Ada Pelajaran di Kisahmu

Mencermati perjalanan karir orang-orang terkenal menjadi salah satu kegemaran saya. Apalagi yang masih relatif muda. Mereka sudah mampu menduduki posisi strategis. Young on top. Termasuk kiprahnya saat menjabat. Banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana persiapannya. Semangat belajarnya. Membangun tim. Kecermatan dan kecepatan eksekusinya. Pun sandungan yang mereka alami.

Perhatian saya tertuju pada sosok yang bernama Silmy Karim. Saya mengenal justru saat rekan saya meminta pendapat dan masukan ketika akan mengisi acara televisi. Ia jadi host yang menyertakan Pak Silmy Karim sebagai nara sumber.

Kiprahnya mengembangkan Pindad menjadi daya tarik. Perusahaan pelat merah yang difokuskan memproduksi persenjataan. Salah satu pabriknya di dekat kampung halaman saya. Pabrik khusus produksi peluru (amunisi) di Turen, Malang. Ada satu lagi di Bandung. Produksi Senapan Serbu (SS) dan juga kendaraan taktis (rantis) Panser Anoa menjadi salah satu hasil andalan. Dan mudah dikenal. Apalagi ketika Tim TNI AD menjadi kampiun Kejuaraan Menembak di Australia dengan menggunakan senjata bikinan Pindad itu. Belum lagi Anoa-nya yang acapkali digunakan Pasukan Perdamaian PBB.

Ia punya pendapat bahwa industri pertahanan dan ekonomi suatu bangsa saling bertaut erat. Indonesia punya peluang sebagai pemain besar industri pertahanan dunia. Perlu segera melakukan penguasaan teknologi, modal kerja, model bisnis, manajemen korporasi, serta akses global supply chain. Pun hal yang menentukan yaitu affirmative action atau keberpihakan pemerintah terhadap pertumbuhan industri militer. Ia membuat langkah-langkah strategis yang mungkin dilakukan untuk membuat terobosan. Inovasi seperti itu yang membuat Pindad menjadi lebih bersinar.

Tak lama menikmati suguhan produk-produk inovatif tadi, Pak Silmy diberikan amanah baru. Ia menjadi nahkoda PT. Barata Indonesia (Persero). Perusahaan milik negara yang memproduksi alat berat. Satu yang saya ingat waktu kecil adalah mesin selender (baca : wales, alat pemadat tanah). Barata juga punya instalasi pengecoran logam yang besar. Bangunan konstruksi pabrik karya engineer Barata sudah menyebar seantero Indonesia.

Lagi-lagi ada hal yang menarik yang menjadi program besar CEO muda ini. Menjadikan Barata terdepan untuk industri alat berat

“‎Ada banyak pelabuhan, itu butuh crane untuk bongkar muat. Crane kita masih impor. Belum lagi alat-alat pertanian. Ada banyak ide. Akan saya pelajari kemampuan dan kapasitas internal. Jika memang mumpuni akan saya dorong di situ. Jadi ruang lingkup pekerjaannya : engineering, kemudian crane, mekanisasi pertanian, infrastruktur kelistrikan, dan juga  infrastruktur yang sifatnya mendukung proyek konstruksi. Berkolaborasi dengan perusahaan BUMN lainnya,”  katanya ketika diwawancarai oleh media sesaat setelah pelantikannya.

Saya berharap Barata melaju kencang menjadi salah satu perusahaan yang mendukung kemandirian di bidang alat berat.

Saya dan tentunya rekan sejawat, sangat berterima kasih. Karena di sela kesibukannya, Pak Silmy berkenan hadir berbagi pengalaman dan pengetahuan bersama kami. Insya Allah pada Jumat 20 Oktober 2017 pukul 08.30-11.00 WIB bertempat di Executive Lounge Graha Elnusa.

Sudah tak sabar mendengar langsung kiat beliau mengkilapkan kinerja perusahaan. Pendek memang, tapi semoga lebih dari cukup untuk menginspirasi saya dan sahabat semua.

Kehadiran beliau akan menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Seperti pesan langit yang diberikan Allah SWT Sang Maha Pencipta kepada Rasulullaah SAW dalam surat Yusuf ayat 111.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

 Semoga kami termasuk bagian dari orang berakal itu.

