Awal yang Berat

Melakukan perubahan bukan perkara mudah. Lakukan dengan segera dan dengan niat karena Allah.

Perlu menyiapkan mental baja. Jangan takut ada response yang menyurutkan langkah kita.

Ketika kita sebagai orang yang melihat prubahan juga perlu memberikan dukungan. Bukan sebaliknya.

“Cie..cie… sekarang rajin ke masjid, nih. Mau naik haji ya ?”

Ada juga orang berkomentar seperti itu ketika ada seseorang yang biasanya tidak sholat berjamaah ke masjid. Namun, ia mendapatkan pencerahan dan ingin melakukan perubahan. Jika komentar tersebut muncul. Orang yang melakukan perubahan bisa mundur. Oleh karenanya, kita sebagai orang yang di sekeliling perubahan juga perlu memberi dorongan. Setidaknya, sekurnag-kurangnya, menahan diri memberi komentar yang tidak pas. Meski itu hanya bercanda. Bahkan, jika tak mampu memberi dorongan, sebaiknya diam.

Kita perlu membuat lingkungan tempat yang baik dalam memberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapat, rasa frustasi, atau bahkan hanya mendengarkan keluhan dari anggota tim yang lain. Hal tersebut dapat menguatkan tim. Anggota tim menjadi tahu bahwa mereka dapat mengekspresikan diri kepada rekan-rekannya.

Membiasakan diri dengan memberikan pendapat yang didukung dengan data. Speech with data. Mengeluh hanya untuk mengeluh tidak akan mendapatkan perhatian dari siapapun dan dimanapun. Kita harus bersiap menawarkan solusi terhadap masalah yang mereka lihat.

Jika ada ide yang baik, maka perlu diimplementasikan. Ada wadah untuk itu. Bisa juga jika dilombakan. Ide yang diterapkan akan meningkatkan rasa percaya diri. Di samping itu, akan timbul rasa pada diri anggota tim, bahwa mereka diberdayakan.

Sahabat, mari terus melakukan perubahan. Berinovasi. Awalnya berat. Tapi, seiring berjalan waktu, suatu saat akan mendarahdaging.

Imbal balik ? Yakinlah, itu pasti ada! Hanya saja, kita tidak tahu kapan saat yang tepat diberikan oleh Allah SWT.

 

Perusahaan Berkelas Dunia

Perusahaan Kelas Dunia

Suatu ketika saya pernah mengikuti percakapan konferensi jarak jauh dengan pimpinan perusahaan multi nasional di bidang consumer goods tempat saya bekerja. Ia mencanangkan program world class manufacturing. Menariknya, hal pertama yang disentuh adalah kesiapan sumber daya manusianya. Di samping itu, sang CEO ini melakukan perbaikan proses bisnis utamanya di bidang supply chain management-nya.

Khazanah pengetahuan saya juga bertambah. Kadang mendapatkan hasil penelitian. Business review dari beberapa perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Bacaan yang menyajikan presentasi perusahaan yang sedang maupun telah menjadi perusahaan kelas dunia. Paling mudah indikatornya adalah produknya dikenal seantero jagad. Insannya dicari banyak organisasi lain. Banyak dibajak. Salah satu cara tercepat melakukan perubahan adalah melakukan professional hire dari perusahaan lain. Bukan rahasia lagi, banyak buktinya. Ketika insan perusahaan kelas dunia itu direkrut perusahaan lain, tidak berselang lama perusahaan itu melejit kinerjanya. Organisasi itu tak perlu waktu lama untuk menjelma menjadi kampiun di bidangnya.

Akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengarkan arahan, buah pikir dari seorang pimpinan puncak perusahaan energi terkemuka di Indonesia. Ia menyatakan bahwa perusahaannya ingin menjadi perusahaan berkelas dunia. Sang CEO ini membuat prioritas yang harus dilakukan oleh seluruh anggota organisasi, tanpa kecuali. Di dalamnya selain produk yang berkesinambungan, kompetitif dan dapat diterima pelanggan, ia juga menyebutkan pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu tokoh manajemen yang merumuskan pengertian World Class Company adalah Rosabeth Moss Kanter, seorang Guru Besar pada bidang strategi bisnis dari Harvard Business School. Ia akrab dipanggil dengan Prof. Kanter. Guru besar tersebut merumuskan minimal ada dua kualifikasi yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan kelas dunia.

Pertama : operasi atau proses bisnis perusahaan tersebut harus mampu menghasilkan standar produk dan layanan yang paling tinggi, yang mampu bersaing dengan produk dan layanan di belahan dunia manapun.

Khusus kriteria ini, saya perkenankan mengambil contoh. Jika ditanya pisau cukur yang produknya bagus, hampir dipastikan disebutlah silet ! (Tulisan sebenarnya : Gillette). Saya yakin jawaban yang sama, jika disampling di beberapa kota di negara yang berbeda. Bahkan benua yang berbeda. Merek itu sudah tertanam dalam dalam benak konsumen. Top of mind. Itu karena produk mereka memang unggul. Bahkan terbaik di industri peralatan perawatan para pria.

