Marketer ?

Marketer atau pemasar. Bisa produk, dapat juga jasa. Ini tugas siapa ?

Pertanyaan yang patut direnungkan bersama.

Pagi tadi saya diminta untuk menerangkan bisnis yang dijalani perusahaan. Keterangan untuk pemimpin tim yang langsung menjadi amanah saya. Tugas yang unik. Selanjutnya mereka akan meneruskannya kepada anggota tim lainnya. Berjenjang. Bukan tanpa maksud.

Business awareness memang perlu dimiliki oleh setiap orang yang bergabung dalam organisasi. Apalagi bisnis, berorientasi kepada keuntungan. Nilai penjualan sangat penting. Revenue ibarat darah. Tak boleh bleeding. Ia harus menjadi sarana untuk lebih memberdayakan. Membuat usaha terus tumbuh berkembang.

Era digital juga harus dicermati. Generasi milenial sudah bertaburan. Pengguna saat ini lebih banyak menggunakan media sosial. Faktor itu pun tak boleh luput dari perhatian. Teknologi harus dimanfaatkan.

Anggota organisasi mengenali dengan baik bisnisnya. Apa kekuatannya, apa kelemahannya. Maka ia juga setidaknya paham akan apa yang dijalani. Terlebih, ketika ditanya orang, tak seperti katak dalam tempurung. Ia bisa bercerita panjang lebar. Ia juga dapat mempengaruhi orang. Memberkan referensi atas produk atau jasa yang ada dalam organisasinya.

Ibarat mau perang, kita harus mengenali diri sendiri dulu. Kemudian mengenali musuh juga (baca : pesaing). Tentu saja kenal juga dengan medan tempurnya (baca : industrinya). Jika itu cermat dan cerdas kita lakukan, maka jaminan kemengan ada di depan mata.

Jadi tugas siapa menjadi marketer ? Pemasar ?

Ya, betul. Tugas seluruh anggota tim. Kita semua yang berada dalam satu biduk perjuangan. David Packard, Co-founder Hewlett-Packard (HP) pernah mengatakan :

“Marketing is too important to be left to the marketing department.”

Masih mau menundanya ?

 

Bahan Bakar Khusus

Komentar praktisi, akademisi, dan professional tentang sebuah karya pustaka ibarat Bahan Bakar Khusus bagi penulisnya.  BBK biasanya punya nilai oktan lebih tinggi. Menambah kinerja lebih baik. Daya dorong lebih besar.  Itu juga berlaku untuk saya.

Terima kasih.

Pre-order akan dillakukan dalam bulan Agustus 2018. Insya Allah, buku edisi cetak akan hadir di tangan pembaca pada bulan Oktober 2018.

Semoga menjadi amal sholeh kita.

Perkenankan saya menuliskan kembali beberapa testimoni yang telah masuk.

“Baca buku ini, saya jadi tambah semangat. Isinya sejalan dengan wejangan guru dan motivator spiritual bisnis dalam kesempatan yang lain. Untuk bisa menghadapi dan bersaing, tidak bisa lagi dengan cara keumuman. Menilik kembali bagaimana cara Rasulullah SAW dan para sahabatnya membangun bisnis. Salah satunya dibahas di buku ini, harus punya : integritas dan kemauan berbagi.”

Unang Supriadi, Vice President – Area Banten, Global Professional Entrepreneur (GENPRO).

 

“Buku ini terbit tepat pada waktunya. Semua anak bangsa harus membaca buku ini agar negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang menjadi impian bersama segera terwujud.”

Awang Surya, Motivator Spiritual Indonesia.

 

“Buku ini renyah dan gurih untuk dikonsumsi, kombinasi pengalaman praktisi, teori dan pendekatan agama membuat buku ini tidak membosankan. Buku ini dapat menjadi salah satu referensi ditengah kondisi disruptive khususnya dalam hal pengelolaan Sumber Daya Manusia.”

Muhammad Fahmi El Mubarrak, Vice President of Human Capital, PT. Elnusa, Tbk.

 

Mau Jadi Solusi ?

“Mas, aku pusing. Proyek yang kami tangani berantakan. Aku mencium aroma tak sedap. Banyak yang main. Belum lagi hasil kerjanya, tewur (baca : ruwet)”

Dialog di ujung telpon salah seorang sobat itu menyiratkan banyak hal. “Main”, satu kata yang lebih condong berarti negatif. Sesuatu yang tidak sesuai kepatutan. Bisa jadi juga karena sumber daya yang tidak mumpuni.

Ketika program dijalankan, namun masalah manusia sebagai motor penggerak belum tuntas, bukan tidak mungkin, hasilnya berantakan. Bisa juga berhasil, namun tidak optimal. Sebenarnya, masih bisa mencapai output yang jauh lebih tinggi.

