Apa Peranmu ?

Menjelang sore, saya mendapat kiriman pesan dari seorang sahabat dari group WA.

Pesannya sangat mengena pada diri ini.

Makjleb !

Memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Ijinkan saya share penggalan pesan itu kepada para sahabat di sini :

“Ternyata dunia ini bukan soal di mana kita. Dunia adalah soal peran apa yang kita mainkan ke manapun takdir Allah menuzulkan jasad ini. Dan peran itulah yang kelak kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Boleh jadi ia bekal. Atau beban. Kita disilakan untuk memilihnya”.
(Salim A. Fillah)

Terima kasih ya, Allah. Terima kasih, Ust. Salim.
Kiriman pesan itu, lebih menyadarkanku.
Insya Allah terus berbenah.

Cermat Hingga Akhir

Cermat hingga Akhir

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

 

Batu bata merah atau bata bisa jadi sudah jarang digunakan sebagai bahan pembuat dinding bangunan. Mereka sebagian telah tergantikan oleh material lain. Batako. Bata ringan. Dan beberapa contoh lain.

Bata, walaupun hampir tergerus oleh jaman, namun masih menyisakan pelajaran bagi Kita. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari bata ?

Bata dibuat dari tanah liat. Pembuatnya memilih tanah liatnya. Tidak semua jenis tanah dapat dibuat bata merah. Pencetakan dan hasilnya pun disusun rapi.  Agar panas matahari mengeringkannya dengan merata. Kering tapi tidak retak.

Saat pembakaran bata itu pun disusun sangat rapi. Pembakaran adalah proses yang krusial. Tidak sembarangan. Panas api harus merata. Saat di ‘linggo’ (baca : disusun ke atas, siap dibakar), dilakukan dengan teratur. Dinding luar susunan (seperti candi), ditutup dengan tanah liat. Panas pun efektif dan efisien. Bahkan acapkali diberikan tanda dengan menancapkan cabe merah besar. Itu sinyal api/panas telah mencapai ketinggian tertentu. Panasnya cukup, atau kayu bakar perlu ditambah lagi. Tanda yang bisa jadi sepele. Tapi itu bisa menghemat pengeluaran.

Bata harus berwarna merah tua. Makanya ada istilah warna, merah bata. Merah kecoklatan. Karena merah itu menunjukkan kekuatan bata. Merah tua adalah bata yang siap dijadikan bahan bangunan.

Pada tahap pengiriman pun bata itu pun disusun rapi. Memudahkan pemuatan dan pembongkaran. Loading and unloading. Cepat dan hemat biaya. Bayangkan jika sembarangan juga. Bak truk tidak efisien. Bahkan bata bisa pecah. Sangat hati-hati. Mereka tahu, bata pecah membutuhkan waktu relatif lama untuk menyusun. Harus dirapikan sebelum dipasang. Ada kerugian. Ada losses. Artinya biaya tambahan.

Proses pembuatan bata tadi, ibarat kita akan menyusun team. Maka perlu kecermatan yang jauh lebih presisi, bukan ?

Kenapa ?

Manusia adalah salah satu sumber daya utama menyusun sebuah team. Human Capital. Kita harus memilih orang. Orang yang telah terpilih pun, harus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Setiap individu juga harus menjadi pilihan, punya kelebihan. Ibaratdalam dunia persilatan, maka ia adalah pendekar pilih tanding. Ditempatkan di mana saja. Siap beradaptasi, Siap bersaing. Memberikan hasil sesuai bahkan lebih dari ekspektasi.

Peran leader juga perlu kecermatan. Proses pembentukan team juga harus diperhatikan karakter masing-masing anggota team. Tidak ada yang sempurna. Pemetaan perlu dilakukan. Fokus terhadap program yang menjadi peluang perbaikan pada setiap individu. Materi disesuaikan. Tolok ukur ditetapkan. Jika ada yang masih belum sesuai, maka dipoles lagi. Tentunya dengan batasan waktu tertentu. Penugasan juga disesuaikan dengan kelebihan masing-masing.

Penugasan yang tidak sesuai, masih bisa dipaksakan. Namun, tentunya punya konsekuensi. Perlu energi dan biaya tambahan. Baik dari sisi individu, maupun team secara keseluruhan. Dengan kesadaran itu, cermat pada setiap tahapan.

Ia siap menjadi salah satu soko guru organisasi yang mantap. Ia juga memberikan sumbangsih terbaiknya. Bukan rahasia lagi, begitu digabungkan dengan elemen yang lain, organisasi lebih kuat, kokoh, tak tertandingi.

Team adalah salah satu daya tahan persaingan. Kemenangan dalam kompetisi juga ditentukan oleh tim yang kuat.

“The team with the best players wins”

Begitu petuah Jack Welch, salah satu CEO kelas wahid yang idenya banyak dijadikan panutan pemimpin bisnis dunia hingga kini.

Cermat hingga akhir, layaknya bata. Bahan baku pilihan. Pemetaan atau proses persiapan, cermat. Pelatihan atau proses pembakaran, cermat. Penugasan atau penempatan, layaknya proses pengiriman, juga cermat. Hasilnya, suatu bahan bangunan yang dapat diandalkan. Siap membentuk tembok yang kokoh, kuat, sulit dirobohkan.

Anda tentunya juga ingin punya team yang kuat, bukan ? Ingin menang dalam persaiangan ?

Mari kita cermat memilihnya, mengembangkannya dai awal hingga akhir. Layaknya, kita akan menjual batu bata merah kelas wahid.

NGALUP BARENG ! (baca : Mudik Bersama)

NGALUP BARENG !

by : Ari Wijaya

 

Pertemuan Rabu malam itu, Alhamdulillaah dapat dilaksanakan. Beberapa kali tertunda karena ada beberapa orang yang tidak bisa hadir. Saya juga tidak canggung menghadirinya. Beberapa hadirin sudah saya kenal. Sebagian besar adalah wajah baru, sahabat baru saya. Tapi yang lebih penting sambutan mereka sudah seperti saudara sendiri. Itulah Paguyuban Genaro Ngalam (baca : Orang Malang). Kami singkat menjadi GN. Sekumpulan orang yang pernah mengenyam pendidikan di Kota Malang dan menetap di Jakarta dan sekitarnya. Mereka berkumpul bersama melakukan kegiatan amal, aktivitas sosial.

