Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT, kan ?

“Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”

Oleh : Salim A. Fillah

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.

Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.

Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.

Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.

Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Tetaplah berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.

Mainkan saja peranmu dengan sebaik sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.

Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasah menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.

Rezeki dari Sopir Angkot

Cerita ini saya untai beberapa bulan lalu. Saya munculkan lagi sebagai pengingat saya pribadi. Harapannya, juga bagi para sahabat yang membacanya.

Bagaimana menyikapi hiruk pikuk dunia ini ? Rezeki dari Allah SWT selalu ada untuk kita.

 

Rezeki dari Sopir Angkot

by Ari Wijaya

 

Setelah ngobrol sama Ibu, saya berniat bersilaturahim dengan teman lama. Apalagi silaturahim itu disertai dengan hidangan rujak cingur, menambah semangat bergegas. Javanese salad pakai bumbu petis ini jadi penarik tambahan.  Taksi pun tak kunjung dapat dihubungi nomornya. Kalau istri tahu saya nelpon taksi, sudah pasti dapat sindiran.  Ia sering menyarankan naik public transport alias angkot atau bis.

Keputusan naik angkot akhirnya saya ambil. Secara teoritis, saya harus naik 3 kali angkot untuk mencapai tempat pertemuan. Angkot menuju Terminal Landungsari tak menemui kesulitan, nangkring sebentar di pinggir jalan, sudah ada yang menghampiri. Landungsari menuju Batu yang menguji kesabaran. Angkot banyak jumlahnya, tapi kosong. Alhasil, menunggu antrian yang lama. Antrian berjejer. Banyak makna. Apakah ekonomi sedang lesu ? Jam yang tidak pas ? Banyak hal. Tapi saya tidak mau berlama-lama kebingungan. Bisa terlambat meemnuhi janji. Saya cari yang tidak antri, tetapi semuanya wait and see. Tidak berani ambil risiko. Misal berangkat kosong, berharap ada penumpang di perjalanan. Nyeser kata arek Malang.

Entah kenapa, saya mengarah kepada salah satu angkot ungu. Saya perhatikan sopirnya ramah, terlihat wajahnya santai, tidak sangar. Sembari menunggu saya ajak obrol sang sopir sesuai dengan keinginan saya agar cepat tiba di tempat tujuan.

“Mas. Kalau penumpang penuh, berapa didapat sak tarikan (maksudnya satu rit) ?” tanya saya memulai pembicaraan agak serius.

“Ya, empat puluh ribu lah, Pak” tukas dia cepat.

Langsung dia Saya salami sembari menyodorkan selembar uang pecahan 50 ribu.

“Kalau segini cukup ? Sampeyan anter Aku ke Pesanggrahan, tapi langsung jalan sekarang. Tapi, kalau di jalan ada penumpang, silakan ambil” kata saya bak nego dengan supplier.

Lumayan memotong waktu tunggu. Kalau pun naik taksi, kira-kira juga segitu. Namun, insya Allah beda rasanya. Sedan sama mobil van alias angkot ya, jelas beda ya..

Sekedar memberikan gambaran, jika Anda pernah berkesempatan ke Jatim Park atau Kusuma Agro Wisata di Kota Wisata Batu, Pesanggrahan itu area yang letaknya sekira 2 KM ke arah Songgoriti. Masih di dalam kota.

Dia pun tersenyum dan langsung mengiyakan sembari berucap  Alhamdulillaah sebagai tanda syukur.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang rezeki. Saya pun menyimaknya dengan seksama.

Dia sopir yang sudah 12 tahun di jalan. Punya anak yang duduk di kelas 8 alias 2 SMP. Hikmah rezeki dari Gusti Allah, dia pahami dengan sangat dalam. Sang sopir ini sering disuguhi peristiwa bahwa dalam narik angkot acapkali uang yang dibawa pulang pas untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Pernah suatu siang, Ia sudah dapat target. Itu luar biasa. Acapkali sore menjelang isya’, baru target didapat. Ia berniat menambah jam narik sekira satu jam atau 2 rit. Batu-Landungsari pergi pulang. Maksud hatinya, lumayan lah buat nambah tabungan.

Apa hasilnya ?

Ternyata cuma dapat 2 penumpang, alias 8 ribu. Itu pun setara untuk beli bensin perjalanan tambahan tadi. Secara total hasilnya sama, namun waktu yang malah mengurangi waktu istirahatnya. Peristiwa itu sering dirasakan bahkan berulang kali. Ketika telah dicukupkan, tapi ada semacam ingin nambah, maka ternyata belum diijinkan Gusti Allah. Begitu tuturnya lirih. Sehingga ketika angka yang dikejar sudah di tangan, maka sejak saat itu, ia putuskan pulang. Bertemu istri dan anaknya. Rezeki dalam bentuk lain yang tentunya sulit diuangkan. Mendapati dan bersua keluarga dengan waktu yang lebih banyak.

Setelah sekira 15 menit berjalan, pas tanjakan sebelum Temas, ada satu penumpang naik.

Ia pun tertawa seakan menambah yakin dan membenarkan ceritanya sembari berkata :

“Alhamdulilaah. Ini lho Mas, apa yang Aku sampaikan tadi. Sampeyan sudah kasih uang. Sudah membolehkan Saya ambil penumpang di jalan. 1 rit ketutup, wis. Tinggal cari tambahan. Aku tadi berharap banget. Tapi coba, sepanjang jalan tadi, ya cuma satu orang ini, tho Pak ?” dia bertutur sembari menoleh dan manggut-manggut kepada Saya.

Saya pun memandangnya dengan senyum tanda sepakat. Memang sepanjang jalan tadi sepi. Penumpang tidak terlihat sepanjang perjalanan kami.

“Ini yang Aku sebut sudah ditakar cukup. Aku percaya banget itu. Aku nggak boleh maksa”, sambungnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat dari sikapnya. Menurut hemat saya, ada satu hal yang dapat dipetik dari sopir angkot ini.

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Hal penting yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan ikhtiar, diperkuat dengan doa, dan tawakkal kepada Allah. Mas Sopir Angkot tadi telah melakukannya. Ia pun menyerahkan kepada Allah sisanya. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Ketika ikhtiar, doa serta tawakal telah dipersembahkan, Kita insya Allah diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah memberi karunia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Perjalanan silaturahim saya kepada teman, jelas membawa rezeki. Salah satunya adalah reminder dari Sang Sopir Angkot sekaligus kuliah setara 1 SKS. Pelajaran tentang bagaimana memaknai rezeki Allah SWT.

Anda pun tak luput dari pergulatan menjemput rezeki Allah, bukan ?

Mari kita tata kembali niat, waktu, dan tentunya cara pandang kita. Dan tiada henti meningkatkan ketakwaan kita kepada Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah SWT.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.”

(Surah At-Talaq ayat 2-3)

 

Sabalong Samalewa by Ari Wijaya

Tulisan ini saya rangkai sekira setahun lalu…Sengaja saya tampilkan kembali untuk memberi semangat utamanya diri sendiri dan my new team, ‘the young guns’ new venture non oil and gas…

Sabalong Samalewa

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Menjelang maghrib, Kami mendarat di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III atau dulu dikenal dengan Bandara Brangbiji, Sumbawa Besar. Malam itu, Kami manfaatkan waktu sebaik mungkin. Kami berdiskusi sembari makan ikan sepat bakar yang rasanya maknyus. Pembahasan ringan tapi serius dengan salah seorang pejabat penting di Pemprov NTB yang kebetulan sedang ada dinas di Sumbawa Besar. Beliau menyertai kunjungan Gubernur NTB di Pulau Sumbawa. Esok pagi sudah menunggu jadwal padat lainnya. Kami menginap di hotel seberang bandara. Wake-up call nya pakai ketuk pintu. Sederhana namun efektif.

