Pencuri Pahala Puasa

Pencuri Pahala Puasa

by: Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak *)
(Resume dari Pengajian Rutin Sabtu Pagi, Alumni STAN 87, 14 Februari 2026)

Setiap tahun kita berpuasa. Lapar kita rasakan, haus kita tahan. Waktu terasa lebih panjang, tenaga lebih berkurang. Namun Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan kalimat yang mengguncang jiwa:

 “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kalimat ini bukan sekadar peringatan. Ia seperti cermin. Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya.

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Jika hanya itu, maka semua orang bisa melakukannya. Puasa adalah latihan menahan diri secara total — menahan lisan, menahan emosi, menahan pandangan, bahkan menahan keluhan hati.

Banyak pahala puasa hilang bukan karena kita makan diam-diam, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Ghibah terasa ringan. Dusta dianggap sepele. Keluhan keluar tanpa rasa syukur. Kata-kata menyakitkan terlontar tanpa pikir panjang. Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Seakan-akan Allah menegaskan: Aku tidak butuh laparmu jika akhlakmu tidak berubah.

Di zaman ini, pencuri pahala tidak hanya di ujung lidah. Ia ada di ujung jari. Jari yang menulis komentar kasar. Jari yang menyebarkan berita tanpa tabayyun. Mata yang bebas melihat apa saja tanpa kontrol. HP yang seharusnya alat dakwah berubah menjadi pintu dosa.

Kita bisa saja berpuasa sepanjang hari, tetapi jika waktu kita habis untuk scroll tanpa manfaat, untuk debat tanpa adab, untuk melihat yang tidak halal — maka ruh puasa itu pelan-pelan menguap.

Pencuri lain yang paling cepat merusak adalah emosi. Mudah marah. Gampang tersinggung. Cepat membalas dengan kata-kata keras. Padahal puasa adalah sekolah kesabaran. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar orang yang diganggu saat berpuasa berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Itu bukan sekadar kalimat. Itu pengingat diri bahwa kita sedang melatih jiwa.

Ada pula pencuri yang lebih halus: malas ibadah. Al-Qur’an jarang dibuka. Sedekah tidak bertambah. Berbuka tanpa rasa syukur. Shalat tetap, tetapi tidak meningkat. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah, maka apa yang sedang kita kejar?

Puasa seharusnya menaikkan derajat takwa. Ia bukan agenda tahunan, tetapi proses pembentukan jiwa. Puasa mengajarkan kita bahwa yang halal saja bisa kita tinggalkan karena Allah, apalagi yang haram.

Karena itu, menjaga pahala puasa harus dilakukan dengan sadar. Niat diperbarui setiap hari. Lisan dijaga seketat mungkin. Emosi ditahan sebelum meledak. HP dibatasi sebelum melalaikan. Sedekah dibiasakan walau kecil. Al-Qur’an didekati walau sedikit.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar hingga maghrib. Ia tentang menjaga hati tetap hidup hingga akhir Ramadhan.

Jangan sampai kita pulang dari bulan suci ini hanya membawa haus dan lapar. Pulanglah dengan hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menjaga puasa kita dari pencuri-pencuri yang halus itu. Aamiin.

.

*) Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak. adalah seorang dosen di bidang Akuntansi dan Internal Audit. Ia pernah diberi amanah menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid. Aktivitas lainnya adalah penggerak dan pelaku kegiatan sosial. Ia juga dikenal sebagai orang yang banyak ide inovasi yang solituf untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Hidup & Nasib : Realita yang Terlalu Kita Seriusi

HIDUP & NASIB: REALITA YANG TERLALU KITA SERIUSI

by : Dyah Juniati *)

Kita ini sering sibuk bilang: “Ini salah, itu salah, seharusnya begini, yang itu seharusnya begitu”.

Seolah hidup punya buku manual dan kita cuma tinggal mengikuti petunjuknya. Padahal pertanyaan paling sederhana yang jarang ditanyakan adalah “sopo sing mengharuskan?”

Siapa yang bilang hidup itu harus adil, harus masuk akal, harus sesuai logika kita?

Padahal hidup itu pada dasarnya yaa liar. Kadang indah, kadang kejam, sedih, happy.. sering kali acak.

Kita berjalan di antara pilihan dan kebetulan, antara usaha dan takdir. Kadang harapan terpenuhi, kadang ngaplo..

