Pengkhianat

Pengkhianat

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc

Awalnya Hulagu Khan, pimpinan Mongol/Tatar (cucu Jenghis Khan), ragu untuk menyerbu Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, karena takut kena kutukan langit, sebagaimana nasehat orang-orang bijak di sekitarnya.

Tetapi keraguannya hilang setelah menerima surat dari seorang ulama Syi’ah terkenal, Nashruddin ath-Thusi, yang meyakinkannya tidak akan mengalami gangguan apa pun jika ia membunuh khalifah Abbasi.

Sejak itu Hulagu Khan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan rencananya, diantaranya menjalin komunikasi intensif dengan salah seorang menteri utama di pemerintahan Abbasiyah bernama Muayiduddin bin al-Alqami, seorang penganut syi’ah rafidhi (penolak khilafah Abu Bakar dan Umar ra).

Menteri syi’ah ini menjadi orang kedua dalam khilafah Abbasiyah, orang kepercayaan khalifah al-Musta’shim Billah. Hampir seluruh kebijakan khalifah ini ditentukan oleh Menko yang satu ini. The real president.

Dalam komunikasinya, Hulagu Khan meminta Muayiduddin untuk mengurangi anggaran militer, mengurangi jumlah tentara, mengalihkan perhatian negara dari urusan persenjataan dan perang, dan mengaryakan pasukan di pekerjaan-pekerjaan sipil seperti pertanian, industri dan lainnya.

Permintaan Hulagu Khan ini dipenuhi sang menteri. Tentara yang tadinya berjumlah 100.000 pasukan di masa akhir pemerintahan al-Mustanshir Billah, tahun 640 H, dipangkas menjadi 10.000 pasukan pada tahun 654. Ini tentu melemahkan kemampuan militer negara.

Akibat pengurangan anggaran militer, banyak tentara yang hidup miskin bahkan meminta-minta di pasar-pasar. Latihan-latihan militer dihentikan hingga mereka tidak punya kemampuan membuat rencana, manajemen dan kepemimpinan. Akibat lanjutannya kaum muslimin melupakan berbagai ilmu perang dan tidak pernah berfikir tentang nilai-nilai jihad.

Semua perkembangan dan situasi ini diketahui Hulagu Khan melalui Menko ini, hingga Hulagu Khan memutuskan untuk bergerak menuju Bagdad. Karena Bagdad sebelumnya dikenal sangat kuat.

Hulagu Khan mulai pengepungan Bagdad dari arah selatan, Katbugha dari arah utara, dan Pigo dari arah utara, hingga membuat khalifah terkejut dan ketakutan.

Khalifah mengadakan pertemuan mendadak dengan semua penasehat dan menterinya.

Dalam pertemuan ini sang Menko pengkhianat mengusulkan agar khalifah mengadakan ‘perundingan damai’ dengan musuh dengan memberikan sejumlah konsesi kepada mereka.

Sang Menko memberikan gambaran tentang perbedaan sangat jauh antara kekuatan pasukan Hulagu Khan dan kekuatan kaum muslimin, agar tidak muncul ide untuk melakukan perlawanan.

Pendapat sang Menko inilah yang akhirnya menjadi keputusan rapat kabinet. Hanya ada dua menteri yang menginginkan perlawanan, yaitu Mujahiduddin Aibek dan Sulaiman Syah. Tetapi ide ini terlambat. Karena masa persiapan perang sudah lewat, sehingga perlawanan yang kemudian dilakukan oleh kedua menteri ini tidak mampu menghadapi pasukan Tatar.

Khalifah bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan ini menteri pengkhianat bangsa ini datang memanfaatkan kesempatan dengan menyarankan agar duduk bersama Hulagu Khan di meja perundingan.

Hulagu Khan setuju bertemu khalifah tetapi dengan syarat tidak sendirian, ia harus membawa serta semua menteri, pejabat-pejabat negara, para ahli fikih Bagdad, semua ulama Islam dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua harus dihadirkan agar hasil perundingan mengikat semua pihak, kata Hulagu Khan memperdaya.

Khalifah tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti keinginan Hulagu Khan, hingga ia datang dengan rombongan besar berjumlah 700 orang.

Ketika mendekati kemah Hulagu Khan, rombongan ditahan oleh para pengawal Hulagu Khan dan tidak diijinkan masuk. Hanya khalifah bersama 17 pendampingnya yang diperkenankan masuk sedangkan rombongan lainnya diinterogasi dan dibunuh di tempat terpisah.

Seluruh rombongan telah dibunuh kecuali khalifah karena Hulagu Khan ingin memanfaatkannya untuk tujuan lain.

Hulagu Khan memaksa khalifah mengeluarkan perintah kepada seluruh penduduk Bagdad agar melucuti senjata dan tidak melakukan perlawanan apa pun.

