Karyawan ? Iya. (Dan) Pengusaha ? Bisa !

Siang selepas sholat Jumat, saya mendapat keberkahan. Bertemu dengan 2 orang hebat sekaligus. Satunya trainer, motivator sekaligus pemilik usaha travel umroh. Satunya lagi, karyawan, penulis buku, dan juga pengusaha. Meski ia sendiri tak mau disebut pengusaha. Padahal usaha yang dirintisnya beberapa biji. Nah lho ?

Banyak hal disampaikan dalam diskusi singkat sembari makan Mie Ramen. Kali ini saya angkat 1 hal saja. Satu tapi kompleks.

Setiap manusia itu bisa jadi pengusaha. Hanya manusia yang tidak pakai baju, celana dan mondar mandir di jalan saja yang tidak bisa jadi pengusaha. Tahu maksudnya, kan ? Siapa dia.

Menjadi pengusaha harus punya kemauan, keberanian, komitmen, doa dan satu tambahan lagi, belajar terus.

Saya ambil satu contoh yang beliau kemukakan. Komitmen.

Ini modal yang juga tidak sulit. Gampangnya dapat dimulai dari hal yang sederhana. Ketika berjanji ketemu dengan orang lain, usahakan tepat waktu. Bukan semoyo. Banyak alasan ketika molor. Apalagi terkait dengan janji yang sudah bermuatan uang atau materi. Misalkan jika ada barang yang diambil untuk dijual lagi, maka saat menyepakati kapan akan dikembalikan, harus tepat waktu. Tidak masalah ketika tidak laku. Yang penting pada saat yang dijanjikan tetap ditunaikan. Hadir. Diceritakan juga kenapa tidak laku, dll. Jangan menunda dengan apa pun excuse-nya.

Komitmen itu attitude yang bisa membawa dan membuka pintu rezeki. Komitmen menimbulkan kepercayaan. Kepercayaan adalah barang mahal dalam dunia usaha. Banyak contohnya, bukan ? Orang tak punya modal uang, tapi tetap bisa jualan. Itu beliau buktikan sendiri.

Ya, beliau adalah Tri Sumono. Manusia empat kuadran. Karyawan iya, pengusaha juga, self employee dan juga investor. Lengkap !

Saya bersyukur beliau berkenan berbagi pengalaman dan kiat bisnisnya. Bahagianya lagi, insya Allah menjadi pembicara juga dalam acara launching dan bedah buku ‘Cost Killer’.

Ingin tahu lebih jauh ? Ingin mendapat peluang usaha juga ?

Silakan hadir pada event :

SABTU, 25 Maret 2017 : 08.00 – 12.00 WIB

Bertempat di Graha Titan Center, Jl. Boulevard Raya, Bintaro, Tangerang Selatan. Lokasi rinci, silakan klik link berikut ini.

https://goo.gl/maps/5fQuyGMTt2C2

Masih ada sisa sedikit kursi lagi. Jangan terlewat, ya !

Biaya investasi kehadiran event ini :

  • Rp. 200.000,- per orang.
  • khusus sivitas akademika mendapatkan harga special : Rp. 150.000,- per orang.

Anda akan mendapatkan paket :

  1. Voucher potongan harga biaya pelatihan sebesar Rp. 250.000,- (dapat digunakan untuk seluruh mata pelatihan AIR Business Consulting)
  2. Buku ‘Cost Killer’ senilai Rp. 63.000,-
  3. Networking Breakfast. Kudapan pagi sekaligus perkenalan dan peluang membuka usaha.

Investasi kehadiran dapat ditransfer melalui :

BNI Syariah (kode antar bank : 009)

A/C No. : 99 33 66 33 9 | An. : Yayasan Cerdas Sehat Gemilang Indonesia

Pesan tempat duduk anda sekarang. Kirimkan konfirmasi dengan format : “CK-Nama-Profesi”, melalui WA kepada :

081 190 90 190

Informasi lebih rinci dapat melayangkan surat elektronik via :

coach.sisrie@gmail.com | info@airbizconsulting.com

Sampai jumpa !

Memenangi Persaingan

Di dalam dunia usaha persaingan adalah keniscayaan. Setiap perusahaan selalu berusaha untuk bertahan dan bahkan memenangkan persaingan. Unggul dari perusahaan lain.

Bila kita cermati ternyata selalu saja ada perusahaan-perusahaan yang menemukan cara-cara cerdik untuk bertahan di tengah situasi tidak menguntungkan. Dan salah satu kunci pertahanan yang banyak dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut adalah mengoptimalkan biaya.

Salah satu caranya, penghematan pada biaya pokok produksi atau harga pokok penjualan (atau cost of goods sold) atau yang sering kita kenal sebagai HPP. Naik turunnya HPP akan mempengaruhi margin keuntungan penjualan yang dari keuntungan penjualan itulah roda perusahaan digerakkan.

