Loyalitas, Apa atau Siapa?

Ketika seseorang memilih menjadi karyawan atau pekerja, maka harus menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah tidak dapat memilih atasan atau pemimpinnya. Sedangkan yang sudah menjadi keharusan adalah ia harus membantu atasannya. Siapa pun dia yang ditetapkan menjadi atasan. Banyak nasihat dan pengalaman hidup menyatakan:

“Ada dua aturan saat jadi karyawan. Aturan pertama, buat atasanmu terlihat hebat dimata orang banyak. Sedangkan aturan kedua, pegang teguh aturan pertama”.

Dalam konteks perusahaan, bagaimana membantu atasan agar terlihat hebat di muka umum? Membantu atasan dengan memenuhi apa yang diharapkannya, itu sudah memadai. Apa saja itu? Ada beberapa hal yang penting. Menuntaskan pekerjaan dengan tepat (kualitas dan waktu). Tidak ada tugas yang terbengkalai. Assignment mangkrak atau tidak dikerjakan, tidak ada dalam kamus karyawan. Selanjutnya, sebagai karyawan yang memberi solusi. Jadi pekerja yang solutif. Hadir dan memberi masukan dan menyodorkan solusi atas masalah yang ada. Karyawan juga harus punya komitmen. Apa yang telah disepakati dikerjakan. Ada satu hal yang penting, loyal atau punya loyalitas. Sebagai pekerja bersedia berkorban energi, waktu, dan pikiran di luar jam kerja. Patuh dan setia.

Nha ini, loyalitas itu apa? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) :

loyalitas/lo·ya·li·tas/ n kepatuhan; kesetiaan

Loyalitas kepada atasan itu apa artinya mengerjakan semua perintah atasan? Sebentar. Tentu perintah tersebut perlu dipilah terlebih dulu. Sebagai anggota tim harus menjalankan perintah yang sesuai peraturan baik hukum atau perusahaan, norma, etika dan tentu saja agama yang diyakini. Kok agama dibawa-bawa? Ehm . .tentu saja, karena kita yakin adanya kehidupan yang abadi setelah kehidupan di dunia ini. Ada Zat yang Maha Pengatur dan Maha Kuasa yang memberikan guidance kepada hambaNYA agar selamat di dunia dan akhirat.

Susahnya kalau pimpinan memberi perintah yang tidak sesuai peraturan atau norma. Bagaimana sikap kita. Sebagai anggota tim, bisa menolak. Tentunya dengan cara yang baik. Sebaiknya disampaikan empat mata. Kita memberikan masukan atau penolakan berdasarkan knowledge based dan juga hal lain yang terkait. Kalau sudah demikian dan tetap saja kita dipaksa menjalankannya. Waduh. Ini yang berat, pasti ada konsekuensinya. Risiko yang dihadapi pekerja bisa dipinggirkan, dimutasi, atau diberhentikan. Bisa dipecat. Khawatir atau risau itu pasti. Lha, gimana nggak risau? Dipecat artinya bisa menganggur.  Penghasilan bisa mandeg. Roda ekonomi bisa berantakan. Tidak salah punya pikiran begitu. Ini yang sering ditakuti. Namun, rasa takut itu jangan sampai melebihi logika dan keyakinan kita. Justru ini yang jauh lebih berbahaya.

Semua rezeki itu dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih. Rezeki kita sudah dijamin. Coba kita perhatikan, seekor cicak. Ia binatang yang diciptakan merayap. Sedangkan makanan utamanya, serangga seperti nyamuk. Nyamuk hidupnya di udara alias terbang. Menarik bukan, cicak yang merayap di tembok, makananya terbang alias di udara. Berapa cicak mati karena kurang makan? Pernah melihat cicak mati kelaparan? Kayaknya jarang, bukan? Kebanyakan cicak mati karena diplinteng alias diketapel orang. Cicak diburu orang untuk dikeringkan dan dijadikan bahan obat. Itulah kuasa Allah SWT. Rezeki mahluk ciptaan Tuhan itu sudah ditetapkan. Tak ubahnya kita, manusia. Jadi tak perlu khawatir. Kalaulh misalnya, dipecat (naudzubillahi mindzalik), yakinlah ada tempat lain yang baik. Itu ada syarat dan kondisi. Selama kita bergerak, berkarya, rezeki itu ada. Mohon izin saya membagi nasihat orang tua di sini:

“Ora obah, ora mamah. Tidak bergerak (alias bekerja/berkarya), tidak bisa memperoleh penghasilan/tidak makan.”

