Satu Brand, Menjungkit Laba

.

Saat menunggu penerbangan balik ke Jakarta, ada yang menarik. Ini terkait maskapai dan jenis pesawatnya.

Apa itu ?

Sahabat, tentu sudah tahu, maskapai Sriwijaya Air sejak akhir tahun tahun, diambil alih oleh Garuda Indonesia. Buying business strategy. Itu berarti termasuk NAM Air, anak perusahaan Sriwijaya.

Sehingga sekarang Garuda memiliki 4 anak perusahaan. Menambah daftar nama yang lebih dulu ada, Citilink. Garuda saat ini mengoperasikan 4 brand pesawat. Boeing buatan negeri Paman Sam. Airbus buatan konsorsium beberapa negara, berbasis di Toulouse, Perancis. Bombardier buatan Canada. Dan terakhir, ATR buatan bareng Perancis dan Italia. Perusahaan ini berbasis di Blagnac, Perancis.

Ini menarik menjadi bahasan.

Beda merek itu menjadikan pilot yang berlisensi Boeing tidak bisa serta merta menerbangkan Airbus. Ia butuh lisensi lagi. Ia harus menjalani pelatihan khusus. Masuk simulator. Sehingga pilot yang ada tidak dapat interchangeable. Ini butuh biaya bukan ? Demikian juga engineer yang merawat atau memperbaiki pesawat.  Training perawatan yang berbeda butuh multi talent people. Butuh biaya lebih. Atau jika single skill, maka butuh lebih banyak engineer. Belum lagi spare part-nya. Beda brand, beda suku cadang. Butuh tempat tersendiri. Butuh space gudang yang relatif lebih besar, jika dibandingkan dengan 1 jenis merek. Itu semua mempengaruhi biaya yang dikeluarkan. Apalagi itu menyentuh HPP atau Cost of Revenue. Penghematannya bisa mendobelkan net profit.

Kondisi ini, menjadikan perhatian saya tadi.

Saya coba mereka-reka.

Garuda mengoperasikan hanya brand Boeing saja dengan berbagai variannya. Kenapa tidak Airbus. Biarkan Airbus dipakai oleh Citilink. Sedangkan Bombardier dioperasikan oleh Sriwijaya Air. Bagaimana dengan ATR ? Pesawat ini dioperasikan oleh NAM Air. Sehingga ATR yang dulunya diperasikan Garuda dan belakangan dioperasikan oleh Citilink dialihkan ke NAM Air.

Lha terus bagaimana dengan rute pernerbangannya ? Tentunya harus diubah. Disesuaikan. Termasuk bagaimana visi misi bisnis maskapai tersebut. Diubah total.

NAM air menjadi maskapai pengumpul. Dari bandara kecil ke bandara hub. Baru setelahnya, penumpangnya diterbangkan oleh Garuda, Citilink dan juga Sriwijaya. Sriwijaya melayani rute yang relatif lebih pendek dari Garuda atau Citilink.

Ini agar pengelolaan setiap maskapai, 1 jenis pesawat saja. Pilihan ini bisa mengoptimalkan biaya.

Net profit biasa dijungkit. Perusahaan lebih sehat, bahagia pemiliknya, bahagia karyawannya.

Bagaimana dengan usaha, organisasi, perusahaan, sahabat ?

Lontaran ide singkat, yang perlu diskusi lebih dalam.

Mau joint ?

Silakan tulis interest sahabat by WA : 08111661766.

Terima kasih.

Perubahan Bermula dari Saya

Sahabat tentu familiar dengan nama merek NOKIA bahkan produknya. Nokia pernah merajai pasar perponselan. Bagaimana sekarang? Bertahan? Untuk telepon seluler, ia kalah bersaing. Seiring berjalannya waktu, Nokia terpinggirkan dengan munculnya gadget yang beraneka ragam fitur. Tak ayal lagi, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia.  Itu terjadi pada tahun 2013. Itu berarti, dominasi selama 14 tahun lebih, usai sudah. Itulah milestone runtuhnya Nokia.

