Beraksilah !

 

Jari jemari saya mengetik nama Bung Hatta. Nampaknya, Allah SWT memberikan saya waktu untuk mengenang beliau. Menapaktilasi sejarah panjang sepak terjang beliau. Meski saya tidak pernah mengalami langsung interaksi. Tapi rasa itu membawa saya seakan berada di dalamnya. Saat saya membaca beberapa artikel tentang beliau.

Apalagi ditemani lagu ciptaan Bung Iwan Fals. Lagu dan lirik yang didedikasikan untuk mendiang Mohammad Hatta.

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

Saya mencoba memahami pesan-pesan beliau. Pesan yang tentunya mengena dan tepat di mana pun kita berada. Apa pun peran kita. Salah satu quote Bung Hatta adalah :

“Apa yang DILAKUKAN oleh orang SETELAH mendengar suatu KHOTBAH, jauh LEBIH PENTING dari apa yang DIKATAKANNYA tentang khotbah itu”

(Mohammad Hatta | 12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980)

Bapak bangsa kita itu, mengajarkan tentang aksi ! Berperan serta. Singsingkan lengan baju. Kerja nyata ! Tidak sekedar berteori. Saur manuk (baca : debat kusir) tanpa ada simpulan.

Diskusi boleh ? Boleh saja. Tapi yang lebih penting adalah mewujudkan hasil diskusi. Apalagi ketika berbicara mengenai kemaslahatan ummat. Termasuk di dalamnya berhubungan dengan pelanggan.

Siapa yang tidak kenal konsep-konsep beliau ? Tapi siapa juga yang tidak mengenal aksi-aksi beliau ? Sangat seimbang, bukan ?

Saya punya anggota tim. Ketika ada komplain dari pelanggan, ia berpikir keras. Jika ini meluas, maka ia bisa kehilangan pelanggan. Apalagi situasi seperti sekarang, pelanggan belum banyak. Itu artinya pemasukan juga masih minim.

Komplain bisa jadi dipandang sederhana. Ada tamu mengunjungi pelanggan kami. Pelanggan itu adalah penyewa ruang di gedung kami. Sang visitor kebingungan mencari lokasi ruang yang ia tuju di gedung yang kami bangun. Tidak ada penunjuk jalan di tembok pas dekat lift. Kebetulan, front line officer (baca : penerima tamu yang merangkap tenaga pengamanan) juga belum ada. Tamu bingung sehingga ia kehilangan waktu.

Ia langsung melakukan aksi. Dia mendesain bagan penunjuk jalan. Setelah jadi dan akan dipasang. Signage tadi ternyata tetap membingungkan ketika diuji. Beberapa rekan kerja, ketika diminta menerjemahkan arti tanda arah tersebut, masih menunjukkan tidak sesuai arah yang diinginkan pembuat. Ia pun agak kecewa.

Apakah sepertinya itu sia-sia ? Sama sekali, tidak ! Dia action ! Itu yang terpenting. Jika ada yang belum sesuai harapan, ada peluang perbaikan. Setidaknya aksi pertamanya menjadi tolok ukur membuat desain revisi.

Beraksilah. Meski kadang itu belum tepat. Jangan takut salah. Itu jauh lebih bermakna, daripada hanya sekedar menyampaikan atau meneruskan berita.

Harga yang Pantas

“Lho, harga telur yang kamu beli kok lebih mahal ?”, begitu suatu ketika saya ditegur ibu saya.

Peristiwa terjadi ketika mendadak ada kebutuhan kenduri. Kami kekurangan telur. Perlu tambahan pembelian. Saya pun tak berpikir panjang. Saya langsung beli di warung tidak jauh dari rumah. Tanpa perencanaan yang matang. Kurang sadar biaya.

Itu teguran yang normal, menurut saya. Memang faktanya, ibu pernah mendapatkan jumlah yang sama dengan uang yang lebih sedikit. Telur yang dibeli biasanya lebih murah.

Itu bisa terjadi dengan berbagai sebab. Perubahan harga dari pemasok. Atau kita membeli dalam jumlah lebih sedikit. Kemampuan negosiasi yang masih lemah. Tidak membeli pada tempat yang pas. Dan masih banyak penyebab lainnya.

