Hidup, Berusaha, dan Berkarya Sebaik-baiknya Hari Ini

Ada masa yang menjemukan. Apa itu? Salah satunya adalah menunggu pesawat berangkat. Kadang sudah duduk manis di ruang tunggu, ada penundaan keberangkatan. Tak jarang, datang kepagian karena jalanan menuju bandara ternyata lengang. Masih banyak beberapa peristiwa unik lainnya.

Membunuh rasa jemu dan bosan, banyak cara. Salah satu yang sering dilakukan adalah membuka lini masa di HP android. Ini upaya agar tetap produktif.

Media sosial  pun acapkali terdapat postingan yang penuh hikmah. Bahkan menusuk dalam. Seringkali (ini yang saya alami) adalah jawaban dari pikiran yang sedang ruwet. Ketidaktahuan yang seakan tak berujung. Solusi yang masih banyak pilihan. Semuanya menimbulkan kegelisahan. Keraguan akan beraksi. Dan banyak lagi yang bergulat di otak kita.

Kali ini tangan tergerak untuk membuka android. Ini hasil temuan dari sebuah status seseorang. Saya membuka aplikasi mushaf digital, ada satu ayat yang mengena untuk diulik lebih dalam.

“Innallaaha ‘indahuu ‘ilmus-saa‘ah, wa yunazzilul-ghaiits, wa ya‘lamu maa fil-ar-ḫaam, wa maa tadrii nafsum maadzaa taksibu ghadaa, wa maa tadrii nafsum bi’ayyi ardlin tamuut, innallaaha ‘aliimun khabiir”

“Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Luqman: 34)

Kadang kita lambat bertindak, karena menunggu perkembangan. Menunda. Hati masih gelisah, tak enak memberikan keputusan. Penuh pertimbangan yang sebenarnya sudah banyak alternatif solusi. Padahal aksi tunda itu, memengaruhi kinerja orang lain.

Besok dan seterusnya adalah rahasia Allah. Tidak perlu ditebak. Tidak perlu gelisah. Hidup, berusaha, dan berkarya sebaik-baiknya hari ini.

Nha.. ini jawabannya. Ambil keputusan dengan mudharat paling minimal. Segera beraksi. Semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan.

Meminta Keberkahan

Ada kalanya saat sholat subuh kita mendengar dan menyimak imam melantunkan Doa Qunut. Ada satu penggalan qunut yang menarik:

“Wa bariklii fiimaa a’thoit”
“Dan berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan.”

Doa ini memberi pelajaran menarik. Permintaan keberkahan, bukan lebih banyak. Apa pasal? Ya, manusia hampir selalu berpikir tentang menambah. Tambah harta. Tambah aset. Tambah penghasilan.Tambah jabatan.Tambah kendaraan. Tambah usaha. Tambah pengaruh. Tambah usia.

Namun, jeda dari rukuk sebelum sujud, mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

“Sudahkah yang aku miliki membawa berkah?”

Memang banyak itu belum tentu berkah. Saya dan mungkin kebanyakan dari kita, sering mengukur keberhasilan dengan angka. Revenue dan profit semakin besar berarti semakin baik. Aset semakin banyak, punya semakin sukses. Harga saham naik terus menandakan semakin makmur. Pengikut semakin banyak, maka kita semakin berpengaruh. Jabatan semakin tinggi berarti semakin mulia.

Padahal belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Kenapa?

Ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi selalu merasa kurang. Hidupnya tidak tenang. Ada yang rumahnya besar, jabatannya naik terus, tapi keluarganya tidak harmonis. Ada yang memiliki banyak ilmu tetapi semakin sombong. Naudzubillaah min dzalik.

So….masalah kehidupan bukan hanya banyak atau besar atau tingginya, tapi apa yang terjadi pada diri kita setelah memilikinya. Setelah kita diberi Allah SWT Tuhan yang Maha Pemurah.

