You are currently viewing Puasa dan Adaptasi

Puasa dan Adaptasi

Pada beberapa hari ini, kita ‘dipaksa’ bangun lebih pagi. Kita punya rutinitas baru, makan sahur. Bagi sebagian dari kita, bisa jadi ini hal baru. Tapi uniknya, meski berat di awal, kita bisa menyesuaikannya. Tak jarang kita temui, apa yang kita alami, menjadi kebiasaan baru. Inilah salah satu keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia, kemampuan adaptasi yang tinggi.

Puasa pun tidak menyurutkan kita melakukan aktivitas seperti biasanya. Salafus soleh, para pendahulu kita juga memberikan banyak teladan. Ada beberapa perang disiapkan dan terjadi saat bulan Ramadhan. Perang Khandaq atau sering juga disebut Perang Konfederasi. Saat koalisi Yahudi dan Quraisy mengepung Madinah, kota markas besar kaum muslimin. Musuh mungkin berpikiran, saat puasa, saat asupan energi berkurang, dan kondisi lemah merupakan saat yang tepat menyerang. Mereka salah total.

Salah satu strategi menahan serangan itu adalah pembuatan parit di sekeliling kota. Penggalian parit itu dilakukan saat bulan Ramadhan. Inovasi dan sebuah solusi gagasan Salman Al Farisi. Semua terlibat persiapan dan penggalian, tak terkecuali Rasulullah SAW. Atas upayak keras dan  pertolongan Allah, umat Islam memenangkan pertempuran.

Perang Badar, Pembebasan Kota Mekkah, Perang Ain Jalut di bawah komando Sultan Qutuz,  juga berlangsung saat kaum muslim sedang berpuasa. Kemerdekaan Indonesia juga diproklamasikan saat puasa ramadhan. Itulah beberapa peristiwa yang menorehkan tinta emas sejarah berlangsung pada Bulan Ramadhan. Itu bukan menjadikan semangat lemah. Memang asupan makanan dan minuman berbeda, bisa jadi berkurang, tetapi spirit tetap membara.

Bagaimana saat ini? Mari kita introspeksi diri. Memang tak layak, jika umat Islam  menurun produktivitasnya, saat Ramadhan. Nglemprek alias lemas letoi. Memang beda situasi dan kondisi yang jauh berbeda. Saat ini relatif lebih nyaman dibandingkan kondisi masa perjuangan penyebaran awal dakwah. Kalau dulu banyak keterbatasan dan bisa bahkan mencetak sejarah, maka masa kini harusnya bisa lebih. Peristiwa lampau bisa memberi tambahan semangat kepada kita, bahwa justru dalam keadaan berpuasa, umat Islam produktif dan mencetak sejarah.

Semua itu berawal dari diri kita sendiri. Karena kita yang menentukan pilihan. Kita diberikan sikap adaptif yang cepat. Harus kita manfaatkan optimal. Orang lain adalah pelengkap. Semoga kita termasuk orang yang menepati janji seperti yang termaktub dalam QS Al Ahzab ayat 23:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).”

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita insan adaptif. Dan pribadi-pribadi yang menjadi teladan bagi sekeliling. Insan yang kuat dan tangguh. Kita kuat, Islam kuat dan menjadi motor penggerak perubahan. Insya Allah, Indonesia Jaya.

Wallaahu’alam bish shawab

Silahkan share jika bermanfaat!

This Post Has 2 Comments

  1. Ilhamsyah mas choefrani

    Sangat motivatif dan inspiratif.

  2. Ivan Yu

    Jadi malu….pak UAW ust Ari Wi

Leave a Reply

nine − five =