Pilah Pilih

Harus diakui, setiap insan tidak dapat hidup sendirian. Secanggih apa pun dunia ini. Jaman now atau nanti. Kita butuh teman. Ember ! Itulah keniscayaan sebagai mahluk sosial. Sunatullaah.

Sehingga mempunyai banyak teman juga sangat dianjurkan. Tidak  pilih-pilih dalam berkawan juga baik. Tentunya ada risiko di dalamnya. Membawa pengaruh. Bisa Mewarnai ? Atau justru kita terpengaruh alias terwarnai ? Bagaimana kemudian kita bersikap ?

Sesuai nasihat guru saya, saya pun berniat. Saya patri di hati dan juga aksi. Setiap kumpulan manusia yang saya ada dan berada di dalamnya, organisasi resmi maupun sosial, saya harus bisa mewarnai. Membawa manfaat. Hal yang tidak mudah memang. Tapi sangat mungkin dilakukan.

Banyak cara, bagaimana kita bisa mewarnai himpunan yang berisi manusia tadi ? Bukannya kita tidak perlu pilih-pilih ?

Ehm.. sebentar. Pas kita punya program, maka perlu dukungan teman. Bisa sih sendirian. Tapi memakan waktu lelbih lama. Bisa pula kita kehabisan bensin. Alias padam semangat ditengah jalan. so, kita butuh tim yang kuat. Tentunya harus sejalan. Teman seperjuangan. Nha.. kalau yang ini harus memilih. Kalau tidak, belum apa-apa sudah berantem. Tidak satu biduk. Tidak sama visi dan misi. Program malah terbengkalai. Tidak jalan.

Ada idiom dari negeri yang terkanal dengan jam besarnya, Big Ben :

“Bird of a feather flock together”

Orang yang punya kepentingan, gagasan dan juga karakteristik yang sama akan memiliki kecenderungan berhubungan satu sama lain. Menyatu. Sehati.

Tentunya dengan kesamaan itu, mempemudah dalam menjalankan program. Upaya memberi pengaruh. Aksi untuk mewarnai menjadi relatif lebih mudah. Memilih menjadi krusial. Malah keharusan. Guru saya pun memeberi penguatan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi :

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat kepada siapa ia berteman.”

Sahabat, ketika berkawan…..cari sebanyak-banyak. Perluas networking. Jadilah insan gaul. Namun, ketika ada suatu misi khusus, membentuk tim, carilah teman seperjuangan. Pilah dan pilih diantara mereka.

Siap ?

Monggo. Agar upaya memberi manfaat yang lebih banyak menjadi tambah mantap.

Selamat menebar manfaat !

Tribute to Panitia Reuni Universitas Brawijaya 2017 : http://reuniub.com/kepanitiaan/

dan juga Pengurus Ikatan Alumni Universitas Brawijaya :  http://www.ikaub.net/

Siapkah Kita ?

Malam itu suasana diskusi membahas permasalahan lingkungan sempat menghangat. Seru. Utamanya berisi keluh kesah. Beban yang tidak sepadan. Ada yang tidak optimal. Tanggung jawab menumpuk. Jumlah orang terbatas. Banyak yang beberapa peran dipikul sendiri. Belum lagi, sudah mendediakasikan tenaga yang all out, dana pun masih keluar dari kantong. Menarik. Semua yang hadir ingin berkontribusi. Semangat yang patut diacungi jempol.

Saya termenung sejenak, di sela urun rembug itu. Teringat akan nasihat para pinisepuh. Wejangan bagaimana menyikapi ketika kita diberi amanah. Terlebih kegiatan sosial.

“Jam e rusak. Kesak e jero”, itu kata beliau ketika menasihati saya.

Arti dalam Bahasa Indonesia : Jamnya rusak dan kantongnya harus dalam.

Maknanya sangat dalam. Ketika kita berkomitmen aktif sebagai penggiat kegiatan sosial. Apalagi diberi amanah menjadi pemimpinnya, maka banyak konsekuensi logis yang harus kita terima. Tentu saja harus juga dipraktekkan. Walk the talk !

