Bertepuk Sebelah Tangan by Ari Wijaya

 

Sayup-sayup terdengar lagu ‘Pupus’ yang dilantunkan oleh Group Band Dewa 19.

Aku tak mengerti, apa yang kurasa
rindu yang tak pernah begitu hebatnya
aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau

aku persembahkan hidupku untukmu
telah ku relakan, hatiku padamu
namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara

Reff :
baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku

semoga aku akan memahami sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban hingga kaupun mau

aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau”

Coba kita perhatikan dan cermati bait reffren-nya mengalun sendu :

“baru ku sadari…

cintaku bertepuk sebelah tangan …

kau buat remuk sluruh hatiku…”

Rasa itu bisa terjadi juga pada dunia dagang. Hubungan pembeli dengan penjual. Kenapa demikian ? Kok bisa ?

Begini…

Pada galibnya, hubungan pembeli dengan penjual adalah hubungan yang tak terpisahkan pada pasar di mana pun. Namun, yang menjadi tidak umum, adalah bagaimana pembeli mengetahui lebih rinci kondisi penjual. Seluk beluk pemasok sangat perlu diketahui agar Kita mengenal dan mendapatkan pasangan yang serasi. Ada 3 hal utama, menurut hemat Saya, yang perlu digali lebih dalam.

Kapabilitas atau kemampuan penjual. Kinerja penjual. Pesaing penjual (pasar pasokan) atau pemain yang sama dengan penjual (peers-nya).

Lirik lagu Pupus yang dibawakan Once Dewa 19 sangat sesuai dengan pentingnya menilik kapabilitas pemasok. Faktor yang lain seperti kinerja dan persaingan pemasok, akan di bahas di lain kesempatan.

Kapabilitas penjual menjadi penting. Hal ini agar Kita tahu berhubungan dengan pasangan yang pas. Sebagai contoh, ketika Kita membeli 1-2 ekor ayam potong, maka cukup membeli di warung sebelah. Jika dibutuhkan lebih banyak, 10  ekor ayam potong misalnya, Kita langsung berhubungan dengan pemotongan ayam. Bisa di pasar atau pengepul terdekat. Bayangkan, jika ketika kita butuh 10 ekor, kita berhubungan dengan RPH atau rumah pemotongan hewan. Nah, ini kelasnya berbeda. Kebutuhan kita jauh lebih sedikit dari kapasitas rumah potong yang ribuan per hari. Kita tidak akan mendapatkan benefit yang optimal. Karena tentunya, rumah pemotongan ayam akan bersepakat dengan agen ayam potong yang dapat menyerap dalam jumlah besar. Bukannya tidak mau dapat order. Atau sombong. Tapi, mereka akan berpikir cara menjual yang sangkil dan mangkus. Melayani order kecil akan memberikan biaya administrasi, transportasi yang relatif lebih besar. Biasanya RPH memberikan batasan pembelian dalam jumlah tertentu. Minimum order quantity. Agar tidak kecewa, mereka akan mengarahkan pembeli jumlah kecil kepada agen yang telah ditunjuk. Secara tidak langsung kita tertolak. Kondisi yang tidak mengenakkan, bukan ?

Demikian pula sebaliknya. Kita punya pesanan ratusan ayam per hari. Karena ingin praktis, Kita menuju pasar terdekat. Kita berhubungan dengan penjual di pasar. Bisa juga. Namun, yang terjadi adalah kerepotan kita. Penyedia ayam potong, bisa kekurangan stok. Karena kapasitas yang disediakan tidak sampai ratusan. Paling banter puluhan. Bagaimana untuk memenuhi kebutuhan ? Kita harus berpindah beberapa penjual. Membeli di beberapa penjual. Kemudahan alat angkut tidak diperoleh. Tidak efisien. Satu mobil besar mengangkut jumlah kecil. Berpindah-pindah. Parahnya, malah ulang-alik karena multi tujuan ambil. Belum lagi, administrasi yang berbelit. Harga bisa jadi tidak optimal. Beda harga satu sama lain. Negosiasi yang alot.

Secara total, malah repot. Kita yang tidak mendapatkan benefit yang optimal. Meski penjual di pasar senang, mendapatkan profit. Penjual sumringah, Kita sebagai pembeli pontang panting. Tidak equal.

Kebutuhan ratusan ekor, layak berhubungan dengan agen besar. Beberapa kemudahan akan didapat. Kemudahan transportasi. Sekali angkut. Administrasi lebih simpel, 1 PO untuk semua. Waktu juga lebih efektif. Harga dapat lebih optimal. Bisa dipastikan akan relatif lebih rendah dari harga pasar. Setidaknya satu bahkan lebih jalur distribusi dapat dipangkas. Ujung-ujungnya penghematan belanja.

Terlihat jelas, sebagai pembeli mengetahui kondisi penjual atau pemasok sangat penting. Bagai mencari pasangan. Mendapatkan pasangan yang serasi. Agar tidak bertepuk sebelah tangan.

Hampir dipastikan, kita tidak mau cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan ? Kita tak kan mau hati remuk redam ?

Termasuk urusan bisnis, juga lho?

Mari ditelaah lagi hubungan kita sebagai pembeli dengan penjual.

Tuhan… Ini Owe !!! by Satria Hadi Lubis

Tuhan…ini owe !!!
By Satria Hadi Lubis

Acong, seorang pegawai yang sangat lugu dan setia. Ia punya kebiasaan unik.

Tiap kali makan siang dan pulang ke rumah, dia selalu menyempatkan untuk berhenti di depan pintu rumah ibadah yang dilewatinya untuk berdoa sejenak.

Dua belas tahun sudah, ia lakukan dengan setia. Sampai suatu hari ada yang bertanya :

“Acong, apa yang loe lakukan di depan pintu rumah Tuhan setiap hari?”

