Punya Prinsip, Separuh Sukses

Punya Prinsip, Separuh Sukses

 

Masih ingatkah Anda dengan kisah ini?

Di tepian sebuah sungai di wilayah Provinsi Sumatra Barat, tinggallah seorang guru agama. Pak Lebai namanya. Suatu hari, Pak Lebai mendapat undangan pesta dari dua orang kaya di kampungnya. Sayangnya, pesta itu berlangsung di waktu yang sama, dan tempatnya saling berjauhan. Yang satu berada di hulu sungai, sedang yang kedua berada di hilir sungai. Tuan rumah di hulu sungai akan memberinya dua kepala kerbau, tapi masakannya tidak enak. Sedangkan tuan rumah di hilir sungai dikenal punya masakan yang enak, tapi ia hanya akan memberi satu kepala kerbau. Pak Lebai bingung dibuatnya.

Dengan hati diliputi kebingungan Pak Lebai berangkat mendayung perahu menuju hulu. Sepanjang perjalanan di sungai ia terus menimbang-nimbang. Tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera memutar arah perahunya menuju hilir. Ia kembali mendayung. Ketika semakin dekat dengan lokasi di hilir Pak Lebai berjumpa dengan beberapa orang baru pulang dari tempat pesta di hilir.

“Kerbau yang dipotong di hilir, kecil, Pak Lebai!” teriak beberapa orang.

Mendengar hal itu Pak Lebai berubah pikiran. Ia berbalik arah lagi menuju ke hulu. Namun, sesampai di hulu ternyata pesta ternyata sudah usai. Para tamu sudah tak ada. Makanan sudah habis. Lekas-lekas Pak Lebai memutar haluan. Ia mengayuh cepat-cepat menuju hilir. Tetapi kejadian serupa terjadi. Suasana sepi saat Pak Lebai sampai. Pesta sudah usai.

Pak Lebai lemas.

Pembaca budiman, sudah pasti kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Tetapi setidaknya kisah itu memberikan pelajaran penting bahwa hidup tanpa prinsip itu seperti perjalanan tanpa tujuan  yang pasti. Seseorang yang berjalan tidak punya tujuan akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh orang lain. Dan pada akhirnya ia akan menyesal di kemudian hari.

Tetapi apakah dengan memiliki prinsip seseorang pasti akan berhasil meraih kesuksesan? Belum tentu. Tergantung apakah prinsip yang dipegangnya itu benar atau salah. Mari kita buktikan.

Ada beberapa orang yang menganut prinsip seperti berikut ini: hidup itu seperti air mengalir. Ikuti saja, nanti toh akan sampai tujuan juga. Benarkah prinsip ini?

Mari kita cermati dengan seksama.

Apakah setiap aliran air akan berujung ke laut?

Tidak! Ada juga yang ke septictank. Saat kita buang air kecil misalnya, coba cek kemana larinya air buangan itu? Ke laut? Lebih sering tidak!  Ia mengikuti air mengalir bilasan, muaranya hanya sampai kolam penampungan. Tidak sampai ke laut lepas. Artinya, perlu diperhatikan betul prinsip yang kita yakini. Mengapa?

Karena sesuatu yang kita yakini bisa menentukan jalan pikiran dan pijakan tindakan kita.

Mau tahu lebih jauh ?
Mau juga bertemu dengan pemateri dan materi lain ?

Yuk.. Gabung ke :

http://bookoo.co.id/

 

 

 

 

Tenaga Kerja Asing

Tenaga Kerja Asing

Saya pernah mendapatkan kesempatan mengisi jabatan yang boleh dikatakan prestisius. Kesempatan yang dibuka sama kepada seluruh karyawan di negara mana pun perusahaan beroperasi. Ini memang perusahaan consumer goods dengan merek ternama. Saya ketika itu adalah utusan dari manufacturing alias manajemen operasi. Tawaran yang sangat menarik. Jika lolos seleksi akan mendapatkan kesempatan menimba ilmu di Negeri Paman Sam selama 18 bulan. Pelatihan di kantor pusat perusahaan tempat saya berkarya. Saya pun mengikuti tahap penyaringan hingga seleksi tahap akhir. Wakil Asia Tenggara tinggal 1 lagi. Ketika itu pabrik di Kawasan Asia bagian Tenggara yang masih berjalan normal tinggal Indonesia. Lainnya tidak beroperasi karena strategi perusahaan.

Apa daya, ternyata 2 posisi lowong jatah Asia Pasifik, dua-duanya diisi oleh kandidat dari negeri Tirai Bambu. Proses sebelumnya, 1 tempat diisi dari Asia Tenggara. Suka tidak suka, dalam hal ini saya kalah bersaing. Apa pun alasannya. Nyeseklah pokoknya.

Tapi hikmahnya, saya menemukan bidang yang secara spesifik saya perdalam dan tekuni hingga kini.

