Menu Komplet

Sabtu lalu, saya punya hutang lagi dengan keluarga. Setidaknya dalam setengah hari Sabtu dan/atau Ahad, saya berkomitmen menghabiskan waktu bersama anak-anak dan tentunya dengan garwa alias istri. Kebetulan ada acara yang menghabiskan seharian bahkan hingga tiga hari. Sabtu pagi saya hadir, walau cuma sejam, di acara launching buku rekan trainer TEMPA. Alhamdulillaah mendapatkan hikmah silaturahim dengan beberapa teman yang hadir. Langsung dilanjutkan di tempat yang berbeda mengisi sharing session untuk Komunitas Pengusaha Muda di Tangerang Selatan. Sore harinya, saya bawa anak yang tengah untuk mengantar ke Bandara Soeta sekalian buka puasa bersama. Malamnya harus sudah ada di Denpasar agar esok paginya bisa ontime tiba di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

Jadwal di set-up agar saya masih bisa mengejar jadwal salah satu tamu penting perusahaan tempat saya bekerja. Tamu yang akan menjalankan bisnis bersama. Kebetulan setelah diskusi awal, dia berlibur di Bali dan punya keinginan kuat melihat si buaya darat, Komodo, di habitat aslinya. Perjalanan sembari melakukan lobbying dan negosiasi. Ibarat makan nasi gudeg, ini menu gudeg komplet plus layanan antar.

Sebelum pesawat mendarat di Labuan Bajo, Kami disuguhi pemandangan yang eksotik. Laut biru yang tenang dengan diselingi pulau dengan hamparan stepa. Area pulau-pulau yang ditutupi padang rumput pendek dengan beberapa semak dan pohon.  Setibanya di Bandara Komodo, Labuan Bajo, kami transit di hotel yang asri untuk menyeberang ke pulau lain.

Labuan Bajo memang sedang menggeliat dan terus berbenah. Bandaranya pun bersolek, terlihat cantik, modern walau beberapa spot masih dalam pengerjaan. Jalan darat mulai dibenahi. Terlihat beberapa tempat sedang di bangun drainase dan perbaikan jalan. Di samping berprofesi sebagai nelayan, kapal motor pun banyak yang menjadi kapal wisata. Menyusuri jalanan di Labuhan Bajo, terlihat tempat makan dan outlet travel agent. Pekerja dan pelaku usaha berbahasa Inggris dengan baik. Tempat penginapan juga bertebaran. Hotel dengan kategori bintang pun, sudah banyak dibangun. Mereka nampak telah siap dibanjiri wisatawan utamanya dari mancanegara. Salah satu peluang usaha yang berpotensi besar.

Diskusi di sela perjalanan laut menuju Pulau Rinca yang memakan sekira 2,5 jam itu pun berlangsung menarik. Aktivitas yang mengusir rasa kantuk. Tamu itu menyatakan kekayaan alam khususnya laut yang sangat luar biasa. Ia pun sudah mulai menggambar virtual bagaimana dia akan menjalankan bisnisnya. Menghamparkan alat buatannya di laut. Ia pun menyebut proyeknya bakal menyerap tenaga kerja. Memberdayakan masyarakat pesisir. Tour guide kami pun ikut antusias. Anak muda asli Flores itu juga bisa menerangkan dengan baik beberapa pertanyaan tentang potensi dan sosiobudaya daerah itu. Ia lulusan sekolah wisata di Ende.

Setibanya di dermaga, kami diberikan safety briefing dan ditemani oleh ranger/guide khusus. Kami memilih berkeliling dengan trek yang pendek di Pulau Rinca. Wajah teman seperjalanan saya pun berbinar, ketika ditunjukkan Komodo yang sedang leyeh-leyeh (baca : tiduran sembari berteduh) di bawah pohon. Momen itu pun ia abadikan dengan ponsel pintarnya. Sekira 1,5 jam menghabiskan waktu di salah satu daerah Taman Nasional Komodo, kami kembali ke kapal motor. Jadwal makan siang yang ditunda, diatur pemandu wisata untuk ditunaikan di atas kapal motor. Hidangan dimasak oleh crew sembari mengarungi lautan yang tenang itu. Mereka menyiapkan makanan dengan trampil. Saya dan crew kapal motor tidak makan siang, puasa Ramadhan. Guide dan tamu saya melahap makanan, setelah sebelumnya merasa tidak sreg makan di depan kami. Hampir saja mereka tidak mau makan. Mereka menghormati kami yang muslim. Indahnya toleransi. Tapi setelah mendapatkan penjelasan saya, akhirnya mereka pun melahap masakan yang saya hitung ada 5 menu itu. Belum termasuk buah yang disiapkan, ada 3 macam buah segar. Sayangnya, buah favoritnya, Buah Naga, tidak tersedia.

Sebelum maghrib, Kami menapakkan kaki di daratan Pulau Flores. Lobi dan diskusi diteruskan kembali malam harinya. Pemilik perusahaan yang menetap di Mallorca Spanyol itu, meminta saya berkenan makan malam bersama. Ia ingin membayar hutangnya, karena siang tidak bisa makan bersama.

Menu perjalanan yang komplet, wisata, lobbying, menikmati makanan, termasuk rencana pemberdayaan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *