Hidup, Berusaha, dan Berkarya Sebaik-baiknya Hari Ini

Ada masa yang menjemukan. Apa itu? Salah satunya adalah menunggu pesawat berangkat. Kadang sudah duduk manis di ruang tunggu, ada penundaan keberangkatan. Tak jarang, datang kepagian karena jalanan menuju bandara ternyata lengang. Masih banyak beberapa peristiwa unik lainnya.

Membunuh rasa jemu dan bosan, banyak cara. Salah satu yang sering dilakukan adalah membuka lini masa di HP android. Ini upaya agar tetap produktif.

Media sosial  pun acapkali terdapat postingan yang penuh hikmah. Bahkan menusuk dalam. Seringkali (ini yang saya alami) adalah jawaban dari pikiran yang sedang ruwet. Ketidaktahuan yang seakan tak berujung. Solusi yang masih banyak pilihan. Semuanya menimbulkan kegelisahan. Keraguan akan beraksi. Dan banyak lagi yang bergulat di otak kita.

Kali ini tangan tergerak untuk membuka android. Ini hasil temuan dari sebuah status seseorang. Saya membuka aplikasi mushaf digital, ada satu ayat yang mengena untuk diulik lebih dalam.

“Innallaaha ‘indahuu ‘ilmus-saa‘ah, wa yunazzilul-ghaiits, wa ya‘lamu maa fil-ar-ḫaam, wa maa tadrii nafsum maadzaa taksibu ghadaa, wa maa tadrii nafsum bi’ayyi ardlin tamuut, innallaaha ‘aliimun khabiir”

“Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Luqman: 34)

Kadang kita lambat bertindak, karena menunggu perkembangan. Menunda. Hati masih gelisah, tak enak memberikan keputusan. Penuh pertimbangan yang sebenarnya sudah banyak alternatif solusi. Padahal aksi tunda itu, memengaruhi kinerja orang lain.

Besok dan seterusnya adalah rahasia Allah. Tidak perlu ditebak. Tidak perlu gelisah. Hidup, berusaha, dan berkarya sebaik-baiknya hari ini.

Nha.. ini jawabannya. Ambil keputusan dengan mudharat paling minimal. Segera beraksi. Semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan.

Ramadhan dan Hadiah

Ramadhan adalah bulan keberkahan bagi siapa pun tidak hanya umat Islam. Ini yang patut disyukuri. Kenapa demikian? Ada fenomena yang kita alami bersama. Kebanyakan dari kita, membelanjakan dananya lebih besar dari bulan lainnya. Benar demikian? Yuk, dicek bersama pengeluaran kita.

Gejala ini jelas memengaruhi rantai pasokan, supply chain. Perubahan permintaan alias demand yang besar, maka supply atau pasokan akan mengikutinya. Pasar menggeliat. Produsen meningkatkan kapasitas produksinya menjawab pasar. Salah satu tandanya, di beberapa sudut super market , toko grosir, atau toko kelontong ada persediaan terlihat lebih banyak dari biasanya.  Tak ada batasan, apa pelaku bisnis itu muslim atau bukan. Semua bergerak memenuhi permintaan masyarakat. Roda ekonomi bergerak lebih cepat dan membesar. Inilah kebekahan itu.

Tak ubahnya juga bisnis parsel, paket hadiah. Berbagai rupa hadiah juga bertebaran. Baik di jual secara daring maupun secara fisik. Salah satu pertanda bahwa memberi hadiah juga menjadi bagian dari tradisi. Ini juga memutar roda ekonomi. Sangat menggembirakan. Keberkahan tersendiri.

Namun, ada fenomena yang marak, tapi patut diluruskan. Momen Ramadhan, bulan penuh berkah, menjadi dalih. Secara kasat mata, hadiah justru bertebaran dari  pemasok alias vendor kepada pemberi kerja. Dengan dalih rasa terima kasih atas proyek yang telah diberikan. Pemberiannya ikhlas, tanpa ada paksaan. Penerima tidak pernah meminta, tapi dikirimi. Dan banyak lagi justifikasi lainnya. Di samping itu, ada juga hadiah dari bawahan atau subordinate kepada atasannya. Dengan alasan loyalitas atau dalih lainnya.