Karir saya terpaksa berakhir, ketika perusahaan itu dinyatakan ditutup. Seluruh operasional manufakturnya di pindah ke Shanghai, RRC. Mesin yang masih terbilang berteknologi baru di kirim ke pabrik lain di Mexico. Sedangkan sisanya, dihancurkan. Dipotong jadi beberapa bagian kecil agar tidak ditiru orang. Menghindari product counterfeit. Mitigasi risiko atas upaya pemalsuan produk. Tak mengherankan, banyak pekerja yang menangis sembari memotong mesin-mesin itu. Dapat dimengerti, mereka ada yang telah membersamai mesin selama 28 tahun.

Fenomena tenaga asing lebih unggul, juga terlihat ketika saya bergabung dengan perusahaan bahan material. Saya beberapa kali ke kantor manajemen yang berada di bilangan Damansara, Kuala Lumpur. Ada rapat-rapat koordinasi yang mendadak maupun yang terjadwal. Masa itu saya sebagai pemangku jabatan bagian pengadaan di Indonesia punya atasan yang bermarkas di KL. Perusahaan ini tempat para professional lintas negara bergabung. Memang selayaknya perusahaan multi nasional.

Sebagai gambaran, di kantor manajemen yang satu lantai dengan saya itu, hanya ada 2 orang asli Melayu. Dominan adalah India, Chinese, beberapa dari Eropa. Saya bukan bicara masalah SARA. Mohon maaf, jangan sampai salah paham.

Saya salut sama mereka. Kemampuan sebagai manusia berkelas dunia, ada pada diri mereka. Penguasaan bahasa asingnya, utamanya Bahasa Inggris, bisa dibilang excellence. Layaknya mother tounge. Bahasa Ibu. Sedikit dari mereka juga menguasai Bahasa Perancis. Penguasaan teknologinya juga jempolan. Saya tidak melihat mereka gagap teknologi. Setidaknya itu saya lihat saat saya berinteraksi di ruangan kerja maupun di tempat rapat. Teleconference seperti ‘sego jangan’. Biasa dan rutin. Presentasi? Materi dan caranya ciamik. Content dan context-nya padu padan, lengkap. Di perusahaan itu saya merasa seperti orang lama. Saya tidak canggung. Mereka banyak membantu. Mereka menyambut dengan baik kedatangan saya, meski biasanya hanya kenal via surat elektronik. Mereka juga sering mengingatkan waktu sholat. Ini semua membuat saya lebih cepat berbaur, walau saya hanya berada di kantor itu paling lama 3 hari.

Saya kadang merenung. Manggut-manggut menyetujui gejala itu. Kualifikasi sekelas itulah yang membuat mereka bisa melanglang buana.

Lain lagi, saat saya berkesempatan berkunjung dan berdiskusi di Bangalore, India. Saya masuk ke pusat penelitian dan pengembangan perusahaan yang didirikan oleh Thomas Alfa Edison. Saya bertemu dengan tim yang berisi para peneliti dan praktisi, kebanyakan bergelar Doktor. Kebetulan juga di kota itu ada kawah candradimuka calon doktor yang terkenal di Asia dan bisa jadi dunia. Indian Institute of Science. Sejak berdiri tahun 1909, sekolah itu telah menelorkan 3 ribu lebih Master dan Doktor dari berbagai disiplin ilmu eksakta.

Saya pun mulai menelisik, bagaimana bersemangatnya anak muda di sana mengambil studi lanjut. Beberapa teman di Gedung Riset itu saya ajak mengobrol. Mereka kebanyakan bukan anak orang berada. Apalagi ada sistem kasta di India.

Mereka rela menyisihkan uang saku untuk belajar Bahasa Inggris. Dari situlah, mereka bisa membaca literatur berbahasa Inggris. Mereka mengambil juga kesempatan mendapatkan bea siswa belajar ke luar negeri.

Jika mengamati sepak terjang kualitas sumber daya negeri di Asia Selatan ini, patut kita acungi jempol. Mereka kebanyakan menggeluti bidang system informasi dan/atau teknologi informasi. Beberapa nama mereka tercatat sebagai pimpinan puncak perusahaan multi nasional. Bisa dikatakan berkelas dunia. Saya yakin sahabat bisa menyebutkan beberapa nama yang sangat populer.

Bagaimana dengan kita ?

Mari berbenah.

Jack Welch, ‘Manager Abad Ini’, pernah memberi petuah :

“Control your own destiny or someone else will”.

Road to Glory

Road To Glory

Banyak sumber yang menjadi masukan dan pelajaran. Tak jarang berasal dari orang yang saya kenal dekat. Awal perkenalan terjadi saat ia menjadi mentor saya di kampus. Saat saya mahasiswa baru. Ia salah satu pembina program mentoring agama Islam, salah satu kegiatan unggulan bagi mahasiwa baru. Ia juga senior pada beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Setelah lulus, Mas Ali, begitu saya memanggilnya, direkrut oleh Pertamina. Salah satu tempat bekerja paling diidamkan bagi kami lulusan dari kampus di kota kecil, Malang.

