Dunia Menuju Deglobalisasi

Bacaan teman bersantai pagi hari. Silakan dikedapi.

DUNIA MENUJU DEGLOBALISASI?
by Fuad Bawazier, Menteri Keuangan RI 1998

Minggu lalu saya menulis bahwa kemenangan Brexit di Inggris dan Donald Trump di Amerika bisa jadi awal dari proses deglobalisasi ekonomi dunia yang dipelopori kedua negara kuat tersebut. Dulu kedua negara ini juga, dalam kepemimpinan PM Margareth Thatcher dan Presiden Ronald Reagan,- yang memelopori globalisasi.

DEGLOBALISASI bukan berarti meninggalkan sistem ekonomi pasar dg kapitalismenya. Perdana Menteri baru Inggris Theresa May dan Presiden baru Amerika Serikat Trump hanya ingin melepaskan negaranya dari ikatan atau kesepakatan-kesepakatan global dalam bidang ekonomi, khususnya perjanjian-perjanjian free trade and free investment, serta arus buruh dan imigran lintas negara, serta perlindungan lingkungan yg dirasakan merugikan kepentingan ekonomi nasionalnya dan mengurangi kebebasannya dlm mengatur ekonomi negerinya sendiri.

Amerika dan Inggris tiba tiba menyadari bahwa globalisasi atau internasionalisasi ekonomi yang digelorakan selama 3 dekade ini ternyata mengurangi kedaulatannya sendiri dalam mengatur berbagai kebijakan nasionalnya terutama dalam bidang ekonomi. Negara negara di Eropa misalnya, karena pembentukan Uni Eropa, telah melepaskan mata uang nasionalnya kecuali Inggris dan Swiss yg tetap mempertahankan mata uangnya sendiri. Karena menjadi anggota UE kini masing-masing negeri anggotanya tidak bebas atau leluasa mengatur kebijakannya sendiri dalam bidang investasi, perburuhan, pengungsi, arus keluar masuk barang ke negerinya dll.

“Pertukaran kedaulatan” seperti ini tentu saja memberikan keuntungan dan kerugian yang berbeda beda bagi anggotanya. Sementara itu karena globalisasi, instrumen instrumen koreksi konvensional seperti tarif dan pelarangan atau pengaturan arus buruh asing sudah dihapuskan. Padahal sistem tarif bea masuk sudah lazim digunakan sebagai koreksi atas perbedaan kekuatan antar negara (antar negara eksportir dan negara importir), atau dengan kata lain untuk melindungi produksi dalam negeri dari serbuan produk produk asing yang dapat mematikan produsen dalam negeri.

Prinsip utama yang terkandung dalam pengaturan ekonomi yg berasaskan perbedaan batas batas negara (prinsip nasionalisme atau kebangsaan) adalah perlindungan terhadap produsen atau produksi dalam negeri. Aliran ini berpendapat bahwa dalam jangka panjang negara produsen akan lebih kuat dan unggul atau memenangkan pertarungan global sebab lebih mandiri. Dengan kata lain, membayar sedikit lebih mahal untuk produksi nasional (dalam negeri) itu lebih baik dari pada membeli murah produksi impor. Orang Jepang misalnya, lebih suka membeli beras produksi petaninya sendiri meski jauh lebih mahal daripada beras impor. Tapi rakyat Jepang menyadari pentingnya mandiri beras daripada sekedar dijadikan pasar produk bangsa lain yg sewaktu waktu bisa saja mengembargo atau gangguan lainnya.

Tegasnya, salah satu perbedaan penting antara pengaturan ekonomi atas dasar pengakuan batas batas negara (nasional) dengan sistem global (meniadakan batas negara) adalah tarif utk melindungi produksi nasionalnya versus sistem global yg mengutamakan pokoknya murah demi keuntungan konsumen. Pada sistem global yang secara ekonomis meniadakan batas batas negara dg perbedaan perbedaan yg melekat, tidak penting barang itu berasal dari produksi dalam negeri atau impor, yang penting murah dan konsumen happy atau diuntungkan.