So, kita harus yakin atas ketetapan rezeki. Atasan kita adalah salah satu perantara rezeki. Keyakinan atas iman kita yang harus melekat dan meninggi dihati dam implementasi. Sehingga loyalitas itu dipahami sebagai kesetiaan kepada profesi dan pekerjaan. Loyal kepada atasan sesuai peraturan dan norma. Karena profesi itu bisa bersifat konstan. Atasan bisa silih berganti sesuai masanya. Kepatuhan atau kesetiaan seperti ini yang seharusnya dijaga, melekat dalam diri kita.

Memang benar kata orang bijak:

“Without loyalty, you won’t accomplish anything.”

Tapi, mari kita memosisikan loyalitas pada tempat yang tepat, agar selamat di dunia dan di akhirat.

Mau?

Sejarah dan Kita

Rekan-rekan Leaders dan juga Young Guns..
.
Ada keniscayaan sangat berharga dalam sejarah yang patut menjadi pelajaran kita semua. Bahwa kemenangan, kegemilangan tidak dapat diperoleh atau terjadi dengan instan. Selalu ada peristiwa penting yang menjadi pemantik dan pembuka bagi peristiwa penting berikutnya.
..
Perjuangan para founding fathers negeri ini juga memberikan banyak contoh. Mereka berjuang silih berganti untuk melawan kolonialisme di masing2 daerah. Berhasil dipadamkan, dengan durasi perang yang berbeda. Semua berubah, ketika ada peristiwa 28 Oktober 1928. Ada sumpah persatuan. Cara berjuang pun berubah. 17 tahun kemudian Indonesia merdeka.
.
Kalau menilik jauh lebih ke belakang, Perjanjian Hudaibiyah Tahun 628 atau 6 tahun setelah Nabi Muhammad berpindah dari Mekkah ke Madinah. Sebuah perjanjian yang memberikan gencatan senjata dan kebebasan saling mengunjungi 2 kota penting itu. Seperti jeda setelah beberapa tahun terjadi perang yang dahsyat dan membawa banyak korban jiwa. Tak berselang lama, 2 tahun setelah perjanjian itu, Mekkah dapat dikuasai dengan damai. Mereka bersatu.
.
Pemboman Hirosima Nagasaki yang memilukan itu, mengakhiri Perang Dunia yang menelan korban puluhan juta manusia. Perang yang melibatkan banyak negara. Enam tahun konflik yang sangat luas dan mematikan.
.
Jika saya bawa ke konteks perusahaan yang kita cintai ini, beberapa milestone juga menandakan hal yang serupa.
.
Kita dulu didirikan oleh founding fathers adalah sebuah perusahaan penguliran. Namanya Purna Bina Nusa. Setelah 28 tahun ada perubahan, ditambahnya bisnis Fabrikasi Konstruksi. Kita pernah 1 tahun lebih ‘puasa’ karena API sebagai tool kita dicabut. Setelah itu kita mau dan mampu bangkit. Ini yang penting, mau. Alias berkeinginan kuat dan bahu membahu untuk berubah lebih baik. Kita juga diberi kepercayaan mengelola bisnis maintenance. Kita diberikan lagi ruang belajar dan alat mendapatkan keuntungan.
.
Kali ini cobaan pun datang. Ada lini bisnis yang menggerus kerja bareng kita semua. Dalam. Ya, lubang yang menganga ini membuat kita tertatih untuk naik kembali. Satu dua orang berulah, kita semua harus menanggung risiko dan bebannya. Inilah rasa satu keluarga.
.
Tak boleh menerus diratapi. Harus kita perbaiki dan bangkit lagi. Harus dimulai menyusun rencana dan aksi. Kemenangan harus kita raih kembali. Kemenangan itu kalau diperusahaan adalah revenue naik dan punya untung yang besar.
.
Keniscayaannya, tidak ada kemenangan diraih dengan instan. Tidak ada.
.
Peristiwa penting masa ini, kita jadikan titik tolak kebangkitan. Itu semua dimulai dengan ‘mau’ atau tidak. Ini bukan mau yang artinya akan, tapi mau bermakna bersedia. Karena kalau kemampuan, yakinlah kita semua punya itu. Butuh waktu pastinya. Bisa tuntas cepat? Bisa banget.
.
Bagaimana? Kita mulai lagi memantapkan amanah alias integrity. Adaptasi dengan cepat. Berubah sikap. Mengubah metoda kerja. Manambah kompetensi. Memompa semangat.
.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Maha benar Allah dengan segala firmanNYA.
.
Yuk kita saling menyemangati. Memberikan ide dan krasa. Dan tentunya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja kolaboratif.
.
Mau?
.
.
Catatan:
Pesan ini disampaikan kepada seluruh leader dan juga anggota tim masing-masing leader. Mencermati upaya perbaikan yang sedang dilakukan. Menambah semangat untuk terus menelurkan karsa, karaya dan doa.

