Ada kalanya saat sholat subuh kita mendengar dan menyimak imam melantunkan Doa Qunut. Ada satu penggalan qunut yang menarik:
“Wa bariklii fiimaa a’thoit”
“Dan berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan.”
Doa ini memberi pelajaran menarik. Permintaan keberkahan, bukan lebih banyak. Apa pasal? Ya, manusia hampir selalu berpikir tentang menambah. Tambah harta. Tambah aset. Tambah penghasilan.Tambah jabatan.Tambah kendaraan. Tambah usaha. Tambah pengaruh. Tambah usia.
Namun, jeda dari rukuk sebelum sujud, mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:
“Sudahkah yang aku miliki membawa berkah?”
Memang banyak itu belum tentu berkah. Saya dan mungkin kebanyakan dari kita, sering mengukur keberhasilan dengan angka. Revenue dan profit semakin besar berarti semakin baik. Aset semakin banyak, punya semakin sukses. Harga saham naik terus menandakan semakin makmur. Pengikut semakin banyak, maka kita semakin berpengaruh. Jabatan semakin tinggi berarti semakin mulia.
Padahal belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Kenapa?
Ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi selalu merasa kurang. Hidupnya tidak tenang. Ada yang rumahnya besar, jabatannya naik terus, tapi keluarganya tidak harmonis. Ada yang memiliki banyak ilmu tetapi semakin sombong. Naudzubillaah min dzalik.
So….masalah kehidupan bukan hanya banyak atau besar atau tingginya, tapi apa yang terjadi pada diri kita setelah memilikinya. Setelah kita diberi Allah SWT Tuhan yang Maha Pemurah.
Jika harta membuat kita semakin bersyukur, mungkin itulah keberkahan. Kalau jabatan yang dipercayakan semakin naik dan tinggi, membuat kita semakin amanah, semakin dekat kepada Allah, mungkin itulah keberkahan. Jika ilmu membuat kita semakin rendah hati, mungkin itulah keberkahan.
Keberkahan bukan semata banyaknya sesuatu, tetapi kebaikan yang Allah letakkan di dalam sesuatu itu.
Kata barokah mengandung makna kebaikan yang bertambah dan menetap.
Karena itu, keberkahan tidak selalu tampak dalam bentuk jumlah. Ia bisa intangible. Suatu rezeki bisa sedikit secara angka, tetapi mampu memenuhi banyak kebutuhan. Revenue dan profit kecil secara angka, namun mampu menghidupi lebih banyak orang dan mitra kerja. Satu ilmu bisa tampak sederhana, tetapi mengubah jalan hidup seseorang. Sebuah hunian mungkin nampak kecil dan sederhana, tetapi penuh kebaikan, ketenangan, kedamaian yang selalu dirindukan untuk tempat pulang.
Kita perlu membedakan antara, banyak dan berkah. Banyak berbicara tentang jumlah. Berkah berbicara tentang manfaat, kebaikan dan ketenteraman yang Allah letakkan di dalamnya.
Itulah kenapa kita meminta keberkahan pada setiap yang diberikan Allah: fiima a’thoit. Ini sebuah pengakuan, bahwa apa yang kita miliki sebenarnya adalah pemberian Allah. Harta, aset, ilmu, jabatan, bukan semata-mata hasil kerja keras, upaya, perjuangan, dan kecerdasan kita. Kita memang belajar, bekerja, dan berjuang.
Coba kita balik bertanya, siapa yang memberikan akal, kesehatan,
kesempatan? Siapa yang mempertemukan kita dengan orang-orang tertentu? Networks yang semakin luas? Maka doa ini juga mendidik hati agar kita sadar dan mengakui bahwa semua itu adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita.
Di samping itu, keberkahan mengubah cara pandang kita. Dengan keberkahan, harta, aset, jabatan bisa menjadi sarana.
“Bagaimana menggunakan apa yang Allah berikan dengan benar?”
Jumlahnya mungkin sama. Bisa jadi kemanfaatan yang dirasakan berbeda. Di dalam apa pun yang Allah berikan, ada kebaikan yang menuntun kita kepada-Nya. Satu lagi bentuk keberkahan yang paling indah adalah Allah membuat hati kita merasa cukup. Bukan berarti berhenti berusaha dan berjuang. Tidak boleh juga berhenti memiliki cita-cita. Bukan berarti tidak boleh menjadi kaya.
Kita tetap berusaha keras, tetapi tidak menyembah hasil. Kita mengejar target keberhasilan, tetapi tidak kehilangan Allah. Kita mencari rezeki, tetapi tidak menghalalkan segala cara. kita memiliki harta, aset, jabatan di tangan, tetapi tidak membiarkannya menguasai hati kita.
Waktu sebelum sujud itu banyak memberikan hikmah. Mari melihat kembali apa yang sudah Allah berikan.
“Ya Allah, aku mungkin masih menginginkan banyak hal. Tetapi sebelum Engkau menambah sesuatu kepadaku, berkahilah terlebih dahulu apa yang sudah ada dalam hidupku.”
“Jangan biarkan pemberian-Mu menjadi sebab aku jauh dari-Mu”.
“Jadikan apa yang Engkau berikan sebagai jalan menuju kebaikan”.
Wa baariklii fiimaa a’thoit. Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadaku.
Wallaahu a’lam bish showab
Serambi Masjid Assalaam, Duri.