Ketampanan, Risiko dan Hikmah

Tampan atau ganteng adalah kata sifat dalam bahasa Indonesia yang berarti elok, rupawan, dan menarik perhatian. Atribut ini disematkan khusus untuk laki-laki. Secara psikologis dan sosiologis, memiliki wajah tampan membawa beberapa keuntungan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa saja kelebihannya:
1. Efek Halo atau Wow (Hallo Effect): Orang tampan otomatis dinilai lebih cerdas, jujur, dan baik hati pada pandangan pertama.
2. Keuntungan Karier: Penampilan menarik membuka peluang lebih besar dalam wawancara kerja, negosiasi bisnis, dan penjualan. Kesan pertama bisa memengaruhi proses selanjutnya.
3. Kemudahan Bersosialisasi: Lebih mudah mendapatkan perhatian positif, bantuan dari orang lain, dan memperluas jaringan pertemanan. Ia menjadi magnet.
4. Kepercayaan Diri Tinggi: Daya tarik visual yang diakui lingkungan sekitar. Secara tidak langsung meningkatkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi.

Namun, kegantengan itu bukannya tanpa risiko. Sekelas Nabi Yusuf a.s. pun pernah mendapatkan risiko itu. Beliau mendapat ujian besar yang memicu godaan maksiat dari wanita bangsawan Mesir (Zulaikha). Nabi Yusuf harus mendekam dipenjara demi menjaga kesucian diri.

Risiko Ketampanan yang dinukilkan dari kisah Nabi Yusuf a.s. termaktub dalam Surat Yusuf.

Apa saja pelajaran berharga itu?
1. Menjadi Ujian Hubungan Keluarga: Ketampanannya membuat saudara-saudaranya merasa iri dan dengki hingga tega membuangnya ke dalam sumur. Kalah saingan dan disingkirkan.
2. Godaan dan Fitnah Syahwat: Paras rupawannya membuat para wanita bangsawan Mesir terperanjat hingga tak sadar melukai tangan mereka sendiri saat memotong buah. Godaan itu nyata, tetapi pilihan Nabi Yusuf untuk menjaga diri lebih mulia.
3. Fitnah Pemenjaraan: Penolakan Nabi Yusuf a.s. terhadap ajakan berzina dari Zulaikha berisiko besar hingga ia harus dipenjara bertahun-tahun demi mempertahankan kehormatan dan ketaatannya kepada Allah SWT.

Dalam kisah Nabi Yusuf tersebut juga tersimpan hikmah yang mendalam. Bagaimana ketampanan bisa menjadi added value:
1. Sarana Menjaga Kehormatan: Menunjukkan bahwa keindahan fisik harus dikendalikan oleh keimanan yang kokoh. Benteng agar tidak menjerumuskannya ke dalam keburukan. Ya betul, nikmat fisik pun harus dijaga agar tidak menjerumuskan diri dan orang lain
2. Pelajaran Kesabaran: Ujian silih berganti akibat ketampanannya, membentuk karakter sabar, tabah, dan tawakal tingkat tinggi pada diri Nabi Yusuf a.s.
3. Kemuliaan dan Kedudukan: Menjadi jalan pembuka bagi Allah SWT untuk mengangkat derajatnya sebagai pemimpin yang bijaksana. Salah satunya menjadi pejabat di Mesir dalam mengelola urusan pangan umat manusia.

Pesan penting pada kajian siang ini adalah ketampanan dan ketertarikan yang tidak dijaga dapat membuat seseorang kehilangan kendali.

Ketinggian derajat tidak otomatis membuat seseorang terjaga dari dosa. Hanya takwa yang menjaga.

Penggalan ayat ini menjadi pengingat : “qaththa‘na aydiyahunna”, tanpa sadar melukai diri sendiri.

Tatkala syahwat memimpin, akal kehilangan kendali.

Semoga kita semua terhindar dari ujian buruk ketampanan itu.
Wallaahu a’lam bish showwab

Hikmah Sholat Jumat
Masjid Ar-Ridho, Jurangmangu Timur, 28 Agustus 2026.

Surat Al-Insyirah, Insinyur, dan Ketahanan Mental

Surat Al Insyirah sering disebut Surat Alam Nasyrah. Firman Allah ini mengajarkan bahwa penerimaan masalah akan membuka jalan keluar. Kerja keras adalah kunci mengatasi rintangan. Orientasi hidup harus ditujukan kepada Sang Pencipta.

