerna.

Terakhir, ditemukan bahwa bagian pusat syaraf yang mengatur sistem darah (NW18) terkait dengan kawasan Thalamus (NW3). Thalamus berfungsi sebagai penjaga kasih sayang. Sistem darah yang sehat dan kuat akan memastikan bagian Thalamus juga kuat dan membantu menciptakan perasaan kasih sayang.

Jantung akan kian lebih lembut dan halus pergerakannya ketika menerima kolesterol daging kambing. Jantung yang lembut menciptakan perasaan tenang dan gembira. Jantung yang lancar pergerakannya mudah tersentuh dan terpesona oleh sesuatu yang menyentuh perasaannya. Jadi daging kambing ini membahagiakan dan memicu rasa cinta. Masyaallah.

Selamat mengittiba’ sunnah makan ini, yang Rasulullah pun memang hanya sesekali. Semoga pulang tanpa efek samping, hanya efek ke depan untuk semakin penuh cinta.

Siulan Rahasia

Saya, Gun dan Jaelani ketika masih kanak-kanak dikenal sebagai tiga sekawan. Mirip seperti cerita fiksi ”Lima Sekawan” yang populer di masa itu. Cerita yang ditulis Enyd Blyton sangat digandrungi saat itu. Sekarang anda jadi tahu, saya generasi tahun berapa bukan ?

Saya adalah anak yang sekolahnya ke kota. Sekira 7 KM dari rumah. Setiap pagi dibonceng bapak pakai Motor Zundap ke sekolah. Saya harus berangkat pagi menyesuaikan jadwal bapak. Beliau sangat disiplin. Tidak mau terlambat. Kebetulan Bapak adalah Komandan Provost (sekarang : Propam) di kantor Kepolisian Wilayah Malang. Kantor itu setelah perombakan organisasi, sudah tidak ada lagi. Jeep willys beratap kanvas, kendaraan dinas Bapak, kadang juga melakukan antar jemput. Rumah Bapak letter L, dengan halaman yang tidak luas. Di sebelah rumah, Bapak memelihara ayam potong dan burung jalak. Saya muslim tapi bersekolah di sekolah milik Yayasan Katolik.

Gun adalah putra pejabat militer di salah satu kesatuan di Karangploso, Malang. Kebetulan juga rumahnya besar dan berpagar besi plus punya teras luas. Di belakang rumahnya didirikan bangunan bertingkat 4 untuk kos-kosan. Ada 16 kamar yang disewakan. Dia satu-satunya yang punya pemutar video VHS. Salah satu hiburan gratis kami. Apalagi yang diputar adalah film silat negeri Cina yang berseri hingga belasan itu. Mengasyikkan dan melenakan. Bisa lupa waktu. Gun seorang yang berkeyakinan Kristen Protestan. Ia bersekolah di sekolah negeri di dekat rumahnya yang mayoritas muslim.

Jaelani, putra pegawai negeri sipil di kesatuan militer di kawasan Rampal Malang. Ayahnya juga berperan sebagai guru ngaji di musholla. Sekaligus imam Sholat Maghrib dan Isya’. Saya salah satu muridnya. Rumahnya tidak terlalu besar, namun halamannya luas. Ia adalah teman yang paling ‘putih’ kulitnya. Tinggi semampai. Ia dari keluarga muslim yang sangat kuat. Jaelani bersekolah di sekolah Islam di area Dinoyo.

Latar belakang kami mirip, dididik oleh pendidikan yang orang tuanya berdinas di militer. Kata istilah orang kebanyakan, anak kolong. Sehingga waktu belajar dan bermain juga diatur ketat. Saya sendiri biasanya baru tiba di rumah sekira pukul 3 sore. Sepulang sekolah saya mampir dulu makan siang plus tidur siang di kantor bapak saya. Baru hari Ahad/Minggu kami leluasa bermain.

Kami punya jadwal main yang pendek. Ketika ingin memanggil untuk bertemu pun, kadang ada rasa tidak enak. Apalagi memanggil Gun. Susah. Karena pagarnya tinggi. Kamarnya di belakang pula. Berteriak atau memanggil nama, kami hindari. Demikain juga pakai alat yang lain. Takut mengganggu istirahat orang tua. Hanya faktor kebetulan, ketika ada keperluan keluar rumahlah kami tidak sengaja ketemu. Tapi tentunya hanya ngobrol biasa, tidak sempat melakukan permainan.

Suatu ketika pas ketemu kami bersepakat membuat terobosan dengan menggunakan siulan sebagai tanda ajakan bermain. Kode itu terinspirasi oleh salah satu film Indonesia yang diputar di TVRI.

