Pendidikan Sang Pendongkrak

Apa yang banyak ketahui tentang Australia ? Kanguru, binatang berkantong itu ? Bisa jadi. Senjata tradisional mereka, bumerang. Boleh juga. Suku aboriginnya. Tak salah juga. Tetangga yang sering berantem opini dengan Indonesia. Itu juga jawaban.

Bagaimana perekonomian Australia ? Banyak yang mengatakan, negeri ini termasuk salah satu negara maju. Tahun 2015 PDB per kapita mereka USD 52.400. PDB totalnya USD 1.200 Triliun. Tercatat 70% disumbangkan oleh sektor jasa, termasuk pendidikan.

Pendidikan atau lebih tepatnya higher education penyumbang PDB ? Ya, betul. Siapa yang tidak kenal dengan universitas ternama di Negeri Kanguru itu. Data tahun lalu, 8 universitas di Australia masuk 100 besar perguruan tinggi di dunia. Mereka disebut Group of Eight (Go8). Itulah daya tariknya. Sehingga pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara mau bersusah payah menggali ilmu di Australia. Meski biayanya pun tidak murah. Tercatat 600ribu mahasiswa dari luar Australia yang belajar di sana. Inilah yang menjadi salah satu sumber pemasukan penting. Tahun 2014 tercatat USD 16 Milyar masuk ke kantong pemerintah Australia.  Logis jika sektor pendidikan menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto.

Pengalaman negeri tetangga kita itu yang ingin saya kupas untuk ditiru.

Apakah kita punya potensi itu ? Punya. Saya ambil contoh Kota Malang. Sebuah kota di tengah Provinsi Jawa Timur.

Kenapa Malang ? Sebagai gambaran, Malang dianugerahi julukan Kota Pendidikan. Ini juga julukan yang pas. Jumlah perguruan tinggi di Malang tercatat lebih dari 50. Perguruan tinggi negeri saja, banyak pilihannya seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Politeknik Negeri Malang (Polinema), Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian.

Perguruan tinggi swasta diantaranya : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka Malang (Unmer), Universitas Islam Malang (Unisma), Institut Teknologi Nasional (ITN), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara.

Jika kita berkaca pada Australia, maka modal dasar telah dimiliki Kota Malang. Jika perguruan tinggi yang disebutkan tadi bisa membuka kelas internasional. Tidak perlu semua program studi. Jurusan tertentu yang disiapkan. Selektif dan bersinergi. Dampak atas inisiatif itu akan menjadi efek domino.

Program Studi Ekonomi Syariah dibuka kelas internasional di UIN Maliki dosen utama dari UIN Maliki dengan dosen tamu dari UB, UM, UIN Maliki, UMM. UIN Maliki punya sumber daya yang mumpuni ketika bicara tentang syariah.

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dibuka di UM dengan dosen tamu bekerja sama dengan UIN Maliki, UMM, Unisma. Mengapa UM ? Institusi ini punya catatan moncer dalam pengembangan tenaga pendidik.

Program Studi Teknologi Pertanian diinisiasi di UB dengan dosen tamu melibatkan Unmer, UMM, ITN. UB punya resources dan reputasi yang mumpuni dalam bidang keilmuan ini.

Program studi Penyuluh Pertanian dibuka di STPP dengan dosen tamu UB, UIN Maliki. STTP sudah terkenal punya output tenaga penyukuh handal yang tersebar di negeri ini.

Bisa jadi jurusan lainnya. Masih terbuka. Rektor dan pimpinan yang lain insya Allah lebih tahu program studi yang punya potensi.

Bagaimana kualitasnya ? Saya yakin saat ini perguruan tinggi di Malang berlomba untuk meraih akreditasi yang paripurna. Assessment dilakukan oleh Kementrian Ristek dan Dikti, tapi juga lembaga internasional. Itu juga pondasi yang sangat baik.

Siapa pasarnya ? Pasar utama ditujukan di negeri seputaran Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Dapat menggunakan lobbying solidaritas negara ASEAN atau Konferensi Asia Afrika.

Sejarah mencatat, Negeri Jiran, Malaysia, sesuai sejarah, pernah mendatangkan tenaga pendidik Indonesia ke negerinya. Pun mengirim putra-putri terbaiknya ke Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi ternama.

Masih ingatkah pada jaman Pak Harto (Presiden Soeharto), bahwa petani terbaik dari beberapa negara di Afrika untuk belajar pertanian dan peternakan di negeri kita.

Bagaimana efeknya ? Pendapatan daerah kota Malang sesuai APBD 2016 adalah sebesar Rp. 1,73 Triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya Rp. 370 M. Baru 21%. Pemko Malang punya keinginan meningkatkan PAD. Apa dampaknya jika jasa pendidikan tadi semakin mendunia ?

Inilah yang sejalan. Tempat tinggal tentunya akan lebih banyak dibutuhkan. Rumah tinggal, guest house, hotel, dan apartemen akan naik demand-nya. Ini sumber penghasilan bagi daerah. Belum lagi expenses mereka. Belanja mahasiswa juga diharapkan meningkat. Bandara Abdul Rahman Saleh frekuensi penerbangannya bisa lebih banyak. Ia lebih ramai setidaknya pas liburan semesteran. Perputaran uang relatif lebih besar. Peluang usaha menjadi lebih terbuka. Ya, efek domino.