Khalifah kemudian dirantai dan diseret ke kota untuk menunjukkan tempat penyimpanan harta keluarga dan para menteri Abbasiyah. Kedua anaknya dibunuh di hadapannya. Khalifah dipaksa memanggil tokoh-tokoh ulama Sunnah yang daftar nama-nama mereka telah diberikan oleh sang menko pengkhianat kepada Hulagu Khan, untuk dibunuh.

Terakhir khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak lehernya agar tidak mengeluarkan darah, karena menurut sebagian pembantu Hulagu Khan jika darah khalifah muslim menetes ke tanah maka kaum muslimin akan menuntut balas atas kematiannya di suatu saat.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang memilukan ini.

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Di dalam kehidupan ini persaingan adalah keniscayaan. Masih ingatkah kita dengan kisah dua anak Adam yang bersaing menjadi yang terbaik? Tragis memang akhir kisah itu. Salah seorang dari mereka akhirnya terbunuh. Tetapi kisah itu membuka mata kita bahwa persaingan sudah ada semenjak kehidupan ini bermula. Dan ujung dari persaingan itu adalah meninggalnya salah seorang dari dua anak Adam.

Charles Darwin sang penemu teori evolusi juga telah mengemukakan bahwa selalu ada persaingan di dalam kehidupan di alam semesta ini. Hal ini karena setiap makhluk ingin mempertahankan kehidupannya. Dan hanya spesies yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkunganlah yang akan bertahan. Yang kalah bersaing dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan akan lenyap dari bumi.

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change”.

(Charles Darwin)

Persaingan akan selalu ada di setiap sektor kehidupan. Dalam dunia bisnis? Apalagi! Pertarungan untuk menjadi yang terbaik dalam bisnis layaknya masakan dengan garam. Tanpa kehadirannya, terasa hambar. Bahkan perusahaan yang tanpa pesaing akan kehilangan gairah, loyo. Dan akhirnya pelan-pelan akan hilang dari peredaran.

Setiap pemilik perusahaan atau tim leader, akan selalu berusaha agar timnya menjadi jawara. Untuk itu berbagai upaya dilakukan. Bisa market share yang bertambah. Ada juga dengan penetrasi pasar, agar seluruhpelosok negeri mengenal produknya. Dan ada juga yang menggunakan cara perbaikan produk. Perusahaan membuat produk yang unik dalam jumlah terbatas. Sedikit tapi tetap dicari. Limited edition. Upaya-upaya itu semua dilakukan agar mereka memenangkan “pertempuran” atau sekurang-kurangnya tetap bertahan.

Siapa yang kalah, produknya tidak laku. Penjualan tak beranjak naik. Atau malah cenderung turun. Tanda-tanda kematian sudah tampak. Jika tidak ada perubahan yang significant, sudah dapat dipastikan perusahaan akhirnya gulung tikar. Mati.

Dampaknya kekalahan sebuah perusahaan pasti cukup dahsyat. Pemutusan hubungan kerja tidak dapat dielakkan. Daftar pengangguran bisa bertambah panjang. Pasti akan timbul masalah baru. Baik masalah dalam ruang lingkup yang kecil, keluarga. Bisa juga dalam skala yang lebih besar. Ekonomi di dalam masyarakat sedikit terguncang. Jumlah belanja akan menurun. Ada penghematan baik dari frekuensi maupun nominal belanja. Suka tidak suka. Stok bisa menumpuk. Produsen juga mengerem produksinya. Jika berlangsung lama, maka banyak idle capacity. Kalau sudah begitu, pengurangan produksi. Pengurangan karyawan. Jadi, kalah dalam bersaing menciptakan pengangguran yang bisa menjadi beban ekonomi baru.

Setiap perusahaan akan selalu melakukan berbagai upaya. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia, motor penggerak utama perusahaan. Apalagi dalam ruang lingkup Manajemen Rantai Pasokan. Supply Chain Management. Proses bisnis yang kompleks, di samping mengurusi dengan internal pelanggan dan pemasok. Di dalamnya juga sangat intens berhubungan dengan pihak eksternal, baik dengan pelanggan dan dengan pemasok/vendor.

Uniknya, pola persaingan mulai bergeser, sesuai zamannya. Tidak lagi yang besar mencaplok yang kecil. Atau yang kuat mengalahkan yang lemah. Salah seorang Raja Media, Robert Murdoch, mengatakan:

“The world is changing very fast. Big will not beat small anymore. It will be the fast beating the slow”.

Benar juga. Dulu memang sering kita lihat perusahaan besar mencaplok perusahaan yang lebih kecil. Baik untuk memperbesar pangsa pasar atau strategi mematikan mereknya. Sebagai contoh kasus, ada perusahaan kecap dengan merek yang dikenal secara lokal (area cakupannya hanya se provinsi), dibeli salah satu raksasa bisnis di bidang consumer goods. Lama-lama merek pun tak nampak di pasar. Ia sengaja dibeli untuk dimatikan mereknya. Merek pembeli sebagai penggantinya. Ada yang namanya tetap, namun strategi bisnis dan lainnya diubah total. Ia tetap berkibar namanya meski pemilik telah berganti.

