Kolaborasi by Ari Wijaya

Ada tim yang dihuni pemain biasa saja, tapi JUARA !

Pernahkah anda mengalaminya atau disuguhi peristiwa itu ?

Ya.

Acapkali itu terjadi, bukan ?

Kalau ditelisik lebih jauh, banyak faktor yang menjadikan tim yang katanya biasa saja itu jadi kampiun. Kemampuan team membernya rata-rata. Tak pernah dilirik orang. Tapi mereka menjelma menjadi team hebat. To be a Champion !

Apa kuncinya ?

Salah satunya adalah kerja sama mereka. Kolaborasi. Anggota tim memanfaatkan kelebihan temannya. Ia fokus pada kelebihan masing-masing. Tapi tak melupakan peran member yang lain. Mereka mudah melakukan rotasi. Karena tidak ada yang merasa paling jago ! Tak ada yang merasa paling istimewa. Setara !

Mereka bergerak satu tujuan. Punya visi yang sepaham. Memiliki misi yang tertanam sama. Bergerak untuk memenangkan kompetisi. Unggul dalampersaingan yang panjang nan melelahkan.

Bayangkan jika anggota tim itu adalah para pendekar pilih tanding ! Pemain bintang. Orang yang punya kelebihan di atas rata-rata.

Wow !

Sekumpulan orang itu jika tetap punya kolaborasi yang kuat, bukan tidak mungkin menjadi tim yang menorehkan rekor-rekor baru.

Clean sheet terpanjang ! Merajai semua jenjang kompetisi sepak bola.

Konstruktor dengan torehan juara dunia terlama. Rekor lari estafet yang tak terpecahkan selama puluhan tahun.

Atau catatan-catatan moncer yang lain.

Anda tentunya mau punya tim yang seperti itu, bukan ?

Memilih anggota tim ? Boleh saja. Tidak salah. Tapi ketika pilihan itu tidak ada. Rekrutmen baru bukan opsi. Opsi utama adalah as it is alias resources yang ada, maka langkah menelisik lebih rinci kekuatan pasukan adalah hal yang krusial.

Tidak perlu berkecil hati. Yakinkan diri anda sahabat, team member yang ada saat ini pasti punya kelebihan. Anda berdayakan kekuatan itu. Bisa jadi, mereka tampak biasa-biasa saja. Yakinlah bahwa mereka punya competitive advantages yang unik. Anda gali lagi. Anda cari seperti melakukan kajian tuntas ! Karena janji Allah SWT ada dan crystal clear, kita saja yang belum menemukannya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

(QS. Al Israa’ : 70)

Selanjutnya sahabat, silakan anda ramu sumber daya utamanya people dengan baik. Kolaborasi adalah bumbu utamanya.

Ibarat rantai sepeda jika bertaut erat, kayuhan ringan pun bisa membawa kita pergi jauh.

Selamat meracik tim, sahabat ! Proses yang insya Allah mengasyikkan dan menambah kekuatan kita juga.

Semoga tidak dalam waktu lama lagi, anda menjadi leader yang pilih tanding.

Sinergi

If you want to walk fast, walk alone. But if you want to walk far, walk together. Walk with other.

Kadang lelah tak terasa, ketika berjalan bersama.

Saling menyemangati. Saling support.

Sinergi seperti itu, sangat dibutuhkan. Saat kapan pun. Di kala susah atau senang. Ketika prestasi meredup atau moncer.

Apalagi saat krisis melanda. Saat lelah mulai terasa.

Mau Beramal Sholeh ?

AWW
Salam keselamatan dan sejahtera selalu..

Semangat pagi !

Sahabat, sederek sedoyo,

Perkenankan kami, paguyuban Genaro Ngalam, orang yg pernah bersekolah di Malang,  membuka peluang beramal sholeh pada bulan penuh maghfiroh ini.

