Green Leaders, Apa Kabar ?

Guratan pena ini saya torehkan sekira setahun lalu. Saya bersemangat mengikuti program ini karena manfaat dan efek domino yang begitu dahsyat.

Apalagi ketika berbicara tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adrenalin ini seakan bertambah dan naik kencang.

Kegiatan ini sesuai kabar terakhir, Juni 2016, berhasil mengelola 10 Ha lahan. Belum ditambah lagi. Pengelolaan dan manajemennya, masih dibenahi oleh team pemrakarsa.

Tapi itu semua tidak mengurangi keinginan saya untuk turut terus berjuang dalam barisan pemberdayaan masyarakat. Tetap turut berperan. Sekecil apa pun itu.

 

Semangat Berbuat Kebajikan

by Ari Wijaya

 

Saya sangat senang mengemudikan mobil atau motor sendiri. Jika sendirian dalam mobil, saya menikmati perjalanan sembari mendengarkan siaran radio atau mendengarkan musik. Jika ada teman dalam perjalanan, maka diskusi atau bercengkrama. Itu semua salah satu tombo kantuk (obat kantuk).

Kelemahan nyetir sendiri adalah ketika ada acara ternyata tempat parkir tidak memadai, nyarinya bisa muter-muter setengah jam. Tidak jarang harus parkir menjauh. Apalagi ketika waktu dimulainya acara sudah mepet. Duh, bisa grusa-grusu, tidak sabar, menggerutu dan ada potensi senggolan dengan mobil lain. Rententannya bisa panjang dan negatif. Sehingga biasanya diperlukan spare waktu yang lebih panjang, menyiasati agar tidak terlambat.

Kemarin saat libur nasional, saya ada 2 agenda yang sama penting. Dimulai pada waktu yang sama, namun dua acara tersebut berakhir berbeda. Sehingga saya harus memberikan skala prioritas dan tentunya perhitungan waktu yang tepat agar dua acara tetap dapat diikuti. Rencananya : pagi hari saya menghadiri wisuda anak saya yang kelas 3 SMA di BSD, Serpong. Diperkirakan siang usai sebelum dhzuhur, dan langsung menuju acara ‘green leaders’ di kawasan Tanjung Barat.

Perhitungan di atas kertas, saya masih bisa mendapatkan sisa acara yang di Tanjung Barat. Lumayan dapat 3 jam, karena dijadwalkan usai pukul 3 sore. Saya melakukan scouting pada malam sebelum berangkat. Jalan yang akan dilalui didominasi jalanan sempit, lokasi acara juga parkirnya terbatas. Sehingga diputuskan menggunakan jasa driver. Kebetulan ada tetangga yang mumpuni dan biasa menerima jasa driver lepas seperti itu. Hal ini agar di dalam mobil saya masih bisa berkomunikasi, berbenah dalam mobil dan juga bisa menghilangkan rasa terburu waktu, mengurangi dag dig dug yang nggak ketulungan.

Alhamdulillaah acara lancar, walau acara pertama sedikit molor sekira sejam. Saya pun meminta langsung diantarkan ke LPMP Tanjung Barat. Tapi keluarga tetap saya bawa turut serta, plus menunda makan siang. Karena kalau pulang terlebih dulu, apalagi makan siang, wow bisa tidak terkejar.

Tiba di Tanjung Barat sudah sedikit melewati dhzuhur. Di luar dugaan, pas masuk ada keramaian, ternyata bukan acara yang dituju. Acara lain ! Nah lho. Area gedung pun, kami kelilingi hingga dua kali, sembari menjalin komunikasi dengan PIC acara. Pas ketemu, ternyata acara ada di gedung lain walau masih sekomplek.

Penjelasan materi pun telah usai. Acara ternyata dipadatkan oleh EO-nya. Saya mengendap masuk sembari menyapu pandangan mencari sosok yang saya kenal, karena sebagian besar peserta sedang asyik makan siang. Mereka menunduk seperti tekun mengerjakan tugas berat, jadi wajahnya tak nampak. Kebetulan pemrakarsa program baru usai melahap santapan siangnya. Kesempatan sempit itu pun saya manfaatkan untuk menggali informasi tentang apa itu ‘Green Leaders’. Program pemberdayaan yang digagas Pak Jamil ini sangat menarik. Sekira setengah jam mendapatkan penjelasan dan saling tukar cerita, saya pun memutuskan melengkapi formulir dan bergabung dengan program One on One Family Empowerment.

Saya pun setelah beres, berpamitan, dan segera menuju masjid. Anak dan istri sedang menunggu di sana. Mereka ternyata sangat ingin tahu seperti apa program itu. Kepo banget ! Kenapa saya begitu bersemangat mengejar dan mengikutinya.

“Setelah sholat dan pas makan Kupat Tahu Magelang di seberang gedung ini, Bapak akan terangkan” begitu tukas saya, sembari menunjuk salah satu tempat makan favorit saya.

Gini lho ..

Program yang saya hadiri walau terlambat tadi dinamakan :

‘Green Leaders : One on One Family Empowerment’

Pada dasarnya adalah program mengangkat derajat satu keluarga oleh keluarga lain agar putus dari rantai kemiskinan. Tidak hanya itu, keluarga tersebut juga berkarakter positif, bermental pemimpin dan pada akhirnya bersedia membangun desanya sendiri. Pendampingan keluarga tadi, dilakukan selama 5 tahun. Kenapa 5 tahun ? Itu minimal lho, karena studi yang telah ada mengatakan bahwa perlu waktu setidaknya 4,8 tahun untuk membentuk karakter dan mengentaskan kemiskinan.

Bagaimana langkah pengentasannya ? Dipilih kail berupa pohon yang berkayu dan bernilai ekonomis dengan masa panen 5 tahun. Guna menunggu masa panen, keluarga yang diberdayakan mendapatkan pelatihan, coaching, mentoring, pendampingan intensif dan kegiatan sosial ekonomi yang menggerakkannya. Kegiatan sosial tersebut jelas akan menghidupkan nilai-nilai jenius lokal yang selama ini seperti akan punah. Apa itu ? Seperti gotong royong, lumbung desa, jumputan, dll. Kegiatan ini akan difokuskan untuk meningkatkan penghasilan harian, pekanan atau bulanan bagi keluarga yang mengikuti program ini.

Apa manfaat bagi keluarga yang memberdayakan atau family partner ? Ikut serta menyelamatkan dunia. Pohon identik dengan fotosintesa, menyerap CO2 menghasilkan oksigen. Berkontribusi menyelamatkan negeri. Bagaimana pun, negeri yang kita cintai ini butuh energi positif kita. Berbuat langsung, singsingkan lengan baju, action, bukan sekedar sebagai penonton. Setidaknya, upaya ini akan mengurangi urbanisasi. Penduduk membangun desanya, menjadi berdaya dan berdikari. Di samping itu, lokasi pemberdayaan bisa menjadi wisata alam bagi keluarga. Tidak lupa juga, punya hak penjualan, masih ada sisi bisnisnya lho. Tapi yang paling dahsyat adalah kegiatan ini menjadi amal jariyah, tabungan yang akan dibuka di padang maghsyar kelak.

“Gerakkan masyarakatnya, lestarikan alamnya, bangun mentalnya, dan perbaiki ekonominya”

Begitu bunyi taglinenya Green Leaders.

Semoga program ini terus bertambah luas lahannya.

 

 

NGALUP BARENG ! (baca : Mudik Bersama)

NGALUP BARENG !

by : Ari Wijaya

 

Pertemuan Rabu malam itu, Alhamdulillaah dapat dilaksanakan. Beberapa kali tertunda karena ada beberapa orang yang tidak bisa hadir. Saya juga tidak canggung menghadirinya. Beberapa hadirin sudah saya kenal. Sebagian besar adalah wajah baru, sahabat baru saya. Tapi yang lebih penting sambutan mereka sudah seperti saudara sendiri. Itulah Paguyuban Genaro Ngalam (baca : Orang Malang). Kami singkat menjadi GN. Sekumpulan orang yang pernah mengenyam pendidikan di Kota Malang dan menetap di Jakarta dan sekitarnya. Mereka berkumpul bersama melakukan kegiatan amal, aktivitas sosial.

Kali ini saya diberikan amanah oleh Pembina GN, Laksamana Muda Agung Pramono dan Ketua Paguyuban, Mas Sasangka ‘Tommy’ Hadi, untuk memimpin salah satu kepanitiaan kegiatan GN. Ketiban sampur seperti kata Cak Kartolo, salah satu komedian ludruk Jawa Timur yang kondang itu. Puji syukur hampir seluruh hadirin mendukung. Tenaga, pikiran dan tentu saja, dana.

Panitia apa itu ?