Padahal situasi seperti itu tidak mengenakkan, bukan ? Apalagi ketika kita dalam kondisi keterbatasan.

Sebagai karyawan, setiap bulan saya mendapatkan penghasilan yang relatif sama. Kadang naik, ketika mendapatkan bonus, tunjangan khusus atau profesional fee sebagai trainer. Tentunya akan mirip seperti sahabat yang saat ini jalur rezekinya idem ditto. Jalur karyawan, bukan pengusaha.

Pengusaha ada bedanya. Ia bisa mendapatkan yang jauh lebih besar. Namun, entrepreneur juga ada kemungkinan mendapatkan hasil yang relatif sama tiap bulan. Satgnan. Atau bahkan, ada dalam kondisi menurunnya pendapatan. Anjloknya revenue.

Apa pun situasinya, bisa mengundang bahaya. Alert ? Tidak boleh terlena. Ya, benar. Terlebih jika dibarengi dengan perilaku terhadap cost alias biaya yang sembrono. Pengeluaran tidak dikendalikan dengan baik.

Misal, karena ingin dapat order yang besar, maka dilakukan upaya yang luar biasa. Membeli bahan baku tanpa perencanaan. Melakukan overtime yang tidak sepadan.

Hal itu bisa menyebabkan tidak diperoleh harga yang pantas. Kenapa ?

Ketika membeli tanpa rencana ada kemungkinan harga lebih tinggi. Melambung. Pas overtime untuk menggenjot produksi, produktivitas malah turun. Biaya membengkak.

Sebaliknya, jika harga pantas setidaknya biaya masih stabil. Bahkan punya potensi dipangkas. Profit menjadi bertambah.

Saya yakin anda ingin mendapatkan harga yang pantas bukan ?

Mau ?

Silakan kirim WA via : 08111661766 atau melalui email : ariwijaya@gmail.com untuk dapat berdiskusi lebih dalam.

Atau jika berkenan, bisa bergabung dengan FB group :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Selamat berkarya dan salam hangat,

This is AriWay

www.ariwijaya.com

Jika sahabat memperoleh manfaat dari buah pena ini, silakan dibagikan kepada relasi, kolega lain.

Biaya Bukan Alasan Lagi !

Sore ini, proses visitasi akreditasi Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB), tuntas sudah. Selanjutnya, masih ada upaya yang jauh lebih penting. Ya, berdoa. Bersimpuh bermunajat kepada Illahi Robbi. Saya melihat, upaya civitas akademika UB, utamanya Teknik Mesin UB sudah maksimal. All out. Semoga akreditasi A dapat dipertahankan.

Usai acara itu, baru mulai beranjak pulang, saya mendapatkan pesan WA dari salah seorang senior. Isinya adalah hasil rembugan (baca : musyawarah) dari Ikatan Alumni UB di tempat yang terpisah. Satu saja ! Intinya ajakan bagaimana memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda untuk kuliah. Utamanya yang punya kendala keuangan. Nampak sejalan dengan salah satu komentar assessor saat visitasi tadi :

“Prosentase mahasiswa penerima beasiswa masih minim”

Gayung bersambut. Alumni menggagas membuat rekening khusus untuk Bea Siswa. Dari alumni untuk mahasiswa. Sehingga tak ada lagi alasan tidak bisa kuliah karena biaya. Saatnya bergerak. Terus bersemangat bagi mahasiswa. Biaya bukan alasan lagi. Tancap gas, kejar prestasi.

Semoga ini salah satu perwujudan :

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”

(QS 94 : 6-7)

Tertarik untuk turut beramal sholeh ?

Terpanggil untuk menjadi bagian dari upaya meringankan beban keuangan mahasiswa ?

Pintu amal kami bukakan melalui :

Bank BNI dengan no rekening : 777 383  839 | an. Beasiswa Alumni IKA UB

Semoga Allah SWT membalas upaya sahabat dengan kebaikan.

