Kesempatan

Bulan terakhir menjelang tutup tahun adalah masa istimewa.  Masa sibuk memberikan penilaian. Ada penilaian hasil kerja kolektif. Hasil karya dan karsa tim. Karya inovatif. Itu berlaku bagi orang yang diberi amanah menjadi juri dan/atau juga pimpinan sebuah organisasi. Rutinitas yang jarang dilewatkan. Bagi yag dinilai juga mengumpulkan dokumen pendukung. Bahkan ada yang membuat miniatur hasil karyanya. Tak jarang ada yang berjibaku. Perlu melekan (Baca : mengurangi waktu tidur). Sebaliknya, kadang menjadi rutinitas yang bergulir begitu saja. Itu pilihan.

Momen seperti itu kadang membuat saya terlena. Saya mampu menilai orang lain, tapi lalai menilai diri sendiri. Padahal, banyak hal yang saya nasihatkan atau saya sarankan kepada orang lain, tapi luput saya eksekusi. Konsekuensinya, hasil yang tidak optimal. Pelaksanaan pekerjaan yang tertunda. Dan banyak hal lain yang terpaksa dimaafkan.

Padahal ini salah satu momen penting. Saat pengingat muncul. Reminder dari waktu dan juga karya orang lain. Tamparan melakukan perubahan.

Bukan tidak mungkin, beribu alasan dikemukan untuk segera melakukan perubahan.

“Halah, ngapain capek-capek melakukan introspeksi. Perubahan, inovasi, transformasi atau apalah namanya. Lha wong gini saja selamat. Masih hidup”.

“Sudahlah, hidup ini semakin susah. Kenapa harus menyusahkan diri lagi dengan mengubah cara kerja. Perubahan sikap. Gini aja masih hidup, kok”.

“Gini aja masih dapat bonus, ngapain ikut-ikut tim inovasi”.

“Pinter bodo, gajine podho, Lha la po repot melakukan perubahan?

Boleh saja beralasan begitu. Sah ! Tidak ada yang melarang. Kalau hidup, pasti hidup. Lha wong memang sudah sesuai janji Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.

Tapi apakah mau terus seperti itu?

Buya Hamka, salah satu ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia, pada suatu kesempatan pernah mengatakan:

 “Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”

Dalem ngga, Bro? Bagi saya ini dualeem banget. Nempol !

Hidup bukan hanya sekedar hidup. Hidup bukan hanya untuk makan, minum, tidur, seperti babi hutan atau binatang lainnya. Mosok kita mau disamakan dengan binatang?

Perubahan itu pangkal persaingan.  Perubahan itu tentang bagaimana menyikapi kesempatan.

Ibarat ujian, kita tidak tahu soal apa yang keluar. Kita kadang dberi kisi-kisi. Memang materi yang kita pelajari belum tentu keluar. Lha namanya juga ujian. Namun,  probabilitasnya akan muncul tinggi. Coba bayangkan ketika kita bersikap, tidak belajar saja, toh nggak tahu mana yang akan keluar. Ternyata keluar dan anda tidak bisa mengerjakan. Tidak lulus.

Atau sebaliknya, mending belajar. Kalau soalnya muncul, alhamdulillaah. Kalau tidak pun. tidak kecewa. Kita tidak melewatkan kesempatan untuk melakukan persiapan menghadapi ujian.

Ibarat mau pulang kampung naik kendaraan umum. Kita sudah mengantongi tiket. Pesan dari jauh hari. Ternyata banyak yang tidak kebagian. Saking banyaknya peminat yang ingin mudik. Parahnya, ada penundaan lama. Bahkan ditunda hari keberangkatannya. Masih ada peluang, karena tiket ditangan. Paling banter perubahan jadwal.

Coba bayangkan ketika kita tidak punya tiket. Bisa jadi mudik tinggal impian. Kalau pun mau beli tiket langsung, gambling. Berharap ada yang membatalkan keberangkatan. Peluangnya sangat kecil. Buahnya, bisa kecewa berat. Batal bertemu dan melepas kangen dengan orang tercinta.

So, mending punya tiket, bukan?

Masih mau melewatkan kesempatan?

Mari mempersiapkan diri mulai sekarang. Kita bekali diri dengan modal yang cukup. Memenangkan persaingan bukan jadi isapan jempol belaka.

#key #limamodalkunci #CIP #UIIA2018 #perubahan #persaingan #inovasi

 

Awal yang Berat

Melakukan perubahan bukan perkara mudah. Lakukan dengan segera dan dengan niat karena Allah.

Perlu menyiapkan mental baja. Jangan takut ada response yang menyurutkan langkah kita.

Ketika kita sebagai orang yang melihat prubahan juga perlu memberikan dukungan. Bukan sebaliknya.

“Cie..cie… sekarang rajin ke masjid, nih. Mau naik haji ya ?”

Ada juga orang berkomentar seperti itu ketika ada seseorang yang biasanya tidak sholat berjamaah ke masjid. Namun, ia mendapatkan pencerahan dan ingin melakukan perubahan. Jika komentar tersebut muncul. Orang yang melakukan perubahan bisa mundur. Oleh karenanya, kita sebagai orang yang di sekeliling perubahan juga perlu memberi dorongan. Setidaknya, sekurnag-kurangnya, menahan diri memberi komentar yang tidak pas. Meski itu hanya bercanda. Bahkan, jika tak mampu memberi dorongan, sebaiknya diam.

