Corruption and Competition

Korupsi, sesuai Kamus Oxford (Simpson dan Weiner, 1989, hal. 974) didefinisikan sebagai:

‘penyimpangan atau penghancuran integritas dalam melaksanakan tugas publik dengan suap atau bantuan’.

Soreide (2001) dan Lanseth (2004) sependapat meski berbeda tahun penelitian. Mereka menyatakan bahwa penggunaan atau keberadaan praktik korup, khususnya pada perusahaan publik sulit untuk  didefinisikan secara tepat, tetapi efek merusaknya, tak terhindarkan. Sulit untuk diabaikan.

Meskipun bentuk, tingkat dan kelemahannya bervariasi pada suatu negara dengan negara lainnya, survei menunjukkan bahwa hampir tidak ada negara yang tidak tersentuh korupsi (Transparency International, 2004).

Korupsi sering dikemukakan ada karena kurangnya persaingan menghasilkan harga yang dapat disesuaikan secara ilegal. Gagasan umum ini sudah sering membuat orang berpikir bahwa, karena meningkatnya kompetisi mengurangi harga, itu juga mengarah pada korupsi yang lebih rendah. Rose-Ackerman (1996) menyatakan bahwa secara umum setiap reformasi yang meningkatkan daya saing ekonomi membantu mengurangi insentif korupsi.

Pengadaan publik adalah area yang banyak bermasalah. Praktik pengadaan publik membutuhkan pemilihan tawaran terbaik, memperhitungkan sejumlah pertimbangan termasuk kualitas, siklus hidup biaya dan risiko serta kinerja vendor berdasarkan evaluasi nilai uang (Value of Money Evaluation).

Untuk memastikan bahwa sumber daya pembayar pajak dihabiskan dengan hati-hati, proses pengadaan harus adil dan transparan, dengan kontraktor yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Praktik pengadaan publik yang dijalankan oleh ketidakpercayaan memungkinkan memperbesar risiko dan biaya kontrak.

Masalah pengadaan menjadi pusat perhatian tempat korupsi cenderung tumbuh subur. Pelaku mengambil keuntungan dari hasil yang ada pada mekanisme rancangan multi dimensi. Korupsi tergantung pada tingkat daya saing lingkungan. Hasil penelitian Celetani dan Ganiza pada tahun 2001, mengidentifikasi melalui mana persaingan yang lebih tinggi mempengaruhi korupsi dan sebaliknya. Dampak dari meningkatnya persaingan di pasar pengadaan dan di pasar untuk buyer/fungsi pengadaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa membentuk efek bersih (bebas korupsi) secara fungsional dapat diperoleh dengan peningkatan jumlah pemasok potensial.

Hubungan antara persaingan dan korupsi telah menjadi objek beberapa penelitian lintas bidang studi. Ades dan Di Tella (1197) menyatakan bahwa kebijakan industri aktif meningkatkan korupsi. Hal ini didukung dengan gagasan yang terkait dengan tingkat keterbukaan terhadap perdagangan yang lebih tinggi untuk menurunkan tingkat korupsi.

Laffont dan N’Guessan (1999) melakukan penelitian serupa di Benua Afrika dan menunjukkan adanya saling ketergantungan korupsi dengan persaingan. Korupsi berkurang pada keterbukaan ekonomi pada negara yang memiliki tingkat historis korupsi yang rendah. Namun meningkat pada kondisi sebaliknya.

Wei (2000) menunjukkan bahwa ‘keterbukaan alami’ menjelaskan 60% dari variasi lintas fungsi/seksi, faktor keterbukaan tidak memiliki dampak terhadap korupsi secara signifikan.

 

Sumber:
diolah dari beberapa jurnal ilmiah.

Corporate Governance and Corruption

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) adalah badan multilateral yang mewakili kepentingan anggotanya, negara maju di dunia. Mereke membentuk beberapa kelompok kerja untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi. Salah satunya, adalah Penasihat Sektor Bisnis OECD yang didirikan pada tahun 1996. Kelompok ini ditugaskan untuk menyusun: “standar minimum tata kelola perusahaan yang seharusnya diikuti oleh negara-negara OECD” (Dignam & Galanis 1999).