Esok harinya. Kami sepakat bersama team setempat memulai perjalanan sekira pukul 06.30 WITA. Perjalanan pertama Kami meluncur ke area sejauh 70 KM arah Bima. Sebuah kota kecamatan yang kaya akan hutan bambu. Kecamatan ini masih masuk di wilayah Kabupaten Sumbawa. Beberapa bukit terlihat penuh dengan tanaman bambu. Usai melihat sekeliling, kendaraan Kami arahkan ke salah satu kampus dan pesantren di balik Bukit Olat Maras. Kami singgah karena mereka punya potensi mikrohidro. Ada dam di hulu sungai dekat pesantren. Dan yang tak kalah penting, potensi engineer masa depan yang dilahirkan kampus itu. Bakda Dhzuhur, Kami meluncur ke Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Saya mencoba menggali informasi dan teknologi  dengan teman yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa.

Dalam perjalanan darat, khususnya  di wilayah Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Saya melihat tulisan di atap beberapa kantor pemerintahan dan rumah penduduk. Tercetak tebal dan mecolok dengan huruf kapital :

“SABALONG SAMALEWA”

“Pak, dua kata itu semboyan Kabupaten Sumbawa Besar ? Apa artinya ?” tanya Saya kepada Pak Sigar, sembari mengarahkan telunjuk Saya ke atap sekolah. Pak Sigar adalah orang yang berkenan menjadi pendamping dan penunjuk arah perjalanan Kami. Ia bersama Pak Dayat yang bertugas di belakang kemudi.

“Betul. Itu artinya, membangun dunia akhirat” jawab beliau sembari tersenyum dan penuh percaya diri.

Tidak jauh dari warung makan nasi campur, tempat Kami sarapan, ada gapura dengan kalimat tambahan pada tulisan itu : ‘Lema Mampis Bawa Rungan’. Jika diterjemahkan bebas, mempunyai makna : ‘agar cepat membawa kabar baik’. Mari Kita rangkai kalimat tersebut.

“Sabalong Samalewa, Lema Mampis Bawa Rungan”.

Jika untaian kata yang menjadi visi sebuah kabupaten tersebut dengan berbekal terjemahan bebas Pak Sigar, maka akan berarti :

“Membangun Dunia Akhirat, Agar Cepat Membawa Kabar Baik”

Subhanallaah. Salah satu pernyataan tentang visi, cita-cita yang sangat luhur. Ketetapan hati para founding father Sumbawa yang visioner. Visi yang komplet dengan menggabungkan upaya duniawi dengan ukhrowi. Menurut hemat Saya, hal itu telah dibuktikan. Beberapa hasil upaya pembangunan, mulai memberikan kabar baik bagi masyarakat Sumbawa Besar. Jalan yang mulus. Setidaknya jalan yang Kami lalui, hampir tidak ditemui lubang. Kalau ada itu pun minor. Pelabuhan Badas terlihat menggeliat dengan beberapa kapal besar buang sauh untuk bongkar muat. Bandara juga terlihat ramai. Pertanian fokus pada 2 jenis bahan pangan, padi dan jagung. Sejalan dengan itu, terlihat 2 pabrik pengolahan jagung dan padi dengan silo berkapasitas sekira 6 ribu ton juga beroperasi dengan baik. Peternakan sapi dan kerbau sudah menjadi salah satu lumbung protein hewani Indonesia. Pak Sigar berseloroh bahwa jumlah hewan ternak sapi di Sumbawa bisa jadi jauh lebih besar dari jumlah penduduk Sumbawa. Sekedar informasi, jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa sebanyak sekira 480 ribu jiwa.

Pesantren dan sekolah juga dibangun dengan baik, terlebih diinisiasi oleh masyarakat. Bahkan ada 2 perguruan tinggi swasta yang siap memberikan output sarjana pendidikan, ekonom, ahli komunikasi, dan juga engineer handal. Prestasinya telah mengharumkan Indonesia. Belum lagi kehidupan sehari-hari yang religious. Masjid berdiri megah, juga dengan dana swadaya masyarkat.

Jika ditotal perjalanan darat Kami hari itu, sekira 650 KM, total 17 jam. Itu termasuk diskusi, makan, isi bahan bakar. Dan tentu saja, berhenti untuk melepas lelah. Safety first. Boleh dikatakan Kami mengiris wilayah Utara hingga Selatan Pulau Sumbawa. Sekira pukul 24.15 WITA, Kami baru tiba kembali di hotel.

Bicara visi, tentunya tidak ada ubahnya seperti perusahaan. Saya punya keyakinan, dengan visi yang jelas ada suatu yang dituju. Team yang bersama Kita pun akan menyeragamkan langkah, serempak bergerak. Berupaya bersama guna mewujudkan cita-cita korporasi.

Kami sangat terinspirasi dengan motto ‘Sabalong Samalewa’. Semoga Kami dapat menjadi bagian dalam membangun peradaban. Membangun dunia yang serasi selaras dengan membangun akhirat Kami. Rasanya, tidak berlebihan,  Saya dan team akan bangga jika menjadi bagian dari salah satu pilarnya.

Anda mau bersama membangun visi dunia akhirat ?

Mari kita tata kembali tujuan dan arah hidup kita. Agar setiap langkah bernilai ibadah.

Layanan Terus ON by Ari Wijaya

Layanan Terus ON
by Ari Wijaya

Seorang gubernur di Negeri Seberang mendapatkan kepercayaan dari presidennya untuk menjadi tuan rumah pertemuan para tokoh negeri serumpun. Sang gubernur berpikir keras, untuk memuliakan tamunya. Menurut dia, salah satunya adalah kesan pertama harus menggoda. Maka ia memerintahkan stafnya untuk membuat welcome drink yang cepat saji, khas dan menyehatkan. Para staf membuat teko raksasa dengan ratusan kran. Kran itu untuk memudahkan dan mempercepat pengambilan.

Gubernur membagi tugas. Sebagai penyedia welcome drink, ia meminta rakyatnya yang di lereng gunung untuk menyumbangkan susu sapi segar satu liter tiap satu keluarga. Teknisnya, setiap selesai memerah susu bakda subuh, susu dimasak dan diantar ke alun-alun kota. Susu dituangkan di teko raksasa di alun-alun kota. Pusat penyambutan para tokoh negeri serumpun.

Seluruh rakyat lereng gunung itu antusias. Tak sedikit yang mempertanyakan kebijakan itu. Tapi, mereka mulai menyiapkan susu terbaik. Susu daerah itu terkenal segar, kental dan legit. Namun, si Pulan, salah satu penduduk lereng gunung, ada yang berpikiran lain.

“Jika aku menyumbang satu liter air, aku yakin nggak kentara. Nggak terasa. Toh, masih ada 12.303 liter susu. Kalau tercampur 1 liter air, pasti tak terasa”.

Hari perhelatan pun tiba. Benar sesuai perkiraan Sang Gubernur, tamu berdatangan bergelombang. Banyak sekali. Seluruh tamu, sembari menunggu opening ceremony, diberikan gelas dan dipersilakan menikmati welcome drink. Gubernur naik panggung dan menyambut tamunya dengan bangga :

“Saudara-saudaraku serumpun, silakan menikmati minuman hasil produksi unggulan kami. Susu sapi yang segar, kental, legit, dan insya Allah menyehatkan”.