Mari kita simak peristiwa ketika seorang sabahat ditugaskan Rasulullah SAW menjadi petugas pemungut zakat atau amil zakat. Ia menjalankan tugas dengan sangat baik. Ketika bertemu salah satu muzakki atau wajib zakat, ia diberikan hadiah, setelah usai menerima zakat dari muzakki tersebut. Petugas ini mengabarkan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus ingin mendapatkan persetujuan atas penerimaan hadiah tersebut.

”Ini zakat yang saya kumpulkan, saya serahkan kepada Anda. Sedangkan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepada saya.”
Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa kamu tidak duduk-duduk saja di rumah ayahmu atau ibumu hingga hadiah itu datang kepadamu jika kamu memang benar?”

Peristiwa itu diriwayatkan oleh Bukhari (Hadits Riwayat Bukhari No. 6464), memberikan jawaban yang lugas, bahwa jika orang itu bukan amil zakat/petugas zakat atau hanya seorang yang misal duduk di teras rumah, apa hadiah itu akan diberikan kepadanya? Jelas tidak. Nabi Muhammad SAW memberikan gambaran dan menjadi acuan, bahwa petugas tidak boleh menerima hadiah atas tugas dari pemberi zakat (muzakki) yang diamanahkan kepadanya.

Dalam peristiwa kekinian, petugas itu bisa dianalogikan sebagai pegawai atau karyawan. Ia dilarang menerima hadiah dari pihak lain yang menjadi vendor/pemasok/sub-contractor. Hadiah atau kick-back atau luxury hospitality, dan semacamnya. Kok dilarang? Ajukan pertanyaan yang sama dan perlu dijawab. Jika ia duduk di rumah saja alias bukan karyawan, apa hadiah dari vendor/supplier tersebut akan datang kepadanya? Jika jawabnya belum tentu, maka pemberian itu harus ditolak.

Lain soal ketika hadiah itu dari sejawat, rekan sekolah, atau sanak saudara. Justru hal seperti ini bukti kasih sayang dan menambah kecintaan. Kita pun dianjurkan untuk membalasnya. Apalagi ketika hadiah itu mengalir kepada para fakir, miskin, dan anak yatim piatu. Kalau itu yang terjadi, patut dibudayakan. Tradisi baru. Alhasil usaha parcel hidup dan membesar. Tak perlu khawatir kehilangan pasar bahkan gulung tikar. Ekonomi bergerak.

Pada momen Ramadhan kali ini, mari memulai hal yang benar. Tidak membuat dan mencari justifikasi hal kebiasaan yang tidak tepat agar menjadi benar. Berani menolak pemberian yang bukan hak kita. Itu hebat. Memulai dari diri kita sendiri adalah sesuatu yang besar dan berdampak. Sikap yang top markotop. Terlebih ketika kita didapuk sebagai seorang leader. Harus menjadi contoh. Walk the talk. Patut memilah dan mencegah atas persoalan hadiah ini, dengan apa? Sekali lagi, mengajukan pertanyaan terlebih dulu kepada diri sendiri :

“Jika saya tidak pada posisi saat ini, apa hadiah ini akan datang untuk saya?” Jika jawabnya : “Belum tentu”, maka  hadiah itu harus ditolak. Apalagi, kalau jawabannya : “Tidak”. Jelas, hadiah atau apa pun bentuknya, dilarang diterima.

Ketika aksi tersebut dimulai, ditularkan, dan mengakar, maka bukan hal yang sulit untuk membumikan tata nilai amanah, harmonis, dan loyal. Kita terjaga, perusahaan lebih kompetitif, Indonesia tambah sejahtera.

Wallaahu a’lam bish shawab.