Muslim, Motor Penggerak Perubahan

Puja dan puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah azza wajalla Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Salah satu kesyukuran terbesar adalah masih diberi kesempatan merasakan kenikmatan dan keberkahan Bulan Ramadhan. Banyak orang tua, saudara, sahabat, dan orang yang kita cintai yang telah wafat mendahului kita sehingga tak mendapatkan kesempatan ini. Mari kita sisipkan doa untuk mereka.

Bapak/Ibu rekan2, sahabat semua yang dirahmati Allah. . .

Bulan ini sungguh merupakan bulan yang penuh makna.

Perubahan malam dan siang. Pergantian bulan. Dan masih banyak peristiwa tanda alam yang dihadirkan agar kita berpikir. Mengolah rasa, batin dan akal. Kita diberikan tuntunan sesuai surat Al Imron ayat 190:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (KEBESARAN ALLAH) bagi orang yang berakal”

Bulan ini kita juga melakukan banyak hal. Ibarat mesin kita melakukan overhaul. Persiapan pun dilakukan dengan cermat. Bahkan ada yang menyiapkan diri 1 bulan sebelumnya. Banyak manfaatnya. Sebuah riset yang dilakukan oleh Dokter Eric Berg DC, spesialis healthy ketosis and intermittent fasting, menyatakan bahwa puasa dapat menekan jumlah penderita kanker. Apalagi puasa penuh selama 1 bulan. Puasa yang dijalankan umat Islam adalah intermitten fasting seperti yang dikenal di dunia. Ada interval dari Subuh hingga Maghrib. Ada yang 12 jam bahkan ada yang 17 jam.

Penelitian tersebut memberikan manfaat puasa dari sisi kesehatan. Puasa menumbuhkan sel imun baru. Puasa membuat sel kanker kelaparan. Puasa meningkatkan jaringan antioksidan. Menurut penelitian beliau di Arab Saudi, dari 100.000 hanya 96 orang yang mengidap kanker. Oman dengan 104 dari 100.000 orang, Qatar 107 dari 100.000 orang, UEA 107 dari 100.000 orang, dan Kuwait 116 dari 100.000 orang. Kemudian dibandingkan dengan beberapa negara seperti Australia dengan 486 dari 100.000 orang. Irlandia yaitu dari 100.000 sekitar 347 orang mengidap kanker. Hungaria dengan 368 dari 100.000. Amerika Serikat 352 dari 100.000 orang.

Dahsyat, bukan?

Bapak/Ibu, rekan-rekan, sahabat semua  . . .

