Ethiopia, 1986 vs 2026

Ethiopia, 1986 vs 2026
Bagaimana industri manufaktur dan rantai pasoknya mengubah perekonomian sebuah negara.

Dunia pernah menaruh perhatian pada negeri Ethiopia. Saat perang saudara dan bencana kelaparan hebat, berhasil diliput oleh media 40 tahun silam. Tercatat 1 juta orang lebih meninggal karena kelaparan. Jutaan lainnya tumbuh dengan gizi buruk. Bantuan kemanusiaan datang silih berganti. Hingga konser amal yang memopulerkan lagu ‘We Are The World’.

Kini, negeri ini menjadi salah satu negara di Afrika yang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat. Pertumbuhan ekonomi tahunan diproyeksikan mencatat angka kuat di kisaran 7,2%.

Agroindustri dan hortikultura menjadi fondasi utama dan menyumbang porsi besar bagi lapangan kerja serta pendapatan negara. Salah satunya adalah kopi. Memang, Kopi Sidamo terkenal seantero jagad.Proyek strategis seperti bendungan besar penunjang irigasi dan pembangkit

listrik tenaga air dibangun memperkuat kapasitas penyediaan energi. Listrik menjadi energi penggerak industri manufaktur dan pertambangan.

Mereka memanfaatkan betul keberadaan dan potensi Danau Tana, Sungai Nil Biru, Gilgel Gibe, Takeze, dan beberapa sungai lainnya

Konsep : ‘Ethiopia Tamrit’ atau ‘Biarkan Ethiopia Memroduksi’ merupakan Program Strategis Nasional. Ini upaya menggeser struktur ekonominya dari negara agraris menjadi negara industri. Mereka berusaha menekan impor dan menaikkan devisa.

Industri manufaktur bermunculan. Emas dan industri pengolahannya menjadi penyokong pertumbuhan besar lainnya. Di samping itu, pembangunan kawasan industri kain rajutan dan kain garmen memicu perkembangan rantai pasok negeri ini.

Pertumbuhan sektor industri ini diklaim 12%. Ekspor sektor manufaktur mengalami kenaikan 60% di tahun 2025 lalu (USD 607 juta)

Transformasi penghematan juga dilakukan melalui pelarangan impor kendaraan berbahan bakar fosil.

Meski masih ada ketimpangan sosial ekonomi, beberapa daerah mencatat kemajuan significant. Salah satu indikator perubahan besar itu adalah Addis Ababa. Pembangunan yang masif sebagai ibukota Ethiopia.

Addis Ababa, Adama, dan beberapa kota lain mengubah ‘wajah’ Ethiopia lebih cantik dibandingkan 40 tahun lalu.

Semoga menginspirasi negeri yang kita cintai ini. Industri manufaktur pernah jaya dan menjadi penggerak utama perekonomian di negeri yang kita cintai ini. Kini upaya itu ada dan mulai bergerak. Seluruh stake holder negeri ini perlu berjibaku, mewujudkannya. Jer basuki mowo beyo. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.

*)diolah dari berbagai sumber

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − eight =