Lebih Baik Susah

Rekan saya berbunga-bunga, ia baru saja mendapatkan harga bahan mentah yang jauh lebih murah dari biasanya. Padahal, ketika itu harga migas sebagai indikator raw material price, masih stabil. Tidak ada penurunan. Walhasil, ia pun meraup keuntungan lebih besar. Belum lagi tambahan pelanggan baru. Sobat saya ini adalah pengusaha sedotan. Drinking straw.

“Mas, suwun yo. Ilmunya sudah aku pakai. Cespleng. Aku dapat harga miring (baca : lebih murah) ini !”, ujarnya di ujung telepon.

“Lumayan ini dapat untung gedean dikit”, sambungnya.

“Terus aku dapat pelanggan baru. Aku kasih harga perkenalan yang agak miring dikit. Lha, kok aku dikasih kontrak tiga bulan. Puji Tuhan !”, tukasnya dengan nada suara yang renyah. Nampak bahagia banget.

Mau tahu kenapa ?

Ia melakukan perencanaan pembelian dengan lebih baik. Sang pengusaha sobat saya ini, punya 3 pabrik kecil di beberapa tempat berbeda. Pengusaha sedotan ini juga berkolaborasi dengan beberapa rekan sejawatnya. Ia melakukan consolidated quantity. Jumlah bijih plastik yang akan diorder jauh lebih besar jadinya. Ia sebagai lead buyer melakukan kontak dengan pemasok. Syarat dan ketentuan pun telah dia pegang termasuk tatacara pengiriman, tempat pengiriman dan tentunya harga. Memang ia belum bisa tembus ke produsen langsung. Namun, setidaknya ia telah memotong 1-2 jalur distribusi sang produsen. Ia melaporkan bahwa saving dari plastic resin pellet saja ia peroleh sebesar 4,3%.

Upaya itu memang susah pada tahap awalnya. Data, komunikasi dengan sejawat yang sekaligus pesaing sebenarnya, sangat memakan energi. Lebih baik susah pada tahap awal dari pada kesulitan saat akhir.

Mau susah dulu di awal ?

Mari kita retas lagi proses bisnis. Ternyata, selalu ada peluang di dalamnya.

Jika tertarik, silakan menyebarkan menybuah pena ini kepada yang lain. Dan jangan lupa terus menyimak paparan saya dan berdiskusi lebih lanjut melalui Facebook Group di :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Salam Terobosan ! Terus berkarya demi bangsa !

This is AriWAY

WA : 081 1166 1766

Boros itu . . .

Saya pernah leha-leha di dalam pabrik alias bersantai tapi tetap dibayar perusahaan. Enak tenan. Ngobrol ngalor ngidul sambil leyeh-leyeh (baca : santai benget). Tahu-tahu sudah hampir shift berganti. Bayaran pun utuh.

Apakah sabahat pernah mengalami hal yang serupa ? Enak, bukan ?

Untuk sesaat bisa jadi itu mengasyikkan. Tapi secara jangka panjang bisa berakibat sebaliknya.

Kejadian itu terjadi sekira tahun 1997, saat saya berkarya di salah satu pabrik yang terletak di kawasan Pondok Cabe. Saat ini masuk wilayah Kota Tangerang Selatan. Tidak menunggu lama, kami tim produksi, terkena evaluasi dari pimpinan. Tamparan keras yang disampaikan dengan gaya santai. Intinya, kami tidak performed ! Tidak dapat mencapai target. Sales bisa turun. Bisa-bisa, gaji tidak naik. Bonus menguap!

Benar memang. Lha wong, beberapa orang saat itu memang tidak ada load. Kebetulan bagian sebelumnya belum tuntas melakukan tugasnya. Ia harus menyediakan barang yang siap kami proses. Sepertinya tidak ada yang salah, bukan ? Parahnya, itu kejadian baru diketahui pas hari Sabtu siang. Saat overtime. Saya sebagai orang baru tidak tanggap. Ternyata hal seperti itu sudah biasa. Kejadian berulang.

Saya bersama rekan sejawat duduk bersama. Proses bisnis dibedah kembali. Walau awalnya sulit, alhamdulillaah, kami menemukan adanya ketidakseimbangan input dan output pada masing-masing bagian. Bottleneck ada pada bagian persiapan. Sehingga diputuskan hanya bagian persiapan yang kerja lembur pada shift tertentu. Akibatnya, ada beberapa tim yang tidak perlu overtime. Ada sih, penolakan pada awalnya. Karena kerja lembur sudah semacam ‘sama rata, sama rasa’. Namun, dengan panjang lebar kami kemukan alasannya. Tuntas. Leha-leha siang pun, tak tampak lagi. Kinerja produksi naik. Kebutuhan produk untuk sales  team terpenuhi.