Ia pernah mengenyam studi lanjut di Selandia Baru. Karirnya cukup melaju pesat. Pada usia baru menginjak 40 tahun telah menduduki jabatan selevel Vice President. Ia pernah menjadi orang yang paling ditunggu kehadiran dan pernyataannya oleh awak media. Maklumlah, Arek Lamongan ini pernah menjadi juru bicara Pertamina. Saat ini, aktivis kampus itu menduduki posisi Direktur Utama PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Pendekar Tapak Suci ini menunjukkan minat yang sangat besar di bidang geothermal. Ia menyatakan bahwa panas bumi adalah energi baru dan terbarukan. Negeri kita dikaruniai banyak gunung berapi. Itu berarti potensi besar. Panas buminya bisa dikonversikan menjadi tenaga listrik.

Ia memberikan wejangan bagaimana menjadi pemenang. Menjadi karyawan yang jadi pilihan utama. Siapa pun yang membutuhkan tenaga dan buah pikir kita.

Ia menyebutnya dengan: KIAT.

Kiat yang berarti cara atau taktik, tapi kali ini adalah singkatan yang bisa dijadikan modal yang lain.

  1. Knowledge. Pengetahuan itu penting. Kita harus memiliki pengetahuan yang spesifik dimiliki dan menjadi andalan. Pengetahuan itu bisa diperoleh dari beberapa jalur. Paling umum adalah jalur akademis. Menempuh pendidikan hingga jenjang yang dianggap mumpuni. Di samping itu, pengetahuan bisa diperoleh dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya, kita perlu sering dan menjadwalkan diri secara khusus mendengarkan atau menimba ilmu dari pihak lain.
  2. Integrity. Memegang kuat prinsip moralitas. Ini Penting. Pengetahuan yang cukup tanpa dibarengi dengan prinsip moral yang kuat (nilai agama) akan percuma. Pemahaman terhadap agama yang kita yakini juga akan memperkuat hal ini.
  3. Attitude. Bisa diartikan sikap kita kepada orang lain. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga memegang peranan penting. Sebagai mahluk sosial, tidak dipungkiri selalu ada hubunagn antar manusia. Baik hubungan yang bertalian dengan karir, maupun non-karirseperti pergaulan dengan masyarakat.
  4. Teman (Teamwork). Membangun jejaring. Silaturahim. Analoginya, kumpulan orang yang tidak berkualitas bisa jauh lebih hebat dari orang jenius yang terisolasi. Apalagi jika orang hebat berkumpul dan bekerja sama, hasilnya bisa jauh lebih mantap. Tambah dahsyat.

Pak Direktur Utama ini punya visi menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam menjalani hidup dan kehidupan, ia sangat terkesan dengan nasihat orang tuanya. Orang tua adalah pusaka baginya. Mereka memberi nasihat dalam bahasa Jawa, jika diterjemahkan bebas:

“Menjalani kehidupan, apa pun profesinya. Harus ikhlas dan bersikap positif”.

Itulah salah satu kiat mempermulus jalan menuju kemenangan. Road to glory.

Apa yang disampaikan dan dijalankan Mas Ali ini sejalan dengan nasihat mendiang Zig Ziglar, penulis buku best seller sekaligus motivator asal Alabama, US.

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude”

Mau ?

Mari kita jalankan KIAT itu . . .

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Di dalam kehidupan ini persaingan adalah keniscayaan. Masih ingatkah kita dengan kisah dua anak Adam yang bersaing menjadi yang terbaik? Tragis memang akhir kisah itu. Salah seorang dari mereka akhirnya terbunuh. Tetapi kisah itu membuka mata kita bahwa persaingan sudah ada semenjak kehidupan ini bermula. Dan ujung dari persaingan itu adalah meninggalnya salah seorang dari dua anak Adam.

Charles Darwin sang penemu teori evolusi juga telah mengemukakan bahwa selalu ada persaingan di dalam kehidupan di alam semesta ini. Hal ini karena setiap makhluk ingin mempertahankan kehidupannya. Dan hanya spesies yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkunganlah yang akan bertahan. Yang kalah bersaing dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan akan lenyap dari bumi.

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change”.

(Charles Darwin)

Persaingan akan selalu ada di setiap sektor kehidupan. Dalam dunia bisnis? Apalagi! Pertarungan untuk menjadi yang terbaik dalam bisnis layaknya masakan dengan garam. Tanpa kehadirannya, terasa hambar. Bahkan perusahaan yang tanpa pesaing akan kehilangan gairah, loyo. Dan akhirnya pelan-pelan akan hilang dari peredaran.

Setiap pemilik perusahaan atau tim leader, akan selalu berusaha agar timnya menjadi jawara. Untuk itu berbagai upaya dilakukan. Bisa market share yang bertambah. Ada juga dengan penetrasi pasar, agar seluruhpelosok negeri mengenal produknya. Dan ada juga yang menggunakan cara perbaikan produk. Perusahaan membuat produk yang unik dalam jumlah terbatas. Sedikit tapi tetap dicari. Limited edition. Upaya-upaya itu semua dilakukan agar mereka memenangkan “pertempuran” atau sekurang-kurangnya tetap bertahan.

