Teko

Teko
By Ari Wijaya

(inspired by Jamil Azzaini’s story at Jeddah, Saudi Arabia)

Siapa yang pernah punya teko? Atau setidaknya pernah lihat ? Itu lho tempat minum sebelum dituang ke gelas. Biasanya sih berwarna hijau ada paduan putihnya (baca : loreng seperti baju tentara).

Yuk kita perhatikan dengan baik. Kalau yang keluar kopi susu, maka apa isi di dalam teko?

Pasti wedhang kopi susu. Nggak bakalan air putih.

Begitu pula, jika yang keluar dari teko pas dituang, air putih biasa. Pastinya di dalam teko isinya nggak bakalan teh.

Kita ini ibarat teko. Apa yang kita keluarkan baik amal,
sedekah, atau pun ucapan. Tergantung seperti apa diri kita.

Kalau sering keluar kata-kata kotor. Ujaran memaki seperti sudah biasa. Maka bagaimana isi otak atau tubuh orang itu ? Nampaknya tak perlu dijawab, bukan ? Retoris.

Lha, terus bagaimana agar teko berisi baik ? Ingat pelajaran Biologi, tubuh kita tersusun dari apa? Ya, 70% berupa cairan, bukan?

Hubungannya apa ? Begini, ada air zamzam. Sumber mata airnya tiap hari didoakan ribuan manusia. Bagaimana tidak, saat thawaf mengelilingi ka’bah, sarat dengan doa. Belum lagi oleh orang yang berdiam diri di Masjidil Haram, tilawah,  membaca Al Qur’an. Bahkan pada waktu tertentu didoakan oleh jutaan manusia. Ibadah haji. Sehingga banyak manfaat yang didatangkan air zamzam ini.

Jadi, memperbanyak doa dan perbuatan positif akan mempengaruhi isi tubuh kita. Bergaul dengan orang sholeh akan mempengaruhi tubuh kita. Menghindari perbuatan dan kumpulan yang tidak perlu. Kelompok yang non produktif juga perlu dijauhi. Pun, kita buat kelompok yang aksinya membawa kemaslahatan.

Mari bersama-sama kita  memperbaiki diri dengan amalan pribadi dan amalan jama’i (bersama) yang baik. Teko kita insya Allah akan berisi baik. Outputnya pun jadi baik dan bermanfaat bagi orang di sekitar kita.

Jeddah, 4 Januari 2017

Saat melaju menuju Kota Madinah Al Munawaroh. Mengawali ibadah umroh awal tahun ini.

Silahkan share jika bermanfaat!

Bosan Jadi Pion ?

“Novendra diprediksi 3 tahun lagi dapat meraih gelar Grand Master (GM)”, begitu bunyi head line sebuah media online.

Ya, GM adalah salah satu istilah gelar pada olahraga catur. Cabang olah raga yang tidak sepopuler sepakbola di negeri ini. Gelar GM menjadi dambaan pecatur. Itu masih langka. Beberapa nama telah mengharumkan nama Indonesia. Tercatat seperti Utut Adianto, Susanto Megaranto, Irene Kharisma, Medina Aulia. Dua nama terakhir adalah GM perempuan yang dimiliki Indoensia.

Permainan Catur berisi bidak hitam dan putih yang digerakkan dan memakan lawan. Ada Raja, Ratu, Menteri, Kuda, Benteng dan Pion alias Prajurit.

Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menyoroti bidak yang satu ini. Pion alias prajurit. Coba lihat dengan seksama. Satu giliran demi giliran. Ia selalu berjalan maju. Meski hanya satu-satu langkahnya. Tak pernah mundur. Tak jarang, karena kepentingan strategi, ia dikorbankan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Umpan.

Perhatikan dalam beberapa kejadian. Dalam situasi tertentu ia bisa menjadi penyelamat dan kunci kemenangan. Kapan ? Ketika ia berhasil maju hingga batas akhir. Ia bisa berganti peran menjadi Benteng, Kuda, Menteri atau Ratu sekali pun. Hampir dipastikan semangat bertambah. Aura kemenangan nampak lebih terlihat cerah.