‘Jamnya rusak’ bermakna bahwa siap melayani kapan saja. Setiap saat bersedia diganggu. Bisa jadi mengabaikan waktu istirahat. Waktu bersama orang kita cintai pun, bisa berkurang jauh banget. Lho ? Apakah kita tidak boleh istirahat ? Tentu saja boleh dan harus. Sehebat apa pun kita tetap manusia biasa. Bagaimana mengatasinya ? Salah satu kiat adalah memberikan jam layanan, misal setelah sholat subuh. Asumsinya, banyak orang mulai beraktivitas. Masih ada waktu sebelum masuk kerja. Atau pilihan waktu lain, pertemuan setelah pulang kerja. Lain lagi bila aktivis sosial ini seorang pengusaha. Memang waktu lebih fleksibel. Namun tetap saja perlu ada waktu khusus yang ditetapkan.

‘Kantong dalam’ bermakna rela berkorban. Utamanya dana. Tidak dapat dipungkiri. Kadang ada kondisi kas organisasi cekak. Padahal ada program penting dan harus jalan. Acapkali ia harus merogoh kocek sendiri. PKS alias pakai kantong sendiri. Bisa hanya sebagai trigger. Pemancing donatur lainnya. Atau bahkan ia danai sendiri. Semuanya. Tergantung bagaimana kondisi keuangan dan tujuan kita. So, ketika ada anggapan atau bahkan praktik seorang pemimpin organisasi sosial malah memanfaatkan uang kas untuk kepentingan pribadi, sungguh sangat kontradiktif.

Wow.. berat bukan ? Betul. Jadi bagaimana ? Niat menjadi kunci. Ya, ketika memutuskan bergabung dalam suatu organisasi sosial. Diberi amanah menjadi pimpinan. Kita fokuskan untuk mendapatkan ridlo Illahi robbi. Insya Allah menjadi lebih ringan.

Siapkah kita ? Harus siap. Apalagi bagi sabahat yang memiliki kapabilitas. Punya visi memajukan masyarakat dan negeri ini. Karena sudah hukum alam, bahwa setiap lingkungan/organisasi harus ada leadernya. Silakan ambil peran itu. Kita yang pegang kendali. Menularkan kebaikan dan menggerakkan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik. Karena dengan kesiapan itu, kita menutup kemungkinan masuknya orang yang hanya mendahulukan kepentingan pribadinya.

Dan yang patut diingat adalah :

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.”

(H.R. Bukhari dan Muslim )

Mari singsingkan lengan baju. Bahu membahu. Jadi penggerak utama ! Berkontribusi maksimal untuk keadaan yang lebih baik. Setidaknya, lingkungan terdekat di sekitar kita.

Etos Kerja Juara

Etos Kerja Juara

Persaingan adalah keniscayaan. Dalam dunia bisnis, apalagi, tak dapat dipungkiri. Jika kalah, sudah dapat dipastikan, perusahaan gulung tikar. Mati. Dampaknya juga tidak kalah dahsyat. PHK bukan hal yang tidak mungkin. Bisa menambah daftar pengangguran. Jadi beban baru perekonomian secara nasional.

Bukan rahasia lagi jika perusahaan melakukan berbagai upaya untuk memenangkan persaingan. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia. Ya, manusianya. Karena ia motor penggerak utama perusahaan.

Tentunya, manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi. Kondisi itu akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

Sumber daya seperti itu bukan tidak mungkin dapat dibentuk. Pembentukan melalui 5 sikap dasar dan modal utama :

Saya sebut, I – CoRe – CoRing !

Integrity, ia kuat memegang prinsip moralitas.

COmpetence, punya kemampuan menuntaskan pekerjaaan dengan cepat dan tepat.

REsourceful, insan yang banyak akal.

COllaboration, punya kemauan menambah daya dukung.

ShaRING, seseorang yang dalam kondisi lapang dan sulit, tetap mau berbagi dengan insan yang lain.

Sehingga ia pun punya mental juara. Segala daya upaya ia lakukan untuk memenangi persaingan. Tentunya segala daya upaya yang dilandasi dan sesuai prinsip moralitas.

Sahabat, ingin mendapat sesi berbagi atas materi ini ?
Silakan kontak, Bunda Sisrie : 0811 9090 190