Siapa yang kalah, produknya tidak laku. Penjualan tak beranjak naik. Atau malah cenderung turun. Tanda-tanda kematian sudah tampak. Jika tidak ada perubahan yang significant, sudah dapat dipastikan perusahaan akhirnya gulung tikar. Mati.

Dampaknya kekalahan sebuah perusahaan pasti cukup dahsyat. Pemutusan hubungan kerja tidak dapat dielakkan. Daftar pengangguran bisa bertambah panjang. Pasti akan timbul masalah baru. Baik masalah dalam ruang lingkup yang kecil, keluarga. Bisa juga dalam skala yang lebih besar. Ekonomi di dalam masyarakat sedikit terguncang. Jumlah belanja akan menurun. Ada penghematan baik dari frekuensi maupun nominal belanja. Suka tidak suka. Stok bisa menumpuk. Produsen juga mengerem produksinya. Jika berlangsung lama, maka banyak idle capacity. Kalau sudah begitu, pengurangan produksi. Pengurangan karyawan. Jadi, kalah dalam bersaing menciptakan pengangguran yang bisa menjadi beban ekonomi baru.

Setiap perusahaan akan selalu melakukan berbagai upaya. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia, motor penggerak utama perusahaan. Apalagi dalam ruang lingkup Manajemen Rantai Pasokan. Supply Chain Management. Proses bisnis yang kompleks, di samping mengurusi dengan internal pelanggan dan pemasok. Di dalamnya juga sangat intens berhubungan dengan pihak eksternal, baik dengan pelanggan dan dengan pemasok/vendor.

Uniknya, pola persaingan mulai bergeser, sesuai zamannya. Tidak lagi yang besar mencaplok yang kecil. Atau yang kuat mengalahkan yang lemah. Salah seorang Raja Media, Robert Murdoch, mengatakan:

“The world is changing very fast. Big will not beat small anymore. It will be the fast beating the slow”.

Benar juga. Dulu memang sering kita lihat perusahaan besar mencaplok perusahaan yang lebih kecil. Baik untuk memperbesar pangsa pasar atau strategi mematikan mereknya. Sebagai contoh kasus, ada perusahaan kecap dengan merek yang dikenal secara lokal (area cakupannya hanya se provinsi), dibeli salah satu raksasa bisnis di bidang consumer goods. Lama-lama merek pun tak nampak di pasar. Ia sengaja dibeli untuk dimatikan mereknya. Merek pembeli sebagai penggantinya. Ada yang namanya tetap, namun strategi bisnis dan lainnya diubah total. Ia tetap berkibar namanya meski pemilik telah berganti.

Akhir-akhir ini perusahaan-perusahaan mapan tak lagi bisa lagi hidup tenang. Pesaing bisa berupa perusahaan yang baru lahir. Contoh kasusnya adalah sebuah perusahaan tranportasi konvensional berhadapan dengan perusahaan tranportasi berbasis teknologi informasi. Perusahaan besar dan mapan itu cenderung lambat merespon perubahan yang terjadi. Tak terelakkan, pengemudinya pun berdemo. Tak jarang terjadi konflik di lapangan. Pemicunya, tak lain tak bukan, karena tidak siap dengan persaingan. Kalah cepat mengaplikasikan teknologi. Kurang sigap melihat kebutuhan dan kecenderungan konsumen. Ini bumbu tak sedap lainnya. Intinya, yang cepat mengalahkan yang lambat.

Contoh lain, perusahaan catering, juga mulai bergeser polanya. Dominasi tidak lagi oleh perusahaan dengan asset besar. Saat ini, ada perusahaan yang tidak memiliki dapur sendiri sudah mulai menggerogoti pangsa catering besar. Perusahaan ini bermodalkan teknologi informasi dan prinsip ekonomi berbagi. Ia menggunakan dapur para jago masak di berbagai rumah tangga. Sang CEO perusahaan itu jeli. Ia tahu banyak ibu-ibu yang jago masak. Sebagian juga senang jika masakannya dijual dan dimintai. Ia memberikan standarisasi masakan. Ia memberi packaging yang menarik. Ia pooling produk itu sesuai pesanan pelanggan. Produk diantar dan siap saji. Punya usaha catering, tak harus punya dapur kan ?

So, pemenang persaingan punya syarat tambahan. Ia harus cepat dalam segala hal. Adaptasi, penguasaan teknologi, cepat menangkap perubahan pelanggan, dan lainnya. Itu semua juga perlu dukungan sumber daya manusia yang handal. SDM yang mendukung kecepatan. Ya, sumber daya manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

 

Tersadar?
Tertantang?

Sahabat, saya ajak menyimak buah pikir lain dan lebih dalam, pada buku yang akan segera terbit.

Mohon doanya.

Wassalaam,

#this.is.ariway

 

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pada kesempatan lain, saya sempat mengajak diskusi Sigit Afrianto. Ia mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.  Saat ini ia seorang Pneumatics Engineering Specialist di Bombardier Aerospace, Canada.