Akhir-akhir ini perusahaan-perusahaan mapan tak lagi bisa lagi hidup tenang. Pesaing bisa berupa perusahaan yang baru lahir. Contoh kasusnya adalah sebuah perusahaan tranportasi konvensional berhadapan dengan perusahaan tranportasi berbasis teknologi informasi. Perusahaan besar dan mapan itu cenderung lambat merespon perubahan yang terjadi. Tak terelakkan, pengemudinya pun berdemo. Tak jarang terjadi konflik di lapangan. Pemicunya, tak lain tak bukan, karena tidak siap dengan persaingan. Kalah cepat mengaplikasikan teknologi. Kurang sigap melihat kebutuhan dan kecenderungan konsumen. Ini bumbu tak sedap lainnya. Intinya, yang cepat mengalahkan yang lambat.

Contoh lain, perusahaan catering, juga mulai bergeser polanya. Dominasi tidak lagi oleh perusahaan dengan asset besar. Saat ini, ada perusahaan yang tidak memiliki dapur sendiri sudah mulai menggerogoti pangsa catering besar. Perusahaan ini bermodalkan teknologi informasi dan prinsip ekonomi berbagi. Ia menggunakan dapur para jago masak di berbagai rumah tangga. Sang CEO perusahaan itu jeli. Ia tahu banyak ibu-ibu yang jago masak. Sebagian juga senang jika masakannya dijual dan dimintai. Ia memberikan standarisasi masakan. Ia memberi packaging yang menarik. Ia pooling produk itu sesuai pesanan pelanggan. Produk diantar dan siap saji. Punya usaha catering, tak harus punya dapur kan ?

So, pemenang persaingan punya syarat tambahan. Ia harus cepat dalam segala hal. Adaptasi, penguasaan teknologi, cepat menangkap perubahan pelanggan, dan lainnya. Itu semua juga perlu dukungan sumber daya manusia yang handal. SDM yang mendukung kecepatan. Ya, sumber daya manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

 

Tersadar?
Tertantang?

Sahabat, saya ajak menyimak buah pikir lain dan lebih dalam, pada buku yang akan segera terbit.

Mohon doanya.

Wassalaam,

#this.is.ariway

 

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

by Ari Wijaya

Enang Noerman Fachjar, sering dipanggil Aciel. Dia adalah teman sebangku saya saat SMA. Kini ia menjabat sebagai Regional Quality Assurance Director – Asia Pacific di Barry Callebaut, sebuah  perusahaan multi nasional asal Swiss. Perusahaan ini adalah penghasil biji coklat dan bubuk coklat terbesar di dunia.

Sebagai salah seorang executive muda asal Indonesia yang mendunia, Aciel dikenal ahli dalam bidang Quality Management & Food Safety. Menjadi pembicara utama dalam forum internasional sudah menjadi langganannya. Tentu saja hal ini membanggakan sekaligus memberikan inspirasi bagi saya.

Alumnus ITB ini menceritakan pengalamannya saat bergabung dengan perusahaan multi nasional. Beberapa kali pula ia berhasil menduduki posisi kunci. Dari penuturannya dapat disimpulkan bahwa untuk bisa bersaing dan menjadi orang pilihan berkelas dunia diperlukan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Kita harus menjadi yang terbaik di area yang kita geluti. Tanpa kompetensi, akan sangat sulit untuk bersaing.
  2. Komunikasi sangat penting untuk memastikan orang lain bisa memahami pola pikir kita. Secara lisan maupun tulisan.
  3. Kerja sama. Kita harus mau dan mampu bekerja sama dengan sejawat, lintas fungsi, maupun orang di luar organisasi.
  4. Satu suatu initiative/pekerjaan dapat dimulai dan dituntaskan ketika kita punya komitmen.
  5. Perlu semangat dan tindakan yang ajeg agar tugas yang diberikan dapat diselesaiakan dengan tuntas.

Aciel menambahkan, gabungan antara kompetensi, komunikasi dan kerjasama akan menumbuhkan kepercayaan yang sangat dibutuhkan dalam menuntaskan suatu pekerjaan. Plus ditambah kerja keras dan sifat tidak gampang menyerah.

Bagaimana jika bersaing dengan insan unggul lainnya di luar negeri? Ternyata Pak Direktur ini selalu membawa misi pribadi :

“Saya niatkan karsa dan karya saya untuk menjaga dan membawa nama baik agama dan bangsa”.

Masya Allah!

Saya merinding membaca penuturannya.