Pendidikan yang bisa memperkuat perekonomian daerah. Ia jadi sang pendongkrak. Bukan tidak mungkin mengubah dunia, setidaknya Kota Malang.

Bagaimana Abah Anton, Walikota Malang ? Insya Allah, ide ini bisa digodok lebih matang. Dikembangkan lebih luas. Tentunya melakukan sinergi dengan para pimpinan perguruan tinggi di Malang.

Semoga ide kecil ini dapat turut serta memberikan sumbangsih upaya peningkatan pendapatan asli daerah.

Semoga Pak Walikota berkenan.

Salam satu jiwa.

 

Chaos !

“Pak, bisa merapat ke tempat saya?”, pinta pelanggan di ujung telpon.

“Siap, Pak. Saya langsung ke kantor Bapak”, sahut salah satu pejabat pentolan di bidang operasional.

Sejurus kemudian ia sudah kembali dan memimpin rapat internal untuk memenuhi permintaan pelanggan. Sebagai perusahaan jasa layanan di bidang energi, panggilan seperti itu sudah tidak asing lagi. Pemenuhan kebutuhan mendadak adalah salah satu bisnisnya.

Tak lama, beberapa fungsi diminta bergabung. Permintaan informasi dikerjakan dan dianalisis. Mereka menyebar. Berbaur. Ada yang kirim email. Mencari data. Rapat kecil. Mengolah dan menganalisis. Hampir semua fungsi sibuk. Ada yang menemui pemasok. Tak jarang beberapa kali bertemu direksi. Nampak kalang kabut. Pating sliwer. Meski semua fungsi punya niat yang sama, effort yang sungguh-sungguh. Mereka ingin memberikan data yang pas untuk proposal agar pelanggan puas. Tak kurang dari 2 jam hal itu terjadi. Hingga akhirnya proposal jadi dan sang pejabat menghadap client untuk memberikan penawaran atas jasa yang diminta.

“Kenapa feedbacknya lama sekali ?”, sahut pelanggan dengan nada kecewa.

Harapannya, proposal komersial juga memperhatikan waktu responsenya. Masih dinilai kurang cepat.

Itulah gambaran simulasi yang diperagakan oleh sebuah perusahaan energy services company. Simulasi itu dipimpin oleh direktur utamanya. CEO langsung turun tangan yang memandu jalannya workshop. Upaya perubahan budaya dengan meretas proses bisnis yang ada. Pesertanya adalah pimpinan seksi hingga divisi. Termasuk pimpinan anak perusahaan. Senior managament. Terobosan yang dimulai dari puncak.

Setelah masukan dan perbaikan. Tim yang sama diminta menuliskan business process penerimaan order sesuai aktivitas yang telah dilangsungkan. Masih banyak aksi yang mubadzir, sia-sia. Setelahnya diminta melakukan perbaikan. Beberapa proses dipangkas. Simulasi dijalankan dengan cara yang berbeda. Diulang lagi beberapa kali.

Singkat cerita pukul 8 malam, acara disudahi. Meski belum mencapai waktu response yang diharapkan setidaknya sudah ada perbaikan yang significant.

Perubahan proses bisnis memang tidak mudah. Salah satu enablers atau saya sebut ‘pengail perubahan’ adalah dari manusianya. Pelaku utama adalah kita dan itu butuh komitmen. Lebih makjleb ketika perubahan dipimpin dan dicontohkan langsung oleh manajemen puncak. Upaya tadi adalah awal yang sangat baik. Ibarat sprinter, start yang baik salah satu penentu kemenangan.

Inisiasi yang mengikis kekalangkabutan. Mengurangi pating sliwer. Menghindari chaos ! Menjadikan setiap aksi efektif, efisien, lebih cepat dan lebih baik.

“Kenapa perlu ?” tukas sang CEO di tengah penjeasannya.

Customer requirement changes terjadi sangat cepat kadang melampaui kecepatan perubahan internal perusahaan yang melayaninya. Customer meminta layanan yang lebih cepat, lebih baik dan juga lebih murah sudah keniscayaan. Sunatullaah. Jika tidak melakukan perubahan, bukan tidak mungkin ia berpindah ke provider lain. Pindah ke lain hati. Kalau sudah begitu, hanya menunggu waktu  untuk tergilas. Hilang dari percaturan bisnis.

Mau terjadi seperti itu ? Ehm.. saya yakin tidak ada yang mau kalah dalam kompetisi.

Mari kita resapi nasihat Jack Welch, yang dinobatkan oleh Majalah Fortune sebagai “Manager Abad Ini”, pada tahun 1999 :

“A leader’s job is to look into the future and see the organization, not as it is, but as it should be”.

Begitukah ? Ya. Mari berada pada garis depan dalam melakukan perubahan. Ubah sesuai dengan yang seharusnya. Perubahan yang dipicu oleh pelanggan. Jika sahabat menjadi leader, maka jangan segan mempimpin perubahan itu hingga tuntas sesuai kebutuhan atau bahkan melebihi ekpektasi palanggan.