Pengalaman tak mengenakkan itu ternyata belum menjadi pelajaran berharga bagi BlackBerry. Mereka terlalu percaya diri dengan aplikasi andalannya yaitu BlackBerry Messenger alias BBM, yang pernah digunakan oleh jutaan orang. Black Berry lupa dan terlena, banyak orang kreatif dan cerdas yang terus melakukan inovasi. Ketika muncul aplikasi BBM yang multi platform, disusul dengan kemunculan aplikasi pesan dan percakapan seperti  line,  wechat,  whatsapp,  cacaotalk, dan sejenisnya. Eksistensi BBM mulai pudar. Jika ada yang masih pakai BBM, hampir dipastikan ada yang senyum-senyum. Kita dicap kudet, kurang update, ketinggalan zaman. Nasibnya tak beda jauh dengan Nokia. Black Berry Messenger pun terkapar. Tahta mereka di rebut WhatsApp!

Apakah  saat anda masih melihat disket ? Jika ya, berarti kita generasi tuwir alias tua. Setidaknya seumuran saya atau lebih tua, hehehe.

Saya dulu memakainya pada kurun waktu 1991-1994, saat getol membuat laporan hingga skripsi. Jika tidak hati-hati membawanya, jangankan terlipat, saat tergencet saja, bisa berabe. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan data yang ada di dalamnya tak bisa dibaca. Hilang. Perlu upaya khusus untuk mendapatkannya kembali. Perubahan terus terjadi. Kini disket sudah beralih ke flashdisk maupun hard drive external. Bahkan, seiring dengan penemuan teknologi cloud, maka penyimpanan pundilakukan di awan, cloud storage.

Cloud storage adalah media penyimpanan yang diakses melalui jaringan internet. Cloud storage ini dapat menhemat waktu dan tempat di bandingkan menggunakan media penyimpanan lain seperti flashdisk maupun CD. Tentunya tidak perlu takut rusak secara fisik.Banyak perusahaan yang menyediakan secara gratis, seperti box, dropbox, google drive. Perubahan ini tidak bisa dicegah atau dilarang.

Teknologi komunikasi berkembang tanpa batas. Saya masih menggunakan surat untuk berkomunikasi. Saling kirim kartu pos untuk sahabat pena. Atau pakai telegram untuk mengirim berita penting. Ini telegram yang pakai ketikan dengan kata-kata pendek. Pakai kertas kecil dimasukkan amplop khusus. Tak heran dulu, bisnis wartel sangat menjamur. Tapi apa daya, dengan adanya smartphone, sekarang tidak dijumpai benda dan sistem tersebut. Gambar, dokumen bisa dikirim by WA.

Kiriman uang? Banyak teman saya menggunakan wesel pos saat menunggu kiriman dari orang tua. Jatah hidup bulanan. Saya juga pernah merasakan pengiriman uang melalui kantor pos itu. Saya harus mencari kantor pos terdekat. Sekarang? Kita bisa transfer antar rekening bank. Bisa di depan laptop atau gadget. Mobile Banking. Jika penerima tidak punya rekening, bisa merapat ke gerai chained market. Saya sebut saja merek ya, Indomaret atau Alfamaret. Kita tinggal sebut alamat lengkap. Petugas memberi kode rahasia untuk pengambilan. Tak selang berapa lama. Penerima bisa mengambil di minimarket terdekat di kotanya.

Zaman banyak berubah. Dan akan terus berubah. Dampaknya ? Bisa positif. Bahkan juga bisa negatif. Namun, pengalaman berbicara. Fakta terlihat jelas. Kemajuan zaman dan semua yang terkait teknologi, tidak bisa dilawan. Jika kita bertahan pada pilihan konvensional, maka justru akan terkubur, terlindas oleh zaman. Oleh karenanya perkembangan teknologi tak perlu dilawan. Antisipasi adalah langkah utama dan pertama. Perubahan berawal dari perubahan diri sendiri. Perubahan itu bisa berwujud kemenangan atau kekalahan. Kemenangan akan datang kepada orang punya kepantasan, memiliki faktor-faktor untuk mendapatkan kemenangan. Sebaliknya, kekalahan juga akan dialami jika faktor-faktor tersebut hilang atau berubah. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’du: 11)

Maka ketika melakukan perubahan, sudah selayaknya dimulai dari masing-masing pribadi. Berawal dari saya, anda dan akhirnya bersama kita melakukannya.

Ayo !

 

#KEY  #persaingan #limamodalkunci #memenangkanpersaingan

Lima Modal Kunci

Persaingan adalah keniscayaan. Benar apa betul ?