Hasil akhir dari persaingan sudah pasti akan menguntungkan konsumen secara umum, karena hanya perusahaan yang paling efisien yang bisa memberikan harga terbaik.

Efek positif lainnya, remunerasi karyawan bisa lebih baik. Misalnya, sebagian dari nilai penghematan itu disisihkan untuk pos kenaikan gaji karyawan. Plus pemberian bonus. Bisa jadi itu menjadi salah pemicu motivasi bekerja lebih baik. Dan akhirnya, produktivitas bisa bertambah baik.

Secuil kisah itu dan juga cerita lain serta bagaimana cara menjalankannya, ada dalam buku ‘Cost Killer’.

Ingin tahu lebih jauh ?

Mari sisihkan waktu. Hadiri launching dan bedah buku ‘Cost Killer’, pada :

SABTU, 25 Maret 2017 : 08.00 – 12.00 WIB

Bertempat di Graha Titan Center, Jl. Boulevard Raya, Bintaro, Tangerang Selatan. Lokasi rinci, silakan klik link berikut ini.

https://goo.gl/maps/5fQuyGMTt2C2

Acara ini akan diisi dengan materi yang bernas dari :

  • Tri Sumono, pemilik beberapa perusahaan yang tergabung dalam 3 Jaya Group. Ia merintis usaha dari semasa menjadi tukang sapu.
  • Ari Wijaya, penulis buku ‘Cost Killer’
  • Ridwan Malawi, professional di bidang project management sekaligus CEO AIR Business Consulting.

Biaya investasi kehadiran event ini :

  • Rp. 200.000,- per orang.
  • khusus sivitas akademika mendapatkan harga special : Rp. 150.000,- per orang.

Anda akan mendapatkan paket :

  1. Voucher potongan harga biaya pelatihan sebesar Rp. 250.000,- (dapat digunakan untuk seluruh mata pelatihan AIR Business Consulting)
  2. Buku ‘Cost Killer’ senilai Rp. 63.000,-
  3. Networking Breakfast. Kudapan pagi sekaligus perkenanlan dan peluang membuka usaha.

Investasi kehadiran dapat ditransfer melalui :

BNI Syariah (kode antar bank : 009)

A/C No. : 99 33 66 33 9 | An. : Yayasan Cerdas Sehat Gemilang Indonesia

Pesan tempat duduk anda sekarang. Tempat terbatas. Kirimkan konfirmasi dengan format : “CK-Nama-Profesi”, melalui WA kepada :

081 190 90 190

Informasi lebih rinci dapat melayangkan surat elektronik via :

coach.sisrie@gmail.com | info@airbizconsulting.com

Spare your time, book your seat !

Terima kasih.

Ikhtiar Membumikan Ilmu SCM

Hampir 2 tahun ini, saya mencoba menuangkan dan menggabungkan ilmu yang pernah diberikan Allah SWT melalui guru-guru saya dengan pengalaman langsung di lapangan.

Ya, ilmu SCM, supply chain management. Banyak juga disebut manajemen logistik yang lebih luas.

Alhamdulillaah, bisa menjadi sebuah buku. Insya Allah akan terbit dan berada di toko buku Gramedia, pada akhir Maret 2017 ini.

‘Cost Killer’

Panduan 3 Langkah Besar Melakukan Penghematan Biaya dengan Pendekatan Terobosan pada Proses Bisnis

Mohon doa restunya, agar proses editing, pencetakan, dan distribusinya lancar.

Berikut sokongan dari beberapa rekan sejawat. Terima kasih atas dukungannya.

“Mengelola biaya dengan tepat bisa melesatkan profit. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman sejalan dengan teori para ahli ini sangat pas bagi Anda yang tidak ingin perusahaannya banyak mengalami kebocoran atau pemborosan yang tidak perlu.”

*Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership

 

“Buku ini luar biasa. Bisa jadi panduan pelaku bisnis, terutama yang bergerak di bidang produksi. Trik-trik menarik dan mudah yang bisa dicoba, pasti Anda akan merasakan aura suksesnya…”
*Temmi Wahyuni, Owner Nibras Group | www.rumahnibras.com

“Biaya perlu dicermati. Pembengkakan bisa membuat harga tidak kompetitif. Apalagi bagi industri kecil seperti kami. Upaya terobosan yang dicontohkan di buku ini, sangat membantu”.
*Unang Supriadi, Pengusaha UKM Garmen dan Seragam | www.rumahjahit.com

“Jika Anda ingin memangkas biaya-biaya yang tidak perlu dalam bisnis Anda, silahkan baca buku ini !!”
*Davied Verronica, Owner Smart Travel dan People Development Trainer

“Pengalaman panjang di dunia industri yang telah dijalani penulis, Mas Ari Wijaya, membuat buku yang berat ini menjadi ringan karena sarat contoh dan penerapannya, tidak sekedar teori”.
*Awang Surya, Pengusaha Kuliner, Dosen, sekaligus Penulis Buku | www.awangsurya.com

“Fungsi pengadaan (dan pembelian) selama ini dipandang sebelah mata dalam suatu organisasi. Bila kita melihat proses Supply Chain secara keseluruhan, tidak mungkin terjadi aliran produk ke pelanggan tanpa adanya proses pengadaan. Istilah Supply Chain sendiri, atau Rantai Pasok, menunjukkan adanya kegiatan pemasokan dari supplier (pemasok). Pemasok baru dapat mengirimkan barangnya setelah proses pengadaan dimulai. Sdr. Ari mengungkapkan secara gamblang pentingnya proses pengadaan dalam suatu organisasi dan pentingnya membina hubungan dengan pemasok, karena pemasok adalah mitra. Didukung dengan pengalaman kerja di bidang pengadaan, Sdr. Ari membuktikan pentingnya melakukan terobosan perbaikan proses bisnis, yang langsung dirasakan dampaknya oleh perusahaan baik berupa perbaikan kinerja pelayanan pelanggan maupun keuntungan. Dalam tulisannya, Sdr. Ari mendorong pembaca untuk tidak takut melakukan terobosan, walaupun kelihatannya kecil. Dengan mulai melakukan perbaikan yang nampaknya kecil, maka akan berkembang menjadi perbaikan yang lebih besar, yang hasil akhirnya akan memberikan dampak positif yang luar biasa besar bagi organisasi”.

*Ir. Harry Purwoko MM, MBA, CSLP. Direktur Program Sembada Pratama, School of Supply Chain.

“Cost Effective is key success to win competition. Situasi ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada ketidakpastian iklim bisnis membuat pengusaha harus mencari terobosan. Efisien biaya dan re-engineering bisnis proses adalah strategi bertahan, minimalisir risiko bisnis dan sekaligus menjadi pemenang. Mas Ari Wijaya mempermudah konsep ini dan membuatnya gamblang mudah dicerna serta bisa langsung dipraktekkan.”
*Ferry Hermansyah, Praktisi Bisnis, Founder Leadership Nasional, Konsultan dan Trainer Strategi Bisnis & Manajemen Risiko. | www.leadershiptravel.co.id, www.lnkonsultan.com

“Pada saat perusahaan tumbuh semakin besar, perusahaan akan dihadapkan dengan adanya kebutuhan untuk bisa melakukan pembelian tepat waktu, tepat mutu dan tepat harga. Di sinilah peran dari kegiatan strategic sourcing diperlukan. Buku ini memberikan banyak contoh kegiatan pengadaan barang dan jasa termasuk strategic sourcing yang bagus untuk referensi para pembacanya”.
*Satrio Daru Sasongko, Praktisi Pengembangan Usaha, Jakarta.

“Apa yang ditulis oleh Pak Ari Wijaya ini adalah hal-hal yang lazim dialami oleh banyak perusahaan. Beliau mencoba mengajak pelaku bisnis untuk berpikir lebih cerdas memanfaatkan berbagai celah dalam menekan biaya yang pada gilirannya akan meningkatkan profit. Tulisan yang sangat patut Anda baca.”
*Zaki Jauhar, CEO of Nibras Group, Former CEO of PT. Sofyan Hotels, Tbk.

‘Tujuan perusahaan baik skala Mikro maupun Raksasa Bisnis adalah Profit. Hal ini dilakukan dengan memberi Nilai Tambah pada produk dan jasanya. Lalu bagaimana dengan biayanya? bukankah makin besar? Buku ini menunjukkan bahwa Anda dan perusahaan Anda dapat tetap menjaga atau menaikkan kualitas bahkan ketika Anda menurunkan biaya. Berdasar hands on experience belasan tahun dan passion yang besar untuk bisnis yang lebih efektif dan efisien, Mas Ari Wijaya menyajikannya sepenuh hati untuk Anda. Jangan hanya baca, praktekkan dan buktikan hasilnya!”
*Wirzal Taufiq, Owner EO & Training Provider : Pranala Magni Daya sekaligus Value Awareness Coach

“Mendapatkan HPP (Harga Pokok Produksi) yang rendah merupakan target usaha dari setiap UKM agar mendapatkan margin laba yang lebih baik. Penulis sangat piawai memaparkan konsep yang sederhana serta efektif agar tujuan tercapai yaitu HPP yang optimal. Saya menyarankan agar setiap pelaku UKM dapat meluangkan waktu sejenak agar dapat memahami konsep yang ditawarkan Penulis sekaligus sarana kontemplasi menikmati gaya penulisan yang mengalir. Semoga Penulis dapat melahirkan karya-karya selanjutnya, yang akan selalu menginspirasi para Pelaku UKM…”
*Pricahyo Bea Examinanto, Pengembang Perumahan & Apartemen Syariah