 

This is ariWAY

Salam Terobosan !

Terus berkarya untuk negeri.

 

Jika sahabat mendapat manfaat dari artikel ini, silakan disebarkan.

Diskusi secara rinci dapat dialamatkan melalui email : ariwijaya@gmail.com atau WA : 081 1166 1766.

Silakan juga bergabung pada Forum Terobosan dalam Proses Bisnis dengan klik FB Group :  https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?ref=ts&fref=ts

 

Cost Killer

Empat tahun lalu, satu kelompok tim saya, pernah mendapat sanjungan selangit atas prestasinya dari CEO. Saya yang mendengar dari jauh pun turut bangga. Meski apa yang dilakukan bisa jadi sepele menurut ukuran tim yang lain.

Apa sih yang dilakukannya ?

Manager Procurementnya membuat langkah cepat hasil diskusi atau tepatnya rapat koordinasi di Jakarta. Ia bagi tugas kepada tim kecilnya untuk melakukan analisis pembelanjaan tiap kategori. Singkat cerita, mereka melakukan penambahan aktivitas pada tahap awal proses pengadaan. Proses bisnisnya tambah panjang dari biasanya. Hasilnya, perubahan attitude karyawan. Mereka lebih peduli dengan namanya perencaan pengadaan. Vendor melayani dengan baik dan enjoy. Barang atau jasa diperoleh dengan lebih cepat. Penambahan aktivitas pada awal, namun memudahkan proses pengadaan selanjutnya. Dan yang tak kalah penting adalah, inisiatif itu menghasilkan penghematan. Meski kecil, masih 1,5% dari total pembelanjaan sebelumnya. Tapi, inisiatif itu menciptakan perubahan.

Ini yang saya sebut “cost killer“. Ih.. serem ya. Pembunuh biaya. Nggak juga, ini adalah program memangkas biaya dengan pendekatan perubahan proses bisnis. Perubahan tidak hanya memotong atau menghilangkan satu atau lebih aktivitas. Namun, juga bisa dengan menambahkannya. Atau membuat proses bisnis baru. Itu semua bagian dari terobosan proses bisnis.

Business process breakthrough juga salah satu bentuk improvement. Tujuan melakukan perbaikan adalah ada hal baru yang lebih mudah, lebih baik, lebih cepat dan lebih murah.

Seperti yang dilakukan tim tadi. Ia menambah beberapa kegiatan di awal proses. Logikanya, proses tambah panjang. Tambah lama. Bukankah begitu ? Betul. Tapi itu hanya terjadi pada awalnya. Pada kasus inim terjadi pada awal tahun. Sepanjang tahun berjalan mereka menikmati hasilnya. Mereka menerbitkan 1 saja dokumen PO untuk waktu setahun. Proses penerimaan barang lebih cepat. Tidak ada lagi metoda lawas, ada permintaan baru menjalankan proses pengadaan. Ia menggunakan dokumen lainnya. Harga mendapat potongan khusus. Inventory tidak perlu ditumpuk di gudang kita. Persediaan ada di pemasok.

Sahabat masih penasaran ? Bagaimana secara rinci prosesnya ?

Silakan mengirimkan komentar atau pertanyaan di bawah ya. Atau kirim pertanyaan atau masukan via email : ariwijaya@gmail.com.

Salam terobosan !

Ari Wijaya, This is ariWAY

Cost Killer

http://Ari WijayaDj

Yuk bergabung dengan Forum Terobosan dalam Bisnis di  https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Kawin Intan

Saya tergelitik untuk membaca pasangan yang merayakan kawin intan. Saya kira apa gitu. Selama ini kan populernya, perayaan kawin perak atau kawin emas. Barakallaahu… ternyata mereka telah mengarungi mahligai pernikahan selama 60 tahun. Jadi kalau 25 tahun itu perak. Lima puluh tahun disebut emas. Nah.. jika sebutannya intan, itu berarti usia hubungannya sudah 60 tahun. Entah siapa yang memulai membuat istilah ini. Bukan perkara mudah mempertahankan hubungan selama itu. Sepakat ? Semoga sahabat juga bisa, ya.

Coba bayangkan jika kita punya pasangan serasi di perusahaan yang digeluti sekarang ini. Ups.. tunggu dulu, itu bukan wanita atau pria idaman lain lho ? Tapi, hubungan vendor dengan kita. Hubungan yang saling mendukung, saling menguntungkan. Saya yakin, banyak manfaat yang diperoleh. Tumbuh berkembang bersama.

Sahabat mau punya hubungan yang langgeng ? Perkenankan saya berbagi tiga langkah.

Rencanakan metoda penilaian.

Bagaimana kita melakukan penilaian termasuk di dalamnya menetapkan indikator penilaiannya. Sebagai contoh, indikator dari mutu (Quality), harga (Cost), ketepatan pengiriman (Delivery), kesesuaian dengan value kita (Morale), dan sekarang juga sedang digalakkan kesesuaian dengan standar kesehatan dan keselamatan kerja (Safety), bahkan juga terhadap lindungan lingkungan (Environmental). QCD-SEM jika disingkat untuk memudahkan ingatan. Bagiamana jika semuanya penting ? Tetapkan bobot sesuai dengan kebijakan dan nature business anda.

