Banyak komunitas, organisasi, dan perusahaan menjadi contoh berkontribusi dan bahkan mengubah sejarah. Mereka meski tidak banyak orangnya, tapi mampu memberikan solusi masalah di masyarakat.
Bahkan, peradaban lahir dan berkembang ketika kelompok minoritas ini mampu menemukan solusi kreatif atas krisis atau tantangan yang dihadapi masyarakat. Selanjutnya, menginspirasi massa untuk mengikutinya.
Itu disebut ‘creative minority’ (minoritas kreatif). Ehm.. apa itu? Sekelompok kecil individu dalam suatu komunitas yang memiliki visi besar, keberanian intelektual, dan keteguhan moral untuk menciptakan perubahan serta merespons tantangan zaman. Konsep ini dipopulerkan oleh sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee dalam karya monumentalnya: A Study of History.
Sejarah Indonesia membuktikan bahwa peran besar dilakukan oleh sekelompok kecil orang. Mari kita buka sejarah kita. Bagaimana dan oleh siapa didirikan? Sarikat Islam. Muhammadiyah. Persis. Al Irsyad. Nahdhatul Ulama. Nahdhatul Wathan. Kita bisa pelajari, betapa visonernya, HOS Cokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari. Perkumpulan yang didirikan sekelompok kecil orang. Masih terpisah dan berbeda tempat. Namun, bisa menggerakkan semangat satu Indonesia. Hingga muncul Sumpah Pemuda. Bersatunya Indonesia yang menyadarkan arti persatuan dan kemerdekaan.
Masih lekat dalam lini masa kita. Nama, Taufiq Supriadi Yusuf, seorang Ketua RT di Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur. Ya, beliau pemimpin komunitas 80-100 KK.
Ia sukses menyulap gang sempit permukiman padat menjadi kampung hijau mandiri yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Inovasinya dilirik oleh media internasional dan dikunjungi perwakilan dari 10 negara.
Ini sejalan dengan Toynbee yang berpendapat bahwa kemajuan dan kebangkitan suatu peradaban tidak digerakkan oleh kelompok mayoritas yang pasif, melainkan oleh kelompok minoritas yang inovatif dan visioner.
Peristiwa itu menyemangati saya dan juga tim yang disebut Perwira EFK. Bagaimana perannya? Menjadi creative minority setidaknya untuk proyek yang sedang dijalankan. Plus setidaknya juga pada perusahaan yang namanya EFK atau bahkan Elnusa. Ide yang bisa jadi kecil, tapi bisa membuat profitable company. Bahkan karyanya menjadi rujukan perusahaan lain. Perusahaan berkembang, menjadi contoh, dan menjadi living company.
.
.
Salam takzim.
Simprug, 1 November 2026
Ditulis saat menjadi panitia kecil sembari menunggu kedatangan tamu dalam sebuah perhelatan bersejarah bagi seorang ayah yang sekaligus pengurus perseroan.