Pada tahun 1999, edisi pertama Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan diterbitkan. Versi revisi terbit pada tahun 2004, untuk mencerminkan perubahan yang terjadi dalam lanskap tata kelola perusahaan, terutama setelah perusahaan sekelas Enron dan WorldCom di Amerika runtuh (OECD, 1999, 2004).

Roe (2008) mengungkapkan bahwa lembaga tata kelola perusahaan di negara-negara Barat berkembang dengan baik dan mengakar. Sebaliknya, terjadi kelemahan regulator Asia Timur, ditandai dengan Krisis Asia Timur 1997. Hal ini memicu upaya pengembangan kapasitas besar oleh bank pembangunan multilateral untuk mengatasi kelemahan kelembagaan dalam pengembangan negara.

Praktik tata kelola dapat dinilai dari faktor: keadilan, transparansi, akuntabilitas, pengungkapan, dan tanggung jawab. Seperangkat prinsip awal dirancang agar relevan untuk setiap entitas yang terorganisir, baik itu pribadi, publik, milik negara, atau tunduk pada berbagai bentuk kontrol dan kepemilikan lainnya. Prinsip-prinsipnya juga menyediakan tolok ukur pemantauan perilaku korporasi dan hasil perbaikan dan pengembangan yang dihasilkan oleh pihak yang berkepentingan seperti investor dan regulator (Jesover & Kirkpatrick 2005: 172, Iu & Batten 2001: 48).

Kanna, Kogan, Paleppu (2001), memberikan hasil penelitiannya bahwa globalisasi juga menghadirkan peluang dan tantangan bagi reformasi tata kelola perusahaan di negara-negara berkembang. Di satu sisi, globalisasi dapat mempercepat implementasi tata kelola perusahaan sesuai standar internasional. Namun, globalisasi juga dapat meningkatkan persaingan terhadap sejumlah besar perusahaan domestik yang tidak efisien. Kenapa ? Karena globalisasi di sisi lain menciptakan tekanan tinggi bagi mereka untuk menyuap agar bisa bertahan hidup.

Peran perusahaan multinasional dalam perang melawan korupsi tidak boleh diabaikan. Meski MNC (multi national company) mampu memberi dampak positif secara signifikan, namun ternyata masih saja ditemukan beberapa praktik penyuapan korporat tingkat tinggi. Beberapa contoh skandal yang memalukan itu, misalnya Xerox di India, IBM di Argentina, dan Siemens di Singapura.

Transparency International’s Bribe Payers Index menunjukkan bahwa perusahaan dari beberapa negara pengekspor terkemuka di dunia, di antaranya adalah negara yang paling mungkin membayar suap di luar negeri untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil atas pesaing mereka (Transparency International, 2002). Sebagai akibatnya, di era globalisasi, tata kelola perusahaan yang buruk dapat memfasilitasi ekspor praktik penyuapan lintas batas. Hal ini dapat merusak efektivitas kampanye global terkait anti korupsi.

 

Catatan :
OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) adalah organisasi ekonomi antar pemerintah dengan anggota negara berpenghasilan tinggi). OECD didirikan pada 1961 untuk merangsang kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia. Saat ini bernggotakan 36 negara. Pada 2017, negara-anggota anggota OECD secara kolektif jika PDB nya digabungkan berkontribusi sebesar 62,2% dari PDB global (US $ 49,6 triliun).

Sumber :
Diolah dari beberapa jurnal ilmiah.

 

Corporate Governance & Corruption in Procurement (1)

Setiap perusahaan didirikan dengan harapan setidaknya untuk dapat bertahan dalam persaingan bisnis yang digeluti. Pendiri atau pemilik perusahaan berkeinginan perusahaannya bisa tumbuh berkesinambungan dalam waktu yang cukup lama. Malah ada yang berharap menjadi satu konglomerasi usaha suatu saat nanti. Manajemen perusahaan melakukan 2 hal utama untuk mewujudkannya. Pertama, menaikkan revenue atau penjualan. Kedua, menurunkan biaya. Salah satu upaya penting penurunan biaya adalah dengan pengelolaan pengadaan (procurement management).