Mas Sigit, begitu saya memanggilnya, pernah berkarya di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Ia salah satu anak bangsa yang unggul justru berkarya di luar negeri, karena di Indonesia tidak mendapat kesempatan sepadan dengan keahliannya. Hal itu terjadi, saat IPTN, boleh dikatakan, sengaja dikerdilkan. Ketika pembiayaan proyek yang membanggakan sekaligus menggetarkan dunia penerbangan tersebut dihentikan atas desakan IMF. Mas Sigit, saat ini berkarya di Bombardier, Canada.  Ia memiliki beberapa hak paten di bidang penerbangan.

“Pengalaman saya, sebagai tenaga profesional, kita perlu memiliki kompetensi atau keahlian dalam hal tertentu. Seorang specialist yang kompeten tidak akan bisa digantikan oleh ratusan orang yang tidak kompeten. Kita bisa memberikan solusi atau mengatasi masalah yang sebelumnya selalu dianggap sebagai suatu masalah besar oleh orang yang tidak kompeten. Hasil karyanya diakui oleh sejawat profesional lainnya. Dampak positifnya, perusahaan besar tidak akan segan untuk mentransfer (baca: memperkerjakan) dia dengan ‘harga’ yang besar untuk bisa memanfaatkan kompetensinya,” tutur Mas Sigit.

Shakuntala Devi, “Manusia Komputer” dari India pernah mengatakan :

“I cannot transfer my abilities to anyone, but I can think of quicker ways with which to help people develop numerical aptitude”.

Ia menguatkan pernyataannya dengan memberi contoh pada klub sepak bola profesional. Ketika ingin menjadi kampiun, selain meracik tim, memanfaatkan talenta yang ada, mereka juga membeli pemain baru. Biasanya pemain bintang. Pemain yang punya talenta di atas rata-rata. Marquee player yang bisa membangkitkan semangat pemain yang lain. Juga menjadi magnet pendukung. Pendukung adalah pemain ke-12. Termasuk juga mandatangkan keuangan bagi klub. Membludaknya penonton dan penjualan merchandise adalah other income. Darah bagi kelangsungan hidup klub sepakbola. Untuk itu, pemilik klub rela mengocek kantong sangat dalam.

Saya mencoba membuka mesin pencari Google untuk mencari informasi siapa pemain termahal saat ini. Ada nama yang disebut, Phillip Coutinho yang dibeli Barcelona dari Liverpool. Nilai transfernya Rp. 2,6 Triliun. Dahsyat. Angka yang lebih besar dari APBD Kota Malang tahun 2018.

Menurut Mas Sigit, selain kompetensi perlu kemampuan bekerja sama apalagi saat bekerja dalam satu tim. Kesuksesan akan lebih mudah diraih ketika berbagai kompetensi yang dimiliki karyawan bisa disinergikan. Mereka saling melengkapi dan mendukung untuk mencapai tujuan yang sama.

Ada tambahan yang tidak boleh dilupakan, bahwa kita perlu berpikiran positif dan terbuka. Terbuka utamanya sikap untuk menerima sesuatu yang baru. Ia memberikan kondisi saat ini, bahwa teknologi berkembang sangat pesat disebabkan inovasi dari orang yang mampu menemukan sesuatu yang baru. Lain daripada yang lain.

Di akhir kiriman WAnya, ia memberikan contoh nyata.

“Perusahaan tempat saya bekerja bersedia mengeluarkan biaya yang besar untuk mentransfer dan merelokasi expert dibidang aerospace,” pungkasnya.

Tertarik ?

Mari mengikuti  kisah lainnya. Tentu saja, saya berharap, sahabat berkenan menunggu buku yang akan terbit pada bulan Agustus 2018 ini.

Mohon doanya, semoga sajian cerita pengalaman dan juga buah pikir yang dituangkan menjadi salah satu sumber inspirasi.

Mimpi dan Mencoba

Mimpi dan Mencoba

“Wah, apa ya…. sepertinya mengalir aja tuh. Modal nekat dan semangat. Sembari terus cari jalan buat mencapai mimpi”.

Itulah komentar yang terlontar pertama kali ketika saya minta pendapat dan pengalamannya saat bisa berkarir di luar negeri kepada teman saya semasa SMA dan kuliah ini. Charis Soeharto, namanya.

“Kalau dulu punya mimpi pingin sekolah di luar negeri. Aku coba ikut program STAID, ee..nggak lolos,” tambahnya.

Program STAID atau Science and Technology for Industrian Development dicetuskan Prof. BJ Habibie. Program pengembangan SDM yang merekrut siswa SMA terbaik di seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan S1 di luar negeri. Anak dokter yang bersahaja ini tak mengubur mimpinya. Ia terus mencoba untuk bekerja di perusahaan asing. Atau setidaknya perusahaan yang berafiliasi dengan perusahaan asing. Siapa tahu ada kesempatan program pelatihan atau sekolah lanjut di luar negeri. Mimpinya pergi ke luar negeri tak pernah dihilangkan.

Alhamdulillah akhirnya kesempatan itu datang juga. Ia bekerja di perusahaan asing. Charis pun memulai perjuangannya. Ia menambah kompetensi dan kapasitasnya. Hingga ia mendapat pengakuan dari kolega dan atasannya. Ia bersyukur dipertemukan Allah SWT dengan mentor berkebangsaan Jepang. Orang Jepang itu pun hingga kini sudah ia anggap sebagai Bapak Angkat. Rupanya Sang mentor inilah yang kemudian ‘mengusir’ Charis Soeharto dari Indonesia.