Insya Allah, kami akan memudikkan sekira 1000 (uwes) orang ke Malang. NGALUP BARENG, Sabtu 2 Juli 2016, 07.00 WIB.

Upaya ini meringankan biaya mudik bagi saudara kita yang beringinan kuat silaturahim ke sanak saudaranya di Malang.

Dengan ijin Allah, saya yakin dengan gotong royong kita upaya kami jadi ringan.

Donasi sahabat, sederek sedoyo, saya yakin dapat berkontribusi terhadap inisiasi ini. Bisa sesuai nilai voucher. Jika ingin lebih bisa dengan kelipatannya.

Donasi dapat ditransfer ke Rekening atas nama Bendahara Panitia.

Nana Andeina Kemala.
BCA : 474 000 9856.
Bank Mandiri : 128 000 007 2931

Tanpa mengurangi keikhlasan sahabat, sederek sedoyo, konfirmasi untuk pencatatan dan akuntabilitas, melalui inbox saya ini :

Ari WijayaDj

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari Kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.”

[HR. Muslim no. 2699]
Mugi2 Gusti Allah membalas upaya sahabat, sederek sedoyo, dengan kebaikan.

Rutam nuwus.

Salam
WWW
Ari ‘SINYO’ Wijaya (Ari WijayaDj)
Sing didapuk dadi Ketua Panitia.

 

 

Maklum by Ari Wijaya

Maklum

by Ari Wijaya

 

Kata maklum jika ditilik dari arti katanya sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah ‘dapat dipahami (dimengerti)’.

Saya dan bisa jadi sahabat semua, juga sering menemui atau bahkan menggunakan kata ini dalam keseharian.

Ini biasa kita pakai ketika menemui sesuatu yang tidak sesuai harapan. Hal yang tidak sesuai kaidah. Kita menerima dengan lapang dada, walau dengan catatan. Perbaikan diharapkan dengan berjalannya waktu. Learning curve.

“Hasil rajutannya, masih kurang halus. Maklum baru belajar sepekan”.

Kata maklum itu, tentunya kita sepakat, sebagai hasil awal sudah bisa diterima. Sebagai user atau pemberi kerja, sudah sewajarnya memberikan masukan. Harapannya hasil berikutnya akan lebih baik. Itulah menerima dengan catatan yang saya maksud. Ada pemberitahuan, ada arahan, bahkan training singkat sebagai upaya perbaikan.

Namun, menurut hemat saya, penggunaan kata maklum yang tidak pada tempatnya, bisa berakibat buruk. Parahnya, berdampak jangka panjang.

Kenapa ?

Misalnya kita yang berkendara di jalan tol. Kondisi traffic padat merayap. Tiba-tiba, ada satu bahkan lebih, kendaraan merangsek melaju menggunakan ‘bahu jalan’. Kata maklum terlontar :

“Maklum, dia sedang buru-buru, kali!”

Atau kondisi lain, menemukan mobil memasuki area yang dilarang.

“Ooo dia sopir baru, Pak. Belum tahu aturan kalau lewat situ dilarang. Maklumlah, Pak”.

Bisa juga kejadian lainnya, seperti :

“Ia tamu, Pak. Ia tidak familiar dengan jalur khusus pejalan kaki. Mohon dimaklumi”.

“Maklum, Pak. Jalan memutar jauh dan macet. Makanya mereka melawan arus”.

Pernahkah dibayangkan ? Jika dimaklumi terus, bisa berdampak parah. Maklum tanpa kita barengi dengan pemberitahuan. Maklum plus peringatan. Atau apa pun namanya, agar pelaku menyadarinya bahwa itu salah. Kita perlu konfirmasi, apakah ia tidak tahu ? Atau apa ? Karena memang perlu perbaikan. Karena tanpa itu, ada potensi pengulangan. Atau merasa benar.

Tidak jarang, ada orang yang segan memberitahu, melakukan hal perbaikan.

“Nggak enak, Pak. Dia kan seharusnya tahu. Ngapain cari ribut. Dimaklumi sajalah !”

