ELNUSA, Si Upik Abu Tanpa Pangeran

ELNUSA, Si Upik Abu Tanpa Pangeran
by Anonim *)

Dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan energi yang besar bernama Pertamina. Di kerajaan itu lahirlah seorang anak bernama Elnusa. Ia bukan anak orang lain. Ia adalah anak kandung Pertamina sendiri. Ketika Elnusa masih muda, sang ayah memberinya sebuah amanah.

“Kelak kerajaan ini akan menjadi besar,” katanya.

“Dan kerajaan yang besar membutuhkan oRang-orang yang mampu melayaninya. Jangan biarkan asing yang menguasainya Bangunlah kemampuan itu. Bangunlah services yang kuat untuk Pertamina.”

Elnusa menerima amanah tersebut. Ia belajar. Ia bekerja. Ia membangun orang-orangnya. Ia menyingkirkan dominasi tenaga asing. Mengembangkan kompetensi, membeli dan membangun aset, serta mengerjakan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan oleh kerajaan.

Tetapi suatu hari sang ayah berkata kepadanya,

“Anakku, aku tidak ingin engkau selamanya bergantung kepadaku. Jika membutuhkan modal kerja, belajarlah mencarinya sendiri. Jika ingin berinvestasi, bangunlah kemampuan untuk membiayainya sendiri. Jangan menjadi beban bagi kerajaan.”

Bukan permintaan yang mudah. Tetapi Elnusa menurut. Ia pergi menemui para pemilik modal. Ia belajar berbicara dengan bank. Ia belajar mempertanggungjawabkan investasinya. Ia belajar bahwa setiap rupiah yang digunakan harus menghasilkan nilai. Sedikit demi sedikit, Elnusa mulai mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Pendapatannya tumbuh. Asetnya bertambah. Kemampuannya berkembang. Dan sang ayah melihat anaknya semakin dewasa. Dalam perjalanan itu, Elnusa juga menemukan sebuah pelajaran. Dunia energi tidak selalu cerah. Ada masa ketika upstream berjaya. Ada masa ketika downstream tumbuh lebih kuat. Ada masa ketika harga minyak tinggi. Ada masa ketika industri mengalami tekanan. Maka Elnusa belajar untuk tidak meletakkan seluruh harapannya pada satu tempat. Ia membangun dua kaki. Satu kaki berdiri di upstream. Satu kaki berdiri di downstream. Ketika angin menerpa satu sisi, sisi lainnya membantu Elnusa tetap berdiri.

Orang kemudian menyebutnya portofolio.

Bagi Elnusa, itu lebih dari sekadar istilah bisnis. Itulah salah satu cara ia belajar bertahan. Tahun berganti tahun. Badai datang dan pergi. Tetapi Elnusa terus berjalan. Pasar melihatnya. Investor melihatnya. Lembaga keuangan melihatnya. Dan perlahan Elnusa memperoleh sesuatu yang tidak dapat diberikan hanya oleh nama besar orang tuanya: kepercayaan.

RUMAH BESAR ITU KEMUDIAN BERUBAH

Waktu terus berjalan. Kerajaan Pertamina semakin besar. Sang ayah kemudian memutuskan bahwa rumah yang besar itu perlu dibagi menjadi beberapa rumah. Maka lahirlah subholding-subholding. Ada rumah upstream. Ada rumah downstream. Ada rumah-rumah lainnya. Masing-masing diberi tugas dan wilayahnya sendiri. Pada awalnya Elnusa tidak terlalu khawatir. Bukankah semuanya masih berada dalam keluarga besar yang sama? Namun waktu berjalan. Setiap rumah mulai mempunyai anak-anaknya sendiri. Dan seperti orang tua pada umumnya, masing-masing mulai ingin membesarkan anak kandungnya. Mereka memberi anak-anak itu pekerjaan. Memberikan kesempatan. Membangunkan kemampuan. Dan melindungi masa depannya. Di sinilah kehidupan Elnusa perlahan mulai berubah. Anak yang dahulu diminta ayahnya membangun services bagi seluruh kerajaan kini mendapati bahwa setiap rumah telah mempunyai anak services-nya sendiri. Pintu yang dahulu terbuka kini harus diketuk. Untuk mendapatkan pekerjaan, Elnusa harus membawa proposal. Untuk mendapatkan kesempatan, ia harus mengikuti tender. Untuk mempertahankan pekerjaannya, ia harus membuktikan bahwa dirinya lebih baik, lebih efisien, dan lebih kompetitif. Kadang Elnusa melihat saudara-saudaranya tidak harus berjuang dengan cara yang sama. Mereka mempunyai rumahnya sendiri. Mereka mempunyai orang tua yang ingin memastikan anaknya mendapatkan tempat. Sementara Elnusa? Ia masih keluarga. Tetapi entah mengapa, semakin lama ia mulai merasa seperti tamu.