Silaturahim sebelum lebaran tiba sudah menjadi tradisi. Perantau dari Malang Raya yang di Jakarta juga bagian dari agenda besar tahunan itu.Tradisi yang punya dampak menggerakkan ekonomi daerah. Punya efek domino. Penelitian Balitbang Kemenhub tahun 2014,  perputaran uang selama mudik dan libur lebaran sekira Rp. 15 Triliun. Khusus Jawa Timur saja, sebesar Rp, 2,5 Triliun. Masya Allah.

Masalah utama adalah ketersediaan moda angkutan yang punya kapasitas terbatas. Supply lebih kecil dari pada demand. Belum lagi biaya mudik yang tidak sedikit. Tarif bis Jakarta-Malang saat Lebaran bisa dikisaran Rp. 450ribu – 600ribu. Itu sekali jalan. lho. Jika berencana mudik satu keluarga, suami istri dengan 2 anak, maka setidaknya harus menyiapkan dana transportasi Rp. 3,6juta – 4,8juta pergi pulang. Lumayan besar, bukan ? Pemerintah dan perusahaan pun banyak yang menyediakan program mudik gratis. Setidaknya, meringankan setengah biaya perjalanan. Tapi itu pun belum memadai.

GN terpanggil untuk turut serta menjadi salah satu elemen itu. Memberi kemudahan mudik. Sumbangsih yang belum seberapa besar, namun setidaknya sedikit membantu menyelesaikan masalah transportasi. GN pun menggagas, Ngalup Bareng Murah atau disingkat ‘NGABAR HARUM’. Ngabar singkatan dari NGALUP BARENG (pulang bersama). Harum adalah kata yang dieja dari belakang dari kata MURAH. Khas Arek Malang. Frase kata itu pun jadi trade mark hingga penyelenggaraan yang ke-4, tahun 2016 ini. Insya Allah disiapkan 20 bis atau setara SERIBU KURSI.

Lho ? Kok ada kata ‘MURAH’ ? Bukan gratis ?

Memang benar, panitia membuat keputusan bahwa ada kontribusi Rp 100ribu per orang (per penumpang yang duduk sendiri). Ini sebenarnya bukan tarif. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak pendaftar yang pada hari H membatalkan hadir. Sayang sekali. Karena ketika itu banyak antrian. Mereka tidak terangkut karena kuota memang terbatas. Kemampuan kami belum besar. Karena keterbatasan kami, hanya ada 1.000 kursi. Itu setara 20 bus. Alhasil, banyak yang kecewa tidak kebagian kursi. Kalah cepat. Bayangkan, jika saat akhir keberangkatan ada yang mengurungkan niat, maka ia menutup peluang orang yang akan mudik juga, bukan ?

Oleh karenanya, kami memberikan semacam uang konfirmasi sebesar 100ribu per orang. Maksud kami adalah memberikan rasa tanggung jawab. Kalau batal, maka ada semacam kehilangan uang 100 ribu per orang. Sayang, bukan ? Tapi jangan khawatir, uang ini pun akan dikembalikan dalam bentuk natura. Ada bekal untuk buka puasa, cindera mata, dll. Insya Allah jika diuangkan, nilainya melebihi dana yang telah dikeluarkan. Kami berkomitmen bahwa kegiatan ini murni sosial, bukan komersial.

Ini mudik untuk siapa ?

Kami memberikan prioritas kepada perantau yang bekerja di sektor informal. Bisa juga pelajar dan/atau mahasiswa yang bersekolah di Malang yang kebetulan sedang kerja praktek atau magang di Jakarta Raya (Jabodetabek). Kami ingin sedikit meringankan biaya mudik, sehingga dana atau THR yang dimiliki dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Silaturahim tetap bisa dilangsungkan, harapannya masih ada buah tangan yang dibawa serta.

Kami juga mengemas acara ini tetap fun, aman dan nyaman. Titik keberangkatan, insya Allah dilakukan di Komplek Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan pada SABTU 2 Juli 2016 pukul 7 pagi. Terima kasih, Korps Marinir ! Guna mengumpulkan lebih cepat dan koordinasi relatif lebih mudah. Acara juga diselingi pembagian door prize serta penglepasan oleh panitia. Lumayan buat oleh-oleh di rumah.

Tahun lalu, ketika tiba di Malang setelah perjalanan 19-20 jam, rombongan disambut oleh Walikota Malang, Abah Anton. Tidak sekedar disambut, lho. Beliau juga memberikan cindera mata bagi peserta. Insya Allah tahun ini, beliau berkenan menyambut kembali. Kami juga berupaya hal yang sama kepada Walikota Batu, Pak Eddy Rumpoko di Batu. Pun Bupati Malang, Pak Rendra Kresna di Kepanjen.

