Ada Pelajaran di Kisahmu

Mencermati perjalanan karir orang-orang terkenal menjadi salah satu kegemaran saya. Apalagi yang masih relatif muda. Mereka sudah mampu menduduki posisi strategis. Young on top. Termasuk kiprahnya saat menjabat. Banyak yang bisa dipelajari. Bagaimana persiapannya. Semangat belajarnya. Membangun tim. Kecermatan dan kecepatan eksekusinya. Pun sandungan yang mereka alami.

Perhatian saya tertuju pada sosok yang bernama Silmy Karim. Saya mengenal justru saat rekan saya meminta pendapat dan masukan ketika akan mengisi acara televisi. Ia jadi host yang menyertakan Pak Silmy Karim sebagai nara sumber.

Kiprahnya mengembangkan Pindad menjadi daya tarik. Perusahaan pelat merah yang difokuskan memproduksi persenjataan. Salah satu pabriknya di dekat kampung halaman saya. Pabrik khusus produksi peluru (amunisi) di Turen, Malang. Ada satu lagi di Bandung. Produksi Senapan Serbu (SS) dan juga kendaraan taktis (rantis) Panser Anoa menjadi salah satu hasil andalan. Dan mudah dikenal. Apalagi ketika Tim TNI AD menjadi kampiun Kejuaraan Menembak di Australia dengan menggunakan senjata bikinan Pindad itu. Belum lagi Anoa-nya yang acapkali digunakan Pasukan Perdamaian PBB.

Ia punya pendapat bahwa industri pertahanan dan ekonomi suatu bangsa saling bertaut erat. Indonesia punya peluang sebagai pemain besar industri pertahanan dunia. Perlu segera melakukan penguasaan teknologi, modal kerja, model bisnis, manajemen korporasi, serta akses global supply chain. Pun hal yang menentukan yaitu affirmative action atau keberpihakan pemerintah terhadap pertumbuhan industri militer. Ia membuat langkah-langkah strategis yang mungkin dilakukan untuk membuat terobosan. Inovasi seperti itu yang membuat Pindad menjadi lebih bersinar.

Tak lama menikmati suguhan produk-produk inovatif tadi, Pak Silmy diberikan amanah baru. Ia menjadi nahkoda PT. Barata Indonesia (Persero). Perusahaan milik negara yang memproduksi alat berat. Satu yang saya ingat waktu kecil adalah mesin selender (baca : wales, alat pemadat tanah). Barata juga punya instalasi pengecoran logam yang besar. Bangunan konstruksi pabrik karya engineer Barata sudah menyebar seantero Indonesia.

Lagi-lagi ada hal yang menarik yang menjadi program besar CEO muda ini. Menjadikan Barata terdepan untuk industri alat berat

“‎Ada banyak pelabuhan, itu butuh crane untuk bongkar muat. Crane kita masih impor. Belum lagi alat-alat pertanian. Ada banyak ide. Akan saya pelajari kemampuan dan kapasitas internal. Jika memang mumpuni akan saya dorong di situ. Jadi ruang lingkup pekerjaannya : engineering, kemudian crane, mekanisasi pertanian, infrastruktur kelistrikan, dan juga  infrastruktur yang sifatnya mendukung proyek konstruksi. Berkolaborasi dengan perusahaan BUMN lainnya,”  katanya ketika diwawancarai oleh media sesaat setelah pelantikannya.

Saya berharap Barata melaju kencang menjadi salah satu perusahaan yang mendukung kemandirian di bidang alat berat.

Saya dan tentunya rekan sejawat, sangat berterima kasih. Karena di sela kesibukannya, Pak Silmy berkenan hadir berbagi pengalaman dan pengetahuan bersama kami. Insya Allah pada Jumat 20 Oktober 2017 pukul 08.30-11.00 WIB bertempat di Executive Lounge Graha Elnusa.

Sudah tak sabar mendengar langsung kiat beliau mengkilapkan kinerja perusahaan. Pendek memang, tapi semoga lebih dari cukup untuk menginspirasi saya dan sahabat semua.

Kehadiran beliau akan menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Seperti pesan langit yang diberikan Allah SWT Sang Maha Pencipta kepada Rasulullaah SAW dalam surat Yusuf ayat 111.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

 Semoga kami termasuk bagian dari orang berakal itu.

Pilah Pilih

Harus diakui, setiap insan tidak dapat hidup sendirian. Secanggih apa pun dunia ini. Jaman now atau nanti. Kita butuh teman. Ember ! Itulah keniscayaan sebagai mahluk sosial. Sunatullaah.

Sehingga mempunyai banyak teman juga sangat dianjurkan. Tidak  pilih-pilih dalam berkawan juga baik. Tentunya ada risiko di dalamnya. Membawa pengaruh. Bisa Mewarnai ? Atau justru kita terpengaruh alias terwarnai ? Bagaimana kemudian kita bersikap ?

Sesuai nasihat guru saya, saya pun berniat. Saya patri di hati dan juga aksi. Setiap kumpulan manusia yang saya ada dan berada di dalamnya, organisasi resmi maupun sosial, saya harus bisa mewarnai. Membawa manfaat. Hal yang tidak mudah memang. Tapi sangat mungkin dilakukan.

Banyak cara, bagaimana kita bisa mewarnai himpunan yang berisi manusia tadi ? Bukannya kita tidak perlu pilih-pilih ?

Ehm.. sebentar. Pas kita punya program, maka perlu dukungan teman. Bisa sih sendirian. Tapi memakan waktu lelbih lama. Bisa pula kita kehabisan bensin. Alias padam semangat ditengah jalan. so, kita butuh tim yang kuat. Tentunya harus sejalan. Teman seperjuangan. Nha.. kalau yang ini harus memilih. Kalau tidak, belum apa-apa sudah berantem. Tidak satu biduk. Tidak sama visi dan misi. Program malah terbengkalai. Tidak jalan.

Ada idiom dari negeri yang terkanal dengan jam besarnya, Big Ben :

“Bird of a feather flock together”

Orang yang punya kepentingan, gagasan dan juga karakteristik yang sama akan memiliki kecenderungan berhubungan satu sama lain. Menyatu. Sehati.

Tentunya dengan kesamaan itu, mempemudah dalam menjalankan program. Upaya memberi pengaruh. Aksi untuk mewarnai menjadi relatif lebih mudah. Memilih menjadi krusial. Malah keharusan. Guru saya pun memeberi penguatan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi :

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat kepada siapa ia berteman.”

Sahabat, ketika berkawan…..cari sebanyak-banyak. Perluas networking. Jadilah insan gaul. Namun, ketika ada suatu misi khusus, membentuk tim, carilah teman seperjuangan. Pilah dan pilih diantara mereka.

Siap ?

Monggo. Agar upaya memberi manfaat yang lebih banyak menjadi tambah mantap.

Selamat menebar manfaat !

Tribute to Panitia Reuni Universitas Brawijaya 2017 : http://reuniub.com/kepanitiaan/

dan juga Pengurus Ikatan Alumni Universitas Brawijaya :  http://www.ikaub.net/

Rezeki dan Reuni

Sekitar 14 tahun lalu, saya terkena PHK. Melihat pesangon hati sedikit berbunga. Namun, ada hal yang masih menggantung. Banyak pilihan. Usaha mandiri ? Atau bekerja lagi di perusahaan lain ? Atau sekolah lagi ?Belum lagi perasaan, ada rasa rendah diri. Nggak pede.

Ketika itu saya putuskan ketiganya. Saya ambil semua. Sekolah program magister jalan terus.  Cari pekerjaan lain, juga hunting tak lenal henti. Plus memulai menjalankan usaha.

Singkat cerita, saya bangkrut. Usaha gagal. Bekerja resmi pun sudah diputuskan berhenti, setahun sebelumnya. Studi lanjut terbengkalai. Ketemu orang pun jarang. Minder.

Tapi saya tidak ingin berlama-lama dengan situasi itu. Doa jalan terus. Dan ditambah aksi lain, menghubungi teman. Sebelumnya, Kami sudah punya kebiasaan ngumpul. Gantian. Ketika itu berkumpul di kediaman salah satu rekan. Berganti tiap bulan. Kadang di Serpong. Pernah pula di Bekasi Timur. Kalau dipikir jauh juga. Dari cuma berempat plus keluarga hingga lebih dari itu. Aksi itu, boleh dikatakan reuni kecil.