Imbalance seperti itu ternyata juga salah satu pemborosan. Pemborosan waktu yang berujung pada rupiah. Kami berhasil melihat waste yang selama ini mengaburkan kami. Alhamdulillaah, kami sadar meski terlambat.

Shigeo Shingo, salah satu pakar teknik industri di dunia, pernah mengemukakan :

The most dangerous kind of waste is the waste we do not recognize.

Tentunya, sahabat tidak ingin terjerumus dalam kondisi seperti yang pernah saya alami, bukan ?

Mari kita cermati proses bisnis. Area mana yang masih luput dari pandangan kita. Luput karena kenyamanan. Padaha masih ada peluang perbaikan.

Yuk, diskusi bersama via Facebook Group :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Atau kontak via WA saya di : 081 1166 1766

Selamat berakhir pekan. Tetap berkarya untuk negeri, Indonesia !

Salam terobosan !

This is AriWAY

Tenang yang Menghanyutkan

 

Apakah sahabat suka masak sendiri di rumah ? Jika ya. Bagaimana perasaannya ketika persediaan bahan baku siap sedia di kulkas ? Atau bahkan  lebih dari cukup ?

Tenang ? Yup, karena tidak takut kehabisan. Ingin makan apa, tinggal ambil resep. Comot bahan dan mulai memasak. Tidak perlu waktu lama untuk menikmati hidangan hasil olah tangan sendiri. Menyenangkan, bukan ?

Tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan risiko bahan yang berubah mutu ? Tidak segar. Cepat layu. Bahkan mudah membusuk ? Ya tentu saja, ini jadi bagian yang tidak mengenakkan. Memisahkan raw material yang tak layak. Itu butuh waktu. Perlu perlakuan khusus pula. Ada risiko bahan tidak terpakai. Waktu memasak tambah molor. Pemborosan. Ada uang yang terbuang.

Ilustrasi tadi ketika dibawa ke ranah bisnis, bisa berabe. Kadang kita punya satu barang berlebih. Tak jarang, justru pas ketika yang dibutuhkan, malah tidak kita miliki.

Bagaimana mengatasinya ?

Kita bisa menggunakan sistem blanket order. Apa itu ? Blanket berarti selimut. Order punya arti pesanan. So, pesanan kita dibungkus selimut. Dicover dengan baik.

Ini sistem pembelian dengan cara memberikan informasi perencanaan kebutuhan ke depan. Ada kurun waktu tertentu, selama 6 bulan atau setahun. Harga satuan disepakati bersama. Pengiriman juga sesuai kebutuhan pembeli. Dan yang lebih penting, persediaan ada di gudang pemasok.

Sebagai gambaran ketika kita punya hobi memasak, maka perencanaan menu menjadi penting. Planning selama, katakanlah, 6 bulan. Kita jabarkan menu yang akan dimasak. Kebutuhan bahan mentahnya diketahui jumlahnya. Rencana jumlah bahan selama 6 bulan tersebut yang ditawarkan kepada vendor. Termasuk di dalamnya, kapan waktu pengiriman. Tentunya, harga per satuan juga difinalkan. Serta ada kesepakatan bahwa jumlah itu akan diserap oleh kita sebagai pembeli. Boleh juga diberikan allowance plus minus, sebagai contoh 5%.

Apa itu maknanya ? Jika ada rencana kebutuhan 100 kg pada item wortel contohnya, maka selama 6 bulan ke depan, jumlah 100 kg wortel dapat dibeli dengan harga yang sama. Jika suatu saat ada pengurangan, maka 95 kg sebagai batas bawah. Kalau kurang dari itu, selisihnya tetap harus dibeli. Atau ada diskusi ulang, renegosiasi. Demikian juga, ketika kita ternyata ingin menambah pembelian. Jumlah 105 kg adalah batas atas, supplier berkomitmen untuk menyediakan. Bagaimana jika lebih dari itu ? Harus dilakukan negosiasi ulang juga.

Metoda pembelian BO akan menurunkan jumlah persediaan kita. Kita ambil ketika dibutuhkan. Inventory bisa melenakan kita. Semakin banyak persediaan, justru memperkecil kemungkinan memiliki barang yang dibutuhkan. Tenang yang bisa menghanyutkan. Begitulah nasihat Taiichi Ohno, yang menemukan dan mengembangkan Toyota Production System atau juga dikenal dengan Lean Manufacturing.

