Memberi Makan

Hari raya kali ini penuh warna. Ada daerah yang merayakan dengan segala keterbatasan. Lombok salah satu contohnya. Namun, tetap banyak hikmah didapat. Beberapa teman yang terjun langsung menjadi relawan memberikan kesaksian beragam. Semoga rehabilitasi dan rekonstruksi segera dilakukan. Doa dan dukungan kami, agar Lombok, salah satu lumbung pangan nasional, pulih kembali roda ekonominya dengan segera.

Kegembiraan dan kesedihan juga tejadi di wilayah yang hanya 14 KM dari ibukota. Tak jauh. Itu wilayah tempat saya bermukim.

Kegembiraan karena hari raya ini meleburkan perbedaan. Banyak warga yang sebelumnya tidak kenal, beda pandangan politik, membaur bahu membahu menjadi relawan penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban. Makan siang bersama juga jadi momen yang tak terlupakan.

Kesedihan juga masih tersisa. Masih banyak warga yang antri mengular. Tak henti berharap. Padahal, mereka tidak mendapat kupon penukaran daging hewan qurban. Ini tak lain, karena memang keterbatasan kami. Jumlah pequrban dengan penerima masih jauh lebih sedikit. Dagingnya masih belum surplus. Cermin masih banyak masyarakat yang belum membaik ekonominya. Tantangan tersendiri. Jangankan makan daging, makan sehari-hari saja mereka juga masih harus berjibaku mendapatkannya.

Tapi setidaknya perayaan ini mendongkrak sedikit konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia. Meski itu masih sangat minim. Menurut hasil penelitian IPB pada tahun 2017, tingkat konsumsi daging Indonesia masih rendah, yakni 11,6 kilogram per kapita per tahun. Peringkat Indonesia masih jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia (52,3 kg), Filipina (33 kg) dan Thailand (25,8 kg). Sebagai pembanding, tingkat konsumsi daging di negara maju jauh lebih tinggi. Amerika Serikat, 120 kg per kapita per tahun. Sedangkan Australia, 111 kg.

Rasa syukur tetap kami panjatkan. Hari Tasyrik, 3 hari setelah hari raya, saat dilarangnya berpuasa. Peluang untuk memberi asupan protein hewani menjadi lebih luas dan lebih lama. Karena ada yang baru melaksanakan prosesi pada Hari Tasyrik. Ada asap ngebul lagi.  Nyate. Semerbak bau sedapnya kuah kari.  Oseng mercon (baca : sangat pedas!). Makan-makan lagi.

Tak jarang, ada komunitas yang menyediakannya hingga siap santap. Indahnya berbagi. Saya yakin ikhtiar memberi makan sebagai bentuk melestarikan dan melaknasakan nasihat Nabi Muhammad SAW.

“Perbuatan apa yang terbaik di dalam agama Islam? Maka Rasul menjawab : yaitu kamu memberi makan kepada orang lain, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”

(HR. Bukhari)

Mau ?

Mari bergabung bersama kami :

Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 19.30 WIB hingga selesai di Masjid Ar Ridho, Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan 15422

Kado dari Kediri

Siang itu, saya dan istri berusaha meyakinkan anak saya agar tetap menjalani kemauan awalnya. Sore itu, ia harus transfer dari Ponorogo ke Kediri. Pondok pesantren yang masih satu manajemen. Masih sama metoda pengajarannya. Beda tempat saja.

“Ya, adik mau berangkat. Tapi Bapak dan Ibu mau menemani ya”, begitu ujarnya yang membuat kami lega.

Bis rombongan yang membawa 400-an santri baru itu pun berangkat sesaat setelah sholat Isya’. Kami pun berkemas. Mencari moda transportasi yang pas. Saya sempat survey ke Terminal Bis Seloaji. Terminal type A yang terbilang cukup megah itu. Ternyata ada bis yang ke Surabaya, sekitar pukul 23.30 WIB. Rencananya akan turun Kertosono, disambung angkutan lain. Terlalu malam. Istri punya alternatif, pakai aplikasi on-line. Ternyata istri zaman now juga. Alhamdulillah pas ada yang baru saja mengantar penumpang dari Madiun.

Kami tiba di Gurah, sebuah kota kecamatan di Kediri, pukul 01.15 an dini hari. Pondok masih terlihat ada kegiatan. Sayangnya, tempat penginapan yang berbentuk rumah panggung kecil (ukuran 2×2 m) penuh semua. Saya turun sejenak. Sekalian melemaskan kaki. Sembari berpikir mau menginap dimana. Beberapa orang tukang ojek masih terlihat di ujung jalan.