Izinkan saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bulan Ramadhan menjadikan kita melakukan re-set-up hidup. Kita dipaksa. Karena ini kewajiban. Kita mau karena ketaatan kita kepada Sang Khaliq. Tapi Allah SWT selalu memberikan hikmah besar di balik setiap peristiwa.

  1. Saat kita Sahur dan berbuka. Kita pasti menjaga dengan baik. Tertib waktu. Tak ada yang berani setelah adzan subuh tetap makan atau minum. Sebelum adzan maghrib, meski kurang beberapa detik saja, kita tunggu. Kita sangat disiplin. Amanah atas apa yang ditetapkan.
  2. Kegiatan membaca dan mengaji kandungan Al Quran atau kajian kelimuan yang lain, kita lakukan. Kita meningkatkan kualitas diri kita. Ada yang mulai belajar baca dan menghafal Al Qur’an. Kompetensi kita menjadi bertambah. Tak peduli kita dicap atau dibilang mendadak alim. Karena memang ini kesempatan langka.
  3. Dulu ada yang suka ngerumpi nggak karuan. Diskusi yang mengalir tanpa makna. Kini kita menjaganya. Lisan kita jaga. Perasaan orang lain kita jaga. Secara tidak langsung interaksi menjadi lebi harmonis.
  4. Kita juga patuh dan taat pada saat berpuasa. Makanan yang enak dan lezat menggiurkan pun tidak kita sentuh. Padahal itu makanan halal. Kita juga saling menjaga puasa kita dan rekan kita. Kita loyal.
  5. Saat Ramadhan ada yang menjadikan titik tolak utuk melakukan perubahan. Perokok berhenti megisap sigaretnya sewaktu-waktu. Bahkan tak jarang setelah Lebaran berhenti total. Banyak penyesuaian yang dilakukan. Kita sangat adaptif. Saya mendoakan bagi para perokok agar bisa berhenti.
  6. Pada malam hari, kita juga didorong melakukan sholat berjamaah, tarawih. Plus kegiatan lainnya seperti pengumpulan Zakat dan Infaq. Tak jarang ada kepanitiaan khusus untuk mengelolanya. Kita bahu membahu dengan warga lain. Biasanya jarang ketemu, sekarang menjadi lebih sering ketemu. Kegiatan yang sangat kolaboratif.

Secara tidak langsung kita semua para pejuang yang melaksanakan Puasa Ramadhan adalah pelaksana Tata Nilai AKHLAK. Tidak dirasa, bukan?

Sekarang saya ajak bermimpi. Mari kita renungkan. Berapa persen penduduk Indonesia yang muslim? Berapa banyak umat muslim yang melakukan kegiatan itu? Kita boleh menjawab secara kualitatif: SEBAGIAN BESAR. Ya, sebagian besar umat Islam menjalankan kewajiban ini.

Fenomena ini, pengalaman 1 bulan ini, adalah bukti bahwa kita bisa. Coba dibayangkan ketika apa yang kita lakukan merasuk dan memberi contoh kepada yang lain. Implementasinya tidak berhenti pada diri sendiri, tidak berhenti saat di masjid. Saya membayangkan perubahan besar di negeri ini bukan masalah rumit. Kita bisa. Bahkan menjadi motor penggerak perubahan itu.

Bagaimana tidak? Jika ketaatan kita tidak mencuri-curi waktu berbuka, sudah mendarah daging. Kita tidak mau melakukan itu karena bisa membatalkan puasa. Lebih jauh lagi, bahwa perbuatan itu mencerminkan ketidaktaatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, kita tentunya akan takut mencuri barang atau mengambil hak orang lain. Kita takut mengingkari amanah.

Jika semangat menaikkan kompetensi juga diterapkan pada bisa ilmu atau pekerjaan yang digeluti, maka bukan tidak mungkin muncul generasi-generasi yang pilih tanding. Mumpuni dalam bidangnya. Selalu menjadi nara sumber dimana-mana. Pemikir dan generasi solutif terhadap permasalahan masyarakat.