Situasi keterpurukan saya pun, mereka tahu. Karena saya membuka diri. Minta pendapat. Masukan sangat banyak dan bermakna sekali. Di saat seperti itu, nasihat kecil seperti air ditengah dahaga. Seugeeer ! Ada yang memberi peluang. Positif sekali. Ternyata juga ada seorang teman yang mengalami hal serupa. Kita saling mengisi. Memberi semangat.

Kebiasaan kecil itu pun saya kembangkan hingga teman kerja yang pernah sama-sama terkena PHK. Rekan alumni saat kuliah dulu. Dan beberapa lagi.

Suatu masa, salah satu mantan atasan saya di perusahaan lama, memanggil saya untuk membantu dia kembali. Tentunya di perusahaan yang berbeda. Saya memutuskan mengambil kesempatan itu. Bekerja lagi. Alhamdulillaah. Itulah salah satu pembuka pintu rezeki saya ketika itu. Mental kembali terangkat. Tak lama setelah itu, semacam masa recovery, sekolah lanjut pun tuntas.

Saya jadi teringat nasihat guru ngaji di langgar dekat rumah  :

“Barangsiapa ingin dibentangkan PINTU REZEKI untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung SILATURAHMI”

Sahabat, ketika mengalami kondisi terpuruk. Bisa jadi usaha macet. Terkena PHK. Sekolah mampet tak kunjung beres. Karir juga nggak beranjak membaik. Ada satu jalan penyelesaiannya yang diberikan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah, membuka networking. Menyambung silaturahim ! Reuni. Insya Allah salah satu jalan membuka kembali pintu rezeki kita.

Reuni ? Dahi langsung mengernyit. Ya, memang betul, setiap kegiatan termasuk reuni ada juga sisi negatifnya, tapi jauh lebih banyak manfaatnya. Kita maksimalkan sisi positifnya. Semoga rezeki itu berawal dari reuni.

Mau ?

Silakan kontak saya atau kunjungi laman :http://reuniub.com/

Sampai jumpa di Kota Malang.

 

 

 

Siapkah Kita ?

Malam itu suasana diskusi membahas permasalahan lingkungan sempat menghangat. Seru. Utamanya berisi keluh kesah. Beban yang tidak sepadan. Ada yang tidak optimal. Tanggung jawab menumpuk. Jumlah orang terbatas. Banyak yang beberapa peran dipikul sendiri. Belum lagi, sudah mendediakasikan tenaga yang all out, dana pun masih keluar dari kantong. Menarik. Semua yang hadir ingin berkontribusi. Semangat yang patut diacungi jempol.

Saya termenung sejenak, di sela urun rembug itu. Teringat akan nasihat para pinisepuh. Wejangan bagaimana menyikapi ketika kita diberi amanah. Terlebih kegiatan sosial.

“Jam e rusak. Kesak e jero”, itu kata beliau ketika menasihati saya.

Arti dalam Bahasa Indonesia : Jamnya rusak dan kantongnya harus dalam.

Maknanya sangat dalam. Ketika kita berkomitmen aktif sebagai penggiat kegiatan sosial. Apalagi diberi amanah menjadi pemimpinnya, maka banyak konsekuensi logis yang harus kita terima. Tentu saja harus juga dipraktekkan. Walk the talk !

‘Jamnya rusak’ bermakna bahwa siap melayani kapan saja. Setiap saat bersedia diganggu. Bisa jadi mengabaikan waktu istirahat. Waktu bersama orang kita cintai pun, bisa berkurang jauh banget. Lho ? Apakah kita tidak boleh istirahat ? Tentu saja boleh dan harus. Sehebat apa pun kita tetap manusia biasa. Bagaimana mengatasinya ? Salah satu kiat adalah memberikan jam layanan, misal setelah sholat subuh. Asumsinya, banyak orang mulai beraktivitas. Masih ada waktu sebelum masuk kerja. Atau pilihan waktu lain, pertemuan setelah pulang kerja. Lain lagi bila aktivis sosial ini seorang pengusaha. Memang waktu lebih fleksibel. Namun tetap saja perlu ada waktu khusus yang ditetapkan.