Aturan dan perjanjian perjanjian yang dihasilkan dalam rangka implementasi globalisasi yang awalnya di pelopori Amerika dan Inggris itu kini dirasakan merugikan atau memukul ekonomi nasionalnya dan lebih menguntungkan China. Kini Inggris dan Amerika cenderung ingin kembali ke ekonomi berdasarkan asas nasional dg mengakui kedaulatan ekonomi masing masing negara alias meninggalkan mazhab globalisasi. Tujuan atau alasannya agar lebih cocok dan sesuai dg kebutuhan dan tantangan ekonomi yg di hadapi negerinya. Tantangan2 itu terutama adalah bagaimana negerinya mampu menjadi produsen demi pertumbuhan ekonomi yg mampu membuka lapangan kerja. Buruh atau lapangan kerja dalam negeri harus di lindungi dari serbuan imigran dan buruh asing. Di lain pihak, buruh yg dilindungi itu tidak di izinkan meminta kenaikan upah minimum agar bukan saja tidak memberatkan produsen tetapi juga tidak merangsang masuknya buruh murah.

Produsen di dalam negeri tidak boleh terhalang oleh perjanjian-perjanjian dlm rangka globalisasi baik trade, investment, perdagangan, lingkungan dll. Dengan demikian serbuan barang impor yg menghantam industri lokal harus di batasi melalui bea masuk yg mampu memberi perlindungan terhadap kelangsungan industri dalam negeri. Inggris dan Amerika akan mencegah negerinya dijadikan pasar konsumen barang impor dg dalih lebih murah. Investasi didalam negeri baik dari investor lokal maupun asing akan di utamakan.

Prinsipnya adalah kepentingan nasional akan didahulukan.

Semua perjanjian atau ikatan internasional yg merugikan ekonomi nasionalnya atau melemahkan kemandiriannya, akan di hapuskan. Nampaknya Inggris dan Amerika percaya bahwa sistem ekonomi nasional suatu negara tidak bisa dipisahkan dg sistem politik nasionalnya. Sekurang kurangnya sepanjang kesatuan atau sistem politik negara negara itu masih berbeda beda, tidaklah mudah untuk menyatukan sistem ekonominya secara adil dan stabil. Perbedaan itu memang sunnahtullah dan nyata. Barangkali karena itulah maka Inggris dan Amerika kini kembali mengusung nasionalismenya masing-masing dengan membawa semangat kemandirian.

Sementara Indonesia kini menjadikan prinsip Trisakti Bung Karno atau swasembada pangan Pak Harto hanya slogan slogan kampanye politik.

Wallaahu a’lam bishawab.
Fuad Bawazier, 26 Januari 2017.

(Sumber : Republika.or.id dan WA Groups)

Jadilah yang Istimewa

Jadilah yang Istimewa
By Ari Wijaya

Pernahkah lihat koleksi lukisan yang harganya mahal? Atau mengikuti berita lelang ? Pada salah satu berita on-line, ada yang harganya USD 100juta. Kalau dirupiahkan, setara dengan Rp. 1,3 Triliun  ! Kenapa bisa mahal ? Karena gambar itu punya keunikan. Istimewa. Dilukis oleh orang terkenal. Pablo Picasso membuat lukisan itu pada tahun 1905.

Beli martabak pun ada yang mahal. Ia dijual ditempat khusus. Itimewa juga. Pun biasanya juga, telornya lebih banyak.

Ada juga trainer yang profesional feenya mahal. Ia punya ciri khas. Rekam jejaknya mantap. Banyak tim yang ditanganinya menjadi kampiun.

