Pahlawan itu . . .

Sepuluh November adalah salah satu tanggal istimewa.

Bagi saya, juga sangat spesial. Selalu teringat kisah bapak saya almarhum. Bagaimana beliau mengisahkan pertempuran itu. Strategi. Keberanian arek-arek Suroboyo. Bahkan saat harus mundur sembari diberondong peluru. Dibombardir dari laut. Belum lagi di kejar pesawat sembari menyalakkan senapan mesinnya. Pun bagaimana bapak sebagai tentara yang baru juga dibentuk tercerai berai. Berpencar. Ia bersama beberapa rekannya mundur hingga Pacet, Mojokerto. Bersembunyi di hutan. Sebelum akhirnya menyusun kekuatan kembali. Penuturan yang penuh semangat. Saya pun terbawa suasana. Seakan berada dalam peristiwa itu.

Kisah itu entah berapa kali dituturkannya kepada saya. Saat sebelum akhir hayat pun kenangan itu beliau ceritakan kembali.

Nampaknya beliau sangat ingin memberikan pembekalan bahwa berjuang itu harus. Pakai strategi juga kudu. Rasa tak kenal menyerah, mesti terus menyala.

Belum lagi pelajaran lain semasa beliau hidup. Kejujurannya. Kesederhanaannya. Bagaimana memimpin tim. Saat beliau selalu mendahulukan kepentingan anggota timnya. Apalagi ketika bicara soal logistik. Kesejahteraan. Juga tak bisa saya lupakan adalah pesan dan teladannya untuk terus berbagi. Tak henti membantu orang lain. Meski hanya sepiring nasi sop plus sambel kecap. Kala sempit atau lapang. Tidak harus selalu uang. Tak melulu materi. Bisa tenaga. Dapat pula sekedar nasihat. Semangat. Atau mencarikan jalan keluar. Solusi.

Upayamu bersama garwa tercinta (baca : ibu saya) menghidupi, mendidik dan membesarkan kami, 13 anak-anaknya sangat luar biasa. Itu semua tetap kau jalani dengan memegang teguh prinsip-prinsip dasar kehidupan. Jujur, tulus dan amanah. Saya saksi keteguhan itu.

Terima kasih, Pak. Insya Allah, saya akan meneruskan cita-citamu. Memang tidak bisa semuanya. Tidak mudah. Setidaknya beberapa telah saya wujudkan. Belum besar. Tapi terus tumbuh.

Kalau boleh saya beri gelar, bagi kami engkaulah pahlawan itu…

Seperti petuah Bung Hatta :

“Pahlawan yang setia itu, berkorban bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”

Tapi kami sekeluarga ingat bagaimana wejanganmu ketika tidak mau sebutan itu. Tapi namamu selalu tersemat manis dan ada tempat khusus di hati ini.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa Bapak semasa hidup. Nasihat, aksi dan juga teladan Bapak dicatat Allah azza wajalla sebagai amal soleh yang tiada kenal putus.

Allaahumaghfirlana waliwaalidainaa warhamhum kamaa rabbayaanaa sighaaraa….

Doa yang sama teriring untuk para pejuang Indonesia . . .

 

 

 

Habibie dan Pesawat Itu

Berinteraksi dengan beliau hampir 27 tahun lalu. Seliweran Malang-Jakarta kadang Malang-Jakarta-Bandung. Menyita waktu tapi tetap mengasyikkan. Beberapa kali juga silaturahim. Tak berubah. Tetap semangat dan berapi-api. Apalagi kalau bicara teknologi Indonesia. Tentu saja menyisakan kenangan. Sosok yang selalu optimis. Cinta sama tanah airnya selangit. Juga cinta kepada istri dan keluarganya. Ya, itulah seorang pria yang bernama BJ. Habibie.

Tentunya sahabat juga bisa mengail ingatan tentang beliau. Suka dukanya. Perjuangannya. Dan kiprahnya untuk Indonesia. Termasuk salah satu yang fenomenal adalah desain, manufaktur dan penerbangan perdana pesawat turboprop Tetuko CN235.

Kemarin saya mendapat pesan singkat nan padat dari guru sekaligus sahabat saya, Pak Jamil Azzaini yang baru saja bersilaturahim dengan beliau. Ternyata Pak Jamil bawa oleh-oleh.

Perkenankan saya cuplik buah tangan dari beliau untuk sahabat.

Anda tahu pesawat angkut pertama milik RI? Namanya Dakota RI-001 Seulawah, dibeli dari sumbangan rakyat Aceh. Memiliki pesawat untuk sebuah negara yang baru saja merdeka ternyata memunculkan kepercayaan diri, memunculkan semangat patriotisme dan memperlancar akses ekonomi Sumatera dan Jawa. Bukan hanya itu, jalur penerbangan ke luar negeri pun menjadi terbuka.