Menyiapkan sumber daya insani memang bukan perkara mudah. Tapi sejarah membuktikan, bahwa nenek moyang kita pernah melakukannya. Hasilnya pun diakui dunia internasional.

Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan organisasi/perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, kapan saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi, segera berkontribusi, dan menjadi solusi.

Bagaimana menjadi manusia pilih tanding ? Mau jadi solusi ?

Ada 5 modal kunci yang harus dimiliki.

Apa saja itu ?

Saya sangat menyarankan sahabat menyimak lebih jauh dengan mengunjungi laman :

http://www.bookoo.co.id>

Cari daftar buku. Temukan sampul dengan judul : KEY.

“KEY”

(Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan)

Pustaka yang ditawarkan untuk memberikan pembekalan kepada para sahabat mempersiapkan diri dan juga tim yang membersamai.

Itu baru 1 dari 55 solusi yang disuguhkan para trainer yang ahli di bidangnya. Sahabat juga bisa menjelajahi satu per satu karya Kami.

Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, mencatat sebagai amal sholeh atas upaya Kami memberikan sumbangsih untuk Indonesia.

Salah satu cara kami memaknai  Hari Ulang Tahun ke-73, Proklamasi Kemerdekaan negeri yang kita cintai ini.

Catatan :

Saya sarankan melakukan pre-order dengan klik :

http://bookoo.co.id/ari-wijaya-key/

Terima kasih atas perkenan dan perhatian, sahabat.

Selamat menikmati.

Punya Prinsip, Separuh Sukses

Punya Prinsip, Separuh Sukses

 

Masih ingatkah Anda dengan kisah ini?

Di tepian sebuah sungai di wilayah Provinsi Sumatra Barat, tinggallah seorang guru agama. Pak Lebai namanya. Suatu hari, Pak Lebai mendapat undangan pesta dari dua orang kaya di kampungnya. Sayangnya, pesta itu berlangsung di waktu yang sama, dan tempatnya saling berjauhan. Yang satu berada di hulu sungai, sedang yang kedua berada di hilir sungai. Tuan rumah di hulu sungai akan memberinya dua kepala kerbau, tapi masakannya tidak enak. Sedangkan tuan rumah di hilir sungai dikenal punya masakan yang enak, tapi ia hanya akan memberi satu kepala kerbau. Pak Lebai bingung dibuatnya.

Dengan hati diliputi kebingungan Pak Lebai berangkat mendayung perahu menuju hulu. Sepanjang perjalanan di sungai ia terus menimbang-nimbang. Tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera memutar arah perahunya menuju hilir. Ia kembali mendayung. Ketika semakin dekat dengan lokasi di hilir Pak Lebai berjumpa dengan beberapa orang baru pulang dari tempat pesta di hilir.

“Kerbau yang dipotong di hilir, kecil, Pak Lebai!” teriak beberapa orang.

Mendengar hal itu Pak Lebai berubah pikiran. Ia berbalik arah lagi menuju ke hulu. Namun, sesampai di hulu ternyata pesta ternyata sudah usai. Para tamu sudah tak ada. Makanan sudah habis. Lekas-lekas Pak Lebai memutar haluan. Ia mengayuh cepat-cepat menuju hilir. Tetapi kejadian serupa terjadi. Suasana sepi saat Pak Lebai sampai. Pesta sudah usai.

Pak Lebai lemas.

Pembaca budiman, sudah pasti kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Tetapi setidaknya kisah itu memberikan pelajaran penting bahwa hidup tanpa prinsip itu seperti perjalanan tanpa tujuan  yang pasti. Seseorang yang berjalan tidak punya tujuan akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh orang lain. Dan pada akhirnya ia akan menyesal di kemudian hari.

Tetapi apakah dengan memiliki prinsip seseorang pasti akan berhasil meraih kesuksesan? Belum tentu. Tergantung apakah prinsip yang dipegangnya itu benar atau salah. Mari kita buktikan.

Ada beberapa orang yang menganut prinsip seperti berikut ini: hidup itu seperti air mengalir. Ikuti saja, nanti toh akan sampai tujuan juga. Benarkah prinsip ini?

Mari kita cermati dengan seksama.

Apakah setiap aliran air akan berujung ke laut?

Tidak! Ada juga yang ke septictank. Saat kita buang air kecil misalnya, coba cek kemana larinya air buangan itu? Ke laut? Lebih sering tidak!  Ia mengikuti air mengalir bilasan, muaranya hanya sampai kolam penampungan. Tidak sampai ke laut lepas. Artinya, perlu diperhatikan betul prinsip yang kita yakini. Mengapa?

Karena sesuatu yang kita yakini bisa menentukan jalan pikiran dan pijakan tindakan kita.

Mau tahu lebih jauh ?
Mau juga bertemu dengan pemateri dan materi lain ?

Yuk.. Gabung ke :

http://bookoo.co.id/