Kedua : sumber daya manusia yang berada organisasi memiliki kualifikasi yang unggul. SDM yang mampu bekerja dan beroperasi secara lintas teritori, cross functional. Di mana pun dan pada fungsi apa pun. Multi talenta.

Saya takjub dengan alumni Citibank. Maksud saya, adalah orang yang pernah berkarya dan berkarir di bank itu. Hampir dipastikan, jika ia masuk di perusahaan lain, entah dibajak atau dengan keinginan sendiri, ia menjadi karyawan yang handal. Unggul. Tak jarang menjadi pimpinan puncak perusahaan yang dimasukinya. Bukan hanya di bidang keuangan. Bidang pelayanan pun ia bisa segera beradaptasi dan berjaya. Tidak banyak perusahaan yang punya alumni serupa. Boleh dikata, karyawannya pilih tanding.

Mau menjadi insan berkelas dunia. Pada akhirnya mendukung agar perusahaannnya pun berkelas dunia ? Siapkan kita ?

Mari mempersiapkan diri.

Temukan bagaimana langkah-langkahnya di buku :

“KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan”.

Aku Sudah Terlalu Tua

Kadang kita berhenti belajar atau mencoba dalam hitungan pekan atau bulan. Kolonel Sanders terus belajar dan melakukan untuk menyempurnakan resep dan tekniknya, selama 9 tahun. Belum lagi, saat memasarkannya, tak jarang sudah loyo dan ingin berhenti karena ditolak. Sementara kita baru beberapa kali ditolak dunia serasa mau kiamat. Kadang Kita ingin berhenti karena ditolak beberapa kali. Kolonel Sanders ditolak 1009 kali! Namun setetahnya ia menjadi milyarder. Bayangkan jika saat ke-1000 atau saat ke -100 kalinya, Bapak KFC ini menyerah. Apa yang terjadi? Ehm.. tentunya cerita jadi lain. Tak akan pernah kita temui logo pria berdasi kupu-kupu itu.

Saat ini, KFC telah memiliki lebih dari 18.000 outlet yang tersebar di 120 negara dengan penghasilan lebih dari USD 15 miliar tiap tahun. KFC telah berkembang menjadi salah satu bisnis waralaba yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Konon, orang yang ingin membuka gerai KFC harus merogoh kocek IDR 36 Miliar.

Di Indoensia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk yang didirikan oleh Keluarga Gelael pada tahun 1978. Tambah bertumbuh pesat setelah Group Salim masuk sebagai pemegang saham mayoritas pada tahun 1990. Jumlah gerai KFC di Indonesia saja lebih dari 500 unit.

Petuah Thomas Alva Edison memang tokcer. Ia pernah mengatakan :

“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan KEBERHASILAN, saat mereka menyerah”

Cerita Kolonel Sanders adalah salah satu contoh bahwa kegagalan adalah pelajaran. Bukan sebuah kehancuran. Kita adalah pemenang.

Kolonel Sanders memulai usahanya saat berusia di atas usia pensiun. Kadang kita berpikir, setelah pensiun menikmati hidup saja. Terlalu tua memulai bisnis. Sang Kolonel mekalukan aksi anti mainstream. Itu yang dilakukan Kolonel Sanders. Ya, ia mulai usaha pada usia 65 tahun. Usia Anda berapa sekarang? Merasa tua atau muda? Sang kolonel memberi sinyal kuat, bahwa ternyata tidak ada kata terlalu tua untuk memulai dan memperjuangkan sesuatu yang kita citakan.

Masihkah kita berpikir :

“Aku sudah terlalu tua ?”

Mari kita buang jauh-jauh. Yuk … kita, saya kali ya….. Mari memulai berkarya mewujudkan yang diimpikan.

Temukan cerita yang menginspirasi lainnya di buku :

“KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan”.

Komunikasi Itu Porsinya Duapertiga

Komunikasi itu Porsinya Duapertiga

Kawan lama yang sekarang sudah menjadi tenaga handal di luar negeri adalah Dudi Hendi, seorang Aircraft Engineer di perusahaan perancang dan manufaktur pesawat terbang di dunia, Boeing. Saya pun mencoba meminta pendapatnya.

Menurut pengalaman Dudi Hendi, kekurangan SDM Indonesia adalah masalah komunikasi. Lebih jelasnya SDM kita acapkali tidak mampu menjual potensi dirinya.

Salah seorang manager Dudi Hendi pernah berkata bahwa untuk sukses berkarir kita harus punya 3 bagian. Sepertiga bagian yang pertama adalah knowledge, sepertiga kedua adalah communication dan sisanya communication.

Dudi sempat bingung memaknainya. Sang manager seakan tahu kebingungan salah satu timnya dari Indonesia ini. Manager itu menambahkan:

“Yup.. you need more communication to sell your potential knowledge. Sometime people that have less capabilities than you will get better position, because they can present himself to the others”.

