Road to Glory

Road To Glory

Banyak sumber yang menjadi masukan dan pelajaran. Tak jarang berasal dari orang yang saya kenal dekat. Awal perkenalan terjadi saat ia menjadi mentor saya di kampus. Saat saya mahasiswa baru. Ia salah satu pembina program mentoring agama Islam, salah satu kegiatan unggulan bagi mahasiwa baru. Ia juga senior pada beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Setelah lulus, Mas Ali, begitu saya memanggilnya, direkrut oleh Pertamina. Salah satu tempat bekerja paling diidamkan bagi kami lulusan dari kampus di kota kecil, Malang.

Ia pernah mengenyam studi lanjut di Selandia Baru. Karirnya cukup melaju pesat. Pada usia baru menginjak 40 tahun telah menduduki jabatan selevel Vice President. Ia pernah menjadi orang yang paling ditunggu kehadiran dan pernyataannya oleh awak media. Maklumlah, Arek Lamongan ini pernah menjadi juru bicara Pertamina. Saat ini, aktivis kampus itu menduduki posisi Direktur Utama PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Pendekar Tapak Suci ini menunjukkan minat yang sangat besar di bidang geothermal. Ia menyatakan bahwa panas bumi adalah energi baru dan terbarukan. Negeri kita dikaruniai banyak gunung berapi. Itu berarti potensi besar. Panas buminya bisa dikonversikan menjadi tenaga listrik.

Ia memberikan wejangan bagaimana menjadi pemenang. Menjadi karyawan yang jadi pilihan utama. Siapa pun yang membutuhkan tenaga dan buah pikir kita.

Ia menyebutnya dengan: KIAT.

Kiat yang berarti cara atau taktik, tapi kali ini adalah singkatan yang bisa dijadikan modal yang lain.

  1. Knowledge. Pengetahuan itu penting. Kita harus memiliki pengetahuan yang spesifik dimiliki dan menjadi andalan. Pengetahuan itu bisa diperoleh dari beberapa jalur. Paling umum adalah jalur akademis. Menempuh pendidikan hingga jenjang yang dianggap mumpuni. Di samping itu, pengetahuan bisa diperoleh dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya, kita perlu sering dan menjadwalkan diri secara khusus mendengarkan atau menimba ilmu dari pihak lain.
  2. Integrity. Memegang kuat prinsip moralitas. Ini Penting. Pengetahuan yang cukup tanpa dibarengi dengan prinsip moral yang kuat (nilai agama) akan percuma. Pemahaman terhadap agama yang kita yakini juga akan memperkuat hal ini.
  3. Attitude. Bisa diartikan sikap kita kepada orang lain. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga memegang peranan penting. Sebagai mahluk sosial, tidak dipungkiri selalu ada hubunagn antar manusia. Baik hubungan yang bertalian dengan karir, maupun non-karirseperti pergaulan dengan masyarakat.
  4. Teman (Teamwork). Membangun jejaring. Silaturahim. Analoginya, kumpulan orang yang tidak berkualitas bisa jauh lebih hebat dari orang jenius yang terisolasi. Apalagi jika orang hebat berkumpul dan bekerja sama, hasilnya bisa jauh lebih mantap. Tambah dahsyat.

Pak Direktur Utama ini punya visi menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam menjalani hidup dan kehidupan, ia sangat terkesan dengan nasihat orang tuanya. Orang tua adalah pusaka baginya. Mereka memberi nasihat dalam bahasa Jawa, jika diterjemahkan bebas:

“Menjalani kehidupan, apa pun profesinya. Harus ikhlas dan bersikap positif”.

Itulah salah satu kiat mempermulus jalan menuju kemenangan. Road to glory.

Apa yang disampaikan dan dijalankan Mas Ali ini sejalan dengan nasihat mendiang Zig Ziglar, penulis buku best seller sekaligus motivator asal Alabama, US.

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude”

Mau ?

Mari kita jalankan KIAT itu . . .

Vitamin

Meski sehat, kadang orang masih perlu vitamin. Tak ubahnya saya. Usaha dan segala daya upaya fisik dan non fisik telah dilakukan. Kami berharap buah hati kami bisa ikhlas dan kerasan. Ia juga bisa segera beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Saat melakukan cek kiriman pesan di telepon genggam,  ada beberapa pesan masuk. Salah satunya, ternyata berisi nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pas banget. Pipi ini kayak ditampar. Sakit tapi menyadarkan. Tapi tetap saja jadi vitamin. Suplemen penambah semangat.

Di bawah ini saya salinkan isi pesan itu. Siapa tahu ada sahabat yang punya kondisi yang serupa dengan saya.

“Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq. Ujung ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ?

Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu, baju sepatu tas ber-merk. Lha pas di suruh ngaji blekak-blekuk. Di tanya tentang agama prengas-prenges.

Arep dadi opo…?

Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an gak ngerti budi pekerti.. ?

Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”

Mbah Sahal, kalimat “arep dadi opo?” jadi vitamin hari ini.

Tak terasa mata mulai basah. Nasihat yang langsung mengubah aksi. Jazakallaah khair.

Anakku, kamu yang ikhlas, yang kuat. Bersandarlah pada Illahi Robbi. Tetaplah istiqomah, besarkan semangatmu. Doa kami untukmu. Semoga ketikan ini, bacaan dalam hati ini, meresonansi hingga ke hatimu. Menambah vitamin juga untukmu.

Insya Allah, doa sahabat bapak dan ibumu juga akan menambah kekuatanmu.

 

2.647 Kilometer

Perjalanan mudik tahun ini berbeda dari biasanya. Lain banget.  Kami menyisipkan agenda mendorong ikhtiar anak untuk masuk pondok pesantren. Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah.

Perjalanan panjang pun ditempuh.  Jakarta – Semarang. Istirahat di Semarang, esoknya disambung ke Sidoarjo dan Bangkalan. Merayakan Hari Raya Idul Fitri dan silaturahim di Bangkalan beberapa hari. Lanjut lagi silaturahim ke Malang. Hanya 2 hari, perjalanan diteruskan keTrenggalek – Ponorogo via Blitar. Ponorogo menjadi kota singgah yang penuh makna. Setelahnya, baru kembali ke Jakarta. Total perjalanan kami, sesuai odometer : 2.647 KM. Masya Allah. Alhamdulillaah.