“The more inventory a company has, the less likely they will have what they need”

(Taiichi Ohno)

Pemasok apa tidak rugi ? Tidak juga, ia pun punya keuntungan. Setidaknya sejumlah barang sudah ada pembelinya. Ada kepastian penjualan untuk item wortel setidaknya dalam 6 bulan.

 

Tertarik untuk mencoba ?

Atau ingin diskusi lebih rinci ?

 

Silakan kirim email ke : ariwijaya@gmail.com atau mengikuti diskusi dalam Facebook Group : “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis”

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/

 

Salam hangat dan terus berkarya…

This is AriWAY

 

Harga yang Pantas

“Lho, harga telur yang kamu beli kok lebih mahal ?”, begitu suatu ketika saya ditegur ibu saya.

Peristiwa terjadi ketika mendadak ada kebutuhan kenduri. Kami kekurangan telur. Perlu tambahan pembelian. Saya pun tak berpikir panjang. Saya langsung beli di warung tidak jauh dari rumah. Tanpa perencanaan yang matang. Kurang sadar biaya.

Itu teguran yang normal, menurut saya. Memang faktanya, ibu pernah mendapatkan jumlah yang sama dengan uang yang lebih sedikit. Telur yang dibeli biasanya lebih murah.

Itu bisa terjadi dengan berbagai sebab. Perubahan harga dari pemasok. Atau kita membeli dalam jumlah lebih sedikit. Kemampuan negosiasi yang masih lemah. Tidak membeli pada tempat yang pas. Dan masih banyak penyebab lainnya.

Padahal situasi seperti itu tidak mengenakkan, bukan ? Apalagi ketika kita dalam kondisi keterbatasan.

Sebagai karyawan, setiap bulan saya mendapatkan penghasilan yang relatif sama. Kadang naik, ketika mendapatkan bonus, tunjangan khusus atau profesional fee sebagai trainer. Tentunya akan mirip seperti sahabat yang saat ini jalur rezekinya idem ditto. Jalur karyawan, bukan pengusaha.

Pengusaha ada bedanya. Ia bisa mendapatkan yang jauh lebih besar. Namun, entrepreneur juga ada kemungkinan mendapatkan hasil yang relatif sama tiap bulan. Satgnan. Atau bahkan, ada dalam kondisi menurunnya pendapatan. Anjloknya revenue.

Apa pun situasinya, bisa mengundang bahaya. Alert ? Tidak boleh terlena. Ya, benar. Terlebih jika dibarengi dengan perilaku terhadap cost alias biaya yang sembrono. Pengeluaran tidak dikendalikan dengan baik.

Misal, karena ingin dapat order yang besar, maka dilakukan upaya yang luar biasa. Membeli bahan baku tanpa perencanaan. Melakukan overtime yang tidak sepadan.

Hal itu bisa menyebabkan tidak diperoleh harga yang pantas. Kenapa ?

Ketika membeli tanpa rencana ada kemungkinan harga lebih tinggi. Melambung. Pas overtime untuk menggenjot produksi, produktivitas malah turun. Biaya membengkak.

Sebaliknya, jika harga pantas setidaknya biaya masih stabil. Bahkan punya potensi dipangkas. Profit menjadi bertambah.

Saya yakin anda ingin mendapatkan harga yang pantas bukan ?

Mau ?

Silakan kirim WA via : 08111661766 atau melalui email : ariwijaya@gmail.com untuk dapat berdiskusi lebih dalam.

Atau jika berkenan, bisa bergabung dengan FB group :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Selamat berkarya dan salam hangat,

This is AriWay

www.ariwijaya.com

Jika sahabat memperoleh manfaat dari buah pena ini, silakan dibagikan kepada relasi, kolega lain.

Proses Bisnis Cikal Bakal Penghematan

Alhamdulillaah. Saya mendapatkan respon yang sangat positif atas upaya berbagi pengalaman melakukan terobosan pada proses bisnis. Baik tanggapan melalui Facebook. Ada juga japri via WA. Linkedin networks. Beberapa langsung lewat telepon. Dan juga ada yang ingin menjadi peserta jika ada pelatihan yang saya selenggarakan. Termasuk juga ajakan langsung melakukan kuliah umum. Pekan ini saya merencanakan silaturahim ke orang tua di Malang. Insya Allah, saat Sabtu paginya saya berkesempatan sharing session kepada Dosen dan  Mahasiswa di Teknik Mesin Universitas Brawjaya. Salah satu kegiatan yang disukai juga oleh orang tua saya. Kegiatan berbagi. Apa pun itu.