“Darimana, Pak, kok jam segini baru nyampe ? “sapa mereka, menghampiri saya sembari mempersilakan saya duduk di kursi panjang.

Sapaan yang khas Jawa Timur-an.  Terjadi dialog singkat. Setelah mereka paham tujuan saya ke Gurah, mereka menyarankan saya menginap di rumah penduduk. Beberapa rumah memang disiapkan serupa home stay.

“Waduh, Pak. Ini kan jam 1 pagi, apa tidak mengganggu yang punya rumah?”, tanya saya memastikan.

“Mboten menopo-menopo (artinya : tidak apa-apa). Sampun ngertos (sudah paham)  kok masyarakat sini”, salah seorang dari mereka menegaskan dan diiyakan oleh yang lain.

Salah seorang Pak Ojek itu berinisiatif menemani kami ke rumah tersebut. Ia mengiringi mobil dengan motornya. 10 menit dari pondok, kami tiba di deretan rumah. Dia juga yang mengetuk pintu. Cukup lama untuk mendapat tanggapan.  Saat pemilik rumah keluar, tidak ada rasa marah. Padahal, hati ini was-was. Bisa kena semprot, dimarahi. Mengganggu waktu tidur. Kami pun berdialog dengan Bahasa Jawa. Ternyata rumah sebelah yang disewakan kamarnya, sudah penuh. Ia pun memberi solusi ke beberapa rumah lain.

Pak Ojek mencoba menelpon beberapa pemilik rumah sesuai saran tadi. Idem ditto. Penuh.

Kami disarankan ke rumah yang agak jauh. Kami pun langsung mendatanginya, karena tidak ada nomor telponnya. Tidak jauh sebenarnya, tidak sampai 5 menit dengan kendaraan. Sama. Rumah sudah sepi. Pak Ojek pun berupaya membangunkan sang pemilik rumah. Cukup lama. Setelah keluar, ternyata perempuan sepuh (tua) yang keluar. Dan lagi, tak menampakkan wajah marah. Mempersilakan kami mendekat ke teras.

Pagi itu, jam menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Kami menginap di rumah ibu sepuh yang ternyata hidup sendiri. Suaminya telah wafat. Anaknya pun telah berkeluarga dan tidak tinggal bersamanya.

Saya pun mengucapkan terima kasih kepada Pak Ojek. Saya baru tahu namanya, saat bertukar nomor ponsel. Pak Tomo.

Saat beberapa kali Kami ke Gurah, Pak Tomo yang setia menemani dan mengantar. Dia punya motor dan juga becak motor. Tarifnya pun bukan aji mumpung. Mereka semua sepakat, ada tarif resmi yang dipampang di baliho besar, di ujung jalan. Para pengguna tak perlu risau.

Bagaimana cara Pak Tomo menyapa, menolong kami dengan tulus. All out mencari tempat penginapan, menemui warga. Dan juga warga yang ramah, pengertian, dan juga tidak aji mumpung. Beberapa kali ketemu, belum pernah saya mendengar keluh kesahnya. Itu yang saya sebut karakter khas Indonesia. This is the real Indonesia.

Attitude mereka menginspirasi saya dan semoga juga sahabat.

Ini bisa jadi kado indah Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan. Keramahtamahan, sikap menolong yang all out menjadi karakter asli kita. Menjadi kador indah, ketika itu menular kembali ke seantero negeri. Saya bilang : ‘kembali’, karena saya merasakan mulai luntur di beberapa tempat.

Padahal Nabi Muhammad SAW pernah memberi nasihat :

“Siapa yang menolong  saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi  setiap langkah yang dilakukannya ”(HR. Thabrani )

Mau ?

Yuk, mari praktekkan kembali, kita tularkan terus.

Road to Glory

Road To Glory

Banyak sumber yang menjadi masukan dan pelajaran. Tak jarang berasal dari orang yang saya kenal dekat. Awal perkenalan terjadi saat ia menjadi mentor saya di kampus. Saat saya mahasiswa baru. Ia salah satu pembina program mentoring agama Islam, salah satu kegiatan unggulan bagi mahasiwa baru. Ia juga senior pada beberapa kegiatan kemahasiswaan di kampus. Setelah lulus, Mas Ali, begitu saya memanggilnya, direkrut oleh Pertamina. Salah satu tempat bekerja paling diidamkan bagi kami lulusan dari kampus di kota kecil, Malang.