Kali ini saya diberikan amanah oleh Pembina GN, Laksamana Muda Agung Pramono dan Ketua Paguyuban, Mas Sasangka ‘Tommy’ Hadi, untuk memimpin salah satu kepanitiaan kegiatan GN. Ketiban sampur seperti kata Cak Kartolo, salah satu komedian ludruk Jawa Timur yang kondang itu. Puji syukur hampir seluruh hadirin mendukung. Tenaga, pikiran dan tentu saja, dana.

Panitia apa itu ?

Silaturahim sebelum lebaran tiba sudah menjadi tradisi. Perantau dari Malang Raya yang di Jakarta juga bagian dari agenda besar tahunan itu.Tradisi yang punya dampak menggerakkan ekonomi daerah. Punya efek domino. Penelitian Balitbang Kemenhub tahun 2014,  perputaran uang selama mudik dan libur lebaran sekira Rp. 15 Triliun. Khusus Jawa Timur saja, sebesar Rp, 2,5 Triliun. Masya Allah.

Masalah utama adalah ketersediaan moda angkutan yang punya kapasitas terbatas. Supply lebih kecil dari pada demand. Belum lagi biaya mudik yang tidak sedikit. Tarif bis Jakarta-Malang saat Lebaran bisa dikisaran Rp. 450ribu – 600ribu. Itu sekali jalan. lho. Jika berencana mudik satu keluarga, suami istri dengan 2 anak, maka setidaknya harus menyiapkan dana transportasi Rp. 3,6juta – 4,8juta pergi pulang. Lumayan besar, bukan ? Pemerintah dan perusahaan pun banyak yang menyediakan program mudik gratis. Setidaknya, meringankan setengah biaya perjalanan. Tapi itu pun belum memadai.

GN terpanggil untuk turut serta menjadi salah satu elemen itu. Memberi kemudahan mudik. Sumbangsih yang belum seberapa besar, namun setidaknya sedikit membantu menyelesaikan masalah transportasi. GN pun menggagas, Ngalup Bareng Murah atau disingkat ‘NGABAR HARUM’. Ngabar singkatan dari NGALUP BARENG (pulang bersama). Harum adalah kata yang dieja dari belakang dari kata MURAH. Khas Arek Malang. Frase kata itu pun jadi trade mark hingga penyelenggaraan yang ke-4, tahun 2016 ini. Insya Allah disiapkan 20 bis atau setara SERIBU KURSI.

Lho ? Kok ada kata ‘MURAH’ ? Bukan gratis ?

Memang benar, panitia membuat keputusan bahwa ada kontribusi Rp 100ribu per orang (per penumpang yang duduk sendiri). Ini sebenarnya bukan tarif. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak pendaftar yang pada hari H membatalkan hadir. Sayang sekali. Karena ketika itu banyak antrian. Mereka tidak terangkut karena kuota memang terbatas. Kemampuan kami belum besar. Karena keterbatasan kami, hanya ada 1.000 kursi. Itu setara 20 bus. Alhasil, banyak yang kecewa tidak kebagian kursi. Kalah cepat. Bayangkan, jika saat akhir keberangkatan ada yang mengurungkan niat, maka ia menutup peluang orang yang akan mudik juga, bukan ?

Oleh karenanya, kami memberikan semacam uang konfirmasi sebesar 100ribu per orang. Maksud kami adalah memberikan rasa tanggung jawab. Kalau batal, maka ada semacam kehilangan uang 100 ribu per orang. Sayang, bukan ? Tapi jangan khawatir, uang ini pun akan dikembalikan dalam bentuk natura. Ada bekal untuk buka puasa, cindera mata, dll. Insya Allah jika diuangkan, nilainya melebihi dana yang telah dikeluarkan. Kami berkomitmen bahwa kegiatan ini murni sosial, bukan komersial.

Ini mudik untuk siapa ?

Kami memberikan prioritas kepada perantau yang bekerja di sektor informal. Bisa juga pelajar dan/atau mahasiswa yang bersekolah di Malang yang kebetulan sedang kerja praktek atau magang di Jakarta Raya (Jabodetabek). Kami ingin sedikit meringankan biaya mudik, sehingga dana atau THR yang dimiliki dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Silaturahim tetap bisa dilangsungkan, harapannya masih ada buah tangan yang dibawa serta.

Kami juga mengemas acara ini tetap fun, aman dan nyaman. Titik keberangkatan, insya Allah dilakukan di Komplek Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan pada SABTU 2 Juli 2016 pukul 7 pagi. Terima kasih, Korps Marinir ! Guna mengumpulkan lebih cepat dan koordinasi relatif lebih mudah. Acara juga diselingi pembagian door prize serta penglepasan oleh panitia. Lumayan buat oleh-oleh di rumah.

Tahun lalu, ketika tiba di Malang setelah perjalanan 19-20 jam, rombongan disambut oleh Walikota Malang, Abah Anton. Tidak sekedar disambut, lho. Beliau juga memberikan cindera mata bagi peserta. Insya Allah tahun ini, beliau berkenan menyambut kembali. Kami juga berupaya hal yang sama kepada Walikota Batu, Pak Eddy Rumpoko di Batu. Pun Bupati Malang, Pak Rendra Kresna di Kepanjen.

Kebahagiaan tersendiri bagi kami, ketika banyak saudara kita yang merasakan manfaat atas kegiatan ini.

Mohon doa dan dukungan sahabat semua, bagi keamanan, keselamatan dan kelancaran event ini.

 

Anda ingin menjadi bagian dari kegiatan amal ini ? Sahabat ingin memberikan donasi untuk event ‘NGALUP BARENG IV 2016 ?