Bahkan malah lebih parah :

“Emang siapa, Lu ! Berani-beraninya atur Gua !

“Sok tertib ! Udah biasa mah, begini ini tiap hari ! Dari dulu juga tidak apa-apa !”

Ini yang berbalik, back fire. Justru orang yang melakukan hal yang benar mendapatkan perlawanan. Tapi, melakukan hal yang dilarang, malah diberi maklum. Sedangkan orang yang justru berusaha melakukan perbaikan, tidak mendapatkan kata maklum itu.

“Maklum, ia memang tahu peraturannya. Ikuti saja”

He he.. komentar seperti itu malah jarang ditemui.  Maklum yang seperti ini jadi barang langka.

Itu yang saya sebut, bahaya. Berdampak luas. Bisa membudaya. Ketika maklum yang tidak pada tempatnya dibiarkan, bukan tidak mungkin kejadian yang salah menjadi budaya. Meski ia dan hasil tindakannya merugikan orang lain, kalau menerus, bisa dianggap benar. Bahkan banyak pengikutnya pula. Itu semua karena maklum. Hanya maklum, tiada kata peringatan. Jangan samapi terjadi, bukan ?

Padahal kita ditekankan berbuat adil. Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut KBBI, adil berarti berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang.

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kamu kerabat, dan Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

(QS An Nahl : 90)

Maukah kita berada pada lingkungan yang terlanjur salah jadi budaya ?

Relakah kita berada pada wilayah yang semrawut ? Area yang tidak safe ?

Tentunya tidak mau, bukan ? Tidak rela, bukan ?

Mari kita tempatkan maklum pada tempatnya. Agar kita termasuk golongan orang adil.

Ayo jangan segan memberitahu atau memberi peringatan, jika ada orang yang berbuat tidak sesuai aturan. Salah ambil jalur alias melawan arus. Tidak mengikuti kaidah safety. Ia belum memberi hasil sesuai harapan. Mari kita ingatkan. Saling mengingatkan. Saling peduli.

Ayo sahabat, kita lakukan. Kita mulai ! Sekecil apa pun. Sesederhana apa pun. Tegur ia, peringatkan dia ! Setidaknya kita berkontribusi menjadikan lingkungan, perusahaan bahkan negeri kita tertib, aman dan selamat.

Guyub by Salim A. Fillah

GUYUB
@salimafillah

“Dan saling tolong menolonglah di atas kebajikan dan taqwa..” (QS Al Maidah: 2)

Bulan lalu di sela menjadi pembicara dalam Kuala Lumpur International Bookfair, saya berbincang dengan wartawan stasiun televisi antarbangsa yang berpusat di Doha, Qatar. Satu kata untuk menggambarkan Indonesia ujarnya adalah, “Guyub”.

Hidup rukun bahu membahu dalam perjuangan adalah kekuatan bangsa kita.

Dia mengisahkan dengan sedih bagaimana di sebuah negeri, hanya karena berbedanya partai yang memerintah di tingkat pusat dengan negara bagiannya, penanganan banjir berlarut dan nestapa korban berlanjut.

“Di bulan ketiga sejak kejadian”, tuturnya, “Saya masih menemukan seorang nenek bekerja membersihkan lumpur setinggi lutut dari rumahnya. Sendirian. Ya, sendirian!”

“Saya katakan saat itu”, lanjutnya, “Ini haram terjadi di Indonesia. Di sana orang akan menyingsingkan lengan bersama sejak hari pertama untuk meringankan kesusahan, dan kerja dimulai dari anggota masyarakat yang paling lemah.”

Ketika berjumpa dengan orang berwenang di wilayah banjir itu saya sampaikan :

“Mengapa hanya karena perbedaan politik urusan kemanusiaan dikalahkan? Anda lihat Aceh kan? Tigapuluh tahun tentara dan orang GAM pegang senjata dan baku tembak nyaris tiap hari. Tapi begitu wilayah itu disapu tsunami, saya melihat sendiri, ada orang mengangkut mayat dengan usungan, yang depan personel tentara dan yang di belakang milisi GAM!”