Sahabat, tahun berganti bisa jadi posisi kita masih sama. Memang sebagian orang berkata itu kondisi merugi. Betul, jika dilihat dari sisi tidak memanfaatkan kelebihan dan kesempatan. Tapi jika posisi memang harus bertahan. Kesempatan belum ada. Kondisi perusahaan tidak beranjak baik. So, posisi sama pun patut kita syukuri. Bisa jadi pion lagi, prajurit lagi, posisinya.

Bosan jadi pion ? Ehm.. tahan. Tak perlu berkecil hati. Saran saya, jangan dipelihara, sahabat. Singkirkan  pikiran semacam itu. Setidaknya kita tetap punya semangat maju. Meski tidak secepat lainnya. Semangat bidak pion tadi patut kita ambil hikmahnya. Ia tetap maju. Paling parah, berhenti. Tapi, prajurit itu tak pernah membuat langkah mundur. Itu yang terpenting.

Bagaimana menyikapinya ? Kita tambah pengetahuan. Tambah kemampuan. Nampak seperti berhenti, bukan. Sejatinya, kita bergerak. Yah, otak dan pikiran kita terus diperkaya. Berbagai cara maju kita lakukan. Plus tiada henti bermunajat, menghamba kepada Sang Maha Pencipta.

Pion pun bisa menjadi penyelamat. Pemberi percikan semangat kemenangan. Pada saat yang tepat sang prajurit bisa punya peranan hebat.

Lha kalau pion saja punya semangat bak pendekar pilih tanding, apalagi yang lainnya, bukan ?

Yuk terus berbenah. Maju meski hanya selangkah. Terus berikhtiar dan berdoa. Insya Allah kemenangan berpihak kepada kita yang terus berusaha.

“Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridlaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

(QS Al-‘Ankabuut : 69)

Selamat menjalankan amanah di tahun 2017 ini. Apa pun itu, mari kita niatkan sebagai salah satu amal sholeh terbaik kita.

Silahkan share jika bermanfaat!
  • 12
    Shares

Nyali Mengambil Keputusan

Nyali Mengambil Keputusan

Oleh : Elia Massa Manik, Direktur Utama PTPN III Holding
 —–

Untuk menguak permasalahan, saya menggunakan cara turun ke lapangan. Hampir setiap hari, saya mengunjungi satu persatu perkebunan untuk berkomunikasi dengan karyawan yang berada disana. Lainnya, saya juga selalu memberikan contoh untuk terus belajar. Hal ini saya tularkan kepada seluruh karyawan.

Tahap kedua adalah menerapkan speed dalam bekerja, Mengubah kultur VOC, bikin rileks dan tidak merasa intimidasi. Dengan begitu mereka akan mempunyai semangat kerja.

Terakhir, adalah keberanian untuk memutuskan kebijakan. Harus punya nyali untuk memutuskan daripada diam terus. Ini merupakan hal penting bagi seorang pemimpin untuk dapat menentukan akan dibawa kemana perusahaan yang dipimpin.

Saya sendiri menargetkan PTPN III dapat melakukan pengolahan dari hulu sampai hilir. Artinya perusahaan ini tidak hanya menjual kelapa sawit tapi juga bisa memprosesnya menjadi CPO dan produk turunannya lainnya sampai menjadi produk branded, seperti minyak goreng dan lainnya.

Makanya, saya berencana untuk membuat tim riset and development. Setelah saya hitung, butuh modal sekitar Rp 2 triliun untuk men-set up tim tersebut. Saya berencana, tim ini nantinya bakal terintegrasi untuk mendukung bisnis seluruh PTPN.

Sekarang saya baru mendatangkan satu ahli karet untuk membantu membenahi masalah. Karena sampai sekarang perusahaan masih terus mendulang rugi karena tingginya harga karet. Saya juga berencana melakukan efisiensi pabrik gula. Rencananya, kami bakal menutup sejumlah pabrik yang sudah tidak efisien karena, kapasitas produksinya rendah.