Rekening Donasi :

BCA | 474 000 9856  | an Nana Andeina Kemala

Mandiri | 128 000 007 2931 | an Nana Andeina Kemala

Silakan kontak dan memberikan konfirmasi kepada saya, ARI WIJAYA, 0811-1661-766 atau  kepada  Bendahara Panitia Ngabar Harum IV 2016 :  Mbak NANA IRAWAN, 0811-191-1526 dan Mbak  ERRY SOEKOTJO, 0811-960-827

Donasi sahabat, apa pun dan berapa pun akan kami catat dan salurkan dengan baik. Insya Allah.

Jika ada calon pemudik yang direkomendasikan, silakan mampir di Jl. Wijaya 1 No. 75, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, (021) 722 9370 ada Mbak Uun yang stand by. Formulir dan urusan administrasi, kami pusatkan di sana.  Itu kantor seberang asrama PTIK yang juga dijadikan sekretariat untuk kegiatan ini atas kebaikan Mbak Erry Soekotjo.

Semoga setiap langkah, upaya dan resources yang kita pikirkan, niatkan dan tunaikan, menjadi catatan amal sholeh kita.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Pengasih membalas dengan kebaikan.

Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT, kan ?

“Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”

Oleh : Salim A. Fillah

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.

Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.

Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.

Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.

Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Tetaplah berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.

Mainkan saja peranmu dengan sebaik sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.

Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasah menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.

Rezeki dari Sopir Angkot

Cerita ini saya untai beberapa bulan lalu. Saya munculkan lagi sebagai pengingat saya pribadi. Harapannya, juga bagi para sahabat yang membacanya.

Bagaimana menyikapi hiruk pikuk dunia ini ? Rezeki dari Allah SWT selalu ada untuk kita.

 

Rezeki dari Sopir Angkot

by Ari Wijaya

 

Setelah ngobrol sama Ibu, saya berniat bersilaturahim dengan teman lama. Apalagi silaturahim itu disertai dengan hidangan rujak cingur, menambah semangat bergegas. Javanese salad pakai bumbu petis ini jadi penarik tambahan.  Taksi pun tak kunjung dapat dihubungi nomornya. Kalau istri tahu saya nelpon taksi, sudah pasti dapat sindiran.  Ia sering menyarankan naik public transport alias angkot atau bis.

Keputusan naik angkot akhirnya saya ambil. Secara teoritis, saya harus naik 3 kali angkot untuk mencapai tempat pertemuan. Angkot menuju Terminal Landungsari tak menemui kesulitan, nangkring sebentar di pinggir jalan, sudah ada yang menghampiri. Landungsari menuju Batu yang menguji kesabaran. Angkot banyak jumlahnya, tapi kosong. Alhasil, menunggu antrian yang lama. Antrian berjejer. Banyak makna. Apakah ekonomi sedang lesu ? Jam yang tidak pas ? Banyak hal. Tapi saya tidak mau berlama-lama kebingungan. Bisa terlambat meemnuhi janji. Saya cari yang tidak antri, tetapi semuanya wait and see. Tidak berani ambil risiko. Misal berangkat kosong, berharap ada penumpang di perjalanan. Nyeser kata arek Malang.

Entah kenapa, saya mengarah kepada salah satu angkot ungu. Saya perhatikan sopirnya ramah, terlihat wajahnya santai, tidak sangar. Sembari menunggu saya ajak obrol sang sopir sesuai dengan keinginan saya agar cepat tiba di tempat tujuan.

“Mas. Kalau penumpang penuh, berapa didapat sak tarikan (maksudnya satu rit) ?” tanya saya memulai pembicaraan agak serius.

“Ya, empat puluh ribu lah, Pak” tukas dia cepat.

Langsung dia Saya salami sembari menyodorkan selembar uang pecahan 50 ribu.

“Kalau segini cukup ? Sampeyan anter Aku ke Pesanggrahan, tapi langsung jalan sekarang. Tapi, kalau di jalan ada penumpang, silakan ambil” kata saya bak nego dengan supplier.

Lumayan memotong waktu tunggu. Kalau pun naik taksi, kira-kira juga segitu. Namun, insya Allah beda rasanya. Sedan sama mobil van alias angkot ya, jelas beda ya..

Sekedar memberikan gambaran, jika Anda pernah berkesempatan ke Jatim Park atau Kusuma Agro Wisata di Kota Wisata Batu, Pesanggrahan itu area yang letaknya sekira 2 KM ke arah Songgoriti. Masih di dalam kota.

Dia pun tersenyum dan langsung mengiyakan sembari berucap  Alhamdulillaah sebagai tanda syukur.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang rezeki. Saya pun menyimaknya dengan seksama.

Dia sopir yang sudah 12 tahun di jalan. Punya anak yang duduk di kelas 8 alias 2 SMP. Hikmah rezeki dari Gusti Allah, dia pahami dengan sangat dalam. Sang sopir ini sering disuguhi peristiwa bahwa dalam narik angkot acapkali uang yang dibawa pulang pas untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Pernah suatu siang, Ia sudah dapat target. Itu luar biasa. Acapkali sore menjelang isya’, baru target didapat. Ia berniat menambah jam narik sekira satu jam atau 2 rit. Batu-Landungsari pergi pulang. Maksud hatinya, lumayan lah buat nambah tabungan.

Apa hasilnya ?

Ternyata cuma dapat 2 penumpang, alias 8 ribu. Itu pun setara untuk beli bensin perjalanan tambahan tadi. Secara total hasilnya sama, namun waktu yang malah mengurangi waktu istirahatnya. Peristiwa itu sering dirasakan bahkan berulang kali. Ketika telah dicukupkan, tapi ada semacam ingin nambah, maka ternyata belum diijinkan Gusti Allah. Begitu tuturnya lirih. Sehingga ketika angka yang dikejar sudah di tangan, maka sejak saat itu, ia putuskan pulang. Bertemu istri dan anaknya. Rezeki dalam bentuk lain yang tentunya sulit diuangkan. Mendapati dan bersua keluarga dengan waktu yang lebih banyak.