Jika harta membuat kita semakin bersyukur, mungkin itulah keberkahan. Kalau jabatan yang dipercayakan semakin naik dan tinggi, membuat kita semakin amanah, semakin dekat kepada Allah, mungkin itulah keberkahan. Jika ilmu membuat kita semakin rendah hati, mungkin itulah keberkahan.

Keberkahan bukan semata banyaknya sesuatu, tetapi kebaikan yang Allah letakkan di dalam sesuatu itu.

Kata barokah mengandung makna kebaikan yang bertambah dan menetap.
Karena itu, keberkahan tidak selalu tampak dalam bentuk jumlah. Ia bisa intangible. Suatu rezeki bisa sedikit secara angka, tetapi mampu memenuhi banyak kebutuhan. Revenue dan profit kecil secara angka, namun mampu menghidupi lebih banyak orang dan mitra kerja. Satu ilmu bisa tampak sederhana, tetapi mengubah jalan hidup seseorang. Sebuah hunian mungkin nampak kecil dan sederhana, tetapi penuh kebaikan, ketenangan, kedamaian yang selalu dirindukan untuk tempat pulang.

Kita perlu membedakan antara, banyak dan berkah. Banyak berbicara tentang jumlah. Berkah berbicara tentang manfaat, kebaikan dan ketenteraman yang Allah letakkan di dalamnya.

Itulah kenapa kita meminta keberkahan pada setiap yang diberikan Allah: fiima a’thoit. Ini sebuah pengakuan, bahwa apa yang kita miliki sebenarnya adalah pemberian Allah. Harta, aset, ilmu, jabatan, bukan semata-mata hasil kerja keras, upaya, perjuangan, dan kecerdasan kita. Kita memang belajar, bekerja, dan berjuang.

Coba kita balik bertanya, siapa yang memberikan akal, kesehatan,
kesempatan? Siapa yang mempertemukan kita dengan orang-orang tertentu? Networks yang semakin luas? Maka doa ini juga mendidik hati agar kita sadar dan mengakui bahwa semua itu adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita.

Di samping itu, keberkahan mengubah cara pandang kita. Dengan keberkahan, harta, aset, jabatan bisa menjadi sarana.

“Bagaimana menggunakan apa yang Allah berikan dengan benar?”

Jumlahnya mungkin sama. Bisa jadi kemanfaatan yang dirasakan berbeda. Di dalam apa pun yang Allah berikan, ada kebaikan yang menuntun kita kepada-Nya. Satu lagi bentuk keberkahan yang paling indah adalah Allah membuat hati kita merasa cukup. Bukan berarti berhenti berusaha dan berjuang. Tidak boleh juga berhenti memiliki cita-cita. Bukan berarti tidak boleh menjadi kaya.

Kita tetap berusaha keras, tetapi tidak menyembah hasil. Kita mengejar target keberhasilan, tetapi tidak kehilangan Allah. Kita mencari rezeki, tetapi tidak menghalalkan segala cara. kita memiliki harta, aset, jabatan di tangan, tetapi tidak membiarkannya menguasai hati kita.

Waktu sebelum sujud itu banyak memberikan hikmah. Mari melihat kembali apa yang sudah Allah berikan.

“Ya Allah, aku mungkin masih menginginkan banyak hal. Tetapi sebelum Engkau menambah sesuatu kepadaku, berkahilah terlebih dahulu apa yang sudah ada dalam hidupku.”

“Jangan biarkan pemberian-Mu menjadi sebab aku jauh dari-Mu”.

“Jadikan apa yang Engkau berikan sebagai jalan menuju kebaikan”.

Wa baariklii fiimaa a’thoit. Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadaku.

Wallaahu a’lam bish showab

Serambi Masjid Assalaam, Duri.