Setiap langkah terasa seperti hasil keputusan pribadi, ikut formula, tapi di saat yang sama dibentuk oleh hal-hal yang tidak pernah kita pilih: misal lahir di keluarga apa, gen seperti apa, budaya seperti apa, kondisi ekonomi seperti apa, tiba2 saja kita lahir mak bedunduk (baca: tiba-tiba) di bumi ini.

Di titik ini, “nasib” bukan konsep mistis, tapi gabungan antara struktur biologis, sosial dan hukum alam.

Masalahnya, kita sering terjebak di epistemologi: kita sibuk menilai, menghakimi, mencari makna, mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ingin hidup bisa dijelaskan dulu sebelum bisa diterima.
Kita ingin nasib bisa dirasionalisasi dulu sebelum bisa berdamai.

(Jare sopoooo…iku lak jaremuuu..begitu kata Kartolo, salah satu tokoh seni di Surabaya).

Ternyata realitas tidak pernah menunggu persetujuan kita. Ia tetap berjalan, mau kita paham atau tidak.

Kita semakin bingung lagi karena kupasan-kupasan di sekeliling kita simpang siur tumpang tindah, bertarung dalam debat yang tak kunjung titik.

Agama misalnya, memberi kerangka makna agar hidup tidak terasa terlalu absurd.

Sedangkan filsafat mencoba merapikan kekacauan itu dengan konsep.

Sains membongkar lapis demi lapis: genetika menentukan potensi, hormon memengaruhi emosi, otak membuat keputusan sebelum kita sadar, struktur sosial menentukan peluang bahkan sebelum kita lahir.

Semua itu membuat satu hal makin jelas bahwa kebebasan kita ini sepertinya nyata, tapi sangat terbatas; kendali kita ada, tapi tidak pernah penuh.

Mungkin kita perlu menggeser cara berpikir. Dari epistemologi ke ontologi. Dari sibuk bertanya “apa maknanya?” menjadi “apa yang sebenarnya terjadi?”.

Dari “seharusnya hidup begini” menjadi “nyatanya hidup adalah begini”.

Bukan berarti berhenti berpikir, tapi berhenti memaksa realitas agar sesuai dengan harapan pikiran kita.

Nasib, kalau dilihat secara ontologis, bukan hukuman, bukan hadiah, bukan teka-teki kosmik. Ia hanyalah hasil pertemuan antara faktor-faktor yang tidak kita pilih dan respons yang sebisanya kita lakukan. Tidak adil, tidak rapi, tidak konsisten, tapi NYATA.

Mungkin hidup memang bukan soal menemukan jawaban paling benar. Tapi cuma soal belajar hadir di dalam realita yang tidak pernah kita desain sendiri, sambil tetap berusaha, tetap sadar dan menerima bahwa sebagian besar hal penting dalam hidup tidak pernah tunduk pada logika “seharusnya”.

Spill obrolan santai bareng dr. Ryu Hasan Roslan Yusni Hasan. Huggs Kafe, medical centre NUH, 27 Januari 2026.

*) Dyah Juniati, Alumni Bhawikarsu/SMA 3 Malang, Alumni TAUB 1989. Garwa (baca: sigarane nyawa) alias istri dari Charis Soeharto, diaspora Indonesia yang berkarya di perusahaan jasa energi di Singapura.

Sudahkah Kita Bersyukur?

Sudahkah Kita Bersyukur?
oleh : Hibatullah Ramadhana *)
.
Malam itu sudah cukup larut. Suasana perkumpulan mulai kehilangan fokus. Sebagian dari kami saling berbisik pelan dengan teman di samping, berusaha melawan penat dan kantuk yang tumbuh perlahan. Namun di tengah kelelahan itu, Bapak Wakil Rektor II, sekaligus pemateri malam itu, tetap berbicara dengan tenang. Beliau mengingatkan betapa bersyukurnya kami bisa berkuliah di tempat ini, sebuah kampus yang memberi ruang pada mahasiswa untuk dekat dengan Al-Qur’an melalui program tahfidz pekanan. Setiap semester, kami diwajibkan menghafal setengah juz, sehingga kelak setidaknya kami membawa pulang empat hingga lima juz hafalan ketika lulus.

Di sela penyampaiannya, beliau bertanya dengan suara yang lembut.

“Adakah dari antum yang setelah membaca Al-Qur’an lalu hafal, melakukan sujud syukur?”

Ruangan hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat.
Beliau tersenyum tipis, lalu berkata:

“Ustadz sering melihat orang bermain bola lalu mencetak gol, langsung sujud syukur. Tapi ketika kita diberi nikmat yang jauh lebih besar, kita lupa bersujud untuk berterima kasih kepada Allah.”