Panitia mulai mendampingi dan menunjukkan teko raksasa. Tamu pun menghampiri kran dengan tertib. Segera setelah gelas terisi, mereka meminum welcome drink. Tidak lama setelah mereguk minuman itu. Mereka heran, terpaku sejenak. Minuman yang katanya susu tadi memang segar, tapi bening dan hambar. Masya Allah ! Ternyata mereka minum air! Bukan susu yang segar, kental dan legit. Suasana pun heboh dan acara berantakan. Meski air juga menyehatkan, tapi Sang gubernur pun tetap malu pada para tokoh dan tentunya Pak Presiden.

Apa gerangan yang terjadi ? Selidik punya selidik, ternyata seluruh penduduk lereng gunung berpikiran seperti si Pulan. Menyumbang air, bukan susu sapi segar. Toh seliter ini, tak kan terasa. Begitu, pikiran yang ada dalam benak mereka. Gubrak !

Sahabat, ijinkan saya membuat perumpaan kejadian di Negeri Seberang terjadi pada perusahaan kita. Saya ambil contoh fungsi procurement. Mohon dimaklumi, karena saya pernah mendapat amanah pada bagian pembelian.

Fungsi pengadaan adalah bagian team di sebuah organisasi. Sama dan setimbang perannya seperti fungsi lainnya. Tapi coba dibayangkan. Jika salah satu saja mencoba menurunkan layanannya, maka bisa berakibat buruk.

Ini misalnya :

“Ah, sekali-kali lah, negosiasinya nggak usah repot. Kali ini harga tak perlu dinego. Toh, nanti penghematan bisa diperoleh teman-teman buyer yang lain”, gumam salah satu buyer sebutlah namanya si Fulan.

“Target penghematan bisa ditutup oleh prestasi si Badu atau yang lain. Kali ini, santai dulu lah”

Apa yang terjadi jika si Badu punya pikiran yang sama dengan si Fulan. Parahnya, seluruh team saat itu mempunyai pikiran yang sama ? Bisa jadi budget jebol. Perusahaan harus membeli lebih mahal dari seharusnya. Untung bisa menipis. Kalau pikiran itu dilakukan juga oleh insan organisasi yang lain? Berpikir dan bertindak sama untuk menurunkan tingkat layanannya kepada orang lain atau bahkan kepada pelanggannya. Kepada client-nya ? Perusahaan bisa tidak kompetitif. Bangkrut dan akhirnya tutup!

Layanan tak boleh menurun. Harus dijaga terus. Satu saja yang menurunkan, bisa saja itu terjadi bersamaan. Karena kita tidak tahu, kapan saat itu terjadi. Bisa bersamaan seperti tadi. Jika sudah begitu, bisa seperti susunan kartu domino yang tumbang. Ia tidak roboh sendirian, tapi merembet dan merobohkan susunan di sampingnya. Efek domino. Bisa berakibat fatal, bukan ? Karena tidak hanya Kita yang roboh, tapi meluluhlantakkan semuanya.

Saya yakin pada fungsi yang lain juga harus tetap nyala. Semangat. Karena kita mata rantai yang saling bergandengan.

Layanan jangan pernah ‘mati’. Kalau mulai turun, mari coba dicari segera penjungkitnya. Jangan pernah berpikir dan berniat sekali pun untuk OFF. Layanan harus terus ON.

Anda mau kita kalah ? Kita luluh tantak ?
Saya yakin tidak ada yang ingin itu terjadi.

Mari berubah.
Mari berbenah.
Mari bahu membahu. Bekerja keras. Saling mendukung. Saling mendoa.

Orang-orang Terluka by Salim A. Fillah

ORANG-ORANG TERLUKA
@salimafillah

 

Namanya Mas Tumenggung Sumadipura, bupati Kasultanan Yogyakarta untuk wilayah Japan, Mojokerto sekarang.

Selama menjabat, kecakapannya memerintah membuat wilayahnya adalah yang termakmur di Mancanegara Timur. Ini yang membuat Bendara Pangeran Harya Dipanegara mempromosikan Sang Bupati pada ayahnya untuk menduduki jabatan Patih, menggantikan Raden Adipati Danureja III yang telah uzur.

Sultan Hamengkubuwana III yang selama memerintah memang selalu amat memerhatikan saran-saran putra sulungnya, merasa heran dengan pilihan sang pangeran. Menurutnya, Sumodipuro masih terlalu muda, berasal dari kalangan rakyat biasa, dan logat Jawa Wetan-annya yang dianggap kasar sering jadi cibiran para pejabat lain. Tapi Dipanegara meyakinkan ayahnya. Dan Sumadipura pun dilantik menjadi Pepatih Dalem Danureja IV pada 2 Desember 1813. Jabatan ini akan didudukinya hingga 34 tahun kemudian, 1847.

Dengan latar belakang yang lemah di hadapan para pejabat lain, pada awal bertugas, Danureja IV hanya dapat memegang kendali pemerintahan dengan dukungan penuh Dipanegara. Berkat pasang badannya sang Pangeran atas segala kebijakannya, Danureja IV melewati tahun-tahun pertama jabatannya yang sebenarnya penuh rongrongan dengan prestasi gemilang.

Tapi Danureja IV menyembunyikan sesuatu di hatinya. Dan itu adalah sebuah luka. Luka karena hidup dalam bayang-bayang.

Dia merasa bahwa seakan-akan seluruh dunia berkata padanya,

“Kamu bukan apa-apa seandainya bukan karena Pangeran Dipanegara.”

Dia merasa bahwa semua mata menatapnya dengan pandangan meremehkan. Ketika dia bicara, seakan para bawahannya saling lirik dengan bibir dimencongkan, pula semua mulut kasak-kusuk menggunjingnya di belakang.

Anehnya, segala budi baik Dipanegara padanya justru bagaikan taburan gula yang makin membusukkan luka di hatinya. Terobsesi untuk membuktikan bahwa dirinya bisa, dirinya mampu, & dirinya hebat tanpa Sang Pangeran membuat sang pejabat yang terjangkit sindrom ‘kere munggah bale’ ini kian gelap mata. Ketika Hamengkubuwana III mangkat dan digantikan Raden Mas Ibnu Jarot yang masih kanak-kanak sebagai Hamengkubuwana IV pada 1816, sang Patih mulai menunjukkan kedurjanaannya.

Dia mulai mengganti pejabat-pejabat bawahannya dengan para penjilatnya dan merumuskan berbagai kebijakan yang merugikan rakyat. Ini semua bersebab di luar Pangeran Dipanegara yang mulai lebih banyak berdiam di Tegalreja, sosok-sosok kuat lain yang dia dapati mampu menjadi patron pelindungnya hanyalah Pemerintah Kolonial Belanda. Orang-orang asing yang amat berkepentingan terhadap Keraton ini menggunakannya sebagai alat bagi segala keuntungan mereka.

Maka naskah Jawa zaman itu mulai menggambarkannya sebagai seorang rusak. Dia disebut “setan kulambi manungsa”, syaithan berbaju manusia, yang “angecu sarwi lenggah”, merampok rakyat sembari duduk manis. Sebaliknya, Jenderal Herbert Merkus de Kock, musuh Dipanegara dalam perang Jawa mencatat sang Patih dalam memoarnya sebagai, “Seorang Jawa yang baik, berbusana rapi, suka mengendarai kuda dengan gagah, punya gundik-gundik cantik, dan tak bisa lepas dari pipa madat.”