Kebahagiaan tersendiri bagi kami, ketika banyak saudara kita yang merasakan manfaat atas kegiatan ini.

Mohon doa dan dukungan sahabat semua, bagi keamanan, keselamatan dan kelancaran event ini.

 

Anda ingin menjadi bagian dari kegiatan amal ini ? Sahabat ingin memberikan donasi untuk event ‘NGALUP BARENG IV 2016 ?

Rekening Donasi :

BCA | 474 000 9856  | an Nana Andeina Kemala

Mandiri | 128 000 007 2931 | an Nana Andeina Kemala

Silakan kontak dan memberikan konfirmasi kepada saya, ARI WIJAYA, 0811-1661-766 atau  kepada  Bendahara Panitia Ngabar Harum IV 2016 :  Mbak NANA IRAWAN, 0811-191-1526 dan Mbak  ERRY SOEKOTJO, 0811-960-827

Donasi sahabat, apa pun dan berapa pun akan kami catat dan salurkan dengan baik. Insya Allah.

Jika ada calon pemudik yang direkomendasikan, silakan mampir di Jl. Wijaya 1 No. 75, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, (021) 722 9370 ada Mbak Uun yang stand by. Formulir dan urusan administrasi, kami pusatkan di sana.  Itu kantor seberang asrama PTIK yang juga dijadikan sekretariat untuk kegiatan ini atas kebaikan Mbak Erry Soekotjo.

Semoga setiap langkah, upaya dan resources yang kita pikirkan, niatkan dan tunaikan, menjadi catatan amal sholeh kita.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Pengasih membalas dengan kebaikan.

Sabalong Samalewa by Ari Wijaya

Tulisan ini saya rangkai sekira setahun lalu…Sengaja saya tampilkan kembali untuk memberi semangat utamanya diri sendiri dan my new team, ‘the young guns’ new venture non oil and gas…

Sabalong Samalewa

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Menjelang maghrib, Kami mendarat di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III atau dulu dikenal dengan Bandara Brangbiji, Sumbawa Besar. Malam itu, Kami manfaatkan waktu sebaik mungkin. Kami berdiskusi sembari makan ikan sepat bakar yang rasanya maknyus. Pembahasan ringan tapi serius dengan salah seorang pejabat penting di Pemprov NTB yang kebetulan sedang ada dinas di Sumbawa Besar. Beliau menyertai kunjungan Gubernur NTB di Pulau Sumbawa. Esok pagi sudah menunggu jadwal padat lainnya. Kami menginap di hotel seberang bandara. Wake-up call nya pakai ketuk pintu. Sederhana namun efektif.

Esok harinya. Kami sepakat bersama team setempat memulai perjalanan sekira pukul 06.30 WITA. Perjalanan pertama Kami meluncur ke area sejauh 70 KM arah Bima. Sebuah kota kecamatan yang kaya akan hutan bambu. Kecamatan ini masih masuk di wilayah Kabupaten Sumbawa. Beberapa bukit terlihat penuh dengan tanaman bambu. Usai melihat sekeliling, kendaraan Kami arahkan ke salah satu kampus dan pesantren di balik Bukit Olat Maras. Kami singgah karena mereka punya potensi mikrohidro. Ada dam di hulu sungai dekat pesantren. Dan yang tak kalah penting, potensi engineer masa depan yang dilahirkan kampus itu. Bakda Dhzuhur, Kami meluncur ke Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Saya mencoba menggali informasi dan teknologi  dengan teman yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa.

Dalam perjalanan darat, khususnya  di wilayah Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Saya melihat tulisan di atap beberapa kantor pemerintahan dan rumah penduduk. Tercetak tebal dan mecolok dengan huruf kapital :

“SABALONG SAMALEWA”

“Pak, dua kata itu semboyan Kabupaten Sumbawa Besar ? Apa artinya ?” tanya Saya kepada Pak Sigar, sembari mengarahkan telunjuk Saya ke atap sekolah. Pak Sigar adalah orang yang berkenan menjadi pendamping dan penunjuk arah perjalanan Kami. Ia bersama Pak Dayat yang bertugas di belakang kemudi.

“Betul. Itu artinya, membangun dunia akhirat” jawab beliau sembari tersenyum dan penuh percaya diri.

