Ekspor dan Reindustrialisasi by Ahmad Erani Yustika

Perkembangan mutakhir menunjukkan kinerja perdagangan internasional masih jauh dari harapan. Ekspor bersih Indonesia melambat signifikan dan berpengaruh buruk terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2010 – 2011, ekspor bersih masih berkontribusi positif terhadap PDB (1,68% dan 1,41%). Tetapi, sejak 2012 – 2014 peranan ekspor bersih negatif terhadap PDB, masing-masing 1,4%; 1,81%; dan 1,76% (BPS, 2014).

Bagaimana jika ekspor tidak kunjung membaik? Pertama, neraca transaksi berjalan cenderung tertekan. Peranan transaksi perdagangan barang menjadi penopang utama kinerja neraca transaksi berjalan.

Kedua, stabilitas moneter akan terganggu (nilai tukar rupiah dan inflasi).

Ketiga, ketersediaan valas cenderung menurun, padahal dibutuhkan untuk pembayaran utang dan impor.

Figur Neraca Perdagangan

Memasuki 2015 kinerja ekspor-impor pun masih menunjukkan performa serupa. Sepanjang Januari-Maret, ekspor hanya US$ 39,1 miliar; menurun dari US$ 44,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya (turun 9,75%, yoy). Ekspor nonmigas juga menurun sekitar 6,61% (yoy) dari posisi US$ 36,4 miliar menjadi US$ 33,4 miliar. Namun, secara bulanan total ekspor Maret 2015 meningkat 12,63% (mom) dan ekspor nonmigas naik 12,5% (mom).

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2015 adalah bahan bakar mineral, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada nikel. Pada sisi impor, sepanjang Januari-Maret 2015 total impor mencapai US$ 36,7 miliar (turun 13,39%, yoy), sedangkan total impor nonmigas mencapai US$ 30,5 miliar (turun 2,07%, yoy). Data Maret 2015 mendeskripsikan total impor maupun impor nonmigas meningkat 9,29% (mom) dan 5,32% (mom) [BPS, 2015].

Penurunan impor nonmigas terbesar pada golongan besi dan baja, sedangkan peningkatan terbesar bersumber dari golongan mesin dan peralatan mekanik.

Dengan begitu, realisasi data ekspor dan impor itu dapat dikatakan belum terdapat perkembangan berarti. Justru kinerja perdagangan internasional (terutama ekspor) merosot cukup tajam. Kecenderungan depresiasi nilai tukar (yang menjadikan harga komoditas nasional lebih murah di luar negeri) tidak terekam dari performa ekspor. Depresiasi nilai tukar malah memukul impor, padahal saat ini industri nasional masih bergantung bahan baku impor. Keadaan ini bisa memunculkan percepatan deindustrialisasi yang sudah terjadi sejak 8 tahun terakhir.

Data setelah 2007 menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat, di mana penurunan nilai ekspor beriringan dengan turunnya sumbangan sektor industri terhadap PDB. Dengan kata lain, reindustrialisasi bisa berjalan dengan cepat apabila ditopang dengan penguatan ekspor, demikian sebaliknya.

Jadi, dari sisi ekspor perekonomian nasional masih terpasung pada ekspor komoditas primer, yang harganya ditentukan oleh pasar internasional. Selain itu, pesaingnya pun sangat banyak. Crude Palm Oil (CPO), misalnya, bersaing dengan Malaysia. Pasar komoditas internasional masih cenderung lesu karena sektor keuangan mulai beriak sejalan dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat.

Faktor lainnya berhubungan dengan kelanjutan penurunan permintaan dari negara-negara tujuan impor utama, seperti China dan Uni Eropa. Sektor industri China cenderung memburuk, sedangkan ekonomi Uni Eropa terhalang persoalan deflasi.

Problem lainnya terkait dengan penurunan harga. Harga CPO, misalnya, pada Maret 2015 US$ 634,38 per metric ton atau turun hingga 21,8% (yoy) [Indexmundi, 2015].

Pasar Baru dan Logistik

Selain persoalan komoditas, ekspor nasional juga belum mampu menjangkau negara-negara tujuan baru. Sampai sekarang ekspor sebagian besar mengalir ke ASEAN (20,45%), Amerika Serikat (11,3%), Jepang (10,66%), dan Uni Eropa (10,89%) [BPS, 2015]. Ketergantungan yang begitu tinggi pada kawasan dan negara-negara tertentu akan berdampak buruk saat terjadi gejolak ekonomi.

Pada sisi impor, persoalan yang muncul adalah ketergantungan kepada sektor industri, dalam arti sektor industri sangat mengandalkan bahan baku impor. Data Maret 2015 menunjukkan total impor bahan baku/penolong mencapai US$ 27,6 miliar (75,45%); barang modal US$ 6,4 miliar (17,63%); dan barang konsumsi US$ 2,5 miliar (6,92%) (BPS, 2015).

Industri-industri utama di Indonesia justru memiliki kandungan impor yang sangat tinggi. Industri tekstil, misalnya, kandungan impor mencapai 90%. Contoh lainnya adalah industri makanan, yang sebagian besar menggunakan bahan baku gandum. Celakanya lagi, jenis-jenis industri ini berkarakteristik industri padat karya. Tingginya impor bahan modal juga berhubungan dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang mensyaratkan penggunaan teknologi dari negara asal.

Tentu saja, persoalan lainnya yang menekan perkembangan ekspor dan impor adalah keterbatasan infrastruktur. Sayangnya, berbagai indikator infrastruktur pendukung ekspor-impor masih sangat buruk. Biaya logistik di Indonesia mencapai 27% terhadap PDB (2012). Angka tersebut jauh di atas beberapa negara tetangga, seperti Korea Selatan 16,3%; Malaysia 15%. Sementara itu, biaya logistik terhadap PDB di Jepang hanya 10,6%; Amerika Serikat 9,9%; dan rata-rata Eropa 8 – 11% (Various Sources, 2013).