Proses Bisnis Cikal Bakal Penghematan

Alhamdulillaah. Saya mendapatkan respon yang sangat positif atas upaya berbagi pengalaman melakukan terobosan pada proses bisnis. Baik tanggapan melalui Facebook. Ada juga japri via WA. Linkedin networks. Beberapa langsung lewat telepon. Dan juga ada yang ingin menjadi peserta jika ada pelatihan yang saya selenggarakan. Termasuk juga ajakan langsung melakukan kuliah umum. Pekan ini saya merencanakan silaturahim ke orang tua di Malang. Insya Allah, saat Sabtu paginya saya berkesempatan sharing session kepada Dosen dan  Mahasiswa di Teknik Mesin Universitas Brawjaya. Salah satu kegiatan yang disukai juga oleh orang tua saya. Kegiatan berbagi. Apa pun itu.

Namun, ada saran agar saya memberikan juga materi pendahuluan tentang apa itu proses bisnis. Karena kebanyakan juga belum mengikuti dari awal. Input yang sangat berharga dan segera saya tanggapi. Tapi kali ini, saya coba dengan menggunakan media lain. Saya pakai visual, video.

Saya berusaha keras dengan perangkat yang ada untuk memberikan sesuatu yang berbeda. Saya dibantu rekan kerja yang memang punya passion di bidang media visual.

Persiapan yang saya lakukan tentunya menyiapkan transkripnya. Materi tentang proses bisnis. Saya rancang, maksimum 5 menit, durasi tayangnya. Mencari dan memilih tempat ambil gambarnya. Serta tentunya dengan alat perekam yang memadai.

Berikut narasi yang saya bawakan. Ada beberapa yang terlewat. Lupa. Meski telah diulang 3 kali. Hi..hi..hi…Maklum, ternyata grogi juga berhadapan dengan kamera.

Semoga berkenan.

Masukan dari sangat diharapkan lho.. Saya tunggu di : ariwijaya@gmail.com

—action–

Assalaamu’alaikum

Saya suka sekali salam ini. Ini sapa yang bisa berlaku universal. Pun ada doa di dalamnya.

Salam tadi dapat diartikan :

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepada sabahat semua”

Perkenalkan nama saya : Ari Wijaya, BusinessProcess Breakthrough Trainer.

Alhamdulillaah saya sudah diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa selama 23 tahun berkarya. Baik dalam pengembangan usaha sendiri maupun berkarya untuk perusahaan lain hingga kini. Dengan beberapa bidang industri yang berbeda. Semoga masih bisa terus membawa manfaat.

Industri otomotif menjadi pengalaman pertama saya. Memimpin lini produksi di salah satu perusahaan Astra Component Group. Beralih ke consumer goods, Gillette Indonesia. Di perusahaan ini saya berkesempatan mengemban amanah pada bidang produksi, fungsi quality management dan supply chain management. Tambahan wawasan itu sangat mendukung fungsi saya ketika dipercaya mengelola supply chain nya Sari Roti. Saya juga berkesempatan berkarya di bidang building material. Pabrik Semen di PT. Semen Andalas Indonesia atau sekarang dikenal sebagai PT. Lafarge Cement Indonesia. Selanjutnya saya menimba ilmu sekaligus berkarya di Food & Beverages, PT. Danone Indonesia. Dan say ini bergabung dengan perusahaan nasional di bidang jasa energi, PT. Elnusa, Tbk.

 

Perkenankan saya berbagi pengalaman tetang pembenahan proses bisnis. Perbaikan yang berkontribusi pada penghematan. Ujungnya profit bisa bertambah.

 

Proses bisnis ?

Ya, betul proses bisnis !

 

Sebelum melangkah lebih jauh. Membahas lebih detail. Perkenankan saya mengawali dengan apa itu proses bisnis.

Boleh ?

Pada suatu kesempatan saya mendapati seorang kawan yang gundah gulana.

“Mas Bro, gimana ini, bisnisku kok seperti jalan di tempat, ya. Nggak berkembang. Gini-gini aja. Ada saran kah ?” begitu awalnya. Ia straight to the point.

“Pak Bro, Insya Allah. Semoga sampeyan berkenan lho ya. Boleh nggak, sampeyan menggambarkan proses bisnis usahanya”, begitu timpal saya mencoba memberikan solusi.

Oh ya.. usaha teman saya ini adalah penjahit pakaian jadi.