Proses pengadaan adalah salah satu proses bisnis yang ada dalam perusahaan. Ketika procurement gagal memperoleh barang dan/atau jasa dengan harga yang tepat, waktu yang sesuai, mutu yang pas, maka dapat dipastikan perusahaan gagal bertahan. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa fungsi ini sangat krusial. Perannya sangat besar menentukan untung rugi, maju mundur dan jatuh bangunnya sebuah perusahaan.

Pada business dictionary, Procurement didefinisikan:

The act of obtaining or buying goods and services. The process includes preparation and processing of a demand as well as the end receipt and approval of payment. The process of procurement is often part of a company’s strategy because the ability to purchase certain materials will determine if operations will continue.

Banyak catatan manis, perusahaan melakukan penghematan dari pengelolaan pengadaan yang lebih baik, meski pendapatan tidak mengalami kenaikan.

Namun, fungsi ini kerap menjadi sorotan. Proses audit tidak jarang melakukan pemeriksaan dan bahkan menemukan kecurangan dalam proses pengadaan (procurement fraud).

Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Roni Dwi Susanto mengatakan bahwa kasus korupsi pengadaan barang/jasa pemerintah menduduki posisi kedua dalam kasus yang ditangani KPK. Untuk itu dibutuhkan upaya pencegahan sebagaimana telah diamanatkan dalam Perpres Nomor 54 Tahun 2018 tentang strategi nasional pencegahan korupsi (Kompas, 2019).

Persaingan juga yang menjadi salah satu sebab adanya korupsi. Pelaku tidak siap bersaing secara sehat. Buyer/bagian pengadaan seharusnya memberikan pekerjaan kepada penawar yang sesuai mekanisme persaingan. Dalam prakteknya, ada yang berubah karena adanya suap dari penawar lain (Celentani and Ganuza, 2001).

Sumber:
Hasil studi literatur dari beberapa jurnal ilmiah.

Satu Brand, Menjungkit Laba

.

Saat menunggu penerbangan balik ke Jakarta, ada yang menarik. Ini terkait maskapai dan jenis pesawatnya.

Apa itu ?

Sahabat, tentu sudah tahu, maskapai Sriwijaya Air sejak akhir tahun tahun, diambil alih oleh Garuda Indonesia. Buying business strategy. Itu berarti termasuk NAM Air, anak perusahaan Sriwijaya.

Sehingga sekarang Garuda memiliki 4 anak perusahaan. Menambah daftar nama yang lebih dulu ada, Citilink. Garuda saat ini mengoperasikan 4 brand pesawat. Boeing buatan negeri Paman Sam. Airbus buatan konsorsium beberapa negara, berbasis di Toulouse, Perancis. Bombardier buatan Canada. Dan terakhir, ATR buatan bareng Perancis dan Italia. Perusahaan ini berbasis di Blagnac, Perancis.

Ini menarik menjadi bahasan.

Beda merek itu menjadikan pilot yang berlisensi Boeing tidak bisa serta merta menerbangkan Airbus. Ia butuh lisensi lagi. Ia harus menjalani pelatihan khusus. Masuk simulator. Sehingga pilot yang ada tidak dapat interchangeable. Ini butuh biaya bukan ? Demikian juga engineer yang merawat atau memperbaiki pesawat.  Training perawatan yang berbeda butuh multi talent people. Butuh biaya lebih. Atau jika single skill, maka butuh lebih banyak engineer. Belum lagi spare part-nya. Beda brand, beda suku cadang. Butuh tempat tersendiri. Butuh space gudang yang relatif lebih besar, jika dibandingkan dengan 1 jenis merek. Itu semua mempengaruhi biaya yang dikeluarkan. Apalagi itu menyentuh HPP atau Cost of Revenue. Penghematannya bisa mendobelkan net profit.

Kondisi ini, menjadikan perhatian saya tadi.

Saya coba mereka-reka.

Garuda mengoperasikan hanya brand Boeing saja dengan berbagai variannya. Kenapa tidak Airbus. Biarkan Airbus dipakai oleh Citilink. Sedangkan Bombardier dioperasikan oleh Sriwijaya Air. Bagaimana dengan ATR ? Pesawat ini dioperasikan oleh NAM Air. Sehingga ATR yang dulunya diperasikan Garuda dan belakangan dioperasikan oleh Citilink dialihkan ke NAM Air.