Apalagi dalam dunia usaha, jika kalah, sudah dapat dipastikan, perusahaan gulung tikar. Mati. Dampaknya juga tidak kalah dahsyat. Bisa menambah daftar pengangguran. Beban ekonomi baru.

Perusahaan digerakkan oleh manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

Perlu modal memenangkan persaingan ?

Apa saja itu ?

Integrity. Miliki kejujuran yang tidak pernah dipertanyakan (be unquestionably integrity person).

Ibarat bangunan, integrity adalah pondasinya.

Kuat memegang prinsip moralitas. Dwight David Eisenhower, mantan Presiden AS yang pernah menjabat sebagai Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa, pernah mengatakan bahwa kualitas tertinggi untuk kepemimpinan adalah integritas yang tidak diragukan lagi. Tanpa itu, tidak ada keberhasilan nyata yang mungkin. Tidak peduli apakah itu di geng, lapangan sepak bola, kemiliteran atau kantor bisnis.

Agar bangunan kuat maka ada 2 kolom atau pilar yang mendukungnya:

1. Competence. Pantaskan Diri dengan Menguasai Kemampuan yang Spesifik (Hold Core Competency)

Kemampuan menuntaskan pekerjaaan dengan cepat dan tepat. Ia bisa menjadi nara sumber. Untuk memenangkan persaingan, setiap diri insan Indonesia harus memiliki kemampuan unik yang istimewa. Ketika punya keistimewaan maka kita akan dihargai mahal. Saya sering sebut sebagai pendekar pilih tanding.

2. Resourceful. Jadilah Orang yang Banyak Akal (Be Resourceful Person)

Insan yang banyak akal. Tak mudah patah arang. Selalu mencari jalan keluar.

Mari mengamati bayi yang sedang belajar berjalan. Ternyata saat belajar berjalan, seorang bayi tidak belajar dari suatu teori tertentu. Tapi dia mencoba, jatuh, berdiri lagi, meraih sesuatu. Acapkali jatuh lagi, hingga tertatih dan mulai melangkahkan kaki selangkah ke depan. Proses itulah yang membuat kita semua bisa berjalan.

3. Collaboration. Maksimalkan Potensi (Develop Collaboration Ability)

Punya kemauan menambah daya dukung. Menyatukan beberapa potensi. Lemah jadi kuat. Kuat tambah kuat. Kolaborasi adalah tindakan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam matriks, tim terkemuka secara kolaboratif membantu mereka terlibat, bergerak melalui tahap pengembangan tim (menjadi berkinerja tinggi), memecahkan masalah dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Kemudian agar bangunan itu tetap terlindungi dan membawa manfaat, maka perlu atap bangunan.

Apa itu ?

Sharing. Berbagilah di saat lapang dan susah (Do Sharing)

Sir Winston Leonard Spencer Churchill,  pengarang yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Britania Raya, juga berpesan tentang pentingnya perilaku memberi.

Kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita peroleh. Kita membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan”.

 Kemauan dan kemampuan berbagi. Tak kenal masa, dalam kondisi lapang dan sulit, tetap mau berbagi dengan insan yang lain. Punya sedikit dibagi sedikit. Punya banyak, apalagi, dibagi lebih lagi.

Dengan memiliki sikap dan modal utama tersebut, diharapkan insan Indonesia pun punya mental juara. Segala daya upaya dilakukan untuk memenangkan persaingan. Tentunya segala daya upaya yang dilandasi dan sesuai prinsip moralitas.

Temukan inspirasi lebih rinci di buku :

KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan

Utamakan Allah

Dr. Amir Faishol Fath pada suatu kesempatan di Masjid Baitul Hikmah Elnusa pernah mengatakan :

Utamakan Allah maka Allah akan beresin urusan kita.”

Ada peristiwa penting yang menunjukkan kepatuhan Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih anaknya, Ismail, karena memenuhi perintah Allah SWT. Kesediaan ini menunjukkan tingkat kehambaan Nabi Ibrhaim  yang menempatkan Allah SWT di tingkat tertinggi dalam lubuk hatinya. Ia telah membuktikan kepada dunia bahwa tuntutan Allah lebih ia utamakan daripada menuruti perasaan, ego dan emosinya sendiri. Karena sikap inilah kemudian Allah memberinya gelar khalilullah (kekasih Allah).