Tidak jauh dari warung makan nasi campur, tempat Kami sarapan, ada gapura dengan kalimat tambahan pada tulisan itu : ‘Lema Mampis Bawa Rungan’. Jika diterjemahkan bebas, mempunyai makna : ‘agar cepat membawa kabar baik’. Mari Kita rangkai kalimat tersebut.

“Sabalong Samalewa, Lema Mampis Bawa Rungan”.

Jika untaian kata yang menjadi visi sebuah kabupaten tersebut dengan berbekal terjemahan bebas Pak Sigar, maka akan berarti :

“Membangun Dunia Akhirat, Agar Cepat Membawa Kabar Baik”

Subhanallaah. Salah satu pernyataan tentang visi, cita-cita yang sangat luhur. Ketetapan hati para founding father Sumbawa yang visioner. Visi yang komplet dengan menggabungkan upaya duniawi dengan ukhrowi. Menurut hemat Saya, hal itu telah dibuktikan. Beberapa hasil upaya pembangunan, mulai memberikan kabar baik bagi masyarakat Sumbawa Besar. Jalan yang mulus. Setidaknya jalan yang Kami lalui, hampir tidak ditemui lubang. Kalau ada itu pun minor. Pelabuhan Badas terlihat menggeliat dengan beberapa kapal besar buang sauh untuk bongkar muat. Bandara juga terlihat ramai. Pertanian fokus pada 2 jenis bahan pangan, padi dan jagung. Sejalan dengan itu, terlihat 2 pabrik pengolahan jagung dan padi dengan silo berkapasitas sekira 6 ribu ton juga beroperasi dengan baik. Peternakan sapi dan kerbau sudah menjadi salah satu lumbung protein hewani Indonesia. Pak Sigar berseloroh bahwa jumlah hewan ternak sapi di Sumbawa bisa jadi jauh lebih besar dari jumlah penduduk Sumbawa. Sekedar informasi, jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa sebanyak sekira 480 ribu jiwa.

Pesantren dan sekolah juga dibangun dengan baik, terlebih diinisiasi oleh masyarakat. Bahkan ada 2 perguruan tinggi swasta yang siap memberikan output sarjana pendidikan, ekonom, ahli komunikasi, dan juga engineer handal. Prestasinya telah mengharumkan Indonesia. Belum lagi kehidupan sehari-hari yang religious. Masjid berdiri megah, juga dengan dana swadaya masyarkat.

Jika ditotal perjalanan darat Kami hari itu, sekira 650 KM, total 17 jam. Itu termasuk diskusi, makan, isi bahan bakar. Dan tentu saja, berhenti untuk melepas lelah. Safety first. Boleh dikatakan Kami mengiris wilayah Utara hingga Selatan Pulau Sumbawa. Sekira pukul 24.15 WITA, Kami baru tiba kembali di hotel.

Bicara visi, tentunya tidak ada ubahnya seperti perusahaan. Saya punya keyakinan, dengan visi yang jelas ada suatu yang dituju. Team yang bersama Kita pun akan menyeragamkan langkah, serempak bergerak. Berupaya bersama guna mewujudkan cita-cita korporasi.

Kami sangat terinspirasi dengan motto ‘Sabalong Samalewa’. Semoga Kami dapat menjadi bagian dalam membangun peradaban. Membangun dunia yang serasi selaras dengan membangun akhirat Kami. Rasanya, tidak berlebihan,  Saya dan team akan bangga jika menjadi bagian dari salah satu pilarnya.

Anda mau bersama membangun visi dunia akhirat ?

Mari kita tata kembali tujuan dan arah hidup kita. Agar setiap langkah bernilai ibadah.

Tiada Saat yang Pas untuk Menikah

Melewati area Kelapa Gading, ternyata melayangkan ingatan saya sekira 20 tahun lalu. Saat itu, Kelapa Gading masih relatif sepi, hanya jalan alternative menuju Yos Sudarso. Mal baru satu. Masih banyak tanah kosong. Saya pernah kos di Jalan Pegangsaan Dua. Berjarak sekira 15 menit naik angkot dengan area Kelapa Gading.

“Gila lu, Rik. Berani ambil anak orang (maksudnya berumah tangga) dengan kondisi seperti ini”, ujar seorang teman sambil geleng-geleng kecil, ketika melihat kos-kosan saya. Dia sengaja main ketika saya sedang melabur (baca : mengecat) tembok kamar. Saya sengaja minta off hari Sabtu itu untuk mencicil bersih-bersih. Lumayan, agar terlihat lebih cerah sebelum memboyong, belahan jiwa.