Jawab Acong :

“Owe berdoa”

Ditanya lagi, “Doa apa?”

Acong menjawab :

“Singkat saja. Tuhan, ini owe, Acong”

Suatu hari Acong sakit, masuk ruang ICU.

Ia merintih kesakitan dan berseru :

“Tuhan, ini owe.”

(Setiap rasa sakit mendera tubuhnya, ia selalu panggil nama Tuhan)

Sampai suatu malam Acong bermimpi, Tuhan datang, menyentuh kening Acong dgn lembut sambil berkata :

“Acong, ini Owe”

Acong senang sekali, dia langsung duduk. Tapi, yang menyapa sudah menghilang.

Dilepasnya selang infus, dia keluar dari ruang ICU mencari Tuhan.

Perawat kaget dan bertanya :

“Mau ke mana, Koh?”

Acong menjawab singkat :

“Owe mau nyari Tuhan yang menyapa Owe”

Perawat berpikir Acong ngelindur. Tapi ia heran, waktu diperiksa ternyata Acong sudah sembuh total dan sehat seketika itu juga.

KESIMPULAN :

Tuhan sayang dengan orang yang tulus hati & setia. Tuhan tidak butuh kepandaian kita, DIA tidak butuh fasih lidah kita.

DIA tidak butuh doa yang panjang dan dahsyat..

DIA tidak kagum dengan hebatnya pelayanan kita, indah dan megahnya gedung kita.

Satu hal yang pasti, Tuhan melihat sampai jauh ke dasar hati kita, apa yang menjadi motivasi dan kerinduan kita saat mengiring DIA. Hanya dengan bilang “owe” itu sudah lebih dari cukup ! Tuhan sudah tahu dan mengerti.

Tuhan, ini owe !

Catatan khusus dari Satria Hadi Lubis :
Meskipun SEBAIKNYA berdoa dengan MENERAPKAN ADAB BERDOA, namun cerita ini menggambarkan orang yang ingin selalu bersama Allah SWT.

Dan sesungguhnya Allah Maha Tahu permintaan hamba-Nya.

 

Catatan :

Mari sahabat, kita perbanyak menyapa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bermunajat. Bersimpuh menghamba kepadaNYA. DIA dzat yang paling tepat sebagai tempat mengadu.

 

*) Satria Hadi Lubis, lahir di Jakarta bulan September 1965. Kandidat Doktor ini adalah dosen, trainer, penulis buku, dan juga motivator. Beliau dan keluarga menetap di Perumahan Amarapura, Setu, Tangerang Selatan.

Buku karya Satria Hadi Lubis yang layak disimak diantaranya : ‘Burn Yourself’, “Breaking the Time’, ‘Total Motivation’,  dll.

 

 

Make or Buy ? by Ari Wijaya

Outsourcing : To Make or To Buy (MoB)

Kata ‘outsourcing’ sudah tidak asing dalam keseharian bisnis. Outsourcing atau alih daya adalah upaya mengalihkan sebagian proses bisnisnya kepada pihak lain. Pada industri manufaktur, ada pilihan keputusan membeli atau menggunakan fasilitas orang lain daripada membuat sendiri (MAKE or BUY). Sedangkan industri jasa, adalah pilihan menyewa atau melakukan pembelian atau penguasaan asset (RENT or BUY).

Alih daya merupakan salah satu upaya terobosan untuk meningkatkan fleksibilitas perusahaan. Langkah antisipatif menghadapai perubahan pasar yang sangat cepat. Tidak hanya sekedar mengurangi biaya, namun juga mendorong adanya inovasi atau ide kratif lainnya. Upaya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

Pokok Persoalan Strategis

Hal utama yang perlu ditelaah ketika akan melakukan alih daya adalah menjawab pertanyaan :

“Apa tindakan yang paling tepat untuk kepentingan perusahaan ?”

“Apa yang harus dilakukan agar perusahaan lebih kompetitif?”

Menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu dilakukan penilaian mandiri seperti apa kompetensi inti perusahaan. Ini penting, karena kompetensi inti sebaiknya tidak dialihdayakan. Kajian di di dalamnya termasuk bagaimana dominasi supplier dalam industri yang digeluti. Yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan kekebalan strategis agar tidak mudah terserang kompetitor ketika alih daya dilakukan.

Misalkan : PT Kuda Liar (PTKL), memiliki kompetensi inti membuat minuman berenergi kelas wahid. Ia ingin melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru wilayah. Maka, PTKL harus menemukan bagaimana meramu dan membuat biang minumannya. Ramuan dibuat dalam bentuk bubuk, agar memudahkan untuk pengolahan. Cukup air sebagai pengencer.

Karena pemekaran area distribusi, ada kendala transportasi (relatif lebih mahal dan waktu tempuh lebih lama), maka diputuskan untuk melakukan alihdaya pengolahan minuman berenergi. Pabrik di luar pulau, hanya menyiapkan air sebagai pengencer, kemasan dan distribusi. Jika ada peningkatan penjualan, maka ramuan/biang yang dikirimkan lebih banyak. Supplier penyusun bahan ramuan hanya tahu menyediakan bahan penyusun tanpa tahu kuantitas secara rinci. Takaran bahan untuk menajdikannya biang minuman, hanya diketahui pihak PTKL.

Namun, sebaliknya, jika dilakukan mandiri dari hulu ke hilir (integrasi vertical), maka faktor biaya dan kecepattanggapan menjadi hal yang patut dipikirkan. Terlebih lagi, hal ini bisa mengurangi fleksibilitas dan kepuasan pelanggan.