‘Walah saya ini masih usaha kecil.. Nggak punya proses bisnis segala. Yang penting ada order, aku cek spesifikasinya. Periksa gambarnya. Terus aku serahkan kepada tukang pola. Buat mal. Dipotong. Di obras. Dijahit. Dibungkus plastik. Kirim. Selesai”, tukasnya sembari geleng-geleng kepala.

 

Anda pernah menjumpai peristiwa serupa ? Ya. Acapkali, ketika ditanya proses bisnis. Banyak dari kita masih membayangkan proses bisnis itu berbentuk dokumen. Pakai diagram. Rumit pokoke.

Davenport, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Harvard mendefinisikan proses bisnis adalah :

“aktivitas yang terukur dan terstruktur untuk memproduksi output tertentu untuk kalangan pelanggan tertentu.”

Jadi ?

Teman saya tadi, sudah punya proses bisnis, bukan ?

Dia dengan gamblang menceritakan kegiatan yang terstruktur, saling terkait, terukur dan menghasilkan sesuatu.

Memang. Lebih baik ketika apa yang disampaikan dibuat dalam bentuk dokumen yang mudah dimengerti. Pakai bagan misalnya. Dalam bentuk dokumen membantu kita banyak hal. Apalagi ingatan kita punya keterbatasan. Bisa didelegasikan pula jika kita tidak ada ditempat. Gambar jadi referensi.

So ?

Ketika kita memulai diskusi tentang bisnis, maka bagaimana menggambarkan proses bisnis kita adalah hal yang utama dan penting. Tanpa itu, kita kesulitan meretas apa yang terjadi. Perlu effort yang jauh lebih besar untuk membedah apa yang dapat menjadi peluang peningkatan keuntungan.

Seperti yang dikatakan Edward Deming, Salah satu Pakar Ilmu Manajemen

“If you can’t describe what you are doing as a process, you don’t know what you’re doing”

Bagaimana dengan usaha atau tempat berkarya sahabat ?

Kita semua punya proses bisnis, bukan ?

Berangkat dari situlah inisiasi perubahan yang bisa meningkatkan profit dapat dilakukan.

Tertarik ?

Silakan disimak dan bergabung plus berdiskusi pada FB Group :

Forum Terobosan dalam Proses Bisnis

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Dan tentunya..

Tunggu tayangan saya berikutnya.. ya.

 

Terima kasih telah berkenan menyimak paparan saya.

Selamat berkarya.

Wassalaamu’alaikum…

—cut–

Silakan juga dinikmati video ini :

Event itu Resmi Tuntas Sudah

Semalam dilakukan pembubaran secara formal kepanitian Ngalup (baca : mudik) Bareng Harum (baca : murah) 2016. Atau Ngabar Harum ! Event memudikkan warga Jabodetabek ke Malang Raya. Kota Malang. Kabupaten Malang. Kota Wisata Batu. Total ada 1.041 pemudik.

Lega. Plong. Tentunya ada kepuasan tersendiri. Acara berlangsung sukses. Pun yang lebih penting, seluruh pemudik tiba dengan selamat di Kota Malang. Meski ada catatan yang menjadi ruang perbaikan dimasa mendatang.

Kegiatan sosial ini digagas Paguyuban Genaro Ngalam. Frase kata khas Malangan, dibaca dari belakang, berarti : Orang Malang. Sebuah organisasi non profit yang beranggotakan orang-orang yang pernah bersekolah di Kota Malang.

Bukan bermaksud ujub. Bukan pula riya’. Dana tunai yang berhasil dihimpun sebesar lebih dari Rp. 650 juta. Belum lagi donasi benbentuk natura. Makanan kecil, gimmick, minuman ringan, kaos, dll. Jika dirupiahkan, bisa mencapai Rp. 800Juta. Subhanallaah.

Amanah kali ini tunai sudah. Tuntas.

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.  Terima kasih donatur. Rutam nuwus para panitia. Sederek sedoyo, Genaro Ngalam. Para pemudik, Aremania. Tentunya Team Marinir Cilandak. Semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Apakah setelah ini, berhenti ? Tidak. Pembina Genaro Ngalam dan juga sebagian besar anggota berkomitmen untuk terus berbagi kebaikan kepada sesama. Bisa jadi bentuknya lain.

Wow ! Semangat yang luar biasa.