Pada tahap ini, ditetapkan juga tim penilai. Siapa dan fungsi mana yang memberikan penilaian. Mereka diberikan acuan. Nilai 1 untuk penilaian dengan kondisi yang sangat buruk hingga 5, misalnya, untuk kondisi yang sangat memuaskan.

Lakukan penilaian.

Penilaian dapat dilakukan setiap order tuntas dikerjakan oleh pemasok. Secara berkala hasilnya dianalisis. Jangan lupa memberikan klasifikasi. Grade A untuk yang mempunyai nilai rerata lebih besar sama dengan 4. B untuk nilai lebih besar sama dengan 2 hingga lebih kecil 4. Sedangkan C, untuk yang masih punya nilai di bawah 2. Jika perlu nilai C juga diberi tanda bendera merah. Perlu perhatian khusus.

Penggolongan ini penting untuk memberikan arahan manajemen melakukan langkah tindak lanjut. Misalnya, kinerjanya buruk tapi ia pemasok utama perusahaan kita. Kita membelanjakan kepada supplier tersebut masuk pada pareto spending kita. Perlu pendekatan dan metoda khusus dalam menanganinya.

Eksekusi hasil.

Hasil analisis dan tinjauan manajemen perlu ditindaklanjuti. Sangat disarankan, ada event khusus. Seperti, vendor gathering atau acara semacamnya. Upaya sebagai salah satu sarana komunikasi juga. Jembatan sosialisasi program dan pencapaian perusahaan. Juga ajang menerima masukan dari pemasok.

Ada yang diberikan penghargaan karena konsistensi memberikan layanan yang terbaik. Ia memperoleh grade A selama kurun waktu tertentu.

Ada pemasok yang perlu dikembangkan, didampingi agar meningkat kinerjaanya menjadi Grade A. Namun, perlu juga ada sangsi, jika bad performance-nya taat asas, konsisten. Bisa dilakukan degradasi alias dikelaurkan dari daftar rekanan terpercaya.

Input ini disampaikan kepada fungsi procurement, sehingga mereka bersiap untuk mencari vendor baru.

Pengukuran seperti itu harus dilakukan. Karena jika tidak, maka kita tidak dapat mengelola hubungan itu dengan baik. Seperti petuah singkat Peter Drucker, yang disebut Bapak Manajemen Modern :

“If you can’t measure it, you can’t manage it”

Usaha yang tidak terlalu rumit dilakukan, tapi penting bagi kelangsungan hubungan. Saya yakin tidak hanya hubungan yang mencapai usia perak, atau emas. Usia intan pun bisa dicapai. Ya, kawin intan supplier relationship.

Yuk, jangan ditunda lagi. Agar gonta-ganti vendor bisa dihindari. Pasangan yang awet, langgeng, adalah energi tersendiri bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Selamat mencoba ! Kalau sudah, tingkatkan terus . . .

Salam terobosan !

Mari terus membangun negeri, sekecil apa pun peran kita.

This is ariWAY

Silakan menyebarkan artikel ini, jika membawa manfaat.

Saya tunggu masukan dan diskusi yang lebih intens melalui email : ariwijaya@gmail.com atau bergabung dengan Facebook Group dengan klik link berikut :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Saved by The Bell

Suatu pagi, baru saja duduk di ruangan, saya mendapatkan telpon :

“Pak, bagaimana ini, kok barang saya ditolak”, cetus dia.

“Kami sudah cari yang sesuai dan user sudah oke ketika tes akhir. Tapi sama tim gudang, malah tidak diterima. Ini barangnya masih di area parkir. Saya tidak mau bawa pulang lagi. Mohon solusinya !” sambungnya dengan nada tinggi.

Saya pun mencoba menenangkan dan meminta waktu untuk melakukan crosscheck. Jalur yang benar ketika ada vendor yang tidak puas. ia kontak fungsi pengadaan.

Singkat cerita, setelah kontak dengan tim gudang dan memeriksa dokumen yang menerima di kota lain, generator tersebut memang harus dibawa pulang oleh pemasok. Dengan kata lain, ditolak. Equipment hasil refurbish (baca : bukan barang baru, hasil rekondisi peralatan lama) itu, tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertulis. Ini juga berkat bantuan teknologi, informasi sangat cepat berbalas dan dikumpulkan.

Lho kok bisa ? Padahal sudah diuji coba dan dinyatakan oke oleh tim pengguna. Biasa jadi saat tes, hanya dilihat dan dirasakan fungsinya.  Tapi dokumen pendukungnya tidak sesuai dengan kontrak awal. Terjadi perdebatan termasuk juga dengan tim pengguna, karena mereka akan menggunakan alat itu mendukung proyek.

Masalah itu pun tuntas setelah sepekan kami mengumpulkan beberapa pihak dan tentunya mengacu pada dokumen kontrak yang telah disepakati.