Integrasi Horisontal

Sebagai salah satu strategi persaingan, outsourcing pekerjaan yang bukan kompetensi inti adalah upaya untuk penghematan biaya. Sebagai contoh Cisco System yang mengalihdayakan proses pembuatan, pemenuhan order dan distribusi. Jika ada pengembangan produk baru, ia juga bekerja sama dengan perusahaan UKM. Cisco hanya memiliki ide besar bisnisnya. Fleksibilitas tersebut yang menjadikannya ia mampu menyediakan layanan yang lebih cepat dengan biaya yang lebih rendah daripada pesaingnya.
Inisiatif ini tidak dapat dilepaskan dari product’s life cycle. Proses alih daya dapat dimulai saat pengembangan produk baru. Karena akan diketahui mana yang harus dikerjakan sendiri dan bidang mana yang akan menggunakan jasa pihak ketiga.

Di samping itu, konsep lean manufacturing juga acapkali digunakan sebagai acuan. Ketentuan umum yang menyatakan bahwa produk harus dibuat mandiri adalah :

1. Suatu produk atau item menentukan kesuksesan produk, termasuk persepsi pelanggan.

2. Memerlukan special desain dan keahlian khusus termasuk didalamnya peralatan khusus dan pemasok sangat terbatas.

3. Produk yang memang menjadi kompetensi inti perusahaan dan dengannya (pijakan) perusahaan mengembangkan rencana jangka panjang.

Sebagai contoh, pembuatan mobil. Salah satu penentu kinerja mobil adalah mesin. Dalam komponen mesin yang paling menentukan adalah teknologi pembakaran. Teknologi tersebut direpresentasikan oleh suatu komponen yang disebut engine block. Engine block atau cylinder block memerlukan desain khusus, pengembangan khusus dan menjadi pijakan pengembangan selanjutnya. Sehingga banyak yang masih menjadikannya membuat mandiri, sedangkan komponen lain diberikan kepada pihak ketiga.

Keputusan Taktis

Setelah menetapkan keputusan dikerjakan mandiri atau dialihdayakan, maka monitoring harus tetap dilakukan. Pengerjaan mandiri harus disandingkan dengan kajian efisiensi, pengendalian mutu, biaya, pemanfaatan kapasitas seoptimal mungkin. Sebaliknya, pengalihdayaan harus melakukan evaluasi kinerja vendor, perubahan permintaan pasar, perubahan desain, pertimbangan biaya alih daya. Analisis tersebut dilakukan untuk memberikan bahan pertimbangan keputusan manajemen terhadap keputusan awal.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Keputusan ‘Make or Buy’

Dua faktor utama yang melandasi keputusan MoB adalah :

a. ketersediaan kapasitas produksi
b. biaya (dalam hal ini yang dimaksud adalah, Total Cost of Ownership)

Pada keputusan melakukan mandiri maka yang harus diperhatikan adalah biaya tenaga kerja (langsung) karena mempengaruhi harga pokok penjualan. Dan juga biaya operasi (sales, general and administrasi) yang akan mengurangi laba kotor.

Sebaliknya, keputusan melakukan alih daya, hal utama yang dikaji adalah harga beli produk atau komponen produk tersebut. Termasuk di dalamnya biaya yang berhubungan dengan mutu produk dan layanan beserta rangkaiannya. Sehingga pengendalian atas produksi dan juga mutu sangat penting.

Sebagai gambaran, pada pabrik roti dilakukan alih daya untuk distribusi produk jadi ke pelanggan toko. Pada proses ini, produk disertai dengan tagihan dan dokumen penarikan produk rusak. Salah satu poin penting adalah bagaimana tidak terjadi manipulasi jumlah produk rusak dan control pengiriman tepat waktu. Layanan yang menurun dari transporter akan berakibat pada sales yang drop dan tentunya kepuasan pelanggan (produk sering kosong, toko juga kehilangan potensial sales).

Faktor siklus teknologi juga menjadi faktor penting utamanya yang perubahannya sangat cepat. Spesifikasi yang cepat berubah tentunya berisiko kepada pihak ketiga.

Kehandalan pemasok juga menjadi catatan penting dalam keputusan MOB. Jika dalam kondisi vendor yang tidak handal, maka keputusan melakukan pekerjaan mandiri harus diutamakan.

Loading versus capacity juga menjadi acuan alihdaya. Jika loading sangat kecil dibandingkan kapasitas, maka lebih efisien jika diputuskan membeli kepada pihak ketiga.

Alih Daya Bisnis Proses

Lisa Ellram & Arnold Maltz menyatakan alih daya bisnis proses adalah menyerahkan tanggung jawab kepada pihak ketiga terhadap aktivitas yang biasanya dilakukan internal. Saat ini sudah lumrah mengalihdayakan beberapa bisnis proses, tidak hanya satu atau spesifik fungsi tertentu.

Salah satu yang dikenal adalah sistem just in time (JIT) dengan kanban system yang dipakai oleh Toyota. Ada juga pada perusahaan properti, melakukan alih daya jasa pengoperasian, perbaikan dan perawatan gedung kepada pihak ketiga. Bahkan ada juga yang mengalihdayakan tenaga kebersihan, tenaga pengamanan dan sistem perparkiran kepada pihak ketiga. Integrated facility management dilakukan oleh 3rd party. Pemilik hanya menangani managerial (keputusan stategis).

Pada proses pengadaan ada juga sebagai bagian dari sistem blanket, maka persediaan tidak lagi dikelola internal tapi oleh pemasok (vendor managed inventory).

Sifat Perubahan pada Keputusan MOB

Keputusan MOB dapat berubah drastis pada kurun waktu tertentu. Terlebih adanya pengaruh perubahan kebijakan pemerintah. Bisa saja terjadi perubahan kompetensi inti perusahaan. Sehingga rumusan dan aturan yang kaku ketika membuat keputusan MOB harus dimitigasi. Evaluasi keputusan harus dilakukan secara berkala.

