Vitamin

Meski sehat, kadang orang masih perlu vitamin. Tak ubahnya saya. Usaha dan segala daya upaya fisik dan non fisik telah dilakukan. Kami berharap buah hati kami bisa ikhlas dan kerasan. Ia juga bisa segera beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Saat melakukan cek kiriman pesan di telepon genggam, ternyata ada pesan masuk. Ternyata berisi nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pas banget. Pipi ini kayak ditampar. Tapi tetap saja jadi vitamin. Suplemen penambah semangat.

Di bawah ini saya salinkan isi pesan itu :

“Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq. Ujung ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ?

Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu, baju sepatu tas ber-merk. Lha pas di suruh ngaji blekak-blekuk. Di tanya tentang agama prengas-prenges.

Arep dadi opo…?

Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an gak ngerti budi pekerti.. ?

Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”

Mbah Sahal, kalimat “arep dadi opo?” jadi vitamin hari ini.

Tak terasa mata mulai basah. Nasihat yang langsung mengubah aksi. Jazakallaah khair.

Anakku, kamu yang ikhlas, yang kuat. Tetaplah istiqomah, besarkan semangatmu. Doa kami untukmu. Semoga ketikan ini, bacaan dalam hati ini, meresonansi hingga ke hatimu. Menambah vitamin juga untukmu.

 

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pada kesempatan lain, saya sempat mengajak diskusi Sigit Afrianto. Ia mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.  Saat ini ia seorang Pneumatics Engineering Specialist di Bombardier Aerospace, Canada.

Mas Sigit, begitu saya memanggilnya, pernah berkarya di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Ia salah satu anak bangsa yang unggul justru berkarya di luar negeri, karena di Indonesia tidak mendapat kesempatan sepadan dengan keahliannya. Hal itu terjadi, saat IPTN, boleh dikatakan, sengaja dikerdilkan. Ketika pembiayaan proyek yang membanggakan sekaligus menggetarkan dunia penerbangan tersebut dihentikan atas desakan IMF. Mas Sigit, saat ini berkarya di Bombardier, Canada.  Ia memiliki beberapa hak paten di bidang penerbangan.

“Pengalaman saya, sebagai tenaga profesional, kita perlu memiliki kompetensi atau keahlian dalam hal tertentu. Seorang specialist yang kompeten tidak akan bisa digantikan oleh ratusan orang yang tidak kompeten. Kita bisa memberikan solusi atau mengatasi masalah yang sebelumnya selalu dianggap sebagai suatu masalah besar oleh orang yang tidak kompeten. Hasil karyanya diakui oleh sejawat profesional lainnya. Dampak positifnya, perusahaan besar tidak akan segan untuk mentransfer (baca: memperkerjakan) dia dengan ‘harga’ yang besar untuk bisa memanfaatkan kompetensinya,” tutur Mas Sigit.

Shakuntala Devi, “Manusia Komputer” dari India pernah mengatakan :

“I cannot transfer my abilities to anyone, but I can think of quicker ways with which to help people develop numerical aptitude”.

Ia menguatkan pernyataannya dengan memberi contoh pada klub sepak bola profesional. Ketika ingin menjadi kampiun, selain meracik tim, memanfaatkan talenta yang ada, mereka juga membeli pemain baru. Biasanya pemain bintang. Pemain yang punya talenta di atas rata-rata. Marquee player yang bisa membangkitkan semangat pemain yang lain. Juga menjadi magnet pendukung. Pendukung adalah pemain ke-12. Termasuk juga mandatangkan keuangan bagi klub. Membludaknya penonton dan penjualan merchandise adalah other income. Darah bagi kelangsungan hidup klub sepakbola. Untuk itu, pemilik klub rela mengocek kantong sangat dalam.

Saya mencoba membuka mesin pencari Google untuk mencari informasi siapa pemain termahal saat ini. Ada nama yang disebut, Phillip Coutinho yang dibeli Barcelona dari Liverpool. Nilai transfernya Rp. 2,6 Triliun. Dahsyat. Angka yang lebih besar dari APBD Kota Malang tahun 2018.