Sebagai gambaran, jika melihat fisik, seperti tidak ada masalah atas hasil rekondisi. Sepintas ya. Namun, setelah ditelisik lebih teliti, pada nomor seri mesinnya berbeda. Mesin tersebut adalah mesin yang sudah obsolete (tidak diproduksi lagi oleh pabriknya). Informasi ini diperoleh dari tim sales engineer pabrikan generator, yang kami hadirkan. Sistem lama pakai manual, sedangkan dalam dokumen, diminta sistem yang electric. Karena sistem tersebut sekarang masih diproduksi. Sehingga suku cadang dan layanan pendukung lainnya mendapatkan jaminan dari engine manufacturer.

Saved by the bell. Ya, kami diselamatkan oleh dokumen kontrak. Jika tidak, kami akan punya genset yang jaminan suku cadang dan layanan perawatan yang diragukan. Bahkan, tdak ada support. Kami berpikir ketika itu, membeli produk yang baru saja dilengkapi kontrak. Termasuk bagaimana layanan purna jualnya. Apalagi ini peralatan lama yang diperbarui, perlu pagar yang lebih banyak dan rapi.

Kontrak dengan pemasok ibarat ban cadangan. Sangat bermanfaat jika dibutuhkan pada saat yang tepat. Kontrak punya setidaknya 3 peran utama.

Pengawal pelaksanaan. Sebagai pedoman untuk melakukan follow-up dan monitoring pelaksanaan pesanan yang kita minta.

Acuan tindakan. Ada ketidaksesuaian, ada masalah yang terjadi dan perubahan situasi dan kondisi di tengah pelaksanaan dapat dimungkinkan. Acuan untuk menyelesaikannya dengan dokumen kontrak.

Tolok ukur hasil. Hasil akhir dari suatu produk dan/atau jasa dapat berbeda dengan yang diharapkan. Misal terjadi ketidaksesuaian mutu, biaya yang tak terduga, dan keterlambatan. Tolok ukur adalah dokumen kontrak. Pembahasan lebih kuantitatif dan punya dasar yang sama.

Coba dibayangkan ketika itu tidak ada dokumen kontrak. Saya yakin masalah akan berbelit. Energi yang dicurahkan bisa sangat besar.

Sahabat, tidak ingin terjadi seperti itu, bukan ? Mari kita ikat hubungan kita dengan pemasok menggunakan kontrak. Lakukan perikatan tertulis. Karena kita tidak tahu hal yang akan terjadi masa depan. Upaya manusia biasa adalah melakukan antisipasi.

Yuk, terus berkarya membangun negeri dengan melakukan hal yang kecil sekalipun.

Salam Terobosan !

This is ariWAY

Silakan menyebarkan artikel ini jika sahabat mendapatkan manfaat. Bisa kontak saya di : ariwijaya@gmail.com untuk diskusi lebih intensif atau bergabung dengan Facebook Group dengan klik :

 https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Sedikit Itu Rasa

Sahabat, pernahkah membantu menghitung uang dari kotak amal ? Atau melihat isi kotak amal ?

Coba diperhatikan. Isinya beragam, bukan ? Ada uang kertas yang licin atau lusuh. Tak jarang juga berisi uang logam. Pecahannya pun variatif. Ada seribuan hingga lembaran seratus ribu. Lebih dominan mana ? Sebenarnya itulah potret kondisi ekonomi masyarakat.

Tak jarang ada komentar,

“Alhamdulillaah, ada juga yang memasukkan uang merah ini (baca : uang kertas dengan nominal 100ribu)”.

Atau celetukan dan candaan sembari merapikan lembaran-lembaran uang :

“Duh kasihan, uang ini. Lecek, kusam, tapi banyak kali jumlahnya. Jadi agak lama kita harus menghitungnya”.

Sabahat, mari kita kesampingkan dulu bentuknya. Mari kita retas bagaimana nilai dari uang itu. Kita ambil contoh, pecahan 2 ribu sang penghuni kotak amal.

Suatu profesi, katakanlah, tukang bangunan. Tukang ojek pangkalan. Atau tukang linting rokok. Ia bekerja keras dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Upah yang mereka terima biasanya harian. Profesi yang tidak boleh sakit. Apa pasal ? Kalau sakit ia tidak menerima upah. Ia kehilangan pemasukan.

Jumlah upah mereka beragam. Tergantung daerah lokasi kerja. Ada juga berdasarkan keahlian dan lamanya bekerja. Kalau boleh saya ambil sampel, jasa profesinya adalah 100 ribu per hari. Ini contoh untuk memudahkan gambaran saja.

Ia bersedekah 2 ribu rupiah. Nilai itu besar atau kecil ? Itu relatif. Itu rasa. Coba kita bandingkan uang yang dimasukkan ke kotak amal dengan penghasilannya hari itu. Hasil nya adalah 2%. Ya, dua per seratus dari hasil keringat hari itu.