Lambat laun teman saya ini membuktikannya. Terutama saat anaknya sudah mulai mengenyam pendidikan di Seattle. Siswa di sana sejak kecil dididik untuk terbiasa berbicara atau mempresentasikan sesuatu.

“Meskipun kadang-kadang saya melihatnya seperti hal yang sepele. Mempresentasikan sesuatu yang kayaknya remeh temeh. Ternyata, itulah cara mereka mendidik anak atau siswa sekolah. Saya jadi ingat waktu masih kuliah di Malang, saat presentasi sebelum maju ujian sarjana. Entah kenapa, semua yang disiapkan langsung hilang ketika sudah berdiri didepan kelas. Tak terbiasa, menjadikan saya grogi”, begitu tambahnya mengenang memori 24 tahun lalu.

Terima kasih Sam Dudi Prasetio yang berkenan memberi salah satu warna dalam buku : KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

Teruslah berkarya dan berbagi.

Akhirnya Terbit

Kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri saat sebuah buku bisa tuntas. Siap cetak dan terbit.

Apalagi ketika sahabat sekaligus guru dapat memberikan pengantar seperti di bawah ini :

#key #memenangkanpersaingan

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh…

Alhamdulillaah… Akhirnya buku hasil diskusi dan masukan ini terbit juga. Salut atas kemauan yang tinggi untuk merajut berbagai masukan menjadi satu karya dalam bentuk buku. Saya turut senang dan bangga juga.

Saya banyak mendengar tentang kiprah Mas Ari, penulis buku ini, dalam bidang manajemen operasi dan supply chain management. Pertemuan akhirnya bisa terwujud. Bulan April 2018 lalu. Barakallaahu fiikum. Ketika itu, ia atas rekomendasi sahabat saya, Mas Dinar Apriyanto, diajukan untuk memberi pencerahan kepada seluruh Manajer Restoran Ayam Geprek Group yang saya miliki. Saat itu memang ada pertemuan tahunan para manajer. Ia membawakan materi selama kurang dari 2 jam, tentang Cost Killer. Awalnya saya mengira isinya lebih banyak tentang manajemen keuangan. Ternyata bahasan tentang bagaimana melakukan penghematan biaya dengan pendekatan terobosan pada proses bisnis. Ilmu manajemen rantai pasokan. Cara membawakannya menarik dan enerjik. Contoh yang dikemukakan juga mudah dipahami dan berdasarkan pengalamannya selama ini.

Selepas sesi singkat itu, Mas Ari berdiskusi dengan tim menajemen Ayam Geprek. Saya mendengarkan dengan seksama. Diskusi pun berjalan gayeng alias cair sekali.

Saya mengungkapkan kepada Mas Ari, bahwa program yang baik dan bisa dieksekusi ketika kita punya sumber daya yang handal. People yang unggul!

Ia menjawab :

“Ya, Mas Kus. Njenengan betul sekali. Makanya ada satu syarat penting dalam menjalankan program. Apakah itu program penghematan, seperti materi saya ini, atau yang lain. Main drivernya adalah manusia. Siapa pun dia dan apalagi ketika ia jadi leader. Ia harus unggul. Saya sebut punya etos kerja juara!”

“Saya juga sering berbagi motivasi kepada orang lain terkait itu. Bagaimana menyiapkan manusia yang bersumber daya unggul. Pilih tanding”.

Masya Allah, di dalam penuturannya, ia mengungkapkan lima hal, kenapa dan bagaimana orang itu harus jujur, punya kompetensi, banyak akal. Ia juga menyebutkan bahwa kolaborasi harus dilakukan. Saat ini tidak zamannya lagi kerja sendiri. Saya pun manggut-manggut tanda sepakat. Akhir penuturannya, ia menyatakan bahwa kita juga harus mau berbagi.

“Mas, segera itu jadikan buku. Biar orang lain juga bisa merasakan manfaatnya. Perluas juga bahasannya agar tidak hanya focus pada pelaku pengadaan, tapi bisa berlaku umum”, begitu cetus saya.

“Buku sampeyan, Cost Killer, akan menjadi lebih mudah lagi dilaksanakan, ketika orang membaca dan melaksanakan apa yang sampeyan tulis di buku tentang manusia unggul ini. Kalau insannya OK, program bisa relatif lebih mudah”, tambah saya semakin bersemangat.

Saya pun bergegas memberikan buku “Marketing Langit”. Kami bertukar buku. Mas Ari saya lihat langsung melihat daftar isi dan mulai membuka beberapa artikel.

Nampak ada hati yang bertaut. Mas Ari juga mengungkapkan hal yang sama.