Tanpa pernah diumumkan, anak kandung itu perlahan menjalani kehidupan seperti Upik Abu.

Ia tetap tinggal di rumah besar. Ia dipanggil ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ketika pekerjaan itu sulit. Ketika risikonya tinggi.  Ketika orang lain tidak ingin memegang risikonya. Upik Abu tetap bekerja. Tetapi ketika meja makan disiapkan, ia tidak selalu mendapat kursi pertama. Ada kalanya ia harus berdiri di luar dan mengetuk pintu.

“Tenderlah dahulu.”

“Buktikan bahwa engkau yang terbaik.”

“Bersainglah.”

Dan Elnusa melakukannya. Bukan sekali. Berkali-kali. Ada hari ketika ia menang. Ada hari ketika ia kalah. Ada hari ketika ia bertanya dalam hati,

“Bukankah dahulu aku dibangun untuk melayani rumah ini?”

Tetapi tidak ada gunanya terlalu lama memandang ke belakang. Maka setiap pagi Upik Abu kembali bekerja. Ia memperbaiki operasinya. Ia menjaga keselamatan. Ia mencari efisiensi. Ia membangun teknologi. Ia mendatangi customer baru. Ia mencari peluang baru. Ia belajar berkompetisi. Dan tanpa disadarinya, semua kesulitan itu sedang membentuk sesuatu dalam dirinya.

Resilience.

Kemampuan untuk jatuh tanpa berhenti berjalan. Kemampuan untuk kehilangan kenyamanan tanpa kehilangan keberanian. Kemampuan untuk berubah ketika dunia di sekelilingnya berubah.

KEMUDIAN SANG AYAH PERGI

Suatu hari, perubahan yang jauh lebih besar datang ke kerajaan. Sebuah kekuatan baru bernama Danantara terbentuk. Struktur kekuasaan berubah. Hubungan lama berubah. Disinilah ibu dan ayah Upik Abu benar benar tiada membawa kenangan masa lalu. Tidak ada lagi ayah yang dahulu memberikan amanah itu secara langsung. Yang tersisa adalah rumah-rumah baru. Para ibu tiri. Dan anak-anak mereka masing-masing. Setiap ibu tentu melihat anak kandungnya sendiri dan berkata:

“Aku harus menjaga masa depan anakku.”

Tidak ada yang aneh dengan itu. Tetapi kemudian muncul pertanyaan:

“Lalu bagaimana dengan Elnusa?”

Upstream melihat sebagian Elnusa dan berkata,

“Bagian itu seharusnya bersama kami.”

Downstream melihat bagian lainnya dan berkata,

“Yang itu seharusnya bersama kami.”

Rumah lain melihat bagian yang lain lagi. Perlahan orang mulai melihat Elnusa bukan sebagai satu tubuh yang dibangun selama puluhan tahun, melainkan sebagai bagian-bagian yang dapat dipisahkan. Seolah-olah pengalaman, manusia, budaya, sistem, reputasi, aset, kompetensi dan pengetahuan dapat dipotong dengan mudah mengikuti garis pada sebuah organization chart. Lalu suatu hari datanglah sebuah undangan. Undangan itu dikirim ke seluruh penjuru kerajaan. Di bagian atasnya tertulis sebuah kata:

STREAMLINING

Kerajaan akan mengadakan pesta besar. Semua keluarga akan datang. Semua anak perusahaan akan diperiksa. Semua portofolio akan ditata. Siapa bergabung dengan siapa. Siapa berpindah ke rumah mana. Siapa yang tetap berdiri. Dan siapa yang harus dipecah. Inilah Pesta Kerajaan.

PESTA KERAJAAN

Upik Abu memegang undangan itu lama sekali. Ia tahu pesta ini berbeda. Karena yang akan diputuskan di sana bukan sekadar siapa duduk di meja mana. Yang sedang dibicarakan adalah masa depannya. Orang-orang mulai berbisik.

“Mungkin upstream Elnusa sebaiknya diberikan kepada keluarga upstream. Downstream-nya tentu lebih tepat berada di keluarga downstream. Bukankah lebih sederhana jika semuanya dibagi saja?”