Pesawat terbang bukan hanya rangkain besi yang bisa terbang. Pesawat terbang juga salah satu modal untuk mengangkat harga diri bangsa. Sebelum industri pesawat kita (IPTN) ditutup atas permintaan IMF, setiap saya berkunjung ke luar negeri dan memperkenalkan diri dari Indonesia, sebagian besar mereka mengungkapkan kekagumannya dengan Indonesia karena bisa membuat pesawat terbang.

Alhamdulillah, Juni 2017 Program R 80 mendapatkan dukungan dari pemerintah dan dinyatakan sebagai program Strategis Nasional. Pesawat R 80 murni buatan Indonesia yang diarsiteki oleh bapak BJ Habibie. Mari kita dukung program ini agar menjadi program milik bersama rakyat Indonesia. Selain bantuan doa, mari kita bantu dengan menyisihkan penghasilan kita untuk ikut berpartisipasi dalam program ini.

Berapapun keterlibatan kita, itu merupakan bukti bahwa kita punya komitmen untuk mengangkat harkat dan derajat negeri ini menjadi negeri yang disegani negara lain. Mengangkat kepercayaan diri rakyat dan menambah keyakinan bahwa kita negara besar dan siap melakukan hal-hal yang besar.

Ya, pesawat bukan hanya sekedar rangkain besi tetapi juga menerbangkan mimpi banyak orang, kebanggaan, keyakinan, menumbuhkan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan harga diri sebuah bangsa. Segera berpartisipasi melalui :

https://kitabisa.com/JamilAzzainiR80

Mari ajak orang lain juga untuk menyukseskan program ini sebagai salah satu bukti bahwa kita masih sangat peduli dengan kejayaan dan kebesaran negeri ini.

Saya jadi teringat salah satu pesan Pak Habibie ketika itu memberi wejangan bagi kami yang masih culun ketika itu :

“Kegagalan hanya terjadi ketika kita menyerah.”


Beliau menasihati bahwa tidak ada orang yang berhasil tanpa mengalami jungkir balik, perjuangan. Bisa jadi mengalami down, jatuh. Tidak apa-apa. Kegagalan bukan akhir. Kegagalan bukan pertanda bahwa tidak mampu. Yang terpenting adalah bangkit dari kegagalan. Tak berhenti. Mencoba lagi dengan lebih keras dan lebih cerdas.

Sahabat…. nampaknya, beliau ingin menegaskan kembali pesan itu.

Mau mengikuti dan mendukung program beliau ?

Bisa jadi kueciiil sumbangsih kita, tapi setidaknya itu menunjukkan dukungan dan ikatan kita.

Mari sahabat kita bergotong royong ! Kecil tapi bersama. Bisa membesar dan berpengaruh. Silakan bergabung bersama dengan klik link ini: https://kitabisa.com/JamilAzzainiR80

 

Ada Pelajaran di Kisahmu

Mencermati perjalanan karir orang-orang terkenal menjadi salah satu kegemaran saya. Apalagi yang masih relatif muda. Mereka sudah mampu menduduki posisi strategis. Young on top. Termasuk kiprahnya saat menjabat. Banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana persiapannya. Semangat belajarnya. Membangun tim. Kecermatan dan kecepatan eksekusinya. Pun sandungan yang mereka alami.

Perhatian saya tertuju pada sosok yang bernama Silmy Karim. Saya mengenal justru saat rekan saya meminta pendapat dan masukan ketika akan mengisi acara televisi. Ia jadi host yang menyertakan Pak Silmy Karim sebagai nara sumber.

Kiprahnya mengembangkan Pindad menjadi daya tarik. Perusahaan pelat merah yang difokuskan memproduksi persenjataan. Salah satu pabriknya di dekat kampung halaman saya. Pabrik khusus produksi peluru (amunisi) di Turen, Malang. Ada satu lagi di Bandung. Produksi Senapan Serbu (SS) dan juga kendaraan taktis (rantis) Panser Anoa menjadi salah satu hasil andalan. Dan mudah dikenal. Apalagi ketika Tim TNI AD menjadi kampiun Kejuaraan Menembak di Australia dengan menggunakan senjata bikinan Pindad itu. Belum lagi Anoa-nya yang acapkali digunakan Pasukan Perdamaian PBB.

