Make or Buy ? by Ari Wijaya

Outsourcing : To Make or To Buy (MoB)

Kata ‘outsourcing’ sudah tidak asing dalam keseharian bisnis. Outsourcing atau alih daya adalah upaya mengalihkan sebagian proses bisnisnya kepada pihak lain. Pada industri manufaktur, ada pilihan keputusan membeli atau menggunakan fasilitas orang lain daripada membuat sendiri (MAKE or BUY). Sedangkan industri jasa, adalah pilihan menyewa atau melakukan pembelian atau penguasaan asset (RENT or BUY).

Alih daya merupakan salah satu upaya terobosan untuk meningkatkan fleksibilitas perusahaan. Langkah antisipatif menghadapai perubahan pasar yang sangat cepat. Tidak hanya sekedar mengurangi biaya, namun juga mendorong adanya inovasi atau ide kratif lainnya. Upaya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

Pokok Persoalan Strategis

Hal utama yang perlu ditelaah ketika akan melakukan alih daya adalah menjawab pertanyaan :

“Apa tindakan yang paling tepat untuk kepentingan perusahaan ?”

“Apa yang harus dilakukan agar perusahaan lebih kompetitif?”

Menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu dilakukan penilaian mandiri seperti apa kompetensi inti perusahaan. Ini penting, karena kompetensi inti sebaiknya tidak dialihdayakan. Kajian di di dalamnya termasuk bagaimana dominasi supplier dalam industri yang digeluti. Yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan kekebalan strategis agar tidak mudah terserang kompetitor ketika alih daya dilakukan.

Misalkan : PT Kuda Liar (PTKL), memiliki kompetensi inti membuat minuman berenergi kelas wahid. Ia ingin melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru wilayah. Maka, PTKL harus menemukan bagaimana meramu dan membuat biang minumannya. Ramuan dibuat dalam bentuk bubuk, agar memudahkan untuk pengolahan. Cukup air sebagai pengencer.

Karena pemekaran area distribusi, ada kendala transportasi (relatif lebih mahal dan waktu tempuh lebih lama), maka diputuskan untuk melakukan alihdaya pengolahan minuman berenergi. Pabrik di luar pulau, hanya menyiapkan air sebagai pengencer, kemasan dan distribusi. Jika ada peningkatan penjualan, maka ramuan/biang yang dikirimkan lebih banyak. Supplier penyusun bahan ramuan hanya tahu menyediakan bahan penyusun tanpa tahu kuantitas secara rinci. Takaran bahan untuk menajdikannya biang minuman, hanya diketahui pihak PTKL.

Namun, sebaliknya, jika dilakukan mandiri dari hulu ke hilir (integrasi vertical), maka faktor biaya dan kecepattanggapan menjadi hal yang patut dipikirkan. Terlebih lagi, hal ini bisa mengurangi fleksibilitas dan kepuasan pelanggan.

Integrasi Horisontal

Sebagai salah satu strategi persaingan, outsourcing pekerjaan yang bukan kompetensi inti adalah upaya untuk penghematan biaya. Sebagai contoh Cisco System yang mengalihdayakan proses pembuatan, pemenuhan order dan distribusi. Jika ada pengembangan produk baru, ia juga bekerja sama dengan perusahaan UKM. Cisco hanya memiliki ide besar bisnisnya. Fleksibilitas tersebut yang menjadikannya ia mampu menyediakan layanan yang lebih cepat dengan biaya yang lebih rendah daripada pesaingnya.
Inisiatif ini tidak dapat dilepaskan dari product’s life cycle. Proses alih daya dapat dimulai saat pengembangan produk baru. Karena akan diketahui mana yang harus dikerjakan sendiri dan bidang mana yang akan menggunakan jasa pihak ketiga.

Di samping itu, konsep lean manufacturing juga acapkali digunakan sebagai acuan. Ketentuan umum yang menyatakan bahwa produk harus dibuat mandiri adalah :

1. Suatu produk atau item menentukan kesuksesan produk, termasuk persepsi pelanggan.

2. Memerlukan special desain dan keahlian khusus termasuk didalamnya peralatan khusus dan pemasok sangat terbatas.

3. Produk yang memang menjadi kompetensi inti perusahaan dan dengannya (pijakan) perusahaan mengembangkan rencana jangka panjang.

Sebagai contoh, pembuatan mobil. Salah satu penentu kinerja mobil adalah mesin. Dalam komponen mesin yang paling menentukan adalah teknologi pembakaran. Teknologi tersebut direpresentasikan oleh suatu komponen yang disebut engine block. Engine block atau cylinder block memerlukan desain khusus, pengembangan khusus dan menjadi pijakan pengembangan selanjutnya. Sehingga banyak yang masih menjadikannya membuat mandiri, sedangkan komponen lain diberikan kepada pihak ketiga.