Upik Abu mendengarkan semuanya. Untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri. Ia teringat ketika masih menjadi anak kandung Pertamina. Ia teringat amanah pertama yang diberikan ayahnya. Ia teringat ketika diminta mencari modal sendiri. Ia teringat ketika membangun asetnya sedikit demi sedikit. Ia teringat ketika pertama kali harus berkompetisi mendapatkan pekerjaan di rumahnya sendiri. Ia teringat pekerjaan-pekerjaan sulit yang tetap dijalankannya. Ia teringat berapa kali keadaan berubah tetapi ia masih mampu berdiri. Dan seperti Upik Abu dalam dongeng lama, kini ia berdiri di depan pesta kerajaan. Tetapi ada satu perbedaan besar. Dalam dongeng lama. Di dalam pesta itu ada seorang pangeran. Pangeran melihat Upik Abu. Pangeran jatuh hati kepadanya. Ketika Upik Abu pergi, pangeran mencari pemilik sepatu kaca yang tertinggal. Dan akhirnya sang pangeran datang menyelamatkannya. Cerita itu indah. Tetapi Elnusa menunggu. Melihat ke kanan. Melihat ke kiri. Tidak ada seorang pun datang membawa sepatu kaca. Dan perlahan Elnusa memahami sesuatu. Dalam cerita ini, tidak ada pangeran.

TIDAK ADA PANGERAN

Tidak akan ada seseorang yang datang dan berkata,

“Aku akan mengembalikan semua privilege-mu.”

Tidak akan ada seseorang yang berjanji,

“Mulai sekarang engkau tidak perlu berkompetisi lagi.”

Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan berkata,

“Karena engkau anak kandung Pertamina sejak dahulu, tempatmu akan selalu aman.”

Elnusa dapat terus menunggu. Menunggu seseorang mengingat sejarahnya. Menunggu seseorang mengingat amanah yang dahulu diberikan kepadanya. Menunggu seseorang mengembalikan rumahnya.nTetapi berapa lama? Setahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Lalu Elnusa teringat satu kalimat dari ayahnya. Kalimat yang dahulu terasa berat. Tetapi sekarang terdengar seperti pesan terakhir yang telah dipersiapkan jauh sebelum semua ini terjadi.

“Belajarlah berdiri dengan kakimu sendiri.”

Tiba-tiba semuanya terasa berbeda. Mungkin selama ini Elnusa salah memahami pesan itu. Mandiri ternyata bukan hanya soal mencari modal sendiri. Mandiri bukan hanya soal membiayai investasi sendiri. Mandiri berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Berani menentukan masa depan sendiri.

MAKA UPIK ABU MENINGGALKAN PESTA

Dia memahami bahwa masa depannya tidak berada di tangan seorang pangeran. Upik Abu memandang seluruh perjalanan yang telah dilaluinya. Ia ternyata sudah memiliki banyak hal. Ia memiliki pengalaman. Ia memiliki aset. Ia memiliki kompetensi. Ia memiliki reputasi. Ia memiliki upstream. Ia memiliki downstream. Ia memiliki customer. Ia memiliki kemampuan untuk mencari modal. Ia memiliki kemampuan untuk berkompetisi. Tetapi ketika ia melihat lebih dekat, ia menyadari bahwa kekayaan terbesarnya bukanlah semua itu. Di belakangnya berdiri ribuan orang. Insan dan Perwira Elnusa. Orang-orang yang selama bertahun-tahun bekerja ketika keadaan mudah maupun sulit. Mereka yang berada di lapangan. Mereka yang menjaga operasi. Mereka yang menjaga keselamatan. Mereka yang menemui customer. Mereka yang mengembangkan bisnis. Mereka yang mengelola keuangan. Mereka yang membangun teknologi. Mereka yang setiap hari mencari cara agar pekerjaan hari ini dilakukan lebih baik daripada kemarin. Upik Abu melihat mereka. Dan mungkin untuk pertama kalinya ia menyadari:

“Bahwa saat ini bukan sama sekali waktu meratap, saat ini saatnya dia berjuang lebih keras bukan untuk mereka bukan untuk siapa siapa tapi untuk insannya yang merupakan harta yang paling berharga yang sudah menganggap Elnusa sebagai rumah mereka. “

Dirgahayu Elnusa!
.