Yang jelas, perlahan tapi pasti, PTPN III mulai bangkit. Sampai akhir tahun total operating cash flow mencapai Rp 600 miliar dari tahun 2015 yang hanya Rp 100 miliar. Dan, bulan September, perusahaan sudah mampu mengantongi keuntungan 1,5%. Ini prestasi karena selama empat tahun kinerja perusahaan selalu merah.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Nggak Bakal Rugi

Tulisan hasil buah pikir karya sahabat saya, Mas Awang Surya. Ia melepas jabatan VP di sebuah perusahaan konstruksi untuk mengabdikan dirinya pada dunia dakwah dan pendidikan. Buku yang ditulisnya ada 8 dan beberapa masuk best seller. Belum lagi salah satunya akan dijadikan film.
Yang Menolong Tidak Akan Rugi
By Awang Surya*)
Bagi Anda yang menekuni dunia usaha mungkin sudah sangat paham bahwa salah satu hal penting bagi kelangsungan usaha adalah tenaga kerja. Karyawan keluar mendadak adalah masalah yang sangat mengganggu. Saya pun mengalaminya beberapa kali. Pernah, dua orang karyawan di rumah makan saya menghilang saat baru saja menerima gaji. Padahal beberapa saat sebelumnya saya ngobrol panjang lebar dengan mereka. Saya bertanya apakah mereka kerasan dan jika tidak apa masalahnya. Mereka berdua menjawab betah dan tidak ada masalah. Aneh!
Pernah juga saya merekrut karyawan yang sudah saya kenal sebelumnya. Sepasang suami istri, tetangga di kampung. Informasi yang sampai ke saya mereka berdua sudah pengalaman menjalankan rumah makan di beberapa kota. Maka saat mereka meminta gaji di atas rata-rata saya pun mengiyakannya. Semua fasilitas yang diminta juga saya penuhi. Tapi mereka hanya bertahan satu bulan.
Saat masalah ini saya ceritakan kepada kawan yang punya usaha sejenis ternyata dia juga mengalami masalah yang serupa. Bahkan lebih parah. Berkali-kali rumah makannya terpaksa tutup karena semua karyawan bareng-bareng keluar. Mendengar penuturan kawan itu saya bersyukur karena meski berkali-kali ditinggal pergi secara mendadak oleh beberapa karyawan tapi tidak sampai harus menutup lapak. Memang di antara karyawan saya ada sepasang suami istri yang sejauh ini masih betah. Mungkin sudah hampir 3 tahun mereka berdua membantu saya. Bila ada karyawan yang kabur secara tiba-tiba rumah makan tetap buka karena masih ada mereka berdua.
Sejujurnya saya mendapatkan dua orang karyawan itu secara tidak sengaja. Ini berawal dari kunjungan silaturahim ke seorang ustadz di daerah Pandeglang Banten. Saat itu sang Ustad meminta tolong kepada saya untuk memberi pekerjaan kepada adiknya – sebut saja Ahmad- yang saat itu sedang nganggur.Saya tidak langsung mengiyakan permintaan itu karena memang sedang tidak butuh karyawan. Malahan saya berencana mengurangi karyawan karena overhead sudah terlalu besar. Saya minta waktu seminggu kepada sang Ustadz untuk berpikir.Satu minggu kemudian saya mengambil keputusan. Saya terima Ahmad. Niat saya hanya satu bahwa saya ingin menolong. Saya sudah siap dengan segala resikonya, termasuk biaya yang semakin membengkak. Mudah-mudah saja suatu saat ada manfaatnya, pikir saya.Rupanya niat baik itu selalu mendapat ujian. Hari-hari awal kedatangan Ahmad banyak menimbulkan masalah. Beberapa kebiasaan kecil yang dibawa dari kampung dirasa mengganggu karyawan yang lain. Sebisa-bisanya saya berusaha memberi pengertian karyawan yang lain.