Bagaiamana dengan ibadah ? Betul. Ada juga ibadah yang mendapat perhatian khusus. Istimewa ! Apa itu ? Salah satunya adalah menegakkan sholat di Masjidil Haram, Mekah Al Mukarromah. Pahala yang didapat berlipat. Ganjaran yang istimewa.

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih baik 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad).

Pahala yang diberikan seratus ribu kali ! Kenapa coba ? Masjid ini ternyata punya kekhasan. Salah satu keistimewaan masjid ini adalah shaf-nya melingkar. Istimewa. Tidak dipunyai masjid lainnya di seluruh dunia.

Kenapa yang istimewa, unik, punya ciri khas, harganya lebih dari rata-rata ? Apresiasinya nggak umum ? Karena mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Tidak bisa disamai benda lainnya. Istimewa.

Lalu bagaimana dengan kita ? Pingin bisa menjadi seperti itu, bukan ? Ketika punya keistimewaan maka kita akan dihargai mahal. Saya sering sebut sebagai pendekar pilih tanding.

Saya punya 3 kiat membangunnya. How to be one person who have that position.

Itu yang disebut : Integritas, competent, dan resourceful. Saya singkat, I Core !

Integritas singkatnya adalah jujur. Having strong moral principle. Punya saringan kuat atas apa yang diperoleh. Ini hakku atau bukan? Pertanyaan yang selalu diajukan pada diri sendiri atas sesuatu yang diberikan kepada kita. Sesuatu yang kita peroleh.

Competent itu adalah orang yang punya keahlian. Mengembangkan diri hingga menjadi rujukan. Nara sumber. Jadi jangan merasa kapok kalau sedikit-sedikit orang lain meminta pertolongan anda. Itu pertanda, anda memang bisa diandalkan.

Resourceful diartikan panjang akal atau banyak akal. Tidak gampang bilang, nggak bisa ! Tidak mungkin ! Susah carinya itu ! Kalimat-kalimat itu, tak ada dikamusnya. Tidak kenal jalan buntu. Selalu cari jalan baru. Menjadi pemecah masalah.

Kalau sudah punya ‘I core’ (bisa diartikan : saya jadi intinya), maka perlu ditambah attitude gemar melakukan kolaborasi dan berbagi. Saya sebut Coring. Singkatan dari kata collaboration and sharing).

Kolaborasi adalah bekerja sama dalam kebaikan. Saling mengisi dan menambah kemampuan. Sehingga satu ditambah satu tidak hanya menjadi dua, bahkan 1+1 bisa menjelma menjadi 3 atau 5. Kekuatan yang lebih dahsyat. Perpaduan yang memberikan energi positif lebih berdaya guna. Berpeluang memberikan perubahan dan jungkitan lebih besar.

Sharing dapat diartikan kemauan untuk berbagi. Termasuk ilmu, harta dan tenaga. Tanpa menunggu status tertentu. Tak perlu menunggu kaya, atau pintar, bergelar dan lain-lain. Karena parameter itu pun semu. Bias. Punya sedikit dibagi. Punya banyak apalagi. Tanpa menunggu kata : entar, nanti. Karena berbagi sejatinya adalah bersyukur.

Mari sahabat kita berupaya menjadi insan istimewa. Punya keunikan. Kekhasan. Karena yang istimewa itu akan bernilai mahal.

Ingat kiat I-CORE and CORING !

Makkah, 10 Januari 2017

Menjelang Waktu Ashar di Kawasan Ajyad. Tepatnya di Hotel Dar Al Eiman. Hotel yang menyediakan layanan shuttle Ajyad – Masjidil Haram, dengan menggunakan mobil listrik. Lumayan membantu bagi yang berangkat ke masjid saat injury time.

Rasa Cinta

Rasa Cinta
By Ari Wijaya

Waktu muda dulu ada istilah wakuncar. Waktu kunjung pacar. Ngapel. Seperti ritual wajib di Hari Sabtu malam. Jadi ketahuan ya, saya generasi tahun berapa.