‘Kantong dalam’ bermakna rela berkorban. Utamanya dana. Tidak dapat dipungkiri. Kadang ada kondisi kas organisasi cekak. Padahal ada program penting dan harus jalan. Acapkali ia harus merogoh kocek sendiri. PKS alias pakai kantong sendiri. Bisa hanya sebagai trigger. Pemancing donatur lainnya. Atau bahkan ia danai sendiri. Semuanya. Tergantung bagaimana kondisi keuangan dan tujuan kita. So, ketika ada anggapan atau bahkan praktik seorang pemimpin organisasi sosial malah memanfaatkan uang kas untuk kepentingan pribadi, sungguh sangat kontradiktif.

Wow.. berat bukan ? Betul. Jadi bagaimana ? Niat menjadi kunci. Ya, ketika memutuskan bergabung dalam suatu organisasi sosial. Diberi amanah menjadi pimpinan. Kita fokuskan untuk mendapatkan ridlo Illahi robbi. Insya Allah menjadi lebih ringan.

Siapkah kita ? Harus siap. Apalagi bagi sabahat yang memiliki kapabilitas. Punya visi memajukan masyarakat dan negeri ini. Karena sudah hukum alam, bahwa setiap lingkungan/organisasi harus ada leadernya. Silakan ambil peran itu. Kita yang pegang kendali. Menularkan kebaikan dan menggerakkan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik. Karena dengan kesiapan itu, kita menutup kemungkinan masuknya orang yang hanya mendahulukan kepentingan pribadinya.

Dan yang patut diingat adalah :

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.”

(H.R. Bukhari dan Muslim )

Mari singsingkan lengan baju. Bahu membahu. Jadi penggerak utama ! Berkontribusi maksimal untuk keadaan yang lebih baik. Setidaknya, lingkungan terdekat di sekitar kita.

Apa Hambatan Terbesar ?

Sahabat…

Salam sehat iman, jiwa, raga, dan ekonomi…

Dalam menjalankan bisnis, memperoleh keuntungan merupakan tujuan.

Untuk mencapai tujuan itu, ada yang berupaya menaikkan revenue. Meningkatkan penjualan.

Ada juga yang melakukan penghematan biaya. Cost Saving. Utamanya biaya yang mempengaruhi biaya pokok produksi.

Perkenankan saya meminta pendapat sahabat para pengusaha dan pelakubisnis. Kali ini bukan tentang bagaimana meningkatkan penjualan. Tapi upaya lain yang tak kalah pentingnya. Penghematan Biaya.

Mohon perkenan menjawab jajak pendapat ini.

Ketika sahabat menjalankan program penghematan biaya, apa hambatan terbesar yang dihadapi ?

Cara menjawabnya,  sahabat masuk pada group FB ‘Forum Terobosan dalam Proses Bisnis’ dengan klik link berikut ini :

https://www.facebook.com/search/top/?q=forum%20terobosan%20dalam%20proses%20bisnis

Jawaban sahabat akan menjadi masukan penting atas modul yang sedang saya kembangkan bersama tim. Harapannya, modul tersebut pas dan sesuai dengan tantangan dan kebutuhan sahabat, utamanya pelaku bisnis UMKM.

Mari terus menggelorakan semangat untuk tumbuh dan menumbuhkan.

Semoga daya upaya tersebut menjadi catatan amal sholeh kita.

Terima kasih.

 

Ngalup Ngalam !

Bagi orang yang pernah lahir dan menetap di Malang atau sekolah di Malang, bahasa walikan menjadi biasa. Ya, bahasa gaul yang beberapa kata dibaca dari belakang.
 
Ngalup Ngalam. Ini artinya Pulang Malang atau lebih mudah diartikan mari pulang kembali ke Kota Malang.
 
Pesan itu yang ingin didengungkan oleh Rektor Universitas Brawijaya atau lebih tersohor dengan singkatan UB, Prof. Bisri dan juga Ikatan Alumninya.
 
Kebetulan beberapa tahun terakhir ini, hari ulang tahun UB yang dibarengi dengan temu alumni dilaksanakan di Jakarta. Kali ini, insya Allah akan diadakan di Kota Malang.
 
Acaranya pun beragam.
 
Ada acara berbagi kepada masyarakat, bakti sosial. Tak lupa juga sharing knowledge dari alumni kepada mahasiswa dan sivitas akademika.
 
Ada wisata kuliner dengan memanfaatkan potensi warga Malang. Sekaligus sebagai obat kangen makanan dan minuman khas Malang. Rujak Cingur, Cwi Mie, Rawon, Es Tawon, dll. Ehmm. .. jadi ngeces ini. Tentunya juga ada hiburan yang akan menyasar segala usia.
 