Untuk memuaskan hatinya yang luka, Danureja IV rela menjual jiwanya untuk menjadi antek asing.

Antiklimaks hubungannya dengan Sang Pangeran terjadilah. Dalam sebuah penghadapan di awal masa bertakhtanya Sultan bayi Hamengkubuwana V, 1822, menanggapi berbagai laporan atas kesewenang-wenangan anak buah Danureja IV, Dipanegara selaku Wali Sultan menginterogasinya di paseban, dan sang Patih terus mengelak dengan berbagai dalih. Tak mampu menahan emosi, Pangeran yang amat disegani itu menarik salah satu selop alas kakinya dan dengan langkah murka mendekati Danureja IV yang duduk bersembah dan memukulkan selop itu ke kepala dan wajah sang patih.

Penghinaan yang direkam oleh Babad Kedung Kebo itu takkan pernah dilupakan oleh Danureja IV sepanjang hidupnya.

Ketika dalam suatu pesta bersama Belanda, disajikan anggur dan beraneka minuman keras, Danureja IV hendak membalas penghinaan dengan sebuah gelas yang dia tahu Dipanegara takkan sudi meminum isinya.

“Santri udik itu malam ini akan dipermalukan di tengah pesta orang beradab”, batinnya.

Tapi Dipanegara melakukan hal yang kian menyalakan dendam Danureja IV. Begitu gelas diterima, sang Patih kaget karena wajahnya basah dikapyuk, tersiram wine yang dihempaskan Sang Pangeran.

Semenjak itu, seluruh hidup Danureja IV akan didedikasikan untuk menghancurkan kedudukan Pangeran Dipanegara di Keraton Yogyakarta. Dan untuk itu, dia memperoleh mitra yang sama dungunya; Residen A.H. Smissaert. Orang yang telah menaikkannya ke jabatan administratif tertinggi di Keraton itu, dimusuhinya dengan sepenuh kedengkian.

Di dunia ini banyak kisah tentang orang terluka, bahkan sejak zaman Rasulullah ﷺ.

Aus dan Khazraj yang sepakat berdamai telah hendak mengangkatnya menjadi Raja Yatsrib. Mahkota dan singgasana telah disiapkan, harinyapun ditentukan. Tetapi Muhammad ﷺ datang dari Makkah membuat orang-orang berpandangan bahwa, “Jika kita memiliki Nabi utusan Allah, apa perlunya ada Raja?”

‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul yang batal jadi raja itu terluka. Luka yang bukannya dia sembuhkan dengan mengakui keutamaan Rasulullah ﷺ yang dengan itu akan membuatnya menjadi tokoh Anshar paling terkemuka; tapi justru dijaganya luka itu agar kian bengkak, bernanah, dan busuk.

“Mereka menyangka tiap teriakan keras ditujukan pada mereka.” (QS Al Munafiqun: 4)

Karena luka itu dijaganya tetap sebagai luka, maka tak beda apakah dipukul palu ataupun dijabat dengan sarung tangan beludru dia tetap merasa kesakitan. Dia menanggapi uluran tangan Rasulullah ﷺ yang hendak membimbingnya ke jalan hidayah dan kemuliaan dengan raungan kepedihan. Dia menyambut uluran lembut Sang Nabi ﷺ dengan jerit kesakitan. Dia selalu melebih-lebihkan dan  bertingkah dengan rasa terancam yang begitu tinggi.

Di hadapan Rasulullah ﷺ dia menunjukkan wajah paling manis, kata-kata paling lembut, dan dukungan bertabur puja-puji paling meyakinkan. Tapi di belakang, digalangnya kekuatan penentang paling keras, dikontaknya Yahudi maupun Quraiys, didirikannya Masjid Dhirar untuk pecah belah, ditiupkannya berbagai fitnah keji termasuk pada Ibunda ‘Aisyah, dan dibangkit-bangkitkannya permusuhan jahiliyah.

Di dunia ini banyak kisah tentang orang terluka, pula di negeri kita. Mereka yang seperti ‘Abdullah ibn Ubay dan Danureja IV, demi luka hatinya rela menjual diri untuk kepentingan musuh bangsa, musuh agama.

Relay Run by Ari Wijaya

Relay Run by Ari Wijaya

 

Kenalkah anda dengan Purnomo? Christian Nenepath? Mardi Lestari? Suryo Agung? Atau nama-nama itu masih asing di telinga ?

Kalau masih sulit mengambil catatan ingatan, coba ditanyakan ke ‘Mbah Gogel’.

Apakah sekarang sudah punya informasi ? Ya, benar. Mereka adalah sprinter andalan Indonesia pada masanya. Mereka atlit pelari jarak pendek. Juara 100 m, bahkan ada yang juga juara 200m. Setidaknya setingkat Asia Tenggara. Bahkan Purnomo pernah menorehkan sejarah sebagai pelari Asia pertama yang masuk semifinal Olimpiade. Itu terjadi di  Los Angeles, AS pada tahun 1984. Level dunia, kita mengenal : Carl Lewis, Ben Johnson, Donovan Balley, Ato Boldon, Tyson Gay, Asafa Powel, Usain Bolt.

Pertanyaan selanjutnya, masih terkait urusan lomba lari. Pernahkan anda melihat perlombaan lari estafet ? Relay run ? Jika anda penggemar atletik, relay run adalah salah satu cabang lari yang sangat menarik ditonton dan diamati. Adu strategi. Adu kendali ego. Tim berisi 4 pelari cepat ini. Biasanya 4 x 100 m atau 4 x 400 m. Kuartet pelari yang dapat mengontrol ego dan kompak adalah salah satu jaminan kemenangan. Seorang pelari hebat saat juara sprinter perorangan, belum tentu bisa membawa teamnya menjadi juara relay run. Bahkan misalnya mereka merebut juara 1 hingga 3 saat lari jarak pendek perorangan sekali pun.

Lari beranting adalah lomba lari yang terdiri dari 4 sprinter. Mereka harus menyerahkan tongkat pada daerah tertentu. Serah terima tidak dilakukan dalam wesel peralihan (area serah terima), maka team bisa diberikan diskualifikasi. Termasuk jika tongkat nya terjatuh. Pelari penyambung biasanya saat peralihan tidak melihat ke belakang. Terus bagaimana peralihan berlangsung lancar ? Pelari awal memberi aba-aba tertentu. Plus punya kecepatan yang hampir berimbang. Wow, memang challenging, kan ?

“Yak !” begitu biasanya mereka menyepakati saat perpindahan.

Kode bisa beragam, saat menempelkan tongkat ke telapak tangan penerima. Dengan kata itu, pelari penyambung akan segera menggenggam tongkat dan terus menambah kecepatan. Waktu perpindahan adalah krusial. Laju lari pelari pertama dan selanjutnya, harus selaras. Sama lajunya. Tidak boleh ada jeda. Tiada waktu tunggu.

Tidak jarang kita lihat ada kelompok yang tercecer saat awal lomba ternyata bisa memperbaiki posisi. Bahkan bisa menang. Mereka melakukan peralihan pada tempat yang tepat. Kecepatan lari terjaga. Tidak ada saat melambat saat tongkat dialihkan. Pergantian tongkat estafet mereka, mulus.