Mari disimak tafsir dan penerapannya bagi seorang insinyur. Sebetulnya bisa bagi siapa saja. Akuntan. Dokter. Auditor. Dan profesi lainnya.
.
Ayat 1: Kelapangan Dada
a lam nasyraḫ laka shadrak (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu Nabi Muhammad))

Allah SWT menegaskan bahwa DIA telah melapangkan dada Nabi Muhammad SAW untuk menerima kebenaran dan beban dakwah. Kelapangan kalbu adalah kunci utama menerima ilmu dan hidayah.
.
Bagaimana penerapan bagi Insinyur:

Engineer harus membangun mental yang terbuka (growth mindset). Seorang insinyur harus lapang menerima kritik desain, perubahan spesifikasi proyek, dan tuntutan kolaborasi di lapangan.
.
Ayat 2 & 3: Pelepasan.

wa wadla‘nâ ‘angka wizrak. alladzii anqadla dhahrak (meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu. yang memberatkan punggungmu)
.
Allah SWT meringankan beban berat (tugas kenabian) yang sebelumnya sangat memberatkan dan membebani punggung Rasulullah SAW.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ia mampu memecahkan masalah kompleks. Saat menghadapi beban kerja atau masalah teknis yang rumit. Insinyur dapat membaginya menjadi modul atau fase kerja yang lebih kecil agar lebih mudah diselesaikan.
.
Ayat 4: Peninggian

wa rafa‘naa laka dzikrak (dan meninggikan derajat-mu  dengan selalu menyebut-nyebut nama-mu?)

Allah SWT meninggikan sebutan nama Nabi Muhammad SAW. Nama beliau selalu bersanding dengan nama Allah dalam syahadat dan pujian.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Seorang engineer harus mau dan mampu membangun kredibilitas melalui integritas dan dedikasi pada profesi. Menjaga kualitas hasil rekayasa hingga diakui dan dipercaya oleh klien atau masyarakat.
.
Ayat 5 & 6: Kemudahan Bersama Kesulitan

fa inna ma‘al-‘usri yusraa. inna ma‘al-‘usri yusraa (Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan)
.
Penegasan mutlak dari Allah SWT bahwa di dalam setiap kesulitan pasti selalu ada kemudahan (fa inna ma’al-usri yusra). Diulang dua kali untuk memantapkan keyakinan.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ia pantang menyerah saat desain atau uji coba gagal. Hitung lagi. Buat Cost Estimasi lagi. Coba lagi. Tes lagi. Setiap tantangan teknis, kegagalan struktur, atau bug sistem pasti memiliki solusi rekayasa (teknik) yang bisa ditemukan melalui analisis mendalam dan eksperimen.
.
Ayat 7: Etos Kerja Konsisten

fa idzaa faraghta fanshab (Apabila engkau telah selesai dengan suatu kebajikan, teruslah bekerja keras untuk kebajikan yang lain)
.
Perintah Sang Maha Kuasa kepada Nabi SAW, apabila selesai dari suatu urusan, maka segera mengerjakan urusan yang lain juga dengan sungguh-sungguh.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Insinyur mampu menelorkan dan menerapkan produktivitas yang berkelanjutan (continuous improvement). Saat satu fase proyek atau checklist tugas selesai, langsung beralih dan fokus pada fase pengembangan selanjutnya tanpa menunda-nunda. Sekali lagi tanpa menunda. Tekan enter, bukan ENTAR.
.
Ayat 8: Berharap Hanya kepada Allah

wa ilaa rabbika farghab (Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!)
.
Perintah untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dan harapan dari setiap usaha yang dilakukan.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ini yang penting. Tiada daya upaya karena ridlo Allah. Ia perlu menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Setelah melakukan kalkulasi matematis dan penerapan ilmu fisika terbaik pada sebuah proyek, serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Semoga membawa manfaat.

Salam Insinyur Indonesia!
.
.
.
Salam takzim dengan penuh kebanggaan.
Goresan pena penyemangat bagi Perwira EFK yang akan dilantik dan diambil sumpah sebagai Insinyur pada 25 Juli 2025 pada Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Followership Bernilai Ibadah

Kepemimpinan adalah peran yang dijalankan oleh seseorang yang diberikan kepercayaan oleh pengikutnya guna memikul tanggung jawab sebagai perwakilan organisasi. Seorang leader umumnya berasal dari pengikut. Leader tanpa follower, tak akan ada. Pemimpin tanpa pengikut, bukan pemimpin sebenarnya. Sehingga, pemimpin dengan pengikut tak dapat dipisahkan. Satu paket lengkap.