Hari Sabtu sangat ditunggu. Rasa ingin kembali. Kalau bisa Hari Sabtu berputarnya cepat. Pingin segera jumpa. Itu semua hampir dipastikan karena ada rasa cinta. Meski hanya kepada seorang manusia. Cinta kepada lawan jenis. Kalau tidak hadir atau terlewat. Rasanya dunia hambar. Sepo ! Tak bermakna. Garing. Padahal belum tentu juga jadian, ya. Gemuruh dada tak henti-hentinya. Ehm….

Bagaimana jika itu cinta kepada Rasulullaah SAW ? Nabi dan rasul yang dikirim untuk memperbaiki akhlak kita. Dan juga cinta kepada Allah. Bisa dibayangkan ? Sudah pasti harus jauh melebihi cinta saat wakuncar.

Itulah yang kami rasakan ketika tawaf wada’. Tawaf perpisahan di Masjidil Haram, Subuh tadi.

Salah satu petikan doa dan dzikir kami :

“Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa Mengembalikan, kembalikanlah aku ke Ka’bah ini dan berilah aku rezeki untuk mengulanginya berkali-kali, dalam keadaan bertaubat dan beribadat, berlayar menuju Tuhan kami sambil memuji, Allah Maha menepati janjiNYA, membantu hamba-hambaNYA, yang menghancurkan sendiri musuh-musuhNYA. Ya Allah, perilharalah aku dari kanan, kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku”

Semoga rasa cinta yang mendalam membawa kami kembali ke tanah suci.

Doa serupa saya panjatkan untuk sahabat semua. Doa kesehatan, keselamatan dan kelapangan rezeki.

Kelak, suatu saat, kita bisa bersama-sama mengumandangkan :

“Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarikalaka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syarikalak”

(“Aku memenuhi panggilanMU ya Allah, aku memenuhi panggilanMU. Aku memenuhi panggilanMU tiada sekutu bagiMU aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMU begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMU”).

Sekali lagi, semoga rasa cinta itu membawa kami kembali.

Jeddah, 11 Januari 2017

Saat menunggu boarding kembali ke tanah air. Di lounge yang sederhana di King Abdul Azis International Airport.

Tentang Visi

Tentang Visi
By Ari Wijaya

Perjalanan Madinah ke Makkah menyisakan satu rasa penasaran. Saya simpan karena ada perintah leader group umroh untuk mematikan handphone hingga prosesi umroh tuntas.

Penasaran tentang apa itu ? Visi 2030 Saudi ! Saya jadi nyambung dengan upaya perusahaan yang kita cintai ini yang sedang mengubah visinya.

Ini dia visi 2030 itu :

“Saudi Arabia..the heart of the Arab and Islamic worlds, the investment powerhouse, and the hub connecting three continents”

visi/vi·si/ adalah pandangan atau wawasan ke depan. Itu sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Saya coba ketengahkan pada sesi tulisan ini.

Apa yang ada dibenak jika ditanya tentang Arab Saudi ? Negeri kaya raya ? Ya. Apa sumber kekayaannya? Hampir dipastikan dijawab : Minyak ! Makanya tidak salah kalau disebut negeri Petrodolar.

Mereka kini berupaya berubah. Arab Saudi akan mengalihkan sumber pendapatan negerinya bukan lagi dari emas hitam itu. Tidak lagi dari oil and gas.

Beberapa program terkait dengan program haji dan umroh. KSA atau Kingdom of Saudi Arabia akan mulai menggarap peningkatan diharapkan hingga 30 juta jamaah umroh setiap  tahun. Saat ini tercatat baru 8 juta jamaah per tahun.

Ini salah satu menjawab penasaran saya. Kenapa pembangunan infrastruktur terkait untuk meningkatkan kapasitas dan pelayanan jamaah pun ditambah. Jalan raya diperlebar. Ketika perjalanan Jeddah-Madinah. Maupun beberapa tempat yang kami lewati dan kunjungi.