Setelah sekira 15 menit berjalan, pas tanjakan sebelum Temas, ada satu penumpang naik.

Ia pun tertawa seakan menambah yakin dan membenarkan ceritanya sembari berkata :

“Alhamdulilaah. Ini lho Mas, apa yang Aku sampaikan tadi. Sampeyan sudah kasih uang. Sudah membolehkan Saya ambil penumpang di jalan. 1 rit ketutup, wis. Tinggal cari tambahan. Aku tadi berharap banget. Tapi coba, sepanjang jalan tadi, ya cuma satu orang ini, tho Pak ?” dia bertutur sembari menoleh dan manggut-manggut kepada Saya.

Saya pun memandangnya dengan senyum tanda sepakat. Memang sepanjang jalan tadi sepi. Penumpang tidak terlihat sepanjang perjalanan kami.

“Ini yang Aku sebut sudah ditakar cukup. Aku percaya banget itu. Aku nggak boleh maksa”, sambungnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat dari sikapnya. Menurut hemat saya, ada satu hal yang dapat dipetik dari sopir angkot ini.

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Hal penting yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan ikhtiar, diperkuat dengan doa, dan tawakkal kepada Allah. Mas Sopir Angkot tadi telah melakukannya. Ia pun menyerahkan kepada Allah sisanya. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Ketika ikhtiar, doa serta tawakal telah dipersembahkan, Kita insya Allah diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah memberi karunia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Perjalanan silaturahim saya kepada teman, jelas membawa rezeki. Salah satunya adalah reminder dari Sang Sopir Angkot sekaligus kuliah setara 1 SKS. Pelajaran tentang bagaimana memaknai rezeki Allah SWT.

Anda pun tak luput dari pergulatan menjemput rezeki Allah, bukan ?

Mari kita tata kembali niat, waktu, dan tentunya cara pandang kita. Dan tiada henti meningkatkan ketakwaan kita kepada Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah SWT.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.”

(Surah At-Talaq ayat 2-3)

 

Sabalong Samalewa by Ari Wijaya

Tulisan ini saya rangkai sekira setahun lalu…Sengaja saya tampilkan kembali untuk memberi semangat utamanya diri sendiri dan my new team, ‘the young guns’ new venture non oil and gas…

Sabalong Samalewa

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Menjelang maghrib, Kami mendarat di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III atau dulu dikenal dengan Bandara Brangbiji, Sumbawa Besar. Malam itu, Kami manfaatkan waktu sebaik mungkin. Kami berdiskusi sembari makan ikan sepat bakar yang rasanya maknyus. Pembahasan ringan tapi serius dengan salah seorang pejabat penting di Pemprov NTB yang kebetulan sedang ada dinas di Sumbawa Besar. Beliau menyertai kunjungan Gubernur NTB di Pulau Sumbawa. Esok pagi sudah menunggu jadwal padat lainnya. Kami menginap di hotel seberang bandara. Wake-up call nya pakai ketuk pintu. Sederhana namun efektif.

Esok harinya. Kami sepakat bersama team setempat memulai perjalanan sekira pukul 06.30 WITA. Perjalanan pertama Kami meluncur ke area sejauh 70 KM arah Bima. Sebuah kota kecamatan yang kaya akan hutan bambu. Kecamatan ini masih masuk di wilayah Kabupaten Sumbawa. Beberapa bukit terlihat penuh dengan tanaman bambu. Usai melihat sekeliling, kendaraan Kami arahkan ke salah satu kampus dan pesantren di balik Bukit Olat Maras. Kami singgah karena mereka punya potensi mikrohidro. Ada dam di hulu sungai dekat pesantren. Dan yang tak kalah penting, potensi engineer masa depan yang dilahirkan kampus itu. Bakda Dhzuhur, Kami meluncur ke Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Saya mencoba menggali informasi dan teknologi  dengan teman yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa.

Dalam perjalanan darat, khususnya  di wilayah Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Saya melihat tulisan di atap beberapa kantor pemerintahan dan rumah penduduk. Tercetak tebal dan mecolok dengan huruf kapital :

“SABALONG SAMALEWA”

“Pak, dua kata itu semboyan Kabupaten Sumbawa Besar ? Apa artinya ?” tanya Saya kepada Pak Sigar, sembari mengarahkan telunjuk Saya ke atap sekolah. Pak Sigar adalah orang yang berkenan menjadi pendamping dan penunjuk arah perjalanan Kami. Ia bersama Pak Dayat yang bertugas di belakang kemudi.

“Betul. Itu artinya, membangun dunia akhirat” jawab beliau sembari tersenyum dan penuh percaya diri.

Tidak jauh dari warung makan nasi campur, tempat Kami sarapan, ada gapura dengan kalimat tambahan pada tulisan itu : ‘Lema Mampis Bawa Rungan’. Jika diterjemahkan bebas, mempunyai makna : ‘agar cepat membawa kabar baik’. Mari Kita rangkai kalimat tersebut.

“Sabalong Samalewa, Lema Mampis Bawa Rungan”.

Jika untaian kata yang menjadi visi sebuah kabupaten tersebut dengan berbekal terjemahan bebas Pak Sigar, maka akan berarti :

“Membangun Dunia Akhirat, Agar Cepat Membawa Kabar Baik”

Subhanallaah. Salah satu pernyataan tentang visi, cita-cita yang sangat luhur. Ketetapan hati para founding father Sumbawa yang visioner. Visi yang komplet dengan menggabungkan upaya duniawi dengan ukhrowi. Menurut hemat Saya, hal itu telah dibuktikan. Beberapa hasil upaya pembangunan, mulai memberikan kabar baik bagi masyarakat Sumbawa Besar. Jalan yang mulus. Setidaknya jalan yang Kami lalui, hampir tidak ditemui lubang. Kalau ada itu pun minor. Pelabuhan Badas terlihat menggeliat dengan beberapa kapal besar buang sauh untuk bongkar muat. Bandara juga terlihat ramai. Pertanian fokus pada 2 jenis bahan pangan, padi dan jagung. Sejalan dengan itu, terlihat 2 pabrik pengolahan jagung dan padi dengan silo berkapasitas sekira 6 ribu ton juga beroperasi dengan baik. Peternakan sapi dan kerbau sudah menjadi salah satu lumbung protein hewani Indonesia. Pak Sigar berseloroh bahwa jumlah hewan ternak sapi di Sumbawa bisa jadi jauh lebih besar dari jumlah penduduk Sumbawa. Sekedar informasi, jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa sebanyak sekira 480 ribu jiwa.