Belakangan terbukti Ahmad adalah seorang yang terampil dan cepat belajar. Dengan cepat ia menguasai seluruh urusan rumah makan. Maka sewaktu ada tenaga kerja yang mengundurkan diri saya meminta Ahmad untuk mengajak istrinya agar dia kerasan.

Seiring berjalannya waktu, Ahmad dan istrinya telah menjadi tenaga kerja utama di rumah makan saya. Kini saya bisa tetap menjalani hobi menulis dan juga mengisi training sampai ke luar kota dengan tenang karena ada Ahmad dan istrinya. Jadi sebenarnya siapa menolong siapa ini?

Saya sering merenungkan kejadian ini untuk mengingatkan diri bahwa menolong orang lain itu tidak akan pernah ada ruginya. Saya semakin yakin akan pesan Baginda Rasul dalam sebuah hadits:

“Allah akan senantiasa menolong Hamba-Nya, selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”

(HR. Muslim)

 

 

Catatan :

*) Awang Surya adalah alumni Teknik Mesin Universitas Brawijaya (TMUB). Laki-laki yang lahir dan besar di sebuah kampung kecil di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Ayah dari dua orang anak ini adalah seorang pembicara publik. Kajian Islam Intensif, seminar, pelatihan motivasi adalah forum-forum yang biasa dilakoninya. Klien-kliennya selama ini adalah perusahan swasta dan BUMN, istitusi pendidikan, masjid dan beberapa perkumpulan. Selain itu, aktivitas sehari-harinya adalah sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Ia juga seorang penulis. Aktif menulis di media massa. Saat ini sudah 8 buku ditulisnya. Selain itu dia diamanahi untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan dan sekaligus seorang pengusaha.

Ingin berdiskusi langsung dengan beliau ? Silakan kontak melalui :  awang.surya.68@gmail.com atau lihat profil lengkapnya di: http://www.awangsurya.com/profile-awang-surya/

 

 

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Nasib Warung Bung Ahmad di Negeri Mini Market

Tulisan Mas Erie ini cukup menohok saya. Knock down saya dibuatnya. Bak pukulan petinju. Menyengat. Menyadarkan walau sempat terhuyung-huyung perasaan ini. Setidaknya, saya pun mulai melirik lagi warung kelontong ujung jalan. Plus warung sayur di tanjakan jalan komplek.
—–
Nasib Warung Bung Ahmad  di Negeri Mini Market

Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Dhuafa
(disalin dari www.republika.co.id edisi Kamis, 15 Desember 2016)

—–

Belakangan ini perasaan saya teraduk-aduk. Antara terpana, kagum, gundah dan ngeri. Itu lho, minimarket. Gimana gak terpana. Jumlah minimarket sekarang capai puluhan ribu. Lima atau 10 tahun lagi bisa tembus sekian ratus ribu. 20 tahun ke depan, negeri ini bertambah lagi julukan: “Negeri minimarket”.

Maka sudah lama saya amat kecewa. Sebab saya tak lagi jumpai warung langganan dulu. Warung tempat saya ngobrol dengan Bang Ahmad, si pemilik. Warung-warung seperti Bang Ahmad jelas keok hadapi minimarket.

Gundahnya lagi, kini saya tak bisa lagi berbuat baik. Di warung seperti ini, pasti ada titipan lontong dan kue cucur. Ambil lontong sih dua atau tiga biji, cuma bayarnya bisa 10 atau 15 lontong. Kenapa? Ya itu sedekah ke yang titip makanan. Mereka pasti sulit hidup.

Memang minimarket punya program kepedulian. Tapi saya ogah lah. Uang uang saya, kenapa jadi dikelola minimarket. Program bolehlah, keren. Namun itu kan CSR-nya minimarket. Uang dari masyarakat. Kenapa minimarket yang dapat nama. Jadi ingat telur mata sapi. “Ayam punya telur, sapi punya nama”.