Dorongan itu yang membuatnya terus mencetak berprestasi. Ia secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa inilah wajah Indonesia.

Suka atau tidak, Islam dan Indonesia sering dikonotasikan miring. Negative for whatever reasons. Oleh karenanya, ia merasa berkewajiban untuk bekerja sebaik mungkin. Itu tak lain untuk menunjukkan bahwa seorang muslim bisa berkerja secara profesional, disiplin, reliable, trusted dan competence.

Selain itu sebagai bangsa Indonesia, Enang Fachjar, bisa menunjukkan bahwa Indonesia di negeri lain bukan dikenal hanya karena tenaga pembantu, sopir, tukang bangunan. Tapi, banyak juga profesional yang berkualitas, berkelas dunia.

Selain itu, ia juga berharap bisa memberikan inspirasi.

Ia mengirim pesan sangat tegas kepada teman-teman di Indonesia. Utamanya anak muda. Kita sejajar dengan mereka, pekerja di luaran sana. Asal kita menempa diri.

Ya, dan itu harus dimulai!

Kisah inspiratif ini dan beberapa lagi lainnya, insya Allah akan hadir dalam buku yang sedang memasuki tahap editing. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Harapannya, bisa terbit dan hadir di hadapan sabahat pada Agustus 2018 nanti.

Mohon doanya.

Semoga karya tak seberapa ini dapat menginspirasi anak muda Indonesia.

 

 

Kewajiban Jauh Lebih Banyak daripada Waktu yang Tersedia

Kewajiban Jauh Lebih Banyak daripada Waktu yang Tersedia

by Ari Wijaya

 

Umar bin ‘Abdul Aziz salah satu nama yang saya coba kemukakan dalam hal pengaturan waktu. Siapa dia? Beliau adalah salah satu khalifah tersohor karena kebijakan dan kesederhanaannya. Banyak riwayat yang menceritakan kebijaksanaan sang khalifah yang masih keturunan Umar bin Khattab ini. Salah satu kisah menuturkan bahwa Sang Khalifah pernah tidak jadi istirahat, karena ditegur oleh anaknya.

“Ayahanda, kenapa istirahat?” tanya Abdul Malik bin Umar

“Iya, ayah lelah sekali, tubuh perlu istirahat, setelah seharian keliling melihat aktivitas dan keadaan umat ini,” jawab Umar dengan mantap.

“Ayah, cepat bangun dan keliling lagi. Lihat urusan umat!” kata anaknya.

“Ayah mau rehat sebentar saja, setelah itu baru keliling lagi,” jawab Umar.

Tanggapan dari sang buah hati ini yang diluar dugaan dan mengejutkan:

“Apakah ayah bisa menjamin ketika ayah bangun masih hidup dan bisa melihat urusan umat Islam?”

Umar terperanjat mendengar pertanyaan anaknya ini. Dia langsung melompat dan memakai gamisnya kembali untuk keliling melihat keadaan umat Islam. Masya Allah!

Bagaimana dengan kita?

Yuk, introspeksi.

Sungguh, pekerjaan dan tugas kita lebih banyak dibanding waktu yang disediakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Mengatur. Pernah mengalami, pekerjaan datang bertubi. Satu belum selesai sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Belum lagi, rasanya belum lama di depan laptop atau alat kerja kita, ternyata sudah siang. Matahari sudah tinggi. Padahal pekerjaan progressnya masih belum banyak. Pernah? Sering ?

Ini adalah satu kenyataan hidup. Kita hidup dalam ruang lingkup waktu yang sangat terbatas. Orang Arab menyatakan:

“Al-Wajibat aktsaru minal awqat” .

Arti bebasnya adalah kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia.

Betul apa benar?

Semua itu butuh manajemen yang baik dan rapi. Kita harus menghargai waktu yang ada. Waktu harus kita belanjakan dengan baik dan benar. Efektif dan efisien. Karena jumlah waktu yang diberikan Allah azza wajalla adalah sama kepada setiap mahlukNYA, 24 jam. Tidak lebih tidak kurang.

“Waduh, mana pekerjaan yang tadi belum selesai, ee sekarang diberi tugas baru lagi”

Cukup sering kita mendengar keluhan seperti itu, saat diminta presentasi atau tugas lain. Saya pun mengalaminya. Anda pernah juga merasakannya? Satu pekerjaan belum tuntas, ada lagi yang lain. Baru saja presentasi tuntas, maksud hati menghela nafas sejenak. Ternyata sudah ada perintah lain. Kadang, kita merasa waktu ini begitu panjang dan banyak. Banyak dari kita yang akhirnya menunda. Sebentar dulu, selonjoran dulu. Santai sejenak. Toh nanti selesai juga. Dan banyak lagi alasan dan pembenaran. Akhirnya, terlena. Tugas berantakan. Skala prioritas tidak jalan.  Pekerjaan yang menumpuk, acapkali kalau pun diselesaikan, lewat jalur SKS. Ya, Sistem Kebut Semalam. Hasilnya? Bisa dipastikan tidak maksimal. Pernah mengalaminya?