Pengembangan bandara di Taif. Sekira 70km sebelah Tenggara Kota Mekkah. Pun pembangunan Bandara Jeddah yang baru. Pembangunan hotel-hotel baru. Dan tentunya,  yang ditunggu umat Islam, penyelesaian perluasan Masjidil Haram.

Masih banyak program-program yang visioner lainnya.

Inisiasi ini ditugaskan kepada Mohammad bin Salman bin Abdul Azis. Pemuda berusia 31 tahun. Mantan Gubernur Riyadh. Saat ini, Menteri Pertahanan Arab Saudi.  Sekaligus Wakil Putra Mahkota Raja Arab Saudi.

Targetnya, Arab Saudi tidak lagi bergantung pada minyak bumi. Usaha yang patut dicermati. Karena memang Arab Saudi punya potensi besar lain yang kini digali kembali. Dan lebih serius.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa:

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian”

Insya Allah, tidak lama lagi terwujud kembali. Mereka mengubah cara berpikir dan bertindak sebagai antisipasi perubahan. Jalan ke arah itu pun sudah mulai menampakkan hasil.

Makkah, 8 Januari 2017

Sembari menunggu giliran mandi, selepas umroh bersama group.

Ketaatan Itu Mahal

Ketaatan Itu Mahal
By Ari Wijaya

Dalam balapan formula 1 dikenal ada beberapa strategi. Pembalap harus ikuti arahan team managernya. Abai bisa berakibat fatal.

Perusahaan pun demikian ada arahan strategis CEO. Pun harus pula ditaati. Kalau tidak bisa jadi perusahaan tidak maju seperti yang diharapkan. Dalam lingkup yang lebih kecil, arahan dan perintah atasan harus ditaati.

Bukit Uhud adalah hikmah yang sangat besar. Perang antara pasukan Rasulullaah SAW dengan Pasukan Koalisi Kaum Quraisy. Pada awal pertempuran pasukan Nabi Muhammad SAW memukul mundur pasukan lawan yang jumlahnya 5 kali lipat. Strategi menempatkan pasukan pemanah di atas bukit sangat jitu. Itulah kuncinya. Rasulullaah SAW memerintahkan, apa pun yang terjadi pasukan pemanah tidak boleh meninggalkan posisinya. Baru boleh beranjak setelah ada perintah Nabi Muhammad SAW.

Pasukan musuh pun kocar kacir. Kemenangan nampak di depan mata. Musuh terlihat mundur, tapi perang belum usai.

Harta dan perbekalan yang dibawa musuh tertinggal di camp. Ditinggal kabur. Terlihat jelas dan banyak. Ghanimah !

Perang belum dinyatakan usai. Pasukan pemanah khilaf. Mereka ikut turun dari gunung. Meninggalkan pos. Melanggar perintah sang pemimpin, Rasulullaah SAW.

Di saat itulah, pasukan berkuda Quraisy melihat peluang. Karena pasukan di atas bukit itulah yang membuat mereka tunggang langgang. Mereka mengitari bukit. Dan menghantam balik.

Serangan balik yang dahsyat. Banyak yang gugur termasuk Paman Nabi, Hamzah RA. Tercatat 70 an orang menjadi syuhada.

Ketaatan itu mahal. Nampak sepele. Berasumsi pekerjaan sudah tuntas. Seharusnya perintah bahwa tugas selesai adalah dari sang pemberi perintah. Bukan ukuran kita sang penerima. Jika belum, maka apa pun alasannya, pekerjaan belum usai.

Semoga perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita semua. Bagaimana menyikapi perintah. Merawat ketaatan. Ketaatan itu mahal. Abai bisa berakibat fatal.

Jabal Uhud hanya berjarak sekitar 5 Km dari Masjid Nabawi Madinah. Bukit yang menjadi saksi sejarah. Pun hikmah bagi kita semua.