Tentang kejujuran, jelas sudah. Bagi saya juga begitu, kalau tidak jujur ya lambat laun akan hancur. Itu value saya juga. Kompetensi? Tak diragukan lagi. Harus punya. Makanya saya pun, membangun dengan susah payah gedung kantor Ayam Geprek di Jl. Brigjen Katamso, Sragen. Ada lantai khsusu sebagai tempat pelatihan. Kawah candradimuka bagi tim dan manajemen yang akan ditempatkan di seluruh penjuru negeri. Bagaimana agar menjadi insan unggul adalah kemauan dan kemapuan kita berkolaborasi. Kita harus bisa mengungkapkan hal positif. Saling endorse. Bukan saling ejek. Minimal, tidak perlu saling menjelekkan produk atau jasa orang lain.

Dan yang lebih penting lagi, adalah yang ia tulis dalam buku ini adalah kemauan kita untuk berbagi kepada sesama. Saya melihat jelas, apa yang ia tulis adalah sebagai cerminan apa yang sering ia lakukan. Seperti saat berbagi pengalaman dan pengertahuan di Sragen. Ia memanfaatkan waktu saat menghadiri pernikahan salah satu timnya di Yogyakarta. Siangnya meluncur ke Sragen dengan Pramex disambung pakai mobil dari Solo ke Sragen.

Kenapa sharing atau sedekah ini saya garis bawahi? Karena bagi saya berbagi itu bukan mengurangi apa yang saya punya. Justru sebaliknya. Akan menambah dengan jumlah yang tidak setimpal. Jauh lebh banyak. Sedekah juga solusi aneka masalah. Sehingga apa yang ditulis Mas Ari dalam buku ini, juga sangat relevan. Saya mengalaminya.

Buku ini bagi saya tidak saja bernas, tapi juga membuat saya semakin yakin dengan apa yang pernah saya lakukan, saya tulis dan saya sebarkan di mana pun saya berkesempatan berbagi pengalaman dengan orang lain.

Buku ini inspiratif. Buku ini seperti reminder, pengingat bagi saya.

Semoga sahabat saya, pelanggan saya, dan juga siapa saja yang membaca buku ini dapat mengambil manfaatnya. Segera bertindak melakukan praktik langsung. Semoga menjadi insan unggul. Bak pendekar, anda pilih tanding. Tak gentar dengan persaingan sumber daya insani.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sragen, 16 Agustus 2018.

Kusnadi Ikhwani

Owner Ayam Geprek Group, Sragen, Pengarang Buku “Marketing Langit”

#key #memenangkanpersaingan #supplychainmanagement

Pemesanan, silakan kontak :

Coach Sisrie (WA) : 0811 9090 190

Harga khusus : Rp. 73.000,-

Kami mengucapkan terima kasih atas perkenannya. Pembeli secara tidak langsung turut andil dalam pengembangan Sekolah Salman Al-Farisi, Cileungsi, Bogor. Salah satu upaya turut berkontribusi dalam menyiapkan insan Indonesia yang unggul.

 

Pengkhianat

Pengkhianat

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc

Awalnya Hulagu Khan, pimpinan Mongol/Tatar (cucu Jenghis Khan), ragu untuk menyerbu Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, karena takut kena kutukan langit, sebagaimana nasehat orang-orang bijak di sekitarnya.

Tetapi keraguannya hilang setelah menerima surat dari seorang ulama Syi’ah terkenal, Nashruddin ath-Thusi, yang meyakinkannya tidak akan mengalami gangguan apa pun jika ia membunuh khalifah Abbasi.

Sejak itu Hulagu Khan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan rencananya, diantaranya menjalin komunikasi intensif dengan salah seorang menteri utama di pemerintahan Abbasiyah bernama Muayiduddin bin al-Alqami, seorang penganut syi’ah rafidhi (penolak khilafah Abu Bakar dan Umar ra).

Menteri syi’ah ini menjadi orang kedua dalam khilafah Abbasiyah, orang kepercayaan khalifah al-Musta’shim Billah. Hampir seluruh kebijakan khalifah ini ditentukan oleh Menko yang satu ini. The real president.

Dalam komunikasinya, Hulagu Khan meminta Muayiduddin untuk mengurangi anggaran militer, mengurangi jumlah tentara, mengalihkan perhatian negara dari urusan persenjataan dan perang, dan mengaryakan pasukan di pekerjaan-pekerjaan sipil seperti pertanian, industri dan lainnya.

Permintaan Hulagu Khan ini dipenuhi sang menteri. Tentara yang tadinya berjumlah 100.000 pasukan di masa akhir pemerintahan al-Mustanshir Billah, tahun 640 H, dipangkas menjadi 10.000 pasukan pada tahun 654. Ini tentu melemahkan kemampuan militer negara.

Akibat pengurangan anggaran militer, banyak tentara yang hidup miskin bahkan meminta-minta di pasar-pasar. Latihan-latihan militer dihentikan hingga mereka tidak punya kemampuan membuat rencana, manajemen dan kepemimpinan. Akibat lanjutannya kaum muslimin melupakan berbagai ilmu perang dan tidak pernah berfikir tentang nilai-nilai jihad.