“Giving yourself permission to lose, guarantees a loss”

Benar juga kata Pat Riley salah seorang mantan pemain dan pelatih bola basket NBA. Ia mengatakan jika kita secara menerus memberikan kelonggaran pada diri kita, maka kerugian adalah jaminannya. Saya bilang, kesuksesan Pat Riley ini salah satu kuncinya adalah ia tidak menunda. Jika ada kesempatan ia gunakan sebai-baiknya. Ia libas tanpa menunggu kata ‘entar’. Riley adalah atlet serbabisa, bermain bola basket dan American Football.

Catatan :

Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan terbit dalam waktu dekat. Ingin mendapatkan inspirasi lebih dalam ? Mohon doanya ya, semoga buku terbit segera dan hadir di tangan sahabat semua.

Berhenti Makan !

“Lereno mangan sa’durunge wareg ! ”

Pesan sederhana Haji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal HOS Tjokroaminoto , salah satu guru bangsa kita. Guru  yang melahirkan tokoh besar sekaliber Bung Karno. Arti bebas pesan itu dalam Bahasa Indonesia adalah berhenti makan sebelum kenyang.

Maknanya tidak sesimpel yang saya bayangkan. Pun, melaksanakan pesan itu, biyuuh.. ! Masya Allah…

Makan karena memang lapar dan butuh asupan gizi. Gizi buruk bisa terjadi karena kurang makan. Asupan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan. Itu juga bahaya. Jadi kita memang perlu makan, tho ? Tapi kelebihan gizi karena over supply makanan juga tidak baik. Banyak penyakit melekat karena urusan perut ini. Bisa stroke, hipertensi, gagal ginjal, diabetes, jantung, dan lain-lain.

Padahal kita ini diajarkan dan termasuk golongan umat yang makan karena sudah lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang.

Di samping itu, pesan pendiri Sarekat Islam itu sarat akan pengendalian hawa nafsu. Bukan semata urusan perut. Apalagi menyetop lidah yang bergoyang karena rasa. Terlebih saat menyantap makanan kesukaan.  Makanan lezat. Kuliner khas daerah pula. Tapi lebih dari itu. Berhenti makan sebelum kenyang punya maksud pengendalian diri agar tidak serakah atau tamak. Betapa tidak, pesan ini juga mengajarkan agar kita menakar seberapa besar yang akan kita masukkan ke dalam tubuh. Supaya tidak bersisa. Makanan terbuang. Tentunya masih banyak orang lain, saudara kita, yang membutuhkannya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberi nasihat :

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”

Sahabat… mari mencobanya ! Berhenti makan ! Berhentilah sebelum kenyang.

Semoga saya pun bisa menjalankannya dengan istiqomah…..

Silih doa selalu untuk sahabat semua…

Look With Your Feet !

Masa pertama kali berkerja formal, saya langsung ditempatkan di area produksi. Memegang 1 line assembling. Langsung memimpin 3 shift karyawan. Ada 4 foreman dan 10 kepala regu. Mereka leader yang bahu membahu mengelola lini perakitan yang diamanahkan kepada saya.

Saya juga mendapat meja kerja di tengah area produksi. Itu pun bergantian dengan leader yang lain. Ketika itu laporan dengan tulisan tangan masih ampuh. Belum ada handphone. Komputer pun masih langka. Ehm.. ketahuan ya, saya masuk kerja tahun berapa ? He .. he … he…

Ada satu hal yang membuat saya cepat beradaptasi. Pemahaman saya tentang produksi dan seluk beluknya mengalami akselerasi. Percepatan.

Setiap awal shift, salah satu manager atau kadang staf ahli yang berkebangsaan Jepang, turun ke lantai produksi. Ia bukan memberi ceramah. Ia jalan mengelilingi area. Bukan jalan-jalan, lho. Langkahnya kadang cepat. Tak jarang melambat. Kalau sudah begitu, saya dan salah satu leader langsung mengikuti. Tanpa disuruh.

Saat berhenti menemukan sesuatu, entah saat memungut benda. Atau tatapan mata tertuju pada sutau obyek. Ia mengungkapkannya langsung kepada kami. Ada yang baik, dipuji dan diminta untuk dipertahankan.

Acapkali yang terkena adalah ketika terjadi ketidaksesuaian. Kami ditanya kenapa terjadi ? Harusnya bagaimana ? Setelah sedikit diskusi, sang manager memberikan wejangan atau menyimpulkan hasil diskusi kami. Kadang ia membantu memberikan solusi, jika kami buntu. Jika ada yang bisa dilakukan saat itu, maka langsung ditindak. Tuntas. Tak jarang memang ada yang perlu action lebih lama. Terkait ada pembelian alat atau sarana pendukung. Kami menyepakati juga batas waktu penyelesaiannya.