Pun juga meneruskan tradisi sebagai kampus yang acapkali menelurkan ide berskala nasional. Sekedar membangkitkan ingatan kita semua, Juara PIMNAS beberapa kali adalah UB.  Ojo lali iku, lho. Oleh karenanya, salah satu mata kegiatan kali ini adalah rembug nasional untuk memberikan masukan dan sumbangsih pemikiran dan aksi nyata kepada negeri yang kita cintai ini.
 
Rekan sejawat, sederek sedoyo, mari kita ramaikan dan sukseskan acara yang insya Allah akan dilangsungkan pada 7-10 Desember 2017 ini di kampus tercinta, UB di Kota Malang.
 
Yuk… melakukan registrasi sekaligus sebagai sarana pendataan alumni :

http://reuniub.com/registrasi/

Oh ya, jika ada kelonggaran dana, mari sisihkan dana untuk kegiatan ini, utamanya kegiatan bakti sosial untuk masyarakat.
Dana dapat ditransfer melalui :
 
Bank BRI (kode antar bank 002)
0433 01 000552 569
a.n. Panitia Reuni Universitas Brawijaya
 
Konfirmasi bisa melalui WA Bendahara : Erny 0815 8057 212
 
Nawak, sedulur, partisipasi sampeyan sangat dinanti.
Ayo #NgalupNgalam..
 
Semoga ajang ini menjadi sarana meluaskan rezeki dan juga memperpanjang usia kita. Semoga hidup menjadi lebih bermakna dan membawa manfaat kepada sebanyak-banyaknya umat manusia.
 
Dienteni ndek Malang yo….
 
 
Rutam nuwus !

Five Assumptions You Have to Make When Managing a Crisis (by Jack & Suzy Welch)

Sahabat, perkenankan saya berbagi artikel menarik ini..
Semoga menginspirasi, utamanya bagi sahabat yang sedang mengalami krisis …

Tetap optimis !

Five Assumptions You Have to Make When Managing a Crisis

By: Jack & Suzy Welch, The Jack Welch Management Institute.
Published on October 17, 2016

Crises are a Part of Life…and Business

It’s a rare day that you turn on the television or open the newspaper and don’t encounter a story about a crisis unfolding in an organization somewhere.

Crises come in all shapes and sizes. Some are very public like bank employees opening accounts under false identities (Wells Fargo) or a pharmaceutical company dramatically increasing the price of a life-saving treatment (Mylan and the EpiPen). Others are less public, like your team missing a major product launch date or not catching a design flaw that results in a product recall.

The crisis could have been caused by someone on your team you barely know or it could have been caused by you. But suddenly, there it is, and how you manage it can make all the difference in the world.

When that bombshell drops, your instinct will be to go into panic mode. You may want to run away and hide, or lash out, or get defensive. All of these are perfectly natural reactions, but all are the exact opposite of what you should do.

And one more thing…don’t think you’re immune to crisis management just because you’re not part of the C-Suite or hold a senior-level position in a large division. If you’re a leader of even a small team, you need to have a plan for handling crises before they occur.

Five Steps of Crisis Management

1. Assume the problem is worse than it appears. Skip the denial and assume that the issue is REAL and that it is SIGNIFICANT. Yes, you may end up overreacting, but far better to expect the worst than to hope it’s not that big of a deal and be caught off guard when more details surface.

2. Assume there are no secrets and the news will get out. Covering up the issue only makes it worse. Not only will the story eventually surface – they always do, but you will make yourself complicit for attempting to hide it.

3. Assume your organization will be portrayed in the worst possible light. While this one is often more of a “public media” thing, even within your own organization, it’s possible for other teams or divisions to jump onto a bandwagon of condemnation and finger-pointing, especially if these actions deflect any (potential) blame away from them.

4. Assume you will have to make changes to people and processes. Whether the crisis was caused by the illegal/unethical actions of a rogue employee or a “system failure” that can’t be attributed to any one person or group, things have to change to prevent the issues from recurring. Further, these changes will have to be announced loudly and publicly to reassure others that you have identified the problem and have taken swift and decisive action.