Semua perkembangan dan situasi ini diketahui Hulagu Khan melalui Menko ini, hingga Hulagu Khan memutuskan untuk bergerak menuju Bagdad. Karena Bagdad sebelumnya dikenal sangat kuat.

Hulagu Khan mulai pengepungan Bagdad dari arah selatan, Katbugha dari arah utara, dan Pigo dari arah utara, hingga membuat khalifah terkejut dan ketakutan.

Khalifah mengadakan pertemuan mendadak dengan semua penasehat dan menterinya.

Dalam pertemuan ini sang Menko pengkhianat mengusulkan agar khalifah mengadakan ‘perundingan damai’ dengan musuh dengan memberikan sejumlah konsesi kepada mereka.

Sang Menko memberikan gambaran tentang perbedaan sangat jauh antara kekuatan pasukan Hulagu Khan dan kekuatan kaum muslimin, agar tidak muncul ide untuk melakukan perlawanan.

Pendapat sang Menko inilah yang akhirnya menjadi keputusan rapat kabinet. Hanya ada dua menteri yang menginginkan perlawanan, yaitu Mujahiduddin Aibek dan Sulaiman Syah. Tetapi ide ini terlambat. Karena masa persiapan perang sudah lewat, sehingga perlawanan yang kemudian dilakukan oleh kedua menteri ini tidak mampu menghadapi pasukan Tatar.

Khalifah bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan ini menteri pengkhianat bangsa ini datang memanfaatkan kesempatan dengan menyarankan agar duduk bersama Hulagu Khan di meja perundingan.

Hulagu Khan setuju bertemu khalifah tetapi dengan syarat tidak sendirian, ia harus membawa serta semua menteri, pejabat-pejabat negara, para ahli fikih Bagdad, semua ulama Islam dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua harus dihadirkan agar hasil perundingan mengikat semua pihak, kata Hulagu Khan memperdaya.

Khalifah tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti keinginan Hulagu Khan, hingga ia datang dengan rombongan besar berjumlah 700 orang.

Ketika mendekati kemah Hulagu Khan, rombongan ditahan oleh para pengawal Hulagu Khan dan tidak diijinkan masuk. Hanya khalifah bersama 17 pendampingnya yang diperkenankan masuk sedangkan rombongan lainnya diinterogasi dan dibunuh di tempat terpisah.

Seluruh rombongan telah dibunuh kecuali khalifah karena Hulagu Khan ingin memanfaatkannya untuk tujuan lain.

Hulagu Khan memaksa khalifah mengeluarkan perintah kepada seluruh penduduk Bagdad agar melucuti senjata dan tidak melakukan perlawanan apa pun.

Khalifah kemudian dirantai dan diseret ke kota untuk menunjukkan tempat penyimpanan harta keluarga dan para menteri Abbasiyah. Kedua anaknya dibunuh di hadapannya. Khalifah dipaksa memanggil tokoh-tokoh ulama Sunnah yang daftar nama-nama mereka telah diberikan oleh sang menko pengkhianat kepada Hulagu Khan, untuk dibunuh.

Terakhir khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak lehernya agar tidak mengeluarkan darah, karena menurut sebagian pembantu Hulagu Khan jika darah khalifah muslim menetes ke tanah maka kaum muslimin akan menuntut balas atas kematiannya di suatu saat.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang memilukan ini.

Great Leader by Simon Sinek

Great leaders don’t see people as a commodity to be managed to grow profits. Great leaders see profits as the commodity to be managed to grow the people.

_ Simon Sinek

FIVE  INSPIRING LEADERSHIP LESSONS 

1. START WITH WHY

Everyone in an organization knows “WHAT” it is that they do. Some know “HOW” they do it. But, very few know “WHY” they do what it is that they do. He points out that the reason can’t be to make a profit. That’s a result, and it will always be a result, of providing something of value.

By “why” means: What’s your purpose? What’s your cause? What’s your belief? Why does your organization exist? Why do you get out of the bed in the morning and why should anyone care?

Sinek points out some great leadership success stories examples. I don’t believe that any of these leaders were looking for their “WHY.” Instead, I believe that something happened in their lives that caused an emotional reaction. That reaction naturally instilled their driving purpose. This is the most powerful “WHY” a person can have. It’s also important to note that none of these leaders set out to “be first,” instead they set out to serve others.

Unfortunately, most of us are not so lucky when it comes to understanding our “WHY.” Although it is a simple concept, it’s derived by looking back on past personal experiences.

Every company, organization or group with the ability to inspire starts with a person or small group of people who were inspired to do something bigger than themselves. – Simon Sinek

We live by many beliefs on a daily basis. These can also be limiting beliefs that cause us to fall into the working-for-work’s sake trap of the 40-hour work week.

To find your “WHY” I would recommend that you set goals balanced around the three most important areas of your life:

  • Establish clear personal, family and health goals. These are your “WHY” goals.
  • Determine your personal professional development goals. These are your “HOW” goals.
  • Set your business, career and financial goals. These are your “WHAT” goals.