Paling parah adalah jika ada tindakan yang harus dilakukan tapi tak ada progress, belum dilakukan. Melewati tenggat ! Ya sudah, kami terkena semprotan pagi. Mantaplah pokoknya.

Insightnya masih tertangkap hingga kini. Kegiatan itu menjadikan kami bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Saya jadi lebih cepat belajar. Pun jadi lumbung solusi. Ketika ada kejadian serupa, cara yang mirip kadang sedikit modifikasi yang saya pakai.

Orang Jepang menyebutnya Genba. Arti harfiahnya adalah : lokasi kejadian. Namun istilah itu diadopsi menjadi salah satu kegiatan manajemen yang dikaitkan dengan perbaikan berkesinambungan yang terintegrasi. Dikenal istilah Genba Kaizen yang berarti perbaikan kondisi lokasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Taiichi Ohno, Bapak Sistem Manajemen Toyota, pernah mengatakan :

“Don’t look with your eyes, look with your feet”

Ya. itulah cara pandang lain dalam mengelola tim. Menjalankan amanah.

Kegiatan itu sangat positif. Tidak hanya saya yang merasakan. Rekan saya yang ketika itu sama-sama masih bau kencur, mendapat banyak manfaat serupa ?

Mau ?

Yuk, lakukan genba. Jalan, lihat, catat, bertindak, buat laporan. Laporan itu bukan sekedar membuat atasan senang. Tapi niatkan lebih jauh sebagai pembelajaran. Lesson learnt. Semakin banyak orang yang mengambil hikmah, maka tabungan amal kita akan membukit.

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya

(HR. Muslim )

Jika dilewatkan ? Sayang, bukan ?

Ada Pelajaran di Kisahmu

Mencermati perjalanan karir orang-orang terkenal menjadi salah satu kegemaran saya. Apalagi yang masih relatif muda. Mereka sudah mampu menduduki posisi strategis. Young on top. Termasuk kiprahnya saat menjabat. Banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana persiapannya. Semangat belajarnya. Membangun tim. Kecermatan dan kecepatan eksekusinya. Pun sandungan yang mereka alami.

Perhatian saya tertuju pada sosok yang bernama Silmy Karim. Saya mengenal justru saat rekan saya meminta pendapat dan masukan ketika akan mengisi acara televisi. Ia jadi host yang menyertakan Pak Silmy Karim sebagai nara sumber.

Kiprahnya mengembangkan Pindad menjadi daya tarik. Perusahaan pelat merah yang difokuskan memproduksi persenjataan. Salah satu pabriknya di dekat kampung halaman saya. Pabrik khusus produksi peluru (amunisi) di Turen, Malang. Ada satu lagi di Bandung. Produksi Senapan Serbu (SS) dan juga kendaraan taktis (rantis) Panser Anoa menjadi salah satu hasil andalan. Dan mudah dikenal. Apalagi ketika Tim TNI AD menjadi kampiun Kejuaraan Menembak di Australia dengan menggunakan senjata bikinan Pindad itu. Belum lagi Anoa-nya yang acapkali digunakan Pasukan Perdamaian PBB.

Ia punya pendapat bahwa industri pertahanan dan ekonomi suatu bangsa saling bertaut erat. Indonesia punya peluang sebagai pemain besar industri pertahanan dunia. Perlu segera melakukan penguasaan teknologi, modal kerja, model bisnis, manajemen korporasi, serta akses global supply chain. Pun hal yang menentukan yaitu affirmative action atau keberpihakan pemerintah terhadap pertumbuhan industri militer. Ia membuat langkah-langkah strategis yang mungkin dilakukan untuk membuat terobosan. Inovasi seperti itu yang membuat Pindad menjadi lebih bersinar.

Tak lama menikmati suguhan produk-produk inovatif tadi, Pak Silmy diberikan amanah baru. Ia menjadi nahkoda PT. Barata Indonesia (Persero). Perusahaan milik negara yang memproduksi alat berat. Satu yang saya ingat waktu kecil adalah mesin selender (baca : wales, alat pemadat tanah). Barata juga punya instalasi pengecoran logam yang besar. Bangunan konstruksi pabrik karya engineer Barata sudah menyebar seantero Indonesia.

Lagi-lagi ada hal yang menarik yang menjadi program besar CEO muda ini. Menjadikan Barata terdepan untuk industri alat berat

“‎Ada banyak pelabuhan, itu butuh crane untuk bongkar muat. Crane kita masih impor. Belum lagi alat-alat pertanian. Ada banyak ide. Akan saya pelajari kemampuan dan kapasitas internal. Jika memang mumpuni akan saya dorong di situ. Jadi ruang lingkup pekerjaannya : engineering, kemudian crane, mekanisasi pertanian, infrastruktur kelistrikan, dan juga  infrastruktur yang sifatnya mendukung proyek konstruksi. Berkolaborasi dengan perusahaan BUMN lainnya,”  katanya ketika diwawancarai oleh media sesaat setelah pelantikannya.