Hikmah dari peristiwa tersebut yaitu seyogyanya setiap muslim mendahulukan Allah daripada nafsu dan egonya. Pengorbanan sejati belum dapat diraih selagi kita belum mempersembahkan sesuatu yang paling kita cintai untuk Allah SWT.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Katakanlah, jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri dan keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang fasik.” 

(QS at-Taubah: 24)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala  memerintah Nabi-Nya untuk mengingatkan ancaman-Nya terhadap orang-orang yang mengedepankan cintanya terhadap delapan hal di atas, hingga lalai menjalankan amalan yang diwajibkan oleh Allah.

Sebenarnya hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat yang luar biasa dalam hal kecintaan mereka kepada Allah. Begitu pula generasi berikutnya dari kalangan tabi’in dan seterusnya. Mereka siap mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan, para sahabat meninggalkan tempat tinggal dan keluarga mereka untuk menjalankan kewajiban hijrah pada masa itu.

Perkara ini memang berat pada awalnya. Namun jika hal itu kita lakukan dan istiqomah menjalankannya, sedikit demi sedikit kemanisan iman akan terbit di hati.

Seseorang akan berat berpuasa ketika semua orang makan, bangun tahajud saat semua orang tidur. Demikian juga menjaga lisan sangat berat ketika semua orang sangat ringan membicarakan aib orang lain. Namun bagi orang beriman, ia akan memilih berbeda dengan orang lain demi kecintaannya kepada Allah.

Berkata Ubay bin Kaab:

Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah SWT, melainkan Allah SWT akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari sumber yang tidak disangka-sangka.”

Balasan lain yang telah disiapkan bagi orang yang meninggalkan nafsunya karena Allah yaitu ia akan mendapat ganti yang lebih baik daripada perkara yang ia tinggalkan.

 

Temukan inspirasi lainnya pada buku : KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #Limamodalkunci  #memenangkanpersaingan

Bermental Kaya

“Jangan miskin amal, untuk beramal boleh tanpa uang”.

Kalimat itu adalah salah satu prinsip hidup KH. Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Beliau menggambarkan orang miskin amal itu ibarat mobil tanpa bahan bakar. Sebagus dan semahal apa pun mobil itu, jika tidak ada BBM-nya maka tidak akan jalan.

Percuma, tho?

Padahal beli mobil untuk dikendarai. Alias mobil itu harus jalan, dengan berbagai macam tujuannya. Memang kebutuhan untuk mempercepat dan memperbanyak daya angkut. Hingga bisa jadi, cuma buat pamer. Setiap melintas dilirik orang. So, syarat wajibnya mobil yang sesuai tujuannya adalah punya BBM bahkan jika perlu disiapkan cadangannya.

Hidup juga demikian, jika ingin maju dan terus tumbuh, mencapai kesuksesan seperti yang diharapkan, perlu memperbanyak derma. Beramal, berderma atau berbagi itu tidak selalu dengan uang. Bisa dengan tenaga, pikiran dan juga doa kita. Dengan begitu, beramal adalah domain semua orang. Dengan begitu, tidak ada alasan lagi, ketika berbagi menunggu kaya. Semua orang adalah kaya dan bermental kaya. Siapa saja bisa beramal, bederma, berbagi!

Sayangnya, mental miskin dan meminta-minta masih menjangkiti kita. Tidak hanya ada pada diri orang-orang yang memang kekurangan.

Namun, orang yang serba kecukupan juga dihinggapi mental miskin. Apa pasal? Karena orang yang diberi kecukupan, tidak berkenan berbagi. Misal punya ilmu, punya keahlian, tapi disembunyikan, tak pernah sharing knowledge. Merasa masih kurang hebat, belum saatnya, menunggu waktu yang pas. Belum punya pengetahuan yang lain, atau berbagai alasan lainnya. Parahnya lagi, ada perasaan, takut tersaingi. Padahal saat punya ilmu satu yang dibagi saja satu atau setengah. Ibarat pendekar, suatu saat jurusnya bertambah, maka jurusnya pun dibagi. Begitu seharusnya. Bukan menunggu jurus lainnya. Karena kita pun tidak tahu ilmu itu batasnya ada dimana.

Orang bermental kaya tidak harus orang kaya, dan orang kaya belum tentu bermental kaya.