“Charis, tempatmu bukan di sini kamu harus keluar. Kenapa harus takut? Ingat, semua manusia sama. Semua harus COBA. Kalau tidak pernah mencoba, kamu tidak akan pernah tahu,” tukas atasannya itu.

Sampai saat ini ada 2 kata kunci yang selalu ia ingat: MIMPI dan COBA. Kini ia selalu rajin membagikannya kepada siapa saja terutama mahasiswa Indonesia yang menemuinya di Singapura.

Ah.. jadi ingat nasihat Bung Karno :

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Di penghujung obrolan, ia menambahkan bahwa ada satu lagi yang terpenting,. Apa itu ? Doa dan restu dari Ibu. Masya Allah. Ia sangat terkesan dan ingat almarhumah ibunya yang selalu memberi wejangan dan doa bagi ia dan saudaranya.

Charis Soeharto saat ini menduduki posisi Direktur. Posisi puncak pada perusahaan jasa engineering terintegrasi, Asia Project Engineering, Pte. Ltd. Perusahaan multi nasional Jepang yang lebih dikenal dengan APECO yang bermarkas di Singapura. Ia memimpin tim yang multi ras, suku dan agama.

 

 

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

by Ari Wijaya

Enang Noerman Fachjar, sering dipanggil Aciel. Dia adalah teman sebangku saya saat SMA. Kini ia menjabat sebagai Regional Quality Assurance Director – Asia Pacific di Barry Callebaut, sebuah  perusahaan multi nasional asal Swiss. Perusahaan ini adalah penghasil biji coklat dan bubuk coklat terbesar di dunia.

Sebagai salah seorang executive muda asal Indonesia yang mendunia, Aciel dikenal ahli dalam bidang Quality Management & Food Safety. Menjadi pembicara utama dalam forum internasional sudah menjadi langganannya. Tentu saja hal ini membanggakan sekaligus memberikan inspirasi bagi saya.

Alumnus ITB ini menceritakan pengalamannya saat bergabung dengan perusahaan multi nasional. Beberapa kali pula ia berhasil menduduki posisi kunci. Dari penuturannya dapat disimpulkan bahwa untuk bisa bersaing dan menjadi orang pilihan berkelas dunia diperlukan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Kita harus menjadi yang terbaik di area yang kita geluti. Tanpa kompetensi, akan sangat sulit untuk bersaing.
  2. Komunikasi sangat penting untuk memastikan orang lain bisa memahami pola pikir kita. Secara lisan maupun tulisan.
  3. Kerja sama. Kita harus mau dan mampu bekerja sama dengan sejawat, lintas fungsi, maupun orang di luar organisasi.
  4. Satu suatu initiative/pekerjaan dapat dimulai dan dituntaskan ketika kita punya komitmen.
  5. Perlu semangat dan tindakan yang ajeg agar tugas yang diberikan dapat diselesaiakan dengan tuntas.

Aciel menambahkan, gabungan antara kompetensi, komunikasi dan kerjasama akan menumbuhkan kepercayaan yang sangat dibutuhkan dalam menuntaskan suatu pekerjaan. Plus ditambah kerja keras dan sifat tidak gampang menyerah.

Bagaimana jika bersaing dengan insan unggul lainnya di luar negeri? Ternyata Pak Direktur ini selalu membawa misi pribadi :

“Saya niatkan karsa dan karya saya untuk menjaga dan membawa nama baik agama dan bangsa”.

Masya Allah!

Saya merinding membaca penuturannya.

Dorongan itu yang membuatnya terus mencetak berprestasi. Ia secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa inilah wajah Indonesia.

Suka atau tidak, Islam dan Indonesia sering dikonotasikan miring. Negative for whatever reasons. Oleh karenanya, ia merasa berkewajiban untuk bekerja sebaik mungkin. Itu tak lain untuk menunjukkan bahwa seorang muslim bisa berkerja secara profesional, disiplin, reliable, trusted dan competence.

Selain itu sebagai bangsa Indonesia, Enang Fachjar, bisa menunjukkan bahwa Indonesia di negeri lain bukan dikenal hanya karena tenaga pembantu, sopir, tukang bangunan. Tapi, banyak juga profesional yang berkualitas, berkelas dunia.

Selain itu, ia juga berharap bisa memberikan inspirasi.

Ia mengirim pesan sangat tegas kepada teman-teman di Indonesia. Utamanya anak muda. Kita sejajar dengan mereka, pekerja di luaran sana. Asal kita menempa diri.

Ya, dan itu harus dimulai!

Kisah inspiratif ini dan beberapa lagi lainnya, insya Allah akan hadir dalam buku yang sedang memasuki tahap editing. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Harapannya, bisa terbit dan hadir di hadapan sabahat pada Agustus 2018 nanti.

Mohon doanya.