Semangat bekerja sama dengan orang lain dan saling menghargai perbedaan, dihidupkan juga pada kegiatan lain. Tidak berhenti saat bulan Ramadhan usai. Tidak hilang ditelan waktu, saat pembubaran panitia dilakukan, maka bukan mustahil, banyak masalah dapat dituntaskan dengan damai dan membahagiakan.

So . . . Bapak/Ibu, sahabat saya yang saya banggakan . .

Mari kita resapi dan maknai Ramadhan ini sebagai kawah candradimukai. Tempat pelatihan yang komprehensif. Sehingga setelah Lebaran, momen dan rasa itu tetap membara dan mendarah daging. Kita lanjutkan dengan implementasi lain yang nyata. Kita teruskan hingga kita ketemu Ramadhan lagi. Kita perbaiki lagi saat Ramadhan tiba. Begitu seterusnya. Continuous Improvement. Dan itu semua, motornya adalah kita yang melaksanaan SHAUM Ramadhan. Insya Allah akan banyak perubahan positif yang terjadi. Saya sangat yakin itu. Karena perubahan itu ada di tangan kita.

Mari kita ingat janji Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri“

Mari kita jemput janji Allah tersebut. Kita wujudkan bersama.

Semoga berkenan. Mohon maaf atas segala kekhilafan.

Wassalaam.

.

__Disampaikan pada TAKJIL (sesi berbagi Masjid Baitul Hikmah Elnusa) pada Selasa, 5 April 2022 | 3 Ramadhan 1443H.

Memilah dan Memilih Amanah

Ketika tugas itu datang, hampir dipastikan kita tak bisa menolaknya. Kita tak bisa memilih mana tugas yang enak, mana yang tidak. Semua ada tantangannya masing-masing. Kita tak pernah tahu. Sudah garis tangan. Tapi itu bukan berarti pasrah bongkokan. Amanah harus dijalankan. Itu ketetapan yang terbaik untuk kita yang diberikan kepercayaan itu.

Apa itu amanah? Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia:

amanah /ama·nah/ 1 n sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain:

Nha ini, dipercaya. Sehingga sudah ditakar sebenarnya, oleh siapa? Bisa oleh atasan orang lain yang memebri tugas. Tapi yang jelas semua itu hanya perantara. Karena pasti sudah menjadi qadar dari Tuhan Sang Maha Pencipta. Terlebih Gusti Allah sudah memberikan jaminannya. Apa itu? Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

So? Dijalani saja amanah yang hadir. Tentunya menggunakan ilmu pengetahuan, pengalaman dan mentoring. Semua resources dikerahkan. Kita bisa pilah mana yang harus dikerjakan dulu dengan cepat dan tepat. Bisa pakai Prinsip Pareto. Kita pilah sesuai skala prioritas.

Sesuai nasihat guru dan beberapa kajian, keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin suatu organsiasi atau lembaga dapat dilihat dari aspek-aspek: produktivitas dan kinerjanya, kejelian dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Tentunya juga memiliki kemampuan memimpin dan kemampuan intelektual. Mampu melakukan trasnformasi (perubahan) dalam organisasi dan juga pemikiran individu dan pihak-pihak yang ada dalam organisasi.

Perusahaan idem dito. Hanya saja sebagian besar tolok ukur itu dikonversikan dalam uang. Apa saja itu? Misalnya, revenue alias penghasilan. Cost of Revenue atau biaya pokok produksi. Net Profit atau yang sering disebut keuntungan. Semua itu dikelola dengan baik, ujungnya adalah keuntungan bagi pemegang saham.

Nggak gampang memang. Benar banget. Menjalankan amanah memimpin perusahaan pasti banyak rintangan. Karena kalau banyak rantangan, itu namanya kenduri alias pesta.

Bismillaahilladzi la yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wala fissamai wahuwassami’ul ‘alim

Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Mohon doa dan dukungannya.

