Aku Sudah Terlalu Tua

Kadang kita berhenti belajar atau mencoba dalam hitungan pekan atau bulan. Kolonel Sanders terus belajar dan melakukan untuk menyempurnakan resep dan tekniknya, selama 9 tahun. Belum lagi, saat memasarkannya, tak jarang sudah loyo dan ingin berhenti karena ditolak. Sementara kita baru beberapa kali ditolak dunia serasa mau kiamat. Kadang Kita ingin berhenti karena ditolak beberapa kali. Kolonel Sanders ditolak 1009 kali! Namun setetahnya ia menjadi milyarder. Bayangkan jika saat ke-1000 atau saat ke -100 kalinya, Bapak KFC ini menyerah. Apa yang terjadi? Ehm.. tentunya cerita jadi lain. Tak akan pernah kita temui logo pria berdasi kupu-kupu itu.

Saat ini, KFC telah memiliki lebih dari 18.000 outlet yang tersebar di 120 negara dengan penghasilan lebih dari USD 15 miliar tiap tahun. KFC telah berkembang menjadi salah satu bisnis waralaba yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Konon, orang yang ingin membuka gerai KFC harus merogoh kocek IDR 36 Miliar.

Di Indoensia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk yang didirikan oleh Keluarga Gelael pada tahun 1978. Tambah bertumbuh pesat setelah Group Salim masuk sebagai pemegang saham mayoritas pada tahun 1990. Jumlah gerai KFC di Indonesia saja lebih dari 500 unit.

Petuah Thomas Alva Edison memang tokcer. Ia pernah mengatakan :

“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan KEBERHASILAN, saat mereka menyerah”

Cerita Kolonel Sanders adalah salah satu contoh bahwa kegagalan adalah pelajaran. Bukan sebuah kehancuran. Kita adalah pemenang.

Kolonel Sanders memulai usahanya saat berusia di atas usia pensiun. Kadang kita berpikir, setelah pensiun menikmati hidup saja. Terlalu tua memulai bisnis. Sang Kolonel mekalukan aksi anti mainstream. Itu yang dilakukan Kolonel Sanders. Ya, ia mulai usaha pada usia 65 tahun. Usia Anda berapa sekarang? Merasa tua atau muda? Sang kolonel memberi sinyal kuat, bahwa ternyata tidak ada kata terlalu tua untuk memulai dan memperjuangkan sesuatu yang kita citakan.

Masihkah kita berpikir :

“Aku sudah terlalu tua ?”

Mari kita buang jauh-jauh. Yuk … kita, saya kali ya….. Mari memulai berkarya mewujudkan yang diimpikan.

Temukan cerita yang menginspirasi lainnya di buku :

“KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan”.

Komunikasi Itu Porsinya Duapertiga

Komunikasi itu Porsinya Duapertiga

Kawan lama yang sekarang sudah menjadi tenaga handal di luar negeri adalah Dudi Hendi, seorang Aircraft Engineer di perusahaan perancang dan manufaktur pesawat terbang di dunia, Boeing. Saya pun mencoba meminta pendapatnya.

Menurut pengalaman Dudi Hendi, kekurangan SDM Indonesia adalah masalah komunikasi. Lebih jelasnya SDM kita acapkali tidak mampu menjual potensi dirinya.

Salah seorang manager Dudi Hendi pernah berkata bahwa untuk sukses berkarir kita harus punya 3 bagian. Sepertiga bagian yang pertama adalah knowledge, sepertiga kedua adalah communication dan sisanya communication.

Dudi sempat bingung memaknainya. Sang manager seakan tahu kebingungan salah satu timnya dari Indonesia ini. Manager itu menambahkan:

“Yup.. you need more communication to sell your potential knowledge. Sometime people that have less capabilities than you will get better position, because they can present himself to the others”.

Lambat laun teman saya ini membuktikannya. Terutama saat anaknya sudah mulai mengenyam pendidikan di Seattle. Siswa di sana sejak kecil dididik untuk terbiasa berbicara atau mempresentasikan sesuatu.

“Meskipun kadang-kadang saya melihatnya seperti hal yang sepele. Mempresentasikan sesuatu yang kayaknya remeh temeh. Ternyata, itulah cara mereka mendidik anak atau siswa sekolah. Saya jadi ingat waktu masih kuliah di Malang, saat presentasi sebelum maju ujian sarjana. Entah kenapa, semua yang disiapkan langsung hilang ketika sudah berdiri didepan kelas. Tak terbiasa, menjadikan saya grogi”, begitu tambahnya mengenang memori 24 tahun lalu.

Terima kasih Sam Dudi Prasetio yang berkenan memberi salah satu warna dalam buku : KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

Teruslah berkarya dan berbagi.

Akhirnya Terbit

Kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri saat sebuah buku bisa tuntas. Siap cetak dan terbit.

Apalagi ketika sahabat sekaligus guru dapat memberikan pengantar seperti di bawah ini :

#key #memenangkanpersaingan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh…

Alhamdulillaah… Akhirnya buku hasil diskusi dan masukan ini terbit juga. Salut atas kemauan yang tinggi untuk merajut berbagai masukan menjadi satu karya dalam bentuk buku. Saya turut senang dan bangga juga.