Otak saya memang jongkok. Cuma soal kepedulian, saya musti pintar-pintarkan diri. Saya tak tahu siapa pemilik minimarket. Saya tak tahu apa maunya dan apa agendanya. Sumpah, saya tak tahu pemilik minimarket orang baik atau serakah.

Saya sedih lihat mini market. Semua dagangan olahan pabrik. Tak ada titipan tetangga. Warung Bang Ahmad juga jual pabrikan. Cuma masih ada titipan lontong, bawan, tahu dan tempe goreng.

Saya linglung lihat pemerintah. Kenapa pemerintah diam saja. Seolah tak pernah ada apalagi bela warung kecil. Kalau sudah begini saya menyesal tak jadi pemegang kebijakan. Andai pejabat, saya mimpi saja bisa stop pertumbuhan minimarket.

Kalkulasi yuuuk. Katakan ABC minimarket, jumlah gerainya kini 20 ribu. Omset per hari pukul rata Rp 10 juta. Total omset per hari, 20 ribu x Rp 10 juta. Hasilnya Rp 200 milyar. Per bulan Rp 6 triliun.

Andai pemilik ABC minimarket ambil 1%, maka dia dapat Rp 60 milyar per bulan. Per hari dapat Rp 2 milyar. Katakan per hari nikmati Rp 100 juta. Untuk centeng keamanan, let say Rp 200 juta per hari. Dari saldo yang Rp 1,7 milyar, dia sisihkan Rp 1,5 milyar beli tanah.

Duuuh biyung. Ngeri kan bayangkan apa yang terjadi? Tiap hari dia beli tanah Rp 1,5 milyar. Gunung sawah pantai pun diborong. Ngeri ngerii ngeriii…

Jika sudah begini, kadang saya menyesal juga. Mengapa tak jadi ekonom. Karena tak tahu teori ekonomi, makin hari perut saya makin mual. Minimarket koq bisa tekuk kebijakan. Lha kalau begitu ngapain ada pemerintah.

Kambing congek itu masalah. “Pemerintah congek” itu lebih gawat. Pura-pura bolot saat rakyat susah, itu drama paling mengerikan. Hati-hati, malaikat gak tidur lho!

Katanya satu minimarket hancurkan 3 sampai 5 warung. Ada 20 ribu minimarket, tutuplah 100 ribu warung kecil. Karena tak tahu teori ekonomi, bolehkah saya bilang:

“Minimarket menghancurkan fondasi ekonomi rakyat?”

Sekali lagi saya tak paham ilmu ekonomi. Saya cuma yakin, seilmiah apa pun dukungan pada minimarket, ini jelas “tak adil” dan “tak beradab”.

Silahkan share jika bermanfaat!

Spasi

Bung Hatta, pernah memberikan nasihat. Sangat relevan dengan kondisi kekinian negeri kita.

“Jatuhbangunnyanegaraini,sangattergantungdaribangsainisendiri.Makinpudarpersatuandankepedulian,Indonesiahanyalahsekedarnamadangambarseuntaianpulaudipeta.Janganmengharapkanbangsalainrespekterhadapbangsaini,bilakitasendirigemarmemperdayasesamasaudarasebangsa,merusakdanmencurikekayaanIbuPertiwi.”

Enak dibacakah ? Bingung ? Petuah yang hebat tersebut menjadi sulit dibaca. Walhasil sulit di mengerti.

Coba dibaca lagi dengan format ini.

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

Saya yakin, sekarang pesan ini lebih gampang dibaca. Maknyes. Lebih mengena. Cepat merasuk ke dalam jiwa.

Apa pembedanya ? Ya. Untaian kalimat terakhir menggunakan spasi. Spasi hanya jarak antar kata. Namun menjadi pembeda. Kalimat lebih mudah dicerna. Nasihat salah satu proklamator kemerdekaan negeri kita itu pun, jelas maknanya.

Tak ubahnya menggerakkan roda perusahaan. Ada kalanya perlu berhenti sejenak. Memberi jarak atas rutinitas.