Ada profesi lainnya. Pengacara misalnya. Profesional muda lainnya. Waktu kerjanya kita anggap sama. Pukul 8 pagi hingga teng kembali ke rumah pukul 5 sore. Pekerjaan yang digelutinya bisa menghasilkan Rp 2,5 juta per hari. Ini juga sebagai ilustrasi. Ia memasukkan uang Rp. 50 ribu dalam boks hijau milik masjid. Kadar ikhlasnya, anggaplah sama.

Wow.. limpul, kata Orang Medan. Lima puluh ribu rupiah !

Uang gede ? Eiit tunggu dulu, secara nilai, belum tentu, lho. Ia cemplungkan uang 50 ribu dari hasil jerih payah yang 2,5 juta rupiah. Itu artinya 2% juga !

Sama seperti gambaran sebelumnya, bukan ? So, bolehkah saya sebut, 2 ribunya orang yang berpenghasilan 100 ribu dengan 50 ribu infaqnya yang penghasilan 2,5 juta, punya nilai yang sama.

Bedanya ketika tukang bangunan mengeluarkan 2 ribu, sisa uang di sakunya 98 ribu. Bandingkan dengan satunya. Pengeluaran 50 ribunya, meninggalkan sisa 2,45 juta ! Masih relatif jauh lebih banyak.

Masihkah kita melihat bahwa seribu, dua ribu atau lima ribu, itu kecil ? Sedikit ? Ternyata itu cuma rasa, bukan ? Jumlah yang menurut perasaan yang melihat. Sudut pandang pemberi infaq ternyata berbeda. Sedikit itu rasa.

Ada yang lebih penting lagi adalah nasihat Nabi Muhammad SAW ini :

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

 

Yuk sedekah ! Tak usah risau dan malu, berapa pun jumlahnya.

Mari kita buka pintu lebar, bagi siapa pun yang ingin memberikan hartanya untuk sarana ibadah. Siapa tahu, kita dicatat sebagai orang yang memberikan fasilitas kebaikan. Insya Allah, semuanya dapat menjadi sarana menghantarkan ke surga. Pasrahkan kepada Allah azza wajalla, bobot penilaiannya.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

 

Special note :

Jika ingin berinfaq membantu pembangunan Tempat Pendidikan Al Quran di Masjid Ar Ridho (lokasi : Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan), sahabat dapat menyalurkannya via :

Bank Muamalat Indonesia | 304 003 1990 | Yayasan Ridho Illahi .

Terima kasih. Jazakallaah khair.

Tak Hentinya Bersyukur

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…

Hanya itu yang patut saya ucapkan dalam 3 hari ini.

Sabtu pagi, saya bersama teman-teman TEMPA (Trainer Mentoring Program) asuhan Mas Indrawan Nugroho membuat video pendek tentang pesan-pesan pelatihan. Saya pamit lebih dulu setelah ‘take’ 3 actions. Terima kasih juga kepada sahabat Harri Firmansyah R, Mohamad Wirzal Azraqi, Fay Irvanto, Bambang Nugroho dan teman-teman lain atas masukannya.

Saya pun meluncur ke bandara menuju Malang. Silaturahim ke ibu saya.

Di luar kuasa manusia, pesawat ketika diumumkan akan mendarat, tapi berputar entah berapa kali. Ada penumpang yang bilang 8. Ada yang bilang 10 kali. Saya hitung sekira 1 jam 10 menit, kami mengudara di atas Bangil-Sidoarjo-Pandaan. Mutar-muter terus. Hanya doa yang bisa dilakukan.

Alhamdulillaah pesawat mendarat mulus. Terbetik kabar setelah di darat. Ternyata Bandara Abdul Rahman Saleh tertutup awan tebal dan hujan deras. Tampak landasan pacu masih basah dan beberapa tergenang air.

Setiba di Tlogomas, saya pun makan sore bersama ibu saya. Sayangnya, bakso keliling langganan sejak SMP telah ludes. Alhamdulillaah berarti laris Bakso Cak No ini.

Selepas maghrib saya pamit menghadiri undangan adik2 panitia PSCS 2016. Pergelaran Seni Citra Smanti. Selepas isya’ saya memasuki arena. Alhamdulillaah, acara lancar. Gawean adik-adik itu sukses. Itu menurut ukuran saya, terlihat dari rapinya acara dan animo penonton. Saya pulang sebelum acara usai. Sudah terlalu larut.

Ahad pagi, bakda sholat subuh dan setelah sarapan buah, saya sempatkan ke lahan seorang teman yang minta dibantu dikembangkan. Plus saya ziarah ke makam bapak dan adik saya. Alhamdulillaah, pagi yang cerah. Perjalanan lancar. Tidak sampai sejam semuanya tuntas.

Pas melakukan transaksi di ATM untuk beberapa kebutuhan harian. Handphone tertinggal. Saya sadar setibanya di rumah. Alhamdulillaah, pas balik ke anjungan tunai mandiri itu, gadget masih utuh.

Sembari ngobrol sama ibu dan kakak, bakda dhzuhur, ada teman Nelly- NoerLailly K bersama suaminya, yang silaturahim sembari menawarkan usaha properti tanpa riba. Alhamdulillaah, dapat pencerahan. Plus rasa senang dan bahagia, karena banyak sahabat yang mulai berbisnis secara syar’i. Sesuai tuntunan Rasulullaah SAW.