“Anda sebagai orang Indonesia harus bangga”, sambung wartawan itu dengan mimik serius kepada saya,

“Karena laporan di negara-negara donor dan lembaga bantuan tentang bencana di Indonesia, ambillah contoh Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, semua mengatakan, ‘Recovery berlangsung berlipat lebih cepat dari perkiraan! Bahkan penanganan bencana topan di negara adidaya itupun kalah!”

Guyub adalah kita.

Lalu kami bertukar cerita tentang kelucuan kunjungan para donatur dari Timur Tengah di Yogyakarta sebakda gempa, 27 Mei 2006.

Saya pernah mengantar seorang Syaikh perwakilan muhsinin dari Kuwait untuk menyampaikan santunan ke sebuah wilayah di Bantul. Dalam bayangan mereka, bencana ini begitu mengerikan, pastilah yang akan mereka jumpai adalah orang-orang yang wajahnya memelas penuh penderitaan berdiri berlinang airmata di dekat rumahnya yang luluh lantak.

Rumah-rumah memang luluh lantak.

Tapi mereka bingung ketika sebuah tenda pesta lengkap dengan panggungnya dihias dekorasi cantik dan tulisan Arab “Ahlan wa Sahlan” menanti rombongan. Hidangan makan prasmanan tersedia. Kesenian Hadroh telah siap pentas untuk menyemarakkan acara. Dan hadirin, sebagian dengan batik dan sarung rapi, sebagian lagi pakaiannya masih berdebu sisa bekerja bakti bersama membersihkan puing dan membangun hunian tenda; semua wajahnya cerah ceria.

Tak ada duka. Senyum anak-anak terkembang, tawa mereka lepas saat bermain dan berkejaran.

“Ya Salim”, kata sang Syaikh, “Wein al bala’? Ini walimah namanya. Bukan musibah. Bagaimana saya bisa membuat laporan untuk atasan saya kalau suasana fotonya macam begini?”

Saya menahan tawa dan agak kesulitan menjelaskan. “Ya Sidi”, ujar saya, “Selama bukan bencana iman, bukankah senyum tetap dapat menjadi kawan bagi musibah?”

Kawan wartawan itu mengisahkan hal serupa. Donatur dari Qatar yang disertainya membayangkan bahwa penyerahan kunci hunian sementara kepada para korban gempa akan dihiasi tangis haru yang agak pilu. Tapi ternyata, di tiap pintu, dia disuguh senyum, juga teh melati yang panas, wangi, dan manis ditambah lemper, bakwan, dan jadah dengan tempe bacem buatan sendiri.

Masyarakat guyub, begitu cepat mereka bangkit.

Guyub adalah perintah Allah dan RasulNya, ‘amal kebersamaan yang menjadi ukuran iman kita di keseharian. Ia adalah cinta, kepedulian, dan gotong royong yang mencirikan tingginya keadaban.

Guyub adalah pujian Rasulullah kepada kaum Asy’ari di Yaman yang jika musim paceklik tiba, maka mereka mengumpulkan persediaan makanan yang ada dalam simpanan masing-masing menjadi satu. Sebakdanya, konsumsi masing-masing diambil seperlunya dan sama rata, tak lagi diperhatikan berapa yang disumbangkannya, kecuali dalam cinta.

Saya teringat Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang dibangun Sultan Hamengkubuwana I. Di plafon serambinya yang kaya pahatan simbol penuh makna, ada  ukiran sulur-sulur tumbuhan yang saling bertaut tiada putus. Dalam Bahasa Jawa ia disebut lung-lungan, yang jika dimekarkan menjadi “tulung-tulungan”, dan artinya adalah saling membantu dalam ketaatan.

“Wa ta’awanuu ‘alal birri wat taqwaa..”