“Suatu buku yang sangat baik untuk para mahasiswa yang tertarik ke dunia Supply Chain Management dan para praktisi SCM untuk mengurangi biaya pengadaan tanpa merugikan para vendor yang terlibat. Tulisan yang terkandung di dalam buku ini sangat mudah untuk dipahami dan sangat praktis. Tentu saja, karena tulisan tersebut mengandung teori dan terapan praktis berdasarkan pengalaman penulisnya. Besar harapan , ide-ide yang terkandung dalam buku “best praktis” ini dapat ditransformasikan menjadi produk / aplikasi fintech agar dapat digunakan di semua industri dengan cepat”.
*Insan Kurniawan, ST., MM. Pemerhati Supply Chain Management. Owner FRID-UKM Flame Retardant Indonesia.

“Buku ini sangat bermanfaat bagi sebuah organisasi yang sedang berkembang maupun yang sedang dalam titik jenuh untuk melakukan cost efficiency dan mengembangkan nilai bisnis organisasi. Berisi trik-trik pengelolaan bisnis yang menarik dan patut dicoba oleh para pelaku bisnis”.
*Retno Mardiningsih, Pemilik & Direktur Kasaba Pratama, Komisaris Spice Agro International, Pengusaha Bidang Ekpor Komoditi Pertanian.

Beli Produk Teman

Beberapa pekan terakhir ini, saya mengamati kantin kantor. Food court. Saya perhatikan, makanan yang tersaji masih lumayan banyak saat jeda makan siang usai. Mereka sewa tempat. Masak dadakan. Servicenya dari makan pagi hingga makan siang. Hanya beberapa yang buka hingga selepas Isya’.

Pengamatan itu masih saya simpan. Namun, jumlahnya saya perbanyak. Sesekali pas saya makan telat . Makan siang pernah pukul 2 siang. Ternyata, menu pilihan pun masih banyak. Antara senang dan sedih. Campur aduk. Senang karena menu yag saya inginkan, masih ada. Sedih sebab penjual stoknya masih banyak. Pertanda kurang laku.

Dialog singkat pun, saya lakukan dengan penjual. Memang benar dugaan saya. Omset mereka turun. Kadang 40%, bahkan bisa 60%. Indikator yang sederhana tadi mencerminkan kondisi itu. Biasanya, pukul 1 siang, makan di etalase mereka licin tandas. Beberapa pemilik warung nimbrung. Mereka mengungkapkan hal yang setali tiga uang.

Pekan lalu, saya bertemu sahabat yang pebsnis kuliner. Ia sekaligus mubaligh. Selepas memberikan ceramah Jumat. Ia berkenan makan bareng. Saya menceritakan dan meminta pendapatnya tentang kondisi tadi. Surprised. Ia pun beberapa pekan ini merasakan hal yang sama. Revenue turun separo !

Subhanallaah.

“Aku juga penasaran. Aku silaturahim ke beberapa ruko sebelah wrung saya di Cileungsi. Meraka juga idem ditto. Omsetnya turun drastis”, begitu tambah sabahat saya ini.

Sahabat, apakah merasakan hal yang sama ? Omset turun ? Apakah ini karna daya beli menurun ? Bisa jadi. Atau sebab lain. Saya yang bekerja pun merasakan kondisi perusahaan yang tidak semanis seperti rencana. Prihatin.

Bagaimana mengatasinya ? Banyak cara. Tapi diskusi singkat itu membawa kami berupaya. Beberapa teman dekat berkumpul. Ada satu aksi kecil yang disepakati. Ruang lingkup masih sebatas orang yang dekat jangkaunnya. Saudara, teman, tetangga, temannya teman. Lingkungan bisa tetangga, kantor, atau suatu komunitas.

Kami membuat program #promosiusahateman #beliprodukteman. Teman yang punya usaha, kita promosikan. Pakai medsos atau dari mulut ke mulut. Plus aksi tambahan yang lebih nyata. Jika ada event, rapat, pelatihan. Atau bisa jadi untuk dibawa pulang ke rumah. Kudapan, makanan berat (baca : menu nasi komplit), maka kami pesan dari teman. Ini yang disebut #beliprodukteman. Ini juga mencakup jasa lho. Misal, pelatihan atau perbaikan rumah, perawatan AC, dll.

Kolusi ? Tentu tidak. Kami tetap professional. Ada budget dan mereka menyesuaikannya. Saling menguntungkan. Jika order besar, kami juga tawarkan ke beberapa pengusaha. Bagaimana kualitasnya ? Tentu saja tidak boleh turun. Jangan sampai lebih rendah dari spesifikasi yang ditetapkan. Fair enough.