Setiap keputusan mempunyai risiko, tidak terkecuali alih daya. Risiko longgarnya pengawasan atau pengendalian, fokus bahkan benturan kepentingan, kerahasiaan, biaya, kejelasan tanggung jawab.

Sebagai contoh, pada suatu kesempatan, pabrik minuman mengandung susu, PT Sehat Utama (PTSU), mengalihdayakan hampir proses bisnis. Hanya bagaimana memformulasikan racikan minuman mengandung susu yang masih dipegang sendiri. Alias, fungsi research and development nya tidak dialihdayakan kepada pihak ketiga.

Hal ini mengakibatkan, jika ada kenaikan harga gas, bbm atau utilitas, maka bisa menyebabkan secara total memberikan negative profit. Pemasukan tetap, tapi biaya produksi naik. Biasanya menyebabkan kenaikan harga terhadap biaya co-pack (atau biaya alih daya) per liter, bahan baku, biaya transportasi yang langsung dibebankan kepada perusahaan. Lain cerita, jika dikelola mandiri, maka upaya-upaya mencari alternative source, alternative pemasok masih dapat dilakukan oleh perusahaan. Hal itu yang disebut risiko melakukan alih daya atas sebagian besar proses bisnis.

Bagaimana dengan perusahaan tempat kita bekerja ? Atau bisnis yang anda geluti saat ini ? Apa core competency nya ? Perlukah dilakukan alih daya untuk menjungkit keunggulan kompetitifnya ?

Mari kita ‘pit stop’ sejenak. Bermimpi dan merancang perubahan. Diskusi dan dilanjutkan dengan actiON. Aksi bersama untuk meningkatkan profit dengan menekan harga pokok penjualan.

Kata-katamu Adalah Doamu by Awang Surya

KATA-KATAMU ADALAH DOAMU

Hari itu usai mengisi forum kajian Islam di sebuah masjid, saya buru-buru pulang. Di rumah telah menunggu seorang yang sangat spesial bagi saya. Umi, begitu saya memanggil ibu saya, tengah ada di rumah saya. Dua hari yang lalu beliau datang dari kampung untuk menengok anak laki-lakinya.

Saat saya sampai di rumah Umi sedang duduk-duduk di teras rumah. Hal itu mengingatkan saya pada kebiasaan lama di kampung. Saban malam terang bulan kami sekeluarga duduk-duduk di serambi rumah menikmati malam purnama. Maka usai mencium tangan Umi, saya menemani beliau duduk-duduk di teras rumah.

“Nak…. hati-hati kalau ngomong sama anak,” ucap Umi saat saya baru saja duduk selonjor.

“Memang kenapa, Mi?” tanyaku penasaran.

“Kata-kata Umi kepada anak-anak yang Umi ucapkan bertahun-tahun lalu, kini sudah banyak yang jadi kenyataan,” tutur Umi.

“Apa contohnya, Mi?” kejarku sambil menatap wajah beliau.

“Dulu, Nak…. ketika kamu masih kecil,” ujar Umi.

Umi terdiam. Tampak beliau menahan rasa haru yang dalam. Saya ikut terhanyut suasana haru.

“Ketika kamu masih kecil,” lanjut beliau dengan terbata-bata. “Umi sering bilang…. kalau kamu nanti besar, kamu akan jadi ustadz di Jakarta, Nak,” ungkap Umi.

“Subhaanallah!” pekikku lirih.

Saya merenungi kata-kata Umi itu baik-baik. Sekilas lamunan saya kembali pada masa kanak-kanak di kampung. Saat itu dengan berbagai keterbatasan kami sekeluarga, jangankan ke Jakarta, ke kota Kabupaten saja belum tentu sebulan sekali bisa kami lakukan. Maka ucapan Umi saat itu tentu saja sebuah kemustahilan. Tapi kenyataan hari sudah membukakan mata saya, bahwa kata Umi itu kini benar-benar telah terwujud.

Saya tentu saja bersyukur karena Umi mengucapkan kata-kata yang baik kepada saya. Andai saja saat itu Umi mengucapkan kata-kata yang buruk, maka tak tahulah apa yang akan terjadi pada saya hari ini. Saya tiba-tiba ingin membandingkan dengan tetangga saya di kampung yang gemar berkata buruk kepada anak-anaknya. Dan benar, saya mendapatkan fakta bahwa kehidupan anak-anak tetangga saya itu kini betul-betul buruk. Si anak tertua sudah dua kali keluar masuk penjara. Si adik juga kehidupannya tak pernah beranjak dari kemiskinan yang membelit.

Kini saya menjadi lebih paham makna pesan Rasulullah SAW :

Barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata yang baik atau diam. (Muttafaq ‘alaih)

Kalau boleh memilih, semua orang pasti ingin berkata-kata yang baik terutama kepada anak yang dicintainya. Tetapi kenyataan menunjukkan banyak orang mudah mengumbar kata-kata yang buruk ketimbang kata-kata yang baik. Mengapa demikian?

Pembaca budiman, kata-kata memang keluarnya dari mulut kita. Tetapi sebenarnya ia ada hasil dari apa yang pernah kita masukkan ke dalam teko jiwa kita. Manakala sebuah teko diisi kopi, maka yang keluar darinya adalah warna hitam. Saat teko diisi susu, maka saat dituang akan keluar warna putih. Demikian itu pula teko jiwa kita. Teko jiwa yang selalu diisi dengan kata-kata baik, maka tumpahannya adalah kata-kata baik. Demikian pula sebalikya.

Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita lalukan untuk mengisi teko jiwa kita dengan kata-kata positif. Pertama, perbanyaklah melafalkan kata-kata baik. Dan kata-kata yang terbaik adalah dzikrullah sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, yaitu subhaanallah, alhamdulillah, Allahu akbar. Bisa juga asma’ul husna. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka, setiap ada kesempatan lantunkanlah kalimat-kalimatthayyibah tersebut agar teko jiwa kita penuh dengan kebaikan.