Namun, ada saran agar saya memberikan juga materi pendahuluan tentang apa itu proses bisnis. Karena kebanyakan juga belum mengikuti dari awal. Input yang sangat berharga dan segera saya tanggapi. Tapi kali ini, saya coba dengan menggunakan media lain. Saya pakai visual, video.

Saya berusaha keras dengan perangkat yang ada untuk memberikan sesuatu yang berbeda. Saya dibantu rekan kerja yang memang punya passion di bidang media visual.

Persiapan yang saya lakukan tentunya menyiapkan transkripnya. Materi tentang proses bisnis. Saya rancang, maksimum 5 menit, durasi tayangnya. Mencari dan memilih tempat ambil gambarnya. Serta tentunya dengan alat perekam yang memadai.

Berikut narasi yang saya bawakan. Ada beberapa yang terlewat. Lupa. Meski telah diulang 3 kali. Hi..hi..hi…Maklum, ternyata grogi juga berhadapan dengan kamera.

Semoga berkenan.

Masukan dari sangat diharapkan lho.. Saya tunggu di : ariwijaya@gmail.com

—action–

Assalaamu’alaikum

Saya suka sekali salam ini. Ini sapa yang bisa berlaku universal. Pun ada doa di dalamnya.

Salam tadi dapat diartikan :

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepada sabahat semua”

Perkenalkan nama saya : Ari Wijaya, BusinessProcess Breakthrough Trainer.

Alhamdulillaah saya sudah diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa selama 23 tahun berkarya. Baik dalam pengembangan usaha sendiri maupun berkarya untuk perusahaan lain hingga kini. Dengan beberapa bidang industri yang berbeda. Semoga masih bisa terus membawa manfaat.

Industri otomotif menjadi pengalaman pertama saya. Memimpin lini produksi di salah satu perusahaan Astra Component Group. Beralih ke consumer goods, Gillette Indonesia. Di perusahaan ini saya berkesempatan mengemban amanah pada bidang produksi, fungsi quality management dan supply chain management. Tambahan wawasan itu sangat mendukung fungsi saya ketika dipercaya mengelola supply chain nya Sari Roti. Saya juga berkesempatan berkarya di bidang building material. Pabrik Semen di PT. Semen Andalas Indonesia atau sekarang dikenal sebagai PT. Lafarge Cement Indonesia. Selanjutnya saya menimba ilmu sekaligus berkarya di Food & Beverages, PT. Danone Indonesia. Dan say ini bergabung dengan perusahaan nasional di bidang jasa energi, PT. Elnusa, Tbk.

 

Perkenankan saya berbagi pengalaman tetang pembenahan proses bisnis. Perbaikan yang berkontribusi pada penghematan. Ujungnya profit bisa bertambah.

 

Proses bisnis ?

Ya, betul proses bisnis !

 

Sebelum melangkah lebih jauh. Membahas lebih detail. Perkenankan saya mengawali dengan apa itu proses bisnis.

Boleh ?

Pada suatu kesempatan saya mendapati seorang kawan yang gundah gulana.

“Mas Bro, gimana ini, bisnisku kok seperti jalan di tempat, ya. Nggak berkembang. Gini-gini aja. Ada saran kah ?” begitu awalnya. Ia straight to the point.

“Pak Bro, Insya Allah. Semoga sampeyan berkenan lho ya. Boleh nggak, sampeyan menggambarkan proses bisnis usahanya”, begitu timpal saya mencoba memberikan solusi.

Oh ya.. usaha teman saya ini adalah penjahit pakaian jadi.

‘Walah saya ini masih usaha kecil.. Nggak punya proses bisnis segala. Yang penting ada order, aku cek spesifikasinya. Periksa gambarnya. Terus aku serahkan kepada tukang pola. Buat mal. Dipotong. Di obras. Dijahit. Dibungkus plastik. Kirim. Selesai”, tukasnya sembari geleng-geleng kepala.

 

Anda pernah menjumpai peristiwa serupa ? Ya. Acapkali, ketika ditanya proses bisnis. Banyak dari kita masih membayangkan proses bisnis itu berbentuk dokumen. Pakai diagram. Rumit pokoke.

