Duduk (tak) Manis

Ketika mengambil studi lanjut, saya pernah mendapat saran dari seorang dosen.

“Kalau ingin mendapatkan pemahaman lebih utuh, silakan masuk kelas saya”, ujar beliau ketika saya berkonsultasi. Saya merasa belum paham. Sedangkan waktu ketika itu terbatas. Beliau ada agenda lain.

“Kebetulan masih ada bangku kosong”, tambah beliau sembari menyodorkan jadwal mengajarnya.

Kesempatan yang tak pantas ditolak. Saya menyambutnya dengan senang hati. Tanpa melakukan perubahan KRS. Hanya perlu upaya pengaturan waktu. Beberapa kawan senasib, ternyata juga punya antusiasme yang sama.

Beberapa waktu lalu, ada tawaran program pelatihan. Saya membutuhkannya untuk meningkatkan kompetensi. Namun, biaya untuk mengikutinya perlu merogoh saku lebih dalam. Terbilang dua digit. Sayangnya, semua saku telah ditengok, masih saja belum cukup. Kesempatan emas kali itu, terpaksa saya lewatkan. Menabung dulu, pikir saya.

Selang beberapa hari, teman yang mempunyai lembaga pelatihan yang ingin saya ikuti, menawarkan saya untuk masuk kelas, bisa 1-2 sesi. Semacam mencicipi bagaimana jalannya dan materi pelatihan itu. Tentunya, tak berbayar. Menarik. Sayangnya, jadwal yang ditawarkan kali ini, berbenturan dengan acara yang tidak dapat saya wakilkan. Terlepas opportunity kali ini.

Pernah mengalami penawaran seperti itu ?

Kesempatan semacam itu disebut sit-in. Terjemahan bebasnya adalah mengikuti kegiatan untuk mendapatkan penjabaran materi yang sama pada program yang sedang berjalan bersama peserta yang juga sudah ada. Fasilitas yang kurang lebih mirip dengan peserta ‘asli’. Tidak berbayar tentunya.

So, bukan sekedar duduk manis mengamati program. Tapi turut menyimak dan mengikutinya hingga tuntas. Tentunya juga agar mendapatkan pemahaman yang sama.

Sahabat, pingin sit-in dalam acara saya bersama AIR Business Consulting dan Pak Laksita, sang pakar bisnis dan marketing ?

Segera kirim minat dan konfirmasi melalui WA  :

08119090190 (Sisrie) dengan format :

SITIN-CK-Nama-Profesi

Kami menyediakan 29 tempat duduk untuk sahabat yang mengikluti program sit-in ini. Jadi jangan sampai kehabisan.

Waktu eventnya dicatat ya :

Sabtu, 29 April 2017, 08.00 – 11.30 WIB di Gedung. Prof. Ir. Suryono, FTUB, Jl. MT. Haryono 167, Malang 65144.

 

Sampai jumpa di Malang !

Ada Apa dengan Senin

“Waduuh… esok sudah Senin lagi, nih !”

Celetukan itu tidak sedikit yang mengalaminya. Apalagi setelah long week-end. Tidak jarang Senin merupakan hari yang tidak disuka. Kecuali Senin tanggal ‘merah’, pas hari libur nasional.  Berangkat harus lebih pagi. Entah kenapa, area Tangerang Selatan daerah tempat saya menetap atau juga Jakarta, pada Hari Senin acapkali jalan lebih sering macet. Kendaraan lebih padat. Perasaan lebih terburu-buru. Makanya seakan-akan banyak yang nggak berharap datangnya Hari Senin. Kalau bisa, ini hari yang harus diskip. Dilompati ! Padahal hari ini harus dilalui untuk memasuki Hari Selasa. Debatable !

Ijinkan saya memaknai Hari Senin ini dengan kegiatan lain. Insya Allah membawa manfaat. Agar Senin berubah menjadi hari yang ditunggu-tunggu.

Saya mendapat ide untuk mengajak sahabat bertatap muka. Kita berbagi pengalaman. Sharing knowledge. Harapannya, ada solusi yang didapat. Agar mangkus dan sangkil (efektif dan efisien), setidaknya ada 4-5 orang dalam 1 sesi.

Secara rutin, saya menyediakan waktu setiap Hari Senin, pukul 17.15-20.00 WIB. Kebetulan di Graha Elnusa ada cafe tempat ngopi dan ngobrol, Coffee Toffee. Kita bertemu di situ.