Saya berencana balik lewat Bandara Juanda. Rencana ingin pakai public transportation. Saya kangen naik bus umum. Ibu pun menyarankan agar berangkat lebih dini. Hujan mulai mengguyur, mengiringi persiapan saya. Ketika tiba di mulut gang, jalan macet. Pemandangan umum, katanya, kalau pas Ahad. Apalagi hujan. Orang hampir bersamaan keluar dari tempat wisata. Dihitung normal plus lihat aplikasi di Mbah Google. Tak terkejar waktunya. Naik motor ke terminal, hujan lumayan deras. Tak jadi pilihan.

Saya kontak teman-teman yang punya mobil sewa. Alhamdulillaah, teman SMP yang memang sejak lama usaha sewa mobil, memberikan response dan langsung meluncur menjemput saya.

Alhamdulillaah, dengan peristiwa itu, ibu dan kakak perempuan saya ikut mengantar ke bandara. Kebersamaan pun bertambah, sayangnya kami tidak sempat mampir makan rawon. Mengejar waktu.

Saya tiba di bandara persis sejam sebelum pesawat berangkat. 3,5 jam perjalanan. Macet. Arus balik wisatawan. Alhamdulillaah, sholat pun ditunaikan di musholla bandara yang bersih dan nyaman.

Tidak lama masuk pesawat, saya pulas. Pas bangun ketika ada pengumuman, pesawat harus balik ke Bandara Juanda. Return to base. Pesawat mendarat mulus. Jadi heran kenapa balik. Kata salah satu crew, pesawat menabrak burung. Ada yang terganggu sistem pengatur kecepatan. Saya tidak tahu persis seperti apa. Alhamdulillaaah, diketahui masalahnya dan balik mendarat dengan selamat.

Beberapa penumpang ada yang mencoba cari pesawat lain untuk esok hari. Maklum saya ini naik penerbangan terakhir. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa.

Alhamdulillaah, pesawat pengganti siap dalam sekira 30-45 menit. Kami pun diterbangkan ke Bandara Soeta. Tiba di terminal yang baru dan megah itu, sekira pukul 00.30 WIB. Saya langsung naik taksi yang tidak perlu menunggu lama menuju rumah. Iya lah.. lha wong hampir pukul 1 dini hari… hi.. hi .. hi..

Sesampai di rumah, saya tidak berani merebahkan badan di kasur. Bisa tertidur. Karena saya janji untuk mengantar anak mbarep ke Bandara Soeta menuju kota tempat acara pertukaran mahasiswa di negeri seberang.

Waktu sempit itu saya gunakan untuk ngobrol. Tentunya juga meminta anak mbarep melakukan sholat bareng. Alhamdulillaah.

Saya ke bandara disetiri tetangga, sesuai rencana sebelumnya. Dia pun sudah bangun dan siap. Kalau tidak, saya nampaknya tidak kuat nyetir, Ngantuk berat. Alhamdulillaaah. Saya sempatkan tidur sepanjang perjalanan.
Bakda sholat subuh, anak mbarep check-in dan saya balik. Tidur lagi sepanjang perjalanan.

Alhamdulillaah, segar sekarang.

Saya pun berkata dalam hati :

Hai Ari WijayaDj,

‘Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ?”

Allahu akbar wa lillaahilhamd !

Musuhnya Orang Sukses by Jamil Azzaini

 

Anda ingin berhasil? Ingin menikmati hidup? Anda ingin selalu bertumbuh? Bila jawabannya YA, maka Anda perlu mengenali siapa musuh Anda.

Musuh terbesar ternyata bukan dari luar diri Anda, musuh itu Anda didalam diri Anda, dia bisa ikut kemanapun Anda pergi. Maka kenalilah agar Anda bisa memenjarakan musuh sejati Anda.

Musuh pertama bernama ALASAN.

Cobalah perhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di atas rata-rata, mereka semua menjauhi alasan. Mereka lebih fokus pada peluang dan solusi dari berbagai kejadian yang terjadi.

Alasan ini terkadang datang dalam bentuk pembenaran-pembenaran. Misalnya, “Ya wajarlah dia sukses sebab semua fasilitas tersedia. Sementara saya hidup dalam banyak keterbatasan, sudah bisa hidup begini saja sudah alhamdulillah.” Ucapan itu terlihat benar dan bijak, padahal terkandung alasan yang melemahkan. Ketahuilah, alasan itu mematikan kreativitas, membuat pikiran buntu dan membuat hidup Anda semakin kalah dan terpuruk.

Musuh kedua bernama TAKUT GAGAL.

Apakah tidak boleh takut? Boleh dan sangat dianjurkan untuk takut kepada Allah, takut berbuat maksiat, takut makan gaji buta dan sejenisnya. Namun Anda tidak boleh TAKUT GAGAL. Mengapa? Karena kegagalan itu pasangan sejatinya kesuksesan.

Tak ada orang sukses yang tak pernah gagal. Bahkan setiap kita pasti punya jatah kegagalan, habiskanlah selagi masih muda. Jangan sampai kegagalan justru datang di saat kita sudah tak bertenaga karena dimakan usia. Jadikan gagal menjadi pelajaran di dalam kampus kehidupan.