Bukan hanya itu, dari segi waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan nasional masih jauh dari efisien. Pelabuhan Tanjung Priok membutuhkan sekitar 8-8,7 hari untuk bongkar muat; Singapura (1,5 hari); Hong Kong (2 hari); Perancis (3 hari); Los Angeles (4 hari); Australia (3 hari); Malaysia (4 hari); dan Thailand (5 hari) [ALFI, 2013]. Dengan begitu, persoalan ekspor dan impor tidak bisa dirampungkan dengan jalan pintas.

Menyimak kondisi ini, dibutuhkan kebijakan yang terukur, konsisten, dan berdimensi jangka panjang. Jika ekspor hendak digalakkan bersamaan dengan kenaikan nilai tambah, maka sektor industri harus digarap serius, salah satunya ketegasan pemerintah soal regulasi ekspor bahan mentah. Pemerintah juga harus memperluas jangkauan ekspor di luar negara-negara utama. Promosi ekspor menjadi bagian yang penting dan Kementerian Perdagangan mesti sigap mengerjakan tanggung jawab ini.

Dari sisi impor, upaya mengurangi kebergantungan impor dapat dilakukan dengan membangun struktur industri domestik yang kuat. Definisi tersebut merujuk kepada industri berbasis lokal, baik dari bahan baku maupun pelaku ekonomi. Dengan demikian ketergantungan terhadap impor sekaligus juga akan menurunkan ketergantungan terhadap PMA.

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah menyediakan dan memerbaiki infrastruktur pendukung. Tema ini nyaris menjadi klise, tapi memang faktual menjadi penyakit ekonomi nasional. Pemerintah juga telah menyadari dan menetapkan berbagai target perbaikan infrastruktur dalam RAPBN-P 2015, seperti rasio biaya logistik menjadi 23,6%; dan rata-rata dwelling time menjadi 5-6 hari.

Meskipun target ini masih jauh dari kebutuhan ideal, tapi sekurangnya telah ada tekad perbaikan dari waktu ke waktu. Sinyal baik ini tentu harus dirawat lewat realisasi yang bisa dirasakan secara nyata.

 

Catatan :

Ditulis pada 21 April 2015 by Ahmad Erani Yustika di www.ahmaderani.com
*Ahmad Erani Yustika, Ekonom Universitas Brawijaya, Direktur Eksekutif Indef.

Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Dirjen Pembangunan & Pemberdayaan Masyarakat Desa pada Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi Republik Indonesia.
**Abdul Manap Pulungan, Peneliti Senior Indef

Darurat Ketimpangan Ekonomi by Mohamad Sohibul Iman

 
Ilustrasi: kompas.com

Di suatu pagi tahun 1921, Sukarno muda-yang saat itu masih kuliah-tiba-tiba ingin berkeliling naik sepeda menyusuri daerah selatan Kota Bandung. Dalam perjalanannya, Proklamator itu bertemu dengan seorang petani.

Terjadilah dialog antara keduanya, seperti tertuang dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat-nya Cindy Adams.

“Siapa pemilik tanah ini?” tanya Bung Karno.

“Saya Tuan,” jawab petani.

“Apakah kau miliki ini bersama-sama dengan orang lain?”

“Tidak Tuan. Saya memilikinya sendiri.”

“Apakah kau membelinya?”

“Tidak Tuan, saya dapatkan dari warisan orang- tua.”

“Hasil pertanianmu untuk siapa?”

“Untuk saya Tuan.”

“Apakah cukup untuk kebutuhanmu?”

Dengan mengangkat bahu sebagai tanda kecewa, sang petani menjawab, “Bagaimana mungkin sawah yang begini sempit lahannya bisa mencukupi kebutuhan istri dan empat orang anak?”

Di akhir dialog, Bung Karno menanyakan siapa namanya, kemudian dijawab, “Marhaen!” Sejak saat itulah Bung Karno menjadikan Marhaenisme sebagai ideologi perjuangannya.

Cerita tentang Marhaen ternyata masih relevan dengan kondisi kekinian. Jika saja Bung Karno masih hidup, mungkin wajahnya murung meratapi nasib rakyatnya yang masih dalam kubangan kemiskinan meski sudah 70 tahun merdeka. Yang cukup menyedihkan, ketimpangan ekonomi justru kian menjadi-jadi.

Coba kita lihat bagaimana indeks ketimpangan distribusi pendapatan melaju pesat. Di tahun 2000, rasio gini kita masih di angka 0,30, tetapi pada 2014 sudah menembus 0,41. Di daerah perkotaan, rasio gini bahkan mencapai 0,47. Secara khusus Bank Dunia pada 2015 mencatat laju peningkatan ketimpangan ekonomi di Indonesia termasuk paling tinggi di Asia Timur.

Dalam hal distribusi aset lebih memprihatinkan. Rasio gini penguasaan lahan mencapai angka 0,72. Angka ini lebih tinggi daripada rasio gini pendapatan. Badan Pertanahan Nasional bahkan mencatat, 56 persen aset berupa tanah, properti, dan perkebunan hanya dikuasai oleh sekitar 0,2 persen penduduk. Ironis!

Agenda nasional

Mengatasi darurat ketimpangan ekonomi harus jadi agenda nasional. Pemerintah dan seluruh elite negeri ini tidak boleh menutup mata. Ketimpangan ekonomi yang kronis akan jadi faktor pendorong revolusi sosial, politik, dan krisis ekonomi.

Kita harus belajar dari krisis Musim Semi Arab di Timur Tengah dan krisis keuangan global 2008. Kedua peristiwa itu contoh gagalnya negara-negara mengatasi ketimpangan ekonomi.