Ketampanan, Risiko dan Hikmah

Tampan atau ganteng adalah kata sifat dalam bahasa Indonesia yang berarti elok, rupawan, dan menarik perhatian. Atribut ini disematkan khusus untuk laki-laki. Secara psikologis dan sosiologis, memiliki wajah tampan membawa beberapa keuntungan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa saja kelebihannya:
1. Efek Halo atau Wow (Hallo Effect): Orang tampan otomatis dinilai lebih cerdas, jujur, dan baik hati pada pandangan pertama.
2. Keuntungan Karier: Penampilan menarik membuka peluang lebih besar dalam wawancara kerja, negosiasi bisnis, dan penjualan. Kesan pertama bisa memengaruhi proses selanjutnya.
3. Kemudahan Bersosialisasi: Lebih mudah mendapatkan perhatian positif, bantuan dari orang lain, dan memperluas jaringan pertemanan. Ia menjadi magnet.
4. Kepercayaan Diri Tinggi: Daya tarik visual yang diakui lingkungan sekitar. Secara tidak langsung meningkatkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi.

Namun, kegantengan itu bukannya tanpa risiko. Sekelas Nabi Yusuf a.s. pun pernah mendapatkan risiko itu. Beliau mendapat ujian besar yang memicu godaan maksiat dari wanita bangsawan Mesir (Zulaikha). Nabi Yusuf harus mendekam dipenjara demi menjaga kesucian diri.

Risiko Ketampanan yang dinukilkan dari kisah Nabi Yusuf a.s. termaktub dalam Surat Yusuf.

Apa saja pelajaran berharga itu?
1. Menjadi Ujian Hubungan Keluarga: Ketampanannya membuat saudara-saudaranya merasa iri dan dengki hingga tega membuangnya ke dalam sumur. Kalah saingan dan disingkirkan.
2. Godaan dan Fitnah Syahwat: Paras rupawannya membuat para wanita bangsawan Mesir terperanjat hingga tak sadar melukai tangan mereka sendiri saat memotong buah. Godaan itu nyata, tetapi pilihan Nabi Yusuf untuk menjaga diri lebih mulia.
3. Fitnah Pemenjaraan: Penolakan Nabi Yusuf a.s. terhadap ajakan berzina dari Zulaikha berisiko besar hingga ia harus dipenjara bertahun-tahun demi mempertahankan kehormatan dan ketaatannya kepada Allah SWT.

Dalam kisah Nabi Yusuf tersebut juga tersimpan hikmah yang mendalam. Bagaimana ketampanan bisa menjadi added value:
1. Sarana Menjaga Kehormatan: Menunjukkan bahwa keindahan fisik harus dikendalikan oleh keimanan yang kokoh. Benteng agar tidak menjerumuskannya ke dalam keburukan. Ya betul, nikmat fisik pun harus dijaga agar tidak menjerumuskan diri dan orang lain
2. Pelajaran Kesabaran: Ujian silih berganti akibat ketampanannya, membentuk karakter sabar, tabah, dan tawakal tingkat tinggi pada diri Nabi Yusuf a.s.
3. Kemuliaan dan Kedudukan: Menjadi jalan pembuka bagi Allah SWT untuk mengangkat derajatnya sebagai pemimpin yang bijaksana. Salah satunya menjadi pejabat di Mesir dalam mengelola urusan pangan umat manusia.

Pesan penting pada kajian siang ini adalah ketampanan dan ketertarikan yang tidak dijaga dapat membuat seseorang kehilangan kendali.

Ketinggian derajat tidak otomatis membuat seseorang terjaga dari dosa. Hanya takwa yang menjaga.

Penggalan ayat ini menjadi pengingat : “qaththa‘na aydiyahunna”, tanpa sadar melukai diri sendiri.

Tatkala syahwat memimpin, akal kehilangan kendali.

Semoga kita semua terhindar dari ujian buruk ketampanan itu.
Wallaahu a’lam bish showwab

Hikmah Sholat Jumat
Masjid Ar-Ridho, Jurangmangu Timur, 28 Agustus 2026.

Makan dan Minum, Obat Kegelisahan

Tak jarang, kita ditimpa masalah atau kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Itu membuat gelisah, gundah, dan sedih. Manusiawi. Move on-nya bisa singkat atau ada juga yang butuh waktu relatif lama.