Mari Berbenah

Data awal tahun yang membuat sedih dan berduka. BNPB otoritas yang diberikan amanah melakukan penanggulangan bencana memberikan informasi awal tahun. Informasi bencana selama 16 hari awal Tahun 2021, menyatakan ada 136 kejadian. Saya coba highlight 2 kejadian pareto : 95 kejadian banjir dan 25 tanah longsor. Kejadian 120 dari 136, 88%.

.

Semoga saudara-saudara kita yang terdampak mendapat bantuan dan dimudahkan urusannya oleh Allah SWT. Alhamdulillaah banyak pihak yang membantu dampak secara langsung, rekonstruksi dan lain-lain.  Salah satu bukti bahwa masyarakat kita memang peduli dan sifat kegotongroyongannya masih menonjol. Untuk jangka pendek memang harus dibantu dulu warga yang terdampak. Semoga menjadi amal kebaikan kita semua.

.

Bagaimana setelah itu? Cukuplah data itu sebagai pertanda Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa ada yang tidak seimbang. Ada kelakuan kita sebagai manusia yang patut ditinjau ulang. Menurut hemat saya, perlu juga dipikirkan aksi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir dan tanah longsor. Kita kaji kembali apa akar masalahnya. Saya punya simpulan dini, jumlah pohon tidak sebanding dengan beban yang harus diterimanya. Bisa jadi, karena ditebang. Lahannya dikonversi dengan tidak bijak. Kalau perlu pemerintah menetapkan luasan hutan lindung, beberapa hutan yang telah menjadi hutan produksi atau kawasan lainnay bisa diambil alih. Bila perlu melakukan pembebasan lahan kembali untuk dijadikan hutan lindung. Sesuai Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan:

“Hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah”.

Hutan lindung boleh dimanfaatkan? Boleh tapi tujuan dari pemanfaatan hutan lindung adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Pemanfaatannya juga diatur pada peraturan perundangan yang sama. Pemanfaatan yang dilakukan dengan tidak mengurangi fungsi utama kawasan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Dan yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran agar fungsi hutan tetap terjaga dan lestari. Harus beriringan sejalan seperti sepasang sepatu.

.

Tidak ada kata terlambat. Lebih baik mulai disusun kembali langkah-langkahnya nyata. Beberapa kepala daerah telah memulai dan melaksanakan reboisasi dengan berbagi cara. Tapi, masih perlu terobosan dana bersicepat agar hasilnya lebih nendang. Jelas, banyak yang terdampak membuat pilu kita semua. Kita tentu tidak ingin melihat kembali terjadi. Atau bahkan merasakan sendiri bencana itu. Semoga tidak.

.

Menurut pendapat sahabat, aksi apa lagi yang secara jangka panjang dapat mengurangi risiko banjir dan tanah longsor? Silakan ditulis pada komentar. Semoga bisa menggerakan hati kita semua dan pihak-pihak yang punya kewenangan. Mari berbenah bersama. Terima kasih.
.
Sumber infografis : @BNPB_Indonesia

Peran Penting Perempuan

Suatu malam,  Aslam sedang menemani Khalifah Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika beliau merasa lelah, beliau bersandar ke dinding di tengah malam.

Saat menikmati istirahatnya, beliau mendengar seorang wanita berkata kepada putrinya:

“Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.”

Putrinya menjawab:

“Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin hari ini? Beliau memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.”

Ibunya berkata:

“Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.”

Gadis itu menjawab:

“Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak demikian juga menyelesihinya walaupun di belakang mereka.”

Sementara Umar bin Khattab mendengar semua perbincangan tersebut, saat beliau istirahat.

Umar berkata :
“Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini.”

Lalu Umar bergegas melanjutkan patrolinya.

Di pagi hari Umar berkata:

“Aslam, pergilah ke tempat itu, cari tahu siapa wanita yang berkata demikian dan kepada siapa dia mengatakan hal itu. Apakah keduanya mempunyai suami?”

Aslam pun berbegas menunaikan perintah Khalifah Umar. Hasil penyelidikannya adalah bahwa ia adalah seorang gadis yang belum bersuami dan lawan bicaranya adalah ibunya yang juga tidak bersuami. Aslam pun pulang dan mengabarkan kepada Umar. Tak lama berselang itu, Umar langsung memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka.