 

 

Tanam dan Tanam Lagi

Pagi itu kami survey tempat atau area bahu jalan yang akan ditanami pohon penghijauan. Beberapa lokasi telah kami tandai dengan menancapkan bambu. Sekalian, bambu itu sebagai perancah alias penguat dan pelindung batang pohon saat awal ditanam.
.
Kami memang menanam pohon dengan pilihan bahu jalan. Kami bersyukur menetap pada komplek yang jalan aksesnya lebar. Lebarnya ada yang 8 hingga 12 meter, termasuk bahu jalannya.
.
Sorenya, saat akan dilakukan penggalian lubang tanam, beberapa tonggak berubah tempat. Kami heran. Tak lama ada tokoh masyarakat yang menghampri.
.
“Mas, tadi saya pindah bambunya. Lokasi tadi bakal jadi jalan masuk”, sembari menunjuk lahan kosong yang sudah lama tak disentuh. Mohon maaf, nggak enak kalau nanti dibilang tidak dirawat.
.
“Ooo gitu, mohon maaf, ya Pak. Tanah ini ini mau dibangun klaster perumahan? jawab salah satu rekan.
.
“Wah, saya nggak tahu. Lha wong, pemiliknya saja saya hampir nggak pernah ketemu. Itu tadi perkiraan saja. Nanti, kalau pohonnya besar bisa menyusahkan”, sahutnya.
.
Kami pun mengiyakan. Menghormati pendapat beliau. Walaupun, sebenarnya kalau ditanam juga tidak apa-apa. Masih lama. Pohon seperti Mahoni Super, Jati Super atau Pohon Pelangi (Eucalyptus Rainbow), butuh waktu 3 agar membesar sepaha orang dewasa. Terlebih, gambar desain klasternya juga belum ada. Mana sebenarnya area yang bakal jadi jalan masuk/keluar.
.
Kenapa tidak apa2? Ya itu anjuran Nabi Muhammad SAW. Tanam dulu, kalau ada kendala tidak apa2 dipindah atau ditebang, tapi tanam lagi di area lain. Terlepas apa pun situasinya, saat ada bibit tanam dulu, tanam lagi.
.
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya”
(HR. Bukhari)
.
In sya Allah akan menjadi amal jariyah. Bayangkan jika pohon itu ditanam dan bermanfaat, kemudian ada yang mengambil bibit atau bijinya, ditanam lagi. Begitu seterusnya. Tabungan kita bisa menggunung.
.
.
Semoga menjadi penyemangat kita.

Nambah Proses, Nambah Untung

Saya punya sahabat petani apel di lereng Gunung Arjuno. Di samping itu, dia juga punya kebun bunga mawar. Kebun bunga ini bisa dipanen tiap hari. Mawar yang mencukupi kebutuhan  harian. Ia ambil kuliah di jurusan yang sama dengan saya, Teknik Mesin. Profesi tani adalah profesi turun temurun dari leluhurnya. Kenapa kok nggak kuliah di Jurusan Pertanian saja? Ternyata alasannya sederhana, supaya bisa menciptakan alat yang mempermudah pekerjaannya. Visioner.

Saya teringat dialog beberapa tahun lalu.

“Mas, pas panen raya apel seperti ini, kadang aku sedih dan gondhok (baca: marah banget)”, tuturnya dengan tatapan kosong, saat saya main di rumahnya.

“Lho, bukannya senang? Kan panen, hasilnya dipetik dan sudah ada tengkulak yang menunggu?”, saya pun agak heran. Pikiran sederhana saya. Saat yang ditunggu tiba. Kayak menunggu kekasih yang lama nggak ketemu. Jie.. jie… Lha, pas panen banyak pembeli yang menunggu di kebun. Tidak perlu repot cari angkutan dan jual ke pasar. Uenaak tho?

“Harga ternyata jatuh. Murah banget. Kalau menunggu harga baik, takut apelnya nggak segar dan busuk. Kadang hasil jualan, ya impas kalau dihitung dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Malah tekor tenaga. Capeknya nggak kebayar”, dia menjawab dengan datar. Tergambar kegalauan di wajahnya.

Kala itu dia belum punya solusi. Apel pun terpaksa dijual dengan harga yang bukan idamannya. Terpaksa. Sungguh terlalu.

Cambuk yang menyakitkan. Tapi lebih dari cukup untuk ia melakukan inovasi dan bangkit.

Apakah ada yang mengalami seperti sahabat saya? Ya, ini memang masalah klasik. Apalagi terjadi pada produk yang keunikan dan harganya ditentukan oleh freshness alias kesegarannya. Bisa masalah, saat produk berlimpah, tapi permintaan sama saja. Maka terjadi supply lebih besar dari demand, harga turun. Bahkan boleh dibilang jatuh. Saya yakin kita semua tidak ingin itu terjadi. Harus ada pembeda, supaya harga sesuai harapan. Harga baik, bisnis bertahan. Bagaimana caranya?