Saya berharap Barata melaju kencang menjadi salah satu perusahaan yang mendukung kemandirian di bidang alat berat.

Saya dan tentunya rekan sejawat, sangat berterima kasih. Karena di sela kesibukannya, Pak Silmy berkenan hadir berbagi pengalaman dan pengetahuan bersama kami. Insya Allah pada Jumat 20 Oktober 2017 pukul 08.30-11.00 WIB bertempat di Executive Lounge Graha Elnusa.

Sudah tak sabar mendengar langsung kiat beliau mengkilapkan kinerja perusahaan. Pendek memang, tapi semoga lebih dari cukup untuk menginspirasi saya dan sahabat semua.

Kehadiran beliau akan menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Seperti pesan langit yang diberikan Allah SWT Sang Maha Pencipta kepada Rasulullaah SAW dalam surat Yusuf ayat 111.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

 Semoga kami termasuk bagian dari orang berakal itu.

Pilah Pilih

Harus diakui, setiap insan tidak dapat hidup sendirian. Secanggih apa pun dunia ini. Jaman now atau nanti. Kita butuh teman. Ember ! Itulah keniscayaan sebagai mahluk sosial. Sunatullaah.

Sehingga mempunyai banyak teman juga sangat dianjurkan. Tidak  pilih-pilih dalam berkawan juga baik. Tentunya ada risiko di dalamnya. Membawa pengaruh. Bisa Mewarnai ? Atau justru kita terpengaruh alias terwarnai ? Bagaimana kemudian kita bersikap ?

Sesuai nasihat guru saya, saya pun berniat. Saya patri di hati dan juga aksi. Setiap kumpulan manusia yang saya ada dan berada di dalamnya, organisasi resmi maupun sosial, saya harus bisa mewarnai. Membawa manfaat. Hal yang tidak mudah memang. Tapi sangat mungkin dilakukan.

Banyak cara, bagaimana kita bisa mewarnai himpunan yang berisi manusia tadi ? Bukannya kita tidak perlu pilih-pilih ?

Ehm.. sebentar. Pas kita punya program, maka perlu dukungan teman. Bisa sih sendirian. Tapi memakan waktu lelbih lama. Bisa pula kita kehabisan bensin. Alias padam semangat ditengah jalan. so, kita butuh tim yang kuat. Tentunya harus sejalan. Teman seperjuangan. Nha.. kalau yang ini harus memilih. Kalau tidak, belum apa-apa sudah berantem. Tidak satu biduk. Tidak sama visi dan misi. Program malah terbengkalai. Tidak jalan.

Ada idiom dari negeri yang terkanal dengan jam besarnya, Big Ben :

“Bird of a feather flock together”

Orang yang punya kepentingan, gagasan dan juga karakteristik yang sama akan memiliki kecenderungan berhubungan satu sama lain. Menyatu. Sehati.

Tentunya dengan kesamaan itu, mempemudah dalam menjalankan program. Upaya memberi pengaruh. Aksi untuk mewarnai menjadi relatif lebih mudah. Memilih menjadi krusial. Malah keharusan. Guru saya pun memeberi penguatan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi :

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat kepada siapa ia berteman.”

Sahabat, ketika berkawan…..cari sebanyak-banyak. Perluas networking. Jadilah insan gaul. Namun, ketika ada suatu misi khusus, membentuk tim, carilah teman seperjuangan. Pilah dan pilih diantara mereka.

Siap ?

Monggo. Agar upaya memberi manfaat yang lebih banyak menjadi tambah mantap.

Selamat menebar manfaat !

Tribute to Panitia Reuni Universitas Brawijaya 2017 : http://reuniub.com/kepanitiaan/

dan juga Pengurus Ikatan Alumni Universitas Brawijaya :  http://www.ikaub.net/

Siapkah Kita ?

Malam itu suasana diskusi membahas permasalahan lingkungan sempat menghangat. Seru. Utamanya berisi keluh kesah. Beban yang tidak sepadan. Ada yang tidak optimal. Tanggung jawab menumpuk. Jumlah orang terbatas. Banyak yang beberapa peran dipikul sendiri. Belum lagi, sudah mendediakasikan tenaga yang all out, dana pun masih keluar dari kantong. Menarik. Semua yang hadir ingin berkontribusi. Semangat yang patut diacungi jempol.

Saya termenung sejenak, di sela urun rembug itu. Teringat akan nasihat para pinisepuh. Wejangan bagaimana menyikapi ketika kita diberi amanah. Terlebih kegiatan sosial.