Ah, kalau ada yang dapat kita tawarkan dari Indonesia untuk kepeloporan kebangkitan ummat Islam di seluruh dunia, barangkali ia adalah “guyub”. Dan alih-alih menunggu musibah, menajamkan kembali rasa guyub yang kian mahal di masyarakat adalah tugas peradaban kita hari ini.

Green Leaders, Apa Kabar ?

Guratan pena ini saya torehkan sekira setahun lalu. Saya bersemangat mengikuti program ini karena manfaat dan efek domino yang begitu dahsyat.

Apalagi ketika berbicara tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adrenalin ini seakan bertambah dan naik kencang.

Kegiatan ini sesuai kabar terakhir, Juni 2016, berhasil mengelola 10 Ha lahan. Belum ditambah lagi. Pengelolaan dan manajemennya, masih dibenahi oleh team pemrakarsa.

Tapi itu semua tidak mengurangi keinginan saya untuk turut terus berjuang dalam barisan pemberdayaan masyarakat. Tetap turut berperan. Sekecil apa pun itu.

 

Semangat Berbuat Kebajikan

by Ari Wijaya

 

Saya sangat senang mengemudikan mobil atau motor sendiri. Jika sendirian dalam mobil, saya menikmati perjalanan sembari mendengarkan siaran radio atau mendengarkan musik. Jika ada teman dalam perjalanan, maka diskusi atau bercengkrama. Itu semua salah satu tombo kantuk (obat kantuk).

Kelemahan nyetir sendiri adalah ketika ada acara ternyata tempat parkir tidak memadai, nyarinya bisa muter-muter setengah jam. Tidak jarang harus parkir menjauh. Apalagi ketika waktu dimulainya acara sudah mepet. Duh, bisa grusa-grusu, tidak sabar, menggerutu dan ada potensi senggolan dengan mobil lain. Rententannya bisa panjang dan negatif. Sehingga biasanya diperlukan spare waktu yang lebih panjang, menyiasati agar tidak terlambat.

Kemarin saat libur nasional, saya ada 2 agenda yang sama penting. Dimulai pada waktu yang sama, namun dua acara tersebut berakhir berbeda. Sehingga saya harus memberikan skala prioritas dan tentunya perhitungan waktu yang tepat agar dua acara tetap dapat diikuti. Rencananya : pagi hari saya menghadiri wisuda anak saya yang kelas 3 SMA di BSD, Serpong. Diperkirakan siang usai sebelum dhzuhur, dan langsung menuju acara ‘green leaders’ di kawasan Tanjung Barat.

Perhitungan di atas kertas, saya masih bisa mendapatkan sisa acara yang di Tanjung Barat. Lumayan dapat 3 jam, karena dijadwalkan usai pukul 3 sore. Saya melakukan scouting pada malam sebelum berangkat. Jalan yang akan dilalui didominasi jalanan sempit, lokasi acara juga parkirnya terbatas. Sehingga diputuskan menggunakan jasa driver. Kebetulan ada tetangga yang mumpuni dan biasa menerima jasa driver lepas seperti itu. Hal ini agar di dalam mobil saya masih bisa berkomunikasi, berbenah dalam mobil dan juga bisa menghilangkan rasa terburu waktu, mengurangi dag dig dug yang nggak ketulungan.

Alhamdulillaah acara lancar, walau acara pertama sedikit molor sekira sejam. Saya pun meminta langsung diantarkan ke LPMP Tanjung Barat. Tapi keluarga tetap saya bawa turut serta, plus menunda makan siang. Karena kalau pulang terlebih dulu, apalagi makan siang, wow bisa tidak terkejar.

Tiba di Tanjung Barat sudah sedikit melewati dhzuhur. Di luar dugaan, pas masuk ada keramaian, ternyata bukan acara yang dituju. Acara lain ! Nah lho. Area gedung pun, kami kelilingi hingga dua kali, sembari menjalin komunikasi dengan PIC acara. Pas ketemu, ternyata acara ada di gedung lain walau masih sekomplek.

