Vitamin

Meski sehat, kadang orang masih perlu vitamin. Tak ubahnya saya. Usaha dan segala daya upaya fisik dan non fisik telah dilakukan. Kami berharap buah hati kami bisa ikhlas dan kerasan. Ia juga bisa segera beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Saat melakukan cek kiriman pesan di telepon genggam,  ada beberapa pesan masuk. Salah satunya, ternyata berisi nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pas banget. Pipi ini kayak ditampar. Sakit tapi menyadarkan. Tapi tetap saja jadi vitamin. Suplemen penambah semangat.

Di bawah ini saya salinkan isi pesan itu. Siapa tahu ada sahabat yang punya kondisi yang serupa dengan saya.

“Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq. Ujung ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ?

Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu, baju sepatu tas ber-merk. Lha pas di suruh ngaji blekak-blekuk. Di tanya tentang agama prengas-prenges.

Arep dadi opo…?

Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an gak ngerti budi pekerti.. ?

Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”

Mbah Sahal, kalimat “arep dadi opo?” jadi vitamin hari ini.

Tak terasa mata mulai basah. Nasihat yang langsung mengubah aksi. Jazakallaah khair.

Anakku, kamu yang ikhlas, yang kuat. Bersandarlah pada Illahi Robbi. Tetaplah istiqomah, besarkan semangatmu. Doa kami untukmu. Semoga ketikan ini, bacaan dalam hati ini, meresonansi hingga ke hatimu. Menambah vitamin juga untukmu.

Insya Allah, doa sahabat bapak dan ibumu juga akan menambah kekuatanmu.

 

Growth Mindset

Era Sekarang Memerlukan Growth Mindset

by Jamil Azzaini *)

Studi yang dilakukan Dweck (Mindset: The New Psychology of Success, 2006) mengungkapkan bahwa terdapat dua jenis mindset bagi setiap pembelajar yaitu fixed mindset dan growth mindset. Ada pembelajar yang melakukan sesuatu karena ingin dinilai dan ada yang melakukan karena ingin hidupnya berubah.

Mereka yang ingin dinilai biasanya kurang berani menghadapi sesuatu yang baru, apalagi berisiko tidak bisa atau gagal. Mereka sangat takut dinilai buruk oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka enggan menghadapi tantangan baru, mudah menyerah, metasa terancam dengan keberhasilan orang lain, dan enggan menerima kritikan yang membangun.

Mereka dengan ciri-ciri tersebut di atas termasuk dalam kelompok fixed mindset. Saya yakin Anda paham, orang-orang yang termasuk dalam kelompok fixed mindset tidak akan bertahan di era yang berubah begitu cepat, seperti saat ini.

Ada kelompok lain yang disebut Growth Mindset. Mereka belajar karena ingin hidupnya berubah. Mereka siap dan suka menerima tantangan baru. Tahan banting, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Mereka senang berusaha dan melatih keahliannya. Mereka senang mendapat kritikan, feedback dan saran. Bagi orang-orang yang memiliki growth mindset, kritikan, feedback dan saran adalah sarapan atau vitamin yang bisa menguatkan dirinya.

Selain itu, orang yang memiliki growth mindset akan mengambil pelajaran dari kesuksesan orang lain. Ia tidak iri tetapi justeru mengambil inspirasi. Ia mencari polanya kemudian ia terapkan dalam kesehariannya. Ia mengambil hikmah dan pelajaran dari keberhasilan orang-orang yang ia kenal.

Coba duduk sejenak, Anda termasuk kelompok yang fixed mindset atau growth mindset? Apabila termasuk yang fixed mindset segeralah untuk bertaubat. Apabila Anda termasuk yang merasa growth mindset perlu dibuktikan di lapangan. Benarkah Anda tahan banting? Benarkah Anda senang mendapat feedback? Benarkah Anda sering mengambil pelajaran dari kesuksesan orang lain?

Dunia saat ini memerlukan orang-orang yang memiliki growth mindset, terus bertumbuh, terus belajar, terus berlatih, terus mencari tantangan dan tidak mudah menyerah. Semoga Anda termasuk orang-orang yang memiliki growth mindset sehingga Anda tidak terlempar dari orbit kehidupan.

Catatan :

*) Jamil Azzaini adalah pengusaha, motivator, inspirator SuksesMulia. Saat ini menjadi CEO of Kubik Leadership. Salah satu perusahaan jasa pelatihan dan konsultansi ternama di Indonesia.

Pancasila Market Economy

PANCASILA MARKET ECONOMY : JANGAN PRETELI PANCASILA
(Sebuah Pencarian Maklumat untuk Ekonomi yang Berkeadilan)
Oleh : dr. Gamal Albinsaid

Dua pekan lalu, setelah memenuhi undangan dari Bupati Banyuwangi, Bapak Azwar Anas, saya langsung terbang ke Jakarta untuk bersilaturahim dengan tokoh yang saya idolakan semenjak kecil. Empat belas tahun lalu, dalam kelas bahasa inggris ketika saya bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, pernah guru bahasa inggris saya menanyakan siapa tokoh yang saya kagumi. Dengan penuh kebanggaan saya jawab Pak Habibie. Ada 4 hal yang menjadikan saya begitu mengagumi sosok Eyang B.J. Habibie, antara lain, kemampuan intelektualitasnya yang memiliki daya saing global, ketulusan cintanya yang begitu mendalam kepada Indonesia, spiritualitas yang menjadi dasar berpijak dan bergerak, dan yang keempat kemampuannya membangun harmoni keluarga dan jiwa pengabdiannya.