Ia punya pendapat bahwa industri pertahanan dan ekonomi suatu bangsa saling bertaut erat. Indonesia punya peluang sebagai pemain besar industri pertahanan dunia. Perlu segera melakukan penguasaan teknologi, modal kerja, model bisnis, manajemen korporasi, serta akses global supply chain. Pun hal yang menentukan yaitu affirmative action atau keberpihakan pemerintah terhadap pertumbuhan industri militer. Ia membuat langkah-langkah strategis yang mungkin dilakukan untuk membuat terobosan. Inovasi seperti itu yang membuat Pindad menjadi lebih bersinar.

Tak lama menikmati suguhan produk-produk inovatif tadi, Pak Silmy diberikan amanah baru. Ia menjadi nahkoda PT. Barata Indonesia (Persero). Perusahaan milik negara yang memproduksi alat berat. Satu yang saya ingat waktu kecil adalah mesin selender (baca : wales, alat pemadat tanah). Barata juga punya instalasi pengecoran logam yang besar. Bangunan konstruksi pabrik karya engineer Barata sudah menyebar seantero Indonesia.

Lagi-lagi ada hal yang menarik yang menjadi program besar CEO muda ini. Menjadikan Barata terdepan untuk industri alat berat

“‎Ada banyak pelabuhan, itu butuh crane untuk bongkar muat. Crane kita masih impor. Belum lagi alat-alat pertanian. Ada banyak ide. Akan saya pelajari kemampuan dan kapasitas internal. Jika memang mumpuni akan saya dorong di situ. Jadi ruang lingkup pekerjaannya : engineering, kemudian crane, mekanisasi pertanian, infrastruktur kelistrikan, dan juga  infrastruktur yang sifatnya mendukung proyek konstruksi. Berkolaborasi dengan perusahaan BUMN lainnya,”  katanya ketika diwawancarai oleh media sesaat setelah pelantikannya.

Saya berharap Barata melaju kencang menjadi salah satu perusahaan yang mendukung kemandirian di bidang alat berat.

Saya dan tentunya rekan sejawat, sangat berterima kasih. Karena di sela kesibukannya, Pak Silmy berkenan hadir berbagi pengalaman dan pengetahuan bersama kami. Insya Allah pada Jumat 20 Oktober 2017 pukul 08.30-11.00 WIB bertempat di Executive Lounge Graha Elnusa.

Sudah tak sabar mendengar langsung kiat beliau mengkilapkan kinerja perusahaan. Pendek memang, tapi semoga lebih dari cukup untuk menginspirasi saya dan sahabat semua.

Kehadiran beliau akan menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Seperti pesan langit yang diberikan Allah SWT Sang Maha Pencipta kepada Rasulullaah SAW dalam surat Yusuf ayat 111.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

 Semoga kami termasuk bagian dari orang berakal itu.

Terus-terusna ! by Salim A Fillah

TERUS-TERUSNA!

Ada ungkapan orang Jawa yang kalau ditujukan kepada Anda, meski disertai senyum yang amat manis, sungguh ia peringatan kelas berat.

Bunyinya :

“Ya wis nek ngono, terus-terusna kana!”

Arti harfiahnya adalah :

“Ya sudah kalau begitu, teruskan saja sana!”

Tugas ummat ini hanya berjuang. Allah tidak mewajibkannya untuk menang. Berjuang itu jauh lebih besar dari sekedar menang. Seperti sa’i lebih besar dari zam-zam, seperti Uhud lebih bermakna dari segunung perbendaharaan Kisra.

Maka kalau ummat sudah berjuang dengan kesungguhan, sesuai arahan Allah dan RasulNya, sementara musuhnya bersikeras untuk menang; dengan segala tipu-tipu, dengan bertumpuk kecurangan, dengan besi dan api, dengan mengerahkan semut dalam liang hingga jin peri-perayangan; ummat ini hanya akan berkata “:

“Ya wis. Terus-terusna!”

Bagi Fir’aun yang merasa kuasa mengalirkan Nil dan memperbudak Bani Israil; ada Musa yang tak putus asa. Tapi airlah yang mengakhiri si raja.

Bagi Namrudz yang menyatakan mampu menghidupkan dan mematikan; ada Ibrahim mendebatnya. Tapi nyamuk saja kiranya yang menjadi sebab khatamnya.

Bagi gegap gempita kepungan pasukan Ahzab; ada keteguhan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di dalam Khandaq. Tapi anginlah rupanya yang menyapu bersihnya.

Bagi Abrahah dan pasukan gajah yang pongah; ada ‘Abdul Muthalib berserah pada Allah. Lalu batu kecil dari sijjil dilempar burung-burung mungil.

Bagi Jalut yang kuatnya membuat takut dan kecut; ada Thalut yang diutus bersama tabut. Tapi ketapel kecil bocah Dawud lah yang jadi pembawa maut.