5. And finally, assume you will survive and get stronger.

Yes, it’s hard to believe the light of day will ever shine again when you are in the middle of your darkest hours, but this will pass. And when it does, you will be smarter and stronger as a result of the experience.

Building a Solid Foundation Before a Crisis Occurs

While there are no foolproof approaches to prevent all system failures and bad actors, there are several things you should be doing all the time:
• Establish a culture of candor where people can speak up when they see something wrong without fear of reprisal. In addition to this, put in place a highly trusted ombudsperson to manage a hotline where people can anonymously report concerns.
• Constantly review the behaviors you are rewarding. There’s nothing wrong with performance bonuses for adding new customers, beating inventory targets, etc., but if there are insufficient guidelines in place to ensure that everyone is aligned to the mission and values of the organization, there is a risk that well-meaning incentives could drive unintended actions.
• Don’t create your own crisis through the way you let someone go for performance reasons. Treat people with dignity on the way out just as you did on the way in. Severance dollars are some of the smartest dollars you will ever spend. Disgruntled employees can wreak havoc on an organization and while, more often than not, their claims may be unfounded, the damage done to the organization can be significant.
• Be a good citizen in the community. Participate in as many activities and causes as you can in the good times. This will put chips in the bank that can serve you well should a crisis occur.
• Have your own communication channels functioning well (Twitter, Facebook, LinkedIn, etc.). You need to have your direct-to-the-world channel in place before a crisis occurs so you have an existing audience ready to hear directly from you, not through a third-party filter over which you have little control.

The Path Ahead
In the midst of all this crisis management, don’t forget about your day job. While the nightmare of the crisis is unfolding, you still have to run your business. You have to keep the factories operating, get your products to your customers and continue to close sales. Facing an unexpected crisis adds a whole other job to do on top of your regular job, but you can’t stop the rest of the world while you manage the crisis. If you do, you may not have a business to return to when the crisis passes. And it will pass.
Whatever your crisis is, own it. Act swiftly and learn from it. If you can emerge from a crisis smarter than you were going into it, then something good has come of it. Sure, the learning may not have been through the circumstances you would have preferred, but it does give you the opportunity to make yourself and your team smarter and stronger. It gives you the chance to prevent that mistake from ever happening again.

 

 

Jack Welch is Executive Chairman of the Jack Welch Management Institute. Through its online MBA program, the Jack Welch Management Institute transforms the lives of its students by providing them with the tools to become better leaders, build great teams, and help their organizations win. The program was recently named one of the Top 25 Online MBA Programs for 2017 by the Princeton Review for its excellence in five areas of selection criteria: academics, selectivity, faculty, technical platforms, and career outcomes. The program was also recently named the #1 most influential education brand on LinkedIn and one of the top business schools to watch in 2016.
Suzy Welch is co-author, with Jack Welch, of the Wall Street Journal and Washington Post best-seller The Real-Life MBA, and of the international best-seller Winning.

Etos Kerja Juara

Etos Kerja Juara

Persaingan adalah keniscayaan. Dalam dunia bisnis, apalagi, tak dapat dipungkiri. Jika kalah, sudah dapat dipastikan, perusahaan gulung tikar. Mati. Dampaknya juga tidak kalah dahsyat. PHK bukan hal yang tidak mungkin. Bisa menambah daftar pengangguran. Jadi beban baru perekonomian secara nasional.

Bukan rahasia lagi jika perusahaan melakukan berbagai upaya untuk memenangkan persaingan. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia. Ya, manusianya. Karena ia motor penggerak utama perusahaan.

Tentunya, manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi. Kondisi itu akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

Sumber daya seperti itu bukan tidak mungkin dapat dibentuk. Pembentukan melalui 5 sikap dasar dan modal utama :

Saya sebut, I – CoRe – CoRing !

Integrity, ia kuat memegang prinsip moralitas.

COmpetence, punya kemampuan menuntaskan pekerjaaan dengan cepat dan tepat.

REsourceful, insan yang banyak akal.

COllaboration, punya kemauan menambah daya dukung.

ShaRING, seseorang yang dalam kondisi lapang dan sulit, tetap mau berbagi dengan insan yang lain.

Sehingga ia pun punya mental juara. Segala daya upaya ia lakukan untuk memenangi persaingan. Tentunya segala daya upaya yang dilandasi dan sesuai prinsip moralitas.