Di Kota Ponorogo inilah, kami berjuang lagi.  Spirit management. Mengelola semangat ternyata masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak mudah. Terutama untuk anak yang baru masuk ponpes. Ia shock ketika harus berdesakan tidur di kamar pondokan sebelum tes. Jauh di luar perkiraannya. Saya pun perlu membawanya keluar sejenak. Berkeliling pondok. Ia pun melihat, bahwa ternyata di luar sana, banyak orang tua sanak saudara yang terpaksa menginap di mobil, ada yang membawa tenda. Bahkan ada yang tidur beralaskan tikar beratap langit. Peserta dan juga pengantar membludak. Satu peserta, pengantar bisa 2,3 bahkan 4 kali lipat.

Membludaknya peserta ini juga pertanda bahwa tempat pendidikan ini, banyak diidamkan anak Indonesia. Kawah candradimuka mengolah dan mengembangkan minat dan bakat. Tempatperjuangan mewujudkan cita-cita.

Melihat kondisi itu, kecewa dan terkejutnya pun sedikit terobati. Ia pun menjalani tes meski masih dengan berat hati.

Alhamdulillaah. Meski hati bercampur aduk. Ada rasa was-was. Terselip doa dan harapan. Ternyata, saat pengumuman tiba, ia justru menangis. Bukan karena tidak diterima. Ia diterima tapi bukan di tempat pilihannya. Kami pun meyakinkan, bahwa tempat boleh beda, sistemnya sama. Pun banyak orang yang ingin masuk pesantren ini, sama seperti yang ia citakan sebelumnya. Lha kok, sekarang malah menangis. Ratusan temannya memang menangis, mereka menangis justru karena belum ditakdirkan belajar di pesantren. Belum diterima.

Malam itu pun kami terus memompa semangatnya. Secara fisik dan juga doa.

Pada kesempatan ini, saya mohon doa sahabat semua, agar ia ikhlas, kuat, cepat beradaptasi dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Kami pun sebagai orang tua juga ikhlas. Tentunya kami juga terus mengirim doa.

Selamat berjuang, Nak !

Momen penting itu, Saya dan istri mendapat penguatan. Pesan yang juga menginspirasi. Pesan yang dikirimkan melalui WA, entah siapa yang menuliskan awalnya.  Semoga menjadi amal sholeh.

Terima kasih atas pesannya, Perkenankan saya juga berbagi kepada sahabat. Siapa tahu, suatu masa mengalami hal yang serupa dengan saya.

————–

Pesan dan nasihat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Nasihat panjang yang disingkat dengan istilah TITIP.

Titip adalah kependekan dari : Tega – Ikhlas – Tawakkal -Ikhtiar – Percaya

1. Tega

Huruf T yang pertama adalah Tega. Orang tua harus tega meninggalkan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan. Yakinkan pada diri Anda bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan warteg.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman …”

(QS Ibrahim [14]: 37)

2. Ikhlas

“I” ini makanya : ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya. Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga.

Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

3. Tawakkal

Huruf T kedua adalah Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

4. Ikhtiar

I berikutnya berarti Ikhtiar. Untuk poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

5. Percaya

Yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan saya menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang”

(Abu Dawud, Ibnu Hibban)

Menggali yang Tersembunyi

Menggali yang Tersembunyi

by Ari Wijaya

 

Malam itu kami ngobrol santai tapi serius. Saat itu ada salah seorang rekan yang harus dirawat di rumah sakit. Kami bergantian menjaga. Yoyok teman sekosnya bersama saya, kala itu yang berkesempatan menjaga. Saya sering main dan numpang tidur di kos mereka saat ada jeda kuliah. Saat jadwal kuliah ada dua dan berjauhan, kelas pagi dan sesi siang setelah dhzuhur, biasanya saya tidak pulang ke rumah. Hemat ongkos. Saya mampir tempat kos mereka.

 

Yoyok ini salah satu mahasiswa yang punya potensi terkena degradasi saat evaluasi tahap pertama. Ada aturan, jika mahasiswa tidak mencapai IPK (Indkes Prestasi Kumulatif) minimal 2,0 (dua koma nol) pada akhir semester IV, maka dengan terpaksa mahasiswa tersebut terkena DO (drop out). Tidak bisa melanjutkan kuliah lagi di kampus yang sama. Yoyok masuk daftar ini. Malam itu saat ada kesempatan berduaan, saya mencoba menguatkan semangat dan daya juangnya.

 

“Aku ini nggak semangat kuliah. Kampus ini bukan pilihan utamaku,” keluh Yoyok ditengah obrolan kami.

 

Yoyok menuturkan bahwa ia sempat berpikir untuk mencari kampus lain sesuai pilihan hatinya. Semester 2 ia mencoba di Bandung. Ketika kuliah sudah berjalan 4 semester, ia juga mencoba di Denpasar. Jurusan yang ia minati adalah Seni Rupa & Desain. Namun restu orang tua tak pernah ia peroleh. Saat tahun ketiga kuliahnya di Teknik Mesin, saat mau mencoba lagi, barulah ia sadar. Terlalu besar kerugiannya. Segi waktu, umur dan juga biaya.

 

“Ya, tapi kan takdirnya sudah begitu. Niat untuk pindah ada. Tapi restu orang tua patut jadi pertimbangan. Brawijaya kayaknya sudah menjadi jalan. Bukan pilihan yang jelek. Kalau mau pindah lagi, biaya juga lebih besar. Belum lagi harus mengulang. Banyak yang hilang,” saya coba memberi pertimbangan atas kegundahannya itu.

 

Yoyok sebenarnya punya kemampuan unik. Lain dari pada yang lain. Literasi komputernya melebihi yang lain. Penguasaan Bahasa Inggrisnya juga di atas rata-rata. Setidaknya pembandingnya adalah saya sendiri. He..he..he..