Ia pernah mengenyam studi lanjut di Selandia Baru. Karirnya cukup melaju pesat. Pada usia baru menginjak 40 tahun telah menduduki jabatan selevel Vice President. Ia pernah menjadi orang yang paling ditunggu kehadiran dan pernyataannya oleh awak media. Maklumlah, Arek Lamongan ini pernah menjadi juru bicara Pertamina. Saat ini, aktivis kampus itu menduduki posisi Direktur Utama PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Pendekar Tapak Suci ini menunjukkan minat yang sangat besar di bidang geothermal. Ia menyatakan bahwa panas bumi adalah energi baru dan terbarukan. Negeri kita dikaruniai banyak gunung berapi. Itu berarti potensi besar. Panas buminya bisa dikonversikan menjadi tenaga listrik.

Ia memberikan wejangan bagaimana menjadi pemenang. Menjadi karyawan yang jadi pilihan utama. Siapa pun yang membutuhkan tenaga dan buah pikir kita.

Ia menyebutnya dengan: KIAT.

Kiat yang berarti cara atau taktik, tapi kali ini adalah singkatan yang bisa dijadikan modal yang lain.

  1. Knowledge. Pengetahuan itu penting. Kita harus memiliki pengetahuan yang spesifik dimiliki dan menjadi andalan. Pengetahuan itu bisa diperoleh dari beberapa jalur. Paling umum adalah jalur akademis. Menempuh pendidikan hingga jenjang yang dianggap mumpuni. Di samping itu, pengetahuan bisa diperoleh dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya, kita perlu sering dan menjadwalkan diri secara khusus mendengarkan atau menimba ilmu dari pihak lain.
  2. Integrity. Memegang kuat prinsip moralitas. Ini Penting. Pengetahuan yang cukup tanpa dibarengi dengan prinsip moral yang kuat (nilai agama) akan percuma. Pemahaman terhadap agama yang kita yakini juga akan memperkuat hal ini.
  3. Attitude. Bisa diartikan sikap kita kepada orang lain. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga memegang peranan penting. Sebagai mahluk sosial, tidak dipungkiri selalu ada hubunagn antar manusia. Baik hubungan yang bertalian dengan karir, maupun non-karirseperti pergaulan dengan masyarakat.
  4. Teman (Teamwork). Membangun jejaring. Silaturahim. Analoginya, kumpulan orang yang tidak berkualitas bisa jauh lebih hebat dari orang jenius yang terisolasi. Apalagi jika orang hebat berkumpul dan bekerja sama, hasilnya bisa jauh lebih mantap. Tambah dahsyat.

Pak Direktur Utama ini punya visi menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam menjalani hidup dan kehidupan, ia sangat terkesan dengan nasihat orang tuanya. Orang tua adalah pusaka baginya. Mereka memberi nasihat dalam bahasa Jawa, jika diterjemahkan bebas:

“Menjalani kehidupan, apa pun profesinya. Harus ikhlas dan bersikap positif”.

Itulah salah satu kiat mempermulus jalan menuju kemenangan. Road to glory.

Apa yang disampaikan dan dijalankan Mas Ali ini sejalan dengan nasihat mendiang Zig Ziglar, penulis buku best seller sekaligus motivator asal Alabama, US.

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude”

Mau ?

Mari kita jalankan KIAT itu . . .

Vitamin

Meski sehat, kadang orang masih perlu vitamin. Tak ubahnya saya. Usaha dan segala daya upaya fisik dan non fisik telah dilakukan. Kami berharap buah hati kami bisa ikhlas dan kerasan. Ia juga bisa segera beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Saat melakukan cek kiriman pesan di telepon genggam,  ada beberapa pesan masuk. Salah satunya, ternyata berisi nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pas banget. Pipi ini kayak ditampar. Sakit tapi menyadarkan. Tapi tetap saja jadi vitamin. Suplemen penambah semangat.

Di bawah ini saya salinkan isi pesan itu. Siapa tahu ada sahabat yang punya kondisi yang serupa dengan saya.

“Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq. Ujung ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ?

Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu, baju sepatu tas ber-merk. Lha pas di suruh ngaji blekak-blekuk. Di tanya tentang agama prengas-prenges.

Arep dadi opo…?

Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an gak ngerti budi pekerti.. ?

Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”

Mbah Sahal, kalimat “arep dadi opo?” jadi vitamin hari ini.