*)Saya tulis anonim, karena ini bukan karya tulis saya. Isinya merupakan uneg-uneg dan pendapat pribadi penulisnya. Saya menemukan saat mendapat pesan dari sebuah WAG. Saya mencoba menelusurinya. Meski belum berhasil, namun saya mempostingnya tetap sebagai karya tokoh.

Perpindahan dan Pelajaran

Sepuluh Intisari dari Satu Ayat by Chairul Hudaya *)

Beberapa hari lalu, saya mendapat pencerahan dari seorang calon guru besar muda yang berprestasi dan produktif. Bagaimana sebuah kalam ilahi yang disaripatikan selalu relevan dengan kondisi yang saya alami (atau bahkan kebanyakan dari kita). Tentu saja menggugah hati dan menjadi bahan perenungan.

Saya salin kembali sebagai pengingat saya dan juga sahabat semua.

Kalam Ilahi yang mana? Ayat Al Qur’an yang terdapat pada surat ke-23, Al Mu’minun, tepatnya pada ayat ke-29, yang artinya:

Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat”.

Terus, apa intisarinya?
1. Latar Belakang/Awal Cerita. Setelah banjir besar yang menghancurkan kaumnya, Nabi Nuh dan para pengikutnya akhirmya selamat di atas bahtera, memasuki fase baru kehidupan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

2. Doa di Tengah Ketidakpastian. Di momen penuh ketidakpastian itu, Nabi Nuh tidak langsung berbicara tentang rencana atau strategi, tetapi memanjatkan doa agar ditempatkan pada tempat yang diberkahi oleh Allah.

3. Makna Perpindahan Hidup. Perpindahan yang dilami Nabi Nuh bukan sekedar berpindah tempat, tetapi berpindah fase kehidupan. Dari masa ujian menuju harapan, dari kehancuran menuju kemungkinan baru.

4. Inti Pesan Ayat. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap perpindahan hidup seharusnya tidak hanya didorong oleh kebutuhan duniawi, tetapi juga disertai permohonan agar langkah tersebut membawa keberkahan.

5. Relevansi dengan Merantau. Seperti Nabi Nuh yang memulai hidup baru, banyak orang hari ini merantau dengan harapan yang besar. Namun, sering lupa untuk memastikan bahwa tempat yang dituju adalah tempat yang baik bagi dirinya.

6.Makna Tempat Yang Baik. Tempat yang baik bukan selalu yang paling menjanjikan secara materi. Tetapi, tempat yang menjaga nilai, memberi ketenangan, dan tidak menjauhkan seseorang dari prinsip hidupnya.

7. Relevansi dengan Dunia Kerja. Dalam memilih pekerjaan, seringkali pertimbangan hanya berhenti pada gaji dan posisi. Padahal, ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan tempat bekerja dari Allah SWT jauh lebih menentukan arah hidup seseorang.

8.Dari Pekerjaan ke Jabatan. Ketika seseorang berkembang hingga memegang jabatan, ia sebenarnya sedang “ditempatkan” pada posisi tertentu oleh Allah SWT. Bukan sekedar mencapainya dengan usaha pribadi semata.

9. Kesadaran dalam Memegang Amanah. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jabatan adalah bentuk penempatan dari Allah SWT, sehingga harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekedar kebanggaan atau kekuasaan.

10. Reflaktif. Dari kisah Nabi Nuh, kita belajar, bahwa dalam setiap perpindahan, apakah merantau, bekerja, hingga menduduki jabatan, yang paling penting bukan hanya bergerak maju, tetapi memastikan kita berada di tempat yang diberkahi.

Dari doa Nabi Nuh sekaligus Kalam Ilahi QS Al Mu’minun ayat 29, kita belajar bahwa tempat terbaik bukan yang kita pilih, tapi yang Allah tetapkan.

Wallaahu’alam bish showab

Semoga berkenan.
.

*) Chairul Hudaya, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia. Alumni S1 Teknik Elektro Universitas Indonesia. Melanjutkan studi S2 di Seoul National University dan S3 di University of Science & Tecknology, Korea Selatan. Pernah dipercaya sebagai Rektor Universitas Teknologi Sumbawa, NTB.

Pencuri Pahala Puasa

Pencuri Pahala Puasa

by: Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak *)
(Resume dari Pengajian Rutin Sabtu Pagi, Alumni STAN 87, 14 Februari 2026)

Setiap tahun kita berpuasa. Lapar kita rasakan, haus kita tahan. Waktu terasa lebih panjang, tenaga lebih berkurang. Namun Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan kalimat yang mengguncang jiwa:

 “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kalimat ini bukan sekadar peringatan. Ia seperti cermin. Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya.