 

Saya mencoba menggali lebih jauh kelebihan itu. Ia boleh terpuruk dengan mata kuliah Kalkulus, Mekanika Teknik, Fisika, Pengetahuan Bahan atau yang lain, tapi dalam 2 hal itu, saya melihat ia lain.

 

“Yok, kalau kamu harus les dengan biaya lumayan besar, 600 ribu satu paket, misalnya. Apa sampeyan siap. Apa orang tua mendukung?” ujar saya.

 

“Insya Allah, bisa diusahakan, Nyo”, begitu jawabnya. Saya ketika itu punya panggilan “Sinyo”. Entah apa yang melatarbelakangi sebutan itu.

 

Singkat cerita ia mengambil kursus yang saya sarankan. Masih in-line dengan jurusan Teknik Mesin. Kursus AutoCAD. Literaturnya masih bahasa sononya, Bahasa Inggris. Tempat kursus hanya ada di Surabaya, kota asalnya. Jadwal juga bisa fleksibel. Kebetulan mata kuliah yang ia ambil juga sedikit. Ada 2 atau 3 hari lowong, tidak ada kuliah. Lagian, bolak-balik Malang-Surabaya bisa diatur jadwal sembari pulang ambil jatah bulanan. Sebagai gambaran, uang kuliah kami ketika itu Rp. 120 ribu per semester. Biaya paket pelatihan dan juga transportasinya, bisa untuk membayar uang kuliah hampir 3 tahun.

 

Yoyok yang gemar bernyayi dan pendaki gunung ini pun, mengambil pelatihan hingga advance level. Alhamdulillah, ia berhasil menjadi salah satu rujukan teman-teman ketika ada kesulitan mata kuliah AutoCAD atau Mesin NC/CNC (computer numeric control). Setelah ia lulus, modal itu pun menjadi nilai lebih baginya. Awalnya ia bekerja sebagai Project Engineer pada sebuah perusahaan di bawah Bangun Tjipta Group. Selanjutnya, ia memutuskan untuk berkarya ke Alstom Power di Surabaya. Perusahaan itu pula yang membawanya ke Negeri Paman Sam, ketika ada tawaran posisi Mechanical Engineer di Alstom Power Inc, Connecticut.

 

Beberapa tahun setelahnya, sejalan dengan penggabungan atau lebih tepatnya program akuisisi Alstom oleh GE, ia pun saat ini menjadi bagian keluarga besar GE. General Electric, perusahaan yang pernah dipimpin ‘manajer abad ini’, Jack Welch. Saat ini ia dipercaya sebagai Lead Engineer Fabricated Component, pada unit usaha GE di Windsor, Connecticut, Amerika Serikat.

 

Sahabat saya ini telah menunjukkan bahwa kompetensi yang unik perlu diperjuangkan. Hasilnya pun mulai ia petik, menjadi orang pilihan.

Memang benar kata Jon Stewart, salah satu aktor dan pembawa acara telivisi yang multi talenta, bahwa pada zaman ini, kecakapan adalah komoditas yang jarang.

“Love what you do. Get good at it. Competence is a rare commodity in this day and age“.

Sahabat, mau seperti itu ? Punya keahlian dan ketrampilan yang unik. Menjadi orang pilihan ?

Mari menggali yang tersembunyi dalam diri kita.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018. Kisah Yoyok adalah satu dari isi buku itu.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Semoga ide dan isi bukunya dapat menginspirasi Indonesia !

Bukan Perjalanan Biasa

Hari-hari itu, terasa ringan. Meski perjalanan melelahkan. Penat pun tak terasa. Penuh berkah. Hampir tiap perjalanan diisi dengan pesan-pesan moral. Kajian tentang kehidupan. Sejarah. Kadang juga kajian manajerial. Leadership. Berenergi dan bergizi, puool !

Sembilan hari saya merasakan hal itu. Ups.. saya ralat ! Tidak hanya saya ternyata ! Tapi sekawanan yang berangkat bersama. Hampir 30 orang, satu rombongan.

Berkunjung ke tanah suci, Mekkah dan Madinah, adalah dambaan setiap muslim. Tak terkecuali saya. Bisa jadi juga sahabat, bukan ?

Ibadah kali itu terasa beda. Ustadz pembimbingnya tetap ada. Mumpuni. Bagi yang pertama kali umroh, tak perlu risau. Bedanya, ada 1 orang lagi yang membersamai kami. Seorang pengusaha, pemimpin perusahaan, motivator sekaligus penulis buku nasional yang mulai mendunia.

Tak ayal, setiap perjalanan, bahkan menunggu dan menuju masjid saja, ada pesan yang disampaikan. Paling lima hingga 10 menit. Pesannya tetap bernas. Memberi motivasi, menggerakkan. Apalagi ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Perjalanan yang kadang melelahkan, menjadi ceria, ada gelak tawa, tapi materi kajiannya pun tetap mengena. Maknyus.

Bukan perjalanan biasa. Ibadah dapat, ilmu manajemen pun dapat.

Sahabat ingin mendapatkan pengalaman seperti itu ?

Mari bergabung bersama, insya Allah Januari 2018, program serupa akan dibuka. Umroh bersama Jamil Azzaini dan juga trainer & motivator handal lainnya.

Belum punya dana ? Ada solusinya.

Bisa kok dicicil mulai sekarang.

Bahkan, bisa juga berangkat umroh tanpa biaya.

Mosok ? Bagaimana caranya ?

Bisa kontak saya, ya :

Ari Wijaya | 081 1166 1766 | ariwijaya@gmail.com

atau

Yuniar Ade Chandra | 0822 4440 1635 | tmd_candra@yahoo.co.id  (khusus untuk daerah Grebangkertosusila (Gresik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sisoarjo Lamongan)

 

Mari kita siapkan segala sesuatunya. Rencana ke Baitullah dimatangkan dari sekarang. Semoga menjadi catatan amal sholeh.

Tak Hentinya Bersyukur

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…

Hanya itu yang patut saya ucapkan dalam 3 hari ini.

