Hidup & Nasib : Realita yang Terlalu Kita Seriusi

HIDUP & NASIB: REALITA YANG TERLALU KITA SERIUSI

by : Dyah Juniati *)

Kita ini sering sibuk bilang: “Ini salah, itu salah, seharusnya begini, yang itu seharusnya begitu”.

Seolah hidup punya buku manual dan kita cuma tinggal mengikuti petunjuknya. Padahal pertanyaan paling sederhana yang jarang ditanyakan adalah “sopo sing mengharuskan?”

Siapa yang bilang hidup itu harus adil, harus masuk akal, harus sesuai logika kita?

Padahal hidup itu pada dasarnya yaa liar. Kadang indah, kadang kejam, sedih, happy.. sering kali acak.

Kita berjalan di antara pilihan dan kebetulan, antara usaha dan takdir. Kadang harapan terpenuhi, kadang ngaplo..

Setiap langkah terasa seperti hasil keputusan pribadi, ikut formula, tapi di saat yang sama dibentuk oleh hal-hal yang tidak pernah kita pilih: misal lahir di keluarga apa, gen seperti apa, budaya seperti apa, kondisi ekonomi seperti apa, tiba2 saja kita lahir mak bedunduk (baca: tiba-tiba) di bumi ini.

Di titik ini, “nasib” bukan konsep mistis, tapi gabungan antara struktur biologis, sosial dan hukum alam.

Masalahnya, kita sering terjebak di epistemologi: kita sibuk menilai, menghakimi, mencari makna, mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ingin hidup bisa dijelaskan dulu sebelum bisa diterima.
Kita ingin nasib bisa dirasionalisasi dulu sebelum bisa berdamai.

(Jare sopoooo…iku lak jaremuuu..begitu kata Kartolo, salah satu tokoh seni di Surabaya).

Ternyata realitas tidak pernah menunggu persetujuan kita. Ia tetap berjalan, mau kita paham atau tidak.

Kita semakin bingung lagi karena kupasan-kupasan di sekeliling kita simpang siur tumpang tindah, bertarung dalam debat yang tak kunjung titik.

Agama misalnya, memberi kerangka makna agar hidup tidak terasa terlalu absurd.

Sedangkan filsafat mencoba merapikan kekacauan itu dengan konsep.

Sains membongkar lapis demi lapis: genetika menentukan potensi, hormon memengaruhi emosi, otak membuat keputusan sebelum kita sadar, struktur sosial menentukan peluang bahkan sebelum kita lahir.

Semua itu membuat satu hal makin jelas bahwa kebebasan kita ini sepertinya nyata, tapi sangat terbatas; kendali kita ada, tapi tidak pernah penuh.

Mungkin kita perlu menggeser cara berpikir. Dari epistemologi ke ontologi. Dari sibuk bertanya “apa maknanya?” menjadi “apa yang sebenarnya terjadi?”.

Dari “seharusnya hidup begini” menjadi “nyatanya hidup adalah begini”.

Bukan berarti berhenti berpikir, tapi berhenti memaksa realitas agar sesuai dengan harapan pikiran kita.

Nasib, kalau dilihat secara ontologis, bukan hukuman, bukan hadiah, bukan teka-teki kosmik. Ia hanyalah hasil pertemuan antara faktor-faktor yang tidak kita pilih dan respons yang sebisanya kita lakukan. Tidak adil, tidak rapi, tidak konsisten, tapi NYATA.

Mungkin hidup memang bukan soal menemukan jawaban paling benar. Tapi cuma soal belajar hadir di dalam realita yang tidak pernah kita desain sendiri, sambil tetap berusaha, tetap sadar dan menerima bahwa sebagian besar hal penting dalam hidup tidak pernah tunduk pada logika “seharusnya”.

Spill obrolan santai bareng dr. Ryu Hasan Roslan Yusni Hasan. Huggs Kafe, medical centre NUH, 27 Januari 2026.

*) Dyah Juniati, Alumni Bhawikarsu/SMA 3 Malang, Alumni TAUB 1989. Garwa (baca: sigarane nyawa) alias istri dari Charis Soeharto, diaspora Indonesia yang berkarya di perusahaan jasa energi di Singapura.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 8 =