Ketimpangan ekonomi juga pemicu meledaknya krisis keuangan global terburuk dalam sejarah perekonomian dunia pasca depresi besar 1930. Adalah Raghuram Rajan dari Universitas Chicago dan mantan Kepala Ekonom IMF yang pertama kali mengutarakan analisis tajamnya bahwa krisis keuangan global 2008 dipicu tingginya ketimpangan ekonomi di AS. Ketimpangan ini mendorong Pemerintah AS bersama Kongres, Bank Sentral AS, lembaga rating,dan bankir investasi secara gegabah berbondong-bondong menawarkan skema investasi properti berupa subprime mortgage, yang ternyata jadi bom waktu jatuhnya pasar keuangan AS dan negara maju lainnya.

Senada dengan Rajan, Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel Ekonomi dari Universitas Columbia, menggarisbawahi bahwa ketimpangan ekonomi tak hanya merusak sistem keuangan AS dan negara maju, juga melumpuhkan institusi-institusi demokrasi, seperti partai politik, legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Darurat ketimpangan ekonomi menyebabkan demokrasi dibajak oleh kaum oligarki. Mereka akan membuat kebijakan yang hanya menguntungkan dan melanggengkan kekuasaan serta kepentingan ekonomi mereka dan kroni-kroninya. Selain itu, tingginya ketimpangan ekonomi akan menyebabkan masyarakat mengalami ketidakpercayaan baik secara vertikal maupun horizontal. Ada kecemburuan antarsesama dan kemarahan kepada elitenya karena telah menyuguhkan dunia yang timpang. Di saat yang sama, masyarakat yang terbelah akan mengancam kohesi sosial dan menghancurkan sendi-sendi bangunan kepercayaan sebuah negara-bangsa. Sebab, darurat ketimpangan akan menciptakan darurat rasa ketidakadilan.

Transformasi struktural

Ketimpangan ekonomi yang terjadi di republik ini adalah masalah struktural. Ini buah dari kebijakan negara yang salah arah. Perlu ada transformasi struktural untuk memperbaikinya.

Transformasi struktural adalah kebijakan keberpihakan dari negara untuk menciptakan struktur perekonomian yang memberikan rasa keadilan dan kesetaraan. Keadilan dan kesetaraan tersebut tecermin dari empat hal: distribusi pendapatan, kekayaan/aset, kesempatan, dan kewilayahan yang berkeadilan.

Siapa yang harus memulai terlebih dulu? Pemerintah!

Kebijakan redistribusi aset seperti reforma agraria harus tegas memihak kepentingan publik, terutama kalangan rumah tangga petani yang termarjinalkan. Pemerintah harus berani memberikan batasan penguasaan aset dan sumber daya perekonomian nasional. Sangat tidak bijak jika para pemodal mengeksploitasi aset-aset republik ini demi mengejar pertumbuhan ekonomi yang semu. Tidak ada guna pertumbuhan yang tinggi jika yang menikmati kue perekonomian nasional hanya kalangan the haves dan meninggalkan kelompok the have nots.

Dari sisi kebijakan industrial, pemerintah harus menyadari bahwa kita telah mengalami deindustrialisasi prematur. Struktur ekonomi terlalu cepat masuk sektor non-tradable atau jasa. Sementara struktur industri manufaktur kita mengalami penurunan baik secara produktivitas, daya saing maupun nilai tambah. Perlu ada upaya melakukan pendalaman struktur industri kita. Indonesia sudah saatnya jadi pusat mata rantai ekonomi global.

Dari sisi kebijakan fiskal dan moneter, harus dibuat semacam big push policy yang bisa menggerakkan sektor-sektor informal produktif dari masyarakat menengah-bawah agar terakselerasi kemampuannya dan bisa naik kelas. Desain sistem insentif lembaga keuangan harus berpihak pada mayoritas masyarakat menengah-bawah yang justru kurang tersentuh. Sekitar 60 persen masyarakat kita bekerja di sektor informal. Karena itu, transformasi struktural harus mampu mengubah informalitas ekonomi jadi formalitas ekonomi. Pemerintah harus lebih mengutamakan investasi pada sisi intangible assetdibandingkan tangible asset. Kebijakan anggaran pemerintah harus berorientasi pembangunan jangka panjang dengan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Transformasi struktural juga harus bisa mengubah perekonomian berbiaya mahal jadi efisien. Dengan begitu, negara akan mampu menciptakan ekosistem perekonomian nasional yang bisa menciptakan daya inovasi dan melahirkan apa yang disebut grassroots innovator.

Transformasi struktural juga diharapkan mampu membangun perekonomian yang tidak hanya di kota, tetapi juga mampu menstimulus pertumbuhan dari pinggiran, seperti daerah pedesaan dan sumber daya maritim kita.

Penulis yakin, kepemimpinan yang tegas dengan visi yang jelas akan mampu mendobrak kusutnya darurat ketimpangan ekonomi ini. Dibutuhkan nyali yang kuat dan nurani yang bersih untuk menjalaninya.

 

Catatan : Tulisan ini di muat di: http://print.kompas.com/baca/2016/02/16/Darurat-Ketimpangan-Ekonomi . Diterbitkan di Harian Kompas 16 Februari 2016, halaman 7

– See more at: http://sohibuliman.com/2016/02/19/darurat-ketimpangan-ekonomi/#sthash.ZNfjJEWp.dpuf

Speak to Change dan Hikmahnya

Saya bersyukur suatu ketika diberi kepercayaan menjadi komandan regu gerak jalan. Pak Wasiyo atau lebih akrab dipanggil Pak Yoyok (Doa saya untuk almarhum). Beliau adalah guru kelas lima sekaligus Pembina Pramuka. Sudah 2 tahun saya masuk tim inti gerak jalan. Salah satu kegiatan prestisius anak sekolah pada jaman itu. Pasalnya, Pemerintah Kota Malang mengadakan lomba gerak jalan setiap menjelang peringatan hari ulang tahun kota. Diikuti hampir seluruh sekolah setingkat SD, SMP, SMA di Kota Malang. Pada hari penyelenggaraan, Kota Malang berwarna warni. Bendera, umbul-umbul, kain rentang plus seragam peserta yang membuat semarak Kota Apel itu. Perhelatan lomba itu seakan daya tarik tersendiri bagi warga kota. Hiburan gratis.