Menurut Mas Sigit, selain kompetensi perlu kemampuan bekerja sama apalagi saat bekerja dalam satu tim. Kesuksesan akan lebih mudah diraih ketika berbagai kompetensi yang dimiliki karyawan bisa disinergikan. Mereka saling melengkapi dan mendukung untuk mencapai tujuan yang sama.

Ada tambahan yang tidak boleh dilupakan, bahwa kita perlu berpikiran positif dan terbuka. Terbuka utamanya sikap untuk menerima sesuatu yang baru. Ia memberikan kondisi saat ini, bahwa teknologi berkembang sangat pesat disebabkan inovasi dari orang yang mampu menemukan sesuatu yang baru. Lain daripada yang lain.

Di akhir kiriman WAnya, ia memberikan contoh nyata.

“Perusahaan tempat saya bekerja bersedia mengeluarkan biaya yang besar untuk mentransfer dan merelokasi expert dibidang aerospace,” pungkasnya.

Tertarik ?

Mari mengikuti dan menunggu buku yang akan terbit pada bulan Agustus 2018 ini.

Mohon doanya, semoga sajian cerita pengalaman dan juga buah pikir yang dituangkan menjadi salah satu sumber inspirasi.

Mimpi dan Mencoba

Mimpi dan Mencoba

“Wah, apa ya…. sepertinya mengalir aja tuh. Modal nekat dan semangat. Sembari terus cari jalan buat mencapai mimpi”.

Itulah komentar yang terlontar pertama kali ketika saya minta pendapat dan pengalamannya saat bisa berkarir di luar negeri kepada teman saya semasa SMA dan kuliah ini. Charis Soeharto, namanya.

“Kalau dulu punya mimpi pingin sekolah di luar negeri. Aku coba ikut program STAID, ee..nggak lolos,” tambahnya.

Program STAID atau Science and Technology for Industrian Development dicetuskan Prof. BJ Habibie. Program pengembangan SDM yang merekrut siswa SMA terbaik di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan S1 di luar negeri. Anak dokter yang bersahaja ini tak mengubur mimpinya. Ia terus mencoba untuk bekerja di perusahaan asing. Atau setidaknya perusahaan yang berafiliasi dengan perusahaan asing. Siapa tahu ada kesempatan program pelatihan atau sekolah lanjut di luar negeri. Mimpinya pergi ke luar negeri tak pernah dihilangkan.

Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu datang juga. Ia bekerja di perusahaan asing. Charis pun memulai perjuangannya. Ia menambah kompetensi dan kapasitasnya. Hingga ia mendapat pengakuan dari kolega dan atasannya. Ia bersyukur dipertemukan Allah SWT dengan mentor berkebangsaan Jepang. Orang Jepang itu pun hingga kini sudah ia anggap sebagai Bapak Angkat. Rupanya Sang mentor inilah yang kemudian ‘mengusir’ Charis Soeharto dari Indonesia.

“Charis, tempatmu bukan di sini kamu harus keluar. Kenapa harus takut? Ingat, semua manusia sama. Semua harus COBA. Kalau tidak pernah mencoba, kamu tidak akan pernah tahu,” tukas atasannya itu.

Sampai saat ini ada 2 kata kunci yang selalu ia ingat: MIMPI dan COBA. Kini ia selalu rajin membagikannya kepada siapa saja terutama mahasiswa Indonesia yang menemuinya di Singapura.

Ah.. jadi ingat nasihat Bung Karno :

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Di penghujung obrolan, ia menambahkan bahwa ada satu lagi yang terpenting,. Apa itu ? Doa dan restu dari Ibu. Masya Allah. Ia sangat terkesan dan ingat almarhumah ibunya yang selalu memberi wejangan dan doa bagi ia dan saudaranya.

Charis Soeharto saat ini menduduki posisi Direktur. Posisi puncak pada perusahaan jasa engineering terintegrasi, Asia Project Engineering, Pte. Ltd. Perusahaan multi nasional Jepang yang lebih dikenal dengan APECO yang bermarkas di Singapura. Ia memimpin tim yang multi ras, suku dan agama.