Kedua, perbanyaklah membaca buku-buku tentang kebaikan. Hindari buku-buku yang berisi tentang keburukan. Hari ini di toko buku bertebaran buku-buku yang bagus. Belilah, dan bacalah. Maka akan banyak kata-kata bagus yang tersimpan di teko jiwa kita.

Ketiga, perbanyaklah mendengar kata-kata baik. Salah satunya adalah dengan berkumpul dengan orang-orang baik. Dari mulut orang-orang baik, kata-kata yang keluar dari mulut mereka akan cenderung baik. Maka otomatis teko jiwa kita akan terisi dengan kata-kata  yang baik. Pantas kiranya jika Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya berteman dengan orang baik. Sabda beliau :

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

So, mari berkata-kata yang baik di depan anak-anak kita agar masa depan anak-anak kita akan menjadi baik. Bukankah kata-kata adalah doa?

 
Catatan :
*)Awang Surya : penulis, penceramah dan pengusaha tinggal di Bogor.

Beliau adalah salah satu penceramah di Masjid Baitul Hikmah Elnusa.

Alumni Teknik Mesin UB, mantan Kadiv Perusahaan EPC terkenal, yang memilih untuk mengabdikan dirinya pada pengembangan sumber daya manusia. Rekan sejawatnya berseloroh, ia alumni fakultas teknik jurusan dakwah.

Beberapa buku hasil karyanya :
‘Pesantren Dongeng’, ‘Pak Guru’, ‘Bahagia Tanpa Menunggu Kaya’, ‘Ada Masalah, Bersyukurlah’, dll.

 

Ketika Naga Lagi Menggigit Samurai By Dahlan Iskan

Ketika Naga Lagi Menggigit Samurai
By Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN

 

The Wall Street Journal menyebutnya seru: Ini baru pertama terjadi. Jepang terpaksa melepas perusahaan teknologinya ke negara lain. Terutama teknologi elektroniknya.

Ideologi menjaga   ”rahasia teknologi Jepang” mulai meleleh. Padahal, Jepang dikenal sangat pelit melakukan alih teknologi. Sampai sekarang pun, kita hanya jadi pasar mobil Jepang.

Pelitnya Jepang dalam ”alih teknologi” kini berubah menjadi penyerahan total. Bukan hanya alih teknologi. Sekalian dengan perusahaannya. Terpaksa.

Sharp memang dalam kesulitan besar. Belakangan terus merugi. Berbagai usaha penyelamatan gagal.

Dua kali bailout tidak menolong. Tahun lalu masih rugi  USD 918 juta. Atau sekitar Rp 12 triliun. Belum termasuk angka meragukan yang baru diketahui belakangan.

Pertolongan paling dramatis dilakukan oleh ”dewa baru” Jepang: INCJ. Juga gagal.

INCJ adalah dewa baru. Didirikan pemerintah bersama 19 perusahaan raksasa Jepang. Tugasnya: merangsang perusahaan Jepang agar tidak kalah dalam kompetisi.

Bukan main. Jepang yang kita nilai sudah sangat hebat pun masih perlu melakukan itu:   bagaimana bisa lebih kompetitif. Maksudnya, mungkin, agar jangan kalah oleh Korea.

INCJ (Innovation Network Corporation of Japan) baru dibentuk pada 2009. Ialah yang terakhir berusaha keras menyelamatkan Sharp. Agar jangan jatuh ke asing. Caranya pun drastis: menggabungkan Sharp ke dalam grup Japan Display.

Japan Display didirikan pada 1 April 2012. Empat tahun lalu. Oleh INCJ. Tugasnya menyelamatkan raksasa-raksasa elektronik Jepang. Maka, divisi-divisi layar dari Sony, Toshiba, dan Hitachi digabung ke dalam Japan Display. Panasonic menyusul belakangan.

Maunya: Sharp dimasukkan ke situ sekalian. Tapi, penawaran dari Taiwan terlalu menggiurkan. Dan lagi bank-bank yang selama ini mendanai Sharp lebih mau jalan pintas: jual saja. Sharp bisa lebih cepat selamat. Maksudnya: Banknya juga cepat selamat.

Tawaran Foxconn memang menggiurkan: USD 6,25 miliar. Jepang pun heboh. Oleh besarnya tawaran. Dan oleh ancaman asing.

Tawaran itu dua kali lipat dari harga yang disodorkan INCJ. Dan akan dibayar cepat.

Tapi, drama pun terjadi. Saat Foxconn siap mentransfer uang, muncul data baru: Ada angka yang selama itu belum terungkap. Sharp ternyata memiliki tanggungan USD 3 miliar. Atau sekitar Rp 40 triliun.

Yang bisa jadi bom sewaktu-waktu. Foxconn terbelalak. Ini bahaya. Bisa jadi ganjalan ke depan. Bos Foxconn Terry Guo berang.

Keputusan pun dia ambil: Batal.

Ganti Sharp yang panik. Berita masuknya Foxconn ke Sharp sudah terlalu luas beredar. Ke seluruh dunia.

Jepang yang dikenal sangat ulet dalam negosiasi kini harus menghadapi naga terbang. Sampai-sampai CEO Sharp Takahashi mendadak ke Shenzhen. Mencari Guo.

Foxconn memang punya pabrik besar di Tiongkok. Karyawannya sampai satu juta orang. Komponen-komponen iPhone banyak dibikin di situ. Juga produk Apple lainnya.

Guo tahu bahwa Takahashi minta ketemu dirinya. Dia memang sudah membatalkan transaksi itu, tapi tidak dalam hatinya. Melihat respons Takahashi, Guo membatalkan liburan Imlek-nya.

