Stok Barang Mending Lebih atau Kurang?

Stok Barang Mending Lebih atau Kurang?

Stok Barang Mending Lebih atau Kurang?

 

Pada kawasan sebuah kota tidak jauh dari Jakarta, ada beberapa WA Group yang berisi promosi dan pasar bagi komunitas. Ini salah satu upaya sesame warga untuk memromosikan produk dan bahkan bisa beli produk teman.

Suatu saat saya mendapatkan jawaban dari WA sebuah WAG UMKM.

“Pak, barangnya habis. Besok saya kabari”, begitu jawaban atas pesanan makanan yang saya pesan.

Padahal sekeluarga pingin banget merasakannya. Esoknya, saat ada tawaran, ternyata kita sudah mendapatkannya dari tempat lain.

Saya yakin, banyak yang mengalami hal seperti itu saat belanja lewat daring. Bagi penjual tentunya, tidak enak juga menolak permintaan pelanggan. Sayang banget. Banyak faktor kenapa stok tidak diperbanyak. Ada juga memang konsisten ingin menjual segitu saja. Habis jam berapa pun, ia tidak menambah produksi. Ia ingin menciptakan rasa penasaran, kpada pembeli. Namun, ada juga yang tidak siap bahan bakunya atau kemasan. Satu bahan kebanyakan. Bahan lain kurang. Faktor kedua ini yang perlu dipecahkan.

“Kadang kita buat 100 pak, tidak habis, Bingung juga mau dikemanakan. Eee.. pas buat lebih sedikit, orderan banyak banget. Kita nggak ada bahan”, salah seorang penjual menanggapi WA saya saat saya bilang bahwa saya sudah ada makanan yang kami minati.

Bagaimana supaya persediaan bisa memenuhi harapan pelanggan? Data memegang peranan penting. Persediaan yang tidak pas pemborosan juga. Semua order pasti dicatat. Baik dikertas, dilayar WA, dan sebagainya. Perlu dirapikan. Bisa saja diambil rata-rata dalam 1 bulan. Kemudian dilihat juga saat mana permintaan turun. Waktu apa permintaan naik.

Dengan data tersebut kita bisa melakukan perkiraan berapa kebutuhan pelanggan yang sudah bisa menerima produk yang ditawarkan. Data rata-rata penjulaan yang akan dijadikan patokan. Produk kita tentunya punya daftar bahan baku yang dibutuhkan. Itu biasa disebut bill of material (BOM). Ehm, singkatannya kok mengerikan. Boleh saja disebut BOMA. Bahan atau material yang dibutuhkan untuk merakit, mencampur atau memproduksi produk akhir itulah BOMA. BOMA akan menjadi alat pengendali produksi. Supaya persediaan baik bahan baku maupun produk akhir menjadi optimal. Lebih bagus lagi jika dalam BOMA juga disertakan toleransi produk catat. Misalnya dalam proses pengadukan, ada bahan yang tercecer dll. Toleransi yang kita berikan misalnya 1%, maka jika kita butuh untuk produksi normal bahan 100, maka dalam BOMA ditulis 100 + 1% atau sama dengan 101.

Sebagai contoh, membuat produk Suhu Jahe Instan 100 kg, dibutuhkan; susu bubuk 50 kg, bubuk jahe 30kg, gula aren bubuk 20kg. Karena ada toleransi bahan tercecer dalam proses produksi adalah 1%, maka pada BOMA ditulis:

Susu Bubuk : 50,5kg. | Bubuk Jahe: 30,3kg. | Gula Aren bubuk: 20,2 kg

Dari BOMA tersebutlah kita akan belanja.

Tapi saya pingin ada stok produk akhir, bagaimana caranya?

Stok atau persediaan, dalam contoh pembuatan susu jahe instan, maka perlu diperhatikan adalah batch atau kemampuan mesin mixer/pengadukan. Jika kapasitasnya 5-6 kg, maka sebaiknya persediaan adalah kelipatan mesin kita. Atau bisa juga kelipatan kemasan bahan baku. Namun, dalam proses produksi lebih diutamakan kapasitas mesin. Dalam proses pembuatan BOMA ini segala aspek yang berhubungan dengan keuangan perlu dicatat. Termasuk menghitung berapa biaya produksi.

Sehingga persediaan atau stok itu mending lebih atau kurang, tentunya bisa dijawab berdasarkan data. BOMA menjadi patokan atau acuan. Ini agar kita bisa menjamin bahwa jumlah bahan yang dibeli, produk akhir yang jadi bisa sesuai harapan pelanggan. Setidaknya kita mengurangi kekecewaan pelanggan karena kehabisa stok. Atau juga mengurangi biaya kita akibat persediaan yang berlebihan.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

4 × 3 =