Balik lagi ke Buah Khas Kota Malang itu. Inovasi banyak dilakukan. Saat ini kita bisa melihat sudah ada Sari Apel. Minuman dalam kemasan yang berisi sirup dari apel. Jenang atau dodol apel. Ada juga kripik apel.

Buah Apel jadi kripik apel? Memang mereka harus menambah proses. Biasanya setelah dipetik, dipilah dan dijual. Sekarang ada tambahan proses. Kripik apel misalnya. Ada proses membuat apel jadi kepingan tipis. Diiris pakai mesin, awalnya juga diiris manual pakai pisau dapur. Setelah itu digoreng. Proses jadi kripik dulunya pakai penggorengan biasa. Berkembang hingga menggunakan vacuum frying. Penggorengan yang ditambah alat semacam kedap udara. Titik didih bisa diturunkan, hasilnya gorengan lebih seragam, krispi dan rasa tidak banyak berubah. Plus jarang terjadi overfried alias gosong. Alatnya sudah pakai timer. Kemasan? awalnya plastik biasa. Berkembang dengan kemasan yang menggunakan alumunium foil. Masa kadaluwarsa juga bertambah panjang. Dari 6 bulan menjadi 1 tahun. Bayangkan jika dibandingkan buah segar. Bagaimana dengan nilai jualnya ? Ternyata bisa naik 3-4 kali lipat dari buah segar dengan berat setara.

Proses bisnis yang diperpanjang memang akan menambah waktu dan menambah biaya. Tapi secara total nilai produk bisa bertambah besar. Baik dampak pada produk langsung maupun tidak langsung.

Ini yang namanya, nambah proses, nambah untung.

Nah.. mau nilai produknya naik? Bagaimana menemukan ide seperti itu?

Mari bergabung pada event “Mau Bisnis Tetap Eksis?” dengan klik: http://bit.ly/bisnistangguh

Semoga bermanfaat. Sampai jumpa.

Buying Business (and Its Side Effects)

Persaingan menjadikan orang berusaha keras. Itu juga termasuk dalam dunia bisnis. Para pelaku bisnis pasti ingin bertahan dan bahkan memenangkan persaingan. Itu keniscayaan. Berbagai upaya dilakukan.

Masih lekat dalam ingatan salah satu materi Grounded Leadership Coaching. Coach Dr. Fahmi ketika itu memberi kesempatan Coach Rahman Filzi menyampaikan pengalaman dan berbagi kepada kami. Salah satu sesinya, memberikan tools bagaimana tidak saja bertahan, tapi juga usaha mekar. Bisnis tambah besar. Ya, kami diperkenalkan materi : buying business. Ada juga yang menamai : merger and acquisition. Strategi ini bisa meningkatkan revenue berpuluh kali lipat. Dan ini perlu leadership yang mantap dan kuat.

Menariknya, baru saja saya posting IG saya di @this.is.ariway, untuk berkabar. Ternyata ada sahabat yang japri :

“Masbro, alhamdulillaah, aku sudah melaksanakan apa yang baru saja sampeyan tulis”, pesannya demikian.

“Aku baru beli satu perusahaan untuk menambah ruang lingkup jasa manajemen perusahaanku saat ini”, lanjutan pesan itu saya cermati. Sahabat saya ini owner sekaligus master trainer di PT. Leadership Nasional.

https://leadershipnasional.com/

Saya turut senang dan bangga. Sahabat satu ini semakin mengepakkan sayap bisnisnya.

Eh.. sepekan kemudian, setelah saya usai menjalani pelatihan selama 60 jam di Kota Malang dibimbing oleh Coach Dr. Fahmi. Saya mendapat WA lagi. Kali ini, ia mengajak saya berkolaborasi. Saya pun resmi diminta memperkuat tim trainernya. Sebuah kepercayaan. Barokah. Alhamdulillaah.

Ia juga buying business (kepada) saya. Dampak tambahannya, insya Allah tak kalah dahsyat. Semoga silaturahim dan kerja sama ini berlanjut. Bersama-sama memperkuat bisnis UMKM nasional. UMKM berdaya, Rakyat sejahtera.