Sabtu pagi, saya bersama teman-teman TEMPA (Trainer Mentoring Program) asuhan Mas Indrawan Nugroho membuat video pendek tentang pesan-pesan pelatihan. Saya pamit lebih dulu setelah ‘take’ 3 actions. Terima kasih juga kepada sahabat Harri Firmansyah R, Mohamad Wirzal Azraqi, Fay Irvanto, Bambang Nugroho dan teman-teman lain atas masukannya.

Saya pun meluncur ke bandara menuju Malang. Silaturahim ke ibu saya.

Di luar kuasa manusia, pesawat ketika diumumkan akan mendarat, tapi berputar entah berapa kali. Ada penumpang yang bilang 8. Ada yang bilang 10 kali. Saya hitung sekira 1 jam 10 menit, kami mengudara di atas Bangil-Sidoarjo-Pandaan. Mutar-muter terus. Hanya doa yang bisa dilakukan.

Alhamdulillaah pesawat mendarat mulus. Terbetik kabar setelah di darat. Ternyata Bandara Abdul Rahman Saleh tertutup awan tebal dan hujan deras. Tampak landasan pacu masih basah dan beberapa tergenang air.

Setiba di Tlogomas, saya pun makan sore bersama ibu saya. Sayangnya, bakso keliling langganan sejak SMP telah ludes. Alhamdulillaah berarti laris Bakso Cak No ini.

Selepas maghrib saya pamit menghadiri undangan adik2 panitia PSCS 2016. Pergelaran Seni Citra Smanti. Selepas isya’ saya memasuki arena. Alhamdulillaah, acara lancar. Gawean adik-adik itu sukses. Itu menurut ukuran saya, terlihat dari rapinya acara dan animo penonton. Saya pulang sebelum acara usai. Sudah terlalu larut.

Ahad pagi, bakda sholat subuh dan setelah sarapan buah, saya sempatkan ke lahan seorang teman yang minta dibantu dikembangkan. Plus saya ziarah ke makam bapak dan adik saya. Alhamdulillaah, pagi yang cerah. Perjalanan lancar. Tidak sampai sejam semuanya tuntas.

Pas melakukan transaksi di ATM untuk beberapa kebutuhan harian. Handphone tertinggal. Saya sadar setibanya di rumah. Alhamdulillaah, pas balik ke anjungan tunai mandiri itu, gadget masih utuh.

Sembari ngobrol sama ibu dan kakak, bakda dhzuhur, ada teman Nelly- NoerLailly K bersama suaminya, yang silaturahim sembari menawarkan usaha properti tanpa riba. Alhamdulillaah, dapat pencerahan. Plus rasa senang dan bahagia, karena banyak sahabat yang mulai berbisnis secara syar’i. Sesuai tuntunan Rasulullaah SAW.

Saya berencana balik lewat Bandara Juanda. Rencana ingin pakai public transportation. Saya kangen naik bus umum. Ibu pun menyarankan agar berangkat lebih dini. Hujan mulai mengguyur, mengiringi persiapan saya. Ketika tiba di mulut gang, jalan macet. Pemandangan umum, katanya, kalau pas Ahad. Apalagi hujan. Orang hampir bersamaan keluar dari tempat wisata. Dihitung normal plus lihat aplikasi di Mbah Google. Tak terkejar waktunya. Naik motor ke terminal, hujan lumayan deras. Tak jadi pilihan.

Saya kontak teman-teman yang punya mobil sewa. Alhamdulillaah, teman SMP yang memang sejak lama usaha sewa mobil, memberikan response dan langsung meluncur menjemput saya.

Alhamdulillaah, dengan peristiwa itu, ibu dan kakak perempuan saya ikut mengantar ke bandara. Kebersamaan pun bertambah, sayangnya kami tidak sempat mampir makan rawon. Mengejar waktu.

Saya tiba di bandara persis sejam sebelum pesawat berangkat. 3,5 jam perjalanan. Macet. Arus balik wisatawan. Alhamdulillaah, sholat pun ditunaikan di musholla bandara yang bersih dan nyaman.

Tidak lama masuk pesawat, saya pulas. Pas bangun ketika ada pengumuman, pesawat harus balik ke Bandara Juanda. Return to base. Pesawat mendarat mulus. Jadi heran kenapa balik. Kata salah satu crew, pesawat menabrak burung. Ada yang terganggu sistem pengatur kecepatan. Saya tidak tahu persis seperti apa. Alhamdulillaaah, diketahui masalahnya dan balik mendarat dengan selamat.

Beberapa penumpang ada yang mencoba cari pesawat lain untuk esok hari. Maklum saya ini naik penerbangan terakhir. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa.

Alhamdulillaah, pesawat pengganti siap dalam sekira 30-45 menit. Kami pun diterbangkan ke Bandara Soeta. Tiba di terminal yang baru dan megah itu, sekira pukul 00.30 WIB. Saya langsung naik taksi yang tidak perlu menunggu lama menuju rumah. Iya lah.. lha wong hampir pukul 1 dini hari… hi.. hi .. hi..

Sesampai di rumah, saya tidak berani merebahkan badan di kasur. Bisa tertidur. Karena saya janji untuk mengantar anak mbarep ke Bandara Soeta menuju kota tempat acara pertukaran mahasiswa di negeri seberang.

Waktu sempit itu saya gunakan untuk ngobrol. Tentunya juga meminta anak mbarep melakukan sholat bareng. Alhamdulillaah.

Saya ke bandara disetiri tetangga, sesuai rencana sebelumnya. Dia pun sudah bangun dan siap. Kalau tidak, saya nampaknya tidak kuat nyetir, Ngantuk berat. Alhamdulillaaah. Saya sempatkan tidur sepanjang perjalanan.
Bakda sholat subuh, anak mbarep check-in dan saya balik. Tidur lagi sepanjang perjalanan.

Alhamdulillaah, segar sekarang.

Saya pun berkata dalam hati :

Hai Ari WijayaDj,

‘Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ?”

Allahu akbar wa lillaahilhamd !