Pesantren dan sekolah juga dibangun dengan baik, terlebih diinisiasi oleh masyarakat. Bahkan ada 2 perguruan tinggi swasta yang siap memberikan output sarjana pendidikan, ekonom, ahli komunikasi, dan juga engineer handal. Prestasinya telah mengharumkan Indonesia. Belum lagi kehidupan sehari-hari yang religious. Masjid berdiri megah, juga dengan dana swadaya masyarkat.

Jika ditotal perjalanan darat Kami hari itu, sekira 650 KM, total 17 jam. Itu termasuk diskusi, makan, isi bahan bakar. Dan tentu saja, berhenti untuk melepas lelah. Safety first. Boleh dikatakan Kami mengiris wilayah Utara hingga Selatan Pulau Sumbawa. Sekira pukul 24.15 WITA, Kami baru tiba kembali di hotel.

Bicara visi, tentunya tidak ada ubahnya seperti perusahaan. Saya punya keyakinan, dengan visi yang jelas ada suatu yang dituju. Team yang bersama Kita pun akan menyeragamkan langkah, serempak bergerak. Berupaya bersama guna mewujudkan cita-cita korporasi.

Kami sangat terinspirasi dengan motto ‘Sabalong Samalewa’. Semoga Kami dapat menjadi bagian dalam membangun peradaban. Membangun dunia yang serasi selaras dengan membangun akhirat Kami. Rasanya, tidak berlebihan,  Saya dan team akan bangga jika menjadi bagian dari salah satu pilarnya.

Anda mau bersama membangun visi dunia akhirat ?

Mari kita tata kembali tujuan dan arah hidup kita. Agar setiap langkah bernilai ibadah.

Layanan Terus ON by Ari Wijaya

Layanan Terus ON
by Ari Wijaya

Seorang gubernur di Negeri Seberang mendapatkan kepercayaan dari presidennya untuk menjadi tuan rumah pertemuan para tokoh negeri serumpun. Sang gubernur berpikir keras, untuk memuliakan tamunya. Menurut dia, salah satunya adalah kesan pertama harus menggoda. Maka ia memerintahkan stafnya untuk membuat welcome drink yang cepat saji, khas dan menyehatkan. Para staf membuat teko raksasa dengan ratusan kran. Kran itu untuk memudahkan dan mempercepat pengambilan.

Gubernur membagi tugas. Sebagai penyedia welcome drink, ia meminta rakyatnya yang di lereng gunung untuk menyumbangkan susu sapi segar satu liter tiap satu keluarga. Teknisnya, setiap selesai memerah susu bakda subuh, susu dimasak dan diantar ke alun-alun kota. Susu dituangkan di teko raksasa di alun-alun kota. Pusat penyambutan para tokoh negeri serumpun.

Seluruh rakyat lereng gunung itu antusias. Tak sedikit yang mempertanyakan kebijakan itu. Tapi, mereka mulai menyiapkan susu terbaik. Susu daerah itu terkenal segar, kental dan legit. Namun, si Pulan, salah satu penduduk lereng gunung, ada yang berpikiran lain.

“Jika aku menyumbang satu liter air, aku yakin nggak kentara. Nggak terasa. Toh, masih ada 12.303 liter susu. Kalau tercampur 1 liter air, pasti tak terasa”.

Hari perhelatan pun tiba. Benar sesuai perkiraan Sang Gubernur, tamu berdatangan bergelombang. Banyak sekali. Seluruh tamu, sembari menunggu opening ceremony, diberikan gelas dan dipersilakan menikmati welcome drink. Gubernur naik panggung dan menyambut tamunya dengan bangga :

“Saudara-saudaraku serumpun, silakan menikmati minuman hasil produksi unggulan kami. Susu sapi yang segar, kental, legit, dan insya Allah menyehatkan”.

Panitia mulai mendampingi dan menunjukkan teko raksasa. Tamu pun menghampiri kran dengan tertib. Segera setelah gelas terisi, mereka meminum welcome drink. Tidak lama setelah mereguk minuman itu. Mereka heran, terpaku sejenak. Minuman yang katanya susu tadi memang segar, tapi bening dan hambar. Masya Allah ! Ternyata mereka minum air! Bukan susu yang segar, kental dan legit. Suasana pun heboh dan acara berantakan. Meski air juga menyehatkan, tapi Sang gubernur pun tetap malu pada para tokoh dan tentunya Pak Presiden.

Apa gerangan yang terjadi ? Selidik punya selidik, ternyata seluruh penduduk lereng gunung berpikiran seperti si Pulan. Menyumbang air, bukan susu sapi segar. Toh seliter ini, tak kan terasa. Begitu, pikiran yang ada dalam benak mereka. Gubrak !

Sahabat, ijinkan saya membuat perumpaan kejadian di Negeri Seberang terjadi pada perusahaan kita. Saya ambil contoh fungsi procurement. Mohon dimaklumi, karena saya pernah mendapat amanah pada bagian pembelian.

Fungsi pengadaan adalah bagian team di sebuah organisasi. Sama dan setimbang perannya seperti fungsi lainnya. Tapi coba dibayangkan. Jika salah satu saja mencoba menurunkan layanannya, maka bisa berakibat buruk.

Ini misalnya :

“Ah, sekali-kali lah, negosiasinya nggak usah repot. Kali ini harga tak perlu dinego. Toh, nanti penghematan bisa diperoleh teman-teman buyer yang lain”, gumam salah satu buyer sebutlah namanya si Fulan.