Mengejar kekuasaan itu sulit, tapi lebih sulit lagi meninggalkan kekuasaan. Kebanyakan politisi berambisi mengejar kekuasaan dan begitu berat sekali melepaskan kekuasaan. Namun, kekuasaan menghampiri Pak Habibie dengan mudahnya dan beliau lepaskan dengan mudahnya. Beliau benar-benar menunjukkan sebuah prinsip yang saya dapatkan dari Profesor saya 7 tahun lalu.

“If you get scientific position, it’s easy for you to get political position”.

Pak Habibie pun pada saat itu mengatakan kepada kami bahwa “I am survive in politic, but I’m not a politician. I am a technocrat”. Sebagaimana Ibu Ainun pernah menyampaikan bahwa service terbesar beliau untuk Indonesia itu memastikan Habibie menjadi teknokrat, menjadi orang yang berguna. Itu semua menjadikan saya mengagumi karakter, sosok, dan yang paling penting saya mengikuti dan meyakini gagasan -gagasan kebangsaan beliau yang visioner.

Dalam kesempatan silaturahim dengan beliau, saya menanyakan soal bagaimana menyelesaikan masalah kesenjangan di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun hingga menghantarkan kesenjangan kita terbesar ke-4 di dunia dengan koefisien gini 0,40. Tidak sampai disitu Bank Dunia angkat bicara bahwa 61% masyarakat kita memilih pertumbuhan ekonomi yang melambat asalkan kesenjangan juga menurun.

Bayangkan tahun ini kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia.

Dari diskusi panjang dengan beliau, beliau menyajikan pemikiran yang mangajak rejuvenasi pemikiran ekonomi bangsa dengan menghadirkan jawaban dari berbagai kesenjangan dan permasalahan ekonomi yang ada melalui Pancasila Market Economy (PME), yaitu Ekonomi Pancasila yang berorientasi pada pasar. Di akhir tahun 2017 ini saya sengaja menghabiskan hari demi hari untuk memahami dan menterjemahkan Prinsip Pancasila Market Economy dalam perspektif saya sesuai arahan Eyang Habibie.

Pancasila Market Economy ini penting kawan-kawan, karena diharapkan mampu membangun kesadaran baru, paradigma baru, dan sistem ekonomi baru yang hadir untuk melawan ketidakadilan ekonomi dan kesenjangan yang semakin merajalela dan menjajah keadilan sosial di Indonesia. Selama ini, kita telah mengasingkan Pancasila dalam sistem ekonomi kita, kita terjebak menjadikan Pancasila dalam slogan politik, orasi politik, dan kepentingan politik. Kita terlalu sering mengatakan Pancasila dalam lisan kita, tapi kita tidak meneladankan dalam kerja – kerja kita.

Melalui Pancasila Market Economy, perusahaan yang pro-rakyat akan tumbuh dan perusahaan yang tidak pro-rakyat akan jatuh. Market oriented itu akan menjadikan perusahaan-perusahaan tumbuh dan membangun keberpihakan sosial bukan karena peraturan, tapi karena kebutuhan pasar. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan akan menyesuaikan value yang ada dengan value yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Perusahaan tidak lagi hanya berfikir soal profit, tapi juga berfikir soal peran dalam pembangunan sosial di masyarakat.

Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Pancasila Market Economy akan menjadikan tumbuhnya tanggung jawab masyarakat yang beruntung dan sukses untuk membiayai masyarakat yang belum beruntung.

Eyang Habibie mencontohkan dengan menanyakan kepada saya mengapa saya mengembangkan Indonesia Medika, kemudian beliau melanjutkan,

“Why ? Because you are not blind. You care about them is the beginning of everything”.

Pancasila Market Economy dalam perspektif Ketuhanan Yang Maha Esa menghadirkan sebuah pemahaman bahwa sumber daya dipandang sebagai pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kehidupan orang banyak.

Pancasila Market Economy dalam konteks Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat kita diwujudkan dalam implementasi sistem perekonomian yang bukan hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai orientasi pembangunan, tapi memastikan besarnya dampak ekonomi pada tumbuhnya kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam konteks pemerataan, dan perkembangan masyarakat yang berkeadilan. Pancasila Market Economy ini harus mampu mendorong tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, bertakwa yang dihasilkan dari proses pembudayaan agama dan norma masyarakat. Pancasila Market Economy ini juga harus membentuk masyarakat yang punya kapasitas dan berdaya saing.

Pada implementasi pasar, Pancasila Market Economy akan mampu berperan menampilkan wajah ekonomi Indonesia yang menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kepedulian, mengutaman kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongan. Pancasila Market Economy pada konteks ini harus mampu diterjemahkan dalam konteks etika ekonomi, etika bisnis, dan orientasi ekonomi.

Pancasila Market Economy dalam perpektif Persatuan Indonesia adalah ekonomi harus digerakkan dengan semangat kerjasama manusia yang saling menguntungkan, menjadikan kehidupan sesama lebih baik, mempererat persatuan, dan menerapkan prinsip gotong royong. Pancasila dalam konteks Persatuan Indonesia harus dilihat sebagai aktivitas yang menunjukkan tolong-monolong dan menanggung beban hidup dan tanggung jawab bersama-sama.