Bisa jadi pengaruhnya kecil. Tapi upaya keberpihakan itu, kami pupuk. Kami jadikan aksi nyata. Semoga bisa menular dan menjalar.

Ayo sahabat kita mulai. Ada rencana belanja, ingat produk teman dulu ya. Semoga omset mereka setidaknya terdongkrak kembali.

#promosiusahateman #beliprodukteman

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.

(HR. Thabrani)

Inilah Dedikasi Kami untuk Indonesia

Inilah Dedikasi Kami Untuk Indonesia

by : Dwi Wahyu Daryoto *)

 

Hari ini kita semua menyaksikan…
Sebuah batu bata kembali terpasang pada bangunan cita-cita menjadikan Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia yang unggul dan bermartabat…

Satu lagi sejarah tertoreh…
Sebuah buku kumpulan pemikiran insan-insan pertamina kembali lahir…

Lima puluh sembilan karya tulis dari para pelaku sejarah di perusahaan kita tercinta, berhasil kita rangkum menjadi pelengkap bagi keberhasilan yang telah kita capai hingga 59 tahun Pertamina berkarya…

Tahun 2015 dan 2016, berkat komitmen dan kerja keras kita bersama, kita berhasil melakukan pembenahan yang mampu meningkatkan efesiensi milyaran US$. Ini akan meningkatkan daya saing kita di lingkungan yang kian kompetitif.

Kita juga sukses membukukan keuntungan bersih sekitar 3 miliar dolar amerika atau dua kali lipat lebih dari capaian kita di tahun 2015.

Kita juga berhasil menginisiasi program BBM satu harga di seluruh Nusantara, meski pelayanan ini harus terus kita sempurnakan, namun saya yakin manfaatnya bagi Negeri kita tercinta khususnya saudara saudara kita yang berada di pelosok sangat berarti.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha, Kita akan terus fokus mengelola Profit, People dan Plannet..

Insan Pertamina yang saya banggakan…

Usia jabatan kita apapun tingkatannya dapat diukur…3, 5, 10, 20 atau bahkan 30 tahun ……berapapun lamanya…pasti ada batas dan ada akhir.

Begitupun usia kita di dunia ini…ada batas dan ada akhir…

Namun usia sebuah karya intelektual yang lahir dari komitmen dan dedikasi yang tinggi, ia dapat dikenang selamanya… tak lekang oleh waktu.

Para penulis dalam buku ini bisa saja, lusa atau tahun depan masuk masa purna bakti, namun sumbangsihnya pada Pertamina akan tercatat dan dikenang selamanya. Buku ini menjadi saksi.

Insan Pertamina yang saya cintai…

Jangan pernah berhenti berkarya, terus berjuang menegakkan cita-cita untuk keberhasilan Pertamina…

Menjadi baik saja tidak cukup…Menjadi baik adalah hal mudah…cukup berdiam diri dan tak perlu berbuat apa-apa maka yang tampak adalah kebaikan…

Yang sulit adalah menjadi BERMANFAAT, karena itu butuh perjuangan, komitmen dan dedikasi…

HOS Tjokroaminoto, founding father kita mengingatkan kepada kita bahwa keberhasilan perjuangan ditentukan oleh tiga hal:

“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

“setinggi-tinggi ilmu” dapat kita maknai sebagai center of excellence, terus tingkatkan kompetensi, bergerak dan bertindak berdasarkan informasi dan fakta yang akurat.

“semurni-murni tauhid” dapat kita maknai sebagai kelurusan niat, tegakkan integritas, bahwa seluruh yang kita lakukan untuk pengabdian dan ibadah.

“sepintar-pintar siasat” dapat kita terjemahkan sebagai perencanaan, strategi dan taktik yang cemerlang, resilient, yang tangguh menghadapi setiap perubahan dan tantangan.

Buku hasil karya insan pertamina ini adalah bagian dari center of excellence itu, sebagai pagar bagi kelurusan niat kita untuk terus menjaga integritas serta sekaligus sebagai pemantik lahirnya strategi unggul untuk keberhasilan perjuangan kita bersama …

Untuk Pertamina Jaya….

Untuk Indonesia Sejahtera.

 

 

*Dwi Wahyu Daryoto adalah Direktur SDM, Teknologi Informasi & Umum, PT. Pertamina (Persero). Tulisan tersebut merupakan refleksi beliau yang dibacakan pada saat closing acara Bedah Buku dan Peluncuran Buku “Inilah Dedikasi Kami untuk Indonesia” di Lobby Ground Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina, 31 Januari 2017.