“Target penghematan bisa ditutup oleh prestasi si Badu atau yang lain. Kali ini, santai dulu lah”

Apa yang terjadi jika si Badu punya pikiran yang sama dengan si Fulan. Parahnya, seluruh team saat itu mempunyai pikiran yang sama ? Bisa jadi budget jebol. Perusahaan harus membeli lebih mahal dari seharusnya. Untung bisa menipis. Kalau pikiran itu dilakukan juga oleh insan organisasi yang lain? Berpikir dan bertindak sama untuk menurunkan tingkat layanannya kepada orang lain atau bahkan kepada pelanggannya. Kepada client-nya ? Perusahaan bisa tidak kompetitif. Bangkrut dan akhirnya tutup!

Layanan tak boleh menurun. Harus dijaga terus. Satu saja yang menurunkan, bisa saja itu terjadi bersamaan. Karena kita tidak tahu, kapan saat itu terjadi. Bisa bersamaan seperti tadi. Jika sudah begitu, bisa seperti susunan kartu domino yang tumbang. Ia tidak roboh sendirian, tapi merembet dan merobohkan susunan di sampingnya. Efek domino. Bisa berakibat fatal, bukan ? Karena tidak hanya Kita yang roboh, tapi meluluhlantakkan semuanya.

Saya yakin pada fungsi yang lain juga harus tetap nyala. Semangat. Karena kita mata rantai yang saling bergandengan.

Layanan jangan pernah ‘mati’. Kalau mulai turun, mari coba dicari segera penjungkitnya. Jangan pernah berpikir dan berniat sekali pun untuk OFF. Layanan harus terus ON.

Anda mau kita kalah ? Kita luluh tantak ?
Saya yakin tidak ada yang ingin itu terjadi.

Mari berubah.
Mari berbenah.
Mari bahu membahu. Bekerja keras. Saling mendukung. Saling mendoa.

Orang-orang Terluka by Salim A. Fillah

ORANG-ORANG TERLUKA
@salimafillah

 

Namanya Mas Tumenggung Sumadipura, bupati Kasultanan Yogyakarta untuk wilayah Japan, Mojokerto sekarang.

Selama menjabat, kecakapannya memerintah membuat wilayahnya adalah yang termakmur di Mancanegara Timur. Ini yang membuat Bendara Pangeran Harya Dipanegara mempromosikan Sang Bupati pada ayahnya untuk menduduki jabatan Patih, menggantikan Raden Adipati Danureja III yang telah uzur.

Sultan Hamengkubuwana III yang selama memerintah memang selalu amat memerhatikan saran-saran putra sulungnya, merasa heran dengan pilihan sang pangeran. Menurutnya, Sumodipuro masih terlalu muda, berasal dari kalangan rakyat biasa, dan logat Jawa Wetan-annya yang dianggap kasar sering jadi cibiran para pejabat lain. Tapi Dipanegara meyakinkan ayahnya. Dan Sumadipura pun dilantik menjadi Pepatih Dalem Danureja IV pada 2 Desember 1813. Jabatan ini akan didudukinya hingga 34 tahun kemudian, 1847.

Dengan latar belakang yang lemah di hadapan para pejabat lain, pada awal bertugas, Danureja IV hanya dapat memegang kendali pemerintahan dengan dukungan penuh Dipanegara. Berkat pasang badannya sang Pangeran atas segala kebijakannya, Danureja IV melewati tahun-tahun pertama jabatannya yang sebenarnya penuh rongrongan dengan prestasi gemilang.

Tapi Danureja IV menyembunyikan sesuatu di hatinya. Dan itu adalah sebuah luka. Luka karena hidup dalam bayang-bayang.

Dia merasa bahwa seakan-akan seluruh dunia berkata padanya,

“Kamu bukan apa-apa seandainya bukan karena Pangeran Dipanegara.”

Dia merasa bahwa semua mata menatapnya dengan pandangan meremehkan. Ketika dia bicara, seakan para bawahannya saling lirik dengan bibir dimencongkan, pula semua mulut kasak-kusuk menggunjingnya di belakang.

Anehnya, segala budi baik Dipanegara padanya justru bagaikan taburan gula yang makin membusukkan luka di hatinya. Terobsesi untuk membuktikan bahwa dirinya bisa, dirinya mampu, & dirinya hebat tanpa Sang Pangeran membuat sang pejabat yang terjangkit sindrom ‘kere munggah bale’ ini kian gelap mata. Ketika Hamengkubuwana III mangkat dan digantikan Raden Mas Ibnu Jarot yang masih kanak-kanak sebagai Hamengkubuwana IV pada 1816, sang Patih mulai menunjukkan kedurjanaannya.

Dia mulai mengganti pejabat-pejabat bawahannya dengan para penjilatnya dan merumuskan berbagai kebijakan yang merugikan rakyat. Ini semua bersebab di luar Pangeran Dipanegara yang mulai lebih banyak berdiam di Tegalreja, sosok-sosok kuat lain yang dia dapati mampu menjadi patron pelindungnya hanyalah Pemerintah Kolonial Belanda. Orang-orang asing yang amat berkepentingan terhadap Keraton ini menggunakannya sebagai alat bagi segala keuntungan mereka.

Maka naskah Jawa zaman itu mulai menggambarkannya sebagai seorang rusak. Dia disebut “setan kulambi manungsa”, syaithan berbaju manusia, yang “angecu sarwi lenggah”, merampok rakyat sembari duduk manis. Sebaliknya, Jenderal Herbert Merkus de Kock, musuh Dipanegara dalam perang Jawa mencatat sang Patih dalam memoarnya sebagai, “Seorang Jawa yang baik, berbusana rapi, suka mengendarai kuda dengan gagah, punya gundik-gundik cantik, dan tak bisa lepas dari pipa madat.”

Untuk memuaskan hatinya yang luka, Danureja IV rela menjual jiwanya untuk menjadi antek asing.