Pancasila Market Economy dalam konteks kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwusyawaratan perwakilan dapat dilihat sebagai adanya sebuah tatanan, kebijakan, dan regulasi yang memberikan dukungan kepada masyarakat ekonomi lemah. Pancasila Market Economy harus membuat peraturan yang mampu mengawal dalam pembangunan pasar berkeadilan yang memberikan peluang dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha. Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan adanya perselingkuhan antara pemimpin bangsa dan perwakilan rakyat dengan pengusaha-pengusaha untuk memperkaya mereka dan melakukan transaksi politik dan kebijakan.

Pancasila Market Economy akan memudahkan kita melihat dan membedakan perusahaan – perusahaan mana yang punya misi pembangunan sosial dan pancasilais. Kita juga akan mampu melihat perusahaan – perusahaan mana yang menjelma menjadi VOC gaya baru, mengambil sumber daya di Indonesia, menjajah hak – hak keadilan sosial masyarakat Indonesia, dan anti Pancasila. Pancasila Market Economy seyogyanya menjadi rujukan para pemimpin untuk mengambil kebijakan yang bijaksana dengan prinsip keberanian, keadilan, dan keberpihakan pada masyarakat ekonomi lemah. Konsep Pancasila Market Economy harus mendorong dan memberikan keberanian melawan VOC – VOC gaya baru ini.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dilihat pada perpektif kepemilikan aset, tanah, modal tidak boleh bertumpuk pada segelintir orang yang berakibat pada ketidakmampuan sebagian masyarakat mendapatkan hak-hak sosial dan hak-hak dasar dalam kehidupannya. Secara praktis, Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan ada orang atau sedikit masyarakat yang memiliki kekayaan yang sangat besar, namun disisi lain ada masyarakat yang tak mampu berobat, tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, dan tak mampu tinggal di tempat yang layak. Pancasila Market Economy tidak akan membiarkan akumulasi kekayaan yang melampaui batas pada satu atau kelompok orang dan memberikan kesengsaraan kepada sebagian besar masyarakat lain. Tidak boleh terjadi so few have so much, so many have so little.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus mampu memastikan adanya jaminan pendidikan, kesehatan, dan terpenuhinya sandang, pangan, dan papan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila Market Economy pada akhirnya mampu memastikan kepemilikan masyarakat terhadap sumber daya yang ada dan memastikan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Pancasila Market Economy diyakini mampu melawan globalisasi yang manifestasinya adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, setelah dilakukan proses produksi, produk-produk tersebur dijual kembali ke negara asal. Dengan demikian produk-produk yang seharusnya dapat diproduksi oleh jam kerja masyarakat Indonesia digantikan oleh jam kerja masyarakat negara lain. Hal ini mengakibatkan terbatasnya lapangan kerja dan peluang ekonomi masyarakat. Menurut Eyang Habibie, Implementasi sila ke-5 dalam Pancasila Market Economy adalah memperjuangkan jam kerja bagi rakyat Indonesia sendiri. Hal tersebut dapat dicapai melalui dukungan regulasi dan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Saya melihat Pancasila Market Economy ini mampu memberikan nafas baru, semangat baru, dan harapan baru diantara berbagai keterpurukan ekonomi bangsa yang hari ini kian memburuk dan memberikan rasa ketidakadilan di masyarakat. Lebih jauh lagi, Pancasila Market Economy akan mampu melahirkan kesadaran baru untuk mengembalikan semangat ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dalam perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan rasa adil melalui kesejahteraan.

Titik utama dari nasehat Eyang Habibie yang saya tangkap adalah adanya kesungguhan untuk menjamin, memastikan, dan mendorong penerapan Pancasila secara menyeluruh. Saya secara pribadi melihat bahwa Pancasila Market Economy tidak boleh disimplifikasi dalam mengejawantahkan sila kelima pancasila saja, tapi lebih dari itu, mampu membawa nilai luhur kelima sila Pancasila secara holistik dan menyeluruh dalam penerapan ekonomi yang berfokus pada tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara.

Pada implementasi konsep ini, saya fikir kita pemuda-pemudi Indonesia harus mulai menyuarakan dan mengawal Pancasila Market Economy. Konsep Pancasila Market Economy harus menerapkan pancasila secara keseluruhan sebagai sebuah kesungguhan dan harus seimbang. Tidak boleh dipreteli seenaknya. Jika pancasila dipreteli seenaknya jangan kaget kalau bangsa ini dikuasai oleh segelintir orang.

Siapapun yang membiarkan ketidakadilan sosial tumbuh dimasyarakat, melakukan penguasaan akumulasi ekonomi pada pribadi secara berlebihan, dan mengakibatkan ketidakmampuan jutaan masyarakat memenuhi hak-hak dasarnya, maka ia telah mengkhianati pancasila. Bagi saya, 1 teladan pengamalan pancasila lebih baik dari 1000 pekikan pancasila.

Akhir kata, ketika berpamitan dengan beliau, saya memohon izin untuk memeluk beliau dan saya menancapkan dalam hati dan fikiran saya untuk menyebarkan pemikiran beliau kepada generasi muda Indonesia. Terima kasih Eyang Habibie sudah menyebut kami sebagai Intelectual Grandchild. Bagi saya, we are not only your intellectual grandchild, but we are also your ideological grandchild to ensure the Indonesian people get social justice.

Selamat datang Pancasila Market Economy.

Buah Harapan

Beberapa kali artikel ini saya baca. Menggugah dan menyemangati, terlebih ketika hati sedang gundah gulana.

Perkenankan saya berbagi. Semoga sahabat berkenan mengambil hikmah dari buah pena Adimas Ust. Salim A. Fillah ini.