Tapi, yang menemui Takahashi hanya stafnya. Dia menunggu di kamar sebelah. Alot. Data yang dibawa Takahashi dipelototi.

Rapat itu berlangsung sejak pukul 23.00 sampai 09.00. Tidak ada yang tidur. Juga Guo. Yang meringkuk di kamar sebelah.

Menjelang jam makan siang, kamar Guo diketok. Takahashi bertekuk lutut. Dia menyerah. Menerima tawaran Foxconn yang terakhir: USD 3,5 miliar.

Turun dari tawaran awal yang USD 6,25 miliar. Atau turun sekitar Rp 40 triliun.

Inilah gertakan senilai Rp 40 triliun. Inilah keuletan seharga Rp 40 triliun. Inilah tidak tidur dengan imbalan Rp 40 triliun.

Takahashi memang menyerah.  Tapi bukan karena ngantuk. Harga itu memang masih lebih tinggi daripada tawaran penyelamatan oleh dewa INCJ. Terutama tidak bisa menjamin bahwa tanggungan USD 3 miliar itu tidak berbahaya.

Mengapa pemerintah Jepang tidak all-out dalam menyelamatkan Sharp? Dari tangan asing. Yang akan menguasai saham Sharp sampai 72 persen. Taiwan lagi. Wilayah jajahannya dulu.

Pemerintah Jepang rupanya memang punya agenda tersembunyi: merevolusi mental perusahaan Jepang. Yang selama ini tertutup. Pelit investasi. Kurang mengutamakan pemegang saham.

Pemerintah Jepang ingin memulai persaingan terbuka. Termasuk dalam inovasi. Terutama inovasi jenis bisnis masa depan. Singkatnya, Jepang ingin mulai terbuka pada modal asing.

Untuk membuat manajemen Jepang lebih terbiasa dengan iklim persaingan. Persainganlah yang bisa membuat orang lebih inovatif.

Korea dianggap lebih inovatif. Musuh besarnya itu.

Saat tulisan ini muncul di koran grup Jawa Pos, saya sedang di Jepang. Ingin ke Fukushima. Dan ke Fujioka. Bukan untuk membatalkan drama Sharp-Foxconn itu. Tentu saja.

Nama Terry Guo (Guo Tai Ming) kini begitu top. Dia lambang baru dari zero to hero. Lahir sebagai anak polisi rendahan di Shanxi pada 1950, dia ikut ayahnya mengungsi ke Taiwan. Terdesak oleh pemerintahan baru komunis Mao Zedong.

Di Taiwan, Guo bekerja di pabrik karet. Buruh pemutar roda. Di umur 24 tahun, Guo memutuskan untuk berhenti jadi buruh. Bikin usaha kecil. Berkembang: industri kecil bidang plastik. Dia bikin casing televisi.

Di umur 30-an tahun, Guo pergi ke AS. Selama sebelas bulan dia menjelajah berbagai sudut negara. Mencari pasar. Dengan keberanian nekatnya. Dan kegigihan gilanya. Di usia 65 tahun saat ini, Guo menjadi orang terkaya dunia urutan 250-an.

Istrinya, Serena Lim, meninggal karena kanker payudara. Sepuluh tahun yang lalu. Istri keduanya, Zheng Xinyin, seorang koreograf. Saat menikah itu, duda Guo 55 tahun. Zheng 24 tahun.

Dunia kini menanti masa depan Sharp. Sebagai perusahaan asing di Jepang. Sukses atau kempis. Naga sedang menggigit samurai. Semua ingin tahu apa lakon berikutnya.

 

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana by Gus Mus

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana
by Gus Mus

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

Catatan :
Gus Mus adalah panggilan akrab dan populer KH. Ahmad Mustofa Bisri. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang. Jawa Tengah. Gus Mus dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. 

Beliau dikenal juga sebagai seorang penyair dan penulis kolom di beberapa media cetak nasional.

Keputusan itu Membuatmu Galau ? by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Pernahkah anda mendapati situasi saat pilihan, keputusan, atau proposal yang anda pilih, dibatalkan ? Ditolak ? Misal, dibatalkan pasangan anda? Tidak dikabulkan atasan anda? Ditolak partner bisnis ? Atau karena hal lain, misal salah jadwal berimbas perubahan ?

Jawaban sebagian besar orang yang saya sampling adalah pernah bahkan sering. Jika jawaban anda serupa, maka mohon perkenan untuk memutar kaset memori. Coba dikumpulkan rekaman itu. Agar lebih spesifik, mari dikerucutkan ketika keputusan itu dibatalkan oleh orang yang punya pengaruh besar kepada anda. Orang tua misalnya. Atasan di tempat kerja. Atau orang yang punya duit alias owner.

Jika anda karyawan, mohon dikerucutkan lagi. Karena bagi karyawan itu juga bisa berdampak pada kinerja.

Bagaimana perasaan anda ketika itu ? Apa reaksi anda ketika itu ?

Banyak orang yang saya temui mempunyai jawaban mirip. Merasa tidak dihargai. Kecewa. Ngedumel. Marah. Sembuhnya pun lama. Sadar atas kecewa dan marah butuh waktu. Memang, hal itu tidak perlu berlarut, harus segera berubah. Bereaksi positif. Bisa walau tidak mudah.

Ada pula memang yang bersikap easy going. Pasrah. Ada yang bersikap simple :

“Lha wong yang punya duit tidak mau, ya sudah. Kita buat kajian lain. Kita buat proposal lain. Diajukan lagi nanti”, ujar salah seorang sahabat dengan enteng menanggapi hal semacam itu.

Response yang sangat positif. Banyak sudut pandang tentang hal ini.