Event itu Resmi Tuntas Sudah

Semalam dilakukan pembubaran secara formal kepanitian Ngalup (baca : mudik) Bareng Harum (baca : murah) 2016. Atau Ngabar Harum ! Event memudikkan warga Jabodetabek ke Malang Raya. Kota Malang. Kabupaten Malang. Kota Wisata Batu. Total ada 1.041 pemudik.

Lega. Plong. Tentunya ada kepuasan tersendiri. Acara berlangsung sukses. Pun yang lebih penting, seluruh pemudik tiba dengan selamat di Kota Malang. Meski ada catatan yang menjadi ruang perbaikan dimasa mendatang.

Kegiatan sosial ini digagas Paguyuban Genaro Ngalam. Frase kata khas Malangan, dibaca dari belakang, berarti : Orang Malang. Sebuah organisasi non profit yang beranggotakan orang-orang yang pernah bersekolah di Kota Malang.

Bukan bermaksud ujub. Bukan pula riya’. Dana tunai yang berhasil dihimpun sebesar lebih dari Rp. 650 juta. Belum lagi donasi benbentuk natura. Makanan kecil, gimmick, minuman ringan, kaos, dll. Jika dirupiahkan, bisa mencapai Rp. 800Juta. Subhanallaah.

Amanah kali ini tunai sudah. Tuntas.

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.  Terima kasih donatur. Rutam nuwus para panitia. Sederek sedoyo, Genaro Ngalam. Para pemudik, Aremania. Tentunya Team Marinir Cilandak. Semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Apakah setelah ini, berhenti ? Tidak. Pembina Genaro Ngalam dan juga sebagian besar anggota berkomitmen untuk terus berbagi kebaikan kepada sesama. Bisa jadi bentuknya lain.

Wow ! Semangat yang luar biasa.

Oh ya, sahabat. Perlu saya bocorkan sedikit, anggota aktif Genaro Ngalam jika direrata bisa dikisaran usia 52 tahun (ini hitungan dari yang sering terlihat lho). Bayangkan, ketika ditanya tahun kelulusan SMA saya. Jawaban di luar dugaan yang saya terima.

“Lha mas iki ternyata seumuran karo cucuku”, celetuk salah satu pembina.

Bocoran saja nih, saya lulus SMA tahun 1989. Bayangkan coba ?

Tapi itulah justru yang membuat saya dan teman-teman yang masih muda (kalau boleh dibilang muda nih), tetap semangat. Terpacu. Mosok yanglebih aktif bergerak justru para pinisepuh. Yang muda yang harusnya lebih prigel, trengginas, dan bergerak terus. Tetap semangat !

Insya Allah, Genaro Ngalam bersepakat akan menggulirkan kegiatan sosial yang tidak kalah heboh. Lebih membawa manfaat bagi orang lain.

Mau tahu ? Tunggu kabar berikutnya, ya !

Boleh lho, usulan sahabat dialamatkan via saya :

ariwijaya@gmail.com

atau kepada Ketua Paguyuban Genaro Ngalam, Mas Tommy di :

tshadiam@gmail.com

 

Salam Tahes Komes

Genaro Ngalam ! GUYUB, GUYON, GEMBIRA !

Green Leaders, Apa Kabar ?

Guratan pena ini saya torehkan sekira setahun lalu. Saya bersemangat mengikuti program ini karena manfaat dan efek domino yang begitu dahsyat.

Apalagi ketika berbicara tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adrenalin ini seakan bertambah dan naik kencang.

Kegiatan ini sesuai kabar terakhir, Juni 2016, berhasil mengelola 10 Ha lahan. Belum ditambah lagi. Pengelolaan dan manajemennya, masih dibenahi oleh team pemrakarsa.

Tapi itu semua tidak mengurangi keinginan saya untuk turut terus berjuang dalam barisan pemberdayaan masyarakat. Tetap turut berperan. Sekecil apa pun itu.

 

Semangat Berbuat Kebajikan

by Ari Wijaya

 

Saya sangat senang mengemudikan mobil atau motor sendiri. Jika sendirian dalam mobil, saya menikmati perjalanan sembari mendengarkan siaran radio atau mendengarkan musik. Jika ada teman dalam perjalanan, maka diskusi atau bercengkrama. Itu semua salah satu tombo kantuk (obat kantuk).

Kelemahan nyetir sendiri adalah ketika ada acara ternyata tempat parkir tidak memadai, nyarinya bisa muter-muter setengah jam. Tidak jarang harus parkir menjauh. Apalagi ketika waktu dimulainya acara sudah mepet. Duh, bisa grusa-grusu, tidak sabar, menggerutu dan ada potensi senggolan dengan mobil lain. Rententannya bisa panjang dan negatif. Sehingga biasanya diperlukan spare waktu yang lebih panjang, menyiasati agar tidak terlambat.

Kemarin saat libur nasional, saya ada 2 agenda yang sama penting. Dimulai pada waktu yang sama, namun dua acara tersebut berakhir berbeda. Sehingga saya harus memberikan skala prioritas dan tentunya perhitungan waktu yang tepat agar dua acara tetap dapat diikuti. Rencananya : pagi hari saya menghadiri wisuda anak saya yang kelas 3 SMA di BSD, Serpong. Diperkirakan siang usai sebelum dhzuhur, dan langsung menuju acara ‘green leaders’ di kawasan Tanjung Barat.

Perhitungan di atas kertas, saya masih bisa mendapatkan sisa acara yang di Tanjung Barat. Lumayan dapat 3 jam, karena dijadwalkan usai pukul 3 sore. Saya melakukan scouting pada malam sebelum berangkat. Jalan yang akan dilalui didominasi jalanan sempit, lokasi acara juga parkirnya terbatas. Sehingga diputuskan menggunakan jasa driver. Kebetulan ada tetangga yang mumpuni dan biasa menerima jasa driver lepas seperti itu. Hal ini agar di dalam mobil saya masih bisa berkomunikasi, berbenah dalam mobil dan juga bisa menghilangkan rasa terburu waktu, mengurangi dag dig dug yang nggak ketulungan.