Lalu apa diskusinya ? Saya berharap bisa saling berbagi atas upaya-upaya penghematan. Lebih fokus, dengan ide terobosan pada proses bisnis. Ya, tema yang tidak jauh berbeda dengan buku saya, Cost Killer. Saya yakin dengan bertemunya 4-5 orang, akan mendapatkan banyak pandangan. Ide cemerlang. Solusi jitu. Mimpinya, Hari Senin menjadi hari pemecah masalah. Saat kita mendapatkan ide melejitkan profit. Berhemat biaya. Bahkan ide liar lainnya.

Ini saya namakan, SeniNaik ! Sesuai dengan tujuan besar ide kecil ini.

Mau ?

Jika sahabat berkenan dan punya antusiasme yang sama, silakan kontak Ayu di WA : 085692053051. Ayu akan membantu saya sebagai perencana dan pengatur jadwal. Schedule planner.

Ada juga sesi insidentil. Tergantung pesanan. Event yang tidak rutin. Misal di akhir sesi seminar atau pelatihan Cost Killer. Itu juga boleh.

Jadwal terdekat sesi spesial itu ada di Malang ! Pada Sabtu, 29 April 2017 pagi. Saat acara Bedah Buku ‘Cost Killer’ bersama Pak Laksita Utama Suhud (Expert-nya marketing & bisnis) dan Saya sendiri. Bertempat di Gedung Prof. Ir. Suryono, FTUB, Jl. MT. Haryono 167, Malang. Kita bisa lanjut diskusi setelah acara usai.

Khusus info rinci atas event ini bisa kontak : Sisrie di 08119090190. Silakan mulai mencatatkan diri untuk memesan tempat duduk.

 

Semoga hal ini manjadi catatan amal sholeh kita.

 

Solusi Itu Hadir !

Teman saya bingung ketika memulai usaha di Jakarta. Usahanya belum terlalu besar, tetapi sudah menggeliat. Lantas apa yang membuatnya bingung ?

Ia berencana menyewa rumah sebagai Head Office di daerah Cilandak. Apa daya, ternyata izin domisili tidak dapat diperoleh. Ya, Pemprov DKI Jakarta tidak memperbolehkan rumah tinggal ataupun ruko sekalipun untuk dijadikan kantor. Peraturan yang debatable, tetapi ada sisi positifnya, agar kawasan permukiman memang tempat untuk istirahat. Terlebih, kawasan perdagangan (CBD) juga tumbuh sejalan dengan tumbuhnya usaha.

Masalah baru pun timbul, Ia harus sewa kantor? Dan dana masih fokus untuk pengembangan usaha. Kebutuhan ruang masih belum besar, Ia masih membutuhkan yang luasan lantainya di bawah 50 m2, bahkan lebih kecil lagi. Tidak mudah memang memperoleh tempat yang representatif, fasilitas lengkap tapi affordable dan terjangkau biaya sewanya.

Beberapa sahabat dan relasi, utamanya yang sedang membangun bisnis, mempunyai kendala serupa. Anda juga mengalami hal yang sama ?

Optimo @Graha Elnusa menjembatani kebutuhan itu, menyediakan ruang kantor berfasilitas lengkap di lantai 5. Kami menyediakan :

  • Serviced office
  • Virtual office
  • Co-working office
  • Meeting room

Kami bersyukur fasilitas penunjangnya memang sangat lengkap.

 

Fasilitas apa saja itu ?

Keperluan transaksi perbankan. Bank Mandiri siap melayani di area lobi utama. Dilengkapi pula dengan ATM center dari berbagai bank terkemuka.

Keperluan ruang meeting disediakan dari kapasitas kecil 4 – 12 orang, untuk rapat koordinasi atau conference, disediakan juga ruang dengan kapasitas 20 orang. Bahkan kami juga menyediakan dengan kapasitas hingga 200 orang.

Café sebagai bagian dari life style kekinian, juga siap melayani. Coffee Toffee hadir sebagai penyemangat aktivitas. Ngopi di pagi hari sekaligus membahas bisnis bisa juga dilakukan di sini.

Ofiskita sebagai salah satu layanan integrated document services juga telah hadir. Ofiskita akan melayani kebutuhan alat tulis dan kantor, termasuk layanan dokumen lainnya. Reputasinya tak perlu diragukan, Ia dikelola oleh Astra Graphia.

Masjid sebagai sarana ibadah pun sudah lama menjadi ikon Jakarta Selatan. Ya, Masjid Baitul Hikmah Elnusa. Kapasitasnya bisa menampung hingga 1.000 jamaah. Kajian selepas dzuhur bersama penceramah berbobot menjadi ciri khasnya.