 

2. HAVE CLARITY, DISCIPLINE AND CONSISTENCY

Clarity of WHY – If you don’t know WHY you do WHAT you do, how will anyone else?Having clarity is what enables great leaders to articulate “WHY” their organization. It exists beyond its products and services. First to their employees, and then to their customers. To lead requires those who willingly follow. It requires being a part of something bigger than oneself. To inspire others to follow, starts with having clarity of WHY.

“People don’t buy “what” you do, they buy “why” you do it”

– Simon Sinek

Discipline of HOW – Have clarity in WHY will lead you to the question of HOW will you do it?  How you do things are your values or principles that bring your cause to life. Finding your “WHY” is simple, compared to having the discipline necessary to never veer from your cause. To be accountable to HOW you do things is the most difficult part.

For values or guiding principles to be truly effective, they have to be verbs.

– Simon Sinek

Sinek points out that it’s not “integrity”, it’s “always do the right thing.” It’s not “innovation,” it’s “look at the problem from a different angle.”

The discipline of “HOW” hinges on having the discipline to stay focused on the “WHY” (what you believe) to remain true to your values.

Consistency of WHAT – Everything you do and say, must prove what you believe. Your “WHAT” is the result of your beliefs and the actions you take to realize the belief.  It’s everything you say or do; your products, services, marketing, PR, culture and the people you hire.

If you’re not consistent in the things you say and do, no one will know what you believe.

– Simon Sinek

3. LEADERS NEED A FOLLOWING

Being a leader requires having people that choose to follow you. Trust must be established before anyone will make the decision to follow you. Trust doesn’t emerge simply because a customer makes a decision to buy something. Trust is not a checklist. Fulfilling all your responsibilities does not create trust.

Trust is a feeling that begins to emerge when we have a sense that another person or organization is driven by things other than their own self-gain. You must earn trust by communicating and demostrating that you share the same values and beliefs.

This leads us to the heretical belief of Herb Kelleher – Founder and former CEO of Southwest Airlines. It’s the company’s responsibility to look after your employees first. Happy employees ensures happy customers. Happy customers ensures happy shareholders – in that order.

4. COMMUNICATION ISN’T ABOUT SPEAKING, IT’S ABOUT LISTENING

Most companies have logos, but few have been able to convert those logos into meaningful symbols. Most companies are bad at communicating what they believe, their “WHY.” Without clarity of “WHY,” a logo is nothing more than just that. To say that a logo stands for quality, service, innovation and the like only reinforces its status as just a logo. These qualities are about the company and not the about the cause.

For a logo to become a symbol, people must be inspired to use that logo to say something about who they are. In his book, “START WITH WHY” Sinek shares the profound example of Harley Davidson.

There are people who walk around with Harley-Davidson tattoos on their bodies — and some of them don’t even own the product!  Why would a rational person tattoo a corporate logo on their bodies? Harley Davidson has been crystal clear about what they believe. After years of discipline about their “WHY” and being consistent in everything they say or do, their logo has become a symbol. It no longer identifies a company and it’s products; it identifies a belief.

It’s not just WHAT or HOW you do things that matters; what matters more is that WHAT and HOW you do things is consistent with your WHY.”

– Simon Sinek

Sinek share a simple metaphor called the “Celery Test” that you can apply to find out exactly WHAT and HOW is right for you.

5. SERVING THOSE THAT SERVE OTHERS

Being a great leader is like being a parent. Just as we provide our children opportunity — to build self confidence, education and discipline when necessary all so that they can achieve more that we can imagine.

Leadership is not a rank. While there are people that have authority, that does not make them a leader. There are people who have no authority, but they themselves are leaders.

We call them leaders because:

  • They go first, they take the risk before anyone else does.
  • They choose to sacrifice so that their people may be safe, protected and so that they may gain.

When they do, the response is incredible.  Their people will sacrifice for them, give them their blood, sweat and tears to see that their leaders vision comes to life. When they are asked “WHY” the response is always the same; “Because they would have done it for me”.

Isn’t that the type of organization we all would like to work for?

 

Catatan :

Artikel ini disalin sebagian dari tulisan Keith Gutierrez, September 2016 (sumber inspirasi : TEDx Talk di Puget Sound Washington tahun 2009)

Memberi Makan

Hari raya kali ini penuh warna. Ada daerah yang merayakan dengan segala keterbatasan. Lombok salah satu contohnya. Namun, tetap banyak hikmah didapat. Beberapa teman yang terjun langsung menjadi relawan memberikan kesaksian beragam. Semoga rehabilitasi dan rekonstruksi segera dilakukan. Doa dan dukungan kami, agar Lombok, salah satu lumbung pangan nasional, pulih kembali roda ekonominya dengan segera.