Khusus team SD Cor Jesu, Suster Melanie selaku kepala sekolah punya kebijakan tersendiri. Anggota tim harus punya prestasi akdemik yang baik. Hanya boleh diikuti siswa kelas 5 dan 6. Terseleksi 50 orang dari 300 siswa. 25 untuk Tim Putra. 25 lagi untuk Tim Putri. Syarat itu bukan tanpa alasan. Selama sebulan penuh, kami digembleng di area Tembalangan. Tentunya meninggalkan jam pelajaran. Tapi prestasi sekolah tidak boleh keteteran. Prestasi harus tetap moncer. Fisik juga tetap fit.

Rasa syukur itu bertambah dengan kebanggaan. Kami 2 tahun berturut menyabet juara tingkat SD se Kota Malang. Di samping itu, saya pun mulai berani bicara di depan umum dengan pede. Mau tidak mau saya harus berbicara di depan tim. Melakukan pengarahan atau hal lain sebagai penyambung pesan Pak Yoyok, Sang Pelatih. Sejak saat itulah saya acapkali mengambil peran di depan.

Pengalaman masa kecil itu hingga beberapa rentetan peristia setelahnya melintas di benak saya, ketika membaca buku ‘Speak to Change’ karya Pak Jamil Azzaini. Salah satu guru yang dikirimkan Allah kepada saya. Banyak hal dikemukakan tentang bagaimana kemampuan bicara itu bisa memberikan perubahan. Saya ingin lebih menekankan pada pokok bahasan ‘Manfaat Bicara”.

 

Self improvement.

Saya yakin setiap individu punya keunikan. Khusus hal bicara juga demikian. Bagi saya yang dulunya dapat dikatakan pendiam, ketika dipaksa harus bicara, mau tidak mau harus dilakukan. Berani ngomong saja sudah OK. Tapi setelah diberikan latihan sedikit dan meniru yang dilakukan Pak Yoyok atau guru yang lain, saya pun bisa meningkatkan kemampuan diri lebih baik lagi. Saya pun lebih banyak dikenal orang. Kalau yang ini nampak ge er sedikit ya.

 

Mengubah orang.

Alhamdulillaah, hampir setiap kelas hingga kuliah, saya dipercaya menjadi ketua kelas. Bahkan ketika kuliah ditunjuk jadi Danki (baca : komandan kompi) untuk mahasiswa Fakultas Teknik UB angkatan 1989. Ketika menjadi orang yang ditunggu bicaranya, maka saya pun mulai memilih kata atau kalimat yang tepat. Apalagi ketika diminta memberikan masukan dan memompa semangat seorang teman yang hampir terkenan DO. Drop out karena prestasinya cenderung menurun. Ternyata dengan pilihan kalimat dan momen yang pas, bisa mengubah pola pikir dan pola hidup. Puji syukur, seijin Allah SWT, ia pun berubah menjadi mahasiswa yang lolos kualifikasi. Ia pun lulus dan punya keahlian khusus. Kini ia menjadi salah satu alumni yang membanggakan almamater kami.

 

Networking.

Kegemaran suka berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada perguruan tinggi atau perusahaan lain, telah memberikan kesan tersendiri bagi orang lain. Saya tidak menyangka pernah mendapat telepon dari seseorang agar saya berkenan menjadi nara sumber. Penelpon ternyata salah satu peserta beberapa bulan sebelumnya. Ia terkesan dan ingin mendapatkan hal serupa untuk timnya. Hal itu juga berlangsung beberapa kali dengan orang yang berbeda. Bahkan pernah diundang interview karena pejabat perusahaan ini menjadi peserta salah satu seminar saya. Kemampuan bicara saya menambah teman bahkan saudara.

 

Passive Pahala.

Saya suatu ketika bertemu dengan mantan teman kerja di salah satu perusahaan. Ia ternyata menjadi pengusaha. Beberapa koleganya malah menyebutnya pengusaha sukses. Ia dengan semangat menceritakan perjalanan usahanya. Ada hal yang membuat saya trenyuh. Beliau mengungkapkan :

“Pak Haji (beliau selalu memanggil saya dengan sebutan itu), masih ingat 8 tahun lalu, ketika itu kita berdiskusi beberapa kali. Apa yang Pak Haji sampaikan, saya terapkan pada perusahaan yang saya bangun. Alhamdulillaah, jadinya seperti ini”.

Ya Allah, saya pun sudah lupa tepatnya kapan. Memang beberapa tahun lalu, saya intens diminta mendampingi proses pengembangan usahanya. Saya pun lama tidak kontak fisik lama sekali karena pindah pekerjaan dan bermigrasi ke Medan. Ternyata ide kecil itu diterapkannya. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal sholeh.

 

Menciptakan Mesin Uang.

Pernah suatu ketika saya menjadi pembicara karena direkomendasikan oleh orang lain. Pemberi rekomendasi adalah orang yang sering menyimak tulisan saya. Pun beliau beberapa kali menikmati sesi pelatihan yang saya bawakan. Saya takjub ketika disodori kontrak yang nilainya seperempat gaji saya sebagai karyawan. Padahal ketika itu saya hanya diminta mengisi 4 sesi atau selama 8 jam. Subhanallaah.

Saya pun tambah terlecut untuk menerbitkan ide dan tulisan saya menjadi buku. Mohon doanya ya, semoga bisa segera terbit. Berharap menajdi ladang amal yang lain.

 

Masih banyak butiran hikmah dan bagaimana kita dibimbing dan disemangati Pak Jamil dalam bukunya. Guidance untuk menjadikan kemampuan bicara kita yang dapat mengubah.