Jadilah yang Istimewa

Jadilah yang Istimewa
By Ari Wijaya

Pernahkah lihat koleksi lukisan yang harganya mahal? Atau mengikuti berita lelang ? Pada salah satu berita on-line, ada yang harganya USD 100juta. Kalau dirupiahkan, setara dengan Rp. 1,3 Triliun  ! Kenapa bisa mahal ? Karena gambar itu punya keunikan. Istimewa. Dilukis oleh orang terkenal. Pablo Picasso membuat lukisan itu pada tahun 1905.

Beli martabak pun ada yang mahal. Ia dijual ditempat khusus. Itimewa juga. Pun biasanya juga, telornya lebih banyak.

Ada juga trainer yang profesional feenya mahal. Ia punya ciri khas. Rekam jejaknya mantap. Banyak tim yang ditanganinya menjadi kampiun.

Bagaiamana dengan ibadah ? Betul. Ada juga ibadah yang mendapat perhatian khusus. Istimewa ! Apa itu ? Salah satunya adalah menegakkan sholat di Masjidil Haram, Mekah Al Mukarromah. Pahala yang didapat berlipat. Ganjaran yang istimewa.

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik 1000 shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih baik 100.000 shalat di masjid lainnya.”

(HR. Ahmad).

Pahala yang diberikan seratus ribu kali ! Kenapa coba ? Masjid ini ternyata punya kekhasan. Salah satu keistimewaan masjid ini adalah shaf-nya melingkar. Istimewa. Tidak dipunyai masjid lainnya di seluruh dunia.

Kenapa yang istimewa, unik, punya ciri khas, harganya lebih dari rata-rata ? Apresiasinya nggak umum ? Karena mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Tidak bisa disamai benda lainnya. Istimewa.

Lalu bagaimana dengan kita ? Pingin bisa menjadi seperti itu, bukan ? Ketika punya keistimewaan maka kita akan dihargai mahal. Saya sering sebut sebagai pendekar pilih tanding.

Saya punya 3 kiat membangunnya. How to be one person who have that position.

Itu yang disebut : Integritas, competent, dan resourceful. Saya singkat, I Core !

Integritas singkatnya adalah jujur. Having strong moral principle. Punya saringan kuat atas apa yang diperoleh. Ini hakku atau bukan? Pertanyaan yang selalu diajukan pada diri sendiri atas sesuatu yang diberikan kepada kita. Sesuatu yang kita peroleh.

Competent itu adalah orang yang punya keahlian. Mengembangkan diri hingga menjadi rujukan. Nara sumber. Jadi jangan merasa kapok kalau sedikit-sedikit orang lain meminta pertolongan anda. Itu pertanda, anda memang bisa diandalkan.

Resourceful diartikan panjang akal atau banyak akal. Tidak gampang bilang, nggak bisa ! Tidak mungkin ! Susah carinya itu ! Kalimat-kalimat itu, tak ada dikamusnya. Tidak kenal jalan buntu. Selalu cari jalan baru. Menjadi pemecah masalah.

Kalau sudah punya ‘I core’ (bisa diartikan : saya jadi intinya), maka perlu ditambah attitude gemar melakukan kolaborasi dan berbagi. Saya sebut Coring. Singkatan dari kata collaboration and sharing).

Kolaborasi adalah bekerja sama dalam kebaikan. Saling mengisi dan menambah kemampuan. Sehingga satu ditambah satu tidak hanya menjadi dua, bahkan 1+1 bisa menjelma menjadi 3 atau 5. Kekuatan yang lebih dahsyat. Perpaduan yang memberikan energi positif lebih berdaya guna. Berpeluang memberikan perubahan dan jungkitan lebih besar.

Sharing dapat diartikan kemauan untuk berbagi. Termasuk ilmu, harta dan tenaga. Tanpa menunggu status tertentu. Tak perlu menunggu kaya, atau pintar, bergelar dan lain-lain. Karena parameter itu pun semu. Bias. Punya sedikit dibagi. Punya banyak apalagi. Tanpa menunggu kata : entar, nanti. Karena berbagi sejatinya adalah bersyukur.

Mari sahabat kita berupaya menjadi insan istimewa. Punya keunikan. Kekhasan. Karena yang istimewa itu akan bernilai mahal.

Ingat kiat I-CORE and CORING !

Makkah, 10 Januari 2017

Menjelang Waktu Ashar di Kawasan Ajyad. Tepatnya di Hotel Dar Al Eiman. Hotel yang menyediakan layanan shuttle Ajyad – Masjidil Haram, dengan menggunakan mobil listrik. Lumayan membantu bagi yang berangkat ke masjid saat injury time.

Rasa Cinta

Rasa Cinta
By Ari Wijaya

Waktu muda dulu ada istilah wakuncar. Waktu kunjung pacar. Ngapel. Seperti ritual wajib di Hari Sabtu malam. Jadi ketahuan ya, saya generasi tahun berapa.