Saya dan tim juga pernah mengalami hal serupa. Kajian yang kami berikan sudah komprehensif. Beberapa cocerns pemegang keputusan dan wakil pemilik modal pun sudah kami tambahkan. Plus ada tim yang langsung site visit untuk melakukan perbandingan ke bisnis serupa. Menurut kacamata kami sudah sangat lengkap kajian teknis, finansial dan juga mitigasi risikonya. Tapi apa daya, ketika presentasi beberapa kali dilakukan dan presentasi final usai, keputusan manajemen telah dijatuhkan. Kami tidak diijinkan meneruskan kajian itu. Kami tidak disetujui menjalankan bisnis itu. Terlalu berisiko.

Tim pun patah arang. Tidak semangat. Bahkan ada yang marah.

“Kajian kita ini kurang apalagi ?”

“Sudah lengkap teknis, mitigasi risiko, bahkan indikator keuangan pun sudah sesuai bahkan melampaui yang disyaratkan”, tukas salah seorang anggota tim yang menjadi person in charge proyek itu.

Saya pun sempat geram. Tapi hal itu tidak boleh berlarut. Kami konsolidasi. Surat resmi sikap perusahaan, kami layangkan kepada calon partner bisnis kami.

Tim harus jalan, move-on. Masih banyak peluang lain. Kami pun melakukan persiapan pengembangan bisnis lain. Memulai kajian dari nol lagi.

Sekira 2 bulan setelah rapat keputusan itu, ada yang mengejutkan. Bisnis itu pun ternyata dibidik oleh perusahaan lain yang masih ‘saudara’ dengan kami. Infomasi disampaikan oleh pemilik bisnis yang awalnya akan kami ajak kerjasama.

Sangat memukul memang. Geram yang hilang pun timbul kembali. Ada pertanyaan besar yang menggelayut di benak saya.

“Kenapa perusahaan itu boleh memasuki bisnis itu sedangkan kami tidak ? Padahal kami serumpun. Pemilik modalnya pun boleh dikatakan sama”.

“Bukankah concern utama adalah terlalu berisiko yang tidak kuat dan sanggup dimitigasi ?”

“Apakah jika dilakukan oleh perusahaan itu, risiko menjadi turun bahkan berkurang sama sekali?”

“Ada apa sebenarnya ?”

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Karena saya yakin hal yang sama akan menjadi pertanyaan orang yang memiliki visi dan misi yang sejalan. Kadang persaaan itu yang membuat galau. Pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.

Bukan masalah diskriminasi keputusan. Bukan. Tapi kami ingin belajar banyak lagi, bagaimana memberikan presentasi yang memincut manajemen bahkan pemegang saham agar bisa mendapat persetujuan. Materi sama, obyek sama, tentunya ada yang berbeda, sehingga bisa lolos di tempat lain. Besar harapan ada yang memberikan keterangan gamblang. Penjelasan itu pun sudah sangat memadai untuk saya yang sedang belajar ini. Memang itu permintaan berlebihan.

Sembari terus mencari jawabannya. Saya kontak teman. Komunikasi dengan pihak lain. Tidak lupa, saya pun membesarkan hati. Ini perlu agar energi yang dimiliki tetap punya daya dorong. Tidak sia-sia. Terlebih ada sentilan dari guru saya ketika mengikuti kajian rutin. Diskusi singkat yang justru membuat semangat itu membara.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

 

Duh, Gusti Allah, terima kasih. Setidaknya firmanMU ini membasuh kecewa saya. Melepaskan kegaluaan saya. KetetapanMU pasti ada hikmahnya bagi saya dan tentunya bagi tim dan perusahaan ini. Saya saja yang terbatas pandangan dan pengetahuan. Manusia memang tempatnya dan punya subyektivitas.

Bisa jadi proyek itu memang tidak baik bagi saya, tim dan perusahaan.

Ya Allah, mohon luaskan wawasan Kami. Bersihkan hati Kami. Senantiasa jaga hati Kami. Berikan selalu tempat sandaranMU sebagai tempat Kami hanya bergantung dan berharap . Apa pun yang melekat pada kami, amanah, tugas, jabatan, harta, apa pun itu, senantiasa bisa lebih mendekatkan diri Kami padaMU. Kami lebih menghamba dan tambah sujud kepadaMU, Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Gak Gue Banget By Jamil Azzaini

Ada sebagian orang yang bila diberi pekerjaan menantang menjawab dengan kalimat :

“Wah, gak gue banget.”

Kalimat ini bermakna bahwa pekerjaan tersebut tidak sejalan dengan passionnya, dia tidak menguasai, dia tidak mencintai dan sejenisnya.

Benarkah setiap pekerjaan yang tidak cocok dengan kita itu pertanda “gak gue banget”? Belum tentu.

Secara ringkas, dengan menggunakan ilmu Biologi, bisa dijelaskan sebagai berikut. Dulu, saat kita belajar Biologi disebutkan bahwa “fenotif” sama dengan “genetik” ditambah “pengaruh lingkungan”. Maknanya, apa yang tampak pada diri kita saat ini (fenotif) adalah karena ada faktor bawaan (genetik) sekaligus tempaan lingkungan pergaulan.

Sehingga, boleh jadi, pekerjaan atau profesi yang kita kuasai, cintai dan tekuni saat ini sejatinya bukan kita yang asli (genetik) tetapi karena dominannya pengaruh lingkungan. Dan, dalam jangka waktu tertentu, orang yang bekerja atau menekuni profesi tetapi tidak sejalan dengan genetiknya ia akan frustasi, stres dan mengalami kejenuhan yang tinggi.

Oleh karena itu, pernyataan “gak gue banget” bisa jadi keliru. Jangan-jangan justru pekerjaan yang ditawarkan kepada Anda itulah yang sejalan dengan genetiknya Anda. Sayangnya, genetik Anda yang merupaka “berlian” di dalam diri Anda tertutup oleh lumpur [pergaulan yang tidak sejalan dengan genetiknya].