 

 

2.647 Kilometer

Perjalanan mudik tahun ini berbeda dari biasanya. Lain banget.  Kami menyisipkan agenda mendorong ikhtiar anak untuk masuk pondok pesantren. Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah.

Perjalanan panjang pun ditempuh.  Jakarta – Semarang. Istirahat di Semarang, esoknya disambung ke Sidoarjo dan Bangkalan. Merayakan Hari Raya Idul Fitri dan silaturahim di Bangkalan beberapa hari. Lanjut lagi silaturahim ke Malang. Hanya 2 hari, perjalanan diteruskan keTrenggalek – Ponorogo via Blitar. Ponorogo menjadi kota singgah yang penuh makna. Setelahnya, baru kembali ke Jakarta. Total perjalanan kami, sesuai odometer : 2.647 KM. Masya Allah. Alhamdulillaah.

Di Kota Ponorogo inilah, kami berjuang lagi.  Spirit management. Mengelola semangat ternyata masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak mudah. Terutama untuk anak yang baru masuk ponpes. Ia shock ketika harus berdesakan tidur di kamar pondokan sebelum tes. Jauh di luar perkiraannya. Saya pun perlu membawanya keluar sejenak. Berkeliling pondok. Ia pun melihat, bahwa ternyata di luar sana, banyak orang tua sanak saudara yang terpaksa menginap di mobil, ada yang membawa tenda. Bahkan ada yang tidur beralaskan tikar beratap langit. Peserta dan juga pengantar membludak. Satu peserta, pengantar bisa 2,3 bahkan 4 kali lipat.

Membludaknya peserta ini juga pertanda bahwa tempat pendidikan ini, banyak diidamkan anak Indonesia. Kawah candradimuka mengolah dan mengembangkan minat dan bakat. Tempatperjuangan mewujudkan cita-cita.

Melihat kondisi itu, kecewa dan terkejutnya pun sedikit terobati. Ia pun menjalani tes meski masih dengan berat hati.

Alhamdulillaah. Meski hati bercampur aduk. Ada rasa was-was. Terselip doa dan harapan. Ternyata, saat pengumuman tiba, ia justru menangis. Bukan karena tidak diterima. Ia diterima tapi bukan di tempat pilihannya. Kami pun meyakinkan, bahwa tempat boleh beda, sistemnya sama. Pun banyak orang yang ingin masuk pesantren ini, sama seperti yang ia citakan sebelumnya. Lha kok, sekarang malah menangis. Ratusan temannya memang menangis, mereka menangis justru karena belum ditakdirkan belajar di pesantren. Belum diterima.

Malam itu pun kami terus memompa semangatnya. Secara fisik dan juga doa.

Pada kesempatan ini, saya mohon doa sahabat semua, agar ia ikhlas, kuat, cepat beradaptasi dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Kami pun sebagai orang tua juga ikhlas. Tentunya kami juga terus mengirim doa.

Selamat berjuang, Nak !

Momen penting itu, Saya dan istri mendapat penguatan. Pesan yang juga menginspirasi. Pesan yang dikirimkan melalui WA, entah siapa yang menuliskan awalnya.  Semoga menjadi amal sholeh.

Terima kasih atas pesannya, Perkenankan saya juga berbagi kepada sahabat. Siapa tahu, suatu masa mengalami hal yang serupa dengan saya.

————–

Pesan dan nasihat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Nasihat panjang yang disingkat dengan istilah TITIP.

Titip adalah kependekan dari : Tega – Ikhlas – Tawakkal -Ikhtiar – Percaya

1. Tega

Huruf T yang pertama adalah Tega. Orang tua harus tega meninggalkan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan. Yakinkan pada diri Anda bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan warteg.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman …”

(QS Ibrahim [14]: 37)

2. Ikhlas

“I” ini makanya : ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya. Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga.

Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

3. Tawakkal

Huruf T kedua adalah Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

4. Ikhtiar

I berikutnya berarti Ikhtiar. Untuk poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

5. Percaya

Yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan saya menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang”

(Abu Dawud, Ibnu Hibban)