“Lululit.. lulit..lululit… lulit… lululit… lulit”, begitu kode siulan itu.

Kami yang memangggil sembari duduk-duduk atau sembari jalan kecil, membunyikan siulan. Kalau hingga siulan ketiga tidak dijawab, maka berarti yang dipangggil tidak ada. Namun, jika ada di rumah dan mendengar, disepakati untuk menjawab sekali.

Kadang, orang tua saya pun senyum-senyum sendiri, melihat polah saya. Kakak saya pun demikian, melihat keanehan. Ia hanya geleng-geleng kepala. Kadang berseloroh kalau saya lagi ‘kumat’. Karena saya tiba-tiba, tak ada angin dan hujan, bersiul dengan nada khusus tadi. Tapi jangan salah, kode itu membuat waktu kami lebih efektif dan efisien.

Salah satu kegiatan yang masih terekam baik adalah kesenangan kami mencari jalan baru. Kami berjalan bertiga menyusuri jalan maupun pematang sawah di sepanjang Sungai Brantas. Tahu-tahu kami sudah berada di daerah lain. Asing awalnya. Setelah kita bertanya kepada penduduk setempat, ternyata itu adalah daerah yang tidak jauh dari rumah kami. Suatu ketika malah tembus ke Sengkaling. Salah satu tempat wisata milik perusahaan rokok di daerah Dau. Konyolnya, kami sadar bahwa tempat itu lumayan jauh dari rumah. Bisa ditebak kan ? Pulang kembali ke rumah menjadi malas, kecapekan.

Pernah juga kami bersama mahasiswa yang indekos di rumah Gun, dari rumah berjalan menyusuri lereng Gunung Kawi. Daerah yang baru pertama kali kami injak juga. Kami berjalan sudah hampir 3 jam, berputar terus hampir tersesat. Syukurlah ketika itu bertemu petani yang pulang dari mencari buah wuni (buah kecil sebagai campuran sambal). Kami baru pas dhuhur mendapati sebuah desa. Kami makan siang seadanya. Pulangnya, kami harus naik angkot. Alhamdulillaah. Jika rekaman ingatan dibuka, saat ini desa itu ramai sekali. Tidak jauh darinya, berdiri tempat wisata, Batu Night Spectacular (BNS).

Kebiasaan kami, saat SMP pun tidak banyak berubah. Kami naik sepeda. Kadang saya membonceng Jaelani atau Gun. Sepeda yang ada cuma 2. Jangakuan kami saat itu lebih jauh. Bisa ke daerah Karangploso (dekat markas militer). Kadang hingga ke Singosari, daerah yang terkenal karena candi-candinya, pemandian alam, dan buah langsep (buah seperti duku, sayangnya sudah sangat sulit ditemui sekarang). Wagir, daerah yang berbukit dan terkenal buah alpukatnya, juga pernah kami singgahi. Semuanya bukan lewat jalan yang sudah umum. Kami mencari jalan baru. Jika itu mengasyikkan, petualangan kami bagi kepada teman yang lain. Tak jarang kami berombongan bersepeda bersama.

Peristiwa 35 tahun lalu itu, masih menyisakan kenangan. Kami berbeda keyakinan, namun seakan tidak ada sekat. Ketika saat sholat tiba, Gun justru yang mengingatkan kami. Jika ada makanan kami pun berbagi makan bersama.

Saya kehilangan jejak utamanya Gun. Saya belum pernah bertemu kembali selepas saya pindah rumah. Ia kata tetangga lama, menetap di Denpasar. Jaelani, pernah bersua sekira 20 tahun lalu, ia menetap di Malang.

Siulan itu membuat hidup kami lebih berwarna. Semoga siulan lewat media ini dapat mempertemukan kami.

Kampung Penuh Warna

Saya menghabiskan masa kecil di Dukuh Guyangan. Dahulu daerah ini masuk Kabupaten Malang. Setelah pemekaran Kota Malang, area itu menjadi salah satu wilayah yang masuk Kota Malang. Salah satu tandon air (baca : tempat penyimpanan dan pendistrbusian air minum) ada di wilayah ini.

Daerah ini unik. Area yang penuh prestasi. Ketika kompetisi olah raga, acapkali menggondol juara. Beruntung juga beberapa warga kami juga seorang seniman. Ketika karnaval tujuh belasan pun (baca : istilah kami ketika melakukan arak-arakan budaya memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan), kampung kami juara se kecamatan.