Saya banyak mendengar tentang kiprah Mas Ari, penulis buku ini, dalam bidang manajemen operasi dan supply chain management. Pertemuan akhirnya bisa terwujud. Bulan April 2018 lalu. Barakallaahu fiikum. Ketika itu, ia atas rekomendasi sahabat saya, Mas Dinar Apriyanto, diajukan untuk memberi pencerahan kepada seluruh Manajer Restoran Ayam Geprek Group yang saya miliki. Saat itu memang ada pertemuan tahunan para manajer. Ia membawakan materi selama kurang dari 2 jam, tentang Cost Killer. Awalnya saya mengira isinya lebih banyak tentang manajemen keuangan. Ternyata bahasan tentang bagaimana melakukan penghematan biaya dengan pendekatan terobosan pada proses bisnis. Ilmu manajemen rantai pasokan. Cara membawakannya menarik dan enerjik. Contoh yang dikemukakan juga mudah dipahami dan berdasarkan pengalamannya selama ini.

Selepas sesi singkat itu, Mas Ari berdiskusi dengan tim menajemen Ayam Geprek. Saya mendengarkan dengan seksama. Diskusi pun berjalan gayeng alias cair sekali.

Saya mengungkapkan kepada Mas Ari, bahwa program yang baik dan bisa dieksekusi ketika kita punya sumber daya yang handal. People yang unggul!

Ia menjawab :

“Ya, Mas Kus. Njenengan betul sekali. Makanya ada satu syarat penting dalam menjalankan program. Apakah itu program penghematan, seperti materi saya ini, atau yang lain. Main drivernya adalah manusia. Siapa pun dia dan apalagi ketika ia jadi leader. Ia harus unggul. Saya sebut punya etos kerja juara!”

“Saya juga sering berbagi motivasi kepada orang lain terkait itu. Bagaimana menyiapkan manusia yang bersumber daya unggul. Pilih tanding”.

Masya Allah, di dalam penuturannya, ia mengungkapkan lima hal, kenapa dan bagaimana orang itu harus jujur, punya kompetensi, banyak akal. Ia juga menyebutkan bahwa kolaborasi harus dilakukan. Saat ini tidak zamannya lagi kerja sendiri. Saya pun manggut-manggut tanda sepakat. Akhir penuturannya, ia menyatakan bahwa kita juga harus mau berbagi.

“Mas, segera itu jadikan buku. Biar orang lain juga bisa merasakan manfaatnya. Perluas juga bahasannya agar tidak hanya focus pada pelaku pengadaan, tapi bisa berlaku umum”, begitu cetus saya.

“Buku sampeyan, Cost Killer, akan menjadi lebih mudah lagi dilaksanakan, ketika orang membaca dan melaksanakan apa yang sampeyan tulis di buku tentang manusia unggul ini. Kalau insannya OK, program bisa relatif lebih mudah”, tambah saya semakin bersemangat.

Saya pun bergegas memberikan buku “Marketing Langit”. Kami bertukar buku. Mas Ari saya lihat langsung melihat daftar isi dan mulai membuka beberapa artikel.

Nampak ada hati yang bertaut. Mas Ari juga mengungkapkan hal yang sama.

Tentang kejujuran, jelas sudah. Bagi saya juga begitu, kalau tidak jujur ya lambat laun akan hancur. Itu value saya juga. Kompetensi? Tak diragukan lagi. Harus punya. Makanya saya pun, membangun dengan susah payah gedung kantor Ayam Geprek di Jl. Brigjen Katamso, Sragen. Ada lantai khsusu sebagai tempat pelatihan. Kawah candradimuka bagi tim dan manajemen yang akan ditempatkan di seluruh penjuru negeri. Bagaimana agar menjadi insan unggul adalah kemauan dan kemapuan kita berkolaborasi. Kita harus bisa mengungkapkan hal positif. Saling endorse. Bukan saling ejek. Minimal, tidak perlu saling menjelekkan produk atau jasa orang lain.

Dan yang lebih penting lagi, adalah yang ia tulis dalam buku ini adalah kemauan kita untuk berbagi kepada sesama. Saya melihat jelas, apa yang ia tulis adalah sebagai cerminan apa yang sering ia lakukan. Seperti saat berbagi pengalaman dan pengertahuan di Sragen. Ia memanfaatkan waktu saat menghadiri pernikahan salah satu timnya di Yogyakarta. Siangnya meluncur ke Sragen dengan Pramex disambung pakai mobil dari Solo ke Sragen.

Kenapa sharing atau sedekah ini saya garis bawahi? Karena bagi saya berbagi itu bukan mengurangi apa yang saya punya. Justru sebaliknya. Akan menambah dengan jumlah yang tidak setimpal. Jauh lebh banyak. Sedekah juga solusi aneka masalah. Sehingga apa yang ditulis Mas Ari dalam buku ini, juga sangat relevan. Saya mengalaminya.

Buku ini bagi saya tidak saja bernas, tapi juga membuat saya semakin yakin dengan apa yang pernah saya lakukan, saya tulis dan saya sebarkan di mana pun saya berkesempatan berbagi pengalaman dengan orang lain.

Buku ini inspiratif. Buku ini seperti reminder, pengingat bagi saya.

Semoga sahabat saya, pelanggan saya, dan juga siapa saja yang membaca buku ini dapat mengambil manfaatnya. Segera bertindak melakukan praktik langsung. Semoga menjadi insan unggul. Bak pendekar, anda pilih tanding. Tak gentar dengan persaingan sumber daya insani.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sragen, 16 Agustus 2018.

Kusnadi Ikhwani

Owner Ayam Geprek Group, Sragen, Pengarang Buku “Marketing Langit”

#key #memenangkanpersaingan #supplychainmanagement

Pemesanan, silakan kontak :

Coach Sisrie (WA) : 0811 9090 190

Harga khusus : Rp. 73.000,-

Kami mengucapkan terima kasih atas perkenannya. Pembeli secara tidak langsung turut andil dalam pengembangan Sekolah Salman Al-Farisi, Cileungsi, Bogor. Salah satu upaya turut berkontribusi dalam menyiapkan insan Indonesia yang unggul.