Sebaliknya, ada tim yang dihuni pelari-pelari hebat. Di atas kertas mereka favorit. Bagiamana tidak, 2 dari 4 pelarinya juara 1 dan 2 saat lomba perorangan. Tapi, mereka malah tercecer. Bahkan saat peralihan ada perlambatan. Transfer tidak mulus. Pelari tidak menemukan momen yang pas. Bahkan ada yang terpaksa menghentikan lomba. Penerima tongkat estafet berlari tidak pada saat yang tepat sesuai skenario. Tongkat pun terjatuh. Alhasil, satu tim gagal finish. Tereliminasi.

Salah satu buktinya adalah Olimpiade 2012 di London. Waktu lomba perorangan, sprinter putri Jamaika Shelly-Ann Fraser menjadi kampiun. Juara 3 juga sprinter dari negera yang sama, Veronica Campbell-Brown. Carmilita Jetter pelari AS hanya menyabet perak. Namun, saat lomba estafet 4 x 100m, Carmilitta-Jetter bersama Tianna Madison, Allyson Felix dan Bianca Knight, membawa Tim AS berlari cepat. Saat final, terlihat mereka kompak. Peralihan tongkat mulus. Tim Jamaika terlihat tersendat saat melakukan perpindahan tongkat pada pelari akhir. Sorak sorai penonton, seakan menambah kecepatan Tim AS. Mereka juara. Mereka menumbangkan kuartet beranting Jamaika. Tim Favorit pula. Plus menumbangkan rekor dunia yang telah bertahan selama 27 tahun. Fantastis !

Keunikan lomba lari estafet ini bisa juga kita lihat juga pada beberapa perubahan pimpinan entitas bisnis. Bagaimana penyerahan tampuk pimpinan GE dari  Jack Welch kepada Jeff Immelt pada 2001. Jack tidak ingin performa GE labil. Ia menyiapkan penggantinya dengan sangat hati-hati. Prosesnya direncanakan lumayan lama. Ia punya strategi khusus. Ada 3 kandidat kuat pengganti Jack Welch. Saat memilih Jeff Immelt, dua orang yang tidak terpilih pun pada akhirnya menjadi CEO ternama. Salah satunya menjadi CEO Boeing. Betapa 3 kandidat yang disiapkan Jack, sama hebatnya, bukan ? Bagaimana pendapat anda tentang kinerja GE saat ini ? Menurut hemat saya, tiada goyangan berarti. GE masih berjaya. Malah ia baru saja mengambil alih Alstom untuk memperkuat bisnisnya di bidang kelistrikan.

Cerita lainnya, Lee Kun-hee mendapat tongkat estafet dari ayahnya Lee Byung-chul, founder Samsung. Siapa yang tidak kenal Samsung ? Perusahaan Korea yang mendunia. Beberapa produknya menguasai pasar. Lee Kun-hee saat ini menyiapkan Lee Jae-yong sebagai pelari selanjutnya. Jay-yong tidak lain adalah salah satu anak kandungnya. Alias cucu dari founder Samsung.

Proses peralihan kepemimpinan , tak jarang ada yang melalui jalur keturunan. Banyak pula yang memilih jalur professional. Benang merahnya adalah menyiapkan tongkat tampuk kepemimpinan kepada leader baru. Proses pembentukan dan penyiapan kader yang mempunyai kesamaan visi. Selaras dengan kecepatan sebelumnya. Sejalan dengan visi misi saat ini. Saat peralihan adalah masa krusial. Tapi, ketika tongkat sudah ditangan, maka yang lebih penting ialah bagaimana berlari lebih cepat. Berusaha dan berupaya semaksimal mungkin agar bisa mendahului pesaing. Jadi juara !.

Berkaca pada perjuangan Tim AS, saya yakin, ketika lomba itu berlangsung, penonton yang mendukungnya, akan berteriak, bersemangat ! Adrenalinnya naik ! Turut tegang. Tidak sedikit yang ikut berdiri memberi semangat. Kalau nonton siaran langsung via televisi pun, kita seakan berada di dekatnya. Seakan kita juga sedang berlari. Turut mengejar dan berlomba menampaki garis finish.

Dalam organisasi, bisa jadi kita tidak turut menentukan strategi relay run. Kita nggak ngerti. Para pelari itu punya cara memenangkan perlombaan. Kekompakan. Kesamaan visi. Dan tentunya, cara dan semangat memenangkan kompetisi. Tapi, penonton tetap bisa mengambil peran. Menjadi bagian dari strategi pemenangan itu. Dukungan tak kenal lelah. Serasa kecil memang. Tapi bukan tidak mungkin, justru upaya itu bisa menambah energi tim untuk menjadi kampiun.

Saya yakin, anda pun ingin menjadi bagian dari tim untuk meraih kemenangan. Karena ketika jadi juara, cerita sukses itu akan terasa manis untuk ditularkan. Masa perjuangan pun terkenang Indah. Ada rasa bangga terbersit di dada kita.

Mau merasakan aura kemenangan itu ? Mari berkontribusi. Mari mengambil peran. Sekecil apa pun itu.

Bertepuk Sebelah Tangan by Ari Wijaya

 

Sayup-sayup terdengar lagu ‘Pupus’ yang dilantunkan oleh Group Band Dewa 19.

Aku tak mengerti, apa yang kurasa
rindu yang tak pernah begitu hebatnya
aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau

aku persembahkan hidupku untukmu
telah ku relakan, hatiku padamu
namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara

Reff :
baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku

semoga aku akan memahami sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban hingga kaupun mau

aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau”

Coba kita perhatikan dan cermati bait reffren-nya mengalun sendu :

“baru ku sadari…

cintaku bertepuk sebelah tangan …

kau buat remuk sluruh hatiku…”

Rasa itu bisa terjadi juga pada dunia dagang. Hubungan pembeli dengan penjual. Kenapa demikian ? Kok bisa ?

Begini…

Pada galibnya, hubungan pembeli dengan penjual adalah hubungan yang tak terpisahkan pada pasar di mana pun. Namun, yang menjadi tidak umum, adalah bagaimana pembeli mengetahui lebih rinci kondisi penjual. Seluk beluk pemasok sangat perlu diketahui agar Kita mengenal dan mendapatkan pasangan yang serasi. Ada 3 hal utama, menurut hemat Saya, yang perlu digali lebih dalam.

Kapabilitas atau kemampuan penjual. Kinerja penjual. Pesaing penjual (pasar pasokan) atau pemain yang sama dengan penjual (peers-nya).

Lirik lagu Pupus yang dibawakan Once Dewa 19 sangat sesuai dengan pentingnya menilik kapabilitas pemasok. Faktor yang lain seperti kinerja dan persaingan pemasok, akan di bahas di lain kesempatan.