Hari Sabtu sangat ditunggu. Rasa ingin kembali. Kalau bisa Hari Sabtu berputarnya cepat. Pingin segera jumpa. Itu semua hampir dipastikan karena ada rasa cinta. Meski hanya kepada seorang manusia. Cinta kepada lawan jenis. Kalau tidak hadir atau terlewat. Rasanya dunia hambar. Sepo ! Tak bermakna. Garing. Padahal belum tentu juga jadian, ya. Gemuruh dada tak henti-hentinya. Ehm….

Bagaimana jika itu cinta kepada Rasulullaah SAW ? Nabi dan rasul yang dikirim untuk memperbaiki akhlak kita. Dan juga cinta kepada Allah. Bisa dibayangkan ? Sudah pasti harus jauh melebihi cinta saat wakuncar.

Itulah yang kami rasakan ketika tawaf wada’. Tawaf perpisahan di Masjidil Haram, Subuh tadi.

Salah satu petikan doa dan dzikir kami :

“Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa Mengembalikan, kembalikanlah aku ke Ka’bah ini dan berilah aku rezeki untuk mengulanginya berkali-kali, dalam keadaan bertaubat dan beribadat, berlayar menuju Tuhan kami sambil memuji, Allah Maha menepati janjiNYA, membantu hamba-hambaNYA, yang menghancurkan sendiri musuh-musuhNYA. Ya Allah, perilharalah aku dari kanan, kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku”

Semoga rasa cinta yang mendalam membawa kami kembali ke tanah suci.

Doa serupa saya panjatkan untuk sahabat semua. Doa kesehatan, keselamatan dan kelapangan rezeki.

Kelak, suatu saat, kita bisa bersama-sama mengumandangkan :

“Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarikalaka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syarikalak”

(“Aku memenuhi panggilanMU ya Allah, aku memenuhi panggilanMU. Aku memenuhi panggilanMU tiada sekutu bagiMU aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMU begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMU”).

Sekali lagi, semoga rasa cinta itu membawa kami kembali.

Jeddah, 11 Januari 2017

Saat menunggu boarding kembali ke tanah air. Di lounge yang sederhana di King Abdul Azis International Airport.

Tentang Visi

Tentang Visi
By Ari Wijaya

Perjalanan Madinah ke Makkah menyisakan satu rasa penasaran. Saya simpan karena ada perintah leader group umroh untuk mematikan handphone hingga prosesi umroh tuntas.

Penasaran tentang apa itu ? Visi 2030 Saudi ! Saya jadi nyambung dengan upaya perusahaan yang kita cintai ini yang sedang mengubah visinya.

Ini dia visi 2030 itu :

“Saudi Arabia..the heart of the Arab and Islamic worlds, the investment powerhouse, and the hub connecting three continents”

visi/vi·si/ adalah pandangan atau wawasan ke depan. Itu sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Saya coba ketengahkan pada sesi tulisan ini.

Apa yang ada dibenak jika ditanya tentang Arab Saudi ? Negeri kaya raya ? Ya. Apa sumber kekayaannya? Hampir dipastikan dijawab : Minyak ! Makanya tidak salah kalau disebut negeri Petrodolar.

Mereka kini berupaya berubah. Arab Saudi akan mengalihkan sumber pendapatan negerinya bukan lagi dari emas hitam itu. Tidak lagi dari oil and gas.

Beberapa program terkait dengan program haji dan umroh. KSA atau Kingdom of Saudi Arabia akan mulai menggarap peningkatan diharapkan hingga 30 juta jamaah umroh setiap  tahun. Saat ini tercatat baru 8 juta jamaah per tahun.

Ini salah satu menjawab penasaran saya. Kenapa pembangunan infrastruktur terkait untuk meningkatkan kapasitas dan pelayanan jamaah pun ditambah. Jalan raya diperlebar. Ketika perjalanan Jeddah-Madinah. Maupun beberapa tempat yang kami lewati dan kunjungi.

Pengembangan bandara di Taif. Sekira 70km sebelah Tenggara Kota Mekkah. Pun pembangunan Bandara Jeddah yang baru. Pembangunan hotel-hotel baru. Dan tentunya,  yang ditunggu umat Islam, penyelesaian perluasan Masjidil Haram.

Masih banyak program-program yang visioner lainnya.

Inisiasi ini ditugaskan kepada Mohammad bin Salman bin Abdul Azis. Pemuda berusia 31 tahun. Mantan Gubernur Riyadh. Saat ini, Menteri Pertahanan Arab Saudi.  Sekaligus Wakil Putra Mahkota Raja Arab Saudi.

Targetnya, Arab Saudi tidak lagi bergantung pada minyak bumi. Usaha yang patut dicermati. Karena memang Arab Saudi punya potensi besar lain yang kini digali kembali. Dan lebih serius.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa:

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian”

Insya Allah, tidak lama lagi terwujud kembali. Mereka mengubah cara berpikir dan bertindak sebagai antisipasi perubahan. Jalan ke arah itu pun sudah mulai menampakkan hasil.

Makkah, 8 Januari 2017

Sembari menunggu giliran mandi, selepas umroh bersama group.

Ketaatan Itu Mahal

Ketaatan Itu Mahal
By Ari Wijaya

Dalam balapan formula 1 dikenal ada beberapa strategi. Pembalap harus ikuti arahan team managernya. Abai bisa berakibat fatal.

Perusahaan pun demikian ada arahan strategis CEO. Pun harus pula ditaati. Kalau tidak bisa jadi perusahaan tidak maju seperti yang diharapkan. Dalam lingkup yang lebih kecil, arahan dan perintah atasan harus ditaati.

Bukit Uhud adalah hikmah yang sangat besar. Perang antara pasukan Rasulullaah SAW dengan Pasukan Koalisi Kaum Quraisy. Pada awal pertempuran pasukan Nabi Muhammad SAW memukul mundur pasukan lawan yang jumlahnya 5 kali lipat. Strategi menempatkan pasukan pemanah di atas bukit sangat jitu. Itulah kuncinya. Rasulullaah SAW memerintahkan, apa pun yang terjadi pasukan pemanah tidak boleh meninggalkan posisinya. Baru boleh beranjak setelah ada perintah Nabi Muhammad SAW.

Pasukan musuh pun kocar kacir. Kemenangan nampak di depan mata. Musuh terlihat mundur, tapi perang belum usai.

Harta dan perbekalan yang dibawa musuh tertinggal di camp. Ditinggal kabur. Terlihat jelas dan banyak. Ghanimah !

Perang belum dinyatakan usai. Pasukan pemanah khilaf. Mereka ikut turun dari gunung. Meninggalkan pos. Melanggar perintah sang pemimpin, Rasulullaah SAW.

Di saat itulah, pasukan berkuda Quraisy melihat peluang. Karena pasukan di atas bukit itulah yang membuat mereka tunggang langgang. Mereka mengitari bukit. Dan menghantam balik.

Serangan balik yang dahsyat. Banyak yang gugur termasuk Paman Nabi, Hamzah RA. Tercatat 70 an orang menjadi syuhada.

Ketaatan itu mahal. Nampak sepele. Berasumsi pekerjaan sudah tuntas. Seharusnya perintah bahwa tugas selesai adalah dari sang pemberi perintah. Bukan ukuran kita sang penerima. Jika belum, maka apa pun alasannya, pekerjaan belum usai.

Semoga perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita semua. Bagaimana menyikapi perintah. Merawat ketaatan. Ketaatan itu mahal. Abai bisa berakibat fatal.

Jabal Uhud hanya berjarak sekitar 5 Km dari Masjid Nabawi Madinah. Bukit yang menjadi saksi sejarah. Pun hikmah bagi kita semua.

Madinah, 7 Januari 2017

Selepas makan malam bersama rombongan

Antrian yang Dirindukan

Antrian yang Dirindukan
By Ari Wijaya

Pernahkah antri beli tiket kereta api menjelang lebaran ? Atau antri menukarkan tiket Final Piala AFF ? Atau antrian periksa kesehatan ? Atau menunggu giliran beli makanan ?

Capek ? Kadang kesal. Harap-harap cemas.

Tapi itu semua rela dilakukan. Why ? Karena ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Mendapat hal yang spesial. Keutamaan. Beda lho nonton langsung di lapangan bola. Atau  mendapatkan apa yang diinginkan. Diidamkan. Apalagi setelah lama ditunggu.

Sama halnya ribuan orang yang rela disekat beberapa lapis menunggu giliran. Mereka mengantri masuk Raudhah. Area antara mimbar masjid Nabawi dan rumah Rasulullaah SAW.

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga.”

Hadits  ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah.

Taman surga yang ada di dunia. Banyak keutamaan melakukan ibadah di tempat ini. Pahalanya berlipat ganda.

Banyak dalam Al Qur’an digambarkan seperti apa surga itu. Dan tentunya, menjadi tempat yang paling diiginkan bagi orang beriman.

Kalau sudah seperti itu. Siapa pun akan rela mengantri. Antrian yang selalu dirindukan.

Madinah, 5 Januari 2017
Menjelang waktu isya’.

Note :
Saya mendoakan agar teman-teman berkesempatan antri dan masuk Raudhah.

Silakan berniat mulai sekarang. Termasuk usaha fisik lainnya. Salah satu yang utama, menabung. Tiada yang tidak mungkin.

Semoga menginspirasi dan menyemangati teman-teman.