 

 

Pengkhianat

Pengkhianat

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc

Awalnya Hulagu Khan, pimpinan Mongol/Tatar (cucu Jenghis Khan), ragu untuk menyerbu Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, karena takut kena kutukan langit, sebagaimana nasehat orang-orang bijak di sekitarnya.

Tetapi keraguannya hilang setelah menerima surat dari seorang ulama Syi’ah terkenal, Nashruddin ath-Thusi, yang meyakinkannya tidak akan mengalami gangguan apa pun jika ia membunuh khalifah Abbasi.

Sejak itu Hulagu Khan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan rencananya, diantaranya menjalin komunikasi intensif dengan salah seorang menteri utama di pemerintahan Abbasiyah bernama Muayiduddin bin al-Alqami, seorang penganut syi’ah rafidhi (penolak khilafah Abu Bakar dan Umar ra).

Menteri syi’ah ini menjadi orang kedua dalam khilafah Abbasiyah, orang kepercayaan khalifah al-Musta’shim Billah. Hampir seluruh kebijakan khalifah ini ditentukan oleh Menko yang satu ini. The real president.

Dalam komunikasinya, Hulagu Khan meminta Muayiduddin untuk mengurangi anggaran militer, mengurangi jumlah tentara, mengalihkan perhatian negara dari urusan persenjataan dan perang, dan mengaryakan pasukan di pekerjaan-pekerjaan sipil seperti pertanian, industri dan lainnya.

Permintaan Hulagu Khan ini dipenuhi sang menteri. Tentara yang tadinya berjumlah 100.000 pasukan di masa akhir pemerintahan al-Mustanshir Billah, tahun 640 H, dipangkas menjadi 10.000 pasukan pada tahun 654. Ini tentu melemahkan kemampuan militer negara.

Akibat pengurangan anggaran militer, banyak tentara yang hidup miskin bahkan meminta-minta di pasar-pasar. Latihan-latihan militer dihentikan hingga mereka tidak punya kemampuan membuat rencana, manajemen dan kepemimpinan. Akibat lanjutannya kaum muslimin melupakan berbagai ilmu perang dan tidak pernah berfikir tentang nilai-nilai jihad.

Semua perkembangan dan situasi ini diketahui Hulagu Khan melalui Menko ini, hingga Hulagu Khan memutuskan untuk bergerak menuju Bagdad. Karena Bagdad sebelumnya dikenal sangat kuat.

Hulagu Khan mulai pengepungan Bagdad dari arah selatan, Katbugha dari arah utara, dan Pigo dari arah utara, hingga membuat khalifah terkejut dan ketakutan.

Khalifah mengadakan pertemuan mendadak dengan semua penasehat dan menterinya.

Dalam pertemuan ini sang Menko pengkhianat mengusulkan agar khalifah mengadakan ‘perundingan damai’ dengan musuh dengan memberikan sejumlah konsesi kepada mereka.

Sang Menko memberikan gambaran tentang perbedaan sangat jauh antara kekuatan pasukan Hulagu Khan dan kekuatan kaum muslimin, agar tidak muncul ide untuk melakukan perlawanan.

Pendapat sang Menko inilah yang akhirnya menjadi keputusan rapat kabinet. Hanya ada dua menteri yang menginginkan perlawanan, yaitu Mujahiduddin Aibek dan Sulaiman Syah. Tetapi ide ini terlambat. Karena masa persiapan perang sudah lewat, sehingga perlawanan yang kemudian dilakukan oleh kedua menteri ini tidak mampu menghadapi pasukan Tatar.

Khalifah bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan ini menteri pengkhianat bangsa ini datang memanfaatkan kesempatan dengan menyarankan agar duduk bersama Hulagu Khan di meja perundingan.

Hulagu Khan setuju bertemu khalifah tetapi dengan syarat tidak sendirian, ia harus membawa serta semua menteri, pejabat-pejabat negara, para ahli fikih Bagdad, semua ulama Islam dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua harus dihadirkan agar hasil perundingan mengikat semua pihak, kata Hulagu Khan memperdaya.

Khalifah tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti keinginan Hulagu Khan, hingga ia datang dengan rombongan besar berjumlah 700 orang.