“Semua orang yang mau naik kelas, wajib bicara” (Jamil Azzaini)

Bicara kita adalah ide yang menggerakkan, baik tim atau masyarakat. Bahkan bukan tidak mungkin, mampu memberikan kontribusi positif untuk membangun negeri yang kita cintai ini, Indonesia.

Tak lupa senantiasa memanjatkan doa :

“Ya Rabb-ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

(QS. Thaha : 25-28)

From Money to Meaning by Jamil Azzaini

Dunia bisnis berubah begitu cepat. Riset yang dilakukan IBM baru-baru ini menyimpulkan: Dulu, pesaing mudah dikenali. Sekarang pesaing muncul secara tiba-tiba. Jumlah innovator meningkat ribuan kali lipat. Kekuatan social media meningkat 100 kali lipat. Perlu mengubah banyak paradigma dalam situasi seperti ini.

Beberapa paradigma baru perlu ditanam kuat dalam benak kita. Pertama, from money to meaning. Bekerja bukan hanya mengejar bayaran tetapi juga bisa memberikan arti dan manfaat kepada sekitar. Bekerja bukan hanya aktivitas rutin tetapi bisa memuaskan batin. Kubik Training bersama Telkomsel saat ini tengah mensosialisasikan “Spirituality at Work” dengan tema “From Money to Meaning” ke berbagai kota di Indonesia.

Paradigma kedua, from closing to empowering. Dulu, saat jualan yang terpikir di benak banyak penjual adalah “yang penting closing.” Sekarang, para marketer dan juga para sales perlu memikirkan empowering apa yang diterima oleh pembeli. Empowering bisa berupa kemudahan, value, manfaat, experience baru yang bisa diterima para pembeli. Para penjual bermetamorfosis menjadi seorang konsultan yang memberikan solusi dan memberdayakan para pembeli.

Paradigma ketiga yang perlu kita tanamkan di benak kita adalah from working to serving. Kita berangkat ke kantor bukan lagi untuk bekerja tetapi untuk memberikan pelayanan kepada banyak orang. Semakin bisa melayani dengan baik maka kepuasan akan datang ke diri kita. Semakin banyak yang bisa menerima manfaat dari pekerjaan kita maka kita semakin happy. Kita adalah “pelayan” bagi banyak orang.

Pahamilah tanda-tanda zaman. Bagi saya, peristiwa gerhana matahari total 9 Maret 2016 lalu bukanlah peristiwa alam biasa. Ia juga mengirim sinyal kepada kita bahwa sebesar, sekuat dan secerah apapun bisnis kita saat ini bisa tertutup oleh pendatang baru yang kemudian mengalahkan dan melumpuhkan. Mau? Tentu tidak. Segera ubah banyak paradigma yang sudah tidak relevan di era disruptive ini.

Salam SuksesMulia!

Tugas Sepele tapi Berdampak

Belanja ke pasar saat saya masih pelajar SMP adalah hal rutin. Hampir setiap pagi saya melakukan tugas itu. Ibu saya memberikan pelatihan pembelian sejak dini. Upaya itu dilakukan untuk mengoptimalkan waktu. Beliau bisa melakukan hal lain.

Bapak saya memang membuat aturan bahwa paspor kami keluar rumah adalah sarapan pagi. Jika tidak melaksanakan, jangan harap bisa keluar rumah. Apa pun alasannya, harus makan pagi.

Guna mempercepat belanja, Ibu saya memberikan catatan kecil. Daftar belanja, jumlah yang harus dibeli dan beli dimana.Khusus jumlah yang harus dibeli, Ibu memberikan perintah ringan :

“Beli sop-sopannya (sayur mayur : kol, kentang, wartel), 50 rupiah saja. Beli di Mbok Ijah. Tempe 50 di Mas Kardi, minta dipotong sekalian”, begitu biasanya.

Saya tahu tempatnya, karena saya pas es de sudah sering diajak Ibu ke pasar. Tempat penjual yang dimaksud pun jadi di luar kepala. Karena memang posisi mereka sudah paten. Tidak berpindah. Pukul 5 lebih sedikit, biasanya sudah beres belanja. Wal hasil, sebelum pukul 6 pagi, sarapan beres. Rumah pun sudah rapi. Ibu dengan tenang pergi ke kantor. Saat itu beliau masih aktif menjadi PNS di sebuah instansi militer.

Jarak pasar dengan rumah ketika itu hanya 10 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh. Secara tidak langsung juga olah raga pagi.

Proses yang dilakukan Ibu tersebut, adalah juga terobosan menurut saya. Ada 3 hal yang dapat saya petik.

Berpikir dari akhir.

Beliau punya target, pukul 6 pagi sarapan beres. Rumah Rapi. Sehingga, beliau melakukan pemetaan apa dan bagaimana pekerjaan dilakukan. Dengan diketahui lebih awal, maka bisa dihitung juga berapa lama dibutuhkan waktu untuk menuntaskannya. Jadi tidak heran, Jika beliau hampir selalu bangun pukul 4 pagi. Rentang waktu 2 jam, sudah memadai untuk menyelesaikan task force tersebut.

Delegasi .

Kita tidak dapat melaksanakan seluruh pekerjaan pada waktu yang sama. Delegasi diperlukan. Saya belanja ke pasar. Kakak ada yang membantu membersihkan kandang ayam. Bapak membersihkan kandang burung dan memberi makan. Sehingga tenggat yang diberikan tetap masuk. Sarapan tersedia sebelum pukul 6 pagi.

Efektivitas waktu.

Untuk menggunakan waktu yang efektif dan efisien, maka dilakukan urutan pekerjaan. Proses mana yang bisa dilakukan sendiri. Pekerjaan mana yang perlu dilakukan orang lain. Ada juga, task force yang dapat dilakukan paralel. Misal dalam konteks tadi, Ibu menanak nasi sembari melakukan pekerjaan lain. Maklum kami keluarga besar, proses menanak dilakukan 2 tahap. Ngaru dan adang (mengaru dalam panci besar dan menanak di dalam dandang). Saat adang, sembari membersihkan rumah.