Kalimat itu membuat ruangan yang sebelumnya jenuh tiba-tiba berubah menjadi tempat perenungan. Rasanya seperti seseorang menepuk pundakku perlahan, mengingatkan hal yang selama ini tak kusadari. Pertanyaan yang singkat, tetapi maknanya masuk jauh ke dalam hati.

Saat itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah Aku Benar-Benar Bersyukur? Dan jika iya, rasa syukur yang seperti apa?

Syukur ternyata bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah”. Ia juga tentang bagaimana kita memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Tentang bagaimana kita menjaga amanah waktu, ilmu, kesehatan, dan keimanan. Syukur bukan hanya pada apa yang terlihat. Prestasi, fasilitas, pencapaian. Tapi juga pada nikmat yang tidak tampak. Apa itu? Ketenangan, kesempatan bertobat, kekuatan untuk bertahan, dan hidayah yang Allah jaga di dalam hati.

Terakhir, satu pelajaran berharga yang dapat aku ambil.

Jangan sampai syukur kita pada nikmat-nikmat duniawi yang kasat mata mengalahkan syukur kita pada nikmat Allah yang tak terlihat tetapi jauh lebih berharga. Rumah, jabatan, gaji, atau lainnya. Semua itu mudah membuat kita lupa bahwa ada nikmat lain yang lebih halus tetapi jauh lebih menentukan arah hidup.

Malam itu, pertanyaan sederhana dari seorang guru menyentuh bagian terdalam dalam diriku. Dan sejak itu, aku berusaha belajar bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup. Semoga anda bersama saya. Kita digolongkan sebagai orang yang bersyukur.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana
Oleh : Hibatullah Ramadhana *)

Tak terasa, sudah satu tahun saya mengabdi mengajarkan anak-anak mengaji di tempat yang penuh kenangan ini. Satu tahun ini bagi saya merupakan pengalaman yang luar biasa—pengalaman yang sulit dilupakan, yang mengajarkan saya arti keikhlasan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Di tempat inilah rasa penat saya selepas kuliah hilang, karena melihat antusiasme anak-anak dalam belajar mengaji. Di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi, terutama gadget, anak-anak ini tetap antusias belajar mengaji. Mereka tidak terlalu terpapar oleh pengaruh gadget. Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk bermain sepeda bersama, berolahraga, dan mengaji.

Kehadiran anak-anak ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada hal besar. Anak-anak di sini tidak terlalu bermuluk-muluk untuk meraih kebahagiaan. Mereka hanya memanfaatkan waktu yang ada dan bermain bersama teman-teman. Bahagia yang mereka kejar bukan kemenangan dalam memainkan game di gadget, bukan juga karena naik peringkat dalam sebuah permainan, melainkan dengan kebersamaan dan kreativitas, mereka dapat menciptakan kebahagiaan mereka sendiri—kebahagiaan yang menurut saya sulit ditemukan di zaman sekarang. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang nyata, bukan hanya fantasi belaka.

Kebahagiaan anak-anak ini pun membuat saya merenung tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Tanpa kita sadari, mereka sudah menciptakan kebahagiaan yang begitu seimbang, antara kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kebahagiaan di dunia mereka dapat dalam permainan bersama teman, dan kebahagiaan di akhirat mereka dapat dalam belajar mengaji di TPA. Sederhana sekali bukan konsep kebahagiaan mereka? Sederhana, namun sesuai dengan konsep kebahagiaan menurut Islam. Konsep kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat—kebahagiaan yang tidak sesaat, tetapi juga menciptakan rasa tenang dalam jiwa.

Salah satu bentuk kebahagiaan sederhana itu kami alami dalam sebuah kegiatan bersama. Suatu hari, kami mengadakan acara jalan sehat bersama. Kami berjalan mengelilingi daerah sekitar TPA, yang memang dekat dengan persawahan dan perbukitan. Pemandangannya tampak indah, terutama saat pagi atau sore hari. Acara ini kami kemas dengan sesederhana mungkin, hanya dengan berjalan mengelilingi sawah dan permainan seru bertema Islami, seperti menempelkan lanjutan ayat pada surat tertentu, tebak nama-nama malaikat dan nabi, serta menyebutkan rukun iman dan rukun Islam. Hadiah yang kami berikan hanyalah medali buatan dari potongan kertas dan kardus yang diikat dengan sehelai tali rafia. Namun anak-anak sangat bahagia ketika memakainya. Mereka tahu bagaimana cara menghormati pemberian orang lain.