Lha terus bagaimana dengan rute pernerbangannya ? Tentunya harus diubah. Disesuaikan. Termasuk bagaimana visi misi bisnis maskapai tersebut. Diubah total.

NAM air menjadi maskapai pengumpul. Dari bandara kecil ke bandara hub. Baru setelahnya, penumpangnya diterbangkan oleh Garuda, Citilink dan juga Sriwijaya. Sriwijaya melayani rute yang relatif lebih pendek dari Garuda atau Citilink.

Ini agar pengelolaan setiap maskapai, 1 jenis pesawat saja. Pilihan ini bisa mengoptimalkan biaya.

Net profit biasa dijungkit. Perusahaan lebih sehat, bahagia pemiliknya, bahagia karyawannya.

Bagaimana dengan usaha, organisasi, perusahaan, sahabat ?

Lontaran ide singkat, yang perlu diskusi lebih dalam.

Mau joint ?

Silakan tulis interest sahabat by WA : 08111661766.

Terima kasih.

Perubahan Bermula dari Saya

Sahabat tentu familiar dengan nama merek NOKIA bahkan produknya. Nokia pernah merajai pasar perponselan. Bagaimana sekarang? Bertahan? Untuk telepon seluler, ia kalah bersaing. Seiring berjalannya waktu, Nokia terpinggirkan dengan munculnya gadget yang beraneka ragam fitur. Tak ayal lagi, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia.  Itu terjadi pada tahun 2013. Itu berarti, dominasi selama 14 tahun lebih, usai sudah. Itulah milestone runtuhnya Nokia.

Pengalaman tak mengenakkan itu ternyata belum menjadi pelajaran berharga bagi BlackBerry. Mereka terlalu percaya diri dengan aplikasi andalannya yaitu BlackBerry Messenger alias BBM, yang pernah digunakan oleh jutaan orang. Black Berry lupa dan terlena, banyak orang kreatif dan cerdas yang terus melakukan inovasi. Ketika muncul aplikasi BBM yang multi platform, disusul dengan kemunculan aplikasi pesan dan percakapan seperti  line,  wechat,  whatsapp,  cacaotalk, dan sejenisnya. Eksistensi BBM mulai pudar. Jika ada yang masih pakai BBM, hampir dipastikan ada yang senyum-senyum. Kita dicap kudet, kurang update, ketinggalan zaman. Nasibnya tak beda jauh dengan Nokia. Black Berry Messenger pun terkapar. Tahta mereka di rebut WhatsApp!

Apakah  saat anda masih melihat disket ? Jika ya, berarti kita generasi tuwir alias tua. Setidaknya seumuran saya atau lebih tua, hehehe.

Saya dulu memakainya pada kurun waktu 1991-1994, saat getol membuat laporan hingga skripsi. Jika tidak hati-hati membawanya, jangankan terlipat, saat tergencet saja, bisa berabe. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan data yang ada di dalamnya tak bisa dibaca. Hilang. Perlu upaya khusus untuk mendapatkannya kembali. Perubahan terus terjadi. Kini disket sudah beralih ke flashdisk maupun hard drive external. Bahkan, seiring dengan penemuan teknologi cloud, maka penyimpanan pundilakukan di awan, cloud storage.

Cloud storage adalah media penyimpanan yang diakses melalui jaringan internet. Cloud storage ini dapat menhemat waktu dan tempat di bandingkan menggunakan media penyimpanan lain seperti flashdisk maupun CD. Tentunya tidak perlu takut rusak secara fisik.Banyak perusahaan yang menyediakan secara gratis, seperti box, dropbox, google drive. Perubahan ini tidak bisa dicegah atau dilarang.

Teknologi komunikasi berkembang tanpa batas. Saya masih menggunakan surat untuk berkomunikasi. Saling kirim kartu pos untuk sahabat pena. Atau pakai telegram untuk mengirim berita penting. Ini telegram yang pakai ketikan dengan kata-kata pendek. Pakai kertas kecil dimasukkan amplop khusus. Tak heran dulu, bisnis wartel sangat menjamur. Tapi apa daya, dengan adanya smartphone, sekarang tidak dijumpai benda dan sistem tersebut. Gambar, dokumen bisa dikirim by WA.