Kami juga punya musholla dekat sungai Bunut. Air wudlunya berasal dari mata air. Tempat sumber air itu juga tempat mengambil air untuk keperluan sehari-hari dan juga tempat mandi, mencuci dan buang hajat. Saya ingat betul, kamar mandi masih belum menjadi kebutuhan utama. Jika pagi terlihat orang berjajar mencuci sekaligus mandi.

Kampung itu juga tersohor atas suatu yang tidak baik. Saat ramadhan tiba, justru ketenaran itu menggaung seantero Malang. Entah kenapa, tanpa komando setiap bulan puasa menjadi ramai orang dari berbagai penjuru. Walhasil, tempat kami bermain bektor (baca : batu digulingkan dengan menabrakkan dengan batu lain yang ditempatkan di punggung kaki sembari melangkah kecil). Kadang juga tempat bermain bentengan (baca : perebutan tempat dengan saling berlari mengejar). Area bermain kami berubah menjadi tempat parkir. Bahkan sebagian juga sebagai tempat menunggu giliran, waiting booth.

“Dolanan (baca : permainan) ini untuk nyelimurkan (baca : mengalihkan perhatian) puasa. Jadi nggak terasa lapar dan haus”, kata para pendatang itu mencoba memberikan alasan.

Permainan itu mempertaruhkan sejumlah uang. Itu yang saya rasa menjadi daya tarik. Kadang ada orang membawa motor ketika datang. Tapi, tak jarang berjalan kaki, ketika pulang. Uang dikantongnya, termasuk hasil jualan motornya pun, ludes. Orang dewasa menyebut permainan itu : ‘pantatan’. Kami yang masih seusia es de, kadang hanya menonton. Ada juga tetap bermain walau dengan area yang lebih sempit. Namun, tidak sedikit yang membuat permainan serupa dengan skala lebih kecil.

Pantatan ? Unik bukan namanya. Nampak seperti nama salah satu organ tubuh kita. Cara bermainnya dengan melemparkan 2 keping mata uang kuno. Satu sisi buruk rupa. Sisi lainnya dibuat mengkilap. Koin itu ditangkupkan dengan tanah yang agak basah sebagai perekat. Ia di lempar melambung agar punya energi ketika jatuh ke tanah. Koin nya pun terbuka dan berpencar. Bagaimana menentukan pemenang. Jika dua sisi mengkilap yang terbuka, maka ia menang. Ia bisa mengambil taruhan di sebelahnya. Namun, jika dua mata uang menunjukkan buruk rupa maka ia harus membayar sejumlah uang. Kalau satu sisi buruk dan satu sisi mengkilap, maka seri. Si pelempar harus menyerahkan gilirannya kepada pemain sebelahnya. Itu semua dilakukan melingkar sekira 15-20 orang sembari berjongkok, melingkar. Ada yang duduk pakai dingklik (baca : kursi kecil). Beberapa ada yang pakai sandalnya sebagai alas duduk. Tapi supernya, banyak yang bertahan dengan berjongkok sampai 2-3 jam permainan itu usai. Pantaslah kalau disebut pantatan, bukan ?

Bapak saya ketika itu dipilih oleh Pak Kades (kepala desa) menjadi Ketua RW (Rukun Warga, informal leader yang membawahi sekitar 5 RT atau setara dengan 250-300KK). Beliau menggolongkan permainan itu masuk kategori judi. Beliau terus mencari akal bagaimana menghapuskan permainan yang sudah menjadi tradisi itu. Bapak juga beberapa kali melakukan semacam sidak. Tapi, sering tidak menemukan apa-apa. Mereka seakan punya intel. Saya pun pas bermain bentengan, sering mendengar :

“Ono Pak Ju… ono Pak Ju !”, begitu ujar orang semacam pesan berantai.

Pak Ju adalah nama panggilan Bapak saya. Pesan itu semacam kode agar mereka bubar. Ada yang masuk warung makan. Sembunyi di kamar. Atau berpura-pura bertamu. Tak jarang juga ada yang lari ke arah kebun ganyong (tumbuhan seperti bunga kana, namun umbinya terasa manis). atau bersembunyi di rumpun bambu pembatas dengan kampung sebelah.

Pernah suatu ketika digerebek dan dikepung sepeleton polisi dibantu Brimob. Agak mencekam situasinya. Ada sekira setruk orang dewasa dan remaja yang dibawa ke kantor polsek terdekat. Beberapa bahkan sempat diinapkan di kantor polisi sector. Tapi, 3-4 hari setelahnya, kambuh. Lagi-lagi, tanpa ada komando, sudah ada pantatan lagi. Kejadian itu berlangsung selama beberapa tahun.