Pengalaman itu membuat saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan bukan hanya soal mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi bagaimana kita bersyukur dan memanfaatkan apa yang sudah kita miliki. Anak-anak ini mengingatkan saya bagaimana cara bahagia dan cara bersyukur yang sesungguhnya, mengingatkan saya betapa terlenanya saya dengan apa yang telah saya miliki saat ini.

Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana namun dalam maknanya—bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari ketulusan, kebersamaan, dan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Anak-anak itu telah mengajarkan saya makna hidup yang tidak saya temukan di ruang kelas manapun. Mereka adalah guru-guru kecil yang tanpa sadar membimbing saya untuk kembali pada hakikat hidup yang lebih jernih dan damai. Mereka mengingatkan saya bahwa dalam hidup ini, bahagia itu memang sederhana, asal kita tahu di mana harus mencarinya.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Darussalam (UNIDA), Ponorogo. Sekretaris Himpunan Mahasiswa Prodi Manajemen UNIDA 2025-2026.

Inklusi vs Literasi

Tingginya Inklusi yang Tidak Disertai Dengan Literasi

Oleh : Hibatullah Ramadhana *)

Suatu kesempatan, saya mengikuti study academic di Solo, tepatnya  Kantor OJK (Otoritas jasa keuangan) Regional 3, Jawa Tengah. OJK (Otoritas Jasa Keuangan) merupakan Lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan sistem  pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan baik di sektor perbankan, pasar modal, dan sektor jasa keuangan. Lembaga ini bersifat independen.

OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sangat terbuka bagi siapa yang ingin mendalami edukasi mengenai keuangan, terutama kalangan muda. Hal ini merupakan salah satu upaya OJK dalam meningkatkan tingkat literasi keuangan dikalangan masyarakat Indonesia. Menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024 yang dirilis OJK, saat ini angka indeks literasi keuangan Indonesia berada di angka 65,4%, sedangkan, Indeks Inklusi Keuangan berada di angka 75%. Singkatnya literasi merupakan pemahaman dan keterampilan, sedangkan inklusi mengacu pada akses. Banyaknya akses di zaman, yang didukung dengan semakin berkembangnya teknologi, berbanding jauh dengan tingkat pemahaman masyarakat akan akses tersebut. Sehingga banyak masyarakat yang fomo atau ikut-ikutan saja.

Terlihat dari banyaknya masyarakat Indonesia yang terlilit hutang dengan kasus pinjol (Pinjaman Online). Banyak masyarakat Indonesia yang uangnya habis hanya untuk membayar utang yang tidak produktif, selain mudah dalam akses, pinjol juga sangat cepat dalam mencairkan dana pinjamannya. Tanpa agunan pula. Namun pastinya dengan tingkat bunga yang tinggi. Contoh pinjol yang sekarang sedang tren yaitu pay-later. Gunakanlah uang pinjaman untuk sesuatu yang produktif seperti membuka bisnis, sehingga anda dapat melunasi pinjaman tanpa melewati batas tenggat waktu yang sudah disepakati dan siklus keuangan anda akan selalu berputar. Namun saya  tidak menyarankan anda melakukan pinjol (Pinjaman Online).

Selain pinjol (Pinjaman Online) yang sedang marak juga dikalangan masyarakat adalah judi online. Judi online tidak memandang usia, sebanyak 4 juta orang di Indonesia sudah terpapar yang namanya judi online. Bahkan sampai elite politik di negara kita pun ikut serta dalam transaksi  judi online. Banyak yang mengira bahwa judi online dapat membuat orang cepat kaya, yang nyatanya tidak sama sekali, judi online hanya akan memperburuk keuangan kita. Terutama bagi orang yang melakukan pinjol (Pinjaman Online) hanya agar dapat betransaksi di judi online. Kerugian yang diakibatkan oleh judi online telah mencapai Rp 600 triliun, angka ini melebihi dari pengeluaran anggaran priritas negara.

Dua hal yang saya sampaikan diatas merupakan contoh kecil yang diakibatkan oleh rendahnya literasi keuangan dikalangan masyarakat Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menyadarkan  pembaca betapa pentingnya literasi keuangan, terutama bagi kalangan muda yang sekaligus menjadi tokoh utama dalam mewujudkan “Indonesia Emas 2045”.