Continue reading “Tiada Saat yang Pas untuk Menikah”

Inspiring Guest

Saya terpaku sejenak ketika melihat sosok perempuan berjilbab yang duduk di bangku belakang.

“Kayaknya kenal, tapi siapa ya ?”, gumam saya dalam hati.

Saya tak berani memandang terlalu lama. Saya mengingat agak lama sembari mencari tempat duduk. Belum nemu juga untaian pengingat dalam otak ini. Saya pun fokus pada pembicara utama yang masih menyampaikan materi dengan sangat antusias. Materi yang disampaikan dalam rangkaian Inaugurasi Pengurus Komunitas Sukses Mulia.

Continue reading “Inspiring Guest”

Amanah Baru, Aksi Baru

Setelah mempertimbangkan utamanya tentang waktu, maka saya memutuskan untuk berkontribusi dengan Komunitas Sukses Mulia. Beberapa agenda dan waktu luang lainnya, harus digeser. Tetap berinteraksi dengan yang lain, walau dengan sistem pendelegasian dan frekuensi yang dikurangi. Saya bertemu dengan orang baru. Punya team baru. Tantangan tersendiri. Tapi saya tidak sendiri support dari orang-orang hebat seperti Mas Indrawan Nugroho Jamil Azzaini Kedua Farid Poniman juga sejawat lainnya, sangat mewarnai kiprah saya selanjutnya. Ini organisasi memang sudah disiapkan dengan baik.

Continue reading “Amanah Baru, Aksi Baru”

Jangan Mau Kalah

Malam itu saya menyempatkan bersilaturahim ke seorang sahabat. Dalam perjalanan saya ditemani sopir taksi. Pria berbadan sedang ini punya 3 anak yang memasuki masa kuliah. Pembicaraan mengarah kepada kesulitan ekonomi yang mulai dirasakannya.

“Waduh Mas, narik taksi sekarang berat (baca : sering tak dapat setoran). Eee.. baru-baru ini ada kabar ada group taksi besar yang mau masuk. Gimana itu menurut, Mas ?” tanyanya di tengah diskusi. Sembari menyebut nama group taksi yang sudah go public itu.

Continue reading “Jangan Mau Kalah”

Belajar dari Kuliah Tamu

Dalam sebulan ini ada 3 event memberikan sharing experience and knowledge di kampus yang berbeda. Materi yang disampaikan adalah sesuai dengan expertise dan experience pembicara. Saya pun mengajukan topik mengenai strategic sourcing. Pokok bahasan yang masih asing di telinga mahasiswa. Tantangan lainnya adalah waktu yang diberikan memaparkan materi hanya 1 jam atau semolor-molornya 75 menit. Sesi tanya jawab diberikan tambahan 30-45 menit.

Materi ini sudah ada bangunan intinya. Ibarat rumah pondasi dan dinding , sudah siap. Seperti biasa dan sesuai ajaran guru, saya menanyakan profil peserta, waktu dan tempat. Tentunya tidak lupa menggali apa yang diharapkan dari event tersebut. Hal ini untuk memperkaya materi plus membuat sisipan yang sesuai dengan kondisi peserta. Kalau rumah, ini ibarat desain interior dan perabotnya. Hal ini saya maksudkan agar lebih mudah dipahami dan sesuai harapan audience.

Continue reading “Belajar dari Kuliah Tamu”

Terobosan Sang Dosen

Bertemu sahabat yang satu ini, energi saya bertambah. Ia adalah salah satu alumni yang mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar. Hampir tidak pernah ia mengeluh akan profesi yang ia jalani. Setiap pertemuan maupun sekedar percakapan by phone atau by WA, memberikan kabar yang berbeda, tapi tetap berisi pesan positif. Saya teringat ketika pada masa ia kemanten anyar, teman ini memanfaatkan waktu pulang kampungnya dengan membawa beras untuk dijual kembali di Malang.

Continue reading “Terobosan Sang Dosen”

Contingency Plan

Pagi ini, saya harus bangun lebih awal. Kebetulan saya harus mengejar pesawat di Bandara Halim PK. Sekaligus melakukan dropping-off garwa saya ke travel langganannya. Direncanakan bangun pukul 03.30 WIB, alhamdulillaah dibangunkan Gusti Allah pukul 02.30 WIB. Masih ada 1,5 jam untuk persiapan. Setelah qiyamul lail, saya mencoba menuntaskan laporan semalam sekaligus mengirim pesan kepada team via email dan WA.

Continue reading “Contingency Plan”