Umar berkata :

“Adakah di antara kalian yang ingin menikah?”

Ashim menjawab:

“Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku”

Mendengar jawaban anaknya, Khalifah Umar segera meminang gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan ini lahir seorang putri bernama LAILA (Ummu Ashim) yang di kemudian hari menjadi IBU yang melahirkan Umar bin Abdul Aziz. Seorang pemimpin yang saleh, kharimastik, bijaksana, dan dekat dengan rakyatnya. Sosoknya begitu melegenda. Banyak peristiwa pada masa kepemimpinannya yang menimbulkan rasa cinta untuk meneladaninya.

 

Cerita ini dikisahkan oleh Abdullah bin Zubair bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya yang bernama Aslam.

Cerita ini saya ambil dari kisahmuslim.com, semoga menginspirasi leader-leader Indonesia, kini dan masa mendatang. Izinkan kami mengambil peran kecil untuk turut menyiapkan perempuan tangguh.

 

Perubahan Besar dalam 2 Tahun

Umar bin Abdul Azis baru saja diangkat sebagai khalifah. Beliau mendapat mandat seperti tertulis dalam surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat. Sejarah mencatat suksesi kepemimpinan itu terjadi pada tahun 771M.
 
Sesaat setelah menerima tampuk pimpinan, beliau pun bersama rakyatnya mengurus pemakaman Khalifah Sulaiman. Beliau nampak kelelahan usai rangkaian prosesi pemakaman dan pelantikan tersebut. Sang Khalifah berniat untuk tidur, istirahat barang sejenak.
 
Belum sempat meluruskan punggung, mata pun belum sempat terpejam, terdengar suara :
 
‘’Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?’’
 
Ternyata itu suara salah satu anak beliau, Abdul Malik.
 
‘’Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini,’’ jawab Umar lirih.
 
Sang anak menimpali:
 
‘’Lalu apa yang akan engkau lakukan ayahanda?’’
 
‘’Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu dhzuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat,” ucap Umar.
 
Tak perlu menunggu lama, Abdul-Malik menimpali:
 
‘’Wahai ayah, siapa yang menjamin engkau masih hidup sampai waktu dhzuhur? Padahal sekarang engkau adalah Amirul Mukminin yang bertanggung jawab untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi.’’
 
Mendengar peringatan sang anak, Khalifah Umar pun segera bangkit dari peraduan sembari berkata:
 
‘’Segala puji bagi Allah yang menghadirkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.’’
 
Umar pun segera beraksi dan bekerja keras, mendarmabaktikan dirinya bagi rakyat.
 
Sejarah mencatat dengan tinta emas. Pada masa kepemimpinannya, negara meraih puncak kejayaan. Dan itu, dilakukan dalam 2 tahun, tepatnya 866 hari. Ya, hanya 2 tahun. Memang singkat masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Tapi, kualitas leadership beliau bisa dilihat dari hasilnya, bagaimana tatanan masyarakat dan tata negara ketika itu.
 
Banyak perubahan yang mengguncang kemapanan, diantaranya :
 
1. Melarang pejabat negara untuk berbisnis.
2. Pekerja tanpa bayaran dianggap ilegal.
3. Tanah penggembalaan dan cagar alam yang diperuntukkan bagi keluarga para pejabat tinggi dibagikan secara merata pada orang miskin dan tujuan budidaya.
4. Mendesak semua pejabat untuk mendengarkan keluhan orang-orang. Beliau pada setiap kesempatan, memberi maklumat bahwa jika ada yang melihat petugas yang memperlakukan masyarakat tidak sebagaimana mestinya, dia harus melaporkannya dan sang pelapor akan diberikan hadiah mulai dari 100 hingga 300 dirham.
 
Perubahan itu bisa dilakukan dan berhasil. Hanya perlu waktu 2 tahun. Itu sudah memadai.