Kebutuhan asupan energi ? Tidak perlu khawatir ada food court dengan harga terjangkau dalam kawasan perkantoran. Buguri Box khas makanan Aceh, Masakan Padang, Gudeg, Pecel, Nasi Rames, Masakan Oriental, Kuliner Manado, dan masih banyak lainnya. Buka dari saat sarapan hingga menjelang maghrib. Bahkan beberapa buka hingga pukul 8 malam.

Parkir pun tak perlu khawatir 350 lot untuk mobil, 600 lot untuk sepeda motor telah disiapkan. Tarif ? Masih sesuai dengan tarif parkir pada umumnya.

Optimo adalah solusi yang kami tawarkan. Ruang kerja berperalatan lengkap, berfasilitas wifi, business lounge, meeting room dan dapat diakses 24 jam.

Jika anda tidak ingin pusing berlama-lama. Beberapa calon tenant pun sudah memsan tempat jauh hari. Tak mau kehilangan kesempatan ?

Silakan kontak dan book  sekarang melalui :

Dyan Karina | 0813 1890 3362 | dyan.karina@elnusa.co.id | marketing-graha@elnusa.co.id

 

Optimo is optimum office with affordable price.

Graha Elnusa Lt. 5, Jl. TB. Simatupang Kav 1B, Cilandak, Jakarta Selatan 12560.

 

Bisa jadi tak berdampak langsung bagi tim kami. Tapi denyut manfaatnya sudah mulai terasa. Lecutan semangat tambah membara !

Tipe Menyerah atau Curang by Azrul Ananda

Tipe Menyerah atau Curang

By Azrul Ananda *)

Jawa Pos : RABU, 29 MARET 2017

ANDA tipe gampang menyerah? Atau tipe yang suka menyiasati keadaan (dalam artian curang)? Kalau jawabannya iya, bagaimana?

***

Saya beruntung bekerja di media. Tidak pernah ada dua hari yang sama, tidak pernah ada rutinitas. Bertemu banyak macam orang, bekerja dengan berbagai tipe manusia.

Saya juga bersyukur bisa menekuni sejumlah hobi. Selalu belajar sesuatu yang baru. Selalu berkenalan dengan orang baru. Selalu belajar tentang atau dari orang-orang baru itu.

Sabtu, 25 Maret lalu, saya bertemu dan berkenalan dengan begitu banyak orang baru. Ketika menyelenggarakan event bersepeda Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km, dari Surabaya menanjak ke Wonokitri, Bromo, via Pasuruan.

Bersama puluhan teman menjadi road captain, kami bekerja seperti gembala. Membawa total 1.170 cyclist dari 15 negara, termasuk yang mewakili 109 kota di berbagai penjuru Indonesia.

Semua mendaftar untuk ikut ’’sengsara’’, merasakan beratnya tanjakan menuju Wonokitri itu. Total tanjakannya hampir 40 km, menantang ketahanan fisik dan mental, dengan bagian akhir paling menyiksa: Tanjakan miring sampai 18 persen pada sekitar 250 meter memasuki Pendapa Wonokitri, di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Bagi kami cyclist di Jawa Timur (cyclist beneran yang tidak takut menanjak, bukan cyclist-cyclist-an yang hanya bike-to-eat), tanjakan menuju Wonokitri itu sudah berkali-kali kami lalui. Tapi, tidak pernah sekali pun terasa makin gampang.

Bahkan, kalau badan sedikit saja tidak fit, sangat mungkin tidak akan berhasil finis.

Nah, membayangkan ada lebih dari seribu orang mencoba menaklukkannya, dengan berbagai macam kemampuan, akan memberikan pemandangan seru.

Mereka yang kuat, tidak perlu diperhatikan. Itu merupakan hasil semangat dan dedikasi untuk berlatih, menjadikan diri semakin kuat dan tangguh.

Ada pula mereka yang tahun-tahun sebelumnya gagal finis, dan telah rutin berlatih supaya tahun ini bisa finis.

Mereka yang ’’tanggung’’, itu yang menarik untuk dibahas. Melihat pemandangan dan ulah-ulah manusia di tanjakan panjang itu, saya membayangkan seharusnya banyak dosen psikologi mengajak pelajar-pelajarnya untuk ikut mengamati. Karena di saat menghadapi tantangan berat seperti itulah, sifat-sifat manusia bisa kelihatan. Dan belum tentu sifat yang baik.

Saya dan sejumlah road captain memutuskan untuk berangkat agak belakang di bagian terakhir event. Yaitu, 17 km terakhir yang terberat, dari Desa Puspo menuju Wonokitri.