Tak terasa mata mulai basah. Nasihat yang langsung mengubah aksi. Jazakallaah khair.

Anakku, kamu yang ikhlas, yang kuat. Bersandarlah pada Illahi Robbi. Tetaplah istiqomah, besarkan semangatmu. Doa kami untukmu. Semoga ketikan ini, bacaan dalam hati ini, meresonansi hingga ke hatimu. Menambah vitamin juga untukmu.

Insya Allah, doa sahabat bapak dan ibumu juga akan menambah kekuatanmu.

 

2.647 Kilometer

Perjalanan mudik tahun ini berbeda dari biasanya. Lain banget.  Kami menyisipkan agenda mendorong ikhtiar anak untuk masuk pondok pesantren. Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah.

Perjalanan panjang pun ditempuh.  Jakarta – Semarang. Istirahat di Semarang, esoknya disambung ke Sidoarjo dan Bangkalan. Merayakan Hari Raya Idul Fitri dan silaturahim di Bangkalan beberapa hari. Lanjut lagi silaturahim ke Malang. Hanya 2 hari, perjalanan diteruskan keTrenggalek – Ponorogo via Blitar. Ponorogo menjadi kota singgah yang penuh makna. Setelahnya, baru kembali ke Jakarta. Total perjalanan kami, sesuai odometer : 2.647 KM. Masya Allah. Alhamdulillaah.

Di Kota Ponorogo inilah, kami berjuang lagi.  Spirit management. Mengelola semangat ternyata masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak mudah. Terutama untuk anak yang baru masuk ponpes. Ia shock ketika harus berdesakan tidur di kamar pondokan sebelum tes. Jauh di luar perkiraannya. Saya pun perlu membawanya keluar sejenak. Berkeliling pondok. Ia pun melihat, bahwa ternyata di luar sana, banyak orang tua sanak saudara yang terpaksa menginap di mobil, ada yang membawa tenda. Bahkan ada yang tidur beralaskan tikar beratap langit. Peserta dan juga pengantar membludak. Satu peserta, pengantar bisa 2,3 bahkan 4 kali lipat.

Membludaknya peserta ini juga pertanda bahwa tempat pendidikan ini, banyak diidamkan anak Indonesia. Kawah candradimuka mengolah dan mengembangkan minat dan bakat. Tempatperjuangan mewujudkan cita-cita.

Melihat kondisi itu, kecewa dan terkejutnya pun sedikit terobati. Ia pun menjalani tes meski masih dengan berat hati.

Alhamdulillaah. Meski hati bercampur aduk. Ada rasa was-was. Terselip doa dan harapan. Ternyata, saat pengumuman tiba, ia justru menangis. Bukan karena tidak diterima. Ia diterima tapi bukan di tempat pilihannya. Kami pun meyakinkan, bahwa tempat boleh beda, sistemnya sama. Pun banyak orang yang ingin masuk pesantren ini, sama seperti yang ia citakan sebelumnya. Lha kok, sekarang malah menangis. Ratusan temannya memang menangis, mereka menangis justru karena belum ditakdirkan belajar di pesantren. Belum diterima.

Malam itu pun kami terus memompa semangatnya. Secara fisik dan juga doa.

Pada kesempatan ini, saya mohon doa sahabat semua, agar ia ikhlas, kuat, cepat beradaptasi dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Kami pun sebagai orang tua juga ikhlas. Tentunya kami juga terus mengirim doa.

Selamat berjuang, Nak !

Momen penting itu, Saya dan istri mendapat penguatan. Pesan yang juga menginspirasi. Pesan yang dikirimkan melalui WA, entah siapa yang menuliskan awalnya.  Semoga menjadi amal sholeh.

Terima kasih atas pesannya, Perkenankan saya juga berbagi kepada sahabat. Siapa tahu, suatu masa mengalami hal yang serupa dengan saya.

————–

Pesan dan nasihat dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal.

Nasihat panjang yang disingkat dengan istilah TITIP.

Titip adalah kependekan dari : Tega – Ikhlas – Tawakkal -Ikhtiar – Percaya

1. Tega

Huruf T yang pertama adalah Tega. Orang tua harus tega meninggalkan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan. Yakinkan pada diri Anda bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan warteg.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman …”

(QS Ibrahim [14]: 37)

2. Ikhlas

“I” ini makanya : ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya. Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga.

Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

3. Tawakkal

Huruf T kedua adalah Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya. Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

4. Ikhtiar

I berikutnya berarti Ikhtiar. Untuk poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

5. Percaya

Yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan saya menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang”

(Abu Dawud, Ibnu Hibban)

Menggali yang Tersembunyi

Menggali yang Tersembunyi

by Ari Wijaya

 

Malam itu kami ngobrol santai tapi serius. Saat itu ada salah seorang rekan yang harus dirawat di rumah sakit. Kami bergantian menjaga. Yoyok teman sekosnya bersama saya, kala itu yang berkesempatan menjaga. Saya sering main dan numpang tidur di kos mereka saat ada jeda kuliah. Saat jadwal kuliah ada dua dan berjauhan, kelas pagi dan sesi siang setelah dhzuhur, biasanya saya tidak pulang ke rumah. Hemat ongkos. Saya mampir tempat kos mereka.

 

Yoyok ini salah satu mahasiswa yang punya potensi terkena degradasi saat evaluasi tahap pertama. Ada aturan, jika mahasiswa tidak mencapai IPK (Indkes Prestasi Kumulatif) minimal 2,0 (dua koma nol) pada akhir semester IV, maka dengan terpaksa mahasiswa tersebut terkena DO (drop out). Tidak bisa melanjutkan kuliah lagi di kampus yang sama. Yoyok masuk daftar ini. Malam itu saat ada kesempatan berduaan, saya mencoba menguatkan semangat dan daya juangnya.

 

“Aku ini nggak semangat kuliah. Kampus ini bukan pilihan utamaku,” keluh Yoyok ditengah obrolan kami.

 

Yoyok menuturkan bahwa ia sempat berpikir untuk mencari kampus lain sesuai pilihan hatinya. Semester 2 ia mencoba di Bandung. Ketika kuliah sudah berjalan 4 semester, ia juga mencoba di Denpasar. Jurusan yang ia minati adalah Seni Rupa & Desain. Namun restu orang tua tak pernah ia peroleh. Saat tahun ketiga kuliahnya di Teknik Mesin, saat mau mencoba lagi, barulah ia sadar. Terlalu besar kerugiannya. Segi waktu, umur dan juga biaya.

 

“Ya, tapi kan takdirnya sudah begitu. Niat untuk pindah ada. Tapi restu orang tua patut jadi pertimbangan. Brawijaya kayaknya sudah menjadi jalan. Bukan pilihan yang jelek. Kalau mau pindah lagi, biaya juga lebih besar. Belum lagi harus mengulang. Banyak yang hilang,” saya coba memberi pertimbangan atas kegundahannya itu.

 

Yoyok sebenarnya punya kemampuan unik. Lain dari pada yang lain. Literasi komputernya melebihi yang lain. Penguasaan Bahasa Inggrisnya juga di atas rata-rata. Setidaknya pembandingnya adalah saya sendiri. He..he..he..

 

Saya mencoba menggali lebih jauh kelebihan itu. Ia boleh terpuruk dengan mata kuliah Kalkulus, Mekanika Teknik, Fisika, Pengetahuan Bahan atau yang lain, tapi dalam 2 hal itu, saya melihat ia lain.

 

“Yok, kalau kamu harus les dengan biaya lumayan besar, 600 ribu satu paket, misalnya. Apa sampeyan siap. Apa orang tua mendukung?” ujar saya.

 

“Insya Allah, bisa diusahakan, Nyo”, begitu jawabnya. Saya ketika itu punya panggilan “Sinyo”. Entah apa yang melatarbelakangi sebutan itu.

 

Singkat cerita ia mengambil kursus yang saya sarankan. Masih in-line dengan jurusan Teknik Mesin. Kursus AutoCAD. Literaturnya masih bahasa sononya, Bahasa Inggris. Tempat kursus hanya ada di Surabaya, kota asalnya. Jadwal juga bisa fleksibel. Kebetulan mata kuliah yang ia ambil juga sedikit. Ada 2 atau 3 hari lowong, tidak ada kuliah. Lagian, bolak-balik Malang-Surabaya bisa diatur jadwal sembari pulang ambil jatah bulanan. Sebagai gambaran, uang kuliah kami ketika itu Rp. 120 ribu per semester. Biaya paket pelatihan dan juga transportasinya, bisa untuk membayar uang kuliah hampir 3 tahun.