BUAH HARAPAN

“Sebuah harapan, sekecil apapun, jika dibandingkan dengan keputusasaan, adalah kemungkinan tanpa batas.”
(Silver, dalam ‘L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties’)

“Al Quran”, demikian Syaikh Muhammad Al Ghazali : “Adalah Kitab tentang kegagalan & harapan. Ia hargai setiap perjuangan insan, bukan hasilnya; ia larang mereka berputus asa dari kasih sayang Penciptanya. Maka siapapun, dalam keadaan apapun, akan menemukan semangat baru untuk bangkit jika membacanya.”

Kegagalan apa yang lebih besar dari melanggar larangan Allah hingga dikeluarkan dari surga?

Tapi Adam & Hawa dengan doa sesalnya telah memberi harapan pada anak cucu mereka; kesempatan masih dianugrahkan selama hayat dikandung badan.

Kekhilafan apa yang lebih ngeri dari membunuh?

Tapi Musa, pelarian, & jalan pengabdiannya di Madyan telah menyalakan binar di mata manusia yang hendak menempuh jalan juang bahwa Allah selalu berlimpah memfasilitasi tekad suci.

Keberpalingan apa yang lebih bodoh daripada meninggalkan tugas dariNya dengan hati murka?

Tapi Yunus di dalam perut ikan di dasar samudera telah menerbitkan ilham bagi siapapun, bahwa di puncak rasa tak berdaya itulah akan datang pertolonganNya yang Maha Jaya.

Dan seindah-indah harapan pernah diucapkan Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wassalam di tengah tawaran sedahsyat-dahsyat kekuatan. Saat itu, di Qarnul Manazil, setelah 3 hari dakwah di Thaif yang menguras jiwa & raganya, berbuah usiran & sambitan.

“Wahai Rasulallah,” ucap malaikat penjaga gunung :

“Perintahkanlah, maka akan kubalikkan gunung Akhsyabain ini agar membinasakan mereka yang telah mendustakan, menista, & mengusirmu”

“Tidak,” jawab Nabi Muhammad SAW :

“Sungguh aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab ‘adzab. Aku berharap agar dari sulbi dan rahim mereka, Allah keluarkan anak keturunan yang mengesakanNya & tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”

Bersebab hati yang ditanami harapan semacam ini, orang yang pernah berniat membunuhnya kini berbaring mesra di sampingnya, dan dari penista Quran Walid ibn Al Mughirah, lahirlah pedang Allah.

Bisnis Kehormatan

BISNIS KEHORMATAN

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc.

Menegakkan wajah dan mempertahankan kehormatan pribadi di atas kemiskinan yang panjang, bukanlah perkara gampang.

Tapi bertahan dalam kemiskinan yang panjang di tengah gemerlap dunia materi dengan tetap mempertahankan tingkat produktivitas ilmiah yang tinggi, tentu saja jauh lebih sulit.

Tapi itulah, inti semua tantangan yang dihadapi para ulama pewaris nabi.  Itu akan menjadi lebih rumit bila mereka hidup pada suatu masa di mana para penguasa bersikap anti ulama, meremehkan peranan ilmu pengetahuan, dan suka merendahkan ulama.

Kemiskinan adalah pilihan hidup mereka, tapi kehormatan adalah tameng mereka.

Masalahnya adalah bahwa sebagian dari kehormatan itu harus dipertahankan dengan materi atau harta. Harta itu sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas dalam dunia mereka. Tapi
itulah masalahnya : HARTA yang kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup.

Maka, perintah menjadi kaya beralasan di sini: agar kita juga memiliki kebanggaan itu, agar kita dihormati dalam pergaulan masyarakat.

Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen.
Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya.
Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untouchable.

Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalah. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan inurid beliau. Misalnya, Kitab Al Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.

Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah.

Sebab, bisnis tidak boleh mengganggu ‘bisnis’ mereka yang lain.

Sebab, mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu.

Sebab, mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu. Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses.

Demikianlah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqah, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab  Al Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses.

Namun, beliau hanya menjawab dengan enteng….

“Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa“

Enam Karakteristik Kepemimpinan Transformasional

Mengingat Lagi 6 Karakteristik Kepemimpinan Transformasional

by Tim Vanaya Coaching Institute

Tulisan pada buku karangan James MacGregor Burns, “LEADERSHIP”, New York: Harper & Row, 1978 (lebih dari 350 halaman) ternyata merupakan wawasan baru terkait pengembangan gagasan charismatic leadership dan transformational leadership pada abad ini. Buku ini menjadikan studi baru tentang kepemimpinan terutama perbandingan antara kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional.

Kepemipinan transaksional mengemukakan ada dua karakteristik utama tipe kepemimpinan transaksional, yaitu:

Pertama, pemimpin menggunakan serangkaian imbalan untuk memotivasi para anggota.

Kedua, pemimpin hanya melakukan tindakan koreksi apabila anggota gagal mencapai sasaran prestasi yang ditetapkan.

Kepemimpinan transaksional dengan demikian mengarah pada upaya mempertahankan keadaan yang telah dicapai.

Sedangkan para pemimpin transformasional memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

Mereka (para pemimpin transformasional) dengan jelas memandang diri mereka sendiri sebagai agen-agen perubahan (change agents). Mereka berjuang untuk membuat suatu perbedaan dan untuk mentransformasikan organisasi di bawah tanggung jawab mereka.

Mereka berani (courageous). Mereka mampu berurusan dengan resistensi (pihak-pihak yang melawan). Mereka mengambil posisi, mengambil risiko, meng-konfrontir realitas.

