Zonk?

Zonk?

“Coach, saya nggak punya produk buatan sendiri. Jualan saya tergantung dari produk orang lain. Kadang barangnya ada, kadang kosong. Bagaimana saya bisa meningkatkan penjualan?”

Ada sahabat yang mengalami hal yang sama? Pertanyaan serupa? Pas banyak order, ternyata barang kosong. Sudah dapat omelan pelanggan, penjualan turun drastis. Boro-boro untung, malah buntung. Kenapa buntung? Reptutasi kita nyungsep. Zonk!

Allah Tuhan Maha Adil. Ada yang jago produksi, tapi nggak piawai pemasaran dan penjualan. Begitu pula sebaliknya Jadi kalau berniaga tapi bukan produk hasil karya sendiri, juga sah. Bisa dikatakan sesuai istilah tren, drop shipper. Model bisnis yang saling menguntungkan. Yang penting pembeli puas. Apa sih kepuasan pembeli? Lazimnya, dapat barang bagus dan harga sesuai kantong alias budget. Secara umum dikatakan, bagus dan murah.

Kepuasan pembeli atau pelanggan ini saja yang jadi fokus para penjual.

Harga itu bisa disebabkan karena biaya produksi, biaya pendukung seperti biaya pengiriman,  dan juga biaya administrasi. Source atau sumber barang boleh kita peroleh dari mana saja. Itu harus, upaya meminimalkan kekosongan stok. Tapi harga yang diterima pelanggan setidaknya mirip. Jangan njomplang. Biaya produksi agak susah dikontrol, tapi biaya lain bisa kita kendalikan. Inilah faktor kunci pembeda dari yang lain. Kalau nggak kompetitif, bisa nggak ada repeat order. Jika sudah begitu, nggak ada pemasukan, tho? Bisnis  bisa zonk.

Nggak mau ikutan zonk ? Bagaimana caranya?

Silakan sahabat bisa mengikuti event on-line dengan klik link ini:
http://bit.ly/bisnistangguh

Terima kasih. Sampai jumpa.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

8 − seven =