Maka sungguh, tugas kita atas kezhaliman hanya taat pada Allah dan berteguh istiqamah. Lalu mari bersandar hanya padaNya, bersiap tuk kejutan pertolonganNya Yang Maha Jaya.

Ada Apa dengan Senin

“Waduuh… esok sudah Senin lagi, nih !”

Celetukan itu tidak sedikit yang mengalaminya. Apalagi setelah long week-end. Tidak jarang Senin merupakan hari yang tidak disuka. Kecuali Senin tanggal ‘merah’, pas hari libur nasional.  Berangkat harus lebih pagi. Entah kenapa, area Tangerang Selatan daerah tempat saya menetap atau juga Jakarta, pada Hari Senin acapkali jalan lebih sering macet. Kendaraan lebih padat. Perasaan lebih terburu-buru. Makanya seakan-akan banyak yang nggak berharap datangnya Hari Senin. Kalau bisa, ini hari yang harus diskip. Dilompati ! Padahal hari ini harus dilalui untuk memasuki Hari Selasa. Debatable !

Ijinkan saya memaknai Hari Senin ini dengan kegiatan lain. Insya Allah membawa manfaat. Agar Senin berubah menjadi hari yang ditunggu-tunggu.

Saya mendapat ide untuk mengajak sahabat bertatap muka. Kita berbagi pengalaman. Sharing knowledge. Harapannya, ada solusi yang didapat. Agar mangkus dan sangkil (efektif dan efisien), setidaknya ada 4-5 orang dalam 1 sesi.

Secara rutin, saya menyediakan waktu setiap Hari Senin, pukul 17.15-20.00 WIB. Kebetulan di Graha Elnusa ada cafe tempat ngopi dan ngobrol, Coffee Toffee. Kita bertemu di situ.

Lalu apa diskusinya ? Saya berharap bisa saling berbagi atas upaya-upaya penghematan. Lebih fokus, dengan ide terobosan pada proses bisnis. Ya, tema yang tidak jauh berbeda dengan buku saya, Cost Killer. Saya yakin dengan bertemunya 4-5 orang, akan mendapatkan banyak pandangan. Ide cemerlang. Solusi jitu. Mimpinya, Hari Senin menjadi hari pemecah masalah. Saat kita mendapatkan ide melejitkan profit. Berhemat biaya. Bahkan ide liar lainnya.

Ini saya namakan, SeniNaik ! Sesuai dengan tujuan besar ide kecil ini.

Mau ?

Jika sahabat berkenan dan punya antusiasme yang sama, silakan kontak Ayu di WA : 085692053051. Ayu akan membantu saya sebagai perencana dan pengatur jadwal. Schedule planner.

Ada juga sesi insidentil. Tergantung pesanan. Event yang tidak rutin. Misal di akhir sesi seminar atau pelatihan Cost Killer. Itu juga boleh.

Jadwal terdekat sesi spesial itu ada di Malang ! Pada Sabtu, 29 April 2017 pagi. Saat acara Bedah Buku ‘Cost Killer’ bersama Pak Laksita Utama Suhud (Expert-nya marketing & bisnis) dan Saya sendiri. Bertempat di Gedung Prof. Ir. Suryono, FTUB, Jl. MT. Haryono 167, Malang. Kita bisa lanjut diskusi setelah acara usai.

Khusus info rinci atas event ini bisa kontak : Sisrie di 08119090190. Silakan mulai mencatatkan diri untuk memesan tempat duduk.

 

Semoga hal ini manjadi catatan amal sholeh kita.

 

Solusi Itu Hadir !

Teman saya bingung ketika memulai usaha di Jakarta. Usahanya belum terlalu besar, tetapi sudah menggeliat. Lantas apa yang membuatnya bingung ?

Ia berencana menyewa rumah sebagai Head Office di daerah Cilandak. Apa daya, ternyata izin domisili tidak dapat diperoleh. Ya, Pemprov DKI Jakarta tidak memperbolehkan rumah tinggal ataupun ruko sekalipun untuk dijadikan kantor. Peraturan yang debatable, tetapi ada sisi positifnya, agar kawasan permukiman memang tempat untuk istirahat. Terlebih, kawasan perdagangan (CBD) juga tumbuh sejalan dengan tumbuhnya usaha.

Masalah baru pun timbul, Ia harus sewa kantor? Dan dana masih fokus untuk pengembangan usaha. Kebutuhan ruang masih belum besar, Ia masih membutuhkan yang luasan lantainya di bawah 50 m2, bahkan lebih kecil lagi. Tidak mudah memang memperoleh tempat yang representatif, fasilitas lengkap tapi affordable dan terjangkau biaya sewanya.