Kita perlu membuat lingkungan tempat yang baik dalam memberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapat, rasa frustasi, atau bahkan hanya mendengarkan keluhan dari anggota tim yang lain. Hal tersebut dapat menguatkan tim. Anggota tim menjadi tahu bahwa mereka dapat mengekspresikan diri kepada rekan-rekannya.

Membiasakan diri dengan memberikan pendapat yang didukung dengan data. Speech with data. Mengeluh hanya untuk mengeluh tidak akan mendapatkan perhatian dari siapapun dan dimanapun. Kita harus bersiap menawarkan solusi terhadap masalah yang mereka lihat.

Jika ada ide yang baik, maka perlu diimplementasikan. Ada wadah untuk itu. Bisa juga jika dilombakan. Ide yang diterapkan akan meningkatkan rasa percaya diri. Di samping itu, akan timbul rasa pada diri anggota tim, bahwa mereka diberdayakan.

Sahabat, mari terus melakukan perubahan. Berinovasi. Awalnya berat. Tapi, seiring berjalan waktu, suatu saat akan mendarahdaging.

Imbal balik ? Yakinlah, itu pasti ada! Hanya saja, kita tidak tahu kapan saat yang tepat diberikan oleh Allah SWT.

 

Perusahaan Berkelas Dunia

Perusahaan Kelas Dunia

Suatu ketika saya pernah mengikuti percakapan konferensi jarak jauh dengan pimpinan perusahaan multi nasional di bidang consumer goods tempat saya bekerja. Ia mencanangkan program world class manufacturing. Menariknya, hal pertama yang disentuh adalah kesiapan sumber daya manusianya. Di samping itu, sang CEO ini melakukan perbaikan proses bisnis utamanya di bidang supply chain management-nya.

Khazanah pengetahuan saya juga bertambah. Kadang mendapatkan hasil penelitian. Business review dari beberapa perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Bacaan yang menyajikan presentasi perusahaan yang sedang maupun telah menjadi perusahaan kelas dunia. Paling mudah indikatornya adalah produknya dikenal seantero jagad. Insannya dicari banyak organisasi lain. Banyak dibajak. Salah satu cara tercepat melakukan perubahan adalah melakukan professional hire dari perusahaan lain. Bukan rahasia lagi, banyak buktinya. Ketika insan perusahaan kelas dunia itu direkrut perusahaan lain, tidak berselang lama perusahaan itu melejit kinerjanya. Organisasi itu tak perlu waktu lama untuk menjelma menjadi kampiun di bidangnya.

Akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengarkan arahan, buah pikir dari seorang pimpinan puncak perusahaan energi terkemuka di Indonesia. Ia menyatakan bahwa perusahaannya ingin menjadi perusahaan berkelas dunia. Sang CEO ini membuat prioritas yang harus dilakukan oleh seluruh anggota organisasi, tanpa kecuali. Di dalamnya selain produk yang berkesinambungan, kompetitif dan dapat diterima pelanggan, ia juga menyebutkan pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu tokoh manajemen yang merumuskan pengertian World Class Company adalah Rosabeth Moss Kanter, seorang Guru Besar pada bidang strategi bisnis dari Harvard Business School. Ia akrab dipanggil dengan Prof. Kanter. Guru besar tersebut merumuskan minimal ada dua kualifikasi yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan kelas dunia.

Pertama : operasi atau proses bisnis perusahaan tersebut harus mampu menghasilkan standar produk dan layanan yang paling tinggi, yang mampu bersaing dengan produk dan layanan di belahan dunia manapun.

Khusus kriteria ini, saya perkenankan mengambil contoh. Jika ditanya pisau cukur yang produknya bagus, hampir dipastikan disebutlah silet ! (Tulisan sebenarnya : Gillette). Saya yakin jawaban yang sama, jika disampling di beberapa kota di negara yang berbeda. Bahkan benua yang berbeda. Merek itu sudah tertanam dalam dalam benak konsumen. Top of mind. Itu karena produk mereka memang unggul. Bahkan terbaik di industri peralatan perawatan para pria.

Kedua : sumber daya manusia yang berada organisasi memiliki kualifikasi yang unggul. SDM yang mampu bekerja dan beroperasi secara lintas teritori, cross functional. Di mana pun dan pada fungsi apa pun. Multi talenta.

Saya takjub dengan alumni Citibank. Maksud saya, adalah orang yang pernah berkarya dan berkarir di bank itu. Hampir dipastikan, jika ia masuk di perusahaan lain, entah dibajak atau dengan keinginan sendiri, ia menjadi karyawan yang handal. Unggul. Tak jarang menjadi pimpinan puncak perusahaan yang dimasukinya. Bukan hanya di bidang keuangan. Bidang pelayanan pun ia bisa segera beradaptasi dan berjaya. Tidak banyak perusahaan yang punya alumni serupa. Boleh dikata, karyawannya pilih tanding.

Mau menjadi insan berkelas dunia. Pada akhirnya mendukung agar perusahaannnya pun berkelas dunia ? Siapkan kita ?

Mari mempersiapkan diri.

Temukan bagaimana langkah-langkahnya di buku :

“KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan”.