Mari kita cermati bagaimana Allah SWT mengajarkan untuk beradaptasi dengan kondisi kegelisahan itu. Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk bersabar dan menjadi kuat. Tapi tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi fisik manusia. Bagaimana menjaga kebutuhan fisik melalui makan dan minum.

Sebuah pesan pernah hinggap di WA dari salah satu guru kehidupan saya, KH. Masturi Istamar:

“Bahkan ketika kita sedih, Allah tidak langsung menyuruh kita kuat, melainkan: makan.”

Seperti biasa, saya coba mengulik landasan pesan itu. Memang unik cara guru ini memberi pelajaran. Kalimat pendek disampaikan untuk memantik keingintahuan kita.

Pesan tersebut salah satunya dikaitkan dengan kisah Bunda Maryam ketika menghadapi ujian yang sangat berat.

Allah SWT memerintahkan Maryam untuk makan, minum, dan menenangkan hatinya setelah melalui proses persalinan Nabi Isa. Beliau dalam kondisi penuh tekanan dan kesedihan. Kisah itu termaktub dalam Surat Maryam ayat 26:

“Maka makanlah dan minumlah serta bersenang hatilah. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
(QS. Maryam: 26)

Ayat tersebut mengandung sejumlah hikmah yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

1. Pentingnya menjaga kesehatan fisik. Dalam kondisi sedih, stres, maupun kelelahan, tubuh tetap membutuhkan asupan makanan dan minuman yang cukup. Fisik yang kuat memberi energi untuk menghadapi masalah.
2. Pentingnya menenangkan hati dan berserah diri kepada Allah SWT. Frasa “qarrii ‘ainaa” dalam ayat tersebut bermakna menenangkan hati atau menyejukkan pandangan. Manusia tidak perlu cemas berkepanjangan setelah melakukan ikhtiar.
3. Berupaya keras menghindari perdebatan yang tidak memberikan manfaat. Dalam kisah Maryam, Allah memerintahkan untuk berpuasa bicara agar tidak terjebak dalam perdebatan maupun menghadapi tuduhan yang menyakitkan. Jika terpaksa, response seperlunya saja

Masya Allah, Al-Qur’an tidak hanya memberikan tuntunan dalam beribadah, namun juga memberikan panduan dalam menghadapi kondisi psikologis manusia.

Menghadapi dan mengalami masa sesulit apa pun, kita diajarkan untuk tetap menjaga kesehatan, menenangkan pikiran, memperbanyak doa, serta mencari cara yang baik untuk mengelola tekanan agar mampu menghadapi ujian dengan lebih tenang.

Wallahu a’lam bish showab

Klandungan, Dau : 26 Agustus 2026.

Surat Al-Insyirah, Insinyur, dan Ketahanan Mental

Surat Al Insyirah sering disebut Surat Alam Nasyrah. Firman Allah ini mengajarkan bahwa penerimaan masalah akan membuka jalan keluar. Kerja keras adalah kunci mengatasi rintangan. Orientasi hidup harus ditujukan kepada Sang Pencipta.

Mari disimak tafsir dan penerapannya bagi seorang insinyur. Sebetulnya bisa bagi siapa saja. Akuntan. Dokter. Auditor. Dan profesi lainnya.
.
Ayat 1: Kelapangan Dada
a lam nasyraḫ laka shadrak (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu Nabi Muhammad))

Allah SWT menegaskan bahwa DIA telah melapangkan dada Nabi Muhammad SAW untuk menerima kebenaran dan beban dakwah. Kelapangan kalbu adalah kunci utama menerima ilmu dan hidayah.
.
Bagaimana penerapan bagi Insinyur:

Engineer harus membangun mental yang terbuka (growth mindset). Seorang insinyur harus lapang menerima kritik desain, perubahan spesifikasi proyek, dan tuntutan kolaborasi di lapangan.
.
Ayat 2 & 3: Pelepasan.

wa wadla‘nâ ‘angka wizrak. alladzii anqadla dhahrak (meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu. yang memberatkan punggungmu)
.
Allah SWT meringankan beban berat (tugas kenabian) yang sebelumnya sangat memberatkan dan membebani punggung Rasulullah SAW.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ia mampu memecahkan masalah kompleks. Saat menghadapi beban kerja atau masalah teknis yang rumit. Insinyur dapat membaginya menjadi modul atau fase kerja yang lebih kecil agar lebih mudah diselesaikan.
.
Ayat 4: Peninggian

wa rafa‘naa laka dzikrak (dan meninggikan derajat-mu  dengan selalu menyebut-nyebut nama-mu?)