Antiklimaks hubungannya dengan Sang Pangeran terjadilah. Dalam sebuah penghadapan di awal masa bertakhtanya Sultan bayi Hamengkubuwana V, 1822, menanggapi berbagai laporan atas kesewenang-wenangan anak buah Danureja IV, Dipanegara selaku Wali Sultan menginterogasinya di paseban, dan sang Patih terus mengelak dengan berbagai dalih. Tak mampu menahan emosi, Pangeran yang amat disegani itu menarik salah satu selop alas kakinya dan dengan langkah murka mendekati Danureja IV yang duduk bersembah dan memukulkan selop itu ke kepala dan wajah sang patih.

Penghinaan yang direkam oleh Babad Kedung Kebo itu takkan pernah dilupakan oleh Danureja IV sepanjang hidupnya.

Ketika dalam suatu pesta bersama Belanda, disajikan anggur dan beraneka minuman keras, Danureja IV hendak membalas penghinaan dengan sebuah gelas yang dia tahu Dipanegara takkan sudi meminum isinya.

“Santri udik itu malam ini akan dipermalukan di tengah pesta orang beradab”, batinnya.

Tapi Dipanegara melakukan hal yang kian menyalakan dendam Danureja IV. Begitu gelas diterima, sang Patih kaget karena wajahnya basah dikapyuk, tersiram wine yang dihempaskan Sang Pangeran.

Semenjak itu, seluruh hidup Danureja IV akan didedikasikan untuk menghancurkan kedudukan Pangeran Dipanegara di Keraton Yogyakarta. Dan untuk itu, dia memperoleh mitra yang sama dungunya; Residen A.H. Smissaert. Orang yang telah menaikkannya ke jabatan administratif tertinggi di Keraton itu, dimusuhinya dengan sepenuh kedengkian.

Di dunia ini banyak kisah tentang orang terluka, bahkan sejak zaman Rasulullah ﷺ.

Aus dan Khazraj yang sepakat berdamai telah hendak mengangkatnya menjadi Raja Yatsrib. Mahkota dan singgasana telah disiapkan, harinyapun ditentukan. Tetapi Muhammad ﷺ datang dari Makkah membuat orang-orang berpandangan bahwa, “Jika kita memiliki Nabi utusan Allah, apa perlunya ada Raja?”

‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul yang batal jadi raja itu terluka. Luka yang bukannya dia sembuhkan dengan mengakui keutamaan Rasulullah ﷺ yang dengan itu akan membuatnya menjadi tokoh Anshar paling terkemuka; tapi justru dijaganya luka itu agar kian bengkak, bernanah, dan busuk.

“Mereka menyangka tiap teriakan keras ditujukan pada mereka.” (QS Al Munafiqun: 4)

Karena luka itu dijaganya tetap sebagai luka, maka tak beda apakah dipukul palu ataupun dijabat dengan sarung tangan beludru dia tetap merasa kesakitan. Dia menanggapi uluran tangan Rasulullah ﷺ yang hendak membimbingnya ke jalan hidayah dan kemuliaan dengan raungan kepedihan. Dia menyambut uluran lembut Sang Nabi ﷺ dengan jerit kesakitan. Dia selalu melebih-lebihkan dan  bertingkah dengan rasa terancam yang begitu tinggi.

Di hadapan Rasulullah ﷺ dia menunjukkan wajah paling manis, kata-kata paling lembut, dan dukungan bertabur puja-puji paling meyakinkan. Tapi di belakang, digalangnya kekuatan penentang paling keras, dikontaknya Yahudi maupun Quraiys, didirikannya Masjid Dhirar untuk pecah belah, ditiupkannya berbagai fitnah keji termasuk pada Ibunda ‘Aisyah, dan dibangkit-bangkitkannya permusuhan jahiliyah.

Di dunia ini banyak kisah tentang orang terluka, pula di negeri kita. Mereka yang seperti ‘Abdullah ibn Ubay dan Danureja IV, demi luka hatinya rela menjual diri untuk kepentingan musuh bangsa, musuh agama.

Relay Run by Ari Wijaya

Relay Run by Ari Wijaya

 

Kenalkah anda dengan Purnomo? Christian Nenepath? Mardi Lestari? Suryo Agung? Atau nama-nama itu masih asing di telinga ?

Kalau masih sulit mengambil catatan ingatan, coba ditanyakan ke ‘Mbah Gogel’.

Apakah sekarang sudah punya informasi ? Ya, benar. Mereka adalah sprinter andalan Indonesia pada masanya. Mereka atlit pelari jarak pendek. Juara 100 m, bahkan ada yang juga juara 200m. Setidaknya setingkat Asia Tenggara. Bahkan Purnomo pernah menorehkan sejarah sebagai pelari Asia pertama yang masuk semifinal Olimpiade. Itu terjadi di  Los Angeles, AS pada tahun 1984. Level dunia, kita mengenal : Carl Lewis, Ben Johnson, Donovan Balley, Ato Boldon, Tyson Gay, Asafa Powel, Usain Bolt.

Pertanyaan selanjutnya, masih terkait urusan lomba lari. Pernahkan anda melihat perlombaan lari estafet ? Relay run ? Jika anda penggemar atletik, relay run adalah salah satu cabang lari yang sangat menarik ditonton dan diamati. Adu strategi. Adu kendali ego. Tim berisi 4 pelari cepat ini. Biasanya 4 x 100 m atau 4 x 400 m. Kuartet pelari yang dapat mengontrol ego dan kompak adalah salah satu jaminan kemenangan. Seorang pelari hebat saat juara sprinter perorangan, belum tentu bisa membawa teamnya menjadi juara relay run. Bahkan misalnya mereka merebut juara 1 hingga 3 saat lari jarak pendek perorangan sekali pun.

Lari beranting adalah lomba lari yang terdiri dari 4 sprinter. Mereka harus menyerahkan tongkat pada daerah tertentu. Serah terima tidak dilakukan dalam wesel peralihan (area serah terima), maka team bisa diberikan diskualifikasi. Termasuk jika tongkat nya terjatuh. Pelari penyambung biasanya saat peralihan tidak melihat ke belakang. Terus bagaimana peralihan berlangsung lancar ? Pelari awal memberi aba-aba tertentu. Plus punya kecepatan yang hampir berimbang. Wow, memang challenging, kan ?