Madinah, 7 Januari 2017

Selepas makan malam bersama rombongan

Antrian yang Dirindukan

Antrian yang Dirindukan
By Ari Wijaya

Pernahkah antri beli tiket kereta api menjelang lebaran ? Atau antri menukarkan tiket Final Piala AFF ? Atau antrian periksa kesehatan ? Atau menunggu giliran beli makanan ?

Capek ? Kadang kesal. Harap-harap cemas.

Tapi itu semua rela dilakukan. Why ? Karena ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Mendapat hal yang spesial. Keutamaan. Beda lho nonton langsung di lapangan bola. Atau  mendapatkan apa yang diinginkan. Diidamkan. Apalagi setelah lama ditunggu.

Sama halnya ribuan orang yang rela disekat beberapa lapis menunggu giliran. Mereka mengantri masuk Raudhah. Area antara mimbar masjid Nabawi dan rumah Rasulullaah SAW.

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga.”

Hadits  ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah.

Taman surga yang ada di dunia. Banyak keutamaan melakukan ibadah di tempat ini. Pahalanya berlipat ganda.

Banyak dalam Al Qur’an digambarkan seperti apa surga itu. Dan tentunya, menjadi tempat yang paling diiginkan bagi orang beriman.

Kalau sudah seperti itu. Siapa pun akan rela mengantri. Antrian yang selalu dirindukan.

Madinah, 5 Januari 2017
Menjelang waktu isya’.

Note :
Saya mendoakan agar teman-teman berkesempatan antri dan masuk Raudhah.

Silakan berniat mulai sekarang. Termasuk usaha fisik lainnya. Salah satu yang utama, menabung. Tiada yang tidak mungkin.

Semoga menginspirasi dan menyemangati teman-teman.

Teko

Teko
By Ari Wijaya

(inspired by Jamil Azzaini’s story at Jeddah, Saudi Arabia)

Siapa yang pernah punya teko? Atau setidaknya pernah lihat ? Itu lho tempat minum sebelum dituang ke gelas. Biasanya sih berwarna hijau ada paduan putihnya (baca : loreng seperti baju tentara).

Yuk kita perhatikan dengan baik. Kalau yang keluar kopi susu, maka apa isi di dalam teko?

Pasti wedhang kopi susu. Nggak bakalan air putih.

Begitu pula, jika yang keluar dari teko pas dituang, air putih biasa. Pastinya di dalam teko isinya nggak bakalan teh.

Kita ini ibarat teko. Apa yang kita keluarkan baik amal,
sedekah, atau pun ucapan. Tergantung seperti apa diri kita.

Kalau sering keluar kata-kata kotor. Ujaran memaki seperti sudah biasa. Maka bagaimana isi otak atau tubuh orang itu ? Nampaknya tak perlu dijawab, bukan ? Retoris.

Lha, terus bagaimana agar teko berisi baik ? Ingat pelajaran Biologi, tubuh kita tersusun dari apa? Ya, 70% berupa cairan, bukan?

Hubungannya apa ? Begini, ada air zamzam. Sumber mata airnya tiap hari didoakan ribuan manusia. Bagaimana tidak, saat thawaf mengelilingi ka’bah, sarat dengan doa. Belum lagi oleh orang yang berdiam diri di Masjidil Haram, tilawah,  membaca Al Qur’an. Bahkan pada waktu tertentu didoakan oleh jutaan manusia. Ibadah haji. Sehingga banyak manfaat yang didatangkan air zamzam ini.

Jadi, memperbanyak doa dan perbuatan positif akan mempengaruhi isi tubuh kita. Bergaul dengan orang sholeh akan mempengaruhi tubuh kita. Menghindari perbuatan dan kumpulan yang tidak perlu. Kelompok yang non produktif juga perlu dijauhi. Pun, kita buat kelompok yang aksinya membawa kemaslahatan.