Penjelasan materi pun telah usai. Acara ternyata dipadatkan oleh EO-nya. Saya mengendap masuk sembari menyapu pandangan mencari sosok yang saya kenal, karena sebagian besar peserta sedang asyik makan siang. Mereka menunduk seperti tekun mengerjakan tugas berat, jadi wajahnya tak nampak. Kebetulan pemrakarsa program baru usai melahap santapan siangnya. Kesempatan sempit itu pun saya manfaatkan untuk menggali informasi tentang apa itu ‘Green Leaders’. Program pemberdayaan yang digagas Pak Jamil ini sangat menarik. Sekira setengah jam mendapatkan penjelasan dan saling tukar cerita, saya pun memutuskan melengkapi formulir dan bergabung dengan program One on One Family Empowerment.

Saya pun setelah beres, berpamitan, dan segera menuju masjid. Anak dan istri sedang menunggu di sana. Mereka ternyata sangat ingin tahu seperti apa program itu. Kepo banget ! Kenapa saya begitu bersemangat mengejar dan mengikutinya.

“Setelah sholat dan pas makan Kupat Tahu Magelang di seberang gedung ini, Bapak akan terangkan” begitu tukas saya, sembari menunjuk salah satu tempat makan favorit saya.

Gini lho ..

Program yang saya hadiri walau terlambat tadi dinamakan :

‘Green Leaders : One on One Family Empowerment’

Pada dasarnya adalah program mengangkat derajat satu keluarga oleh keluarga lain agar putus dari rantai kemiskinan. Tidak hanya itu, keluarga tersebut juga berkarakter positif, bermental pemimpin dan pada akhirnya bersedia membangun desanya sendiri. Pendampingan keluarga tadi, dilakukan selama 5 tahun. Kenapa 5 tahun ? Itu minimal lho, karena studi yang telah ada mengatakan bahwa perlu waktu setidaknya 4,8 tahun untuk membentuk karakter dan mengentaskan kemiskinan.

Bagaimana langkah pengentasannya ? Dipilih kail berupa pohon yang berkayu dan bernilai ekonomis dengan masa panen 5 tahun. Guna menunggu masa panen, keluarga yang diberdayakan mendapatkan pelatihan, coaching, mentoring, pendampingan intensif dan kegiatan sosial ekonomi yang menggerakkannya. Kegiatan sosial tersebut jelas akan menghidupkan nilai-nilai jenius lokal yang selama ini seperti akan punah. Apa itu ? Seperti gotong royong, lumbung desa, jumputan, dll. Kegiatan ini akan difokuskan untuk meningkatkan penghasilan harian, pekanan atau bulanan bagi keluarga yang mengikuti program ini.

Apa manfaat bagi keluarga yang memberdayakan atau family partner ? Ikut serta menyelamatkan dunia. Pohon identik dengan fotosintesa, menyerap CO2 menghasilkan oksigen. Berkontribusi menyelamatkan negeri. Bagaimana pun, negeri yang kita cintai ini butuh energi positif kita. Berbuat langsung, singsingkan lengan baju, action, bukan sekedar sebagai penonton. Setidaknya, upaya ini akan mengurangi urbanisasi. Penduduk membangun desanya, menjadi berdaya dan berdikari. Di samping itu, lokasi pemberdayaan bisa menjadi wisata alam bagi keluarga. Tidak lupa juga, punya hak penjualan, masih ada sisi bisnisnya lho. Tapi yang paling dahsyat adalah kegiatan ini menjadi amal jariyah, tabungan yang akan dibuka di padang maghsyar kelak.

“Gerakkan masyarakatnya, lestarikan alamnya, bangun mentalnya, dan perbaiki ekonominya”

Begitu bunyi taglinenya Green Leaders.

Semoga program ini terus bertambah luas lahannya.