Semoga karya tak seberapa ini dapat menginspirasi anak muda Indonesia.

 

 

Merajut Asa

Merajut Asa

by Ari Wijaya

 

Sebuah sunatullaah juga, saat ada kejadian, ada yang merespon ada yang tidak. Cuek bebek. Seperti era perubahan yang kita rasakan saat ini. Dunia seakan tanpa sekat-sekat lagi. Melihat fenomena ini, reaksi pun beragam. Ada yang menyesuaikan. Ikut perubahan.  Tak jarang yang membuat aksi jauh lebih cepat dari laju perubahan. See the unseen things.

 

Saya beri catatan India yang sangat mencolok saya contohkan. Beberapa nama besar tercatat memimpin perusahaan berkelas dunia. Belum lagi China, sebagai gambaran saja, mahasiswa dan pelajar China yang sedang belajar di Australia tercatat 150 ribu lebih. Mereka mulai merajut asa. Di samping menggali ilmu pengetahuan, juga menanam benih jejaring. Bukan rahasia lagi, jaringan ikatan alumni salah satu pendorong kesuksesan berbisnis. Silaturahim memang membawa keberkahan dan pembuka pintu rezeki.

Tak heran, jika lulusan berkebangsaan Cina juga merambah ke berbagai perusahaan di dunia.

 

Philipina, mereka banyak mengusai bidang kepariwisataan. Beberapa hotel besar di Dubai, Uni Emirates Arab dijejali tenaga terampil dari Filipina. Mereka membuka Tourism & Hospitality Training Center.

 

Saya menyebut warga negara di beberapa negara tersebut memiliki kesadaran bersaing. Kesadaran itu terasa sangat kuat.

 

Bagaimana dengan kita? Mampukah kita merajut mimpi itu lagi? Saya kok, yakin, kita mampu.

 

Anda mau bersama mewujudkannya?

Mari merajut asa bersama.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Undangan Spesial

Pernah menerima undangan dari saudara ? Sahabat ? Rekan kerja?

Saya yakin, jawaban yang banyak keluar adalah : sering.

Saya pun pekan lalu menerima undangan.

Surprised ! Sekaligus senang dan bangga.

Betapa tidak, undangan ini dari sahabat yang mengabdi dan melayani sebagai tenaga pendidik di Universitas Brawijaya. Semasa jadi mahasiswa, kami pernah bersama mengembangkan laboratorium.  Pengajar pengganti hingga ke kota lain, saat dosen utama berhalangan. Tak jarang punya kegiatan kampus bareng. Setelah lulus, kami menjalani profesi berbeda. Ia jadi dosen. Ia masih saja seperti yang dulu. Aktif, gemar membuat penelitian, suka membantu, dan sangat terbuka. Saking aktifnya, ia termasuk yang terlambat mengambil studi lanjut. Tak lain, karena semangat melayani orang lainnya yang tinggi. Hingga lupa bahwa masih ada satu jenjang pendidikan lagi yang mesti ditempuh untuk menjadikannya punya kesempatan menjadi guru besar. Salah satu capaian yang diidamkan banyak dosen. Beberapa tahun yang lalu, ia banting stir sejenak. Mengambil program doktoralnya. Meski tetap saja, tangannya tak bisa diam. Banyak sudah yang dilakukannya.

Itulah undangan yang membuat rasa ini nano-nano kayak permen. Undangan turut menjadi saksi : Ujian Terbuka Disertasi.

Ya, sahabat saya ini, insya Allah akan menyandang gelar Doktor Teknik Mesin.

Selamat dan sukses, kawan!

Sayang sekali, saya tidak berkesempatan hadir.  Mohon maaf, kali ini saya melewatkan salah satu momen penting dalam hidupmu.

Doa saya dan keluarga menyertai langkahmu. Semoga semakin manambah semangat dan daya jangkaumu untuk bisa lebih bermanfaat kepada orang lain.

Teruslah berkarya, berbagi dan melayani! Itu sudah menjadi DNAmu!
#jangankasihkendor

 

Tribute to :

Sugiarto, ST.,MT.

Dosen Teknik Mesin Universitas Brawijaya

Menggali yang Tersembunyi

Menggali yang Tersembunyi

by Ari Wijaya

 

Malam itu kami ngobrol santai tapi serius. Saat itu ada salah seorang rekan yang harus dirawat di rumah sakit. Kami bergantian menjaga. Yoyok teman sekosnya bersama saya, kala itu yang berkesempatan menjaga. Saya sering main dan numpang tidur di kos mereka saat ada jeda kuliah. Saat jadwal kuliah ada dua dan berjauhan, kelas pagi dan sesi siang setelah dhzuhur, biasanya saya tidak pulang ke rumah. Hemat ongkos. Saya mampir tempat kos mereka.

 

Yoyok ini salah satu mahasiswa yang punya potensi terkena degradasi saat evaluasi tahap pertama. Ada aturan, jika mahasiswa tidak mencapai IPK (Indkes Prestasi Kumulatif) minimal 2,0 (dua koma nol) pada akhir semester IV, maka dengan terpaksa mahasiswa tersebut terkena DO (drop out). Tidak bisa melanjutkan kuliah lagi di kampus yang sama. Yoyok masuk daftar ini. Malam itu saat ada kesempatan berduaan, saya mencoba menguatkan semangat dan daya juangnya.