“Yak !” begitu biasanya mereka menyepakati saat perpindahan.

Kode bisa beragam, saat menempelkan tongkat ke telapak tangan penerima. Dengan kata itu, pelari penyambung akan segera menggenggam tongkat dan terus menambah kecepatan. Waktu perpindahan adalah krusial. Laju lari pelari pertama dan selanjutnya, harus selaras. Sama lajunya. Tidak boleh ada jeda. Tiada waktu tunggu.

Tidak jarang kita lihat ada kelompok yang tercecer saat awal lomba ternyata bisa memperbaiki posisi. Bahkan bisa menang. Mereka melakukan peralihan pada tempat yang tepat. Kecepatan lari terjaga. Tidak ada saat melambat saat tongkat dialihkan. Pergantian tongkat estafet mereka, mulus.

Sebaliknya, ada tim yang dihuni pelari-pelari hebat. Di atas kertas mereka favorit. Bagiamana tidak, 2 dari 4 pelarinya juara 1 dan 2 saat lomba perorangan. Tapi, mereka malah tercecer. Bahkan saat peralihan ada perlambatan. Transfer tidak mulus. Pelari tidak menemukan momen yang pas. Bahkan ada yang terpaksa menghentikan lomba. Penerima tongkat estafet berlari tidak pada saat yang tepat sesuai skenario. Tongkat pun terjatuh. Alhasil, satu tim gagal finish. Tereliminasi.

Salah satu buktinya adalah Olimpiade 2012 di London. Waktu lomba perorangan, sprinter putri Jamaika Shelly-Ann Fraser menjadi kampiun. Juara 3 juga sprinter dari negera yang sama, Veronica Campbell-Brown. Carmilita Jetter pelari AS hanya menyabet perak. Namun, saat lomba estafet 4 x 100m, Carmilitta-Jetter bersama Tianna Madison, Allyson Felix dan Bianca Knight, membawa Tim AS berlari cepat. Saat final, terlihat mereka kompak. Peralihan tongkat mulus. Tim Jamaika terlihat tersendat saat melakukan perpindahan tongkat pada pelari akhir. Sorak sorai penonton, seakan menambah kecepatan Tim AS. Mereka juara. Mereka menumbangkan kuartet beranting Jamaika. Tim Favorit pula. Plus menumbangkan rekor dunia yang telah bertahan selama 27 tahun. Fantastis !

Keunikan lomba lari estafet ini bisa juga kita lihat juga pada beberapa perubahan pimpinan entitas bisnis. Bagaimana penyerahan tampuk pimpinan GE dari  Jack Welch kepada Jeff Immelt pada 2001. Jack tidak ingin performa GE labil. Ia menyiapkan penggantinya dengan sangat hati-hati. Prosesnya direncanakan lumayan lama. Ia punya strategi khusus. Ada 3 kandidat kuat pengganti Jack Welch. Saat memilih Jeff Immelt, dua orang yang tidak terpilih pun pada akhirnya menjadi CEO ternama. Salah satunya menjadi CEO Boeing. Betapa 3 kandidat yang disiapkan Jack, sama hebatnya, bukan ? Bagaimana pendapat anda tentang kinerja GE saat ini ? Menurut hemat saya, tiada goyangan berarti. GE masih berjaya. Malah ia baru saja mengambil alih Alstom untuk memperkuat bisnisnya di bidang kelistrikan.

Cerita lainnya, Lee Kun-hee mendapat tongkat estafet dari ayahnya Lee Byung-chul, founder Samsung. Siapa yang tidak kenal Samsung ? Perusahaan Korea yang mendunia. Beberapa produknya menguasai pasar. Lee Kun-hee saat ini menyiapkan Lee Jae-yong sebagai pelari selanjutnya. Jay-yong tidak lain adalah salah satu anak kandungnya. Alias cucu dari founder Samsung.

Proses peralihan kepemimpinan , tak jarang ada yang melalui jalur keturunan. Banyak pula yang memilih jalur professional. Benang merahnya adalah menyiapkan tongkat tampuk kepemimpinan kepada leader baru. Proses pembentukan dan penyiapan kader yang mempunyai kesamaan visi. Selaras dengan kecepatan sebelumnya. Sejalan dengan visi misi saat ini. Saat peralihan adalah masa krusial. Tapi, ketika tongkat sudah ditangan, maka yang lebih penting ialah bagaimana berlari lebih cepat. Berusaha dan berupaya semaksimal mungkin agar bisa mendahului pesaing. Jadi juara !.

Berkaca pada perjuangan Tim AS, saya yakin, ketika lomba itu berlangsung, penonton yang mendukungnya, akan berteriak, bersemangat ! Adrenalinnya naik ! Turut tegang. Tidak sedikit yang ikut berdiri memberi semangat. Kalau nonton siaran langsung via televisi pun, kita seakan berada di dekatnya. Seakan kita juga sedang berlari. Turut mengejar dan berlomba menampaki garis finish.

Dalam organisasi, bisa jadi kita tidak turut menentukan strategi relay run. Kita nggak ngerti. Para pelari itu punya cara memenangkan perlombaan. Kekompakan. Kesamaan visi. Dan tentunya, cara dan semangat memenangkan kompetisi. Tapi, penonton tetap bisa mengambil peran. Menjadi bagian dari strategi pemenangan itu. Dukungan tak kenal lelah. Serasa kecil memang. Tapi bukan tidak mungkin, justru upaya itu bisa menambah energi tim untuk menjadi kampiun.

Saya yakin, anda pun ingin menjadi bagian dari tim untuk meraih kemenangan. Karena ketika jadi juara, cerita sukses itu akan terasa manis untuk ditularkan. Masa perjuangan pun terkenang Indah. Ada rasa bangga terbersit di dada kita.

Mau merasakan aura kemenangan itu ? Mari berkontribusi. Mari mengambil peran. Sekecil apa pun itu.