Oh ya, sahabat. Perlu saya bocorkan sedikit, anggota aktif Genaro Ngalam jika direrata bisa dikisaran usia 52 tahun (ini hitungan dari yang sering terlihat lho). Bayangkan, ketika ditanya tahun kelulusan SMA saya. Jawaban di luar dugaan yang saya terima.

“Lha mas iki ternyata seumuran karo cucuku”, celetuk salah satu pembina.

Bocoran saja nih, saya lulus SMA tahun 1989. Bayangkan coba ?

Tapi itulah justru yang membuat saya dan teman-teman yang masih muda (kalau boleh dibilang muda nih), tetap semangat. Terpacu. Mosok yanglebih aktif bergerak justru para pinisepuh. Yang muda yang harusnya lebih prigel, trengginas, dan bergerak terus. Tetap semangat !

Insya Allah, Genaro Ngalam bersepakat akan menggulirkan kegiatan sosial yang tidak kalah heboh. Lebih membawa manfaat bagi orang lain.

Mau tahu ? Tunggu kabar berikutnya, ya !

Boleh lho, usulan sahabat dialamatkan via saya :

ariwijaya@gmail.com

atau kepada Ketua Paguyuban Genaro Ngalam, Mas Tommy di :

tshadiam@gmail.com

 

Salam Tahes Komes

Genaro Ngalam ! GUYUB, GUYON, GEMBIRA !

Ikuti Dahulu, Perbaiki Kemudian

Setelah beberapa bahasan tentang peran serta pemasok dalam mendukung kinerja biaya, saya akan berbagi pengalaman dalam melakukan perbaikan proses bisnis secara internal.

Pembenahan internal tidak kalah pentingnya dalam usaha melakukan penghematan. Memangkas biaya.

Pengalaman pertama saya bekerja adalah sebagai supervisor produksi. Saya ditempatkan pada lini perakitan. Masa orientasi pekerjaan tidak terlalu memakan waktu lama. Sepekan saja. Setelahnya, saya langsung terjun ke lapangan. Learning by doing. Itulah kebijakan pimpinan kami ketia itu. Tentunya dengan pendampingan yang ketat dari atasan saya, Production Manager. Rekan sejawat juga banyak membantu mempercepat pengenalan saya.

Empat bulan pertama, saya mendapati angka produk yang tidak lengkap dirakit lumayan besar. Bisa pada kisaran 8% -10 %. Itu sama saja ada 8-10 produk cacat untuk setiap 100 set produk yang dihasilkan. Tapi yang mengherankan, itu ditanggapi biasa.

“Biasa ini, Pak. Dari dulu juga begitu. itulah gunanya ada kami. Nanti kami repair. Kabel yang tidak lengkap akan dibuatkan manual,” begitu jawab salah seorang tim perbaikan. Ia sering disebut, Repairman.

Kejadian itu menurut penuturan beberapa orang sudah sering terjadi. Memang akhirnya bisa menjadi barang jadi juga. Tapi membutuhkan tenaga, waktu, dan material tambahan. Belum lagi produk hasil manual bisa jadi mutunya tidak sama dengan yang dikerjakan oleh mesin. Pos pemborosan, bukan ?

Saya dalam sepekan mencoba mengikuti alur proses produksi dari akhir hingga saat serah terima. Saya melihat catatan mereka. Catatan tiap seksi lengkap. Tidak ada material yang berkurang.

Perhatian saya pusatkan pada area serah terima. Saya mengamati prosesnya dari lantai 2. Aktivtas tim serah terima saya perhatikan seksama. Nampak mulus, tiada yang aneh.

Akhirnya, saya dibantu salah seorang Kepala Regu, melakukan perhitungan material yang diserahterimakan. Untuk membuat 1 produk jadi, ada belasan kabel berbeda warna dan ukuran. Ada yang sudah digabung dengan kabel lain (joint). Ada yang mandiri.

Hasilnya sungguh mengagetkan.

“Mas, ini kok ada kabel yang kurang 9. Di lain tempat kurang 7. Ada lagi yang kurang 5 biji ?” begitu tanya saya.

Karena pada surat serah terima dengan Lini Persiapan, ditulis dengan gamblang :

“Lengkap !”sembari ada coretan seperti lambangnya ‘Zorro, ketika selesai menumpas kejahatan.