Saran saya, jangan pernah menolak pekerjaan yang menantang apabila Anda belum menemukan siapa diri Anda sebenarnya, belum menemukan passion Anda, belum tahu kelebihan Anda. Dalam kondisi tersebut, pernyataan “gak gue banget” akan menjauhkan Anda dari menemukan jati diri Anda yang sesungguhnya.

Sementara bagi Anda yang sudah menemukan genetik, passion, dan kelebihan Anda, jawaban “gak gue banget” yang membuat Anda tetap fokus dengan pekerjaan dan profesi Anda, akan menjadikan Anda memiliki banyak karya yang luar biasa.

Bagaimana hidup Anda saat ini? Gak gue banget atau gue banget?

Catatan :
Ir. Jamil Azzaini, MM adalah CEO of PT. Kubik Group, perusahaan pelatihan dan konsultansi lokal yang mulai mendunia. Pengarang buku best seller seperti ‘Speak to Change’, ‘ON’, ‘Tuhan, Inilah Proposal Hidupku’, dll.

Jalan Perubahan by Salim A. Fillah

Bahkan lebih dari soal tuduhan pendusta, penyihir, dukun, serta gila; bahkan lebih dari soal dikejar-kejar lalu dilempari batu sambil diteriaki hina, ruku’ lalu dijerat lehernya, sujud lalu diinjak kepalanya serta dituangkan bebusuk isi jeroan unta ke punggungnya; bahkan lebih dari soal diboikot, dianiaya, diusir, dan dibunuhi pengikutnya; saya masih terngungun-ngungun membayangkan kesabaran lelaki agung itu.

Setiap hari dia memasuki Masjidil Haram melalui Babussalaam. Dia akan berdiri di belakang rukun Yamani, menghadapkan wajah ke Al Aqsha yang jauh di utara sekaligus Baitul ‘Atiq di hadapannya, berdiri melafalkan ayat-ayat Rabbnya, tunduk dan pasrah pada Pencipta Alam Semesta. Di saat lain dia seru-seru kaumnya, dia tunaikan amanat Rabbnya, dia sampaikan RisalahNya.

Mari membayangkan betapa sesak dada Rasulullah ﷺ dan para sahabat ketika harus shalat, membaca Al Quran, dan mempelajari Islam di dekat Ka’bah, di bawah bebayang bentuk-bentuk raksasa berhala-berhala yang menistainya.

Tiga belas tahun.

Latta, ‘Uzza, Manat, Hubal dan nama-nama lainnya, tak kurang dari 360 patung dalam selingkar 360 derajat kelilingnya, dari yang dipahat dengan halus dan berseni hingga yang kasar tak beraturan, sesembahan berbagai kabilah itu ‘setia’ menunggui mereka yang berjuang untuk mentauhidkan Allah.

Tapi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak menghancurkannya saat itu, sebab mereka memahami bahwa yang mereka tempuh adalah jalan dakwah. Yang hendak mereka ubah adalah hati dan pemahaman, bukan prasarana dan bangunan.

Tanpa perubahan hati, berhala yang dihancurkan hari ini hanya akan dibangun jauh lebih megah di esok hari. Tanpa perubahan pemahaman, wadah-wadah kedurhakaan yang dibumihanguskan hari ini akan mendapatkan simpati dan pemodal yang jauh lebih besar tak lama lagi.

Maka bahkan Rasulullah ﷺ terus bersabar hingga Fathu Makkah, tepat 21 tahun setelah dakwah dimulai. Di hari itulah kebenaran datang dan kebatilan lenyap. Di hari itulah patung-patung kemusyrikan penista Ka’bah rubuh dan remuk.

Tangan yang menghancurkan berhala-berhala itu bukan hanya tangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, melainkan juga tangan-tangan yang petang sehari sebelumnya masih mengelus patung-patung itu dengan ta’zhim, menaburkan dinar dan dirham di kakinya, serta menuangkan wewangian kepadanya.

Ini semua karena hati, akal, dan jiwa yang berubah.

Jalan dakwah adalah jalan yang panjang tempuhannya. Panjang sebab bukan kayu atau batu, ladang atau hutan, dan gubug atau istana yang hendak dibongkar atau dibangunnya. Panjang karena sasaran utamanya adalah perubahan hati, perbaikan jiwa, pemulihan manusia, dan penyempurnaan akhlaq yang mulia.

Di negeri ini, betapa kita menginginkan perubahan dengan segera, tapi kita lupa apa yang harus diubah.

Ada pula di antara kita yang sangat tahu apa yang harus diubah dan tegas bersemboyan, “Rasulullah memulai dakwah dengan tauhid, dengan ‘aqidah.” Tapi yang kita lakukan lalu hanya mengadakan kajian tentang ‘aqidah. Sedangkan di hari pertamanya masuk Islam, Abu Bakr menyerahkan 40.000 dirham pada Sang Nabi ﷺ.

Tentu bukan hanya untuk menyelenggarakan kajian. Sebab dakwah ini adalah jalan mendaki lagi sulit. Tahukah kita apa jalan yang menanjak lagi sukar itu? Membebaskan yang teperbudak, membagi makan pada hari susah dan sesak, pada yatim yang berkerabat, hingga orang miskin yang amat melarat.

“..Kemudian adalah mereka itu termasuk orang-orang yang saling berwasiat tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang..” (QS Al Balad [90]: 17)

 

Catatan :

Salim A. Fillah dilahirkan di Yogyakarta, 21 Maret 1984. Almuni FT UGM dan Psikologi IAIN Sunan Kalijaga. Penulis buku best seller : Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan (2003), dan beberapa buku lainnya. Selain penulis buku, ia juga aktif sebagai pengurus Masjid Jogokariyan Yogyakarta.