Kegembiraan dan kesedihan juga tejadi di wilayah yang hanya 14 KM dari ibukota. Tak jauh. Itu wilayah tempat saya bermukim.

Kegembiraan karena hari raya ini meleburkan perbedaan. Banyak warga yang sebelumnya tidak kenal, beda pandangan politik, membaur bahu membahu menjadi relawan penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban. Makan siang bersama juga jadi momen yang tak terlupakan.

Kesedihan juga masih tersisa. Masih banyak warga yang antri mengular. Tak henti berharap. Padahal, mereka tidak mendapat kupon penukaran daging hewan qurban. Ini tak lain, karena memang keterbatasan kami. Jumlah pequrban dengan penerima masih jauh lebih sedikit. Dagingnya masih belum surplus. Cermin masih banyak masyarakat yang belum membaik ekonominya. Tantangan tersendiri. Jangankan makan daging, makan sehari-hari saja mereka juga masih harus berjibaku mendapatkannya.

Tapi setidaknya perayaan ini mendongkrak sedikit konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. Meski itu masih sangat minim. Menurut hasil penelitian IPB pada tahun 2017, tingkat konsumsi daging Indonesia masih rendah, yakni 11,6 kilogram per kapita per tahun. Peringkat Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia (52,3 kg), Filipina (33 kg) dan Thailand (25,8 kg). Sebagai pembanding, tingkat konsumsi daging di negara maju jauh lebih tinggi. Amerika Serikat, 120 kg per kapita per tahun. Sedangkan Australia, 111 kg.

Rasa syukur tetap kami panjatkan. Hari Tasyrik, 3 hari setelah hari raya, saat dilarangnya berpuasa. Peluang untuk memberi asupan protein hewani menjadi lebih luas dan lebih lama. Karena ada yang baru melaksanakan prosesi pada Hari Tasyrik. Ada asap ngebul lagi.  Nyate. Semerbak bau sedapnya kuah kari.  Oseng mercon (baca : sangat pedas!). Makan-makan lagi.

Tak jarang, ada komunitas yang menyediakannya hingga siap santap. Indahnya berbagi. Saya yakin ikhtiar memberi makan sebagai bentuk melestarikan dan melaknasakan nasihat Nabi Muhammad SAW.

“Perbuatan apa yang terbaik di dalam agama Islam? Maka Rasul menjawab : yaitu kamu memberi makan kepada orang lain, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”

(HR. Bukhari)

Mau ?

Mari bergabung bersama kami :

Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 19.30 WIB hingga selesai di Masjid Ar Ridho, Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan 15422

Kado dari Kediri

Siang itu, saya dan istri berusaha meyakinkan anak saya agar tetap menjalani kemauan awalnya. Sore itu, ia harus transfer dari Ponorogo ke Kediri. Pondok pesantren yang masih satu manajemen. Masih sama metoda pengajarannya. Beda tempat saja.

“Ya, adik mau berangkat. Tapi Bapak dan Ibu mau menemani ya”, begitu ujarnya yang membuat kami lega.

Bis rombongan yang membawa 400-an santri baru itu pun berangkat sesaat setelah sholat Isya’. Kami pun berkemas. Mencari moda transportasi yang pas. Saya sempat survey ke Terminal Bis Seloaji. Terminal type A yang terbilang cukup megah itu. Ternyata ada bis yang ke Surabaya, sekitar pukul 23.30 WIB. Rencananya akan turun Kertosono, disambung angkutan lain. Terlalu malam. Istri punya alternatif, pakai aplikasi on-line. Ternyata istri zaman now juga. Alhamdulillah pas ada yang baru saja mengantar penumpang dari Madiun.

Kami tiba di Gurah, sebuah kota kecamatan di Kediri, pukul 01.15 an dini hari. Pondok masih terlihat ada kegiatan. Sayangnya, tempat penginapan yang berbentuk rumah panggung kecil (ukuran 2×2 m) penuh semua. Saya turun sejenak. Sekalian melemaskan kaki. Sembari berpikir mau menginap dimana. Beberapa orang tukang ojek masih terlihat di ujung jalan.

“Darimana, Pak, kok jam segini baru nyampe ? “sapa mereka, menghampiri saya sembari mempersilakan saya duduk di kursi panjang.

Sapaan yang khas Jawa Timur-an.  Terjadi dialog singkat. Setelah mereka paham tujuan saya ke Gurah, mereka menyarankan saya menginap di rumah penduduk. Beberapa rumah memang disiapkan serupa home stay.

“Waduh, Pak. Ini kan jam 1 pagi, apa tidak mengganggu yang punya rumah?”, tanya saya memastikan.

“Mboten menopo-menopo (artinya : tidak apa-apa). Sampun ngertos (sudah paham)  kok masyarakat sini”, salah seorang dari mereka menegaskan dan diiyakan oleh yang lain.