Kapabilitas penjual menjadi penting. Hal ini agar Kita tahu berhubungan dengan pasangan yang pas. Sebagai contoh, ketika Kita membeli 1-2 ekor ayam potong, maka cukup membeli di warung sebelah. Jika dibutuhkan lebih banyak, 10  ekor ayam potong misalnya, Kita langsung berhubungan dengan pemotongan ayam. Bisa di pasar atau pengepul terdekat. Bayangkan, jika ketika kita butuh 10 ekor, kita berhubungan dengan RPH atau rumah pemotongan hewan. Nah, ini kelasnya berbeda. Kebutuhan kita jauh lebih sedikit dari kapasitas rumah potong yang ribuan per hari. Kita tidak akan mendapatkan benefit yang optimal. Karena tentunya, rumah pemotongan ayam akan bersepakat dengan agen ayam potong yang dapat menyerap dalam jumlah besar. Bukannya tidak mau dapat order. Atau sombong. Tapi, mereka akan berpikir cara menjual yang sangkil dan mangkus. Melayani order kecil akan memberikan biaya administrasi, transportasi yang relatif lebih besar. Biasanya RPH memberikan batasan pembelian dalam jumlah tertentu. Minimum order quantity. Agar tidak kecewa, mereka akan mengarahkan pembeli jumlah kecil kepada agen yang telah ditunjuk. Secara tidak langsung kita tertolak. Kondisi yang tidak mengenakkan, bukan ?

Demikian pula sebaliknya. Kita punya pesanan ratusan ayam per hari. Karena ingin praktis, Kita menuju pasar terdekat. Kita berhubungan dengan penjual di pasar. Bisa juga. Namun, yang terjadi adalah kerepotan kita. Penyedia ayam potong, bisa kekurangan stok. Karena kapasitas yang disediakan tidak sampai ratusan. Paling banter puluhan. Bagaimana untuk memenuhi kebutuhan ? Kita harus berpindah beberapa penjual. Membeli di beberapa penjual. Kemudahan alat angkut tidak diperoleh. Tidak efisien. Satu mobil besar mengangkut jumlah kecil. Berpindah-pindah. Parahnya, malah ulang-alik karena multi tujuan ambil. Belum lagi, administrasi yang berbelit. Harga bisa jadi tidak optimal. Beda harga satu sama lain. Negosiasi yang alot.

Secara total, malah repot. Kita yang tidak mendapatkan benefit yang optimal. Meski penjual di pasar senang, mendapatkan profit. Penjual sumringah, Kita sebagai pembeli pontang panting. Tidak equal.

Kebutuhan ratusan ekor, layak berhubungan dengan agen besar. Beberapa kemudahan akan didapat. Kemudahan transportasi. Sekali angkut. Administrasi lebih simpel, 1 PO untuk semua. Waktu juga lebih efektif. Harga dapat lebih optimal. Bisa dipastikan akan relatif lebih rendah dari harga pasar. Setidaknya satu bahkan lebih jalur distribusi dapat dipangkas. Ujung-ujungnya penghematan belanja.

Terlihat jelas, sebagai pembeli mengetahui kondisi penjual atau pemasok sangat penting. Bagai mencari pasangan. Mendapatkan pasangan yang serasi. Agar tidak bertepuk sebelah tangan.

Hampir dipastikan, kita tidak mau cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan ? Kita tak kan mau hati remuk redam ?

Termasuk urusan bisnis, juga lho?

Mari ditelaah lagi hubungan kita sebagai pembeli dengan penjual.

Tuhan… Ini Owe !!! by Satria Hadi Lubis

Tuhan…ini owe !!!
By Satria Hadi Lubis

Acong, seorang pegawai yang sangat lugu dan setia. Ia punya kebiasaan unik.

Tiap kali makan siang dan pulang ke rumah, dia selalu menyempatkan untuk berhenti di depan pintu rumah ibadah yang dilewatinya untuk berdoa sejenak.

Dua belas tahun sudah, ia lakukan dengan setia. Sampai suatu hari ada yang bertanya :

“Acong, apa yang loe lakukan di depan pintu rumah Tuhan setiap hari?”

Jawab Acong :

“Owe berdoa”

Ditanya lagi, “Doa apa?”

Acong menjawab :

“Singkat saja. Tuhan, ini owe, Acong”

Suatu hari Acong sakit, masuk ruang ICU.

Ia merintih kesakitan dan berseru :

“Tuhan, ini owe.”

(Setiap rasa sakit mendera tubuhnya, ia selalu panggil nama Tuhan)

Sampai suatu malam Acong bermimpi, Tuhan datang, menyentuh kening Acong dgn lembut sambil berkata :

“Acong, ini Owe”

Acong senang sekali, dia langsung duduk. Tapi, yang menyapa sudah menghilang.

Dilepasnya selang infus, dia keluar dari ruang ICU mencari Tuhan.

Perawat kaget dan bertanya :

“Mau ke mana, Koh?”

Acong menjawab singkat :

“Owe mau nyari Tuhan yang menyapa Owe”

Perawat berpikir Acong ngelindur. Tapi ia heran, waktu diperiksa ternyata Acong sudah sembuh total dan sehat seketika itu juga.

KESIMPULAN :

Tuhan sayang dengan orang yang tulus hati & setia. Tuhan tidak butuh kepandaian kita, DIA tidak butuh fasih lidah kita.

DIA tidak butuh doa yang panjang dan dahsyat..

DIA tidak kagum dengan hebatnya pelayanan kita, indah dan megahnya gedung kita.

Satu hal yang pasti, Tuhan melihat sampai jauh ke dasar hati kita, apa yang menjadi motivasi dan kerinduan kita saat mengiring DIA. Hanya dengan bilang “owe” itu sudah lebih dari cukup ! Tuhan sudah tahu dan mengerti.

Tuhan, ini owe !

Catatan khusus dari Satria Hadi Lubis :
Meskipun SEBAIKNYA berdoa dengan MENERAPKAN ADAB BERDOA, namun cerita ini menggambarkan orang yang ingin selalu bersama Allah SWT.

Dan sesungguhnya Allah Maha Tahu permintaan hamba-Nya.

 

Catatan :

Mari sahabat, kita perbanyak menyapa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bermunajat. Bersimpuh menghamba kepadaNYA. DIA dzat yang paling tepat sebagai tempat mengadu.

 

*) Satria Hadi Lubis, lahir di Jakarta bulan September 1965. Kandidat Doktor ini adalah dosen, trainer, penulis buku, dan juga motivator. Beliau dan keluarga menetap di Perumahan Amarapura, Setu, Tangerang Selatan.

Buku karya Satria Hadi Lubis yang layak disimak diantaranya : ‘Burn Yourself’, “Breaking the Time’, ‘Total Motivation’,  dll.

 

 

Make or Buy ? by Ari Wijaya

Outsourcing : To Make or To Buy (MoB)

Kata ‘outsourcing’ sudah tidak asing dalam keseharian bisnis. Outsourcing atau alih daya adalah upaya mengalihkan sebagian proses bisnisnya kepada pihak lain. Pada industri manufaktur, ada pilihan keputusan membeli atau menggunakan fasilitas orang lain daripada membuat sendiri (MAKE or BUY). Sedangkan industri jasa, adalah pilihan menyewa atau melakukan pembelian atau penguasaan asset (RENT or BUY).

Alih daya merupakan salah satu upaya terobosan untuk meningkatkan fleksibilitas perusahaan. Langkah antisipatif menghadapai perubahan pasar yang sangat cepat. Tidak hanya sekedar mengurangi biaya, namun juga mendorong adanya inovasi atau ide kratif lainnya. Upaya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

Pokok Persoalan Strategis

Hal utama yang perlu ditelaah ketika akan melakukan alih daya adalah menjawab pertanyaan :

“Apa tindakan yang paling tepat untuk kepentingan perusahaan ?”

“Apa yang harus dilakukan agar perusahaan lebih kompetitif?”

Menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu dilakukan penilaian mandiri seperti apa kompetensi inti perusahaan. Ini penting, karena kompetensi inti sebaiknya tidak dialihdayakan. Kajian di di dalamnya termasuk bagaimana dominasi supplier dalam industri yang digeluti. Yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan kekebalan strategis agar tidak mudah terserang kompetitor ketika alih daya dilakukan.

