Maafkanlah Aku

Maafkanlah Aku

Fa’fu ‘Anni

Disampaikan melalui WhatsApp oleh : Teten Kustiawan *). Semoga menjadi amal sholeh bagi penulis dan yang turut menyebarkan materi bernas ini.

Tak terasa hari-hari bersama Ramadan telah kita lalui, dan tak lama lagi biidzinillah kita akan bertemu Asyrul Awakhir. Tersisa pertanyaan untuk diri kita.

“Bagaimanakah ibadah dan amal shaleh yang telah kita lakukan ?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat mempengaruhi kesiapan kita memasuki Asyrul Awakhir. Sejauh mana target-target amaliyah Ramadan yang dicanangkan telah terpenuhi. Hal ini hendaknya menjadi muhasabah diri agar kita dapat mengukur kesiapan menyambut asyrul awakhir. Semoga hingga hari ini kita dalam keadaan tetap bersemangat menjalankan amaliyah Ramadan dan terus menyiapkan diri menyambut tibanya asyrul awakhir.

Ibunda kaum mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha memberikan gambaran bagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika tiba asyrul awakhir :

“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila memasuki sepuluh hari ( yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan) mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”. (HR Bukhari Muslim)

Aisyah radhiallahu ‘anha juga menerangkan bahwa pada asyrul awakhir Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa melakukan I’tikaf.

“Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat”. (HR Bukhari Muslim)

Beri’tikaf dengan meningkatkan kualitas serta kuantitas amaliyah Ramadan pada tahun ini memang terasa agak berbeda karena kita melakukannya di rumah masing-masing, tidak seperti biasanya kita beri’tikaf di Masjid. Namun jangan sampai kita kehilangan substansinya yaitu meningkatkan taqarrub ilallah.

Salah satu keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada asyrul awakhir adalah lailatul qadr, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh Aisyah radhiallahu ‘anha tentang doa apa yang dipanjatkan jika bertemu dengan malam lailatul qadr, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab :

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma’arif menjelaskan tentang doa ini, beliau menganjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah subhanahu wa ta’ala di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah subhanahu wa ta’ala seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.

Merasa amal kita masih kurang dan dosa kita begitu banyak merupakan modal utama agar jiwa kita selalu butuh akan pemaafan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini akan menjadi energi yang sangat dahsyat untuk mendorong kita semakin meningkatkan ibadah dan amal shaleh sekuat kemampuan kita terutama pada asyrul awakhir. Dilengkapi dengan banyak berdoa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni pada malam-malam asyrul awakhir di mana salah satu malamnya merupakan lailatul qadr maka menjadi dambaan kita semua ketika Allah subhanahu wa ta’ala berikan pemaafan atas segala dosa dan kesalahan kita, sehingga jiwa kita bersih Kembali.

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.

Catatan :
*) Teten Kustiawan adalah salah satu nara sumber nasional di bidang zakat. Saat ini, beliau diberi amanah sebagai Direktur Eksekutif/CEO, Baitul Maal Muamalat (BMM), salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

15 − 4 =