Temukan inspirasi tersebut pada buku : KEY, Lima Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

#KEY #persaingan #limamodalkunci  #memenangkanpersainga

Tahun Lapang Dada

Pernahkah  kehilangan teman, sahabat, bahkan kerabat ? Ia tiba-tiba memutuskan hubungan. Tak mau kontak lagi.

Ketemu muka ? Boro-boro.  Dikontak pun susah. Menulis pesan WA atau SMS saja sudah enggan. Apalagi ditelpon langsung, nggak bakal diangkat. Bahkan ada yang ganti nomor. Padahal sebelumnya, bak soto dengan mangkok. Pasangan ideal.

Sedih ?

Saya coba tes beberapa teman, jawabannya kebanyakan : Banget !

Ya, sedih sekali.

Penyebab utamanya, ternyata, gara-gara beda pilihan. Beda pandangan politik.

Beda boleh saja. Justru beda itu menjadi hidup lebih indah. Seperti pelangi, coba kalau warnanya putih saja, maka bukan pelangi namanya. Bisa seperti kain sprei. Perbedaan adalah keniscayaan. Salah satu hal yang penting adalah menyiapkan diri atas perbedaan. Berlapang dada.

Hidup itu pilihan. Tidak ada yang netral. Karena kalau netral, malah nggak jalan. Ibarat perseneling mobil, kalau netral, mobil malah tak bisa jalan. Meski di gas polll !

Namun alangkah indahnya ketika pilihan itu didasari oleh data yang mantap. Adu gagasan yang cemerlang. Ketika berbeda,  kita hormati. Ada sudut pandang berbeda.

Mari berdemokrasi yang sehat.  Demokrasi yang membuat kita hidup damai. Bahu membahu membangun negeri yangvkaya raya ini. Mengelola sumber dayanya dengan baik untuk generasi mendatang.

 

Siapa ERSA ?

Pas buku saya terbit, ada pertanyaan yang diajukan. Banyak juga yang justru bukan tentang isi buku. Tapi sosok penerbitnya. Ya, di pojok kanan buku baru saya, tertulis besar, ERSA. Itu nama penerbit.

Sembari leyeh-leyeh di ruang tunggu Bandara Adi Sutjipto, saya tergerak untuk sedikit menceritakannya.

Ersa itu kepanjangan dari Erik Salman. Nama salah satu alumni Universitas Brawijaya, almamater saya. Tepatnya, seorang insinyur sipil. Ia satu dari 5 orang pencetus lahirnya ICMI. Lima orang tokoh mahasiswa itu bersama saya dan teman-teman lain, 50 mahasiswa Teknik Univeristas Brawjaya pernah bahu membahu mengumpulkan pada cendekiawan muslim pada tahun 1990 di Malang, Jawa Timur. Pada akhir acara itu, dibentuklah ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Organisasi besar yang berusaha memberikan kontribusi positif  bagi peradaban baru di Indonesia. Terlepas dari pasang surutnya, ICMI pernah dan masih mewarnai Indonesia.

Mas Erik, begitu saya memanggilnya, wafat diusia muda. Saat masa produktifnya, ia dipanggil keharibaanNYA. Ia bersama 3 orang sahabat lainnya, terlibat kecelakaan lalu lintas di Mantingan, Ngawi. Dua puluh tahun lalu.

Kami sepakat mengenang dan merawat semangatnya dengan membuat Yayasan Erik Salman. Salah satu aktivitasnya adalah menerbitkan buku-buku yang menginspirasi banyak orang. Juga mendirikan dan mengembangkan Sekolah Salman Al Farisi yang dikomandoi oleh Awang Surya. Sekolah itu akan dikembangkan lebih luas jangkauannya. Sebelumnya hanya mendidik PAUD dan TK di area Cileungsi, Bogor. Kami punya rencana mendirikan sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Itulah asal muasal ERSA. Semoga menjawab sedikit rasa penasaran.

Masih kecil kontribusi kami, tapi insya Allah berupaya membesar.

Tangan kami kecil dan sedikit, saya yakin akan jauh lebih berdampak ketika sahabat semua berkenan membantu.

Mau bersama berkarya bersama kami ?

Bisa japri saya : 08111661766 atau melalui Mas Awang Surya : 085779917492

Kirim salah hormat juga untuk 4 pencetus lainnya  #alimundakir #mochammadzaenuri #Awangsurya #muhammadiqbal