Kalau sehat, saya saja butuh sekitar 1 jam dan 20 menit untuk menyelesaikan bagian akhir itu. Kebanyakan cyclist yang tergolong mampu menanjak akan membutuhkan waktu 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Mereka yang tergolong sangat kuat atau atlet akan membutuhkan waktu di kisaran 1 jam.

Dari Desa Puspo, rombongan diberangkatkan pukul 10.15 pagi itu. Kelompok saya baru berangkat sekitar 20 menit kemudian. Selain untuk menjadi alat ukur waktu panitia, juga untuk melihat situasi dari sudut pandang belakang.

Plus, badan saya waktu itu juga tidak fit, beberapa hari sebelum event mengalami radang tenggorokan (beberapa yang lain sama).

Pemandangan dari belakang benar-benar seru. Ratusan peserta kami lalui dalam 17 km tersebut.

Sekitar 8 km sebelum finis, sudah banyak yang bergelimpangan di pinggir jalan. Entah karena kram, atau murni karena lelah. Bau balsam juga mulai tercium dari mereka.

Tidak sedikit di antara mereka yang menyerah. Memilih berputar balik turun ke bawah dan pulang. Atau naik mobil pendamping untuk pulang.

Ada yang tetap bertekad untuk mencapai finis dengan segala kekuatan. Walau kadang harus berjalan menuntun sepeda. Dan mereka terus berusaha mencapai finis sampai jam berapa pun, walau time limit sudah terlewati dan segala acara di puncak telah selesai.

Bagi saya, ini yang tergolong ’’terhormat’’, karena tetap berupaya finis menggunakan tenaga sendiri.

Ada pula yang mulai ’’mencari bantuan’’ mobil atau motor pendamping. Caranya tetap duduk di atas sepeda, tapi tangannya memegangi mobil atau motor sehingga dapat ’’tenaga lain’’. Lalu, ketika mendekati finis, mereka kembali mengayuh sepeda, sehingga seolah-olah finis beneran.

Ada lagi yang tidak punya akses terhadap mobil atau motor pendamping, lalu memutuskan mencari cara lain. Yaitu: Melobi motor-motor penduduk untuk mau membantu mereka naik ke puncak. Alias ngojek. Teman saya yang tinggal di kawasan itu bilang, Sabtu itu ojek laku keras.

Melihat itu semua, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Panitia sudah menyediakan banyak truk dan pikap untuk mengevakuasi peserta-peserta yang melewati time limit. Tapi, banyak yang tetap memilih pakai ojek atau bantuan pihak lain.

Jangan-jangan, mereka malu kalau diangkut pakai mobil resmi. Dan merasa lebih gagah atau bergengsi kalau menggunakan cara-cara ’’alternatif’’ tersebut.

Dan di berbagai cycling event di Indonesia, trik-trik itu sudah sangat lazim. Pernah waktu di kawasan Jogjakarta, ada peserta dari Jawa Tengah yang sengaja tidak ikut start dengan peserta lain. Mereka memilih naik mobil dulu sampai kaki tanjakan, lalu baru memulai bersepeda ketika rombongan sudah sampai di sana.

Hadeh-hadeh… Lha gitu itu maksudnya apa?

Ulah-ulah orang-orang itu benar-benar bikin geleng-geleng kepala, dan bahkan menggelikan.

Mereka orang dewasa. Kebanyakan berpendidikan. Banyak yang tergolong mampu. Tapi tetap memilih cara-cara seperti itu.

Dan kalau dipikir-pikir, bukankah itu cerminan banyak masyarakat Indonesia? Yang memilih jalan pintas –yang sering tidak terhormat– daripada bersusah-susah payah?

Bagi mereka-mereka itu, saya hanya bisa berdoa dan berharap. Semoga hati mereka dibuka, diberi kekuatan, supaya terpacu untuk berlatih dengan sungguh-sungguh. Supaya kelak tidak harus curang, tidak harus mencari jalan pintas.

Mau kuat? Ya latihan. Saya dulu juga tertatih-tatih kok kali pertama menanjak Bromo. Harus berhenti belasan kali sebelum benar-benar sampai ke atas. Tapi, waktu itu tidak mau menyerah. Harus bisa finis dengan kekuatan sendiri.

Saya tidak finis juga pernah saat latihan. Dan itu tidak apa-apa. Karena kaki sudah kram tidak mungkin dipaksakan lagi.

Saya juga berdoa dan berharap supaya event seperti Bromo 100 Km itu bisa menjadi pelajaran untuk tidak menjadi cyclist yang ’’manja’’. Yang ke mana-mana minta dikawal, membawa mobil pendamping.