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Jika hanya itu, maka semua orang bisa melakukannya. Puasa adalah latihan menahan diri secara total — menahan lisan, menahan emosi, menahan pandangan, bahkan menahan keluhan hati.

Banyak pahala puasa hilang bukan karena kita makan diam-diam, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Ghibah terasa ringan. Dusta dianggap sepele. Keluhan keluar tanpa rasa syukur. Kata-kata menyakitkan terlontar tanpa pikir panjang. Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Seakan-akan Allah menegaskan: Aku tidak butuh laparmu jika akhlakmu tidak berubah.

Di zaman ini, pencuri pahala tidak hanya di ujung lidah. Ia ada di ujung jari. Jari yang menulis komentar kasar. Jari yang menyebarkan berita tanpa tabayyun. Mata yang bebas melihat apa saja tanpa kontrol. HP yang seharusnya alat dakwah berubah menjadi pintu dosa.

Kita bisa saja berpuasa sepanjang hari, tetapi jika waktu kita habis untuk scroll tanpa manfaat, untuk debat tanpa adab, untuk melihat yang tidak halal — maka ruh puasa itu pelan-pelan menguap.

Pencuri lain yang paling cepat merusak adalah emosi. Mudah marah. Gampang tersinggung. Cepat membalas dengan kata-kata keras. Padahal puasa adalah sekolah kesabaran. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar orang yang diganggu saat berpuasa berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Itu bukan sekadar kalimat. Itu pengingat diri bahwa kita sedang melatih jiwa.

Ada pula pencuri yang lebih halus: malas ibadah. Al-Qur’an jarang dibuka. Sedekah tidak bertambah. Berbuka tanpa rasa syukur. Shalat tetap, tetapi tidak meningkat. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah, maka apa yang sedang kita kejar?

Puasa seharusnya menaikkan derajat takwa. Ia bukan agenda tahunan, tetapi proses pembentukan jiwa. Puasa mengajarkan kita bahwa yang halal saja bisa kita tinggalkan karena Allah, apalagi yang haram.

Karena itu, menjaga pahala puasa harus dilakukan dengan sadar. Niat diperbarui setiap hari. Lisan dijaga seketat mungkin. Emosi ditahan sebelum meledak. HP dibatasi sebelum melalaikan. Sedekah dibiasakan walau kecil. Al-Qur’an didekati walau sedikit.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar hingga maghrib. Ia tentang menjaga hati tetap hidup hingga akhir Ramadhan.

Jangan sampai kita pulang dari bulan suci ini hanya membawa haus dan lapar. Pulanglah dengan hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menjaga puasa kita dari pencuri-pencuri yang halus itu. Aamiin.

.

*) Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak. adalah seorang dosen di bidang Akuntansi dan Internal Audit. Ia pernah diberi amanah menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid. Aktivitas lainnya adalah penggerak dan pelaku kegiatan sosial. Ia juga dikenal sebagai orang yang banyak ide inovasi yang solituf untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Hidup & Nasib : Realita yang Terlalu Kita Seriusi

HIDUP & NASIB: REALITA YANG TERLALU KITA SERIUSI

by : Dyah Juniati *)

Kita ini sering sibuk bilang: “Ini salah, itu salah, seharusnya begini, yang itu seharusnya begitu”.

Seolah hidup punya buku manual dan kita cuma tinggal mengikuti petunjuknya. Padahal pertanyaan paling sederhana yang jarang ditanyakan adalah “sopo sing mengharuskan?”

Siapa yang bilang hidup itu harus adil, harus masuk akal, harus sesuai logika kita?

Padahal hidup itu pada dasarnya yaa liar. Kadang indah, kadang kejam, sedih, happy.. sering kali acak.

Kita berjalan di antara pilihan dan kebetulan, antara usaha dan takdir. Kadang harapan terpenuhi, kadang ngaplo..

Setiap langkah terasa seperti hasil keputusan pribadi, ikut formula, tapi di saat yang sama dibentuk oleh hal-hal yang tidak pernah kita pilih: misal lahir di keluarga apa, gen seperti apa, budaya seperti apa, kondisi ekonomi seperti apa, tiba2 saja kita lahir mak bedunduk (baca: tiba-tiba) di bumi ini.