Alhamdulillaah acara lancar, walau acara pertama sedikit molor sekira sejam. Saya pun meminta langsung diantarkan ke LPMP Tanjung Barat. Tapi keluarga tetap saya bawa turut serta, plus menunda makan siang. Karena kalau pulang terlebih dulu, apalagi makan siang, wow bisa tidak terkejar.

Tiba di Tanjung Barat sudah sedikit melewati dhzuhur. Di luar dugaan, pas masuk ada keramaian, ternyata bukan acara yang dituju. Acara lain ! Nah lho. Area gedung pun, kami kelilingi hingga dua kali, sembari menjalin komunikasi dengan PIC acara. Pas ketemu, ternyata acara ada di gedung lain walau masih sekomplek.

Penjelasan materi pun telah usai. Acara ternyata dipadatkan oleh EO-nya. Saya mengendap masuk sembari menyapu pandangan mencari sosok yang saya kenal, karena sebagian besar peserta sedang asyik makan siang. Mereka menunduk seperti tekun mengerjakan tugas berat, jadi wajahnya tak nampak. Kebetulan pemrakarsa program baru usai melahap santapan siangnya. Kesempatan sempit itu pun saya manfaatkan untuk menggali informasi tentang apa itu ‘Green Leaders’. Program pemberdayaan yang digagas Pak Jamil ini sangat menarik. Sekira setengah jam mendapatkan penjelasan dan saling tukar cerita, saya pun memutuskan melengkapi formulir dan bergabung dengan program One on One Family Empowerment.

Saya pun setelah beres, berpamitan, dan segera menuju masjid. Anak dan istri sedang menunggu di sana. Mereka ternyata sangat ingin tahu seperti apa program itu. Kepo banget ! Kenapa saya begitu bersemangat mengejar dan mengikutinya.

“Setelah sholat dan pas makan Kupat Tahu Magelang di seberang gedung ini, Bapak akan terangkan” begitu tukas saya, sembari menunjuk salah satu tempat makan favorit saya.

Gini lho ..

Program yang saya hadiri walau terlambat tadi dinamakan :

‘Green Leaders : One on One Family Empowerment’

Pada dasarnya adalah program mengangkat derajat satu keluarga oleh keluarga lain agar putus dari rantai kemiskinan. Tidak hanya itu, keluarga tersebut juga berkarakter positif, bermental pemimpin dan pada akhirnya bersedia membangun desanya sendiri. Pendampingan keluarga tadi, dilakukan selama 5 tahun. Kenapa 5 tahun ? Itu minimal lho, karena studi yang telah ada mengatakan bahwa perlu waktu setidaknya 4,8 tahun untuk membentuk karakter dan mengentaskan kemiskinan.

Bagaimana langkah pengentasannya ? Dipilih kail berupa pohon yang berkayu dan bernilai ekonomis dengan masa panen 5 tahun. Guna menunggu masa panen, keluarga yang diberdayakan mendapatkan pelatihan, coaching, mentoring, pendampingan intensif dan kegiatan sosial ekonomi yang menggerakkannya. Kegiatan sosial tersebut jelas akan menghidupkan nilai-nilai jenius lokal yang selama ini seperti akan punah. Apa itu ? Seperti gotong royong, lumbung desa, jumputan, dll. Kegiatan ini akan difokuskan untuk meningkatkan penghasilan harian, pekanan atau bulanan bagi keluarga yang mengikuti program ini.

Apa manfaat bagi keluarga yang memberdayakan atau family partner ? Ikut serta menyelamatkan dunia. Pohon identik dengan fotosintesa, menyerap CO2 menghasilkan oksigen. Berkontribusi menyelamatkan negeri. Bagaimana pun, negeri yang kita cintai ini butuh energi positif kita. Berbuat langsung, singsingkan lengan baju, action, bukan sekedar sebagai penonton. Setidaknya, upaya ini akan mengurangi urbanisasi. Penduduk membangun desanya, menjadi berdaya dan berdikari. Di samping itu, lokasi pemberdayaan bisa menjadi wisata alam bagi keluarga. Tidak lupa juga, punya hak penjualan, masih ada sisi bisnisnya lho. Tapi yang paling dahsyat adalah kegiatan ini menjadi amal jariyah, tabungan yang akan dibuka di padang maghsyar kelak.

“Gerakkan masyarakatnya, lestarikan alamnya, bangun mentalnya, dan perbaiki ekonominya”

Begitu bunyi taglinenya Green Leaders.

Semoga program ini terus bertambah luas lahannya.

 

 

NGALUP BARENG ! (baca : Mudik Bersama)

NGALUP BARENG !

by : Ari Wijaya

 

Pertemuan Rabu malam itu, Alhamdulillaah dapat dilaksanakan. Beberapa kali tertunda karena ada beberapa orang yang tidak bisa hadir. Saya juga tidak canggung menghadirinya. Beberapa hadirin sudah saya kenal. Sebagian besar adalah wajah baru, sahabat baru saya. Tapi yang lebih penting sambutan mereka sudah seperti saudara sendiri. Itulah Paguyuban Genaro Ngalam (baca : Orang Malang). Kami singkat menjadi GN. Sekumpulan orang yang pernah mengenyam pendidikan di Kota Malang dan menetap di Jakarta dan sekitarnya. Mereka berkumpul bersama melakukan kegiatan amal, aktivitas sosial.

Kali ini saya diberikan amanah oleh Pembina GN, Laksamana Muda Agung Pramono dan Ketua Paguyuban, Mas Sasangka ‘Tommy’ Hadi, untuk memimpin salah satu kepanitiaan kegiatan GN. Ketiban sampur seperti kata Cak Kartolo, salah satu komedian ludruk Jawa Timur yang kondang itu. Puji syukur hampir seluruh hadirin mendukung. Tenaga, pikiran dan tentu saja, dana.

Panitia apa itu ?

Silaturahim sebelum lebaran tiba sudah menjadi tradisi. Perantau dari Malang Raya yang di Jakarta juga bagian dari agenda besar tahunan itu.Tradisi yang punya dampak menggerakkan ekonomi daerah. Punya efek domino. Penelitian Balitbang Kemenhub tahun 2014,  perputaran uang selama mudik dan libur lebaran sekira Rp. 15 Triliun. Khusus Jawa Timur saja, sebesar Rp, 2,5 Triliun. Masya Allah.

