Tampan atau ganteng adalah kata sifat dalam bahasa Indonesia yang berarti elok, rupawan, dan menarik perhatian. Atribut ini disematkan khusus untuk laki-laki. Secara psikologis dan sosiologis, memiliki wajah tampan membawa beberapa keuntungan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa saja kelebihannya:
1. Efek Halo atau Wow (Hallo Effect): Orang tampan otomatis dinilai lebih cerdas, jujur, dan baik hati pada pandangan pertama.
2. Keuntungan Karier: Penampilan menarik membuka peluang lebih besar dalam wawancara kerja, negosiasi bisnis, dan penjualan. Kesan pertama bisa memengaruhi proses selanjutnya.
3. Kemudahan Bersosialisasi: Lebih mudah mendapatkan perhatian positif, bantuan dari orang lain, dan memperluas jaringan pertemanan. Ia menjadi magnet.
4. Kepercayaan Diri Tinggi: Daya tarik visual yang diakui lingkungan sekitar. Secara tidak langsung meningkatkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi.
Namun, kegantengan itu bukannya tanpa risiko. Sekelas Nabi Yusuf a.s. pun pernah mendapatkan risiko itu. Beliau mendapat ujian besar yang memicu godaan maksiat dari wanita bangsawan Mesir (Zulaikha). Nabi Yusuf harus mendekam dipenjara demi menjaga kesucian diri.
Risiko Ketampanan yang dinukilkan dari kisah Nabi Yusuf a.s. termaktub dalam Surat Yusuf.
Apa saja pelajaran berharga itu?
1. Menjadi Ujian Hubungan Keluarga: Ketampanannya membuat saudara-saudaranya merasa iri dan dengki hingga tega membuangnya ke dalam sumur. Kalah saingan dan disingkirkan.
2. Godaan dan Fitnah Syahwat: Paras rupawannya membuat para wanita bangsawan Mesir terperanjat hingga tak sadar melukai tangan mereka sendiri saat memotong buah. Godaan itu nyata, tetapi pilihan Nabi Yusuf untuk menjaga diri lebih mulia.
3. Fitnah Pemenjaraan: Penolakan Nabi Yusuf a.s. terhadap ajakan berzina dari Zulaikha berisiko besar hingga ia harus dipenjara bertahun-tahun demi mempertahankan kehormatan dan ketaatannya kepada Allah SWT.
Dalam kisah Nabi Yusuf tersebut juga tersimpan hikmah yang mendalam. Bagaimana ketampanan bisa menjadi added value:
1. Sarana Menjaga Kehormatan: Menunjukkan bahwa keindahan fisik harus dikendalikan oleh keimanan yang kokoh. Benteng agar tidak menjerumuskannya ke dalam keburukan. Ya betul, nikmat fisik pun harus dijaga agar tidak menjerumuskan diri dan orang lain
2. Pelajaran Kesabaran: Ujian silih berganti akibat ketampanannya, membentuk karakter sabar, tabah, dan tawakal tingkat tinggi pada diri Nabi Yusuf a.s.
3. Kemuliaan dan Kedudukan: Menjadi jalan pembuka bagi Allah SWT untuk mengangkat derajatnya sebagai pemimpin yang bijaksana. Salah satunya menjadi pejabat di Mesir dalam mengelola urusan pangan umat manusia.
Pesan penting pada kajian siang ini adalah ketampanan dan ketertarikan yang tidak dijaga dapat membuat seseorang kehilangan kendali.
Ketinggian derajat tidak otomatis membuat seseorang terjaga dari dosa. Hanya takwa yang menjaga.
Penggalan ayat ini menjadi pengingat : “qaththa‘na aydiyahunna”, tanpa sadar melukai diri sendiri.
Tatkala syahwat memimpin, akal kehilangan kendali.
Semoga kita semua terhindar dari ujian buruk ketampanan itu.
Wallaahu a’lam bish showwab
Hikmah Sholat Jumat
Masjid Ar-Ridho, Jurangmangu Timur, 28 Agustus 2026.