Empati dan Rezeki

Karunia terbesar umat manusia adalah diberikan Sang Maha Kuasa memiliki kekuatan empati. Banyak tokoh menyepakati hal tersebut.

Empati itu apa?

Empati adalah kemampuan mental untuk memahami, merasakan, dan berbagi emosi atau perspektif orang lain seolah-olah berada di posisi mereka. Ini adalah kemampuan psikologis untuk memahami dan merasakan emosi orang lain, atau menempatkan diri di posisi mereka.

“Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of another.” (Alfred Adler)

Bagaimana dengan kondisi kekinian dan kedisinian?

Sebuah pasar modern punya lapak di dalam dan ada toko yang menghadap area parkir. Sering mata tertuju pada toko atau outlet itu. Kenapa? Mereka kebanyakan meletakkan rombong atau gerobak atau meja kursi hingga teras dan selasar. Padahal sesuai desain awal, area itu untuk pengunjung dan pembeli berlalu lalang. Area parkir pun menyempit, banyak orang yang jalan lewat tempat yang seharusnya area parkir. Tak jarang, ketika lewat ada pembeli bersusah payah mencari jalan lain. Apalagi, ketika membawa belanjaan yang banyak dan pakai trolley. Harus digotong. Perlu tenaga ekstra. Unsafe action. Kadang harus rela kehujanan, agar cepat lewat. Enggan mencari jalan putar. Unsafe behaviour. Mereka mengalah sembari menggerutu. Pengelola pun nampak tidak ada tindakan. Sehingga tambah banyak toko atau lapak yang melakukan hal serupa.

Bisa jadi ini dianggap sepele. Remeh temeh. Tapi contoh ini bisa disebut miskin empati. Coba jika penjual tersebut menempatkan diri pada posisi seperti pembeli yang bawa belanjaan banyak, bawa kereta dorong hasil belanja, dan ditambah bawa anak. Hujan deras pula. Betapa repotnya. Punya potensi celaka.

Padahal jika ia mengembalikan hak pengunjung, teras dan selasar dikembalikan pada fungsinya. Bisa jadi rezeki bertambah. Minimal, usahanya tidak menjadi tempat gerutu atau kekesalan orang lain. Pengunjung dan pembeli lebih aman dan selamat. Keberkahan usaha bertambah. Insya Allah.

Itu salah satu contoh. Tentunya ada dan masih banyak contoh lain. Malah kemiskinan empati yang jauh lebih besar. Tapi berangkat dari hal yang kecil, sesuatu perubahan dimulai. Itulah kenapa empati menempati posisi penting dalam Islam.

“Pertolongan Allah akan senantiasa menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Mari kita kikis kemiskinan empati. Kita berempati di mulai dari diri sendiri.  Semoga dengan menumbuhkan sifat empati ini, kita menjadi bangsa besar.Bangsa yang membumikan ajaran luhur Islami. Bangsa yang kuat.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + four =