Davenport, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Harvard mendefinisikan proses bisnis adalah :

“aktivitas yang terukur dan terstruktur untuk memproduksi output tertentu untuk kalangan pelanggan tertentu.”

Jadi ?

Teman saya tadi, sudah punya proses bisnis, bukan ?

Dia dengan gamblang menceritakan kegiatan yang terstruktur, saling terkait, terukur dan menghasilkan sesuatu.

Memang. Lebih baik ketika apa yang disampaikan dibuat dalam bentuk dokumen yang mudah dimengerti. Pakai bagan misalnya. Dalam bentuk dokumen membantu kita banyak hal. Apalagi ingatan kita punya keterbatasan. Bisa didelegasikan pula jika kita tidak ada ditempat. Gambar jadi referensi.

So ?

Ketika kita memulai diskusi tentang bisnis, maka bagaimana menggambarkan proses bisnis kita adalah hal yang utama dan penting. Tanpa itu, kita kesulitan meretas apa yang terjadi. Perlu effort yang jauh lebih besar untuk membedah apa yang dapat menjadi peluang peningkatan keuntungan.

Seperti yang dikatakan Edward Deming, Salah satu Pakar Ilmu Manajemen

“If you can’t describe what you are doing as a process, you don’t know what you’re doing”

Bagaimana dengan usaha atau tempat berkarya sahabat ?

Kita semua punya proses bisnis, bukan ?

Berangkat dari situlah inisiasi perubahan yang bisa meningkatkan profit dapat dilakukan.

Tertarik ?

Silakan disimak dan bergabung plus berdiskusi pada FB Group :

Forum Terobosan dalam Proses Bisnis

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Dan tentunya..

Tunggu tayangan saya berikutnya.. ya.

 

Terima kasih telah berkenan menyimak paparan saya.

Selamat berkarya.

Wassalaamu’alaikum…

—cut–

Silakan juga dinikmati video ini :

Ikuti Dahulu, Perbaiki Kemudian

Setelah beberapa bahasan tentang peran serta pemasok dalam mendukung kinerja biaya, saya akan berbagi pengalaman dalam melakukan perbaikan proses bisnis secara internal.

Pembenahan internal tidak kalah pentingnya dalam usaha melakukan penghematan. Memangkas biaya.

Pengalaman pertama saya bekerja adalah sebagai supervisor produksi. Saya ditempatkan pada lini perakitan. Masa orientasi pekerjaan tidak terlalu memakan waktu lama. Sepekan saja. Setelahnya, saya langsung terjun ke lapangan. Learning by doing. Itulah kebijakan pimpinan kami ketia itu. Tentunya dengan pendampingan yang ketat dari atasan saya, Production Manager. Rekan sejawat juga banyak membantu mempercepat pengenalan saya.

Empat bulan pertama, saya mendapati angka produk yang tidak lengkap dirakit lumayan besar. Bisa pada kisaran 8% -10 %. Itu sama saja ada 8-10 produk cacat untuk setiap 100 set produk yang dihasilkan. Tapi yang mengherankan, itu ditanggapi biasa.

“Biasa ini, Pak. Dari dulu juga begitu. itulah gunanya ada kami. Nanti kami repair. Kabel yang tidak lengkap akan dibuatkan manual,” begitu jawab salah seorang tim perbaikan. Ia sering disebut, Repairman.

Kejadian itu menurut penuturan beberapa orang sudah sering terjadi. Memang akhirnya bisa menjadi barang jadi juga. Tapi membutuhkan tenaga, waktu, dan material tambahan. Belum lagi produk hasil manual bisa jadi mutunya tidak sama dengan yang dikerjakan oleh mesin. Pos pemborosan, bukan ?

Saya dalam sepekan mencoba mengikuti alur proses produksi dari akhir hingga saat serah terima. Saya melihat catatan mereka. Catatan tiap seksi lengkap. Tidak ada material yang berkurang.

Perhatian saya pusatkan pada area serah terima. Saya mengamati prosesnya dari lantai 2. Aktivtas tim serah terima saya perhatikan seksama. Nampak mulus, tiada yang aneh.

Akhirnya, saya dibantu salah seorang Kepala Regu, melakukan perhitungan material yang diserahterimakan. Untuk membuat 1 produk jadi, ada belasan kabel berbeda warna dan ukuran. Ada yang sudah digabung dengan kabel lain (joint). Ada yang mandiri.

Hasilnya sungguh mengagetkan.