Izinkan saya berpesan “Bijaklah dalam mengelola keuangan anda, karena akan menjadi modal kehidupan anda di masa depan. Gunakan uang anda untuk sesuatu hal yang produktif”.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana, Sekretaris Himpunan Mahasiswa Prodi Manajemen 2025-2026 Universitas Darussalam, Ponorogo.

 

Hebatnya Keikhlasan

“Hebatnya Keikhlasan”

Oleh : Hibatullah Ramadhana *)

Sore menjelang petang, kami berdelapan diamanahi oleh kampus untuk mengabdikan diri di sebuah taman pendidikan Al-Qur`an binaan kampus. Tempat itu bernama TPA-Al-Ikhlas. Jarak antara kampus kami dengan TPA Al-Ikhlas sekitar 7 Km. Setelah sesi perkenalan, kami sepakat bahwasannya kegiatan belajar menagajar di TPA tersebut akan dilaksanakan pada Kamis hingga Ahad setiap pekan.

Pasti kalian bertanya-tanya, mengapa kami yang berstatus mahasiswa disibukkan dengan kegiatan ajar mengajar di TPA. Kurang kerjaan kah? Bukankah sudah seabreg tugas dan lain-lain. Yap, betul. Kami kami mencari bekal untuk masa depan dari pagi hingga siang. Kami upayakan semua tugas untuk diri sendiri tuntas. Itulah salah satu keunikan dari kampus kami, Universitas Darussalam Gontor, karena kampus ini mempunyai sistem kepesantrenan. Sekaligus mewujudkan cita-cita Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor untuk turut bertanggung jawab memajukan ummat Islam dalan mencari ridha Allah. Itulah sore harinya manfaatkn untuk orang lain. Kami berganti tugas menjadi pengajar di Taman Pendidikan Al-Qur`an.

Hari yang ditunggu pun tiba. Kamis sore waktunya kami mengajar di taman Pendidikan Al-Qur`an. Karena jarak yang cukup jauh, Sebagian dari kami ada yang mengendarai sepeda dan juga mengendarai motor. Uniknya, ada yang tidak kebagian motor atau sepeda. Tapi, kerena panggilan tugas dan sangat bersemangat berkontribusi untuk mengajar ia pun memutuskan berjalan kaki.

Apa tidak melelahkan? Sangat melelahkan. Tapi lelah itu seakan hilang ketika melihat senyuman dan antusias anak-anak untuk belajar

Bukan kebetulan, nama TPA itu  “Al-Ikhlas” yang menjadi inspirasi dan semangat kami. Kami tidak meminta untuk dibayar sepeser pun. Tujuan kami disini untuk mengajarkan apa yang telah kami dapat dari ilmu dan pendidikan yang telah kami tempuh. Karena ilmu yang tidak diamalkan layaknya pohon yang tidak berbuah.

Anak-anak yang ada di tempat kami mengajar kurang lebih berjumlah 35 anak, mulai dari TK hingga jenjang SMP. Bermacam-macam watak, juga karakter, itulah yang membuat tempat ini sangat kami rindukan.

Apakah bisa bekerja tanpa mengharapkan imbalan? Bisa, kami sebagai umat muslim percaya, sumber kebahagiaan yang kami dapatkan bukan hanya berdasarkan pada berapa banyak uang yang kami miliki, karena memang itulah prinsip kebahagiaan menurut ajaran agama islam.

Kebahagiaan kami cukup dengan melihat anak-anak yang kami ajarkan bisa mengaji membaca Kita Suci Al Qur’an dengan baik dan benar. Mereka lebih memahami ajaran-ajaran agama Islam. Tentunya mereka tumbuh dengan   Al-Akhlaq-ul-Karimah. Dan mungkin dari tempat ini dan dari anak-anak ini, menjadi jalan kami menuju surganya Allah SWT.

Kami yakin bahwasannya setiap anak di seluruh pelosok negeri berhak mendapatkan ilmu dan Pendidikan. Mungkin, dengan cara ini kita bisa bersama-bersama membangun bangsa dan negara yang lebih maju.

*) Hibatullah Ramadhana atau lebih dikenal dengan Ibat. Ia adalah mahasiswa Semester I, Prodi Manajemen Bisnis, FEB Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo.