Mari bersama-sama kita  memperbaiki diri dengan amalan pribadi dan amalan jama’i (bersama) yang baik. Teko kita insya Allah akan berisi baik. Outputnya pun jadi baik dan bermanfaat bagi orang di sekitar kita.

Jeddah, 4 Januari 2017

Saat melaju menuju Kota Madinah Al Munawaroh. Mengawali ibadah umroh awal tahun ini.

Bosan Jadi Pion ?

“Novendra diprediksi 3 tahun lagi dapat meraih gelar Grand Master (GM)”, begitu bunyi head line sebuah media online.

Ya, GM adalah salah satu istilah gelar pada olahraga catur. Cabang olah raga yang tidak sepopuler sepakbola di negeri ini. Gelar GM menjadi dambaan pecatur. Itu masih langka. Beberapa nama telah mengharumkan nama Indonesia. Tercatat seperti Utut Adianto, Susanto Megaranto, Irene Kharisma, Medina Aulia. Dua nama terakhir adalah GM perempuan yang dimiliki Indoensia.

Permainan Catur berisi bidak hitam dan putih yang digerakkan dan memakan lawan. Ada Raja, Ratu, Menteri, Kuda, Benteng dan Pion alias Prajurit.

Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menyoroti bidak yang satu ini. Pion alias prajurit. Coba lihat dengan seksama. Satu giliran demi giliran. Ia selalu berjalan maju. Meski hanya satu-satu langkahnya. Tak pernah mundur. Tak jarang, karena kepentingan strategi, ia dikorbankan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Umpan.

Perhatikan dalam beberapa kejadian. Dalam situasi tertentu ia bisa menjadi penyelamat dan kunci kemenangan. Kapan ? Ketika ia berhasil maju hingga batas akhir. Ia bisa berganti peran menjadi Benteng, Kuda, Menteri atau Ratu sekali pun. Hampir dipastikan semangat bertambah. Aura kemenangan nampak lebih terlihat cerah.

Sahabat, tahun berganti bisa jadi posisi kita masih sama. Memang sebagian orang berkata itu kondisi merugi. Betul, jika dilihat dari sisi tidak memanfaatkan kelebihan dan kesempatan. Tapi jika posisi memang harus bertahan. Kesempatan belum ada. Kondisi perusahaan tidak beranjak baik. So, posisi sama pun patut kita syukuri. Bisa jadi pion lagi, prajurit lagi, posisinya.

Bosan jadi pion ? Ehm.. tahan. Tak perlu berkecil hati. Saran saya, jangan dipelihara, sahabat. Singkirkan  pikiran semacam itu. Setidaknya kita tetap punya semangat maju. Meski tidak secepat lainnya. Semangat bidak pion tadi patut kita ambil hikmahnya. Ia tetap maju. Paling parah, berhenti. Tapi, prajurit itu tak pernah membuat langkah mundur. Itu yang terpenting.

Bagaimana menyikapinya ? Kita tambah pengetahuan. Tambah kemampuan. Nampak seperti berhenti, bukan. Sejatinya, kita bergerak. Yah, otak dan pikiran kita terus diperkaya. Berbagai cara maju kita lakukan. Plus tiada henti bermunajat, menghamba kepada Sang Maha Pencipta.

Pion pun bisa menjadi penyelamat. Pemberi percikan semangat kemenangan. Pada saat yang tepat sang prajurit bisa punya peranan hebat.

Lha kalau pion saja punya semangat bak pendekar pilih tanding, apalagi yang lainnya, bukan ?

Yuk terus berbenah. Maju meski hanya selangkah. Terus berikhtiar dan berdoa. Insya Allah kemenangan berpihak kepada kita yang terus berusaha.

“Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridlaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

(QS Al-‘Ankabuut : 69)

Selamat menjalankan amanah di tahun 2017 ini. Apa pun itu, mari kita niatkan sebagai salah satu amal sholeh terbaik kita.