Ikut event-event serupa di luar negeri, sepeda-sepedanya tidak seheboh atau semahal di Indonesia. Tapi, pesertanya mandiri-mandiri, bisa mengganti ban sendiri atau menyelesaikan masalah sendiri.

Semoga kelak di Indonesia juga sama. Karena itu cerminan masyarakatnya juga. Yang tangguh-tangguh, tidak manja-manja. Yang tidak mencoba mengakali situasi.

Selamat berlatih. Sampai jumpa di event berikutnya. Dan semoga di event berikutnya itu semua semakin kuat. Semangat !

 

*) Azrul Ananda, CEO dari Jawa Pos Group. Perusahaan media lokal yang menasional. Baru-baru ini juga membeli klub sepakbola Persebaya Surabaya.

Foto diambil dari jawaposcycling.com

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi by Dahlan Iskan

Saya mengobrak-abrik Mbah Gogel, ketika mencoba mencari contoh nyata apa itu transformasi budaya. Bukan perkara gampang mengawal program agar membumi dan menggerakkan aksi. Artikel yang ditulis hampir 5 tahun lalu ini, menurut hemat saya mewakilinya.

Ya, perubahan yang dilakukan pada perusahaan pelat merah, PT. KAI (Persero) dengan komando ketika itu Pak Ignasius Jonan. Adalah satu dari sekian cerita sukses perubahan pada Badan Usaha Milik Negara.

Mari kita simak bersama. Semoga menjadi inpsirasi kita semua.

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi

by Dahlan Iskan *)

Manufacturing Hope : Senin, 3 September 2012

Hari itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakata. Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: Stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiap menjelang lebaran.

Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. Ke Senenlah cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yang menyedihkan): antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan, orang tua yang tidur kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkan kereta lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.

Menjelang lebaran tahun ini objek-objek yang “seksi” di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, himpitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.

Maka dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya dia baru saja memotret kejadian yang menarik: seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek yang menarik, memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto “wartawan memotret” itu pun dia beri teks begini: tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!

Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya:

“Seumur hidup mudik lebaran, baru lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!”

Tentu, saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya forward ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonanlah (dan seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.

Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kerata api di bawahnya.

Keesokan harinya memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu itu ke email saya, khawatir saya tidak membacanya.

Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya emailkan juga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard USA itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.

Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.

Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya “kurang waras”. Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan.

Di BUMN awalnya dia memimpin BUMN jasa keuangan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, dan perkara-perkara teknis.

Padahal membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luar dan kiri-luar.

Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.

Tapi sorak-sorai supporter yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol.

Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi gol-gol berikutnya lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.

Jonan, sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat, atau pura-pura tidak melihat.

Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.

Saya tahu Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu, karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan yang seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.

Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu ini, motto majalah Tempo “enak dibaca dan perlu” bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: “menyebalkan dilihat dan perlu”.

Tapi kereta api memang memerlukan orang yang “menyebalkan” seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok, karena sejak awal tahun ini dia melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber AC sekali pun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya.

“Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?”.

Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!

Tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gerbong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan.

Ini sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi Jonan, dengan cara dan kiat-kiatnya, bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.

Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Ini berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.

Banyak orang yang dulu hobinya berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja), tidak bisa lagi meneruskan hobinya itu. Reaksi keras atas kebijakannya ini sungguh luar biasa.

Mengapa?

Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, tapi dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak-pinak, dan kait-mengait.

Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.

Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lainnya, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.

Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk “berantas calo!”, “tangkap calo!”, dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya.

Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: teknologilah jalan keluarnya. Tapi teknologi juga harus ada yang menjalankannya. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.

Tapi Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya. Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahannya atau negaranya baik.

Hanya saja mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing, bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.

Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.

Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, adalah konsekwensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi organisasi besar KAI, dengan karyawan 20.000 orang, ternyata bisa berubah relatif cepat.

Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khasanah manajemen di Indonesia.

Lebaran tahun 2012 ini, harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia. Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet mini market di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun.

Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing, kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.

Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang.

Dengan cara ini, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis seperti naik pesawat.

Dengan cara ini, memang praktis tidak memberi peluang calo untuk beroperasi. Tapi jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.

Dengan gebrakan terakhir ini, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!

Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.

Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini wanita yang mengenakan celana jeans mengalani kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.

Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).

Perbaikan manajemen ini akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Di pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Sinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata!

 

*) Dahlan Iskan, adalah Menteri Negara BUMN Republik Indonesia tahun 2011 -2014.

Catatan : ilustrasi adalah koleksi pribadi Ari Wijaya