Follower wajib taat kepada pemimpinnya selama bukan dalam kemaksiatan. Dalam agama Islam, ada pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad:

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci, kecuali jika ia disuruh berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”

Follower ini bukan sembarang pengikut. Pengikut yang dapat membawa manfaat. Alm. Dr. Handry Satriago, CEO GE Indonesia 2011-2023, dalam disertasinya : Examining The Followers’ Influence on Leader’s Performance: A Reverse Pygmalion Effect, menyatakan bahwa:

“Peranan dan kemampuan pengikut atau bawahan atau follower secara aktif memengaruhi dan berdampak positif pada kinerja pimpinan (leader) dan keberhasilan organisasi. Di samping itu, persepsi, keyakinan, dan perilaku kritis pengikut atau follower terhadap pemimpinnya atau leader secara positif berhubungan dengan tingkat kinerja pemimpin tersebut.

Contoh sehari-hari followership ini adalah pelaksanaan sholat berjamaah. Makmum tidak pernah mempertanyakan siapa imamnya. Ia berbaris berderet dan berbaris rapi ketika iqamah dikumandangkan. Makmum sholat berjamaah, tunduk/mengikuti (mutaba’ah) kepada imam.

Ada lagi yang fenomenal. Masih ingat kisah Khalid bin Walid, Panglima Perang yang Ahli Strategi dan Pemberani. Ia memenangkan setiap pertempuran yang dipimpinnya. Beliau mendadak diganti oleh Umar bin Khattab RA. Apa reaksinya?

“Demi Allah, jika Kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat keislamanmu jauh lebih baik daripada aku. Dan kamu telah dijuluki sebagai “Yang dipercaya oleh Nabi”? Aku tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi”

Itu jawaban spontan dan lugas Khalid bin Walid. Beliau mengeluarkan pernyataan untuk Umar bin Khattab RA, dihadapan Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya. Sesaat setelah beliau dibebastugaskan oleh Umar bin Khatab RA.

Apa yang terjadi setelah itu? Apa beliau berkemas lalu pulang? Muthung? Tidak! Sama sekali tidak! Beliau, masya Allah, tetap berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi followernya Abu Ubaidah.

Terlihat jelas bahwa pengikut yang baik dan setia adalah mitra kritis. Bagaimana menjadi mitra kritis itu ?

  1. Kritis dan  memiliki pendirian. Mau dan mampu menelaah, bahkan memberikan pendapat bertolak belakang sekali pun. Namun, tetap berpegang teguh pada value, dalam hal ini Al Qur;an dan Hadits.  Bukan, sekedar ‘yes man‘.
  2. Aktif berinteraksi. Berdiskusi dan bahkan berani berdebat berdasarkan data dengan pemimpin.
  3. Memberikan ide dan nilai. Memberikan masukan yang konstruktif dan juga nilai yang dipahami bersama. Bahkan jika itu bertentangan dengan ide pemimpin.

Terus apa manfaat menjadi pengikut setia alias mitra kritis? Tentu saja organisasi menjadi kuat dan berkembang. Kok bisa? Iya, karena good follower akan menciptakan pemimpin yang efektif. Timbul rasa saling menghargai dan percaya. Respect dan trust ini adalah modal utama menjadikan organisasi yang kuat dan berkembang. Mari menelisik firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 59 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Muhammad, dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dan juga sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

“Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka terhadapku maka ia telah durhaka terhadap Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin (amir), maka ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka terhadap pemimpin maka ia telah durhaka kepadaku.”

So, menjadi follower yang baik bisa menjadikan organisasi maju dan berkembang. Tentunya, hal yang baik itu akan menjadi tambahan catatan amal kebaikan kita. Followership pun bisa bernilai ibadah.

Wallaahu a’lam bishawab.

Ownership, Mengapa Itu Penting?

Tim pasti gabungan dari beberapa individu. Tiap anggota tim punya ketrampilan masing-masing. Leader harus mampu mengelolanya. Itulah seninya. Leader setelah tahu peta individu anggota timnya, ia bisa melakukan pendelegasian. Memberi kesempatan mengambil alih. Menciptakan tujuan bersama untuk mengembangkan keahlian dan kemajuan profesional individu/ Tentu saja nantinya yang juga berkontribusi terhadap pencapaian tim secara keseluruhan.

Mari ingatan kita putar beberapa tahun lalu. Banyak pelajaran dari kisah pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Tim sepakbola adalah gambaran tim yang efektif. Pemain pilihan didukung oleh tim yang multi talenta. Ada coach sebagai leader. Ada manajer tim yang mengurusi bagian umum. Tenaga medis juga ada. Melibatkan tenaga pengambil dan pengolah data. Satu sama lain saling melengkapi. Terlebih pada diri pemain. Ada yang spesialis juru gedor. Pengatur serangan. Pemain depan yang haus gol. Back yang bak tembok tapi lincah. Penjaga gawang yang refleknya ciamik, dan lain-lain.

Ketika itu ada tim yang mencatat sejarah. Tim Kroasia. Tapi siapa sangka, dinamika penuh drama bagaimana mengelola tim beranggotakan pemain hebat pada posisi dan punya nama besar.

Iya. Tim ini pernah memulangkan Nicola Kalinic, sang bomber AC Milan. Penyerang langgan timnas Kroasia sejak usia dini. Ia dipulangkan oleh sang pelatih, Zlatko Dalic. Apa pasal?  Kalinic, yang merupakan salah satu pemain AC Milan menolak diturunkan ke lapangan sebagai pemain pengganti pada menit ke- 85. Injury time. Kala itu, Kroasia melawan Nigeria pada pertandingan fase grup. Ia merasa menjadi pemain kunci, pemain hebat, tidak layak dibangkucadangkan. Harusnya ia menjadi starter. Ia protes dengan cara menolak permintaan sang pelatih. Usai pertandingan pun ia enggan meminta maaf kepada pelatih dan tim atas kesombongannya itu. Ia lupa, bahwa ia bagian dari tim. Rasa kepemilikannya memudar, karena ia menganggap dirinya hebat. Ownershipnya luntur.

Keesokan paginya, sang pelatih mengambil tindakan tegas. Pelatih menyerahkan tiket pesawat pulang ke Kroasia kepada Kalinic. Pemain ini dipulangkan. Diminta angkat koper. Deretan penyerang berkurang 1 orang. Tentu ini memberatkan tim, rotasi pemain menjadi masalah. Apalagi Kroasia ketika itu sering bermain dengan perpanjangan waktu. Pergantian pemain adalah penyegaran.

Saat dipulangkan, bukannya menyesal. Kalinic nampak tak peduli bahkan cenderung bangga. Ia kedapatan mengunggah foto-fotonya di media sosial, saat sedang berwisata. Ia nampak ingin bilang, tanpa dirinya, tim Kroasia akan seperti macan ompong. Tidak bisa berbuat banyak. Keok. Tak bakal melaju ke babak knock-out.

Tapi apa yang terjadi? Tim Kroasia berhasil melewati babak awal. Tim yang memeproleh nilai sempurna, 9 dari 3 pertandingan. Mereka maju ke babak 16 besar. Dan terus melangkah maju bahkan hingga babak final.

Meski akhirnya harus puas dengan medali perak, tetapi itu adalah prestasi yang luar biasa. Permainan Kroasia di babak final ciamik. Meski kalah, kalah terhormat. Dengan kepala tegak tim Kroasia menerima medali perak. Jutaan pasang mata melihat daya juang, energi dan kesungguhan Tim Kroasia.

Trust and Respect

Trust dan respect itu apa sih? Apa hubungannya dengan leadership.

Trust atau kepercayaan adalah keyakinan positif yang dimiliki oleh bawahan bahwa seorang pemimpin memiliki niat baik dan kemampuan untuk bertindak demi kepentingan terbaik tim dan organisasi.

Analogi yang relatif mudah untuk menerangkan apa itu kepercayaan adalah anak kecil/bayi yang diajak senda gurau oleh ayahnya. Ayahnya melempar bayi atau anak kecil itu ke udara. Si bayi malah tertawa lepas. Ia bahagia. Senang, malah ketagihan. Kenapa kok ia tidak nangis atau teriak ? Karena si bayi tahu, bahwa ia akan ditangkap kembali oleh bapaknya. Bapaknya sedang mengajak bercanda. Bukan dilempar terus ditinggal. Atau ia sedang dibuang, dilempar dalam arti sebenarnya.

Sedangkan respect atau rasa hormat adalah pengakuan dan penghargaan yang timbal balik. Pemimpin kepada anggota timnya. Pun pengakuan dan penghargaan yang diterima pemimpin dari followernya, atas nilai intrinsik/sebenarnya, kontribusi, dan keberadaan mereka sebagai individu.