Kiriman uang? Banyak teman saya menggunakan wesel pos saat menunggu kiriman dari orang tua. Jatah hidup bulanan. Saya juga pernah merasakan pengiriman uang melalui kantor pos itu. Saya harus mencari kantor pos terdekat. Sekarang? Kita bisa transfer antar rekening bank. Bisa di depan laptop atau gadget. Mobile Banking. Jika penerima tidak punya rekening, bisa merapat ke gerai chained market. Saya sebut saja merek ya, Indomaret atau Alfamaret. Kita tinggal sebut alamat lengkap. Petugas memberi kode rahasia untuk pengambilan. Tak selang berapa lama. Penerima bisa mengambil di minimarket terdekat di kotanya.

Zaman banyak berubah. Dan akan terus berubah. Dampaknya ? Bisa positif. Bahkan juga bisa negatif. Namun, pengalaman berbicara. Fakta terlihat jelas. Kemajuan zaman dan semua yang terkait teknologi, tidak bisa dilawan. Jika kita bertahan pada pilihan konvensional, maka justru akan terkubur, terlindas oleh zaman. Oleh karenanya perkembangan teknologi tak perlu dilawan. Antisipasi adalah langkah utama dan pertama. Perubahan berawal dari perubahan diri sendiri. Perubahan itu bisa berwujud kemenangan atau kekalahan. Kemenangan akan datang kepada orang punya kepantasan, memiliki faktor-faktor untuk mendapatkan kemenangan. Sebaliknya, kekalahan juga akan dialami jika faktor-faktor tersebut hilang atau berubah. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’du: 11)

Maka ketika melakukan perubahan, sudah selayaknya dimulai dari masing-masing pribadi. Berawal dari saya, anda dan akhirnya bersama kita melakukannya.

Ayo !

 

#KEY  #persaingan #limamodalkunci #memenangkanpersaingan

Lima Modal Kunci

Persaingan adalah keniscayaan. Benar apa betul ?

Apalagi dalam dunia usaha, jika kalah, sudah dapat dipastikan, perusahaan gulung tikar. Mati. Dampaknya juga tidak kalah dahsyat. Bisa menambah daftar pengangguran. Beban ekonomi baru.

Perusahaan digerakkan oleh manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

Perlu modal memenangkan persaingan ?

Apa saja itu ?

Integrity. Miliki kejujuran yang tidak pernah dipertanyakan (be unquestionably integrity person).

Ibarat bangunan, integrity adalah pondasinya.

Kuat memegang prinsip moralitas. Dwight David Eisenhower, mantan Presiden AS yang pernah menjabat sebagai Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa, pernah mengatakan bahwa kualitas tertinggi untuk kepemimpinan adalah integritas yang tidak diragukan lagi. Tanpa itu, tidak ada keberhasilan nyata yang mungkin. Tidak peduli apakah itu di geng, lapangan sepak bola, kemiliteran atau kantor bisnis.

Agar bangunan kuat maka ada 2 kolom atau pilar yang mendukungnya:

1. Competence. Pantaskan Diri dengan Menguasai Kemampuan yang Spesifik (Hold Core Competency)

Kemampuan menuntaskan pekerjaaan dengan cepat dan tepat. Ia bisa menjadi nara sumber. Untuk memenangkan persaingan, setiap diri insan Indonesia harus memiliki kemampuan unik yang istimewa. Ketika punya keistimewaan maka kita akan dihargai mahal. Saya sering sebut sebagai pendekar pilih tanding.

2. Resourceful. Jadilah Orang yang Banyak Akal (Be Resourceful Person)

Insan yang banyak akal. Tak mudah patah arang. Selalu mencari jalan keluar.

Mari mengamati bayi yang sedang belajar berjalan. Ternyata saat belajar berjalan, seorang bayi tidak belajar dari suatu teori tertentu. Tapi dia mencoba, jatuh, berdiri lagi, meraih sesuatu. Acapkali jatuh lagi, hingga tertatih dan mulai melangkahkan kaki selangkah ke depan. Proses itulah yang membuat kita semua bisa berjalan.