Mereka percaya kepada orang-orang yang dipimpinnya (believe in people). Mereka mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang sudah dikembangkan dengan baik perihal motivasi, menaruh kepercayaan dan pemberdayaan.

Mereka didorong oleh seperangkat nilai yang kuat (a strong set of values). Mereka terus belajar (life-long learners). Mereka melihat kesalahan, baik kesalahan mereka sendiri atau kesalahan orang lain, sebagai kesempatan untuk belajar.

Mereka dapat mengatasi masalah-masalah yang mengandung kompleksitas (complexity), ketidakpastian (uncertainty) dan kemenduaan (ambiguity).

Mereka adalah visioner-visioner (visionaries).

Pada era saat ini,  perusahaan dihadapkan pada tantangan yang besar yaitu keberagaman para karyawan handal dan berkompeten. Keberagaman ini tidak hanya berdasarkan gender, budaya, latar-belakang pendidikan ekonomi, agama, namun juga fenomena keberagaman generasi. Saat ini di tempat kerja terdapat tiga generasi yang bertemu dan saling berinteraksi yaitu generasi zoomer, generasi X dan generasi Y.

Coaching sebagai salah satu penerapan gaya kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kemitraan dalam sebuah proses percakapan yang mendalam untuk pembangkitan pemikiran dan kreativitas berpikir, yang mengilhami sehingga dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalisme. Pemimpin didorong agar dapat mengembangkan timnya. Coaching gaya kepemimpinan masa depan ini berfokus pada perlakuan anggota tim sebagai manusia, dan menilai bawahan sebagai pribadi yang memiliki potensi besar untuk dapat berkembang dan mencapai hasil terbaik.

Kepemimpinan dan leadership coaching berperan menjaga keefektifan organisasi dengan memelihara potensi kepemimpinan dalam diri sendiri dan orang lain agar menjadi lebih produktif dan menyenangkan.  Penggabungan seorang pemimpin yang menggunakan kepemimpinan transformational dan melakukan coaching maka dia memiliki dampak perubahan perilaku dan kinerja terhadap coachee lebih baik dibandingkan tipe kepemimpinan transaksional.

Catatan : 

Artikel ini kiriman otomatis via email dari sahabat sekaligus guru saya, Ananta Dewandhono. Terima kasih ya, Mas ADD. Beliau aktif di Sembada Pratama, School of Supply Chain & Logistic bentukan Asosiasi Logistik Indonesia. Beliau adalah CEO Vanaya Coaching Institute : www.vanaya.co.id

Semoga bermanfaat.

Five Assumptions You Have to Make When Managing a Crisis (by Jack & Suzy Welch)

Sahabat, perkenankan saya berbagi artikel menarik ini..
Semoga menginspirasi, utamanya bagi sahabat yang sedang mengalami krisis …

Tetap optimis !

Five Assumptions You Have to Make When Managing a Crisis

By: Jack & Suzy Welch, The Jack Welch Management Institute.
Published on October 17, 2016

Crises are a Part of Life…and Business

It’s a rare day that you turn on the television or open the newspaper and don’t encounter a story about a crisis unfolding in an organization somewhere.

Crises come in all shapes and sizes. Some are very public like bank employees opening accounts under false identities (Wells Fargo) or a pharmaceutical company dramatically increasing the price of a life-saving treatment (Mylan and the EpiPen). Others are less public, like your team missing a major product launch date or not catching a design flaw that results in a product recall.

The crisis could have been caused by someone on your team you barely know or it could have been caused by you. But suddenly, there it is, and how you manage it can make all the difference in the world.

When that bombshell drops, your instinct will be to go into panic mode. You may want to run away and hide, or lash out, or get defensive. All of these are perfectly natural reactions, but all are the exact opposite of what you should do.

And one more thing…don’t think you’re immune to crisis management just because you’re not part of the C-Suite or hold a senior-level position in a large division. If you’re a leader of even a small team, you need to have a plan for handling crises before they occur.

Five Steps of Crisis Management

1. Assume the problem is worse than it appears. Skip the denial and assume that the issue is REAL and that it is SIGNIFICANT. Yes, you may end up overreacting, but far better to expect the worst than to hope it’s not that big of a deal and be caught off guard when more details surface.

2. Assume there are no secrets and the news will get out. Covering up the issue only makes it worse. Not only will the story eventually surface – they always do, but you will make yourself complicit for attempting to hide it.

3. Assume your organization will be portrayed in the worst possible light. While this one is often more of a “public media” thing, even within your own organization, it’s possible for other teams or divisions to jump onto a bandwagon of condemnation and finger-pointing, especially if these actions deflect any (potential) blame away from them.

4. Assume you will have to make changes to people and processes. Whether the crisis was caused by the illegal/unethical actions of a rogue employee or a “system failure” that can’t be attributed to any one person or group, things have to change to prevent the issues from recurring. Further, these changes will have to be announced loudly and publicly to reassure others that you have identified the problem and have taken swift and decisive action.

5. And finally, assume you will survive and get stronger.

Yes, it’s hard to believe the light of day will ever shine again when you are in the middle of your darkest hours, but this will pass. And when it does, you will be smarter and stronger as a result of the experience.

Building a Solid Foundation Before a Crisis Occurs

While there are no foolproof approaches to prevent all system failures and bad actors, there are several things you should be doing all the time:
• Establish a culture of candor where people can speak up when they see something wrong without fear of reprisal. In addition to this, put in place a highly trusted ombudsperson to manage a hotline where people can anonymously report concerns.
• Constantly review the behaviors you are rewarding. There’s nothing wrong with performance bonuses for adding new customers, beating inventory targets, etc., but if there are insufficient guidelines in place to ensure that everyone is aligned to the mission and values of the organization, there is a risk that well-meaning incentives could drive unintended actions.
• Don’t create your own crisis through the way you let someone go for performance reasons. Treat people with dignity on the way out just as you did on the way in. Severance dollars are some of the smartest dollars you will ever spend. Disgruntled employees can wreak havoc on an organization and while, more often than not, their claims may be unfounded, the damage done to the organization can be significant.
• Be a good citizen in the community. Participate in as many activities and causes as you can in the good times. This will put chips in the bank that can serve you well should a crisis occur.
• Have your own communication channels functioning well (Twitter, Facebook, LinkedIn, etc.). You need to have your direct-to-the-world channel in place before a crisis occurs so you have an existing audience ready to hear directly from you, not through a third-party filter over which you have little control.

The Path Ahead
In the midst of all this crisis management, don’t forget about your day job. While the nightmare of the crisis is unfolding, you still have to run your business. You have to keep the factories operating, get your products to your customers and continue to close sales. Facing an unexpected crisis adds a whole other job to do on top of your regular job, but you can’t stop the rest of the world while you manage the crisis. If you do, you may not have a business to return to when the crisis passes. And it will pass.
Whatever your crisis is, own it. Act swiftly and learn from it. If you can emerge from a crisis smarter than you were going into it, then something good has come of it. Sure, the learning may not have been through the circumstances you would have preferred, but it does give you the opportunity to make yourself and your team smarter and stronger. It gives you the chance to prevent that mistake from ever happening again.

 

 

Jack Welch is Executive Chairman of the Jack Welch Management Institute. Through its online MBA program, the Jack Welch Management Institute transforms the lives of its students by providing them with the tools to become better leaders, build great teams, and help their organizations win. The program was recently named one of the Top 25 Online MBA Programs for 2017 by the Princeton Review for its excellence in five areas of selection criteria: academics, selectivity, faculty, technical platforms, and career outcomes. The program was also recently named the #1 most influential education brand on LinkedIn and one of the top business schools to watch in 2016.
Suzy Welch is co-author, with Jack Welch, of the Wall Street Journal and Washington Post best-seller The Real-Life MBA, and of the international best-seller Winning.

Terus-terusna ! by Salim A Fillah

TERUS-TERUSNA!

Ada ungkapan orang Jawa yang kalau ditujukan kepada Anda, meski disertai senyum yang amat manis, sungguh ia peringatan kelas berat.

Bunyinya :

“Ya wis nek ngono, terus-terusna kana!”

Arti harfiahnya adalah :

“Ya sudah kalau begitu, teruskan saja sana!”

Tugas ummat ini hanya berjuang. Allah tidak mewajibkannya untuk menang. Berjuang itu jauh lebih besar dari sekedar menang. Seperti sa’i lebih besar dari zam-zam, seperti Uhud lebih bermakna dari segunung perbendaharaan Kisra.

Maka kalau ummat sudah berjuang dengan kesungguhan, sesuai arahan Allah dan RasulNya, sementara musuhnya bersikeras untuk menang; dengan segala tipu-tipu, dengan bertumpuk kecurangan, dengan besi dan api, dengan mengerahkan semut dalam liang hingga jin peri-perayangan; ummat ini hanya akan berkata “:

“Ya wis. Terus-terusna!”

Bagi Fir’aun yang merasa kuasa mengalirkan Nil dan memperbudak Bani Israil; ada Musa yang tak putus asa. Tapi airlah yang mengakhiri si raja.

Bagi Namrudz yang menyatakan mampu menghidupkan dan mematikan; ada Ibrahim mendebatnya. Tapi nyamuk saja kiranya yang menjadi sebab khatamnya.

Bagi gegap gempita kepungan pasukan Ahzab; ada keteguhan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di dalam Khandaq. Tapi anginlah rupanya yang menyapu bersihnya.

Bagi Abrahah dan pasukan gajah yang pongah; ada ‘Abdul Muthalib berserah pada Allah. Lalu batu kecil dari sijjil dilempar burung-burung mungil.

Bagi Jalut yang kuatnya membuat takut dan kecut; ada Thalut yang diutus bersama tabut. Tapi ketapel kecil bocah Dawud lah yang jadi pembawa maut.

Maka sungguh, tugas kita atas kezhaliman hanya taat pada Allah dan berteguh istiqamah. Lalu mari bersandar hanya padaNya, bersiap tuk kejutan pertolonganNya Yang Maha Jaya.

Tipe Menyerah atau Curang by Azrul Ananda

Tipe Menyerah atau Curang

By Azrul Ananda *)

Jawa Pos : RABU, 29 MARET 2017

ANDA tipe gampang menyerah? Atau tipe yang suka menyiasati keadaan (dalam artian curang)? Kalau jawabannya iya, bagaimana?

***

Saya beruntung bekerja di media. Tidak pernah ada dua hari yang sama, tidak pernah ada rutinitas. Bertemu banyak macam orang, bekerja dengan berbagai tipe manusia.

Saya juga bersyukur bisa menekuni sejumlah hobi. Selalu belajar sesuatu yang baru. Selalu berkenalan dengan orang baru. Selalu belajar tentang atau dari orang-orang baru itu.

Sabtu, 25 Maret lalu, saya bertemu dan berkenalan dengan begitu banyak orang baru. Ketika menyelenggarakan event bersepeda Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km, dari Surabaya menanjak ke Wonokitri, Bromo, via Pasuruan.

Bersama puluhan teman menjadi road captain, kami bekerja seperti gembala. Membawa total 1.170 cyclist dari 15 negara, termasuk yang mewakili 109 kota di berbagai penjuru Indonesia.

Semua mendaftar untuk ikut ’’sengsara’’, merasakan beratnya tanjakan menuju Wonokitri itu. Total tanjakannya hampir 40 km, menantang ketahanan fisik dan mental, dengan bagian akhir paling menyiksa: Tanjakan miring sampai 18 persen pada sekitar 250 meter memasuki Pendapa Wonokitri, di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Bagi kami cyclist di Jawa Timur (cyclist beneran yang tidak takut menanjak, bukan cyclist-cyclist-an yang hanya bike-to-eat), tanjakan menuju Wonokitri itu sudah berkali-kali kami lalui. Tapi, tidak pernah sekali pun terasa makin gampang.

Bahkan, kalau badan sedikit saja tidak fit, sangat mungkin tidak akan berhasil finis.

Nah, membayangkan ada lebih dari seribu orang mencoba menaklukkannya, dengan berbagai macam kemampuan, akan memberikan pemandangan seru.

Mereka yang kuat, tidak perlu diperhatikan. Itu merupakan hasil semangat dan dedikasi untuk berlatih, menjadikan diri semakin kuat dan tangguh.

Ada pula mereka yang tahun-tahun sebelumnya gagal finis, dan telah rutin berlatih supaya tahun ini bisa finis.

Mereka yang ’’tanggung’’, itu yang menarik untuk dibahas. Melihat pemandangan dan ulah-ulah manusia di tanjakan panjang itu, saya membayangkan seharusnya banyak dosen psikologi mengajak pelajar-pelajarnya untuk ikut mengamati. Karena di saat menghadapi tantangan berat seperti itulah, sifat-sifat manusia bisa kelihatan. Dan belum tentu sifat yang baik.

Saya dan sejumlah road captain memutuskan untuk berangkat agak belakang di bagian terakhir event. Yaitu, 17 km terakhir yang terberat, dari Desa Puspo menuju Wonokitri.

Kalau sehat, saya saja butuh sekitar 1 jam dan 20 menit untuk menyelesaikan bagian akhir itu. Kebanyakan cyclist yang tergolong mampu menanjak akan membutuhkan waktu 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Mereka yang tergolong sangat kuat atau atlet akan membutuhkan waktu di kisaran 1 jam.

Dari Desa Puspo, rombongan diberangkatkan pukul 10.15 pagi itu. Kelompok saya baru berangkat sekitar 20 menit kemudian. Selain untuk menjadi alat ukur waktu panitia, juga untuk melihat situasi dari sudut pandang belakang.

Plus, badan saya waktu itu juga tidak fit, beberapa hari sebelum event mengalami radang tenggorokan (beberapa yang lain sama).

Pemandangan dari belakang benar-benar seru. Ratusan peserta kami lalui dalam 17 km tersebut.

Sekitar 8 km sebelum finis, sudah banyak yang bergelimpangan di pinggir jalan. Entah karena kram, atau murni karena lelah. Bau balsam juga mulai tercium dari mereka.

Tidak sedikit di antara mereka yang menyerah. Memilih berputar balik turun ke bawah dan pulang. Atau naik mobil pendamping untuk pulang.

Ada yang tetap bertekad untuk mencapai finis dengan segala kekuatan. Walau kadang harus berjalan menuntun sepeda. Dan mereka terus berusaha mencapai finis sampai jam berapa pun, walau time limit sudah terlewati dan segala acara di puncak telah selesai.

Bagi saya, ini yang tergolong ’’terhormat’’, karena tetap berupaya finis menggunakan tenaga sendiri.

Ada pula yang mulai ’’mencari bantuan’’ mobil atau motor pendamping. Caranya tetap duduk di atas sepeda, tapi tangannya memegangi mobil atau motor sehingga dapat ’’tenaga lain’’. Lalu, ketika mendekati finis, mereka kembali mengayuh sepeda, sehingga seolah-olah finis beneran.

Ada lagi yang tidak punya akses terhadap mobil atau motor pendamping, lalu memutuskan mencari cara lain. Yaitu: Melobi motor-motor penduduk untuk mau membantu mereka naik ke puncak. Alias ngojek. Teman saya yang tinggal di kawasan itu bilang, Sabtu itu ojek laku keras.

Melihat itu semua, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Panitia sudah menyediakan banyak truk dan pikap untuk mengevakuasi peserta-peserta yang melewati time limit. Tapi, banyak yang tetap memilih pakai ojek atau bantuan pihak lain.

Jangan-jangan, mereka malu kalau diangkut pakai mobil resmi. Dan merasa lebih gagah atau bergengsi kalau menggunakan cara-cara ’’alternatif’’ tersebut.

Dan di berbagai cycling event di Indonesia, trik-trik itu sudah sangat lazim. Pernah waktu di kawasan Jogjakarta, ada peserta dari Jawa Tengah yang sengaja tidak ikut start dengan peserta lain. Mereka memilih naik mobil dulu sampai kaki tanjakan, lalu baru memulai bersepeda ketika rombongan sudah sampai di sana.

Hadeh-hadeh… Lha gitu itu maksudnya apa?

Ulah-ulah orang-orang itu benar-benar bikin geleng-geleng kepala, dan bahkan menggelikan.

Mereka orang dewasa. Kebanyakan berpendidikan. Banyak yang tergolong mampu. Tapi tetap memilih cara-cara seperti itu.

Dan kalau dipikir-pikir, bukankah itu cerminan banyak masyarakat Indonesia? Yang memilih jalan pintas –yang sering tidak terhormat– daripada bersusah-susah payah?

Bagi mereka-mereka itu, saya hanya bisa berdoa dan berharap. Semoga hati mereka dibuka, diberi kekuatan, supaya terpacu untuk berlatih dengan sungguh-sungguh. Supaya kelak tidak harus curang, tidak harus mencari jalan pintas.

Mau kuat? Ya latihan. Saya dulu juga tertatih-tatih kok kali pertama menanjak Bromo. Harus berhenti belasan kali sebelum benar-benar sampai ke atas. Tapi, waktu itu tidak mau menyerah. Harus bisa finis dengan kekuatan sendiri.

Saya tidak finis juga pernah saat latihan. Dan itu tidak apa-apa. Karena kaki sudah kram tidak mungkin dipaksakan lagi.

Saya juga berdoa dan berharap supaya event seperti Bromo 100 Km itu bisa menjadi pelajaran untuk tidak menjadi cyclist yang ’’manja’’. Yang ke mana-mana minta dikawal, membawa mobil pendamping.

Ikut event-event serupa di luar negeri, sepeda-sepedanya tidak seheboh atau semahal di Indonesia. Tapi, pesertanya mandiri-mandiri, bisa mengganti ban sendiri atau menyelesaikan masalah sendiri.

Semoga kelak di Indonesia juga sama. Karena itu cerminan masyarakatnya juga. Yang tangguh-tangguh, tidak manja-manja. Yang tidak mencoba mengakali situasi.

Selamat berlatih. Sampai jumpa di event berikutnya. Dan semoga di event berikutnya itu semua semakin kuat. Semangat !

 

*) Azrul Ananda, CEO dari Jawa Pos Group. Perusahaan media lokal yang menasional. Baru-baru ini juga membeli klub sepakbola Persebaya Surabaya.

Foto diambil dari jawaposcycling.com

Kebiasaan Orang Kaya dan Sukses by Jamil Azzaini

Kebiasaan Orang Kaya dan Sukses

 

Banyak riset dan kajian yang mempelajari kebiasaan orang-orang sukses. Salah satu pengamatan yang populer dilakukan oleh Thomas Corley. Selama lima tahun ia melakukan pengamatan dan hasilnya dituangkan dalam bukunya :

Rich Habits: The Daily Success Habits of Wealthy Individuals

Orang kaya yang dimaksud dalam kajian Corley berpenghasilan di atas $160.000 atau di atas 2 milyar rupiah per tahun. Punya kekayaan di atas $3.2 juta atau 41 milyar. Sementara orang miskin memiliki pendapatan dibawah $35.000 atau 455 juta rupiah per tahun dan punya kekayaan dibawah $5.000 atau 65 juta rupiah.

Apabila diringkas, ada 21 kebiasaan orang kaya yang dilakukan berbeda dengan orang-orang miskin. Namun dalam tulisan ini saya hanya menampilkan beberapa saja. Selebihnya silakan googling dan baca bukunya, ya. Hehehe…

Orang kaya ternyata punya kebiasaan menonton TV kurang dari satu jam sehari. Mereka juga tidak menyukai acara reality show di TV. Hanya 6 % orang kaya menonton reality show, sementara 78 % orang miskin menonton acara ini.

Orang-orang kaya lebih menyukai membaca buku daripada menonton acara TV. 88 % orang kaya membaca buku untuk meningkatkan kualitas diri rata-rata 30 menit setiap hari. Sementara orang miskin yang melakukan hanya 2 % saja.

Kebiasaan sederhana lain yang dilakukan orang kaya adalah mereka selalu menjaga senyum mereka. Senyum membuat mereka bahagia dan menikmati kekayaannya. Sungguh rugi, bila sudah miskin mahal senyum lagi. Tepatlah nasehat yang berbunyi:

“Jangan nunggu bahagia baru tersenyum tetapi tersenyumlah maka kau akan bahagia”.

Orang-orang kaya yang semakin kaya ternyata juga punya kebiasaan menyediakan waktu untuk membangun persahabatan. Mereka tidak hanya sibuk bekerja atau berbisnis, mereka juga senang bersilaturahmi dengan banyak orang. Sementara orang miskin, sibuk tapi “for nothing”. Terlihat sibuk tetapi hasilnya tidak signifikan.

Mereka juga selalu meningkatkan keahlian. Mereka rela mengeluarkan uang untuk meningkatkann keahliannya. Bahkan sahabat saya, rela membayar 1 milyar rupiah untuk berguru bisnis ke Amerika Serikat. Padahal biaya itu belum termasuk transport dan akomodasi untuk pergi-pulang ke negeri Paman Sam itu setiap dua bulan.

Saya pun mengamati, para trainer yang semakin kaya mereka yang juga mau belajar dengan sesama. Tidak merasa sudah serba bisa dan merasa gengsi bila harus belajar dengan sesama trainer.

Saran saya untuk para trainer, segera belajar dengan sesama trainer di acara Trainer Bootcamp & Contest yang diadakan Akademi Trainer. Hubungi segera 0812-1632-0707

Boleh saya bertanya, apakah Anda sudah punya kebiasaan orang kaya?

Salam SuksesMulia !

 

*) Jamil Azzaini dikenal sebagai Inspirator Suksesmulia, Motivator, sekaligus CEO of Kubik Leadership