“Jam e rusak. Kesak e jero”, itu kata beliau ketika menasihati saya.

Arti dalam Bahasa Indonesia : Jamnya rusak dan kantongnya harus dalam.

Maknanya sangat dalam. Ketika kita berkomitmen aktif sebagai penggiat kegiatan sosial. Apalagi diberi amanah menjadi pemimpinnya, maka banyak konsekuensi logis yang harus kita terima. Tentu saja harus juga dipraktekkan. Walk the talk !

‘Jamnya rusak’ bermakna bahwa siap melayani kapan saja. Setiap saat bersedia diganggu. Bisa jadi mengabaikan waktu istirahat. Waktu bersama orang kita cintai pun, bisa berkurang jauh banget. Lho ? Apakah kita tidak boleh istirahat ? Tentu saja boleh dan harus. Sehebat apa pun kita tetap manusia biasa. Bagaimana mengatasinya ? Salah satu kiat adalah memberikan jam layanan, misal setelah sholat subuh. Asumsinya, banyak orang mulai beraktivitas. Masih ada waktu sebelum masuk kerja. Atau pilihan waktu lain, pertemuan setelah pulang kerja. Lain lagi bila aktivis sosial ini seorang pengusaha. Memang waktu lebih fleksibel. Namun tetap saja perlu ada waktu khusus yang ditetapkan.

‘Kantong dalam’ bermakna rela berkorban. Utamanya dana. Tidak dapat dipungkiri. Kadang ada kondisi kas organisasi cekak. Padahal ada program penting dan harus jalan. Acapkali ia harus merogoh kocek sendiri. PKS alias pakai kantong sendiri. Bisa hanya sebagai trigger. Pemancing donatur lainnya. Atau bahkan ia danai sendiri. Semuanya. Tergantung bagaimana kondisi keuangan dan tujuan kita. So, ketika ada anggapan atau bahkan praktik seorang pemimpin organisasi sosial malah memanfaatkan uang kas untuk kepentingan pribadi, sungguh sangat kontradiktif.

Wow.. berat bukan ? Betul. Jadi bagaimana ? Niat menjadi kunci. Ya, ketika memutuskan bergabung dalam suatu organisasi sosial. Diberi amanah menjadi pimpinan. Kita fokuskan untuk mendapatkan ridlo Illahi robbi. Insya Allah menjadi lebih ringan.

Siapkah kita ? Harus siap. Apalagi bagi sabahat yang memiliki kapabilitas. Punya visi memajukan masyarakat dan negeri ini. Karena sudah hukum alam, bahwa setiap lingkungan/organisasi harus ada leadernya. Silakan ambil peran itu. Kita yang pegang kendali. Menularkan kebaikan dan menggerakkan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik. Karena dengan kesiapan itu, kita menutup kemungkinan masuknya orang yang hanya mendahulukan kepentingan pribadinya.

Dan yang patut diingat adalah :

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.”

(H.R. Bukhari dan Muslim )

Mari singsingkan lengan baju. Bahu membahu. Jadi penggerak utama ! Berkontribusi maksimal untuk keadaan yang lebih baik. Setidaknya, lingkungan terdekat di sekitar kita.

Etos Kerja Juara

Etos Kerja Juara

Persaingan adalah keniscayaan. Dalam dunia bisnis, apalagi, tak dapat dipungkiri. Jika kalah, sudah dapat dipastikan, perusahaan gulung tikar. Mati. Dampaknya juga tidak kalah dahsyat. PHK bukan hal yang tidak mungkin. Bisa menambah daftar pengangguran. Jadi beban baru perekonomian secara nasional.

Bukan rahasia lagi jika perusahaan melakukan berbagai upaya untuk memenangkan persaingan. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia. Ya, manusianya. Karena ia motor penggerak utama perusahaan.

Tentunya, manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi. Kondisi itu akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

Sumber daya seperti itu bukan tidak mungkin dapat dibentuk. Pembentukan melalui 5 sikap dasar dan modal utama :

Saya sebut, I – CoRe – CoRing !

Integrity, ia kuat memegang prinsip moralitas.

COmpetence, punya kemampuan menuntaskan pekerjaaan dengan cepat dan tepat.

REsourceful, insan yang banyak akal.

COllaboration, punya kemauan menambah daya dukung.

ShaRING, seseorang yang dalam kondisi lapang dan sulit, tetap mau berbagi dengan insan yang lain.

Sehingga ia pun punya mental juara. Segala daya upaya ia lakukan untuk memenangi persaingan. Tentunya segala daya upaya yang dilandasi dan sesuai prinsip moralitas.

Sahabat, ingin mendapat sesi berbagi atas materi ini ?
Silakan kontak, Bunda Sisrie : 0811 9090 190