Musuh ketiga bernama ENTAR.

Entar alias malas dan sering menunda-nunda pekerjaan. Saat orang tua minta tolong dengan ringan Anda menjawa “entar bu.” Saat teman Anda minta tolong ucapan yang otomatis keluar “entar ya.” Saat ada pekerjaan di depan Anda yang terucap “entar ah.”

Apabila kata entar sudah sering terucap secara otomatis dari mulut Anda, itu pertanda salah satu musuh kehidupan sudah mengalahkan Anda. Segeralah sadar, lawan dan kini giliran Anda memenjarakan musuh yang bernama entar itu. Jangan terbiasa menunda pekerjaan. “Jangan mudah berkata entar tapi segeralah enter (masuk) dalam pekerjaan Anda” begitulah nasehat dari orang bijak.

Musuh kehidupan itu banyak, tapi tiga hal tersebut adalah “pemimpinnya”.

Segera kalahkan, bila kita ingin hidup di atas rata-rata.

 

*Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia

CEO Kubik Leadership. Owner puluhan bisnis yang juga penulis buku.

Kunjungi web beliau : www.jamilazzaini.com

Pinangan Perlu Persiapan

Eh.. ngomong-ngomong, apakah sahabat punya pasangan ? Suami ? Istri ? Sudah ada ? Bagi yang belum, segera ya. Saya doakan. Jika jawabannya, sudah punya, coba putar memori sejenak.

Bagaimana proses lamaran sang pujaan hati ? Ada yang sangat beruntung. Sekali mengutarakan maksud, langsung diterima. Tak jarang, yang harus melalui jalan berliku. Melakukan pendekatan lewat teman, saudara atau bahkan orang tua. Eeee… sudah all out, tidak disetujui. Proposal ditolak. Nggak putus asa, coba lagi dengan cara lain. Pas berhasil, meski dengan berbagai syarat, rasanya bagaimana ? Dunia seakan bernyanyi untuk kita. Indah. Bahagia tak terkira.

Dalam proses bisnis, mirip prosesnya ketika kita ingin mendapatkan barang atau jasa. Pasangan dalam hal ini vendor kita, sudah hadir di hadapan. Untuk mendapatkannya, kita melakukan upaya mencapai kesepakatan. Itulah proses negosiasi.

Negosiasi menjadi jembatan untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai kesepakatan. Bukan sesuai maunya atau hak kita saja. Hampir dipastikan, tidak ada yang ingin gagal dalam negosiasi. Ini seperti ungkapan Chester Karras, Doktor alumni University of Southern California. Ia yang menemukan metoda negosiasi yang efektif. Cara yang telah dipakai luas dan mendunia.

“In Business as in Life, You Don’t Get What You Deserve, You Get What You Negotiate”

Kualitas persiapan menghadapinya adalah kunci sukses tidaknya negosiasi. Banyak jalan melakukan persiapan. Dalam kesempatan ini saya ketengahkan secara singkat 4 aktivitas persiapan yang powerful.

Apa itu ?

  1. Cari alternatif terbaik terhadap suatu kesepakatan. Lebih populer disebut BATNA (best alternative to a negotiated agreement). Lakukan analisis berbagai kemungkinan yang ada dalam negosiasi, sehingga menemukan berbagai alternatif yang pada akhirnya mendapatkan keuntungan yang optimal. Karena harus siap tidak mendapatkan semua yang kita inginkan.
  2. Buat Agenda. Susun setiap tahapan ketika tatap muka. Topik yang dibahas apa saja dan urutan waktunya. Hal ini agar negosiasi berjalan efektif dan efisien. Kita tahu, kapan harus jeda atau bahkan dihentikan.
  3. Kembangkan daftar pertanyaan kritis. Hal ini untuk melakukan review bersama atas proposal yang diajukan vendor. Plus lakukan latihan seakan-akan terjadi negosiasi yang sebenarmya. Ini dikenal dengan Murder Boards, Mock Negotiations dan Crib Sheets.
  4. Siapkan draft agreement. Draft setidaknya berisi syarat dan kondisi standar yang berlaku umum ditambahkan dengan hal-hal yang sesuai dengan kebijakan internal. Dengan adanya rancangan ini pembahasan bisa straight to the point terhadap hal-hal yang masih berbeda. Di samping itu, dokumen tersebut sebagai pengetahuan hak dan kewajiban masing-masing secara dini.

Bagaimana sahabat ? Nampak relatif mudah bukan ? Bisa jadi, tak beda jauh ketika sahabat mempersiapkan pinangan dari pujaan hati. Memperbesar peluang untuk mendapatkan yang sesuai dengan idaman.

Mari kita terapkan agar hasil yang dicapai, utamanya sesuai dengan harapan kita.

Salam terobosan !

This is ariWAY

 

Jika sahabat mendapat manfaat dari artikel ini, silakan disebarkan.

Kunjungi  www.ariwijaya.com

Join di FB Group “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis” dengan klik :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Atau kirim email ke : ariwijaya@gmail.com