Beberapa sahabat dan relasi, utamanya yang sedang membangun bisnis, mempunyai kendala serupa. Anda juga mengalami hal yang sama ?

Optimo @Graha Elnusa menjembatani kebutuhan itu, menyediakan ruang kantor berfasilitas lengkap di lantai 5. Kami menyediakan :

  • Serviced office
  • Virtual office
  • Co-working office
  • Meeting room

Kami bersyukur fasilitas penunjangnya memang sangat lengkap.

 

Fasilitas apa saja itu ?

Keperluan transaksi perbankan. Bank Mandiri siap melayani di area lobi utama. Dilengkapi pula dengan ATM center dari berbagai bank terkemuka.

Keperluan ruang meeting disediakan dari kapasitas kecil 4 – 12 orang, untuk rapat koordinasi atau conference, disediakan juga ruang dengan kapasitas 20 orang. Bahkan kami juga menyediakan dengan kapasitas hingga 200 orang.

Café sebagai bagian dari life style kekinian, juga siap melayani. Coffee Toffee hadir sebagai penyemangat aktivitas. Ngopi di pagi hari sekaligus membahas bisnis bisa juga dilakukan di sini.

Ofiskita sebagai salah satu layanan integrated document services juga telah hadir. Ofiskita akan melayani kebutuhan alat tulis dan kantor, termasuk layanan dokumen lainnya. Reputasinya tak perlu diragukan, Ia dikelola oleh Astra Graphia.

Masjid sebagai sarana ibadah pun sudah lama menjadi ikon Jakarta Selatan. Ya, Masjid Baitul Hikmah Elnusa. Kapasitasnya bisa menampung hingga 1.000 jamaah. Kajian selepas dzuhur bersama penceramah berbobot menjadi ciri khasnya.

Kebutuhan asupan energi ? Tidak perlu khawatir ada food court dengan harga terjangkau dalam kawasan perkantoran. Buguri Box khas makanan Aceh, Masakan Padang, Gudeg, Pecel, Nasi Rames, Masakan Oriental, Kuliner Manado, dan masih banyak lainnya. Buka dari saat sarapan hingga menjelang maghrib. Bahkan beberapa buka hingga pukul 8 malam.

Parkir pun tak perlu khawatir 350 lot untuk mobil, 600 lot untuk sepeda motor telah disiapkan. Tarif ? Masih sesuai dengan tarif parkir pada umumnya.

Optimo adalah solusi yang kami tawarkan. Ruang kerja berperalatan lengkap, berfasilitas wifi, business lounge, meeting room dan dapat diakses 24 jam.

Jika anda tidak ingin pusing berlama-lama. Beberapa calon tenant pun sudah memsan tempat jauh hari. Tak mau kehilangan kesempatan ?

Silakan kontak dan book  sekarang melalui :

Dyan Karina | 0813 1890 3362 | dyan.karina@elnusa.co.id | marketing-graha@elnusa.co.id

 

Optimo is optimum office with affordable price.

Graha Elnusa Lt. 5, Jl. TB. Simatupang Kav 1B, Cilandak, Jakarta Selatan 12560.

 

Bisa jadi tak berdampak langsung bagi tim kami. Tapi denyut manfaatnya sudah mulai terasa. Lecutan semangat tambah membara !

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi by Dahlan Iskan

Saya mengobrak-abrik Mbah Gogel, ketika mencoba mencari contoh nyata apa itu transformasi budaya. Bukan perkara gampang mengawal program agar membumi dan menggerakkan aksi. Artikel yang ditulis hampir 5 tahun lalu ini, menurut hemat saya mewakilinya.

Ya, perubahan yang dilakukan pada perusahaan pelat merah, PT. KAI (Persero) dengan komando ketika itu Pak Ignasius Jonan. Adalah satu dari sekian cerita sukses perubahan pada Badan Usaha Milik Negara.

Mari kita simak bersama. Semoga menjadi inpsirasi kita semua.

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi

by Dahlan Iskan *)

Manufacturing Hope : Senin, 3 September 2012

Hari itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakata. Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: Stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiap menjelang lebaran.

Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. Ke Senenlah cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yang menyedihkan): antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan, orang tua yang tidur kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkan kereta lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.

Menjelang lebaran tahun ini objek-objek yang “seksi” di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, himpitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.

Maka dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya dia baru saja memotret kejadian yang menarik: seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek yang menarik, memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto “wartawan memotret” itu pun dia beri teks begini: tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!

Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya:

“Seumur hidup mudik lebaran, baru lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!”

Tentu, saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya forward ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonanlah (dan seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.

Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kerata api di bawahnya.

Keesokan harinya memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu itu ke email saya, khawatir saya tidak membacanya.

Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya emailkan juga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard USA itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.

Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.

Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya “kurang waras”. Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan.

Di BUMN awalnya dia memimpin BUMN jasa keuangan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, dan perkara-perkara teknis.

Padahal membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luar dan kiri-luar.

Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.

Tapi sorak-sorai supporter yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol.

Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi gol-gol berikutnya lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.

Jonan, sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat, atau pura-pura tidak melihat.

Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.

Saya tahu Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu, karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan yang seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.

Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu ini, motto majalah Tempo “enak dibaca dan perlu” bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: “menyebalkan dilihat dan perlu”.

Tapi kereta api memang memerlukan orang yang “menyebalkan” seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok, karena sejak awal tahun ini dia melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber AC sekali pun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya.

“Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?”.

Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!

Tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gerbong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan.

Ini sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi Jonan, dengan cara dan kiat-kiatnya, bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.

Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Ini berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.

Banyak orang yang dulu hobinya berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja), tidak bisa lagi meneruskan hobinya itu. Reaksi keras atas kebijakannya ini sungguh luar biasa.

Mengapa?

Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, tapi dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak-pinak, dan kait-mengait.

Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.

Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lainnya, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.

Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk “berantas calo!”, “tangkap calo!”, dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya.

Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: teknologilah jalan keluarnya. Tapi teknologi juga harus ada yang menjalankannya. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.

Tapi Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya. Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahannya atau negaranya baik.

Hanya saja mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing, bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.

Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.

Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, adalah konsekwensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi organisasi besar KAI, dengan karyawan 20.000 orang, ternyata bisa berubah relatif cepat.

Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khasanah manajemen di Indonesia.

Lebaran tahun 2012 ini, harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia. Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet mini market di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun.

Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing, kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.

Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang.

Dengan cara ini, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis seperti naik pesawat.

Dengan cara ini, memang praktis tidak memberi peluang calo untuk beroperasi. Tapi jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.

Dengan gebrakan terakhir ini, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!

Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.

Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini wanita yang mengenakan celana jeans mengalani kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.

Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).

Perbaikan manajemen ini akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Di pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Sinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata!

 

*) Dahlan Iskan, adalah Menteri Negara BUMN Republik Indonesia tahun 2011 -2014.

Catatan : ilustrasi adalah koleksi pribadi Ari Wijaya

Berbeda tapi Satu

Perjalanan panjang lembaga pendidikan tentunya mewarnai warganya. Membanggakan. Utamanya, alumninya. Tak beda jauh dengan salah satu sekolah di Malang ini. SMA 3 Malang. Ada yang menyebutnya Bhawikarsu. Singkatan atas motto sekolah itu. Bhaktya Widagdha Karya Sudira.

Bhaktya : Berbakti, bertakwa. Widagdha : Berilmu-pengetahuan, belajar, berguna. Karya : Bekerja. Sudhira : Berani, berjuang, berteguh-hati

Tahun 2017 ini serasa spesial. Alumninya bahu membahu menghelat acara besar. Reuni 65 tahun. Panitianya dari yang sepuh alias umur di atas 50, maupun yang masih kinyis-kinyis (baca : muda banget). Ini nggak bisa dilepaskan dari kebiasaan semasa di sekolah. Kegiatan berjibun, seperti tak ada hentinya. Tapi itu semua, Alhamdulillaah, itu tidak mempengaruhi prestasi akademik. Salah satu buktinya, panitia kali ini juga punya catatan sekolah dan karir yang tetap moncer.

Perencanaan pun dilakukan. Bagaimana menyusun organisasi sebagai pengarah maupun panitia pelaksana. Termasuk pengelolaan pendanaannya. Rangakaian itu dikemas dalam gerbong : “Gerak Gemilang Agitma 2017”.

Banyak mata cara. Kombinasi antara fundraising, bakti sosial, kangen-kangenan, dan tentunya kontribusi untuk almamater. Berbeda tapi Satu ! Benar, satu ! Satu tujuan ! Bagaimana alumni tetap berkontrisusi dan mengabdi kepada negeri yang kita cintai ini. Sekecil apa pun itu.

Salah satu milestone event adalah Pergelaran Ludruk. Seperti lazimnya kegiatan siswa maupun alumni SMA 3 Malang. Kegiatan ini pun multi obyektif. Bagaimana menghidupkan budaya tradisional. Menjalin keakraban anggota. Alumni berkarya dan berkontribusi. Ada juga charitynya. Sekaligus menggalang dana untuk kegiatan besarnya.