Keputusan Taktis

Setelah menetapkan keputusan dikerjakan mandiri atau dialihdayakan, maka monitoring harus tetap dilakukan. Pengerjaan mandiri harus disandingkan dengan kajian efisiensi, pengendalian mutu, biaya, pemanfaatan kapasitas seoptimal mungkin. Sebaliknya, pengalihdayaan harus melakukan evaluasi kinerja vendor, perubahan permintaan pasar, perubahan desain, pertimbangan biaya alih daya. Analisis tersebut dilakukan untuk memberikan bahan pertimbangan keputusan manajemen terhadap keputusan awal.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Keputusan ‘Make or Buy’

Dua faktor utama yang melandasi keputusan MoB adalah :

a. ketersediaan kapasitas produksi
b. biaya (dalam hal ini yang dimaksud adalah, Total Cost of Ownership)

Pada keputusan melakukan mandiri maka yang harus diperhatikan adalah biaya tenaga kerja (langsung) karena mempengaruhi harga pokok penjualan. Dan juga biaya operasi (sales, general and administrasi) yang akan mengurangi laba kotor.

Sebaliknya, keputusan melakukan alih daya, hal utama yang dikaji adalah harga beli produk atau komponen produk tersebut. Termasuk di dalamnya biaya yang berhubungan dengan mutu produk dan layanan beserta rangkaiannya. Sehingga pengendalian atas produksi dan juga mutu sangat penting.

Sebagai gambaran, pada pabrik roti dilakukan alih daya untuk distribusi produk jadi ke pelanggan toko. Pada proses ini, produk disertai dengan tagihan dan dokumen penarikan produk rusak. Salah satu poin penting adalah bagaimana tidak terjadi manipulasi jumlah produk rusak dan control pengiriman tepat waktu. Layanan yang menurun dari transporter akan berakibat pada sales yang drop dan tentunya kepuasan pelanggan (produk sering kosong, toko juga kehilangan potensial sales).

Faktor siklus teknologi juga menjadi faktor penting utamanya yang perubahannya sangat cepat. Spesifikasi yang cepat berubah tentunya berisiko kepada pihak ketiga.

Kehandalan pemasok juga menjadi catatan penting dalam keputusan MOB. Jika dalam kondisi vendor yang tidak handal, maka keputusan melakukan pekerjaan mandiri harus diutamakan.

Loading versus capacity juga menjadi acuan alihdaya. Jika loading sangat kecil dibandingkan kapasitas, maka lebih efisien jika diputuskan membeli kepada pihak ketiga.

Alih Daya Bisnis Proses

Lisa Ellram & Arnold Maltz menyatakan alih daya bisnis proses adalah menyerahkan tanggung jawab kepada pihak ketiga terhadap aktivitas yang biasanya dilakukan internal. Saat ini sudah lumrah mengalihdayakan beberapa bisnis proses, tidak hanya satu atau spesifik fungsi tertentu.

Salah satu yang dikenal adalah sistem just in time (JIT) dengan kanban system yang dipakai oleh Toyota. Ada juga pada perusahaan properti, melakukan alih daya jasa pengoperasian, perbaikan dan perawatan gedung kepada pihak ketiga. Bahkan ada juga yang mengalihdayakan tenaga kebersihan, tenaga pengamanan dan sistem perparkiran kepada pihak ketiga. Integrated facility management dilakukan oleh 3rd party. Pemilik hanya menangani managerial (keputusan stategis).

Pada proses pengadaan ada juga sebagai bagian dari sistem blanket, maka persediaan tidak lagi dikelola internal tapi oleh pemasok (vendor managed inventory).

Sifat Perubahan pada Keputusan MOB

Keputusan MOB dapat berubah drastis pada kurun waktu tertentu. Terlebih adanya pengaruh perubahan kebijakan pemerintah. Bisa saja terjadi perubahan kompetensi inti perusahaan. Sehingga rumusan dan aturan yang kaku ketika membuat keputusan MOB harus dimitigasi. Evaluasi keputusan harus dilakukan secara berkala.

Setiap keputusan mempunyai risiko, tidak terkecuali alih daya. Risiko longgarnya pengawasan atau pengendalian, fokus bahkan benturan kepentingan, kerahasiaan, biaya, kejelasan tanggung jawab.

Sebagai contoh, pada suatu kesempatan, pabrik minuman mengandung susu, PT Sehat Utama (PTSU), mengalihdayakan hampir proses bisnis. Hanya bagaimana memformulasikan racikan minuman mengandung susu yang masih dipegang sendiri. Alias, fungsi research and development nya tidak dialihdayakan kepada pihak ketiga.