Kisah panglima perang tersohor ini dapat dijadikan bahan pelajaran. Siapa yang tak kenal Khalid bin Walid. Ia tak pernah kalah jika ia diberikan kepercayaan memimpin sebuah pasukan tempur. Namun, suatu saat ia diganti mendadak oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ia direshuffle saat sedang memimpin pasukan pula. Semua orang khawatir, akan terjadi perlawanan, perpecahan, bahkan pasukan kocar-kacir dan kalah perang. Tapi apa yang diucapkan dan dilakukannya di luar dugaan. Ia berkata:

“Demi Allah, jika kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat ke-Islamanmu jauh lebih daripada aku dan kamu telah dijuluki sebagai orang yang dipercaya oleh Nabi? Aku pun tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi.”

Beliau mengeluarkan pernyataan itu ditujukan kepada Umar bin Khattab, pemimpin tertinggi. Ia mengucapkan saat Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya, ada didepannya juga. Ia ucapkan sesaat setelah beliau menerima surat bebas tugas. Dan, hebatnya lagi, Khalid bin Walid bukannya memacu kudanya pulang. Beliau tetap ikut berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi anggota pasukan. Ia menerima perintah dan komando Abu Ubaidah. Pertempuran itu pun dimenangkan oleh Pasukan Abu Ubaidah.

Akhlak yang patut diteladani, apalagi ketika pada posisi menjadi pemimpin. Bahkan sedang tersohor pula. Ia menaruh rasa hormat sekaligus percaya kepada pimpinannya. Ia percaya hari ini pemimpin, suatu saat bisa menjadi anggota tim. Sebaliknya yang saat ini menjadi followernya, suatu saat menjadi leader. Khalid bin Walid trust & respect kepada Umar bin Khattab, pun juga kepada Abu Ubaidah. Ia membuktikan sebagai effective leader.

Trust dan respect, dua pilar fundamental yang mutlak diperlukan dalam kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan. Keduanya saling terkait erat dan menjadi perekat yang mengikat pemimpin dengan pengikut. Dua hal itu sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya sendiri.

Walk the talk.

Leader and Direction

Sebuah tim harus ada pemimpin. Jika tidak, tim bisa berantakan. Leader menetapkan tujuan dan mengarahkan tim dengan tepat. John F. Kennedy, Presiden ke-35 AS, atau lebih dikenal dengan JFK pernah menyatakan :

“Effort and courage are not enough without purpose and direction.”

Benar adanya, untuk mencapai kesuksesan, usaha dan keberanian saja tidak cukup. Ia harus mempunyai target, tujuan yang bakal dicapai. Pun perlu arahan yang tepat. Ini memberikan gambaran, bahwa menjalankan sesuatu perlu tim. Ada leader dan ada follower. Harus bahu membahu, bukan semuanya ingin bertindak sebagai pemimpin, punya ijtihad atau justifikasi sendiri. Anggotanya juga mau dan mampu mengikuti arahan pemimpin. Itulah tim yang efektif.

Guna mencapai tim yang efektif  perlu pedoman arah alias kompas. Kompas menurut KBBI adalah pedoman arah. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara. North.

Tina Benson, Managing Director of Team Tactics Ia juga kontributor Chartered Management Institute, UK mengemukakan bagaimana leader membangun tim efektif yang bisa mempertahankan bisnis. Bahkan mampu memenangkan persaingan. Leader perlu fokus  hanya pada tiga hal:

“Leadership, Ownership, and Relationship.”

Leadership, ownership dan Relationship jika disingkat menjadi LOR. Lor adalah bahasa Jawa yang punya arti Utara. Gothak gathuk matuk.

Leadership

Mengelola tim yang efektif berarti menjadi pemimpin yang efektif. Memimpin dari depan dengan memberikan contoh. Ing ngarso sung tulodho. Ditengah tim ia menyemangati dan mau mendengar. Ing madyo mangun karso. Ia juga mampu memberi dorongan, pun memberi peluang pelaksanaan ide anggota tim. Tut wuri handayani.

Ownership

Rasa kepemilikan tugas pada semua tingkatan mengambil peran sangat penting untuk mencapai kesuksesan. Leader harus tahu, bahwa ia tidak hanya berada di garis terdepan, tetapi menjadi tumpuan anggota tim. Ia sepenuhnya siap untuk berbicara kepada mereka saat dibutuhkan. Karena itu salah satu cara untuk menanamkan keyakinan dalam tim. Sama seperti anggota tim harus yakin tentang tujuan proyek dan proses untuk sukses. Sense of belonging.