Proses belanja pun dibuat lebih simple. Tidak ada negosiasi saat saya membeli. Karena proses negosiasi dilakukan saat awal belanja. Beliau pun sudah punya penjual tetap. Loyal vendor. Sehingga dengan harga tertentu, beliau tahu akan mendapatkan barang seberapa banyak.

Meski sederhana, proses tersebut sedikit banyak mewarnai hidup saya saat ini. Ibu mengajarkan banyak hal. Termasuk mengajari saya jadi buyer. Memberikan pelajaran jadi planner. Bisa jadi itu semua hal kecil, tapi telah memberikan sumbangsih pembentukan pribadi. Sepele tapi berdampak.

 

 

Bukan Teknologi, Tapi MANUSIA by Josef Bataona

“Technology is nothing. What’s important is that you have a faith in people, that they’re basically good and smart, and if you give them tools, they’ll do wonderful things with them.” (Steve Jobs)
SUDAH BANYAK CERITA yang dibagi, entah dalam bentuk artikel di media cetak ataupun media sosial lainnya, tentang kisah di balik akhir kejayaan Nokia:

“Ketika Nokia resmi mundur dari panggung bersejarah, saat konferensi pers, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia, dia mengatakan kalimat terakhir :

‘Kami tidak melakukan sesuatu kesalahan, tapi saya tidak tahu mengapa kami kalah.’

Lalu, bersama-sama dengan puluhan eksekutif Nokia-nya tidak tahan menitikan air mata.”

Penelusuran lebih jauh lagi, ditemukan alasan yang jauh lebih menarik lagi.

Lain Pengakuan Lain di Lapangan

Dalam laporannya yang dicantumkan dalam SALAMANDER, majalah alumni INSEAD, edisi 28 Januari 2016, Quy Huy dan Timo Vuori mengawalinya dengan penjelasan dari Executive Nokia, tentang kejatuhan Nokia.

“1) that Nokia was technically inferior to Apple,
2) that the company was complacent and
3) that its leaders didn’t see the disruptive iPhone coming.”

Semua alasan sepertinya bisa diterima dan  mudah diprediksi masyarakat. Namun laporan mereka yang berjudul “Who Killed Nokia” mengatakan alasan paling mendasar bukan ketiga hal tersebut di atas:

“Nokia lost the smartphone battle because of divergent shared fears among the company’s middle and top managers led to company-wide inertia that left it powerless to respond to Apple’s game changing device.”

Di sini unsur manusia, terutama yang bernama Leader di level Top maupun Middle, yang membuat perusahaan ini terjun bebas.

Kontribusi Leader Memajukan Juga Menjatuhkan

Penelusuran lebih lanjut dengan menginterview 76 Top/Middle Managers, engineers dan pakar eksternal diketahui bahwa “ketakutan” yang dialami perusahaan itu disebabkan oleh budaya pimpinan yang temperamental yang membuat middle manager tidak berani berbicara jujur.

Ternyata reputasi menakutkan dari  top leader sudah diketahui umum, Board dan Top management sering berteriak pada bawahannya, ancaman memecat atau demosi sering terjadi. Dan ini sulit bagi bawahan untuk menyampaikan berita yang pimpinan tidak ingin dengar.

Nokia dikenal dengan high task and performance focus, karena itu Top Management ketakutan bila masyarakat luar tahu kalau mereka tidak mencapai target, karena itu mereka akan menekan bawahannya lagi, bahwa mereka kurang ambisius dalam mencapai “stretched targets”.

Cerita kecil yang ditemukan dari seorang middle manager yang tidak berani men-challenge keputusan Top Manager dan mengatakan: “Saya tidak punya keberanian. Saya masih punya keluarga dan anak kecil.” Alhasil, middle manager akan tinggal diam atau memberikan informasi yang sudah difilter.

Singkat cerita, menurut penelusuran tersebut:

“Nokia people weakened Nokia people and thus made the company increasingly vulnerable to competitive forces.

When fear permeated all levels, the lower rungs of the organisation turned inward to protect resources, themselves and their units, fearing harm to their personal careers.

Top managers failed to motivate the middle managers with their heavy-handed approaches and they were in the dark with what was really going on.”

Andaikan…

Sedikit ketakutan tidak apa-apa, bahkan bisa memotivasi, mendorong semangat mencari jalan keluar. Luapan emosi berlebihan ibarat memberikan obat over dosis. Rasa takut yang diciptakan baru bermakna, kalau leader-nya juga membantu bawahannya untuk mengatasi ketakutan itu.

Saya hanya bisa membayangkan….. seandainya para pimpinan menyadari ini lebih awal… inisiatif “Team Alignment” bisa diselenggarakan dengan cara FUN, misalnya dengan menggunakan LEGO Serious Play …..

Nasi memang sudah jadi bubur, tapi pembelajaran akan tetap diingat oleh sejarah dari generasi ke generasi: “Bahwasanya penyebab jatuhnya Nokia bukan melulu pada teknologi, tapi terutama pada manusianya.” Dan manusia dalam kisah ini adalah para Top Leader yang memberikan kontribusi terbesar. Andaikan saja… mereka tampil lebih autentik, jadi role model, rajin membangun dialog, terbuka menerima feed-back.

“The human spirit must prevail over technology.” (Albert Einstein)

 
* Josef Bataona, Lahir di Flores pada tahun 1953. Sejak 2013 ditunjuk sebagai HR Director PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Sebelumnya menjabat sebagai HR Director PT. Bank Danamon selama 4 tahun. Beliau berkarir di PT. Unilever Indonesia selama 31 tahun. 10 tahun terakhir di Unilever, Pak Josef dipercaya menjabat sebagai HR Director.