 

Yoyok yang gemar bernyayi dan pendaki gunung ini pun, mengambil pelatihan hingga advance level. Alhamdulillah, ia berhasil menjadi salah satu rujukan teman-teman ketika ada kesulitan mata kuliah AutoCAD atau Mesin NC/CNC (computer numeric control). Setelah ia lulus, modal itu pun menjadi nilai lebih baginya. Awalnya ia bekerja sebagai Project Engineer pada sebuah perusahaan di bawah Bangun Tjipta Group. Selanjutnya, ia memutuskan untuk berkarya ke Alstom Power di Surabaya. Perusahaan itu pula yang membawanya ke Negeri Paman Sam, ketika ada tawaran posisi Mechanical Engineer di Alstom Power Inc, Connecticut.

 

Beberapa tahun setelahnya, sejalan dengan penggabungan atau lebih tepatnya program akuisisi Alstom oleh GE, ia pun saat ini menjadi bagian keluarga besar GE. General Electric, perusahaan yang pernah dipimpin ‘manajer abad ini’, Jack Welch. Saat ini ia dipercaya sebagai Lead Engineer Fabricated Component, pada unit usaha GE di Windsor, Connecticut, Amerika Serikat.

 

Sahabat saya ini telah menunjukkan bahwa kompetensi yang unik perlu diperjuangkan. Hasilnya pun mulai ia petik, menjadi orang pilihan.

Memang benar kata Jon Stewart, salah satu aktor dan pembawa acara telivisi yang multi talenta, bahwa pada zaman ini, kecakapan adalah komoditas yang jarang.

“Love what you do. Get good at it. Competence is a rare commodity in this day and age“.

Sahabat, mau seperti itu ? Punya keahlian dan ketrampilan yang unik. Menjadi orang pilihan ?

Mari menggali yang tersembunyi dalam diri kita.

Ingin tahu lebih jauh ?

Insya Allah akan terbit buku terkait bagaimana memenangkan persaingan, pada bulan Agustus 2018. Kisah Yoyok adalah satu dari isi buku itu.

Mohon doanya agar tidak ada kendala berarti dalam prosesnya.

Semoga ide dan isi bukunya dapat menginspirasi Indonesia !

Bukan Perjalanan Biasa

Hari-hari itu, terasa ringan. Meski perjalanan melelahkan. Penat pun tak terasa. Penuh berkah. Hampir tiap perjalanan diisi dengan pesan-pesan moral. Kajian tentang kehidupan. Sejarah. Kadang juga kajian manajerial. Leadership. Berenergi dan bergizi, puool !

Sembilan hari saya merasakan hal itu. Ups.. saya ralat ! Tidak hanya saya ternyata ! Tapi sekawanan yang berangkat bersama. Hampir 30 orang, satu rombongan.

Berkunjung ke tanah suci, Mekkah dan Madinah, adalah dambaan setiap muslim. Tak terkecuali saya. Bisa jadi juga sahabat, bukan ?

Ibadah kali itu terasa beda. Ustadz pembimbingnya tetap ada. Mumpuni. Bagi yang pertama kali umroh, tak perlu risau. Bedanya, ada 1 orang lagi yang membersamai kami. Seorang pengusaha, pemimpin perusahaan, motivator sekaligus penulis buku nasional yang mulai mendunia.

Tak ayal, setiap perjalanan, bahkan menunggu dan menuju masjid saja, ada pesan yang disampaikan. Paling lima hingga 10 menit. Pesannya tetap bernas. Memberi motivasi, menggerakkan. Apalagi ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Perjalanan yang kadang melelahkan, menjadi ceria, ada gelak tawa, tapi materi kajiannya pun tetap mengena. Maknyus.

Bukan perjalanan biasa. Ibadah dapat, ilmu manajemen pun dapat.

Sahabat ingin mendapatkan pengalaman seperti itu ?

Mari bergabung bersama, insya Allah Januari 2018, program serupa akan dibuka. Umroh bersama Jamil Azzaini dan juga trainer & motivator handal lainnya.

Belum punya dana ? Ada solusinya.

Bisa kok dicicil mulai sekarang.

Bahkan, bisa juga berangkat umroh tanpa biaya.

Mosok ? Bagaimana caranya ?

Bisa kontak saya, ya :

Ari Wijaya | 081 1166 1766 | ariwijaya@gmail.com

atau

Yuniar Ade Chandra | 0822 4440 1635 | tmd_candra@yahoo.co.id  (khusus untuk daerah Grebangkertosusila (Gresik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sisoarjo Lamongan)

 

Mari kita siapkan segala sesuatunya. Rencana ke Baitullah dimatangkan dari sekarang. Semoga menjadi catatan amal sholeh.