Allah SWT meninggikan sebutan nama Nabi Muhammad SAW. Nama beliau selalu bersanding dengan nama Allah dalam syahadat dan pujian.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Seorang engineer harus mau dan mampu membangun kredibilitas melalui integritas dan dedikasi pada profesi. Menjaga kualitas hasil rekayasa hingga diakui dan dipercaya oleh klien atau masyarakat.
.
Ayat 5 & 6: Kemudahan Bersama Kesulitan

fa inna ma‘al-‘usri yusraa. inna ma‘al-‘usri yusraa (Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan)
.
Penegasan mutlak dari Allah SWT bahwa di dalam setiap kesulitan pasti selalu ada kemudahan (fa inna ma’al-usri yusra). Diulang dua kali untuk memantapkan keyakinan.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ia pantang menyerah saat desain atau uji coba gagal. Hitung lagi. Buat Cost Estimasi lagi. Coba lagi. Tes lagi. Setiap tantangan teknis, kegagalan struktur, atau bug sistem pasti memiliki solusi rekayasa (teknik) yang bisa ditemukan melalui analisis mendalam dan eksperimen.
.
Ayat 7: Etos Kerja Konsisten

fa idzaa faraghta fanshab (Apabila engkau telah selesai dengan suatu kebajikan, teruslah bekerja keras untuk kebajikan yang lain)
.
Perintah Sang Maha Kuasa kepada Nabi SAW, apabila selesai dari suatu urusan, maka segera mengerjakan urusan yang lain juga dengan sungguh-sungguh.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Insinyur mampu menelorkan dan menerapkan produktivitas yang berkelanjutan (continuous improvement). Saat satu fase proyek atau checklist tugas selesai, langsung beralih dan fokus pada fase pengembangan selanjutnya tanpa menunda-nunda. Sekali lagi tanpa menunda. Tekan enter, bukan ENTAR.
.
Ayat 8: Berharap Hanya kepada Allah

wa ilaa rabbika farghab (Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!)
.
Perintah untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dan harapan dari setiap usaha yang dilakukan.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ini yang penting. Tiada daya upaya karena ridlo Allah. Ia perlu menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Setelah melakukan kalkulasi matematis dan penerapan ilmu fisika terbaik pada sebuah proyek, serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Semoga membawa manfaat.

Salam Insinyur Indonesia!
.
.
.
Salam takzim dengan penuh kebanggaan.
Goresan pena penyemangat bagi Perwira EFK yang akan dilantik dan diambil sumpah sebagai Insinyur pada 25 Juli 2025 pada Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Wayfinding Engineering

Terus terang saya baru mendengar dan tahu apa itu wayfinding engineering, ketika diterangkan salah satu sahabat yang telah lama bermukim di negeri seberang. Ia menanggapi pujian saya atas kemudahan mencari tempat di bandara tempat ia bermukim. Banyak penunjuk arah. Beberapa alat bantu disediakan di beberapa area. Sehingga memudahkan mencari tempat/area, bahkan bagi orang yang pertama kali menginjakkan kaki di bandara tersebut. Kecil kemungkinan tersesat.

Wayfinding Engineering dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Rekayasa Sistem Penunjuk Arah atau Teknik Pemanduan Arah.Secara sederhana, WE adalah kombinasi dari ilmu keteknikan/rekayasa berupa tata letak, jalur, aksesibilitas. Plus desain visual berupa tanda arah, rambu/signage, warna, simbol. Dan juga, psikologi perilaku manusia yang di dalamnya mememberi kemudahan, bagaimana orang berpikir dan mengambil keputusan saat mencari jalan. Dalam 1-2 detik ia bisa memutuskan. Kombinasi itu agar orang tidak tersesat, tidak bingung, dan bergerak efisien.