Balasan yang Tak Setimpal by Ari Wijaya

Pagi ini semangat saya membuncah. Entah kenapa ketika diminta menjadi trainer tempo hari, saya pun bersemangat. Ternyata jawabannya adalah wejangan bakda subuh tadi. Taujih yang diberikan oleh salah satu peserta kepada kami. Termasuk saya sebagai salah satu trainernya.

Peserta pelatihan kali ini menyesuaikan jadwal saya. Tiga sesi yang saya bawakan, satu sesi malam hari tadi. Dua sesi, insya Allah sebentar lagi berlangsung.

Kebetulan Sabtu pagi hingga sore ada jadwal yang tidak dapat saya wakilkan. Sehingga baru, sekira pukul 19.30 WIB saya tiba di kawasan Cibogo, Bogor. Event yang dihadiri sekira 150 orang itu, dilaksanakan di kawasan yang dibelah oleh sungai yang mengalir deras. Saya mengisi sesi terakhir hari pertama. Sesi motivasi dan inspirasi tentang bagaimana menjadi pemimpin yang hebat, pada pukul 20.15 hingga 22.15 WIB. Alhamdulillaah berlangsung lancar.

Malam tadi, setelah berbenah sedikit, saya langsung mapan (baca : tidur). Sekira pukul 01.30 terbangun. Masih pagi, saya pun merem lagi. Pas pukul 04.00 alarm handphone berbunyi. Saya pun bersiap menuju tempat peserta training melakukan sholat malam berjamaah. Ups, saya ketinggalan ternyata. Puji syukur masih bisa mengikuti beberapa rakaat. Dilanjutkan sholat subuh berjamaah.

Setelah tuntas, hanya sedikit komando dari imam sholat, salah satu peserta menyampaikan nasihat. Beliau dikenal sebagai KH. Muhammad Salbini, Lc. M.Si. Tokoh masyarakat sekaligus ulama di Tangerang Selatan. Suara beliau parau, serak basah. Bisa jadi sedang kurang sehat.

Saya mencatat ada 3 hal penting yang disampaikan beliau bagaimana seseorang bersikap dalam berorganisasi. Saya juga menghubungkannya dengan kegiatan saya  sehari-hari.

Allahu Ghayatuna. Allah menjadi tujuan.

Dalam berorganisasi atau apa pun aktivitas kita, harus diniatkan bahwa kita melakukan semuanya karena Allah. Bukan karena jabatan, bukan karena kehormatan. Bukan pula sebab pujian,  bukan pula oleh sebab uang. Kita ikhlaskan hanya untuk Allah segala perkataan dan perbuatan, ibadah dan perjuangan kita. Sehingga kita diakui sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlisin. Seperti bacaan yang kita ikrarkan utamanya saat sholat :

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.” (QS. Al-An’aam 162-163)
Ar Rasul Qudwatuna. Rasulullaah SAW menjadi teladan atau panutan.

Al-Quran telah mengarahkan Rasulullah SAW supaya mendidik hati, pikiran, perasaan, tingkah laku dan akhlak manusia ke tataran yang lebih tinggi dan mulia. Beliau setelahnya juga mendidik follower, membentuk komunitas atau jamaah, masyarakat dan bahkan memimpin negara.

Dalam berorganisasi, Nabi Muhammad SAW melakukan kaderisasi dengan baik. Beliau pantau setiap follower nya dengan hal-hal yang sepele. Seperti pertanyaan, siapa hari ini yang mengunjungi orang sakit. Siapa yang telah membantu meringankan beban tetangganya. Siapa yang turut merawat jenazah. Dan masih banyak pertanyaan yang seputar hubungan antar manusia. Salah satu binaan yang patut dikemukakan karena dekatnya dengan masyarakat adalah Abu Bakar ash Shiddiq RA.

Keberhasilan Rasulullaah SAW mendidik generasi pendahulu, patut dijadikan teladan. Mereka adalah generasi yang teruji, kuat dan punya ikatan emosional yang tinggi. Tingkat pemahaman agama yang mumpuni. Hubungan dengan msyarakat yang harmonis. Pribadi yang kuat. Silaturahim yang pada taraf dengan senang hati meringankan beban saudaranya.
Al Quran Dusturuna. Al Quran menjadi panduan.

Al Quran yang diwariskan sebagai pedoman hidup kita ini telah Allah turunkan penuh keberkahan. Sebagai seorang muslim, apapun profesi dan jabatan kita, Al Quran tetap dijadikan panduan. Kita wajib mempelajari Al-Qur`an. Allah SWT berfirman :

“Kitab (Al-Qur`an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”. (QS. Shaad: 29)

Oleh karenanya, membacanya pun sudah seharusnya baik dan benar. Bagaimana menilainya ? Tentunya harus ada orang lain yang lebih baik bacaannya yang menilai bacaan kita. Alhamdulillaah, saat ini sudah banyak forum kajian dan pelatihan membaca dan menghafal Al Quran. Tahsin dan tahfidz.

 

Tiga catatan itu serasa nempol saya. Menyadarkan saya. Tapi itulah hadiah saya pagi ini. Semangat pun membuncah untuk terus meningkatkan diri. Memperbaiki niat setiap kegiatan atau amanah yang saya jalani. Terus memompa semangat berbagi. Meringankan beban sesama.

Saya semalam baru memberikan materi 2 jam. Belum seberapa. Bisa jadi belum memberikan dampak. Namun, pagi ini saya mendapatkan balasan yang tiada taranya. Nasihat yang dikemukan dengan tenang penuh makna. Pesan yang langsung membuat saya membuat action plan. Itulah balasan yang tak setimpal atas apa yang saya berikan semalam. Bahkan bisa jadi hari ini.

Semoga Allah mencatat sebagai amal sholeh atas upaya kami hari ini.