Sahabat, ingin mendapat sesi berbagi atas materi ini ?
Silakan kontak, Bunda Sisrie : 0811 9090 190

Malang Kami Datang !

Ayo, Ker !
#ngalupNgalam

Insya Allah, perhelatan besar akan diselenggarakan di Malang, tepatnya di Universitas Brawijaya.

Sivitas akademika akan menyelenggarakan serangkaian acara sebagai ungkapan syukur atas bertambahnya usia kampus dalam berkarya untuk Indonesia.

Event kolaboratif antar alumni.

Sumbang pikir untuk kemajuan kota Mlang, Jawa Timur dan tentu saja kepada bangsa dan negara yang kita cintai ini, Indonesia. Kegiatan sosial untuk lebih memberi manfaat kepada masyarakat sekitar kampus. Perhelatan pelestarian budaya. Olah raga. Yang tak terlupakan adalah wisata kuliner dengan melibatkan pedagang lokal.

Kali ini acara dipusatkan di Malang. Beberapa tahun terakhir memang di Jakarta. Ini sesuai dengan amanah pimpinan Universitas Brawijaya yang saat ini dikomandoi oleh Prof. Dr. Ir. Muhamad Bisri.

Kapan ?

Insya Allah pada 8 – 10 Desember 2017.

Perkenankan, saya menyampaikan pesan khusus bagi sahabat, khususnya alumni Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, apa pun jurusannya.

Kenapa ?

Fakultas Teknik, tahun ini, bersama Ikatan Alumninya diberi amanah sebagai tuan rumah ! Ketiban sampur ! Mari bahu membahu untuk memberikan warna lain, dukungan doa, tenaga, pikiran dan tentu saja, dana.

Masih ada waktu tidak lebih dari 150 hari… Mari kita siapkan, utamanya bagi sahabat alumni yang berada di luar kota Malang.

Oh ya, donasi dapat ditransfer melalui rekening BNI Cab. Fatmawati, Acc no. 0435 770 533 an Indra Nur Yahya (Sekjen Ikatan Alumni Fakultas Teknik UB).

Mohon sahabat melakukan konfirmasi guna mempermudah pencatatan dan akuntabilitas laporan via WA Mas Indra : 085259310999

Sedikit itu rasa, sahabat. Tak perlu risau.

Berapa pun, insya Allah memperkuat silaturahim kita dan memberikan sumbangsih bagi suksesnya acara ini.

Semoga upaya kita dicatat sebagai salah satu amal sholeh.

Rutam nuwus !

An. Dekan Fakultas Teknik, Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono…
dan
Ketua Ikatan Alumni Fakultas Teknik UB Ir. Ali Mundakir, M.Eng.

Resonansi

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin . .

Juga terima kasih kepada peserta yang berkenan hadir dan saling bertukar pengalaman dan pengetahuan saat pelatihan sehari :

‘Leverage Your Profit’

Pelatihan yang diselenggarakan sebagai upaya menyebarluaskan semangat penghematan biaya dengan pendekatan terobosan pada proses bisnis. Materinya sebagian besar berdasarkan buku ‘Cost Killer’.

Pelatihan ini diselenggarakan pada : Sabtu, 6 Mei 2017 di Titan Center, Bintaro, Tangerang Selatan.

One day workshop ini dikemas khusus dengan memadukan teori dan pengalaman, baik trainer maupun peserta itu sendiri.

Terima kasih juga kepada panitia kecil yang membantu kelancaran dan suksesnya acara ini.

Saya dan juga teman-teman di AIR Business Consulting, sangat menyadari masih banyak kekurangan baik materi, penyajian dan juga contoh kasus yang ditampilkan. Termasuk juga sisi penyelenggaraannya. Oleh karenanya masukan sangat diharapkan agar event selanjutnya, bisa lebih baik lagi.

Terlebih, kami berdiskusi di ruangan yang dinamai Ruang Jacob. Istimewa. Kenapa ? Ruangan diambil dari nama Francois Jacob, pria berkebangsaan Prancis. Peraih Hadiah Nobel tahun 1965 di bidang obat-obatan. Saya ikut bergetar. Jadilah ia pendorong semangat kami juga. Upaya meraih hasil yang tinggi. Membawa manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia. Usaha kami pun terus tumbuh dan berkembang.

Sekali lagi, terima kasih.