Ia pun melanjutkan penjelasan. Kali ini membuat saya tambah terkejut. Ternyata salah satu ahli WE ini adalah orang Indonesia. Perempuan muda yang juga adik kelas kami di SMA. Ia salah satu desainer bandara yang dinobatkan terbaik di dunia ini. Anak muda ini juga secara reguler sebagai akademisi di beberapa politeknik. Kami pun segera menjalin kontak.

Rasa penasaran dan rasa ingin tahu lebih jauh ini, tentunya relevan dengan industri layanan jasa yang sedang kami geluti. Bagaimana menambah services yang memudahkan orang lain. Memberi nilai tambah kepada pelanggan.

Semoga dalam waktu dekat, saya dan juga rekan kerja bisa menggali lebih jauh lagi.

 

Empati dan Rezeki

Karunia terbesar umat manusia adalah diberikan Sang Maha Kuasa memiliki kekuatan empati. Banyak tokoh menyepakati hal tersebut.

Empati itu apa?

Empati adalah kemampuan mental untuk memahami, merasakan, dan berbagi emosi atau perspektif orang lain seolah-olah berada di posisi mereka. Ini adalah kemampuan psikologis untuk memahami dan merasakan emosi orang lain, atau menempatkan diri di posisi mereka.

“Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of another.” (Alfred Adler)

Bagaimana dengan kondisi kekinian dan kedisinian?

Sebuah pasar modern punya lapak di dalam dan ada toko yang menghadap area parkir. Sering mata tertuju pada toko atau outlet itu. Kenapa? Mereka kebanyakan meletakkan rombong atau gerobak atau meja kursi hingga teras dan selasar. Padahal sesuai desain awal, area itu untuk pengunjung dan pembeli berlalu lalang. Area parkir pun menyempit, banyak orang yang jalan lewat tempat yang seharusnya area parkir. Tak jarang, ketika lewat ada pembeli bersusah payah mencari jalan lain. Apalagi, ketika membawa belanjaan yang banyak dan pakai trolley. Harus digotong. Perlu tenaga ekstra. Unsafe action. Kadang harus rela kehujanan, agar cepat lewat. Enggan mencari jalan putar. Unsafe behaviour. Mereka mengalah sembari menggerutu. Pengelola pun nampak tidak ada tindakan. Sehingga tambah banyak toko atau lapak yang melakukan hal serupa.

Bisa jadi ini dianggap sepele. Remeh temeh. Tapi contoh ini bisa disebut miskin empati. Coba jika penjual tersebut menempatkan diri pada posisi seperti pembeli yang bawa belanjaan banyak, bawa kereta dorong hasil belanja, dan ditambah bawa anak. Hujan deras pula. Betapa repotnya. Punya potensi celaka.

Padahal jika ia mengembalikan hak pengunjung, teras dan selasar dikembalikan pada fungsinya. Bisa jadi rezeki bertambah. Minimal, usahanya tidak menjadi tempat gerutu atau kekesalan orang lain. Pengunjung dan pembeli lebih aman dan selamat. Keberkahan usaha bertambah. Insya Allah.

Itu salah satu contoh. Tentunya ada dan masih banyak contoh lain. Malah kemiskinan empati yang jauh lebih besar. Tapi berangkat dari hal yang kecil, sesuatu perubahan dimulai. Itulah kenapa empati menempati posisi penting dalam Islam.

“Pertolongan Allah akan senantiasa menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Mari kita kikis kemiskinan empati. Kita berempati di mulai dari diri sendiri.  Semoga dengan menumbuhkan sifat empati ini, kita menjadi bangsa besar.Bangsa yang membumikan ajaran luhur Islami. Bangsa yang kuat.