Di titik ini, “nasib” bukan konsep mistis, tapi gabungan antara struktur biologis, sosial dan hukum alam.

Masalahnya, kita sering terjebak di epistemologi: kita sibuk menilai, menghakimi, mencari makna, mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ingin hidup bisa dijelaskan dulu sebelum bisa diterima.
Kita ingin nasib bisa dirasionalisasi dulu sebelum bisa berdamai.

(Jare sopoooo…iku lak jaremuuu..begitu kata Kartolo, salah satu tokoh seni di Surabaya).

Ternyata realitas tidak pernah menunggu persetujuan kita. Ia tetap berjalan, mau kita paham atau tidak.

Kita semakin bingung lagi karena kupasan-kupasan di sekeliling kita simpang siur tumpang tindah, bertarung dalam debat yang tak kunjung titik.

Agama misalnya, memberi kerangka makna agar hidup tidak terasa terlalu absurd.

Sedangkan filsafat mencoba merapikan kekacauan itu dengan konsep.

Sains membongkar lapis demi lapis: genetika menentukan potensi, hormon memengaruhi emosi, otak membuat keputusan sebelum kita sadar, struktur sosial menentukan peluang bahkan sebelum kita lahir.

Semua itu membuat satu hal makin jelas bahwa kebebasan kita ini sepertinya nyata, tapi sangat terbatas; kendali kita ada, tapi tidak pernah penuh.

Mungkin kita perlu menggeser cara berpikir. Dari epistemologi ke ontologi. Dari sibuk bertanya “apa maknanya?” menjadi “apa yang sebenarnya terjadi?”.

Dari “seharusnya hidup begini” menjadi “nyatanya hidup adalah begini”.

Bukan berarti berhenti berpikir, tapi berhenti memaksa realitas agar sesuai dengan harapan pikiran kita.

Nasib, kalau dilihat secara ontologis, bukan hukuman, bukan hadiah, bukan teka-teki kosmik. Ia hanyalah hasil pertemuan antara faktor-faktor yang tidak kita pilih dan respons yang sebisanya kita lakukan. Tidak adil, tidak rapi, tidak konsisten, tapi NYATA.

Mungkin hidup memang bukan soal menemukan jawaban paling benar. Tapi cuma soal belajar hadir di dalam realita yang tidak pernah kita desain sendiri, sambil tetap berusaha, tetap sadar dan menerima bahwa sebagian besar hal penting dalam hidup tidak pernah tunduk pada logika “seharusnya”.

Spill obrolan santai bareng dr. Ryu Hasan Roslan Yusni Hasan. Huggs Kafe, medical centre NUH, 27 Januari 2026.

*) Dyah Juniati, Alumni Bhawikarsu/SMA 3 Malang, Alumni TAUB 1989. Garwa (baca: sigarane nyawa) alias istri dari Charis Soeharto, diaspora Indonesia yang berkarya di perusahaan jasa energi di Singapura.

Sudahkah Kita Bersyukur?

Sudahkah Kita Bersyukur?
oleh : Hibatullah Ramadhana *)
.
Malam itu sudah cukup larut. Suasana perkumpulan mulai kehilangan fokus. Sebagian dari kami saling berbisik pelan dengan teman di samping, berusaha melawan penat dan kantuk yang tumbuh perlahan. Namun di tengah kelelahan itu, Bapak Wakil Rektor II, sekaligus pemateri malam itu, tetap berbicara dengan tenang. Beliau mengingatkan betapa bersyukurnya kami bisa berkuliah di tempat ini, sebuah kampus yang memberi ruang pada mahasiswa untuk dekat dengan Al-Qur’an melalui program tahfidz pekanan. Setiap semester, kami diwajibkan menghafal setengah juz, sehingga kelak setidaknya kami membawa pulang empat hingga lima juz hafalan ketika lulus.

Di sela penyampaiannya, beliau bertanya dengan suara yang lembut.

“Adakah dari antum yang setelah membaca Al-Qur’an lalu hafal, melakukan sujud syukur?”

Ruangan hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat.
Beliau tersenyum tipis, lalu berkata:

“Ustadz sering melihat orang bermain bola lalu mencetak gol, langsung sujud syukur. Tapi ketika kita diberi nikmat yang jauh lebih besar, kita lupa bersujud untuk berterima kasih kepada Allah.”

Kalimat itu membuat ruangan yang sebelumnya jenuh tiba-tiba berubah menjadi tempat perenungan. Rasanya seperti seseorang menepuk pundakku perlahan, mengingatkan hal yang selama ini tak kusadari. Pertanyaan yang singkat, tetapi maknanya masuk jauh ke dalam hati.