Relationship

Tim efektif intinya adalah hubungan tim dan bagaimana tim dipersepsikan. Ini adalah hubungan antara leader dengan follower, manajer dengan sstaf. Kualitas hubungan menentukan seberapa mulus proses delegation (pendelegasian) dan transition (transisi) dapat terjadi. Tim harus selalu menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Blak-blakan? Boleh.

Tulisan ini bentuk keprihatinan saat menemukan masalah sepele yang berlarut penyelesaiannya. Setelah dicari akar masalahnya, salah satunya adalah karena masalah komunikasi. Ada hal menarik saya coba bagi kepada leader semua. Semoga berkenan. Kali ini terkait konsep berinteraksi yang disebut Radical Candor
.
Konsep yang digagas Kim Malone Scott. Mantan petinggi Google dan Apple.
.
Buku yang diterbitkannya berjudul: ‘How to Get What You Want by Saying What You Mean’
.
Apa itu arti kata ‘candor’ :
“the quality of being open and honest in expression; frankness”
(terus terang, blak-blakan, opo anane : kata Arema)

Konsep ini menggambarkan empat jenis perilaku komunikasi:

1.Ruinous Empathy (Empati yang Merusak):
Seseorang tidak memberikan umpan balik. Ia berbicara dengan berbelit-belit. Atau bahkan, sekedar diam. Itu semua dilakukan untuk menjaga perasaan. Ini cenderung menghasilkan ketidakjelasan dan konflik terpendam.

2.Obnoxious Agression (Agresi yang Menjengkelkan):
Sebaliknya, seseorang memberikan umpan balik yang tajam dan jujur, tetapi tanpa berempati. Ini bisa berdampak negatif pada motivasi dan kepercayaan.

3.Manipulatif Insincerity (Kepalsuan Manipulatif):
Ditemui suatu kondisi, umpan balik mungkin disampaikan dengan lembut, tetapi sebenarnya tidak jujur. Ini dapat menciptakan ketidakpercayaan juga

4.Radical Candor (Keterbukaan Radikal):
Ini adalah tujuan dari konsep ini, di mana seseorang memberikan umpan balik yang tajam dan jujur sambil tetap menjaga empati. Ini menciptakan lingkungan di mana orang dapat berkembang secara pribadi dan profesional.
.
..
Mengapa Radical Candor Penting?

Radical Candor dapat menciptakan pondasi yang kuat untuk hubungan kerja yang sehat dan produktif dalam organisasi.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa pendekatan ini dapat membuat organisasi jadi kuat dan kokoh:

1.Peningkatan Komunikasi:
Radical Candor mendorong komunikasi yang jujur dan terbuka di antara anggota tim. Ini memungkinkan masalah diatasi dengan cepat. Menghindari konflik yang terpendam. Tentu saja bisa mendorong pemecahan masalah kolaboratif dan tuntas.

2.Pengembangan Pribadi dan Profesional.
Dengan menerima umpan balik yang jujur, individu memiliki kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Setiap anggota organisasi semakin dewasa. Bisa membedakan mana personal dan mana profesional/organisasi. Mereka dapat mengidentifikasi area-area yang perlu ditingkatkan dan bekerja bersama melakukan perbaikan.

3.Meningkatkan Kepercayaan:
Rasa percaya di antara rekan kerja tumbuh dan tambah kuat. Mereka tahu bahwa umpan balik yang mereka terima adalah dari hati dan bermaksud baik. Hal ini jelas membantu membangun hubungan yang kuat di dalam tim.

4.Peningkatan Kinerja: Ketika umpan balik dari hati dan bermaksud baik, maka orang merasa didukung dan memungkinkan mereka berkembang. Kinerja secara keseluruhan meningkat. Organisasi lebih produktif.

5.Keterlibatan Karyawan: Ketika karyawan merasa didengar dan dihargai, mereka lebih cenderung terlibat dalam pekerjaan mereka dan membangun loyalitas terhadap organisasi.

Disarikan dari beberapa sumber.
.
Salam Sehat.
Salam Selamat.
Salam 1T.
Salam Takzim.
.
Ari Wijaya
Memori Jendela @7106B RSPI Bintaro. Saat menunggu hasil tes laboratorium sebagai acuan keputusan bisa melanjutkan istirahat di rumah.