Hal ini mengakibatkan, jika ada kenaikan harga gas, bbm atau utilitas, maka bisa menyebabkan secara total memberikan negative profit. Pemasukan tetap, tapi biaya produksi naik. Biasanya menyebabkan kenaikan harga terhadap biaya co-pack (atau biaya alih daya) per liter, bahan baku, biaya transportasi yang langsung dibebankan kepada perusahaan. Lain cerita, jika dikelola mandiri, maka upaya-upaya mencari alternative source, alternative pemasok masih dapat dilakukan oleh perusahaan. Hal itu yang disebut risiko melakukan alih daya atas sebagian besar proses bisnis.

Bagaimana dengan perusahaan tempat kita bekerja ? Atau bisnis yang anda geluti saat ini ? Apa core competency nya ? Perlukah dilakukan alih daya untuk menjungkit keunggulan kompetitifnya ?

Mari kita ‘pit stop’ sejenak. Bermimpi dan merancang perubahan. Diskusi dan dilanjutkan dengan actiON. Aksi bersama untuk meningkatkan profit dengan menekan harga pokok penjualan.

Tugas Sepele tapi Berdampak

Belanja ke pasar saat saya masih pelajar SMP adalah hal rutin. Hampir setiap pagi saya melakukan tugas itu. Ibu saya memberikan pelatihan pembelian sejak dini. Upaya itu dilakukan untuk mengoptimalkan waktu. Beliau bisa melakukan hal lain.

Bapak saya memang membuat aturan bahwa paspor kami keluar rumah adalah sarapan pagi. Jika tidak melaksanakan, jangan harap bisa keluar rumah. Apa pun alasannya, harus makan pagi.

Guna mempercepat belanja, Ibu saya memberikan catatan kecil. Daftar belanja, jumlah yang harus dibeli dan beli dimana.Khusus jumlah yang harus dibeli, Ibu memberikan perintah ringan :

“Beli sop-sopannya (sayur mayur : kol, kentang, wartel), 50 rupiah saja. Beli di Mbok Ijah. Tempe 50 di Mas Kardi, minta dipotong sekalian”, begitu biasanya.

Saya tahu tempatnya, karena saya pas es de sudah sering diajak Ibu ke pasar. Tempat penjual yang dimaksud pun jadi di luar kepala. Karena memang posisi mereka sudah paten. Tidak berpindah. Pukul 5 lebih sedikit, biasanya sudah beres belanja. Wal hasil, sebelum pukul 6 pagi, sarapan beres. Rumah pun sudah rapi. Ibu dengan tenang pergi ke kantor. Saat itu beliau masih aktif menjadi PNS di sebuah instansi militer.

Jarak pasar dengan rumah ketika itu hanya 10 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh. Secara tidak langsung juga olah raga pagi.

Proses yang dilakukan Ibu tersebut, adalah juga terobosan menurut saya. Ada 3 hal yang dapat saya petik.

Berpikir dari akhir.

Beliau punya target, pukul 6 pagi sarapan beres. Rumah Rapi. Sehingga, beliau melakukan pemetaan apa dan bagaimana pekerjaan dilakukan. Dengan diketahui lebih awal, maka bisa dihitung juga berapa lama dibutuhkan waktu untuk menuntaskannya. Jadi tidak heran, Jika beliau hampir selalu bangun pukul 4 pagi. Rentang waktu 2 jam, sudah memadai untuk menyelesaikan task force tersebut.

Delegasi .

Kita tidak dapat melaksanakan seluruh pekerjaan pada waktu yang sama. Delegasi diperlukan. Saya belanja ke pasar. Kakak ada yang membantu membersihkan kandang ayam. Bapak membersihkan kandang burung dan memberi makan. Sehingga tenggat yang diberikan tetap masuk. Sarapan tersedia sebelum pukul 6 pagi.

Efektivitas waktu.

Untuk menggunakan waktu yang efektif dan efisien, maka dilakukan urutan pekerjaan. Proses mana yang bisa dilakukan sendiri. Pekerjaan mana yang perlu dilakukan orang lain. Ada juga, task force yang dapat dilakukan paralel. Misal dalam konteks tadi, Ibu menanak nasi sembari melakukan pekerjaan lain. Maklum kami keluarga besar, proses menanak dilakukan 2 tahap. Ngaru dan adang (mengaru dalam panci besar dan menanak di dalam dandang). Saat adang, sembari membersihkan rumah.

Proses belanja pun dibuat lebih simple. Tidak ada negosiasi saat saya membeli. Karena proses negosiasi dilakukan saat awal belanja. Beliau pun sudah punya penjual tetap. Loyal vendor. Sehingga dengan harga tertentu, beliau tahu akan mendapatkan barang seberapa banyak.