Ya. Ludruk Kekinikian digelar esok Selasa 28 Maret 2017 pukul 12.30 WIB, diawali makan siang bersama di Taman Budaya, TIM, Jl. Cikini Raya, Jakarta. Pemainnya adalah alumni dengan tetap mengundang tokoh ludruk nasional seperti Cak Kartolo., dll. Lha iyo, kalau alumni thok yang main,  yo garing…

Acara ini dikomandoi oleh seorang perempuan yang kata teman-temannya (dan kata saya juga, sih), gak ono menenge (baca : sangat aktif). Ia adalah Dewi Bob. Pengusaha juga aktivis kegiatan sosial. Pingin tahu siapa dia ? Plus para panitia yang sueger-sueger… Yuk.. esok siang, merapat ke TIM.

Nang pasar Comboran, tuku manuk cicak rowo …

Lha kok wis larang kok ora iso ngoceh dagelan…

Ayo bagi peran dulur,  karo nggowo bolo kurowo…

ono lakon Cinta Terlarang, ojo sampai kelewat tanggalan..

 

Arep menek omah kecepit cendelo, wis sakmene ae, atur kawulo.

Semoga satu acara ini usai dengan baik dan sukses. Tentunya akan menjadi dorongan semangat untuk generasi muda.

 

 

Marketing Langit by Laksita Utama Suhud

 Artikel ini ditulis hampir 2 tahun lalu oleh Pak Laks. Namun, saya sangat merasakan getarannya. Saya juga yakin masih relevan dengan kondisi kekinian dan kedisinian kita.

Perkenankan saya berbagi kepada sahabat semua  . . .

 

Marketing Langit

by Laksita Utama Suhud

 

Sehebat apa pun strategi kita..
Sehebat apa pun team kita dalam mengeksekusinya..
Seluar biasa apa pun kekuatan financial dan jaringan kita untuk menjalaninya..

Kalau Allah SWT tidak berkehendak, mau apa..

Itulah mengapa kita perlu menguasai teknik MARKETING LANGIT..

Sebuah teknik mendatangkan rezeki melalui pertolongan Allah SWT dengan pasukan malaikat langitnya yang sebenarnya sudah diajarkan kepada kita dan sudah kita lakukan sejak kita mulai memasuki masa baligh kita. Kita mengenalnya dengan istilah SHALAT ..

Sekilas ini hanyalah sebuah ritual wajib bagi kita kaum Muslimin, tetapi saya lebih melihatnya bukan lagi kewajiban.. lebih dari itu.. UNDANGAN KEHORMATAN bagi kita bertemu langsung dengan Allah SWT langsung tanpa perantara, disaksikan oleh seluruh Malaikatnya.

Mengapa saya sebut UNDANGAN KEHORMATAN ?

Bagaimana rasanya kalau kita diundang olah pejabat yang kita hormati? Oleh atasan kita?

Dimana mencari waktu untuk bisa ketemu langsung dengan mereka susahnya setengah mati. Tentu kita tidak akan menyia-nyiakan moment tersebut dengan datang tepat waktu, kalau bisa lebih awal. Datang dengan pakaian terbaik kita, dan saat ketemu pun kita juga akan berusaha sebaik mungkin mencuri simpati mereka dengan bersikap dan bertutur kata sebaik mungkin agar mereka bersimpati kepada kita.

SHALAT lebih dahsyat lagi..

Kita mendapat undangan kehormatan dari Penguasa Alam Semesta ini. Sampai kita disiapkan waktu khusus untuk menemuiNya tanpa perantaraan siapapun. Jadi seyogyanya kita datang jauh lebih tepat waktu lagi, dengan pakaian terbaik yang kita miliki, dengan tutur kata dan sopan santun terbaik yang bisa kita lakukan. Agar seluruh malaikat yang hadir di sana saat itu, juga ikut menilai baik kesungguhan kita. Dan ikut meng-aamiinkan setiap permohonan kita kepada Allah SWT saat itu.

Dan itulah saat terbaik kita berusaha sebaik mungkin mempresentasikan permohonan kita di dalam shalat kita. Langsung di hadapan Allah SWT

Selain waktu yang tepat (tepat waktu).. Agar presentasi kita betul betul mendapatkan perhatian dari para malaikat yang menilai seberapa bersungguh sungguhnya kita dan menguasainya kita akan materi di dalam presentasi proposal rahmat kita.. Kita juga perlu tahu tempat-tempat yang tepat untuk mempresentasikan proposal rahmat tersebut dalam shalat kita kepada Allah SWT.

Walaupun kita bisa melakukannya di mana saja di muka bumi ini. Bisa di rumah, di mushalah, di masjid.