Salah seorang Pak Ojek itu berinisiatif menemani kami ke rumah tersebut. Ia mengiringi mobil dengan motornya. 10 menit dari pondok, kami tiba di deretan rumah. Dia juga yang mengetuk pintu. Cukup lama untuk mendapat tanggapan.  Saat pemilik rumah keluar, tidak ada rasa marah. Padahal, hati ini was-was. Bisa kena semprot, dimarahi. Mengganggu waktu tidur. Kami pun berdialog dengan Bahasa Jawa. Ternyata rumah sebelah yang disewakan kamarnya, sudah penuh. Ia pun memberi solusi ke beberapa rumah lain.

Pak Ojek mencoba menelpon beberapa pemilik rumah sesuai saran tadi. Idem ditto. Penuh.

Kami disarankan ke rumah yang agak jauh. Kami pun langsung mendatanginya, karena tidak ada nomor telponnya. Tidak jauh sebenarnya, tidak sampai 5 menit dengan kendaraan. Sama. Rumah sudah sepi. Pak Ojek pun berupaya membangunkan sang pemilik rumah. Cukup lama. Setelah keluar, ternyata perempuan sepuh (tua) yang keluar. Dan lagi, tak menampakkan wajah marah. Mempersilakan kami mendekat ke teras.

Pagi itu, jam menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Kami menginap di rumah ibu sepuh yang ternyata hidup sendiri. Suaminya telah wafat. Anaknya pun telah berkeluarga dan tidak tinggal bersamanya.

Saya pun mengucapkan terima kasih kepada Pak Ojek. Saya baru tahu namanya, saat bertukar nomor ponsel. Pak Tomo.

Saat beberapa kali Kami ke Gurah, Pak Tomo yang setia menemani dan mengantar. Dia punya motor dan juga becak motor. Tarifnya pun bukan aji mumpung. Mereka semua sepakat, ada tarif resmi yang dipampang di baliho besar, di ujung jalan. Para pengguna tak perlu risau.

Bagaimana cara Pak Tomo menyapa, menolong kami dengan tulus. All out mencari tempat penginapan, menemui warga. Dan juga warga yang ramah, pengertian, dan juga tidak aji mumpung. Beberapa kali ketemu, belum pernah saya mendengar keluh kesahnya. Itu yang saya sebut karakter khas Indonesia. This is the real Indonesia.

Attitude mereka menginspirasi saya dan semoga juga sahabat.

Ini bisa jadi kado indah Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan. Keramahtamahan, sikap menolong yang all out menjadi karakter asli kita. Menjadi kador indah, ketika itu menular kembali ke seantero negeri. Saya bilang : ‘kembali’, karena saya merasakan mulai luntur di beberapa tempat.

Padahal Nabi Muhammad SAW pernah memberi nasihat :

“Siapa yang menolong  saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi  setiap langkah yang dilakukannya ”(HR. Thabrani )

Mau ?

Yuk, mari praktekkan kembali, kita tularkan terus.

Marketer ?

Marketer atau pemasar. Bisa produk, dapat juga jasa. Ini tugas siapa ?

Pertanyaan yang patut direnungkan bersama.

Pagi tadi saya diminta untuk menerangkan bisnis yang dijalani perusahaan. Keterangan untuk pemimpin tim yang langsung menjadi amanah saya. Tugas yang unik. Selanjutnya mereka akan meneruskannya kepada anggota tim lainnya. Berjenjang. Bukan tanpa maksud.

Business awareness memang perlu dimiliki oleh setiap orang yang bergabung dalam organisasi. Apalagi bisnis, berorientasi kepada keuntungan. Nilai penjualan sangat penting. Revenue ibarat darah. Tak boleh bleeding. Ia harus menjadi sarana untuk lebih memberdayakan. Membuat usaha terus tumbuh berkembang.

Era digital juga harus dicermati. Generasi milenial sudah bertaburan. Pengguna saat ini lebih banyak menggunakan media sosial. Faktor itu pun tak boleh luput dari perhatian. Teknologi harus dimanfaatkan.

Anggota organisasi mengenali dengan baik bisnisnya. Apa kekuatannya, apa kelemahannya. Maka ia juga setidaknya paham akan apa yang dijalani. Terlebih, ketika ditanya orang, tak seperti katak dalam tempurung. Ia bisa bercerita panjang lebar. Ia juga dapat mempengaruhi orang. Memberkan referensi atas produk atau jasa yang ada dalam organisasinya.

Ibarat mau perang, kita harus mengenali diri sendiri dulu. Kemudian mengenali musuh juga (baca : pesaing). Tentu saja kenal juga dengan medan tempurnya (baca : industrinya). Jika itu cermat dan cerdas kita lakukan, maka jaminan kemengan ada di depan mata.

Jadi tugas siapa menjadi marketer ? Pemasar ?

Ya, betul. Tugas seluruh anggota tim. Kita semua yang berada dalam satu biduk perjuangan. David Packard, Co-founder Hewlett-Packard (HP) pernah mengatakan :

“Marketing is too important to be left to the marketing department.”

Masih mau menundanya ?