 

 

 

 

Tinggal dan Berjuang by Josef Bataona

“Disciplining yourself to do what you know is right and important, although difficult, is the highroad to pride, self-esteem, and personal satisfaction.” (Margaret Thatcher)

STAY AND STRIVE, kalau saya mau gunakan istilah keren untuk judul di atas. Berbagai momen kesehariaan memberikan beberapa gambaran sederhana tentang kebanggaan: foto yang merekam momen penting (saya bangga berada di sana); foto selfie/wefie (saya bangga pada penampilan saya/penampilan bersama kami); bercerita penuh semangat tentang prestasi anak (saya bangga pada anak saya); bercerita tentang momen tertentu dalam perjalanan karier saya; bercerita tentang momen kebersamaan di tempat saya bekerja, momen bersama teman-teman lama, ataupun momen di masyarakat. Semua ini berpangkal/ataupun berujung pada rasa bangga yang mendalam, yang memunculkan kebahagiaan dan ingin berbagi kepada orang lain.

Bangga, Cerita dan Berjuang

Bagi pimpinan di perusahaan, akan sangat menggembirakan mendengarkan pengakuan tulus karyawan:

“Saya bangga bekerja di perusahaan ini.”

Bahkan kita bisa mendengar dari orang-orang di luar perusahaan yang bercerita:

“Karyawanmu suka bercerita kalau mereka sangat bangga dengan perusahaannya.”

Indikator sederhana untuk memonitor kebanggaan karyawan akan perusahaan dan lingkungan kerjanya.

3S (Say, Stay and Strive)

  1. Say (Bercerita): Sebagaimana paparan di pengantar di atas, karyawan tidak akan tinggal diam dengan berbagai pengalaman menarik dan menyenangkan dalam bekerja. Dia akan mengungkapkan kebahagiaan dengan bercerita kepada teman kerjanya, teman-teman di luar sana, dengan keluarga. Dia bisa melakukannya dengan bercerita langsung, ataupun menggunakan media sosial, baik berupa teks ataupun foto. Mengikuti berbagai kicauan di media sosial, kita bisa memahami apa yang terjadi di perusahaan tertentu.
  2. Stay (Tinggal): Indikator yang kasat mata, adalah bahwa karyawan itu tinggal di perusahaan untuk jangka waktu yang lama, bahkan kalau perlu hingga pensiun. Dia menemukan bahwa tata nilai yang berlaku di perusahaan sejalan dengan tata nilai pribadinya.Tentu saja kita perlu mendengar dia bertutur, tentang alasan dia tinggal lebih lama.
  3. Strive (Berjuang): Karyawan yang bahagia dan tinggal di perusahaan dan terus berjuang meningkatkan kinerja, adalah karyawan yang memang didambakan.

Paduan dari 3 (tiga) elemen ini akan memberikan harapan positif bagi keberlangsungan perusahaan ini untuk jangka panjang. Namun hadirnya ketiga elemen tersebut di masa mendatang, juga akan sangat tergantung pada peran masing-masing leader untuk memfasilitasi kehidupan organisasi, seperti yang dipaparkan di bawah ini.

Perhatian kecil seperti pada foto terlampir, turut menciptakan suasana kerja, saling memperhatikan, saling menghargai, saling membahagiakan.

ultah

Tips 10 C untuk Leader

Dalam Ivey Business Journal, para peneliti dari University of Western Ontario’s Rachard Ivey School of Business memberikan sari tips tentang apa yang dilakukan oleh para manager untuk meningkatkan kadar Keterlekatan (engagement) karyawan, dengan judul “The 10 C’s of Employee Engagement“.

Saya kutip dan terjemahkan penjelasannya:

  1. Connect: Employee engagement merupakan refleksi langsung bagaimana perasaan karyawan tentang hubungannya dengan atasannya. Mereka mencermati, apakah leader dan orgasisasi menjalankan apa yang diucapkan bahwa: “Our employees are our most valuable asset.
  2. Career: Leaders menyediakan pekerjaan yang berarti dan penuh tantangan yang sekaligus juga mengedepankan kesempatan maju dalam karier karyawan.
  3. Clarity: Leaders harus mengkomunikasikan vision dengan jelas. Karyawan ingin memahami Visi perusahaan serta berbagai tujuan/target yang ingin dicapai para leader atau pimpinan divisi, unit atau tim.
  4. Convey: Leaders memaparkan secara jelas ekspektasi mereka terhadap karyawan, serta memberikan umpan balik ketika karyawan menjalankan tugasnya.
  5. Congratulate: Leader yang baik suka memberikan penghargaan, memberikan coach bagi anggota timnya.
  6. Contribute: Karyawan ingin tahu kalau input mereka sangat dihargai dan itu dianggap sangat berarti sebagai kontribusi mereka demi sukses perusahaan.
  7. Control: Karyawan menghargai kontrol sepanjang proses menjalankan tugasnya, dan leaders menciptakan kesempatan bagi karyawan untuk juga menyimak dan mempraktekkan proses kontrol tersebut.
  8. Collaborate: Great leaders adalah team builders; mereka menciptakan lingkungan yang mempertebal TRUST dan Kolaborasi.
  9. Credibility: Leaders hendaknya berjuang untuk menjaga reputasi perusahaan dan mendemonstrasikan standar etik yang tinggi dalam berperilaku.
  10. Confidence: Leader yang baik akan menciptakan rasa konfiden di lingkungan perusahaan, dengan menjadi contoh/role-model dari standar etik dan kinerja yang tinggi.

Pada akhirnya, kalau kita bicara tentang ‘Keterlekatan Karyawan’ (Employee Engagement), kita bukan berbicara tentang karyawan tapi tentang leader, seperti kutipan di akhir tulisan ini.

“Employee Engagement is not really about the employees, it’s really about effective leadership.” (Dr. R L Bhatia)

 

*Josef Bataona, Lahir di Flores 1953. Direktur HR di PT Indofood Sukses Makmur. Sebelumnya, adalah Direktur HR Bank Danamon selama 4 tahun. Selama 31 tahun bekerja di PT Unilever Indonesia Tbk. Di Unilever, selama 10 tahun terakhir menjabat sebagai Direktur HR.