 

“Aku ini nggak semangat kuliah. Kampus ini bukan pilihan utamaku,” keluh Yoyok ditengah obrolan kami.

 

Yoyok menuturkan bahwa ia sempat berpikir untuk mencari kampus lain sesuai pilihan hatinya. Semester 2 ia mencoba di Bandung. Ketika kuliah sudah berjalan 4 semester, ia juga mencoba di Denpasar. Jurusan yang ia minati adalah Seni Rupa & Desain. Namun restu orang tua tak pernah ia peroleh. Saat tahun ketiga kuliahnya di Teknik Mesin, saat mau mencoba lagi, barulah ia sadar. Terlalu besar kerugiannya. Segi waktu, umur dan juga biaya.

 

“Ya, tapi kan takdirnya sudah begitu. Niat untuk pindah ada. Tapi restu orang tua patut jadi pertimbangan. Brawijaya kayaknya sudah menjadi jalan. Bukan pilihan yang jelek. Kalau mau pindah lagi, biaya juga lebih besar. Belum lagi harus mengulang. Banyak yang hilang,” saya coba memberi pertimbangan atas kegundahannya itu.

 

Yoyok sebenarnya punya kemampuan unik. Lain dari pada yang lain. Literasi komputernya melebihi yang lain. Penguasaan Bahasa Inggrisnya juga di atas rata-rata. Setidaknya pembandingnya adalah saya sendiri. He..he..he..

 

Saya mencoba menggali lebih jauh kelebihan itu. Ia boleh terpuruk dengan mata kuliah Kalkulus, Mekanika Teknik, Fisika, Pengetahuan Bahan atau yang lain, tapi dalam 2 hal itu, saya melihat ia lain.

 

“Yok, kalau kamu harus les dengan biaya lumayan besar, 600 ribu satu paket, misalnya. Apa sampeyan siap. Apa orang tua mendukung?” ujar saya.

 

“Insya Allah, bisa diusahakan, Nyo”, begitu jawabnya. Saya ketika itu punya panggilan “Sinyo”. Entah apa yang melatarbelakangi sebutan itu.

 

Singkat cerita ia mengambil kursus yang saya sarankan. Masih in-line dengan jurusan Teknik Mesin. Kursus AutoCAD. Literaturnya masih bahasa sononya, Bahasa Inggris. Tempat kursus hanya ada di Surabaya, kota asalnya. Jadwal juga bisa fleksibel. Kebetulan mata kuliah yang ia ambil juga sedikit. Ada 2 atau 3 hari lowong, tidak ada kuliah. Lagian, bolak-balik Malang-Surabaya bisa diatur jadwal sembari pulang ambil jatah bulanan. Sebagai gambaran, uang kuliah kami ketika itu Rp. 120 ribu per semester. Biaya paket pelatihan dan juga transportasinya, bisa untuk membayar uang kuliah hampir 3 tahun.

 

Yoyok yang gemar bernyayi dan pendaki gunung ini pun, mengambil pelatihan hingga advance level. Alhamdulillah, ia berhasil menjadi salah satu rujukan teman-teman ketika ada kesulitan mata kuliah AutoCAD atau Mesin NC/CNC (computer numeric control). Setelah ia lulus, modal itu pun menjadi nilai lebih baginya. Awalnya ia bekerja sebagai Project Engineer pada sebuah perusahaan di bawah Bangun Tjipta Group. Selanjutnya, ia memutuskan untuk berkarya ke Alstom Power di Surabaya. Perusahaan itu pula yang membawanya ke Negeri Paman Sam, ketika ada tawaran posisi Mechanical Engineer di Alstom Power Inc, Connecticut.

 

Beberapa tahun setelahnya, sejalan dengan penggabungan atau lebih tepatnya program akuisisi Alstom oleh GE, ia pun saat ini menjadi bagian keluarga besar GE. General Electric, perusahaan yang pernah dipimpin ‘manajer abad ini’, Jack Welch. Saat ini ia dipercaya sebagai Lead Engineer Fabricated Component, pada unit usaha GE di Windsor, Connecticut, Amerika Serikat.

 

Sahabat saya ini telah menunjukkan bahwa kompetensi yang unik perlu diperjuangkan. Hasilnya pun mulai ia petik, menjadi orang pilihan.

Memang benar kata Jon Stewart, salah satu aktor dan pembawa acara telivisi yang multi talenta, bahwa pada zaman ini, kecakapan adalah komoditas yang jarang.

“Love what you do. Get good at it. Competence is a rare commodity in this day and age“.

Sahabat, mau seperti itu ? Punya keahlian dan ketrampilan yang unik. Menjadi orang pilihan ?

Mari menggali yang tersembunyi dalam diri kita.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018. Kisah Yoyok adalah satu dari isi buku itu.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Semoga ide dan isi bukunya dapat menginspirasi Indonesia !