Masalah utama adalah ketersediaan moda angkutan yang punya kapasitas terbatas. Supply lebih kecil dari pada demand. Belum lagi biaya mudik yang tidak sedikit. Tarif bis Jakarta-Malang saat Lebaran bisa dikisaran Rp. 450ribu – 600ribu. Itu sekali jalan. lho. Jika berencana mudik satu keluarga, suami istri dengan 2 anak, maka setidaknya harus menyiapkan dana transportasi Rp. 3,6juta – 4,8juta pergi pulang. Lumayan besar, bukan ? Pemerintah dan perusahaan pun banyak yang menyediakan program mudik gratis. Setidaknya, meringankan setengah biaya perjalanan. Tapi itu pun belum memadai.

GN terpanggil untuk turut serta menjadi salah satu elemen itu. Memberi kemudahan mudik. Sumbangsih yang belum seberapa besar, namun setidaknya sedikit membantu menyelesaikan masalah transportasi. GN pun menggagas, Ngalup Bareng Murah atau disingkat ‘NGABAR HARUM’. Ngabar singkatan dari NGALUP BARENG (pulang bersama). Harum adalah kata yang dieja dari belakang dari kata MURAH. Khas Arek Malang. Frase kata itu pun jadi trade mark hingga penyelenggaraan yang ke-4, tahun 2016 ini. Insya Allah disiapkan 20 bis atau setara SERIBU KURSI.

Lho ? Kok ada kata ‘MURAH’ ? Bukan gratis ?

Memang benar, panitia membuat keputusan bahwa ada kontribusi Rp 100ribu per orang (per penumpang yang duduk sendiri). Ini sebenarnya bukan tarif. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak pendaftar yang pada hari H membatalkan hadir. Sayang sekali. Karena ketika itu banyak antrian. Mereka tidak terangkut karena kuota memang terbatas. Kemampuan kami belum besar. Karena keterbatasan kami, hanya ada 1.000 kursi. Itu setara 20 bus. Alhasil, banyak yang kecewa tidak kebagian kursi. Kalah cepat. Bayangkan, jika saat akhir keberangkatan ada yang mengurungkan niat, maka ia menutup peluang orang yang akan mudik juga, bukan ?

Oleh karenanya, kami memberikan semacam uang konfirmasi sebesar 100ribu per orang. Maksud kami adalah memberikan rasa tanggung jawab. Kalau batal, maka ada semacam kehilangan uang 100 ribu per orang. Sayang, bukan ? Tapi jangan khawatir, uang ini pun akan dikembalikan dalam bentuk natura. Ada bekal untuk buka puasa, cindera mata, dll. Insya Allah jika diuangkan, nilainya melebihi dana yang telah dikeluarkan. Kami berkomitmen bahwa kegiatan ini murni sosial, bukan komersial.

Ini mudik untuk siapa ?

Kami memberikan prioritas kepada perantau yang bekerja di sektor informal. Bisa juga pelajar dan/atau mahasiswa yang bersekolah di Malang yang kebetulan sedang kerja praktek atau magang di Jakarta Raya (Jabodetabek). Kami ingin sedikit meringankan biaya mudik, sehingga dana atau THR yang dimiliki dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Silaturahim tetap bisa dilangsungkan, harapannya masih ada buah tangan yang dibawa serta.

Kami juga mengemas acara ini tetap fun, aman dan nyaman. Titik keberangkatan, insya Allah dilakukan di Komplek Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan pada SABTU 2 Juli 2016 pukul 7 pagi. Terima kasih, Korps Marinir ! Guna mengumpulkan lebih cepat dan koordinasi relatif lebih mudah. Acara juga diselingi pembagian door prize serta penglepasan oleh panitia. Lumayan buat oleh-oleh di rumah.

Tahun lalu, ketika tiba di Malang setelah perjalanan 19-20 jam, rombongan disambut oleh Walikota Malang, Abah Anton. Tidak sekedar disambut, lho. Beliau juga memberikan cindera mata bagi peserta. Insya Allah tahun ini, beliau berkenan menyambut kembali. Kami juga berupaya hal yang sama kepada Walikota Batu, Pak Eddy Rumpoko di Batu. Pun Bupati Malang, Pak Rendra Kresna di Kepanjen.

Kebahagiaan tersendiri bagi kami, ketika banyak saudara kita yang merasakan manfaat atas kegiatan ini.

Mohon doa dan dukungan sahabat semua, bagi keamanan, keselamatan dan kelancaran event ini.

 

Anda ingin menjadi bagian dari kegiatan amal ini ? Sahabat ingin memberikan donasi untuk event ‘NGALUP BARENG IV 2016 ?

Rekening Donasi :

BCA | 474 000 9856  | an Nana Andeina Kemala

Mandiri | 128 000 007 2931 | an Nana Andeina Kemala

Silakan kontak dan memberikan konfirmasi kepada saya, ARI WIJAYA, 0811-1661-766 atau  kepada  Bendahara Panitia Ngabar Harum IV 2016 :  Mbak NANA IRAWAN, 0811-191-1526 dan Mbak  ERRY SOEKOTJO, 0811-960-827

Donasi sahabat, apa pun dan berapa pun akan kami catat dan salurkan dengan baik. Insya Allah.

Jika ada calon pemudik yang direkomendasikan, silakan mampir di Jl. Wijaya 1 No. 75, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, (021) 722 9370 ada Mbak Uun yang stand by. Formulir dan urusan administrasi, kami pusatkan di sana.  Itu kantor seberang asrama PTIK yang juga dijadikan sekretariat untuk kegiatan ini atas kebaikan Mbak Erry Soekotjo.

Semoga setiap langkah, upaya dan resources yang kita pikirkan, niatkan dan tunaikan, menjadi catatan amal sholeh kita.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Pengasih membalas dengan kebaikan.

