Tebang Pilih
Oleh : Ari Wijaya
.
Pohon adalah salah satu sumber kehidupan di bumi. Salah satu anugerah Allah SWT, Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang kepada manusia. Pohon banya manfaatnya. Oleh karenanya, menebang pohon pun perlu pemikiran masak.
“Siapa saja yang menebang pohon bidara di tanah tandus yang menaungi orang yang bepergian dan hewan ternak, secara ngawur (zalim) dan tanpa alasan yang jelas, maka Allah akan menuangkan air panas di atas kepalanya kelak di neraka.”
Memang ada yang bilang, ya.. itu pohon bidara. Lha yang ditebang kan, mahoni, jati, trembesi, akasia, dll.
Izinkan saya berpendapat sesuai ajaran guru-guru saya, esensinya bukan pada jenis pohonnya, tapi manfaat pohon itu. Jika pohon itu sumber penghidupan orang, menjadi peneduh orang sekitar, sumber makanan hewan, akarnya bisa menjadi penahan erosi, maka apa pun jenis pohonnya kalau ditebang sembarangan., ya ada risiko sesuai sabda Rasulullaah Nabi Muhammad SAW tersebut.
Mari kita berpikir kembali ketika akan menebang pohon. Jangan hanya gara-gara membuat lapak berjualan/toko, pohon di depan rumah di tebang dengan alasan menutup pandangan. Atau dalih banyak sampah karena daun yang berguguran. Capek nyapunya. Masih mending kita menyapu daun kering, ketimbang kekeringan saat kemarau. Masih banyak solusi dengan tidak menebang pohon. Pohonnya sudah banyak, mau dimanfaatkan jadi kusen, dan kuda-kura rumah. Boleh, apalagi hasil menanam sendiri 20 tahun lalu, tapi tebang pilih. Pilih dengan metoda penjarangan. Sebaiknya tidak dibabat habis.
Pohon tumbuh itu butuh perjuangan. Perjuangan si pohon itu sendiri. Bagaimana ia mencari makan. Berfotosintesis agar tumbuh berkembang dan segera memberi manfaat. Perjuangan si penanamnya juga. Menyisihkan dana dari uang dapur. Berpeluh menggali lubang. Mencari bibit yang sesuai. Merawat hingga dianggap bisa tumbuh mandiri.
Kalaulah kita tak sanggup menanam pohon baru, maka setidaknya kita tidak menebang pohon yang sudah ada. Apalagi itu tanaman penghijauan, bukan kita juga yang menanam. Jika terpaksa, kita rencanakan dengan baik, kita tanam pohon lain dulu. Kalau nggak punya lahan lagi, bisa menanam di tempat lain. Atau ikut patungan menanam pohon.
Kadang kita perlu merenung saat ada berita banjir. Atau malah kita yang kebanjiran. Air melimpah ruah tapi pas tidak diharapkan kedatangannya. Nha, saat musim kemarau, masih mending air gemericik, tak jarang malah tidak keluar. Mampet. Bukan karena krannya buntu. Tapi memang tidak ada air. Kering kerontang. Entah bagaimana rasanya kalau sudah begitu. Saya tak berani membayangkannya. Ada pepatah Jawa yang menggambarkan situasi itu.
“Musim rendeng ora iso ndodok, musim ketigo ora iso cewok”.
So, coba ditarik lagi lamunan kita. Jangan-jangan, ini akibat pohon semakin jarang. Hutan semakin berkurang. Gundul karena beralih fungsi.
Izinkan saya mengajak sahabat untuk menjaga pohon yang sudah ada. Jika dia sudah tua, siapkan penggantinya. KIta tanami lahan kritis atau lahan kosong. Kalau bukan kita siapa lagi?
Salam hijau lestari. Salam sehat dan selamat.
Sumber gambar: ngalam.co dan IG UB Forest Official