Berhenti Makan !

“Lereno mangan sa’durunge wareg ! ”

Pesan sederhana Haji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal HOS Tjokroaminoto , salah satu guru bangsa kita. Guru  yang melahirkan tokoh besar sekaliber Bung Karno. Arti bebas pesan itu dalam Bahasa Indonesia adalah berhenti makan sebelum kenyang.

Maknanya tidak sesimpel yang saya bayangkan. Pun, melaksanakan pesan itu, biyuuh.. ! Masya Allah…

Makan karena memang lapar dan butuh asupan gizi. Gizi buruk bisa terjadi karena kurang makan. Asupan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan. Itu juga bahaya. Jadi kita memang perlu makan, tho ? Tapi kelebihan gizi karena over supply makanan juga tidak baik. Banyak penyakit melekat karena urusan perut ini. Bisa stroke, hipertensi, gagal ginjal, diabetes, jantung, dan lain-lain.

Padahal kita ini diajarkan dan termasuk golongan umat yang makan karena sudah lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang.

Di samping itu, pesan pendiri Sarekat Islam itu sarat akan pengendalian hawa nafsu. Bukan semata urusan perut. Apalagi menyetop lidah yang bergoyang karena rasa. Terlebih saat menyantap makanan kesukaan.  Makanan lezat. Kuliner khas daerah pula. Tapi lebih dari itu. Berhenti makan sebelum kenyang punya maksud pengendalian diri agar tidak serakah atau tamak. Betapa tidak, pesan ini juga mengajarkan agar kita menakar seberapa besar yang akan kita masukkan ke dalam tubuh. Supaya tidak bersisa. Makanan terbuang. Tentunya masih banyak orang lain, saudara kita, yang membutuhkannya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberi nasihat :

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”

Sahabat… mari mencobanya ! Berhenti makan ! Berhentilah sebelum kenyang.

Semoga saya pun bisa menjalankannya dengan istiqomah…..

Silih doa selalu untuk sahabat semua…

Look With Your Feet !

Masa pertama kali berkerja formal, saya langsung ditempatkan di area produksi. Memegang 1 line assembling. Langsung memimpin 3 shift karyawan. Ada 4 foreman dan 10 kepala regu. Mereka leader yang bahu membahu mengelola lini perakitan yang diamanahkan kepada saya.

Saya juga mendapat meja kerja di tengah area produksi. Itu pun bergantian dengan leader yang lain. Ketika itu laporan dengan tulisan tangan masih ampuh. Belum ada handphone. Komputer pun masih langka. Ehm.. ketahuan ya, saya masuk kerja tahun berapa ? He .. he … he…

Ada satu hal yang membuat saya cepat beradaptasi. Pemahaman saya tentang produksi dan seluk beluknya mengalami akselerasi. Percepatan.

Setiap awal shift, salah satu manager atau kadang staf ahli yang berkebangsaan Jepang, turun ke lantai produksi. Ia bukan memberi ceramah. Ia jalan mengelilingi area. Bukan jalan-jalan, lho. Langkahnya kadang cepat. Tak jarang melambat. Kalau sudah begitu, saya dan salah satu leader langsung mengikuti. Tanpa disuruh.

Saat berhenti menemukan sesuatu, entah saat memungut benda. Atau tatapan mata tertuju pada sutau obyek. Ia mengungkapkannya langsung kepada kami. Ada yang baik, dipuji dan diminta untuk dipertahankan.

Acapkali yang terkena adalah ketika terjadi ketidaksesuaian. Kami ditanya kenapa terjadi ? Harusnya bagaimana ? Setelah sedikit diskusi, sang manager memberikan wejangan atau menyimpulkan hasil diskusi kami. Kadang ia membantu memberikan solusi, jika kami buntu. Jika ada yang bisa dilakukan saat itu, maka langsung ditindak. Tuntas. Tak jarang memang ada yang perlu action lebih lama. Terkait ada pembelian alat atau sarana pendukung. Kami menyepakati juga batas waktu penyelesaiannya.

Paling parah adalah jika ada tindakan yang harus dilakukan tapi tak ada progress, belum dilakukan. Melewati tenggat ! Ya sudah, kami terkena semprotan pagi. Mantaplah pokoknya.

Insightnya masih tertangkap hingga kini. Kegiatan itu menjadikan kami bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Saya jadi lebih cepat belajar. Pun jadi lumbung solusi. Ketika ada kejadian serupa, cara yang mirip kadang sedikit modifikasi yang saya pakai.

Orang Jepang menyebutnya Genba. Arti harfiahnya adalah : lokasi kejadian. Namun istilah itu diadopsi menjadi salah satu kegiatan manajemen yang dikaitkan dengan perbaikan berkesinambungan yang terintegrasi. Dikenal istilah Genba Kaizen yang berarti perbaikan kondisi lokasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Taiichi Ohno, Bapak Sistem Manajemen Toyota, pernah mengatakan :

“Don’t look with your eyes, look with your feet”

Ya. itulah cara pandang lain dalam mengelola tim. Menjalankan amanah.

Kegiatan itu sangat positif. Tidak hanya saya yang merasakan. Rekan saya yang ketika itu sama-sama masih bau kencur, mendapat banyak manfaat serupa ?

Mau ?

Yuk, lakukan genba. Jalan, lihat, catat, bertindak, buat laporan. Laporan itu bukan sekedar membuat atasan senang. Tapi niatkan lebih jauh sebagai pembelajaran. Lesson learnt. Semakin banyak orang yang mengambil hikmah, maka tabungan amal kita akan membukit.

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya

(HR. Muslim )

Jika dilewatkan ? Sayang, bukan ?