Sampah vs Akhlak

Sampah vs Akhlak

Oleh: Hibatullah Ramadhana *)

 

Teriknya matahari di Kota Surabaya mulai terasa, menandakan telah usainya acara yang kami ikuti. Saya dan 12 orang teman lainnya memutuskan untuk Sholat Dzuhur dan istirahat sejenak. Pelatihan 3 hari yang melelahkan, namun sangat bermanfaat. Kami sepakat melepas penat sekaligus kembali ke kampus. Kami pun memutuskan menuju pantai selatan yang jadi buah bibir selama ini. Pantai itu bernama Pantai Mutiara terletak di Kabupaten Trenggalek.

Perjalanan dari Surabaya ke Trenggalek berjarak sekitar 200 Km. Kami menempuh pejalanan via Tol Trans Jawa dan keluar/exit di Kediri. Perjalanan melewati jalan biasa sangat berbeda di bandingkan melalui jalan tol. Kami juga melewati jalur lintas selatan (JLS) yang sesuai pemberitaan, sangat indah. Kami sampai di lokasi pada malam hari.

Kondisi sudah larut malam, tidak menyurutkan kami untuk menikmati indahnya alam. Kami bermalam di sebuah gazebo yang ada di tepi pantai. Tidur beralaskan karpet sederhana, cukup untuk meluruskan badan dan kaki. Keesokan paginya, kami disambut suara kokok ayam dan deburan ombak yang menyentuh bebatuan. Udara segar di pagi hari, pemandangan pantai disertai arunika yang tak kalah indahnya. Laut tampak biru dengan ombak khas Pantai Selatan. Semua itu karunia tersendiri sekaligus obat penat yang kami alami.

Karunia? Ya, betul. Pagi itu membuat kami sadar akan betapa besarnya kuasa Allah Tuhan semesta alam. Sang Khalik  telah menciptakan keindahan alam ini, agar kami banyak bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Karunia yang lain masih ada. Saat itu Hari Ahad, hari libur, yang terlihat banyak orang yang menghabiskan waktunya di pantai bersama orang yang mereka cintai. Mereka juga menikmati makanan dan fasilitas yang ada di pantai. Sama seperti kami. Kami yang hadir juga membawa manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Namun, setelah kami berjalan beberapa langkah ke bibir pantai, ada pemandangan yang tak elok. Hal ini terlihat dari kondisi pantai yang sangat indah, ternodai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Mereka kurang sadar akan kelestarian alam. Banyak sampah berserakan. Belum lagi, terlihat tidak sedikit dari mereka yang membuang sampah sembarangan. Tak heran jika sampah ada di beberapa sudut pantai. Padahal ada tempat sampah yang disediakan.  Tak ayal membuat kondisi pantai menjadi kotor dan kurang nyaman.

Perilaku ini bisa jadi adanya mindset yang timbul pada masing-masing individu yang berpikiran:

“Ah, saya kan hanya membuang satu botol atau satu bungkus makanan. Cuma sedikit, kok.”

Padahal justru pemikiran itu yang harus dihapus. Bayangkan jika pemikiran dan perilaku itu, serupa dimiliki oleh pribadi atau individu yang lain. Jika satu orang punya pemikiran seperti itu memang, menurut dia, dia hanya membuang satu sampah. Namun apabila yang ada di pantai tersebut berjumlah ribuan orang dan mempunyai mindset  yang sama, sebanyak itu pula sampah yang mereka buang sembarangan. Tak heran, jika kondisi pantai nampak kotor. Ada sampah bekas botol minuman. Bekas bungkus makanan.

Tentunya sebagai manusia, harus punya akhlak terhadap alam. Apa itu akhlak terhadap alam? Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Jika tidak ada tempat sampah, maka dikantongi dulu. Tidak merusak pepohonan. Menghindari membuang hajat sembarangan. Tidak membawa pasir atau terumbu karang sembarangan. Hal-hal tersebut adalah upaya menjaga menjaga dan melestarikan keindahan alam. Alam juga ciptaan Allah SWT.

Bagaimana menghadapi pantai yang kotor dihadapan kita? Tentunya yang paling utama adalah kita yang berakhlak mulia tidak lagi menambah atau membuang sampah. Sampah di depan kita dipungut dan dikumpulkan, sebisa mungkin.

Semoga sampah yang ada di pantai atau di sekitar kita bisa menjadikan cerminan akhlak kita. Mari kita basmi sampah dengan memulai untuk tidak menyampah sembarangan. Kita bersihkan sampah. Kita lestarikan alam. Kita tunjukkan bahwa kita memang bangsa yang berakhlak mulia.

 

*) Hibatullah Ramadhana atau lebih dikenal dengan Ibat. Ia adalah mahasiswa Semester I, Prodi Manajemen Bisnis, FEB Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.