Peningkatan Produksi, Penghematan Biaya

Peningkatan Produksi, Penghematan Biaya

Peningkatan Produksi, Penghematan Biaya

 

Usaha meningkat itu dambaan semua pengusaha. Usaha mikro juga termasuk. Biasanya dikelola sendiri, diurus sendiri, sekarang melebarkan usaha. Peningkatan produksi bisa dengan penambahan kapasitas di rumah produksi sendiri. Menambah mesin atau orang yang dikaryakan. Atau bisa juga membuka cabang di beberapa tempat untuk memperluas distribusi.

Bukan perkara mudah. Beda tangan, beda hasil. Bisa saja itu terjadi. Namun sudah harus bisa ditangani dari sekarang. Oleh karenanya, proses bisnis dan prosedur bisa dituliskan tidak sekedar dalam ingatan. Banyak memang persiapannya. Tapi jangan sampai persiapan ini mengendurkan semangat.

Banyak hal yang bisa menjadi penyemangat. Di samping meningkatkan keuntungan, dengan peningkatan produksi ada kesempatan memberi peluang usaha bagi orang lain.

Peningkatan produksi atau biasa disebut scale up itu menambah keuntungan. Ya iyalah. Kan jualan tambah banyak, maka jumlah keuntungan lebih banyak. Ehm… yang dimaksud keuntungan ini, supaya sama pemahaman, adalah prosentasenya tau disebut margin nya.

Begini salah satu ilustrasinya. Kalau biasanya kita jualan 100 pcs, mendapatkan penghasilan, 1.000. Biaya pembelian bahan baku 600. Biaya operasional 100. Untung bersih 300. Prosentase keuntungan yang 300 ini dibandingkan dengan penghasilan (revenue) adalah 30%. Inilah yang disebut margin.

Scale up menjadi 1.000 pcs. Penghasilan 10.000. Penghasilan, naik 10 kali. Biaya pembelian bahan baku seharusnya naik 10x juga. Biaya operasional menjadi 1.000. Nha ini, yang menarik. Biaya bahan baku. Biaya pembelian bahan baku bisa turun. Kok bisa? Contoh sederhana, saat bila beli 1 kg telur harganya misal Rp. 25ribu. Kalau beli 10 Kg, biasanya ada diskon, katakanlah menjadi Rp. 23.500. Turun Rp. 1.500,- atau 6%. Lumayan. Jika beli lebih banyak lagi, malah bisa mendapatkan diskon lebih banyak. Bahkan ada kemudahan lain, misal: barang diantar ke rumah, pembayaran tunda, dll.

Coba kita tangkap saja peluang ini. Biaya bahan baku turun 4%, sehingga perhitungan menjadi :

Penghasilan                                        : 10.000,-

Biaya Pembelian Bahan Baku :   5.760 ,-

(sebelumnya 6.000 mendapat diskon 240 atau 4)

Biaya Operasional                               :   1.000,-

(dianggap naik juga 10x lipat, meski bisa juga dihemat)

Keuntungan bersih                              :   3.240,-

(naik 240 rupiah atau marjin dari 30% menjadi 32,4%)

Dalam hal ini marjin naik 8% dengan penghematan 4% pada pembelian bahan baku. Penghematan ini karena peningkatan kapasitas produksi atau scale up.

Disinilah manfaat scale up ada peluang penghematan biaya. Di samping mendapatkan kenaikan keuntungan karena penjualan bertambah, juga mendapatkan keuntungan tambahan dari penghematan biaya produksi dan lainnya.

Tapi bagaimana jika tempatnya berbeda dan berjauhan. Biaya pengangkutan bahan bisa naik juga. Memang betul. Inilah yang disebut kekuatan tawar. Harus pandai memanfaatkan bargaining power atau kekuatan tawar saat kebutuhan kita lebih banyak bahkan meningkat tinggi. Ketika seseorang beli sedikit kekuatan tawar akan lemah. Tapi saat membeli lebih banyak bahkan 10x, maka kekuatan tawar bisa dimainkan. Misal : beli ditempat yang sama, namun pada jarak tertentu, mendapatkan fasilitas biaya kirim gratis. Ini sering juga kita lihat pada toko atau supermarket. Belum lagi, dengan pengadaan yang besar, tak diperlukan pembayaran tunai. Tapi pembayaran tunda. Misal 30 hari setelah barang diterima. Dari perputaran dana ini punya manfaat. In sya Allah masih banyak lagi fasilitasnya.

Semoga menambah semangat meningkatkan produksi.

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

eighteen − four =