Foto yang nampak adalah kondisi 1-2 tahun terakhir ini. Saya tidak sampai hati menampilkan foto sebelum 1986.
Ethiopia. Dunia pernah menaruh perhatian pada negeri ini. Saat perang saudara berkecamuk. Terjadi bencana kelaparan hebat. Kepiluan yang akhirnya terkuak, saat awak media berhasil masuk. Mereka meliput dan memberitakan kejadian kelaparan terhebat dalam sejarah. Tercatat 1 juta orang lebih meninggal karena kelaparan. Jutaan lainnya tumbuh dengan gizi buruk. Bantuan kemanusiaan datang silih berganti. Hingga konser amal yang memopulerkan lagu ‘We Are The World’. Misi kemanusiaan tuntas pada 1986. Momen 40 tahun lalu, tentu banyak yang bertanya, bagaimana membayangkan keberlangsungan negeri ini setelahnya.
Kini, negeri ini menjadi salah satu negara di Afrika yang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat. Pertumbuhan ekonomi tahunan diproyeksikan mencatat angka di kisaran 7,2%. Bandingkan dengan rerata di benua Afrika yang 4%. Belum lagi, pertumbuhan ekonomi global yang 2,5%-3,5%. Fantastis, bukan?
Pertumbuhan itu dipicu dari beberapa sektor. Konsep : ‘Ethiopia Tamrit’ atau ‘Biarkan Ethiopia Memroduksi’ merupakan Program Strategis Nasional. Menandai upaya menggeser struktur ekonominya dari negara agraris menjadi negara industri. Mereka berusaha menekan impor dan menaikkan devisa.
Agroindustri dan hortikultura menjadi fondasi utama dan menyumbang porsi besar bagi lapangan kerja serta pendapatan negara. Salah satunya adalah kopi. Memang, Kopi Sidamo terkenal seantero jagad.
Proyek strategis seperti bendungan besar penunjang irigasi sekaligus pembangkit listrik tenaga air dibangun memperkuat kapasitas penyediaan energi. Listrik menjadi energi penggerak industri manufaktur dan pertambangan. Mereka memanfaatkan betul keberadaan dan potensi Danau Tana, Sungai Nil Biru, Gilgel Gibe, Takeze, dan beberapa sungai lainnya
Industri manufaktur bermunculan. Emas dan industri pengolahannya menjadi penyokong pertumbuhan besar lainnya. Di samping itu, pembangunan kawasan industri kain rajutan dan kain garmen memicu perkembangan rantai pasok negeri ini.
Pertumbuhan sektor industri ini diklaim 12%. Ekspor sektor manufaktur mengalami kenaikan 60% di tahun 2025 lalu (USD 607 juta)
Transformasi penghematan juga dilakukan melalui pelarangan impor kendaraan berbahan bakar fosil.
Meski masih ada ketimpangan sosial ekonomi, beberapa daerah mencatat kemajuan significant. Salah satu indikator perubahan besar itu adalah Addis Ababa. Pembangunan yang masif sebagai ibukota Ethiopia.
Addis Ababa, Adama, dan beberapa kota lain mengubah ‘wajah’ Ethiopia lebih cantik dibandingkan 40 tahun lalu.
Inilah salah satu bukti, bagaimana industri manufaktur dan rantai pasoknya mengubah perekonomian sebuah negara.
Semoga menginspirasi negeri yang kita cintai ini. Industri manufaktur pernah jaya dan menjadi penggerak utama perekonomian di negeri yang kita cintai ini. Kini upaya itu ada dan mulai bergerak. Seluruh stake holder negeri ini perlu berjibaku, mewujudkannya. Jer basuki mowo beyo. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
*)diolah dari berbagai sumber