3. Collaboration. Maksimalkan Potensi (Develop Collaboration Ability)

Punya kemauan menambah daya dukung. Menyatukan beberapa potensi. Lemah jadi kuat. Kuat tambah kuat. Kolaborasi adalah tindakan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam matriks, tim terkemuka secara kolaboratif membantu mereka terlibat, bergerak melalui tahap pengembangan tim (menjadi berkinerja tinggi), memecahkan masalah dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Kemudian agar bangunan itu tetap terlindungi dan membawa manfaat, maka perlu atap bangunan.

Apa itu ?

Sharing. Berbagilah di saat lapang dan susah (Do Sharing)

Sir Winston Leonard Spencer Churchill,  pengarang yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Britania Raya, juga berpesan tentang pentingnya perilaku memberi.

Kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita peroleh. Kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan”.

 Kemauan dan kemampuan berbagi. Tak kenal masa, dalam kondisi lapang dan sulit, tetap mau berbagi dengan insan yang lain. Punya sedikit dibagi sedikit. Punya banyak, apalagi, dibagi lebih lagi.

Dengan memiliki sikap dan modal utama tersebut, diharapkan insan Indonesia pun punya mental juara. Segala daya upaya dilakukan untuk memenangkan persaingan. Tentunya segala daya upaya yang dilandasi dan sesuai prinsip moralitas.

Temukan inspirasi lebih rinci di buku :

KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan

Utamakan Allah

Dr. Amir Faishol Fath pada suatu kesempatan di Masjid Baitul Hikmah Elnusa pernah mengatakan :

Utamakan Allah maka Allah akan beresin urusan kita.”

Ada peristiwa penting yang menunjukkan kepatuhan Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih anaknya, Ismail, karena memenuhi perintah Allah SWT. Kesediaan ini menunjukkan tingkat kehambaan Nabi Ibrhaim  yang menempatkan Allah SWT di tingkat tertinggi dalam lubuk hatinya. Ia telah membuktikan kepada dunia bahwa tuntutan Allah lebih ia utamakan daripada menuruti perasaan, ego dan emosinya sendiri. Karena sikap inilah kemudian Allah memberinya gelar khalilullah (kekasih Allah).

Hikmah dari peristiwa tersebut yaitu seyogyanya setiap muslim mendahulukan Allah daripada nafsu dan egonya. Pengorbanan sejati belum dapat diraih selagi kita belum mempersembahkan sesuatu yang paling kita cintai untuk Allah SWT.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Katakanlah, jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri dan keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang fasik.” 

(QS at-Taubah: 24)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala  memerintah Nabi-Nya untuk mengingatkan ancaman-Nya terhadap orang-orang yang mengedepankan cintanya terhadap delapan hal di atas, hingga lalai menjalankan amalan yang diwajibkan oleh Allah.

Sebenarnya hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat yang luar biasa dalam hal kecintaan mereka kepada Allah. Begitu pula generasi berikutnya dari kalangan tabi’in dan seterusnya. Mereka siap mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan, para sahabat meninggalkan tempat tinggal dan keluarga mereka untuk menjalankan kewajiban hijrah pada masa itu.

Perkara ini memang berat pada awalnya. Namun jika hal itu kita lakukan dan istiqomah menjalankannya, sedikit demi sedikit kemanisan iman akan terbit di hati.

Seseorang akan berat berpuasa ketika semua orang makan, bangun tahajud saat semua orang tidur. Demikian juga menjaga lisan sangat berat ketika semua orang sangat ringan membicarakan aib orang lain. Namun bagi orang beriman, ia akan memilih berbeda dengan orang lain demi kecintaannya kepada Allah.

Berkata Ubay bin Kaab:

Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah SWT, melainkan Allah SWT akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari sumber yang tidak disangka-sangka.”

Balasan lain yang telah disiapkan bagi orang yang meninggalkan nafsunya karena Allah yaitu ia akan mendapat ganti yang lebih baik daripada perkara yang ia tinggalkan.

 

Temukan inspirasi lainnya pada buku : KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan