Pencuri Pahala Puasa
by: Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak *)
(Resume dari Pengajian Rutin Sabtu Pagi, Alumni STAN 87, 14 Februari 2026)
Setiap tahun kita berpuasa. Lapar kita rasakan, haus kita tahan. Waktu terasa lebih panjang, tenaga lebih berkurang. Namun Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan kalimat yang mengguncang jiwa:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Kalimat ini bukan sekadar peringatan. Ia seperti cermin. Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya.
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Jika hanya itu, maka semua orang bisa melakukannya. Puasa adalah latihan menahan diri secara total — menahan lisan, menahan emosi, menahan pandangan, bahkan menahan keluhan hati.
Banyak pahala puasa hilang bukan karena kita makan diam-diam, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Ghibah terasa ringan. Dusta dianggap sepele. Keluhan keluar tanpa rasa syukur. Kata-kata menyakitkan terlontar tanpa pikir panjang. Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Seakan-akan Allah menegaskan: Aku tidak butuh laparmu jika akhlakmu tidak berubah.
Di zaman ini, pencuri pahala tidak hanya di ujung lidah. Ia ada di ujung jari. Jari yang menulis komentar kasar. Jari yang menyebarkan berita tanpa tabayyun. Mata yang bebas melihat apa saja tanpa kontrol. HP yang seharusnya alat dakwah berubah menjadi pintu dosa.
Kita bisa saja berpuasa sepanjang hari, tetapi jika waktu kita habis untuk scroll tanpa manfaat, untuk debat tanpa adab, untuk melihat yang tidak halal — maka ruh puasa itu pelan-pelan menguap.
Pencuri lain yang paling cepat merusak adalah emosi. Mudah marah. Gampang tersinggung. Cepat membalas dengan kata-kata keras. Padahal puasa adalah sekolah kesabaran. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar orang yang diganggu saat berpuasa berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Itu bukan sekadar kalimat. Itu pengingat diri bahwa kita sedang melatih jiwa.
Ada pula pencuri yang lebih halus: malas ibadah. Al-Qur’an jarang dibuka. Sedekah tidak bertambah. Berbuka tanpa rasa syukur. Shalat tetap, tetapi tidak meningkat. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah, maka apa yang sedang kita kejar?
Puasa seharusnya menaikkan derajat takwa. Ia bukan agenda tahunan, tetapi proses pembentukan jiwa. Puasa mengajarkan kita bahwa yang halal saja bisa kita tinggalkan karena Allah, apalagi yang haram.
Karena itu, menjaga pahala puasa harus dilakukan dengan sadar. Niat diperbarui setiap hari. Lisan dijaga seketat mungkin. Emosi ditahan sebelum meledak. HP dibatasi sebelum melalaikan. Sedekah dibiasakan walau kecil. Al-Qur’an didekati walau sedikit.
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar hingga maghrib. Ia tentang menjaga hati tetap hidup hingga akhir Ramadhan.
Jangan sampai kita pulang dari bulan suci ini hanya membawa haus dan lapar. Pulanglah dengan hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah.
Semoga Allah menjaga puasa kita dari pencuri-pencuri yang halus itu. Aamiin.
.
*) Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak. adalah seorang dosen di bidang Akuntansi dan Internal Audit. Ia pernah diberi amanah menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid. Aktivitas lainnya adalah penggerak dan pelaku kegiatan sosial. Ia juga dikenal sebagai orang yang banyak ide inovasi yang solituf untuk menyelesaikan masalah masyarakat.