Sabalong Samalewa by Ari Wijaya

Tulisan ini saya rangkai sekira setahun lalu…Sengaja saya tampilkan kembali untuk memberi semangat utamanya diri sendiri dan my new team, ‘the young guns’ new venture non oil and gas…

Sabalong Samalewa

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Menjelang maghrib, Kami mendarat di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III atau dulu dikenal dengan Bandara Brangbiji, Sumbawa Besar. Malam itu, Kami manfaatkan waktu sebaik mungkin. Kami berdiskusi sembari makan ikan sepat bakar yang rasanya maknyus. Pembahasan ringan tapi serius dengan salah seorang pejabat penting di Pemprov NTB yang kebetulan sedang ada dinas di Sumbawa Besar. Beliau menyertai kunjungan Gubernur NTB di Pulau Sumbawa. Esok pagi sudah menunggu jadwal padat lainnya. Kami menginap di hotel seberang bandara. Wake-up call nya pakai ketuk pintu. Sederhana namun efektif.

Esok harinya. Kami sepakat bersama team setempat memulai perjalanan sekira pukul 06.30 WITA. Perjalanan pertama Kami meluncur ke area sejauh 70 KM arah Bima. Sebuah kota kecamatan yang kaya akan hutan bambu. Kecamatan ini masih masuk di wilayah Kabupaten Sumbawa. Beberapa bukit terlihat penuh dengan tanaman bambu. Usai melihat sekeliling, kendaraan Kami arahkan ke salah satu kampus dan pesantren di balik Bukit Olat Maras. Kami singgah karena mereka punya potensi mikrohidro. Ada dam di hulu sungai dekat pesantren. Dan yang tak kalah penting, potensi engineer masa depan yang dilahirkan kampus itu. Bakda Dhzuhur, Kami meluncur ke Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Saya mencoba menggali informasi dan teknologi  dengan teman yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa.

Dalam perjalanan darat, khususnya  di wilayah Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Saya melihat tulisan di atap beberapa kantor pemerintahan dan rumah penduduk. Tercetak tebal dan mecolok dengan huruf kapital :

“SABALONG SAMALEWA”

“Pak, dua kata itu semboyan Kabupaten Sumbawa Besar ? Apa artinya ?” tanya Saya kepada Pak Sigar, sembari mengarahkan telunjuk Saya ke atap sekolah. Pak Sigar adalah orang yang berkenan menjadi pendamping dan penunjuk arah perjalanan Kami. Ia bersama Pak Dayat yang bertugas di belakang kemudi.

“Betul. Itu artinya, membangun dunia akhirat” jawab beliau sembari tersenyum dan penuh percaya diri.

Tidak jauh dari warung makan nasi campur, tempat Kami sarapan, ada gapura dengan kalimat tambahan pada tulisan itu : ‘Lema Mampis Bawa Rungan’. Jika diterjemahkan bebas, mempunyai makna : ‘agar cepat membawa kabar baik’. Mari Kita rangkai kalimat tersebut.

“Sabalong Samalewa, Lema Mampis Bawa Rungan”.

Jika untaian kata yang menjadi visi sebuah kabupaten tersebut dengan berbekal terjemahan bebas Pak Sigar, maka akan berarti :

“Membangun Dunia Akhirat, Agar Cepat Membawa Kabar Baik”

Subhanallaah. Salah satu pernyataan tentang visi, cita-cita yang sangat luhur. Ketetapan hati para founding father Sumbawa yang visioner. Visi yang komplet dengan menggabungkan upaya duniawi dengan ukhrowi. Menurut hemat Saya, hal itu telah dibuktikan. Beberapa hasil upaya pembangunan, mulai memberikan kabar baik bagi masyarakat Sumbawa Besar. Jalan yang mulus. Setidaknya jalan yang Kami lalui, hampir tidak ditemui lubang. Kalau ada itu pun minor. Pelabuhan Badas terlihat menggeliat dengan beberapa kapal besar buang sauh untuk bongkar muat. Bandara juga terlihat ramai. Pertanian fokus pada 2 jenis bahan pangan, padi dan jagung. Sejalan dengan itu, terlihat 2 pabrik pengolahan jagung dan padi dengan silo berkapasitas sekira 6 ribu ton juga beroperasi dengan baik. Peternakan sapi dan kerbau sudah menjadi salah satu lumbung protein hewani Indonesia. Pak Sigar berseloroh bahwa jumlah hewan ternak sapi di Sumbawa bisa jadi jauh lebih besar dari jumlah penduduk Sumbawa. Sekedar informasi, jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa sebanyak sekira 480 ribu jiwa.

Pesantren dan sekolah juga dibangun dengan baik, terlebih diinisiasi oleh masyarakat. Bahkan ada 2 perguruan tinggi swasta yang siap memberikan output sarjana pendidikan, ekonom, ahli komunikasi, dan juga engineer handal. Prestasinya telah mengharumkan Indonesia. Belum lagi kehidupan sehari-hari yang religious. Masjid berdiri megah, juga dengan dana swadaya masyarkat.

Jika ditotal perjalanan darat Kami hari itu, sekira 650 KM, total 17 jam. Itu termasuk diskusi, makan, isi bahan bakar. Dan tentu saja, berhenti untuk melepas lelah. Safety first. Boleh dikatakan Kami mengiris wilayah Utara hingga Selatan Pulau Sumbawa. Sekira pukul 24.15 WITA, Kami baru tiba kembali di hotel.

Bicara visi, tentunya tidak ada ubahnya seperti perusahaan. Saya punya keyakinan, dengan visi yang jelas ada suatu yang dituju. Team yang bersama Kita pun akan menyeragamkan langkah, serempak bergerak. Berupaya bersama guna mewujudkan cita-cita korporasi.

Kami sangat terinspirasi dengan motto ‘Sabalong Samalewa’. Semoga Kami dapat menjadi bagian dalam membangun peradaban. Membangun dunia yang serasi selaras dengan membangun akhirat Kami. Rasanya, tidak berlebihan,  Saya dan team akan bangga jika menjadi bagian dari salah satu pilarnya.

Anda mau bersama membangun visi dunia akhirat ?

Mari kita tata kembali tujuan dan arah hidup kita. Agar setiap langkah bernilai ibadah.