Industri Manufaktur, Manfaat dan Tantangannya

Diskusi pagi melalui WAG pagi ini menarik. Dipantik oleh unggahan seorang senior management. Intinya, bagaimana sesbuah produsen sepeda motor listrik memberikan keringanan cara memiliki R2. Skema bisnis yang brilian dengan perpaduan kalkulasi bisnis rentetannya, feel marketing, dan juga analisis investasinya.

Setelah itu, dicoba diulik lebih rinci. Sewa untuk cicilan motor Rp. 45 ribu per hari setara Rp. 38 juta (selama 2 tahun). Itu belum termasuk, biaya ganti batere senilaiĀ Rp. 9 juta per 3 tahun.

Bagaimana jika cicilan itu dilakukan seorang pengemudi ojol, ojek dalam jaringan? Supaya hidup layak, anggaplah masih sendiri alias jomblo, misal berpenghasilan Rp. 3 juta per bulan. Maka per hari, pengemudi ojol harus berpenghasilan bersih Rp. 191 ribu. Itu artinya setidaknya ia harus berkendara sejauh total 100 Km-130 Km per hari.

Jika ia berkeluarga, penghasilan setara UMR Jakarta, maka ia harus punya pemasukan Rp. 300 ribu per hari. Alias setara ngojek total jarak 150Km-195Km per day.

Berat. Tapi bagi yang tidak punya pilihan lain akan diambil. Sistem sewa beli makin menjamur.

Terus apa hubungannya? Itu tadi, jika sepeda motor listrik itu dibeli dengan sistem sewa beli alias leasing, memang yang keren adalah produsen. Lebih lagi negaranya. Mobil dan motornya laku, pabrik mereka berjalan, supply chainnya ikut menyokong. Roda ekonomi berputar lebih cepat.

Semoga industri manufaktur berjalan dan berkembang lagi di Indonesia. Karena manufacturing akan menggeret pasokan lainnya, supply chain akan berjalan tambah luas. Mengurangi pengangguran asli dan semu.

Bagaimana jika lompat ke sektor migas?

Bisa dimulai daru hulu (upstream). Manufaktur peralatan migas. Awalnya bisa perakitan dulu. Equipment dan/atau spare parts, impor dulu. Ini saja bisa menarik bahan intermediate dari pemasok komponen lokal. Kalau sudah mampu, bisa langsung medesain dan memfabrikasi dari nol.

Pada sisi hilir atau downstream. Pabrikan menyalurkan produk jadi ke perusahaan jasa atau langsung ke pemegang kontrak wilayah kerja atau misal Pertamina atau Medco dll. Mereka mencantumkan syarat wajib pada dokumen tender bahwa harus benar-benar memiliki fasilitas fabrikasi beneran. Bukan ganti stempel. Mulai dari sekarang untuk pengadaan 1-2 tahun ke depan.

Jika industri manufaktur atau fabrikasi berhenti, maka seluruh jaringan di hulu dan hilir ini bisa pincang.

Apalagi manfaat berikutnya?
Jangankan bahan baku, intermediate material ternyata masih impor. Misal steel plate, H-Beam, dll. Coba dibayangkan, jika produk fabrikasi atau rakitan bertambah banyak, maka akan menggerakkan potensi untuk membuat pabrik intermediate materialsnya. Supply chain pabrik intermediate material lokal jadi bermunculan. Bahkan bisa ke penyediaan bahan bakunya.

Belum lagi bisa memaksa dan merangsang lahirnya pemasok-pemasok lokal UMKM dll untuk menyediakan komponen kecil, baut, kemasan, hingga jasa logistik.

Nha ini membuat rantai pasok alias supply chain menjadi lebih pendek dan efisien. Mandiri, tahan terhadap krisis global.

Apa tantangannya di negeri yang kita cintai ini?
1. Masih banyak yang berpikiran menjadi ‘middle man’ alias makelar. Nggak perlu repot buat pabrik yang penting cuan hasil networks jalan terus. Repot kalau sudah begini.
2. Keberpihakan kepada industri manufaktur atau fabrikasi lokal masih perlu ditingkatkan. Ini gampang diomongkan, tapi bukan tidak mungkin dilakukan.
3. Harga kalah bersaing dengan produk impor. Nha, ini perlu semangat ‘jer basuki mowo beyo’ setiap perjuangan butuh pengorbanan. Seberapa berani kita spending our cost/capital untuk menyiapkan masa depan Indonesia. Khusus hal ini, call to actionnya ada pada pemegang uang/dana alias budget owner.

Tanpa itu semua, one day kita hanya jadi pasar, tempat jualan dengan segala kemudahan yang diberikan. Cicilan ringan. Tanpa DP. Tanda tangan komitmen, bawa pulang barang. Potong gaji. Dan segala macam cara lain yang seakan mudah dan dimudahkan.

Aksi itu pun bukan tanpa risiko besar. Kita bisa gampang diobrak abrik perasaan dan kantong kita. Karena tetiba harga barang naik, meski kita masih sanggup beli, tapi tidak mampu menjual kembali. Pelanggan kita menerapkan cost cutting alias pakai harga 2-3 tahun lampau. Banting harga, rugi. Jualan dengan skema harga baru, tak laku. Revenue tidak tercapai. Lama-lama merugi. Terus suatu saat ditanya: kenapa bisa rugi.

Dunia (kita) mulai gelap kalau itu terjadi. Naudzubillaah min dzalik
.

*) Disampaikan dengan rasa cinta kepada perusahaan, perusahaan induk dan negara Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 3 =