Beliau melakukan 3 hal langkah terobosan untuk menyudahi kebiasaan itu. Pendekatan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pengaktifan kegiatan olah raga dan seni. Pembinaan anak muda.

Beliau menemui beberapa tokoh informal agar tradisi itu bisa ditekan. Bapak menginginkan keamanan dan kenyamanan tetap terjaga. Tidak jarang pertemuan diadakan dirumah dengan suguhan khas roti kukus (baca : bolu kukus) buatan ibu saya. Para tokoh masyarakat bahu membahu melakukan pendekatan kepada pelaku dan juga rumah atau area yang dijadikan tempat main pantatan. Door to door approach. Tidak gampang memang, karena bagaimana pun pantatan menjadi salah satu tumpuan ekonomi. Warung lebih banyak pembeli. Penjual rokok dan lainnya juga naik omzetnya. Pemilik rumah dan tanah mendapatkan uang tek (baca : sewa).

Kegiatan olah raga utamanya bola volley dan sepak bola digalakkan. Setidaknya anak muda juga mulai dipecah tempat berkumpulnya. Setiap sore penggiat bola volley berkumpul di lapangan milik SD Negeri Tlogomas. Pemain sepakbola bersepeda atau naik angkot ke lapangan Sengkaling, sekira 5 Km jauhnya. Kegiatan Samroh (baca : vokal group, 10-15 orang, yang menyanyikan lagu-lagu bernafaskan agama Islam) digalakkan. Tempatnya pun bergiliran di rumah anggota. Kakak perempuan saya salah satu aktivis samroh ini.

Bapak juga membina anak muda. Harapannya ketika dewasa, mereka tidak meneruskan tradisi itu. Pendekatan keagamaan juga dilakukan secara terus menerus dengan bantuan pembina musholla dan juga pembina masjid jamik Nurul Huda. Kegiatan turutan (metoda cara belajar baca Al Qur’an) juga marak. Karang taruna juga dihidupkan. Belum lagi kegiatan anak-anak purnawirawan TNI dan Polri juga digalakkan. Mereka punya komunitas masing-masing, alhamdulillaah kegiatannya pun positif.

Harapan itu bukan pepesan kosong. Menjelang maghrib orang berbondong menuju musholla, lebih didominasi anak muda. Kami biasanya menunggu takjil yang berlimpah. Buka puasa menjadi sangat meriah. Setelah pulang dari musholla, sebagian besar menuju warung. Menu yang paling disukai kampung itu ada rujak legi (baca : rujak buah). Makan rujak sembari menunggu Tarawih. Ada 2 warung yang rutin menyediakan menu itu. Hiruk pikuk pemain pantatan, masih ada. Tidak sebanyak biasanya.

Sekira tahun 1986, kami sekeluarga berpindah rumah. Tak jauh memang, namun berbeda wilayah walau masih satu desa. Bapak ketika itu sudah tidak menjabat Ketua RW. Beliau mendapat kepercayaan sebagai Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

Tahun 1990-an, awal masa-masa kuliah, saya beberapa kali berkunjung ke kawasan Guyangan. Alhamdulillaah, pantatan sudah tidak ada lagi. Generasi mudanya nampaknya tidak ingin meneruskan tradisi itu. Kuncinya, beberapa tokoh muda meminta ijin menggunakan sebagian tanah milik salah satu petani kaya di situ. Mereka membangun musholla. Salah satu pusat kegiatan baru. Pantatan pun tidak laku. Kampung itu memang penuh warna. Insya Allah hingga kini masih penuh warna.

Saya terinspirasi atas upaya itu. Nampak sulit awalnya. Ketika perubahan dimulai, hasil bisa jadi belum nampak saat itu. Jika secara konsisten dilakukan, justru perubahan besar yang didapat.

Failure = Honour ?

“Wear your failure as a badge of honour”

by Sundar Pichai, CEO of Google, 2015 – present

Pichai Sundarajan begitu nama lahirnya. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota Cennai (dulu dikenal dengan Kota Madras), India. Cennai adalah salah satu kota teknologi di India.

Salah satu media menyebutkan Sundar lahir pada tahun 1972. Salah satu sosok tokoh yang membuat India bangga. Sudah bukan rahasia lagi. India berhasil melakukan ‘ekspor’ tenaga ahli dalam bidang teknologi. Terlebih dalam bidang penguasaan teknologi informasi.

Continue reading “Failure = Honour ?”