Ketika mendekati kemah Hulagu Khan, rombongan ditahan oleh para pengawal Hulagu Khan dan tidak diijinkan masuk. Hanya khalifah bersama 17 pendampingnya yang diperkenankan masuk sedangkan rombongan lainnya diinterogasi dan dibunuh di tempat terpisah.

Seluruh rombongan telah dibunuh kecuali khalifah karena Hulagu Khan ingin memanfaatkannya untuk tujuan lain.

Hulagu Khan memaksa khalifah mengeluarkan perintah kepada seluruh penduduk Bagdad agar melucuti senjata dan tidak melakukan perlawanan apa pun.

Khalifah kemudian dirantai dan diseret ke kota untuk menunjukkan tempat penyimpanan harta keluarga dan para menteri Abbasiyah. Kedua anaknya dibunuh di hadapannya. Khalifah dipaksa memanggil tokoh-tokoh ulama Sunnah yang daftar nama-nama mereka telah diberikan oleh sang menko pengkhianat kepada Hulagu Khan, untuk dibunuh.

Terakhir khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak lehernya agar tidak mengeluarkan darah, karena menurut sebagian pembantu Hulagu Khan jika darah khalifah muslim menetes ke tanah maka kaum muslimin akan menuntut balas atas kematiannya di suatu saat.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang memilukan ini.

Memberi Makan

Hari raya kali ini penuh warna. Ada daerah yang merayakan dengan segala keterbatasan. Lombok salah satu contohnya. Namun, tetap banyak hikmah didapat. Beberapa teman yang terjun langsung menjadi relawan memberikan kesaksian beragam. Semoga rehabilitasi dan rekonstruksi segera dilakukan. Doa dan dukungan kami, agar Lombok, salah satu lumbung pangan nasional, pulih kembali roda ekonominya dengan segera.

Kegembiraan dan kesedihan juga tejadi di wilayah yang hanya 14 KM dari ibukota. Tak jauh. Itu wilayah tempat saya bermukim.

Kegembiraan karena hari raya ini meleburkan perbedaan. Banyak warga yang sebelumnya tidak kenal, beda pandangan politik, membaur bahu membahu menjadi relawan penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban. Makan siang bersama juga jadi momen yang tak terlupakan.

Kesedihan juga masih tersisa. Masih banyak warga yang antri mengular. Tak henti berharap. Padahal, mereka tidak mendapat kupon penukaran daging hewan qurban. Ini tak lain, karena memang keterbatasan kami. Jumlah pequrban dengan penerima masih jauh lebih sedikit. Dagingnya masih belum surplus. Cermin masih banyak masyarakat yang belum membaik ekonominya. Tantangan tersendiri. Jangankan makan daging, makan sehari-hari saja mereka juga masih harus berjibaku mendapatkannya.

Tapi setidaknya perayaan ini mendongkrak sedikit konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. Meski itu masih sangat minim. Menurut hasil penelitian IPB pada tahun 2017, tingkat konsumsi daging Indonesia masih rendah, yakni 11,6 kilogram per kapita per tahun. Peringkat Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia (52,3 kg), Filipina (33 kg) dan Thailand (25,8 kg). Sebagai pembanding, tingkat konsumsi daging di negara maju jauh lebih tinggi. Amerika Serikat, 120 kg per kapita per tahun. Sedangkan Australia, 111 kg.

Rasa syukur tetap kami panjatkan. Hari Tasyrik, 3 hari setelah hari raya, saat dilarangnya berpuasa. Peluang untuk memberi asupan protein hewani menjadi lebih luas dan lebih lama. Karena ada yang baru melaksanakan prosesi pada Hari Tasyrik. Ada asap ngebul lagi.  Nyate. Semerbak bau sedapnya kuah kari.  Oseng mercon (baca : sangat pedas!). Makan-makan lagi.

Tak jarang, ada komunitas yang menyediakannya hingga siap santap. Indahnya berbagi. Saya yakin ikhtiar memberi makan sebagai bentuk melestarikan dan melaknasakan nasihat Nabi Muhammad SAW.

“Perbuatan apa yang terbaik di dalam agama Islam? Maka Rasul menjawab : yaitu kamu memberi makan kepada orang lain, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”

(HR. Bukhari)

Mau ?

Mari bergabung bersama kami :

Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 19.30 WIB hingga selesai di Masjid Ar Ridho, Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan 15422