Upaya jeda tersebut bisa berupa membuat kegiatan yang lain dari biasanya. Kegiatan di dalam ruang, bisa diganti dengan diskusi di kafe. Menyelesaikan masalah di kebun, misalnya. Menuntaskan masalah dengan ceria, fun.

Kalau biasa bekerja di lapangan, bagaimana ? Tiap hari ketemu hutan. Ladang. Alam terbuka. Coba, sesekali datang ke kantor pusat. Menikmati ruang kerja teman. Atau mampir di perpustakaan. Rasakan bedanya.

Bisa juga pergi ke suatu tempat favorit. Berlibur. Itu juga salah satu cara. Tidak harus mahal, kok.

 Journal Applied Research in Quality of Life menerbitkan salah satu hasil penelitiannya. Rasa bahagia akan meningkat tajam bagi orang yang berlibur dibandingkan dengan mereka yang tidak liburan. Tidak hanya itu, satu kali liburan juga dapat membuat seseorang merasa bahagia selama 8 bulan. Merefresh kinerja otak selama bekerja.

Spasi nampak sepele. Tapi ia menjadi pembeda. Mari kita temukan dan ciptakan spasi perjalanan kita. Insya Allah, itu akan menambah daya dorong berkarya.

 

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Passion !

Passion bermakna strong emotionLoveStrong interest. Dalam Bahasa Indonesia punya arti nafsu. Gairah. Keinginan besar. Kegemaran.

Satu kata yang menggelitik karena punya banyak makna. Bisa lari kemana-kemana lamunan kita.

Passion Gua nggak disini, nih”. Bosen, Gua. Buntu. Nggak bisa berkembang”, ujar seorang kawan.

Benarkah demikian ? Bisa juga terjadi pada sahabat ?

Semoga tidak. Tapi, jika ragu-ragu. Mari kita cek masing-masing.

Salah satu guru saya mengajarkan cara menemukan passion yang realif mudah. Ini bisa juga berbeda pendapat. Debatable. Setidaknya, metoda ini cukup untuk membantu menjawab dalam waktu singkat.

Tiga tugas yang harus dijawab. Di tambah satu pertanyaan uji.

Tugas pertama. Coba sebutkan beberapa kegiatan yang sahabat lakukan dengan suka cita. Kalau pun diajak diskusi tentang kegiatan itu, kagak ada matinye. Nyerocos terus (baca: antusias).

Tugas kedua, terkait dengan task sebelumnya. Jika keuangan terbatas. Dana cekak. Aktivitas mana dari yang disebutkan tadi, bisa menghasilkan uang. Setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Task ketiga. Coba ditemukan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Dan yang lebih penting, menurut penilaian orang lain, sabahat melakukan aktivitas itu dengan sangat baik.

Pekerjaan atau kegiatan yang muncul di ketika task tersebut, sudah bisa dikatakan passion. Ya itulah, passion sahabat.

Mari jawaban itu diuji. Jawaban atas pertanyaan berikut ini adalah konfirmasi.

Apakah para sahabat rela berjibaku ? Rela berkorban waktu. Gampang mengeluarkan uang.  Tak surut berpeluh basah. Energi ditumpahkan. All out. Rela atas semua itu agar menjadi yang terbaik dalam bidang pekerjaan atau kegiatan itu? Apakah berkenan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Melakukan pekerjaan itu walau tanpa dibayar?

Jika jawabannya masih ya. Maka itu benar-benar passion. Pupuk terus. Lanjutkan !

Richard Branson mengatakan :

“Finding your passion means you’ll always work, but never have a job”

Jika bukan, yuk, temukan lagi. Mari gali lagi. Bila perlu, lakukan perubahan.

Passion ini penting dalam mendorong berkarya. Menikmati setiap assignment dengan suka cita. Bahagia sepanjang hayat.

Insya Allah.

Perkenankan juga, saya membagikan artikel dari Richard Branson terkait tulisan ini.

https://www.virgin.com/richard-branson/finding-your-passion-means-youll-never-have-job

 

Salam Terobosan.

This is AriWAY

Silahkan share jika bermanfaat!