“Mas, ini kok ada kabel yang kurang 9. Di lain tempat kurang 7. Ada lagi yang kurang 5 biji ?” begitu tanya saya.

Karena pada surat serah terima dengan Lini Persiapan, ditulis dengan gamblang :

“Lengkap !”sembari ada coretan seperti lambangnya ‘Zorro, ketika selesai menumpas kejahatan.

“Wah, saya ndak berani menolak, Pak. Bisa ribut nanti. Ini sudah aturan dari dulu”, jawab salah seorang tim.

Saya meminta dilengkapi dahulu, baru ditransfer ke Assembling Line. Karena cable hanger tidak berjalan. Foreman Lini Persiapan yag sedang bertugas juga berusaha melakukan negosiasi. Ia ingin untaian-untaian kabel yang sudah siap, ditransfer dulu. Nanti mereka akan perbaiki. Saya menolak. Saya beralasan, bahwa ini sudah sering terjadi. Ia harus melengkapi sebagai syarat serah terima berlangsung.

Saya menekankan hal itu sembari menunjuk papan besar yang di gantung pada kolom penyangga pabrik. Sign board bertuliskan :

“Saya tidak menerima produk catat. Saya tidak akan menghasilkan produk cacat. Saya tidak mengirimkan produk cacat”

Ketika itu, selama kurang lebih 2 jam. Area yang digunakan untuk merakit kabel kurang pasokan. Bahkan malah ada beberapa orang yang menganggur. Di lain pihak. Area transfer sangat penuh dengan kabel. Kabel yang tidak lengkap. Tidak sesuai dengan jumlah yang tetapkan pihak production planning.

Singkat cerita, terjadi keributan kecil. Karena rekan sejawat yang juga mendapatkan layanan dari Lini Persiapan juga melakukan hal serupa. Saya pun dipanggil GM Pabrik. Saya dianggap tidak fleksibel. Kaku. Kasus itu pun menjadi perhatian. Kaena saat itu sedang booming order. Saya dan beberapa teman meluruskan bahwa, proses bisnis harus dijalankan sesuai yang telah ditetapkan.

Jika ada ketidaksesuaian seperti tadi, bukan malah diteruskan dan ditangkap saat akhir proses. Tapi harus dihentikan untuk dicarikan pemecahan masalah.

Jika ingin agar proses tetap berjalan dengan adanya cacat dibeberapa tempat, maka produk cacat tersebut harus dipisahkan. Kasus seperti tadi, yang diserahterimakan seharusnya cuma 91 set. Bukan 100 set.

“Kalau begitu caranya, akan ada produk ‘kethengan’ (baca : satuan). PPIC tidak akan mau menerima”, sergah Leader Tim Persiapan, mencoba memberi alasan.

Kami pun mengusulkan bahwa ada lini khusus untuk repair di Lini Persiapan. Gugus tugas yang bekerja ekstra umtuk melengkapi jumlah kabel. Itu harusnya juga sementara. Fire fighting saja.

Lebih jauh lagi, perlu dicermati kenapa ada mesin menghasilkan produk yang kurang.  Apakah faktor operator, mesin itu sendiri, bahan baku yang masuk, atau apa ? Harus dicari akar masalahnya pada tempat yang bermasalah.

Alhamdulillaah, malam itu menjadi jelas. Disepakati menjalankan proses bisnis yang telah ditetapkan. Jika ada perubahan, misal ingin memenuhi pesanan dengan segera, maka proses bisnis existing menjadi dasar perbaikan.

Kami mengakhirinya dengan jalan bareng dan menyantap Soto ‘Torpedo’ khas Warung Betawi di bilangan Kelapa Gading tak jauh dari lokasi pabrik.

Boleh beradu pendapat, bisa jadi ada ketersinggungan. Tapi hati tetap legowo. Tidak ada menang kalah. Itu semua demi kebaikan bersama. Kemajuan perusahaan tempat kami berkarya.

Saya sangat terkesan dengan pengalaman itu. Semoga sahabat juga dapat menarik hikmahnya. Pemahaman akan proses bisnis sangat penting. Ini sesuai pesan dari William Edwards Deming. Beliau salah satu tokoh manajemen mutu di dunia.

If you can’t describe what you are doing as a process, you don’t know what you’re doing.

 

Jika tulisan saya ini membawa manfaat, silakan dibagikan kepada relasi, kolega dan sahabat lainnya.

Silakan memberi masukan dan bergabung dengan “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis”, dengan klik tautan ini :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Selamat berkarya !