Saat itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah Aku Benar-Benar Bersyukur? Dan jika iya, rasa syukur yang seperti apa?

Syukur ternyata bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah”. Ia juga tentang bagaimana kita memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Tentang bagaimana kita menjaga amanah waktu, ilmu, kesehatan, dan keimanan. Syukur bukan hanya pada apa yang terlihat. Prestasi, fasilitas, pencapaian. Tapi juga pada nikmat yang tidak tampak. Apa itu? Ketenangan, kesempatan bertobat, kekuatan untuk bertahan, dan hidayah yang Allah jaga di dalam hati.

Terakhir, satu pelajaran berharga yang dapat aku ambil.

Jangan sampai syukur kita pada nikmat-nikmat duniawi yang kasat mata mengalahkan syukur kita pada nikmat Allah yang tak terlihat tetapi jauh lebih berharga. Rumah, jabatan, gaji, atau lainnya. Semua itu mudah membuat kita lupa bahwa ada nikmat lain yang lebih halus tetapi jauh lebih menentukan arah hidup.

Malam itu, pertanyaan sederhana dari seorang guru menyentuh bagian terdalam dalam diriku. Dan sejak itu, aku berusaha belajar bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup. Semoga anda bersama saya. Kita digolongkan sebagai orang yang bersyukur.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana
Oleh : Hibatullah Ramadhana *)

Tak terasa, sudah satu tahun saya mengabdi mengajarkan anak-anak mengaji di tempat yang penuh kenangan ini. Satu tahun ini bagi saya merupakan pengalaman yang luar biasa—pengalaman yang sulit dilupakan, yang mengajarkan saya arti keikhlasan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Di tempat inilah rasa penat saya selepas kuliah hilang, karena melihat antusiasme anak-anak dalam belajar mengaji. Di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi, terutama gadget, anak-anak ini tetap antusias belajar mengaji. Mereka tidak terlalu terpapar oleh pengaruh gadget. Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk bermain sepeda bersama, berolahraga, dan mengaji.

Kehadiran anak-anak ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada hal besar. Anak-anak di sini tidak terlalu bermuluk-muluk untuk meraih kebahagiaan. Mereka hanya memanfaatkan waktu yang ada dan bermain bersama teman-teman. Bahagia yang mereka kejar bukan kemenangan dalam memainkan game di gadget, bukan juga karena naik peringkat dalam sebuah permainan, melainkan dengan kebersamaan dan kreativitas, mereka dapat menciptakan kebahagiaan mereka sendiri—kebahagiaan yang menurut saya sulit ditemukan di zaman sekarang. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang nyata, bukan hanya fantasi belaka.

Kebahagiaan anak-anak ini pun membuat saya merenung tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Tanpa kita sadari, mereka sudah menciptakan kebahagiaan yang begitu seimbang, antara kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kebahagiaan di dunia mereka dapat dalam permainan bersama teman, dan kebahagiaan di akhirat mereka dapat dalam belajar mengaji di TPA. Sederhana sekali bukan konsep kebahagiaan mereka? Sederhana, namun sesuai dengan konsep kebahagiaan menurut Islam. Konsep kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat—kebahagiaan yang tidak sesaat, tetapi juga menciptakan rasa tenang dalam jiwa.

Salah satu bentuk kebahagiaan sederhana itu kami alami dalam sebuah kegiatan bersama. Suatu hari, kami mengadakan acara jalan sehat bersama. Kami berjalan mengelilingi daerah sekitar TPA, yang memang dekat dengan persawahan dan perbukitan. Pemandangannya tampak indah, terutama saat pagi atau sore hari. Acara ini kami kemas dengan sesederhana mungkin, hanya dengan berjalan mengelilingi sawah dan permainan seru bertema Islami, seperti menempelkan lanjutan ayat pada surat tertentu, tebak nama-nama malaikat dan nabi, serta menyebutkan rukun iman dan rukun Islam. Hadiah yang kami berikan hanyalah medali buatan dari potongan kertas dan kardus yang diikat dengan sehelai tali rafia. Namun anak-anak sangat bahagia ketika memakainya. Mereka tahu bagaimana cara menghormati pemberian orang lain.