Tetapi di depan Ka’bah inilah salah satu tempat terbaik dan paling ijabah di muka bumi ini untuk mempresentasikan proposal marketing langit di dalam shalat kita kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi, Allah SWT. Agar Allah SWT berkenan segera menurunkan para malaikatnya untuk membantu semua niat dan upaya baik yang kita sampaikan dalam presentasi proposal tersebut..

Mengapa demikian ?
Karena kalau kekuatan langit sudah Allah turunkan untuk membantu kita, maka sudah tidak akan ada satu pun kekuatan di muka bumi ini yang akan sanggup menghentikannya..

Itulah sebabnya mengapa.. kita mengucapkan :

inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan muslimaw wa ma ana minal musyrikin

Aku tundukkan wajah dan hatiku padamu ya Allah wahai Tuhanku Sang pencipta langit dan bumi, dengan hati yang lurus dan pasrah. Sesungguhnya hambamu ini tiada berani menyamakanMu dengan yang lain.

Mengapa “Pencipta Langit dan Bumi” sering sekali kita temukan di Al Qur’an..

Karena ukuran dan dimensi langit yang maha luas bahkan tanpa batas. Sementara ukuran dan dimensi Bumi yang tidak ada apa apanya jika dibandingkan luasnya langit.

Ini adalah analogi yang berserakan di dalam Al Quran.. untuk mengingatkan kita..

Upaya kita sebagai penghuni bumi ini harus senantiasa dibarengi dengan permohonan agar Allah juga berkenan menurunkan pertolongan langitnya yang maha luas dan maha dahsyat untuk memudahkan semua urusan baik kita yang sangat kecil dan tidak berarti apapun dengan semua kekuatan Allah.

Berarti shalat itu adalah presentasi langit ?

Betul.. shalat itu adalah presentasi proposal bagi program marketing langit kita. Dalam upaya memohon dengan sebaik-baiknya perkenan Allah SWT untuk sudi mengampuni dosa-dosa dan khilaf kita serta berkenan menurunkan pertolonganNya bagi semua urusan kita.

Dan namanya juga mempresentasikan sebuah proposal, maka diterima dan tidaknya proposal kita sangat tergantung dari seberapa bersungguh-sungguhnya kita saat mempresentasikannya di hadapan Allah dan seluruh malaikatnya tersebut. Apakah presentasi kita cukup meyakinkan atau tidak untuk diproses..

Karena yang kita hadapi saat itu tahu betul.. kita ini sedang tulus atau tidak.. kita ini sedang bersungguh-sungguh atau tidak.. kita ini saat itu betul-betul bersungguh-sungguh meminta atau hanya berpura-pura..

Terima kasih ya Allah..
Telah meluruskan kembali tujuan hidup ini..

Muda Mendunia

Dua-tiga hari ini saya dibanjiri informasi dari rekan sejawat. Rekan yang mengabdikan diri menjadi dosen. Pun dari yang bekerja di luar negeri. Semua memberi kabar yang membahagiakan. Tebersit juga rasa kagum dan bangga.

Mereka mengisahkan perjuangan mahasiswa UB. Anak-anak muda itu menginjakkan kaki di negeri tetangga. Mereka bertarung. Menjejakkan kaki untuk memamerkan sekaligus memacu hasil karya mereka. Ajang Shell Eco Marathon 2017. Event melombakan purwa rupa kendaraan hemat bahan bakar. Tercatat 20 negara yang ambil bagian. Kebetulan juga, kali ini, tim Indonesia mendominasi dari segi jumlah peserta.

Banyak cerita. Hingga sore ini, mereka seusai lomba juga melakukan evaluasi. Menghadirkan alumni. dan ahli. Mereka berbagi. Manambah network. Sekaligus lesson learnt dari seluruh kegiatan.

Kalian memang belum juara. Tapi itu semua membuat saya, dan tentunya alumni Teknik Mesin Universitas Brawijaya, bahagia dan bangga.

Kalian masih muda namun sudah mendunia. Attitude orang sukses pun telah ditorehkan. Berani. Punya kemauan. Produktif. Menjalin networks. Dan satu yang penting, mau melakukan evaluasi. Meminta masukan untuk perbaikan. Melihat karya orang lain yang lebih hebat untuk dijadikan bahan pelajaran ke depan.

Selamat kepada Tim APATTE 62 yang telah berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di ajang Shell Eco-marathon Singapore 2017.

Salam Biru Abang ! Salam Satu Jiwa !

Special thanks to alumni @ Singapore.

Jazakallaah khair untuk Sam Charis Soeharto dan team atas hospitalities dan wejangan selama di Singapura.

 

By Ari Wijaya, Ketua Ikatan Alumni Teknik Mesin Universitas Brawijaya (IKA TMUB) @Blue Sky Lounge, Bandara Juanda.