Category Archives: Inspirasi

Bapak

Semoga kita dapat meneladaninya. Para pria menjadi ayah yang dirindukan dan dibanggakan anak-anaknya karena kebaikannya.
____________

B. A. P. A. K

Oleh : Faris Jihady Hanifa

Lidah ini masih terasa kelu berbicara tentang Bapak. Jemari ini masih terasa kaku menulis tentang Bapak. Hati yang masih terus terguncang setiap kali teringat Bapak.

Suara Baritonnya masih lekat dalam ingatan. Suara yang terus melemah seiring dengan meringkihnya tubuh Bapak melawan penyakit yang dideritanya.

Bapak yang pejuang meyakini idealism dan kebenaran sejak usia mudanya, aktivis pergerakan Islam yang kokoh teguh di atas pendirian menentang kezaliman tirani di era 80an, hingga menjadi target penguasa. Cerita yang terus berulang disampaikan sejak kami kecil. Bapak yang mencintai AlQur’an sepanjang hayat, yang selalu berkata: “kalian boleh berprofesi jadi apapun, tapi AlQur’an harus yang paling utama”.

Di awal 90an Bapak seiring dengan era pendirian Gerakan Dakwah sering kali beri’tikaf di bulan Ramadan, kemudian berkeliling ke pesantren-pesantren untuk mendaftarkan kami menghafalkan Kitabullah.

Jarak yang tidak dekat ditempuhnya, meski beliau bukan orang yang berada, bergelantungan naik Bus Jakarta-Jawa Tengah ditempuhnya 1-2 bulan sekali untuk menengok kami. Kaki-kaki kecilku berlari membuncah gembira setiap telpon Bapak dan Ibu memanggil namaku, atau terdengar kabar bahwa Bapak atau Ibu menyambangi pondok.

Bapak yang mengalir dalam darahnya kesederhanaan, bersahaja, tidak membenci dunia, tapi sangat wara’ (berhati-hati) pada setiap harta yang dipegangnya. Sangat menghormati siapapun yang ditemuinya, tua, muda, senior, junior, semuanya diberi kesan terdalam.

Bapak yang memilih menjadi hamba Allah yang ingin lebih dikenal di langit dari pada di bumi, jabatan politik baginya hanya penugasan dan pelayanan, puritan tidak bergeming pada setiap godaan berat. Bapak yang seringkali mengembalikan uang dengan status “tidak jelas”.

Bapak adalah guru kehidupan, ia sangat mencintai ilmu, harta terbaiknya adalah ribuan judul buku. Wawasan luas, analisis yang tajam, kemampuan berpikir sistematis diajarkannya kepada kami dalam diskusi, buku, dan nasehat-nasehatnya.

Bapak yang cerita pada kami tentang Bosnia di tahun 1992, Palestina di tahun 1993, Intifadhah di tahun 1997, dan Afghanistan peroboh Uni Sovyet. Bapak yang fasih bicara politik global dan hukum positif, sefasihnya beliau mengajarkan AlQur’an kepada kami saat kami kecil.

Bapak yang tidak pandai berucap romantis, tapi tindaklakunya sarat dengan kasih sayang. Bapak yang selalu tenang dalam bicara, rasional dalam berpikir, sabar atas kekurangan anak-anaknya dalam berbakti.

Bapak yang kepeduliannya pada orang lain seperti menyatu dalam darahnya, setiap orang yang meminta tak pernah ditolaknya, Bapak yang selalu menanyakan keadaan siapapun yang berada dalam lingkaran perkenalannya, meski ia dalam keadaan sakit.

Bapak yang tidak segan terus belajar bertanya kepada anak-anaknya yang memiliki bidang akademik tertentu, bapak yang menjadikan kami partner dalam diskusi tentang apapun. Bapak yang sangat egaliter, mengedepankan musyawarah dalam hal apapun. Bapak yang mengajarkan kami mengenal dunia, mendorong kami belajar ke mana pun dan setinggi mungkin.

Bapak yang canda humornya berbobot, membuat kami tertawa, namun Bapak tidak tertawa terbahak-bahak, hanya terkekeh kecil saja.

Bapak yang: Sabbaqun fil Khairat (selalu unggul dalam segala lini kebaikan apapun), shalat malam yang tidak pernah putus, shalat berjamaah yang tidak pernah lupa.1 jam sblum adzan subuh sudah mengetuk pintu kamar anak-anaknya, bahkan dengan tongkatnya saat beliau sakit diiiringi suaranya yang parau. Bapak yang pelopor dalam menyambung tali silaturrahim. tak jarang bagi kami harus menemani beliau sampai kami bosan sendiri menemani kunjungan beliau dari pagi hingga larut malam. Bapak yang rajin menyambung tali kerabat hingga mereka yang tidak begitu mengenal. Bahkan mengunjungi mereka yang berada di luar kota.

Bapak yang tidak pernah beranjak dari duduknya setelah subuh hingga dhuha kecuali sudah menyelesaikan wirid Qur’aninya untuk hari itu. Bapak yang tidak melewatkan momen bertemu dengan siapapun kecuali menyelipkan nasehat.

Bapak yang: beriman kepada Fikrah (idealism) yang diyakininya, dan mendedikasikan seluruh komitmennya untuk merealisasikan idealism itu. Idealism tentang keluarga AlQur’an, idealism tentang perjuangan Islam, Idealisme tentang silaturrahim, idealism tentang sedekah dan kepedulian, idealism tentang memakmurkan masjidIdealism tentang politik yang bersih bermoral, yang membuatnya disegani kawan maupun competitor politik, idealism tentang semua kebaikan dengan prinsip: “jangan pernah menunda kebaikan”. Bapak yang disiplin menerjemahkan semua idealismenya dalam kesehariannya.

Bapak yang: selaras antara laku dengan kata. Jika bicara pendek-pendek. Tidak banyak berteori tapi tindakannya lebih dari cukup menjadi bukti.

Selamat jalan Bapak, insyaallah kita bertemu lagi. Cukuplah ribuan manusia menjadi syuhada (saksi)nya Allah bagi kebaikan Bapak di atas muka bumi, diiringi dengan cinta penduduk langit, insyaallah. Nilai, semangat, perjuangan, dan inspirasi Bapak akan tetap kekal dikenang sejarah dengan izin Allah.

Semoga Allah merahmati Bapak, dan kami hanya berkata apa yang membuat Allah ridha: “Innalillahi wa innailaihi rajiun”.

 

*) Faris Jihady Hanifa, Lc., MA. adalah putra ke-2 buah hati pasangan Alm. Mutammimul Ula, SH., MH. dengan Dra. Wirianingsih, M.Si. Salah keluarga yang dikenal sebagai keluarga penghafal Al Qur’an. Faris telah hafal Al Qur’an saat berusia 10 tahun. Allahu Akbar. Tahun 2018 lalu, berhasil menyelesaikan studi S2 di King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Tesisnya tentang Al Qur’an dan Politik Islam.

Pemasaran Seni (Mengenang Alm. Didi Kempot)

Seni menawarkan pengalaman yang kaya bukan hanya kepada seniman dan konsumen, tetapi juga untuk pemasar seni dan peneliti. Bidang pemasaran seni sangat beragam dan masih berusaha untuk mendefinisikan identitas dan peran dalam disiplin pemasaran sebanyak yang dipahami secara luas seperti halnya produksi dan konsumsi budaya.

Pemasaran seni (Arts Marketing by Krzysztof Kubacki & Daragh O’Reilly, 2009) terletak dalam kerangka produksi dan konsumsi budaya yang lebih besar. Fokus utamanya adalah pemasar dalam hal seni. Hubungan antara seni dan pasar sangat kompleks, yang berarti bahwa pemasar seni perlu memperhatikan masalah yang mungkin tidak muncul dengan cara yang sama, atau pada tingkat yang sama, seperti halnya yang dijumpai pada pemasaran produk konvensional.

Danto (1964) memberikan pandangan Socrates yang menyatakan ‘seni sebagai cermin yang dipegang teguh oleh alam’. Sama seperti yang juga didapat melalui poster Andy Warhol yang terkenal ‘seni adalah apa yang bisa Anda dapatkan’ (art is what you can get away with). Hal ini untuk memberikan tanggapan atas pendapat Morris Weitz yang mengatakan bahwa seni tidak dapat didefinisikan karena merupakan konsep terbuka.

Di sisi lain, definisi memang beragam dan tidak clear. Justru uniknya, kondisi itu membuat orang lebih kreatif. Ketidakkonsistenan definisi seni dan seniman membawa dampak pada beberapa aspek termasuk bagaimana mendefinisikan pemasaran seni. Studi terkait pemasaran seni juga melakukan dengan patern yang berbeda. Hal ini membawa dampak positif. Banyak pihak yang membuat definisi sendiri dan melakukan aksi sendiri. Kreativitas justru lebih terdorong.

Industri kreatif dan budaya (CCI, culture & creative industry) bermunculan. Seni angklung yang biasanya dinikamati oleh sekelompok orang, saat ini sudah mendunia. Dan dimainkan dengan patren tertentu. Contoh Angklung Ujo. Saat ini, dimainkan dengan cara berbeda. Peminat baik yang ingin memainkan dan menikmatinya juga berbeda. Bahkan, dampaknya luar biasa, mendunia. Belum lagi, ada desa dengan tradisi tertentu yang tertutup dari dunia luar, saat ini dibuka dan bisa mendongkrak perekonomian lokal bahkan nasional. Desa wisata di Jambi, Banten, Bali bahkan di Nusa Tenggara dan Papua. Kehadiran mereka menstimulus industri lainnya. Industri restoran, transportasi, perhotelan, dan lain-lain.

Keberpihakan terhadap seni, seniman dan pemasaran seni, dilakukan terpusat dan integral. Indonesia sebagai contoh membuat Badan Otonomi di bawah Presiden, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang saat ini menjadi Kementerian Pariwisata dan Eknomi Kreatif. Tentu saja hal ini menujukkan concern pemerintah terhadap perkembangan seni, seniman dan potensi ekonomi yang dikreasikan seniman. Bekraf pun berperan sebagai pemasar seni.

Sejumlah seniman juga berani memberikan label atas musik yang dikembangkan. Sebut saja, Campur Sari, ini adalah kesenian tradisional gamelan Jawa sebagi instrumen utamanya. Namun, tidak saja mendendangkan lagu tradisional seperti lazimnya. Tapi, ditambahkan lagu pop dan dangdut. Bahkan genre musik lainnya. Alat musiknya pun ditambahkan dari kesenian lain (drum, biola, dll).

Didi Kempot adalah salah satu merek seni Campur Sari. Sempat tenggelam, karena musiknya dianggap sebagai konsumsi seni kaum tertentu (kalau boleh di bilang kaum marjinal). Namun, dalam beberapa bukan terakhir dapat dianggat kembali dengan konsep yang berbeda. Layaknya konser musik pop. Tentu saja dengan gaya pemasaran seni yang berbeda. Alhasil, konser Campur Sari tersebut menyedot perhatian publik dan mengangkat citra genre Campur Sari. Pelanggannya pun sudah tidak mengenal batas. Sebagian besar lagu yang digubahnya bertemakan patah hati dan kehilangan. Saat ini justru populer dengan komunitas loyalnya: Sobat Ambyar. Konon, banyak diantara pengagumnya adalah orang-orang yang mengalami  patah hati, hatinya ambyar. Didi Kempot pun mendapat julukan “The Lord of Broken Heart”.

Pemasar seni menjadi pekerjaan idaman generasi saat ini. Mereka mempunyai kebebasan waktu dan finansial. Terlebih bisa juga mereka menjadi self employee. Bekerja tergantung kepada dirinya sendiri.

 

Catatan :

  1. Mohon izin, tulisan ini untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan Alm. Didi Prasetyo (Didi Kempot) yang wafat di Solo, 5 Mei 2020. Semoga karya dan karsa beliau menjadi amal jariyah. Allaahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
  2. Tulisan ini adalah cuplikan dari paper terkait Pemasaran Seni. Mata Kuliah: Teori Isu-Isu Kontemporer Pemasaran, Administrasi Bisnis, Universitas Brawijaya (Dosen Pengampu: Andriani Kusumawati, S.Sos., M.Si., DBA)

Pendidikan, Senjata Mengubah Dunia

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada Pasal 3 menyatakan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Saya coba fokus pada frase “membentuk watak”. Watak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah :

watak/wa·tak/ n sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat.

Ada pameo yang bisa jadi sudah sering kita dengar. Watuk iso ditambani, watak angel tambanane. Kurang lebih mempunyai arti batuk ada obatnya, tapi kalau watak sulit mengubahnya. Watak punya sinonim karakter.

Membangun karakter tidak semudah membangun benda fisik, seperti jalan, gedung bertingkat atau kendaraan tempur. Tapi hal yang bisa dilakukan dengan berkesinambungan dan melibatkan banyak pihak. Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti (Thomas Lickona, 2015).

Banyak metoda bagaimana melaksanakan pendidikan karakter. Salah satu yang diterapkan Rasulullah SAW dalam mengajarkan banyak hal kepada umatnya adalah pendidikan dengan keteladanan. Bagaimana pun, secara psikologis manusia butuh akan teladan yang lahir dalam naluri dan bersemayam dalam jiwa yang disebut juga dengan taqlid.

teladan/te·la·dan/ n sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya)

Metoda ini yang membuat Rasulullah SAW dan juga para sahabat hasil didikan Nabi Muhammad bisa mengubah dunia. Bahkan menciptakan peradaban baru.

“Satu keteladanan lebih utama daripada seribu nasihat” (anonim)

Semoga dampak bencana ini, memberikan kita kelonggaran lebih banyak. Mari kita cari dan simak kembali keteladanan Rasulullaah SAW dan juga para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Salam hormat kepada guru, ustadz/ustadzah, dosen dan tenaga pendidik lainnya.

Bahagia Menyambut Ramadhan

Saya mendapat kiriman artikel dari WAGroup. Nampaknya juga sudah viral. Isinya, sangat bagus, menginspirasi dan memotivasi saya. Saya berinisitaif menyalin dan membagikan kepada sahabat-sahabat. Semoga berkenan.

Semoga manjadi amal jariyah, amal yang tidak kenal putus, bagi yang menulisnya.

—–  —–  —–  —–  —–

Ramadhan 1441 H tahun ini terbilang berbeda dan sangat istimewa. Bersamaan dengan hadirnya Ramadhan, hadir pula makhluk Allah SWT yang bernama covid 19. Tentu bukan sebuah kebetulan, namun harus kita maknai sebagai batu ujian apakah kita tetap mampu menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Bahkan jauh lebih baik, berbanding tahun-tahun sebelumnya.

Ramadhan hadir untuk memberikan banyak kebaikan dan keberkahan bagi umat. Pertanyaannya, bagaimana kita menyambut Ramadhan agar tetap memberikan kebaikan imani (penguatan iman), ta’abbudi (peningkatan ibadah), khuluqi (Cerminan akhlak mulia), da’awi (pengkayaan dakwah), dan ijtima’i (ketahanan masyarakat), bagi seluruh umat.

Menyambut tamu agung Ramadhan dalam beragam situasi dan kondisi yang kita hadapi secara prinsip sama, namun secara teknis praktis tentu ada penyesuaian program disesuaikan dengan keadaan. Shalat wajib dan shalat sunnah tetap dijalankan, meskipun di rumah masing-masing secara berjama’ah bersama keluarga. Tilawah Al-Qur’an, Penunaian zakat, infak, sedekah dan wakaf tetap diperkuat, khususnya di saat banyak yang sangat membutuhkan. I’tikaf, do’a, dan munajat tetap terus dipanjatkan di waktu-waktu yang mulia. Artinya, wabah covid 19 bukan menjadi alasan untuk tidak meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan. Justru menjadi cambuk ujian Ramadhan di suasana yang berbeda.

Berikut beberapa tuntunan menyambut Ramadhan secara umum yang mungkin dijalankan dengan sebaik-baiknya, merujuk kepada contoh dari Rasulullah saw dan para sahabatnya:

1. Menyampaikan kabar gembira berupa keutamaan Ramadhan melalui jejaring media yang ada, serta mengajak seluruh keluarga, sahabat, dan masyarakat ikut serta membahagiakan bulan mulia ini. Demikian yang dijalankan oleh Rasulullah SAW, sebelum dan menjelang Ramadhan. Beliau senantiasa menyampaikan kabar gembira dengan kedatangan bulan penuh keberkahan kepada para sahabatnya.

“Adalah Rasulullah SAW membahagiakan sahabatnya dengan mengatakan: “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh dengan keberkahan”.

(HR. Ahmad dan Nasa’i)

Penyampaian kabar gembira atas datangnya Ramadhan dimasksudkan agar dipersiapkan dengan baik oleh sahabatnya, demi mendulang keberkahan yang sebanyak-banyaknya. Dipersiapkan secara fisik dengan membiasakan puasa dan amal shalih lainnya. Dipersiapkan mental spritual dengan memotifasi diri untuk meraih keutamaan Ramadhan, serta menjadikan Ramadhan adalah bulan terbaik sesungguhnya.

2. Membiasakan puasa sunnah bulan Sya’ban, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya yang akan menjadi ibadah rutin bulan Ramadhan, sebagaimana Nabi Muhammad saw memperbanyak puasa di bulan jelang Ramadhan. Bahkan disebutkan beliau hampir berpuasa sebulan penuh.

“Dari Aisyah RA :Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa (puasa sunah) di bulan Sya’ban.

(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

3. Rasulullah SAW terbiasa jika hendak memasuki bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan . memberi setiap orang yang meminta. Tujuannya agar setiap orang dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan perasaan senang, tenang dan penuh kekhusyu’an bersama keluarga dan sanak kerabat.

“Adalah RasulullahSAW jika akan masuk bulan Ramadhan, beliau membebaskan semua tawanan dan memberi setiap yang meminta (membutuhkan)”.

(HR. Al-Baihaqi).

4. Berdo’a menyambut kedatangan bulan Ramadhan dan dan memohon keselamatan bulan tersebut, agar terhindar dari fitnah, musibah, atau gangguan sepanjang menjalankan ibadah di bulan mulia. Diantara do’a para sahabat yang dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Latha’if Al-Ma’arif diantaranya:

“Ya Allah, hantarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan hantarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”

(Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Dan pada saat melihat hilal, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika masuk Ramadhan. Meskipun do’a ini hakikatnya adalah doa umum, dapat dibaca pada semua awal bulan. Namun kebiasaan melihat hilal di tengah masyarakat adalah saat menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal.

“Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.”

(HR. Ahmad 888, Ad-Darimi no. 1729, dan Ahmad, 3/171).

5. Dalam kondisi wabah COVID-19 ini, ibadah harta menjadi ibadah yang tidak boleh dilupakan jelang Ramadhan tahun ini. Betapa banyak keutamaan ibadah harta dikaitkan dengan ampunan, keselamatan dari musibah, dan api neraka. Diantaranya sabda Rasulullah SAW:

“Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.”

(HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim no. 1016)

“Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”

(HR. Baihaqi dalam kitab Syu’abil Iman)

Demikian agung tamu tahunan ini.

Sayang jika kita tidak menyambutnya dengan penuh suka cita dan kebahagiaan. Kebahagiaan kita menyambut Ramadhan adalah bukti keimanan dan keyakinan kita akan kemuliaan dan keutamaan bulan agung ini. Khususnya kebahagiaan menyambut Ramadhan dan menjalankan seluruh amaliahnya, bersama keluarga di rumah kita masing-masing.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Mari terus berbagi justru pada masa yang sangat membutuhkan ini. Selamat berlomba mengambil manfaat dan hikmah sebanyak-banyaknya.

Terusan Venus 58

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin.

Puji syukur kehadirat Allah azza wajalla. Atas perkenan dan ridloNYA, amanah orang tua telah kami tunaikan.

Rumah penuh perjuangan itu, usai sudah direnovasi. Rumah yang dulu dibangun dengan kondisi darurat. Ada peristiwa penting saat itu. Sehingga, kami menempati dalam kondisi belum sempurna. Dibangun secara bertahap. Pada tahun 1986 menjelang saya ujian SMP, rumah tersebut sudah kami tempati. Bapak, Ibu, saya dan adik hijrah dari rumah di Guyangan, Tlogomas. Hanya beda dusun. Rumah yang sering kami sebut, TV58. Sebutan unik sesuai alamat rumah : Jl. Terusan Venus No, 58, Tlogomas RT 01/05, Malang, Jawa Timur 65144.

Salah satu catatan dan teladan yang saya bangun adalah orang tua kami memang punya jalinan silaturahim yang luas. Aktivitas sosial dan kemauan berbaginya juga tinggi, Tak heran, rumah itu juga menjadi tempat berkumpul dan markas kegiatan. Padahal mereka pensiunan. Semasa hidupnya, Bapak dan Ibu pernah memberikan wejangan, dan menjadi cita-cita luhur orang tua saya: menjadikan rumah itu membawa manfaat kepada orang lain.

Kini, mereka sudah wafat, dipanggil kembali oleh Illahi rabbi. Bapak berpulang pada tahun 2000. Adik saya wafat 10 tahun lalu. Saat ia masih tergolong muda, 22 tahun. Ibu juga sudah tiada, 2 tahun lalu.

Oleh karenanya, kami sekeluarga bertekad menjadikan rumah itu sesuai amanah beliau. Ide besarnya, rumah itu menjadi tempat menimba ilmu. Lebih utama ilmu agama Islam. Kami menyasar yang mendasar, belajar Al Qur’an. Di tambah lagi ilmu lainnya, termasuk ilmu manajemen. Ruang kelas, hasil re-design, juga bisa digunakan untuk kegiatan masyarakat, seperti rapat warga, kegiatan tahlilan, dan lainnya. Kegiatan tersebut diwadahi dalam yayasan, agar dikelola lebih profesional.

Kami sepakat rumah tersebut diwakafkan. Kami bekerja sama dengan Yayasan Tarbiyatul Ummah Qaulun Ma’rufun.

Renovasi rumah agar sesuai cita-cita itu telah rampung. Kami juga menyiapkan dana untuk operasional harian. Operasional kegiatan termasuk untuk para guru, musyif/musyrifah, trainer, dan juga tenaga pendukung membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Kami terus berupaya menggalang dana. Salah satu, upaya agar kegiatan bisa berlangsung dengan baik.

Bagi sahabat yang pernah singgah, ada sedikit perubahan tampak depan dan juga beberapa ruang di dalam rumah. Saat ini rumah kenangan itu kami beri nama HCQ Tlogomas (Halaqoh Cinta al Qur’an).

“Halaqoh adalah kegiatan mengajar. Seorang guru yang dipandang mumpuni mengajar para murid dalam sebuah tempat, biasanya di masjid atau serambi, dengan dilingkari para murid. Tradisi halaqah ini sebenarnya bersumber dari Nabi  Muhammad. Dicontohkan ketika melakukan bai`ah `Aqabah Kanjeng Nabi duduk dikelilingi oleh para muslim awal dari Madinah (Yatsrib).  Tradisi tersebut kemudian berkembang sebagai pengajaran di masjid-masjid di dunia Islam awal, dengan pengajarnya adalah para sahabat yang dikirim Nabi Muhammad. Para tabi`in meneruskan tradisi ini di masjid-masjid, sehingga dikenal Halaqah Imam Hasan al-Bashri, Halaqah Imam asy-Syafi`i, dan lain-lain”.

Sumber: NU online. https://www.nu.or.id/post/read/40946/halaqah

Kami sadar, punya jangkauan terbatas. Sumber daya yang tidak berlimpah. Di samping itu, niat luhur kami mengajak  berbagi peluang untuk beramal sholeh. Mengajak sahabat bahu membahu. Kami yakin dengan semakin banyak orang yang terlibat akan semakin luas manfaatnya. Menjadi amal jariyah bagi kita semua.

Mau turut serta di dalam amal kebaikan ini ?

Kami mengajak sahabat untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut dengan berdonasi melalui :

Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Malang

No. Acc. : 6016106019  | Yayasan Tarbiyatul Ummah Qaulun Marufun

Terima kasih sebelumnya atas perkenan dan perhatiannya.

Jazakumullaah khairan katsiran.

Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak.

 

Corruption and Competition

Korupsi, sesuai Kamus Oxford (Simpson dan Weiner, 1989, hal. 974) didefinisikan sebagai:

‘penyimpangan atau penghancuran integritas dalam melaksanakan tugas publik dengan suap atau bantuan’.

Soreide (2001) dan Lanseth (2004) sependapat meski berbeda tahun penelitian. Mereka menyatakan bahwa penggunaan atau keberadaan praktik korup, khususnya pada perusahaan publik sulit untuk  didefinisikan secara tepat, tetapi efek merusaknya, tak terhindarkan. Sulit untuk diabaikan.

Meskipun bentuk, tingkat dan kelemahannya bervariasi pada suatu negara dengan negara lainnya, survei menunjukkan bahwa hampir tidak ada negara yang tidak tersentuh korupsi (Transparency International, 2004).

Korupsi sering dikemukakan ada karena kurangnya persaingan menghasilkan harga yang dapat disesuaikan secara ilegal. Gagasan umum ini sudah sering membuat orang berpikir bahwa, karena meningkatnya kompetisi mengurangi harga, itu juga mengarah pada korupsi yang lebih rendah. Rose-Ackerman (1996) menyatakan bahwa secara umum setiap reformasi yang meningkatkan daya saing ekonomi membantu mengurangi insentif korupsi.

Pengadaan publik adalah area yang banyak bermasalah. Praktik pengadaan publik membutuhkan pemilihan tawaran terbaik, memperhitungkan sejumlah pertimbangan termasuk kualitas, siklus hidup biaya dan risiko serta kinerja vendor berdasarkan evaluasi nilai uang (Value of Money Evaluation).

Untuk memastikan bahwa sumber daya pembayar pajak dihabiskan dengan hati-hati, proses pengadaan harus adil dan transparan, dengan kontraktor yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Praktik pengadaan publik yang dijalankan oleh ketidakpercayaan memungkinkan memperbesar risiko dan biaya kontrak.

Masalah pengadaan menjadi pusat perhatian tempat korupsi cenderung tumbuh subur. Pelaku mengambil keuntungan dari hasil yang ada pada mekanisme rancangan multi dimensi. Korupsi tergantung pada tingkat daya saing lingkungan. Hasil penelitian Celetani dan Ganiza pada tahun 2001, mengidentifikasi melalui mana persaingan yang lebih tinggi mempengaruhi korupsi dan sebaliknya. Dampak dari meningkatnya persaingan di pasar pengadaan dan di pasar untuk buyer/fungsi pengadaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa membentuk efek bersih (bebas korupsi) secara fungsional dapat diperoleh dengan peningkatan jumlah pemasok potensial.

Hubungan antara persaingan dan korupsi telah menjadi objek beberapa penelitian lintas bidang studi. Ades dan Di Tella (1197) menyatakan bahwa kebijakan industri aktif meningkatkan korupsi. Hal ini didukung dengan gagasan yang terkait dengan tingkat keterbukaan terhadap perdagangan yang lebih tinggi untuk menurunkan tingkat korupsi.

Laffont dan N’Guessan (1999) melakukan penelitian serupa di Benua Afrika dan menunjukkan adanya saling ketergantungan korupsi dengan persaingan. Korupsi berkurang pada keterbukaan ekonomi pada negara yang memiliki tingkat historis korupsi yang rendah. Namun meningkat pada kondisi sebaliknya.

Wei (2000) menunjukkan bahwa ‘keterbukaan alami’ menjelaskan 60% dari variasi lintas fungsi/seksi, faktor keterbukaan tidak memiliki dampak terhadap korupsi secara signifikan.

 

Sumber:
diolah dari beberapa jurnal ilmiah.

Corporate Governance and Corruption

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) adalah badan multilateral yang mewakili kepentingan anggotanya, negara maju di dunia. Mereke membentuk beberapa kelompok kerja untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi. Salah satunya, adalah Penasihat Sektor Bisnis OECD yang didirikan pada tahun 1996. Kelompok ini ditugaskan untuk menyusun: “standar minimum tata kelola perusahaan yang seharusnya diikuti oleh negara-negara OECD” (Dignam & Galanis 1999).

Pada tahun 1999, edisi pertama Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan diterbitkan. Versi revisi terbit pada tahun 2004, untuk mencerminkan perubahan yang terjadi dalam lanskap tata kelola perusahaan, terutama setelah perusahaan sekelas Enron dan WorldCom di Amerika runtuh (OECD, 1999, 2004).

Roe (2008) mengungkapkan bahwa lembaga tata kelola perusahaan di negara-negara Barat berkembang dengan baik dan mengakar. Sebaliknya, terjadi kelemahan regulator Asia Timur, ditandai dengan Krisis Asia Timur 1997. Hal ini memicu upaya pengembangan kapasitas besar oleh bank pembangunan multilateral untuk mengatasi kelemahan kelembagaan dalam pengembangan negara.

Praktik tata kelola dapat dinilai dari faktor: keadilan, transparansi, akuntabilitas, pengungkapan, dan tanggung jawab. Seperangkat prinsip awal dirancang agar relevan untuk setiap entitas yang terorganisir, baik itu pribadi, publik, milik negara, atau tunduk pada berbagai bentuk kontrol dan kepemilikan lainnya. Prinsip-prinsipnya juga menyediakan tolok ukur pemantauan perilaku korporasi dan hasil perbaikan dan pengembangan yang dihasilkan oleh pihak yang berkepentingan seperti investor dan regulator (Jesover & Kirkpatrick 2005: 172, Iu & Batten 2001: 48).

Kanna, Kogan, Paleppu (2001), memberikan hasil penelitiannya bahwa globalisasi juga menghadirkan peluang dan tantangan bagi reformasi tata kelola perusahaan di negara-negara berkembang. Di satu sisi, globalisasi dapat mempercepat implementasi tata kelola perusahaan sesuai standar internasional. Namun, globalisasi juga dapat meningkatkan persaingan terhadap sejumlah besar perusahaan domestik yang tidak efisien. Kenapa ? Karena globalisasi di sisi lain menciptakan tekanan tinggi bagi mereka untuk menyuap agar bisa bertahan hidup.

Peran perusahaan multinasional dalam perang melawan korupsi tidak boleh diabaikan. Meski MNC (multi national company) mampu memberi dampak positif secara signifikan, namun ternyata masih saja ditemukan beberapa praktik penyuapan korporat tingkat tinggi. Beberapa contoh skandal yang memalukan itu, misalnya Xerox di India, IBM di Argentina, dan Siemens di Singapura.

Transparency International’s Bribe Payers Index menunjukkan bahwa perusahaan dari beberapa negara pengekspor terkemuka di dunia, di antaranya adalah negara yang paling mungkin membayar suap di luar negeri untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil atas pesaing mereka (Transparency International, 2002). Sebagai akibatnya, di era globalisasi, tata kelola perusahaan yang buruk dapat memfasilitasi ekspor praktik penyuapan lintas batas. Hal ini dapat merusak efektivitas kampanye global terkait anti korupsi.

 

Catatan :
OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) adalah organisasi ekonomi antar pemerintah dengan anggota negara berpenghasilan tinggi). OECD didirikan pada 1961 untuk merangsang kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia. Saat ini bernggotakan 36 negara. Pada 2017, negara-anggota anggota OECD secara kolektif jika PDB nya digabungkan berkontribusi sebesar 62,2% dari PDB global (US $ 49,6 triliun).

Sumber :
Diolah dari beberapa jurnal ilmiah.