Meski sederhana, proses tersebut sedikit banyak mewarnai hidup saya saat ini. Ibu mengajarkan banyak hal. Termasuk mengajari saya jadi buyer. Memberikan pelajaran jadi planner. Bisa jadi itu semua hal kecil, tapi telah memberikan sumbangsih pembentukan pribadi. Sepele tapi berdampak.

 

 

Breakthrough Pembuka Jalan

small-action-big-impact

Saya bersyukur pernah mendapatkan kesempatan berkarya di perusahaan roti terbesar di Indonesia. Ketika itu saya diamanahkan untuk membenahi supply chain management-nya. Ruang lingkup tanggung jawab saya meliputi : production planning, inventory control, warehouse barang jadi, distribusi dan adminitrasi penagihan.

Seperti halnya orang baru, maka orientasi singkat pun diberlakukan kepada saya. Baik secara teoritis, peninjauan lapangan, maupun praktek membuat roti. Peninjauan secara bergilir dilakukan di gudang bahan baku, gudang barang jadi. Dan yang lebih seru adalah jalur distribusi hingga ke hawker, penjual keliling menggunakan kios berjalan dengan penggerak seperti becak.

Continue reading “Breakthrough Pembuka Jalan”

Kecil tapi Berdampak

“If you think you’re too small to have an impact, try going to bed with a mosquito”.

Quotes tersebut dicetuskan oleh Anita Roddick, 1942 – 2007, Founder of The Body Shop

Ia dilahirkan dengan nama lengkap Dame Anita Lucia Roddick. Pendiri perusahaan kosmetik dari bahan alami dan ramah lingkungan, The Body Shop.

Roddick mulanya membuka toko Body Shop di Brighton pada tahun 1976 untuk menambah penghasilan bagi dirinya dan dua orang putrinya, Sam and Justine, ketika suaminya sedang berada di Amerika. Kesuksesan toko pertamanya diikutinya 6 bulan kemudian dengan membuka toko kedua. Dengan bantuan suaminya, sekembalinya ke Inggris, usaha Body Shop melejit. Sejumlah 700 cabang Body Shop berhasil didirikan hingga tahun 1991. Prestasi ini membuat Roddick berhak menerima World Vision Award for Development Initiative Award pada tahun 1991.

Continue reading “Kecil tapi Berdampak”

Creating Effective Breakthrough will Change Your Life

Beberapa perusahaan dan juga industri tertentu, saat ini mengalami masa sulit. Banyak pemicunya, salah satunya karena harga minyak mentah yang terus turun drastis. Bahkan harga crude oil sudah jauh lebih murah dari harga kecap dan juga air minum dalam kemasan. Parahnya, kelesuan itu diikuti oleh industri penunjangnya. Efek domino.

Continue reading “Creating Effective Breakthrough will Change Your Life”

Samsung Mendunia Berkat Terobosannya

“An enterprise’s MOST VITAL ASSETS lie in its DESIGN and other CREATIVE CAPABILITIES”

– Lee Kun-hee, Chairman of Samsung

Kalimat mutiara Lee Kun-hee itu, memang ampuh dan terbukti. Dengan desain dan kreativitasnya, Samsung menguasai dunia dengan motto : Imagines the possibilities.

Samsung Group merupakan salah satu perusahaan elektronik terbesar dunia. Didirikan oleh Lee Byung-chull dan Kang Gary pada 1 Maret 1938 di Daegu, Korea. Perusahaan ini beroperasi di 58 negara, termasuk Indonesia. Perusahaan yang memiliki lebih dari 309 ribu pekerja. Samsung sampai saat ini juga menjadi salah satu brand terbesar di dunia dengan mengeluarkan smartphone yang disegani dalam persaingan bursa pasar gadget. Tentunya nada mengenal telepon cerdas, Samsung Galaxy.

Continue reading “Samsung Mendunia Berkat Terobosannya”

Atasi Galau

Saya yakin anda pernah mengalami gundah gulana. Galau atas situasi yang terjadi. Kondisi yang berimbas secara pribadi baik raga, jiwa dan ekonomi. Tentunya, anda pun tidak ingin itu berlarut. Aksi korektif senantiasa diupayakan. Tidak terkecuali saya. Paling awal yang tahu persis jelas garwa alias istri saya. Saya pun berbagi atas situasi yang saya alami. Ia pun memberi semangat, selalu ada jalan keluar.

Tiga bulan terakhir ini, situasi dan kondisi itu menghampiri saya. Saya merasa kontribusi terhadap perusahaan tidak optimal. Beberapa proyek yang direncanakan layu sebelum berkembang. Itu pun dipengaruhi oleh banyak faktor, utamanya faktor eksternal. Beda persepsi dan keyakinan, bisa jadi karena beda pehamaman, beda cara pandang. Tapi tetap saja ujungnya tahun ini belum ada proyek yang gol, menapaki langkah komersial pun masih jauh.

Continue reading “Atasi Galau”