“Wah, saya ndak berani menolak, Pak. Bisa ribut nanti. Ini sudah aturan dari dulu”, jawab salah seorang tim.

Saya meminta dilengkapi dahulu, baru ditransfer ke Assembling Line. Karena cable hanger tidak berjalan. Foreman Lini Persiapan yag sedang bertugas juga berusaha melakukan negosiasi. Ia ingin untaian-untaian kabel yang sudah siap, ditransfer dulu. Nanti mereka akan perbaiki. Saya menolak. Saya beralasan, bahwa ini sudah sering terjadi. Ia harus melengkapi sebagai syarat serah terima berlangsung.

Saya menekankan hal itu sembari menunjuk papan besar yang di gantung pada kolom penyangga pabrik. Sign board bertuliskan :

“Saya tidak menerima produk catat. Saya tidak akan menghasilkan produk cacat. Saya tidak mengirimkan produk cacat”

Ketika itu, selama kurang lebih 2 jam. Area yang digunakan untuk merakit kabel kurang pasokan. Bahkan malah ada beberapa orang yang menganggur. Di lain pihak. Area transfer sangat penuh dengan kabel. Kabel yang tidak lengkap. Tidak sesuai dengan jumlah yang tetapkan pihak production planning.

Singkat cerita, terjadi keributan kecil. Karena rekan sejawat yang juga mendapatkan layanan dari Lini Persiapan juga melakukan hal serupa. Saya pun dipanggil GM Pabrik. Saya dianggap tidak fleksibel. Kaku. Kasus itu pun menjadi perhatian. Kaena saat itu sedang booming order. Saya dan beberapa teman meluruskan bahwa, proses bisnis harus dijalankan sesuai yang telah ditetapkan.

Jika ada ketidaksesuaian seperti tadi, bukan malah diteruskan dan ditangkap saat akhir proses. Tapi harus dihentikan untuk dicarikan pemecahan masalah.

Jika ingin agar proses tetap berjalan dengan adanya cacat dibeberapa tempat, maka produk cacat tersebut harus dipisahkan. Kasus seperti tadi, yang diserahterimakan seharusnya cuma 91 set. Bukan 100 set.

“Kalau begitu caranya, akan ada produk ‘kethengan’ (baca : satuan). PPIC tidak akan mau menerima”, sergah Leader Tim Persiapan, mencoba memberi alasan.

Kami pun mengusulkan bahwa ada lini khusus untuk repair di Lini Persiapan. Gugus tugas yang bekerja ekstra umtuk melengkapi jumlah kabel. Itu harusnya juga sementara. Fire fighting saja.

Lebih jauh lagi, perlu dicermati kenapa ada mesin menghasilkan produk yang kurang.  Apakah faktor operator, mesin itu sendiri, bahan baku yang masuk, atau apa ? Harus dicari akar masalahnya pada tempat yang bermasalah.

Alhamdulillaah, malam itu menjadi jelas. Disepakati menjalankan proses bisnis yang telah ditetapkan. Jika ada perubahan, misal ingin memenuhi pesanan dengan segera, maka proses bisnis existing menjadi dasar perbaikan.

Kami mengakhirinya dengan jalan bareng dan menyantap Soto ‘Torpedo’ khas Warung Betawi di bilangan Kelapa Gading tak jauh dari lokasi pabrik.

Boleh beradu pendapat, bisa jadi ada ketersinggungan. Tapi hati tetap legowo. Tidak ada menang kalah. Itu semua demi kebaikan bersama. Kemajuan perusahaan tempat kami berkarya.

Saya sangat terkesan dengan pengalaman itu. Semoga sahabat juga dapat menarik hikmahnya. Pemahaman akan proses bisnis sangat penting. Ini sesuai pesan dari William Edwards Deming. Beliau salah satu tokoh manajemen mutu di dunia.

If you can’t describe what you are doing as a process, you don’t know what you’re doing.

 

Jika tulisan saya ini membawa manfaat, silakan dibagikan kepada relasi, kolega dan sahabat lainnya.

Silakan memberi masukan dan bergabung dengan “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis”, dengan klik tautan ini :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Selamat berkarya !