Pengalaman itu membuat saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan bukan hanya soal mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi bagaimana kita bersyukur dan memanfaatkan apa yang sudah kita miliki. Anak-anak ini mengingatkan saya bagaimana cara bahagia dan cara bersyukur yang sesungguhnya, mengingatkan saya betapa terlenanya saya dengan apa yang telah saya miliki saat ini.

Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana namun dalam maknanya—bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari ketulusan, kebersamaan, dan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Anak-anak itu telah mengajarkan saya makna hidup yang tidak saya temukan di ruang kelas manapun. Mereka adalah guru-guru kecil yang tanpa sadar membimbing saya untuk kembali pada hakikat hidup yang lebih jernih dan damai. Mereka mengingatkan saya bahwa dalam hidup ini, bahagia itu memang sederhana, asal kita tahu di mana harus mencarinya.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Darussalam (UNIDA), Ponorogo. Sekretaris Himpunan Mahasiswa Prodi Manajemen UNIDA 2025-2026.

Inklusi vs Literasi

Tingginya Inklusi yang Tidak Disertai Dengan Literasi

Oleh : Hibatullah Ramadhana *)

Suatu kesempatan, saya mengikuti study academic di Solo, tepatnya  Kantor OJK (Otoritas jasa keuangan) Regional 3, Jawa Tengah. OJK (Otoritas Jasa Keuangan) merupakan Lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan sistem  pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan baik di sektor perbankan, pasar modal, dan sektor jasa keuangan. Lembaga ini bersifat independen.

OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sangat terbuka bagi siapa yang ingin mendalami edukasi mengenai keuangan, terutama kalangan muda. Hal ini merupakan salah satu upaya OJK dalam meningkatkan tingkat literasi keuangan dikalangan masyarakat Indonesia. Menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024 yang dirilis OJK, saat ini angka indeks literasi keuangan Indonesia berada di angka 65,4%, sedangkan, Indeks Inklusi Keuangan berada di angka 75%. Singkatnya literasi merupakan pemahaman dan keterampilan, sedangkan inklusi mengacu pada akses. Banyaknya akses di zaman, yang didukung dengan semakin berkembangnya teknologi, berbanding jauh dengan tingkat pemahaman masyarakat akan akses tersebut. Sehingga banyak masyarakat yang fomo atau ikut-ikutan saja.

Terlihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang terlilit hutang dengan kasus pinjol (Pinjaman Online). Banyak masyarakat Indonesia yang uangnya habis hanya untuk membayar utang yang tidak produktif, selain mudah dalam akses, pinjol juga sangat cepat dalam mencairkan dana pinjamannya. Tanpa agunan pula. Namun pastinya dengan tingkat bunga yang tinggi. Contoh pinjol yang sekarang sedang tren yaitu pay-later. Gunakanlah uang pinjaman untuk sesuatu yang produktif seperti membuka bisnis, sehingga anda dapat melunasi pinjaman tanpa melewati batas tenggat waktu yang sudah disepakati dan siklus keuangan anda akan selalu berputar. Namun saya  tidak menyarankan anda melakukan pinjol (Pinjaman Online).

Selain pinjol (Pinjaman Online) yang sedang marak juga dikalangan masyarakat adalah judi online. Judi online tidak memandang usia, sebanyak 4 juta orang di Indonesia sudah terpapar yang namanya judi online. Bahkan sampai elite politik di negara kita pun ikut serta dalam transaksi  judi online. Banyak yang mengira bahwa judi online dapat membuat orang cepat kaya, yang nyatanya tidak sama sekali, judi online hanya akan memperburuk keuangan kita. Terutama bagi orang yang melakukan pinjol (Pinjaman Online) hanya agar dapat betransaksi di judi online. Kerugian yang diakibatkan oleh judi online telah mencapai Rp 600 triliun, angka ini melebihi dari pengeluaran anggaran priritas negara.

Dua hal yang saya sampaikan diatas merupakan contoh kecil yang diakibatkan oleh rendahnya literasi keuangan dikalangan masyarakat Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menyadarkan  pembaca betapa pentingnya literasi keuangan, terutama bagi kalangan muda yang sekaligus menjadi tokoh utama dalam mewujudkan “Indonesia Emas 2045”.

Izinkan saya berpesan “Bijaklah dalam mengelola keuangan anda, karena akan menjadi modal kehidupan anda di masa depan. Gunakan uang anda untuk sesuatu hal yang produktif”.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana, Sekretaris Himpunan Mahasiswa Prodi Manajemen 2025-2026 Universitas Darussalam, Ponorogo.