Misalkan : PT Kuda Liar (PTKL), memiliki kompetensi inti membuat minuman berenergi kelas wahid. Ia ingin melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru wilayah. Maka, PTKL harus menemukan bagaimana meramu dan membuat biang minumannya. Ramuan dibuat dalam bentuk bubuk, agar memudahkan untuk pengolahan. Cukup air sebagai pengencer.

Karena pemekaran area distribusi, ada kendala transportasi (relatif lebih mahal dan waktu tempuh lebih lama), maka diputuskan untuk melakukan alihdaya pengolahan minuman berenergi. Pabrik di luar pulau, hanya menyiapkan air sebagai pengencer, kemasan dan distribusi. Jika ada peningkatan penjualan, maka ramuan/biang yang dikirimkan lebih banyak. Supplier penyusun bahan ramuan hanya tahu menyediakan bahan penyusun tanpa tahu kuantitas secara rinci. Takaran bahan untuk menajdikannya biang minuman, hanya diketahui pihak PTKL.

Namun, sebaliknya, jika dilakukan mandiri dari hulu ke hilir (integrasi vertical), maka faktor biaya dan kecepattanggapan menjadi hal yang patut dipikirkan. Terlebih lagi, hal ini bisa mengurangi fleksibilitas dan kepuasan pelanggan.

Integrasi Horisontal

Sebagai salah satu strategi persaingan, outsourcing pekerjaan yang bukan kompetensi inti adalah upaya untuk penghematan biaya. Sebagai contoh Cisco System yang mengalihdayakan proses pembuatan, pemenuhan order dan distribusi. Jika ada pengembangan produk baru, ia juga bekerja sama dengan perusahaan UKM. Cisco hanya memiliki ide besar bisnisnya. Fleksibilitas tersebut yang menjadikannya ia mampu menyediakan layanan yang lebih cepat dengan biaya yang lebih rendah daripada pesaingnya.
Inisiatif ini tidak dapat dilepaskan dari product’s life cycle. Proses alih daya dapat dimulai saat pengembangan produk baru. Karena akan diketahui mana yang harus dikerjakan sendiri dan bidang mana yang akan menggunakan jasa pihak ketiga.

Di samping itu, konsep lean manufacturing juga acapkali digunakan sebagai acuan. Ketentuan umum yang menyatakan bahwa produk harus dibuat mandiri adalah :

1. Suatu produk atau item menentukan kesuksesan produk, termasuk persepsi pelanggan.

2. Memerlukan special desain dan keahlian khusus termasuk didalamnya peralatan khusus dan pemasok sangat terbatas.

3. Produk yang memang menjadi kompetensi inti perusahaan dan dengannya (pijakan) perusahaan mengembangkan rencana jangka panjang.

Sebagai contoh, pembuatan mobil. Salah satu penentu kinerja mobil adalah mesin. Dalam komponen mesin yang paling menentukan adalah teknologi pembakaran. Teknologi tersebut direpresentasikan oleh suatu komponen yang disebut engine block. Engine block atau cylinder block memerlukan desain khusus, pengembangan khusus dan menjadi pijakan pengembangan selanjutnya. Sehingga banyak yang masih menjadikannya membuat mandiri, sedangkan komponen lain diberikan kepada pihak ketiga.

Keputusan Taktis

Setelah menetapkan keputusan dikerjakan mandiri atau dialihdayakan, maka monitoring harus tetap dilakukan. Pengerjaan mandiri harus disandingkan dengan kajian efisiensi, pengendalian mutu, biaya, pemanfaatan kapasitas seoptimal mungkin. Sebaliknya, pengalihdayaan harus melakukan evaluasi kinerja vendor, perubahan permintaan pasar, perubahan desain, pertimbangan biaya alih daya. Analisis tersebut dilakukan untuk memberikan bahan pertimbangan keputusan manajemen terhadap keputusan awal.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Keputusan ‘Make or Buy’

Dua faktor utama yang melandasi keputusan MoB adalah :

a. ketersediaan kapasitas produksi
b. biaya (dalam hal ini yang dimaksud adalah, Total Cost of Ownership)

Pada keputusan melakukan mandiri maka yang harus diperhatikan adalah biaya tenaga kerja (langsung) karena mempengaruhi harga pokok penjualan. Dan juga biaya operasi (sales, general and administrasi) yang akan mengurangi laba kotor.

Sebaliknya, keputusan melakukan alih daya, hal utama yang dikaji adalah harga beli produk atau komponen produk tersebut. Termasuk di dalamnya biaya yang berhubungan dengan mutu produk dan layanan beserta rangkaiannya. Sehingga pengendalian atas produksi dan juga mutu sangat penting.

Sebagai gambaran, pada pabrik roti dilakukan alih daya untuk distribusi produk jadi ke pelanggan toko. Pada proses ini, produk disertai dengan tagihan dan dokumen penarikan produk rusak. Salah satu poin penting adalah bagaimana tidak terjadi manipulasi jumlah produk rusak dan control pengiriman tepat waktu. Layanan yang menurun dari transporter akan berakibat pada sales yang drop dan tentunya kepuasan pelanggan (produk sering kosong, toko juga kehilangan potensial sales).

Faktor siklus teknologi juga menjadi faktor penting utamanya yang perubahannya sangat cepat. Spesifikasi yang cepat berubah tentunya berisiko kepada pihak ketiga.

Kehandalan pemasok juga menjadi catatan penting dalam keputusan MOB. Jika dalam kondisi vendor yang tidak handal, maka keputusan melakukan pekerjaan mandiri harus diutamakan.

Loading versus capacity juga menjadi acuan alihdaya. Jika loading sangat kecil dibandingkan kapasitas, maka lebih efisien jika diputuskan membeli kepada pihak ketiga.

Alih Daya Bisnis Proses

Lisa Ellram & Arnold Maltz menyatakan alih daya bisnis proses adalah menyerahkan tanggung jawab kepada pihak ketiga terhadap aktivitas yang biasanya dilakukan internal. Saat ini sudah lumrah mengalihdayakan beberapa bisnis proses, tidak hanya satu atau spesifik fungsi tertentu.

Salah satu yang dikenal adalah sistem just in time (JIT) dengan kanban system yang dipakai oleh Toyota. Ada juga pada perusahaan properti, melakukan alih daya jasa pengoperasian, perbaikan dan perawatan gedung kepada pihak ketiga. Bahkan ada juga yang mengalihdayakan tenaga kebersihan, tenaga pengamanan dan sistem perparkiran kepada pihak ketiga. Integrated facility management dilakukan oleh 3rd party. Pemilik hanya menangani managerial (keputusan stategis).

Pada proses pengadaan ada juga sebagai bagian dari sistem blanket, maka persediaan tidak lagi dikelola internal tapi oleh pemasok (vendor managed inventory).

Sifat Perubahan pada Keputusan MOB

Keputusan MOB dapat berubah drastis pada kurun waktu tertentu. Terlebih adanya pengaruh perubahan kebijakan pemerintah. Bisa saja terjadi perubahan kompetensi inti perusahaan. Sehingga rumusan dan aturan yang kaku ketika membuat keputusan MOB harus dimitigasi. Evaluasi keputusan harus dilakukan secara berkala.

Setiap keputusan mempunyai risiko, tidak terkecuali alih daya. Risiko longgarnya pengawasan atau pengendalian, fokus bahkan benturan kepentingan, kerahasiaan, biaya, kejelasan tanggung jawab.

Sebagai contoh, pada suatu kesempatan, pabrik minuman mengandung susu, PT Sehat Utama (PTSU), mengalihdayakan hampir proses bisnis. Hanya bagaimana memformulasikan racikan minuman mengandung susu yang masih dipegang sendiri. Alias, fungsi research and development nya tidak dialihdayakan kepada pihak ketiga.

Hal ini mengakibatkan, jika ada kenaikan harga gas, bbm atau utilitas, maka bisa menyebabkan secara total memberikan negative profit. Pemasukan tetap, tapi biaya produksi naik. Biasanya menyebabkan kenaikan harga terhadap biaya co-pack (atau biaya alih daya) per liter, bahan baku, biaya transportasi yang langsung dibebankan kepada perusahaan. Lain cerita, jika dikelola mandiri, maka upaya-upaya mencari alternative source, alternative pemasok masih dapat dilakukan oleh perusahaan. Hal itu yang disebut risiko melakukan alih daya atas sebagian besar proses bisnis.

Bagaimana dengan perusahaan tempat kita bekerja ? Atau bisnis yang anda geluti saat ini ? Apa core competency nya ? Perlukah dilakukan alih daya untuk menjungkit keunggulan kompetitifnya ?

Mari kita ‘pit stop’ sejenak. Bermimpi dan merancang perubahan. Diskusi dan dilanjutkan dengan actiON. Aksi bersama untuk meningkatkan profit dengan menekan harga pokok penjualan.

Kata-katamu Adalah Doamu by Awang Surya

KATA-KATAMU ADALAH DOAMU

Hari itu usai mengisi forum kajian Islam di sebuah masjid, saya buru-buru pulang. Di rumah telah menunggu seorang yang sangat spesial bagi saya. Umi, begitu saya memanggil ibu saya, tengah ada di rumah saya. Dua hari yang lalu beliau datang dari kampung untuk menengok anak laki-lakinya.

Saat saya sampai di rumah Umi sedang duduk-duduk di teras rumah. Hal itu mengingatkan saya pada kebiasaan lama di kampung. Saban malam terang bulan kami sekeluarga duduk-duduk di serambi rumah menikmati malam purnama. Maka usai mencium tangan Umi, saya menemani beliau duduk-duduk di teras rumah.

“Nak…. hati-hati kalau ngomong sama anak,” ucap Umi saat saya baru saja duduk selonjor.

“Memang kenapa, Mi?” tanyaku penasaran.

“Kata-kata Umi kepada anak-anak yang Umi ucapkan bertahun-tahun lalu, kini sudah banyak yang jadi kenyataan,” tutur Umi.

“Apa contohnya, Mi?” kejarku sambil menatap wajah beliau.

“Dulu, Nak…. ketika kamu masih kecil,” ujar Umi.

Umi terdiam. Tampak beliau menahan rasa haru yang dalam. Saya ikut terhanyut suasana haru.

“Ketika kamu masih kecil,” lanjut beliau dengan terbata-bata. “Umi sering bilang…. kalau kamu nanti besar, kamu akan jadi ustadz di Jakarta, Nak,” ungkap Umi.

“Subhaanallah!” pekikku lirih.

Saya merenungi kata-kata Umi itu baik-baik. Sekilas lamunan saya kembali pada masa kanak-kanak di kampung. Saat itu dengan berbagai keterbatasan kami sekeluarga, jangankan ke Jakarta, ke kota Kabupaten saja belum tentu sebulan sekali bisa kami lakukan. Maka ucapan Umi saat itu tentu saja sebuah kemustahilan. Tapi kenyataan hari sudah membukakan mata saya, bahwa kata Umi itu kini benar-benar telah terwujud.

Saya tentu saja bersyukur karena Umi mengucapkan kata-kata yang baik kepada saya. Andai saja saat itu Umi mengucapkan kata-kata yang buruk, maka tak tahulah apa yang akan terjadi pada saya hari ini. Saya tiba-tiba ingin membandingkan dengan tetangga saya di kampung yang gemar berkata buruk kepada anak-anaknya. Dan benar, saya mendapatkan fakta bahwa kehidupan anak-anak tetangga saya itu kini betul-betul buruk. Si anak tertua sudah dua kali keluar masuk penjara. Si adik juga kehidupannya tak pernah beranjak dari kemiskinan yang membelit.

Kini saya menjadi lebih paham makna pesan Rasulullah SAW :

Barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata yang baik atau diam. (Muttafaq ‘alaih)

Kalau boleh memilih, semua orang pasti ingin berkata-kata yang baik terutama kepada anak yang dicintainya. Tetapi kenyataan menunjukkan banyak orang mudah mengumbar kata-kata yang buruk ketimbang kata-kata yang baik. Mengapa demikian?

Pembaca budiman, kata-kata memang keluarnya dari mulut kita. Tetapi sebenarnya ia ada hasil dari apa yang pernah kita masukkan ke dalam teko jiwa kita. Manakala sebuah teko diisi kopi, maka yang keluar darinya adalah warna hitam. Saat teko diisi susu, maka saat dituang akan keluar warna putih. Demikian itu pula teko jiwa kita. Teko jiwa yang selalu diisi dengan kata-kata baik, maka tumpahannya adalah kata-kata baik. Demikian pula sebalikya.

Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita lalukan untuk mengisi teko jiwa kita dengan kata-kata positif. Pertama, perbanyaklah melafalkan kata-kata baik. Dan kata-kata yang terbaik adalah dzikrullah sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, yaitu subhaanallah, alhamdulillah, Allahu akbar. Bisa juga asma’ul husna. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka, setiap ada kesempatan lantunkanlah kalimat-kalimatthayyibah tersebut agar teko jiwa kita penuh dengan kebaikan.

Kedua, perbanyaklah membaca buku-buku tentang kebaikan. Hindari buku-buku yang berisi tentang keburukan. Hari ini di toko buku bertebaran buku-buku yang bagus. Belilah, dan bacalah. Maka akan banyak kata-kata bagus yang tersimpan di teko jiwa kita.

Ketiga, perbanyaklah mendengar kata-kata baik. Salah satunya adalah dengan berkumpul dengan orang-orang baik. Dari mulut orang-orang baik, kata-kata yang keluar dari mulut mereka akan cenderung baik. Maka otomatis teko jiwa kita akan terisi dengan kata-kata  yang baik. Pantas kiranya jika Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya berteman dengan orang baik. Sabda beliau :

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

So, mari berkata-kata yang baik di depan anak-anak kita agar masa depan anak-anak kita akan menjadi baik. Bukankah kata-kata adalah doa?

 
Catatan :
*)Awang Surya : penulis, penceramah dan pengusaha tinggal di Bogor.

Beliau adalah salah satu penceramah di Masjid Baitul Hikmah Elnusa.

Alumni Teknik Mesin UB, mantan Kadiv Perusahaan EPC terkenal, yang memilih untuk mengabdikan dirinya pada pengembangan sumber daya manusia. Rekan sejawatnya berseloroh, ia alumni fakultas teknik jurusan dakwah.

Beberapa buku hasil karyanya :
‘Pesantren Dongeng’, ‘Pak Guru’, ‘Bahagia Tanpa Menunggu Kaya’, ‘Ada Masalah, Bersyukurlah’, dll.