Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

by Ari Wijaya

Enang Noerman Fachjar, sering dipanggil Aciel. Dia adalah teman sebangku saya saat SMA. Kini ia menjabat sebagai Regional Quality Assurance Director – Asia Pacific di Barry Callebaut, sebuah  perusahaan multi nasional asal Swiss. Perusahaan ini adalah penghasil biji coklat dan bubuk coklat terbesar di dunia.

Sebagai salah seorang executive muda asal Indonesia yang mendunia, Aciel dikenal ahli dalam bidang Quality Management & Food Safety. Menjadi pembicara utama dalam forum internasional sudah menjadi langganannya. Tentu saja hal ini membanggakan sekaligus memberikan inspirasi bagi saya.

Alumnus ITB ini menceritakan pengalamannya saat bergabung dengan perusahaan multi nasional. Beberapa kali pula ia berhasil menduduki posisi kunci. Dari penuturannya dapat disimpulkan bahwa untuk bisa bersaing dan menjadi orang pilihan berkelas dunia diperlukan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Kita harus menjadi yang terbaik di area yang kita geluti. Tanpa kompetensi, akan sangat sulit untuk bersaing.
  2. Komunikasi sangat penting untuk memastikan orang lain bisa memahami pola pikir kita. Secara lisan maupun tulisan.
  3. Kerja sama. Kita harus mau dan mampu bekerja sama dengan sejawat, lintas fungsi, maupun orang di luar organisasi.
  4. Satu suatu initiative/pekerjaan dapat dimulai dan dituntaskan ketika kita punya komitmen.
  5. Perlu semangat dan tindakan yang ajeg agar tugas yang diberikan dapat diselesaiakan dengan tuntas.

Aciel menambahkan, gabungan antara kompetensi, komunikasi dan kerjasama akan menumbuhkan kepercayaan yang sangat dibutuhkan dalam menuntaskan suatu pekerjaan. Plus ditambah kerja keras dan sifat tidak gampang menyerah.

Bagaimana jika bersaing dengan insan unggul lainnya di luar negeri? Ternyata Pak Direktur ini selalu membawa misi pribadi :

“Saya niatkan karsa dan karya saya untuk menjaga dan membawa nama baik agama dan bangsa”.

Masya Allah!

Saya merinding membaca penuturannya.

Dorongan itu yang membuatnya terus mencetak berprestasi. Ia secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa inilah wajah Indonesia.

Suka atau tidak, Islam dan Indonesia sering dikonotasikan miring. Negative for whatever reasons. Oleh karenanya, ia merasa berkewajiban untuk bekerja sebaik mungkin. Itu tak lain untuk menunjukkan bahwa seorang muslim bisa berkerja secara profesional, disiplin, reliable, trusted dan competence.

Selain itu sebagai bangsa Indonesia, Enang Fachjar, bisa menunjukkan bahwa Indonesia di negeri lain bukan dikenal hanya karena tenaga pembantu, sopir, tukang bangunan. Tapi, banyak juga profesional yang berkualitas, berkelas dunia.

Selain itu, ia juga berharap bisa memberikan inspirasi.

Ia mengirim pesan sangat tegas kepada teman-teman di Indonesia. Utamanya anak muda. Kita sejajar dengan mereka, pekerja di luaran sana. Asal kita menempa diri.

Ya, dan itu harus dimulai!

Kisah inspiratif ini dan beberapa lagi lainnya, insya Allah akan hadir dalam buku yang sedang memasuki tahap editing. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Harapannya, bisa terbit dan hadir di hadapan sabahat pada Agustus 2018 nanti.

Mohon doanya.

Semoga karya tak seberapa ini dapat menginspirasi anak muda Indonesia.

 

 

Merajut Asa

Merajut Asa

by Ari Wijaya

 

Sebuah sunatullaah juga, saat ada kejadian, ada yang merespon ada yang tidak. Cuek bebek. Seperti era perubahan yang kita rasakan saat ini. Dunia seakan tanpa sekat-sekat lagi. Melihat fenomena ini, reaksi pun beragam. Ada yang menyesuaikan. Ikut perubahan.  Tak jarang yang membuat aksi jauh lebih cepat dari laju perubahan. See the unseen things.

 

Saya beri catatan India yang sangat mencolok saya contohkan. Beberapa nama besar tercatat memimpin perusahaan berkelas dunia. Belum lagi China, sebagai gambaran saja, mahasiswa dan pelajar China yang sedang belajar di Australia tercatat 150 ribu lebih. Mereka mulai merajut asa. Di samping menggali ilmu pengetahuan, juga menanam benih jejaring. Bukan rahasia lagi, jaringan ikatan alumni salah satu pendorong kesuksesan berbisnis. Silaturahim memang membawa keberkahan dan pembuka pintu rezeki.

Tak heran, jika lulusan berkebangsaan Cina juga merambah ke berbagai perusahaan di dunia.

 

Philipina, mereka banyak mengusai bidang kepariwisataan. Beberapa hotel besar di Dubai, Uni Emirates Arab dijejali tenaga terampil dari Filipina. Mereka membuka Tourism & Hospitality Training Center.

 

Saya menyebut warga negara di beberapa negara tersebut memiliki kesadaran bersaing. Kesadaran itu terasa sangat kuat.

 

Bagaimana dengan kita? Mampukah kita merajut mimpi itu lagi? Saya kok, yakin, kita mampu.

 

Anda mau bersama mewujudkannya?

Mari merajut asa bersama.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Undangan Spesial

Pernah menerima undangan dari saudara ? Sahabat ? Rekan kerja?

Saya yakin, jawaban yang banyak keluar adalah : sering.

Saya pun pekan lalu menerima undangan.

Surprised ! Sekaligus senang dan bangga.

Betapa tidak, undangan ini dari sahabat yang mengabdi dan melayani sebagai tenaga pendidik di Universitas Brawijaya. Semasa jadi mahasiswa, kami pernah bersama mengembangkan laboratorium.  Pengajar pengganti hingga ke kota lain, saat dosen utama berhalangan. Tak jarang punya kegiatan kampus bareng. Setelah lulus, kami menjalani profesi berbeda. Ia jadi dosen. Ia masih saja seperti yang dulu. Aktif, gemar membuat penelitian, suka membantu, dan sangat terbuka. Saking aktifnya, ia termasuk yang terlambat mengambil studi lanjut. Tak lain, karena semangat melayani orang lainnya yang tinggi. Hingga lupa bahwa masih ada satu jenjang pendidikan lagi yang mesti ditempuh untuk menjadikannya punya kesempatan menjadi guru besar. Salah satu capaian yang diidamkan banyak dosen. Beberapa tahun yang lalu, ia banting stir sejenak. Mengambil program doktoralnya. Meski tetap saja, tangannya tak bisa diam. Banyak sudah yang dilakukannya.

Itulah undangan yang membuat rasa ini nano-nano kayak permen. Undangan turut menjadi saksi : Ujian Terbuka Disertasi.

Ya, sahabat saya ini, insya Allah akan menyandang gelar Doktor Teknik Mesin.

Selamat dan sukses, kawan!

Sayang sekali, saya tidak berkesempatan hadir.  Mohon maaf, kali ini saya melewatkan salah satu momen penting dalam hidupmu.

Doa saya dan keluarga menyertai langkahmu. Semoga semakin manambah semangat dan daya jangkaumu untuk bisa lebih bermanfaat kepada orang lain.

Teruslah berkarya, berbagi dan melayani! Itu sudah menjadi DNAmu!
#jangankasihkendor

 

Tribute to :

Sugiarto, ST.,MT.

Dosen Teknik Mesin Universitas Brawijaya